
CRAZY UPDATE 2 dari 10
Hello.
Part crazy update diposting secara bertahap sepanjang hari kamis tanggal 7 November 2019.
Untuk lolos reviewnya, author tidak bisa menjamin sepuluh bisa lolos langsung secara bersamaan ya.
Mudah-mudahan sesuai mau author bisa lolos langsung ke sepuluh-sepuluh partnya.
Tetapi, jika admin Editor mangatoon membutuhkan waktu bertahap untuk mereview part crazy update ini sehingga episode2nya keluarnya tidak bisa berbarengan dan bertahap terpisah-pisah jam atau bahkan terpisah hari ( baru update besok ), maka mohon permaklumannya ya.
Regadrs, AY
***
“Kenapa kalian semua ada di sini? Di mana asistenku?”
Suara Xavier yang tiba-tiba muncul membuat Akram menolehkan kepala. Ekspresinya yang sudah masam berubah semakin masam ketika matanya bertemu langsung dengan Xavier.
“Memangnya kau mau apa dari Elana?” sahut Akram kasar sambil mengerutkan kening.
Xavier menyeringai, tatapannya seolah meremehkan ke arah Akram.“Oh, ayolah Akram, cobalah bersikap profesional. Ini baru hari pertama Elana bekerja di sini dan kau tampaknya sudah kesulitan untuk melakukannya. Tingkahmu bukanlah seperti bos yang profesional, tetapi lebih mirip anjing penjaga galak yang menggonggongi siapapun yang berusaha mendekati barang miliknya.”
Wajah Akram menggelap, dipenuhi kemarahan yang amat sangat. “Kau menyamakanku dengan anjing?” serunya dengan nada marah tertahan.
Xavier menyeringai dan mengangkat bahu, ekspresinya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.
“Coba ambil cermin dan berkacalah, lalu pandangi wajahmu yang menakutkan itu. Kurasa bahkan Elios pun akan berpikiran sama tentangmu. Iya kan, Elios?”
Begitu Xavier menyebut namanya, Elios langsung mengumpat dalam hati. Entah kenapa Xavier seperti sengaja melibatkannya ke dalam pertengkaran dua kakak beradik yang tak berujung itu.
Disudutkan seperti itu, Elios sendiri langsung memasang wajah datar profesionalnya dan melemparkan tatapan hormatnya yang biasa ke arah Akram.
“Tidak, tuan. Tentu saja saya tidak beranggapan begitu,” jawabnya cepat untuk meyakinkan Akram
.Xavier sendiri tak bisa menahan tawa, suara kekehannya memenuhi ruangan, membuat Akram semakin jengkel tak terperi.
“Tapi ada benarnya kau menaikkan penjagaanmu terhadap Elana. Begitu dia datang, mungkin dia akan membuat hati Elana luluh dan merebut Elana darimu,” sahutnya kemudian dengan nada penuh misteri.
Ekspresi Akram langsung menggelap. Ditatapnya Xavier dengan curiga.
“Siapa maksudmu?” tanyanya dengan desisan mengancam. “Apa yang kau rencanakan kali ini, Xavier?” desaknya marah
.Xavier menegakkan tubuh, lalu menatap Akram dengan tatapan serius meskipun postur tubuhnya tetap santai.
“Aku sedang berusaha menyelamatkan perusahaanmu dari kebocoran aliran uang keluar. Aku menemukan beberapa aliran keluar yang mencurigakan di pos-pos pengeluaran perusahaanmu, terutama di alur pengeluaran untuk CSR perusahaanmu yang sangat besar. Kau mungkin terlalu sibuk dengan urusanmu sehingga tidak memperhatian detail atas program CSR perusahaanmu, tetapi aku menemukan aliran dana yang sangat besar yang dikeluarkan dengan hati-hati menggunakan berbagai pos kamuflase dan pengeluaran palsu untuk mengelabuhi semua orang. Dan itu sudah berlangsung sejak lama.”
Mata Akram menyipit. “Apakah salah satu direktur di sini pelakunya?”
“Kurasa begitu,” jawab Xavier dengan nada tenang.
“Siapa?” tanya Akram lagi, kali ini nadanya benar-benar gelap penuh ancaman.
Xavier memiringkan kepala, mengawasi ekspresi wajah Akram dan senyumnya kembali melebar.
