
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
"Ini sangat lezat."
Xavier memasukkan sendok ke mulutnya, sedikit mengerutkan kening karena menikmati rasanya. Karena ini adalah hari libur, maka tak ada asisten dan sekertaris Xavier yang datang untuk membantu Xavier mengurus pekerjaan dari rumah. Dengan kata lain, hari libur adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Sera karena Xavier akan menghabiskan waktunya seharian di rumah bersamanya.
Tidak ada kegiatan tertentu yang dikhususkan pada hari minggu ini. Karena Xavier bersikeras bahwa Sera tidak boleh keluar rumah. Jika Sera menginginkan sesuatu, maka Xavier akan memesankannya dan barang itu akan tiba di rumah tanpa tertunda.
Pagi ini, Sera bilang ingin makan cheese cake dengan topping buah-buahan di atasnya dan seketika, kue yang diinginkannya sudah tersaji di meja makan untuk sarapan. Entah dari mana Xavier mendapatkannya, kemungkinan besar lelaki itu memaksa koki untuk memanggang kue pagi-pagi sekali, atau bisa juga lelaki itu memesannya dari restoran terdekat.
Hari ini istimewa, jadi mereka akhirnya mengabaikan segala protokol menu sarapan yang sehat dan benar, dan memakan menu cheese cake sebagai sarapan mereka.
Sera sudah menghabiskan potongan besar kuenya dengan lahap, dia lalu mendongakkan kepala dan mengawasi Xavier dalam senyuman. Lelaki itu sedang menyantap cake di depannya dan tampak menikmati setiap potongannya. Tidak disangkanya, lelaki dengan ekpresi dan aura kejam seperti Xavier ternyata menyukai makanan manis. Sera bersyukur karena di setiap pagi hari yang mereka lalui bersama inilah, dia mendapatkan keistimewaan untuk bisa melihat sisi lain Xavier yang santai dan rileks. Lelaki itu biasanya tampil rapi, dengan topeng senyum palsu memesonanya yang meluluhkan hati ketika berhadapan dengan orang lain. Tetapi, di pagi hari ketika mereka sarapan, Xavier selalu tampil apa adanya, melepaskan topengnya dan menunjukkan dirinya di depan Sera tanpa merasa perlu menutupinya.
Apakah itu berarti bahwa kepercayaan di antara mereka sudah bertumbuh pesat seiring berjalannya waktu? Ketika pasangan merasa nyaman dan tak perlu berpura-pura menutupi diri di depan yang lainnya, itu berarti kualitas hubungan mereka sudah melangkah ke jenjang selanjutnya, bukan?
Sera bisa melihat Xavier yang memakan sarapan dengan t-shirt longgar dan celana piyama hitam dipadu dengan rambut basahnya yang acak-acakan sehabis mandi. Lelaki itu tak mengeringkan rambutnya dengan benar, membuat buliran air berkilauan masih mengantung di helaian rambutnya, siap untuk menetes dan membasahi. Beruntung buliran air yang jatuh itu bisa ditahan oleh handuk putih bersih yang masih dibiarkan menggantung di lehernya, mencegah air itu menetes dan meresap membasahi pakaiannya.
"Kau bisa sakit kalau membiarkan rambutmu basah dan menetes-netes seperti itu," didorong oleh kecemasannya, Sera akhirnya memberikan komentar mengenai rambut Xavier yang sangat basah.
Reaksi Xavier sama sekali tak diduganya, lelaki itu meletakkan peralatan makannya, lalu melepaskan handuk yang tergantung di lehernya sambil berjalan memutari meja makan ke sisi Sera dan menarik kursi mendekat ke samping Sera sebelum kemudian duduk di atasnya, membuat Sera jadi ikut meletakkan peralatan makannya dan menoleh ke arah Xavier.
"Kenapa kau pindah duduk di sini?" tanya Sera dengan bingung.
Xavier tersenyum lebar, lalu menyerahkan handuk itu ke tangan Sera.
"Kau mau membantu mengeringkan rambutku?" tanyanya lembut.
Tentu saja Sera tak mungkin menolak permintaan yang diajukan oleh wajah tampan rupawan yang menyilaukan mata itu. Mungkin memang Sera lemah terhadap lelaki tampan, tetapi mungkin juga rasa cintanya yang terpendam kepada lelaki di depannya itu, menguatkan keinginannya untu selalu menuruti permintaan lelaki itu dan memanjakannya.
Diterimanya handuk di tangannya itu sambil tersenyum.