“Aku punya beberapa nama, lebih dari satu. Tetapi aku tak akan menyebutkan nama kepadamu sebelum aku memiliki bukti yang kuat dan legal. Karena itulah aku memanggil Craden kemari. Dia adalah auditor dan penyelidik keuangan berlisensi. Aku mungkin bisa membantu menemukan seluruh keganjilan di aliran pengeluaran perusahaaan ini, tetapi Cradenlah yang akan mengumpulkan bukti secara legal dengan hasil temuan legal pula yang bisa langsung membuatmu menyeret pelaku pencuri uang perusahaanmu ke jalur hukum,” Xavier memiringkan kepala dan menatap Akram dengan penuh penilaian. “Aku berpikir kalau kau pasti akan memilih menggunakan jalur hukum untuk menangani pengkhianat yang menggerogotimu dari dalam. Atau… kau lebih memilih cara lain? Kalau memang iya, aku punya racun yang bisa menghancurkan tubuh manusia hingga meleleh menjadi gumpalan darah tanpa jejak….”
“Singkirkan racun-racunmu itu dari area perusahaanku, Xavier. Dan gunakan cara yang sepantasnya untuk menangani pencuri itu.” Akram menipiskan bibirnya dengan marah. “Haruskah kau memanggil Craden kemari?” ujarnya dengan nada tidak senang.
Xavier terkekeh. “Siapa lagi yang pantas menangani skandal keuangan di perusahaan terbesar negeri ini kalau bukan Craden? Dia adalah auditor berlisensi terbaik di negeri ini. Orang mungkin akan meragukan hasil pekerjaanku, tetapi tak akan ada yang meragukan hasil temuan Craden,” Xavier menyipitkan mata. “Kau harus berhati-hati, Akram. Sepertinya musuh-musuhmu telah berhasil menyusupkan orang-orang ke perusahaanmu untuk menggerogotimu dari dalam. Direktur yang mencuri diam-diam darimu dengan metode yang sangat canggih ini. Aku yakin dia tak bergerak sendirian, ada kekuatan besar lain di belakangnya yang mendorongnya, sehingga dia berani melawanmu.” sambung Xavier dengan nada serius penuh peringatan.
***
***
“Apakah aku sudah boleh pergi dari sini dan bekerja lagi?” Elana beranjak berdiri ketika melihat Akram memasuki ruangan. “Kurasa Elios sudah menungguku di sana. Dia bilang akan melanjutkan mengajariku mengenai software asisten yang baru saja diinstal di komputerku,” sambung Elana kemudian ketika melihat Akram hendak menyatakan ketidaksetujuannya.
__ADS_1
Akram membeku sejenak, kemudian lelaki itu tiba-tiba saja membuka kedua lengannya.
“Kemarilah,” ujarnya dengan nada memerintah.
Hanya sedetik Elana meragu, kemudian perempuan itu akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Akram dan berhenti tepat di depan lelaki itu. Hal itu membuat Akram tersenyum penuh ironi bercampur kejengkelan.
Perempuan lain tidak akan berpikir dua kali jika diberi kesempatan untuk menghambur ke dalam pelukannya. Tetapi, perempuan ini malah berdiri di sini, diam di depannya padahal jelas-jelas Akram sudah membuka lengannya lebar-lebar untuknya.
Dengan gemas Akram akhirnya meraih tubuh Elana dan membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. Tubuh Elana yang mungil langsung tenggelam di peluknya sementara Akram menenggelamkan indra penciumannya di kelembutan rambut Elana yang beraroma menyenangkan.
Elana sejenak terdiam dan menunggu ketika Akram melingkarkan lengannya dengan erat di tubuhnya dan mengelus punggungnya perlahan. Ketika lama kemudian lelaki itu tak juga mengeluarkan suara, Elana akhirnya menempatkan kedua tangannya di dada Akram dan menarik dirinya menjauh, mendongakkan kepala untuk menatap lelaki itu.
“Akram? Ada apa?” tanya Elana dengan sikap khawatir bercampur ingin tahu.
Akram tersenyum kecut, sementara matanya mengawasi Elana dengan tatapan tajam.
“Apakah menurutmu aku tampan?”
Pertanyaan Akram itu sungguh tak terduga dan membuat kerutan di dahi Elana semakin dalam.
Apa-apaan? Kenapa lelaki itu tiba-tiba menanyakan pertanyaan konyol semacam ini?
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Elana mengelak dan mencari cara supaya dia tak perlu menjawab.
Sayangnya, Akram bukanlah jenis yang melepaskan dengan mudah ketika dia sudah mengejar sesuatu.