"Membungkuklah." Sera memerintah lembut dan Xavier langsung membungkuk menurutinya, mendekatkan kepalanya ke arah Sera.
Sera mengangkat tangannya, meletakkan handuk itu di atas rambut Xavier, lalu menggosoknya dengan lembut sambil sedikit memijat kepalanya.
Xavier memejamkan matanya. "Rasanya enak," ungkapnya jujur. "Aku tak pernah membiarkan siapapun menyentuh kepalaku sebelumnya. Ternyata pijitanmu enak." Lelaki itu tersenyum lebar menatapnya. "Ternyata ada untungnya juga memiliki seorang istri."
Perkataan Xavier itu membuat Sera tergelak, digosoknya rambut Xavier lebih keras untuk mengeringkannya, setelahnya dia tak bisa menahan dirinya untuk menyusurkan jari jemarinya ke rambut lelaki itu dan mengagumi kelembutannya.
"Rambutmu sangat lembut, seperti bulu kucing," Sera mengungkapkan kekagumannya dengan suara ringan. "Aku berharap anak-anak kita memiliki rambut sepertimu."
Xavier menegakkan tubuhnya dan menatap Sera dengan sungguh-sungguh. "Kau benar-benar berharap anak kita seperti diriku?" tanyanya kemudian dengan nada tak percaya.
__ADS_1
Sera sedikit melebarkan mata mendengar pertanyaan Xavier itu. Entah kenapa, suara Xavier terdengar tidak percaya diri. Lelaki ini dianugerahi penampilan fisik yang lebih dari sempurna, ditambah lagi dengan kepandaian otak yang luar biasa, tetapi kenapa Xavier seolah sulit mencintai dirinya sendiri? Apakah karena kenyataan bahwa dia adalah seorang anak yang dibuang dan sebatang kara di dunia ini? Ataukah karena dia memiliki penyakit kronis yang kemungkinan disebabkan oleh keturunan genetik bawaan? Meskipun kondisinya seperti itu, bagaimana bisa Xavier tidak mengharapkan anaknya yang merupakan keturunannya, memiliki kemiripan darinya?
Senyum Sera melembut seketika. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilannya di usia kandungannya yang semakin besar, mungkin juga karena rasa cintanya yang meluap-luap, entah kenapa Sera merasakan naluri keibuan yang sangat kuat ketika berhadapan dengan Xavier.
"Aku pernah mendengar bahwa Manusia diciptakan dengan menerapkan keadilan pada setiap bagiannya. Bukan hanya kedua sisi kanan dan kiri tubuh manusia hampir identik jika dibelah dua di tengah-tengah, tetapi juga kenyataan bahwa setiap manusia di dunia ini dibentuk dengan empat puluh enam kromosom di tubuhnya yang diperoleh dari peleburan adil dari kedua orang tuanya. Sama seperti halnya anak kita nanti, dari empat puluh enam kromosom yang dimilikinya, dua puluh tiganya didapatkan dariku dan dua puluh tiganya didapatkan darimu. Bukankah itu adalah bentuk keadilan yang sesungguhnya? Kita mendapatkan bagian dari kita masing-masing secara adil untuk diturunkan kepada anak kita." Sera mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Xavier, dan Xavier langsung menangkup tangan mungil itu dan membawanya ke bibir untuk dikecup.
"Seberapapun kau memandang rendah dirimu sendiri, Xavier. Anak kita membawa masing-masing dari diri kita tanpa bisa dicegah. Seburuk-buruknya kau memandang dirimu sendiri, anak kita akan tetap mewarisi genetik kita tanpa dicegah. Dan yakinlah bahwa apa yang kita wariskan kepada anak-anak kita itu adalah sebuah anugerah, bukan kutukan." Sera menatap Xavier dengan kelembutan yang tulus. "Jangan mencela genetik dan asal usulmu sendiri karena itulah keajaiban yang membentuk dirimu dan juga membentuk anak kita. Tanpa sumbangan genetik darimu, anak kita tidak akan terbentuk dengan sempurna. Bukankah itu indah? Dua bagian kehidupan dua manusia yang terpisah, membentuk satu kehidupan baru yang mengambil sifat kromosom dari masing-masing orang tuanya secara adil." Tiba-tiba saja Sera terkekeh di sela ucapannya. "Mari kita berharap bahwa anak kita akan mengambil apa yang terbaik dariku dan apa yang terbaik darimu untuk dipadukan."
Senyum Sera menular, membuat Xavier ekpresi Xavier jadi menghangat.
"Aku masih harus belajar," ucapnya jujur dengan suara serak. "Belajar untuk menjadi orang tua dan belajar untuk menjadi seorang ayah. Sejujurnya, aku tak biasa dengan hubungan antar manusia. Kau juga tahu, aku gagal menjalin hubungan dengan keluarga angkatku hingga membuat ayah angkatku terpaksa membuangku dan ibu angkatku jadi menderita karena melepaskanku." Xavier tersenyum sedih ketika kenangan kegagalan terbesarnya di masa lalu itu kembali menghantamnya.
"Kau sudah berhasil dengan baik selama ini. Tidakkah kau lihat kalau kehidupan kita cukup damai dan menyenangkan?" Sera mengelus perut buncitnya dengan sayang. "Aku juga bisa menjalani kehamilanku dalam suasana hati yang sama menyenangkannya."
Melihat Sera mengelus perut buncitnya, tempat dimana anak-anaknya berada, hati Xavier serasa mengembang oleh perasaan yang tak bisa dideskripsikannya. Perasaan itu membuat dadanya penuh dan sesak, membuat napasnya tersendat, tetapi entah bagaimana rasa itu tidak menyiksanya, malahan membuatnya merasa senang.
Kebahagiaan seorang ayah yang memeluk anaknya dalam rengkuhan lengannya. Cinta seorang anak kepada orang tuanya, kepada ayah dan ibunya. Akankah Xavier bisa memahami semua itu?"
"Sera." Xavier tiba-tiba saja merasakan dorongan impulsif yang menggerakkan mulutnya untuk berbicara tanpa bisa dia tahan.
Suara Xavier yang berubah serius itu membuat Sera mendongakkan kepalanya dan menatap lelaki itu dengan penuh rasa ingin tahu. Keningnya berkerut, mencoba menebak-nebak tapi tak menemukan jawabannya.
Lelaki itu tiba-tiba menggenggam kedua tangan Sera dalam genggamannya yang kuat, wajahnya tampak penuh tekad, sementara matanya seolah menusuk dalam ke relung hati Sera.
"Jika kondisi tubuhmu memungkinkan dan kau kuat... apakah kau ingin pergi bersamaku dan menjenguk ayahmu hari ini?" tanya Xavier kemudian, membuat Sera langsung dihantam oleh keterkejutan tak terduga yang membuatnya hanya bisa terpaku dengan mulut ternganga sambil menatap lelaki di depannya itu.
***
Aaron memasang kacamata bulat dan menatap dirinya di cermin. Keningnya berkerut ketika mengawasi sisiran rambutnya yang berkilat oleh minyak dengan tataan rambut yang cukup kuno.
Aaron mengawasi penampilannya di cermin perasaan tidak puas. Kenapa lelaki ini memilih menggunakan kacamata tebal yang merusak keindahan matanya? Kenapa pula rambutnya harus disisir dengan model kuno dan lapisan minyak tebal di sana yang terasa lengket dan tidak menyenangkan? Seandainya saja bisa, Aaron ingin membuang kacamata itu, mengenakan lensa kontak dan mengganti potongan rambutnya. Namun, dia tahu bahwa dia tidak mungkin melakukannya.
Sudah cukup beruntung dia bisa mencuri identitas laki-laki ini dan membuang mayat lelaki itu untuk menggantikan dirinya. Sekarang, yang bisa dilakukannya adalah terus berhati-hati supaya tidak ketahuan. Perubahan penampilan mendadak tentu saja termasuk hal terlarang untuk dilakukan, bukan hanya karena itu akan menarik perhatian orang lain, tetapi hal itu bisa juga memancing kecurigaan bagi manusia yang jeli dan teliti seperti Xavier.
Jika semua berjalan sesuai rencana, musuhnya seharusnya sudah menemukan mayat yang dimodifikasi sedemikian rupa supaya dikira sebagai mayatnya. Semua sudah disiapkan dengan sempurna, wajah mayat itu, pengacakan genetiknya, penghilangan sidik jarinya, semuanya hampir tidak ada cela. Meskipun begitu, Aaron mendapatkan firasat bahwa Xavier tidak akan menerima dab percaya begitu saja. Entah kenapa, tetap ada sebersit rasa tak aman di hatinya, karena dia tahu bahwa seorang Xavier Light bukanlah orang yang bisa dikelabuhi dengan mudah.
Kalau saja dia bisa mendapatkan informasi... sayangnya, penjagaan di sekitar Akram Night dan Xavier Light sangatlah ketat hingga Aaron tidak bisa mendapatkan bocoran informasi apapun. Walaupun begitu, Aaron yakin bahwa musuh-musuhnya itu pasti sudah menemukan mayat yang sengaja ditinggalkannya itu dan saat ini pasti sedang menimbang-nimbang apakah itu adalah dirinya, atau bukan.
Aaron seperti sedang memainkan umpan dan mempertaruhkan diri di depan mulut binatang yang sangat buas. Jika binatang buas itu memakan umpannya, maka dia bisa selamat dan bebas. Tetapi, jika binatang buas itu menyadari bahwa dia telah ditipu, bisa jadi Aaron malah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang kegagalan.
Rasa frustasi terus menghantuinya dari hari ke hari karena dia tidak bisa tahu dengan pasti tentang kesimpulan yang mereka dapat. Apakah Xavier Light mempercayai bahwa Aaron sudah mati? Ataukah lelaki itu langsung bisa melihat menembus tipu muslihat Aaron dengan mudah dan menyadari bahwa Aaron telah memalsukan kematiannya?
Situasi yang serba tidak pasti inilah yang membuat Aaron sadar bahwa dia harus menahan diri saat ini, supaya tidak ada kecurigaan mengarah kepadanya. Dia tidak boleh ketahuan. Tidak di saat dia sudah begitu dekat dengan apa yang diincarnya.
Serafina Moon. Bulannya, perempuan yang menjadi sumber obsesinya. Ketika dia sembuh sempurna dari luka operasinya, lalu setelah peralihan identitasnya dibereskan tanpa cela, ternyata waktu sudah berjalan cukup lama tanpa terasa. Aaron mendengar bahwa kandungan Sera sudah cukup besar, mencapai usia tujuh bulan lebih. Itu berarti, Aaron sudah kehilangan kesempatan untuk menterminasi kandungan perempuan itu agar tidak lahir ke dunia ini.
Bukan berarti Aaron tidak mempertimbangkan untuk menyerang Sera dan membuatnya keguguran meskipun kandungan Sera sudah besar, tetapi dokter bilang bahwa keguguran di saat usia kandungan sudah masuk hamil tua atau melewati trisemester ketiga, akan sangat berbahaya bagi ibu yang mengandung anak-anak itu.
Aaron tidak ingin Sera celaka, dia tentu tidak peduli apakah anak Sera mati atau hidup, tetapi dia ingin Sera kembali ke dalam pelukannya dalam kondisi tak kekurangan suatu apapun.
Aaron membutuhkan Sera dan dia tidak menginginkan anak Sera dengan Xavier. Tetapi dia cukup mampu berkompromi dan menunggu dengan sabar untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dua bulan lagi. Dia hanya perlu bersabar dua bulan lagi. Dua bulan lagi anak itu akan dilahirkan. Setelahnya, Sera akan terlepas dari beban kutukan yang menggayuti perutnya dan menjadi wanita bebas. Setelah anak sialan itu terlahir di dunia, Aaron tak akan membuang kesempatan untuk mengambil Sera supaya kembali ke sisinya lagi.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir, mungkin Xavier Light malahan akan berterima kasih karena mau memungut Sera yang sudah menjadi barang sisa darinya. Toh, lelaki itu sudah mendapatkan anak yang diinginkannya dari Sera, bukan? Dan Aaron sama sekali tak keberatan menerima barang sisa. Perempuan itu bisa dipulihkan dan Aaron akan menerima Sera ke dalam pelukannya, lalu mereka bisa berbahagia bersama dan melupakan masa lalu.
Aku akan segera datang menjemputmu, Sera.
Aaron mengucapkan kalimatnya seperti merapal janji, mengepalkan tangannya dan memejamkan mata dengan perasaan yang meluap-luap memenuhi dirinya, membuatnya tenggelam dalam kerinduan yang mencekik karena tak bisa terlampiaskan dalam waktu dekat.
Suara pintu yang diketuk tiba-tiba memecahkan lamunannya dan membuat Aaron berjingkat dari posisinya berdiri di depan cermin. Dia berdehem untuk menenangkan diri dan mengembalikan posisi pikirannya ke alam sadar, setelahnya, lelaki itu merapikan dasinya dan menatap tajam ke arah pintu.
"Masuklah," perintahnya dengan suara serak kemudian.
Pintu ruangannya terbuka dan seorang wanita berpakaian perawat muncul di sana.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
***
***
__ADS_1
***