“Jawab saja pertanyaanku Elana. Kalau tidak aku akan terus memelukmu seperti ini,” ancamnya pelan.
Elana mendengkus kesal. Tak punya kesempatan untuk melarikan diri lagi.
“Me… melihat banyak wanita yang mengejarmu, sepertinya kebanyakan orang berpendapat kalau kau tampan,” sambil mengalihkan tatapan supaya tak langsung menatap ke dalam mata Akram, Elana akhirnya menjawab dengan kalimat terbaik yang bisa ditemukannya.
Sayangnya, jawabannya itu tampaknya tak memuaskan Akram. Lelaki itu menggerakkan tangan untuk memegang kedua sisi bahu Elana dan mengguncangnya sedikit seolah sedang berusaha membuat Elana tersadar.
“Aku tidak butuh pendapat orang lain. Katakan kepadamu apakah aku cukup tampan?”
Elana mengangkat alis. “Ada apa, Akram? Apakah kau sedang kekurangan pujian… ataukah rasa percaya dirimu sedang goyah?” sahut Elana dengan nada berani. “Kalau memang kau butuh pujian, baiklah… aku akan mengakui kalau kau sangat tampan,” Elana mendongakkan dagu dengan angkuh, berusaha membuat kalimatnya tak terdengar seperti pujian meskipun sebenarnya dia tak sedang berbohong.
Sebab, siapa yang bisa menyangkal ketampanan seorang Akram Night yang sangat mempesona?
Semua orang yang menatap ke arah Akram pasti tak perlu menoleh dua kali untuk langsung mengakui ketampanannya. Tetapi, tentu saja Elana tak ingin membuat lelaki itu besar kepala lalu bersikap seenaknya. Karena itulah dia sengaja menahan diri, supaya Akram tidak menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Elana menatap Akram bingung.
“Khawatir tentang apa?”
Akram menyipitkan mata ke arah Elana. “Sebentar lagi akan datang seorang adonis yang sangat mempesona yang akan bekerja denganmu dan Xavier. Aku hanya sedang memastikan kalau kau bukanlah tipe yang mudah luluh dengan ketampanan luar seorang pria.”
“Seorang adonis yang sangat mempesona?” Elana melebarkan mata. “Bahkan lebih tampan dan mempesona dibandingkan Xavier?” tanyanya polos.
Ekspresi Akram langsung berubah masam. Lelaki itu mengangkat dagu Elana dan menghadapkan ke arahnya, sementara tatapan matanya tampak mengancam.
“Jadi, menurutmu Xavier tampan? Lebih tampan dariku?” desisnya perlahan.
Elana tersenyum, matanya berbinar karea entah kenapa sikap Akram yang pencemburu terhadap kakaknya malahan mirip dengan sikap anak-anak.
“Kalian memiliki jenis ketampanan yang berbeda,” jawab Elana cepat untuk menyelamatkan diri dari ledakan kecemburuan Akram yang tak terduga.
Mata Akram mengawasi Elana dengan saksama, dan lelaki itu menyadari bahwa tak ada gunanya merasa cemburu kepada Xavier. Hati Elana memang belum ditaklukkan olehnya, tetapi terlihat jelas juga bahwa Elana sama sekali tak tertarik pada Xavier. Itu berarti di hati Elana, posisinya masih lebih menang jika dibandingkan dengan kakak angkat pembawa sialnya itu.
“Xavier mungkin memiliki ketampanan yang bisa menggetarkan hati para perempuan polos yang lemah yang akan terpesona dengan tampilan fisiknya. Tetapi kemampuan sosial Xavier sangat kurang, bahkan kepribadiannya cenderung mengerikan. Begitu para perempuan itu berinteraksi lebih dekat dengan Xavier dan mengenalnya lebih jauh, mereka semua sudah pasti akan lari terbirit-birit karena ketakutan,” Akram memberikan penilaian dengan nada mengejek yang sangat kental.
Elana mengangkat alis, jiwanya tergelitik sehingga dia tak bisa menahan lidahnya untuk berkata.
“Apakah kau yakin tidak sedang membicarakan dirimu sendiri?” sahutnya spontan.
Tatapan Akram menggelap sementara bibirnya mengerut penuh ironi.“Menurutmu kepribadianku mengerikan?” Akram menjawab pertanyaan Elana dengan pertanyaan juga.
Elana menganggukkan kepala sedikit hati-hati.
“Bukan kepribadianmu… sikapmu, tatapanmu, caramu berbicara… semuanya menakutkan…” ucapnya perlahan sementara benaknya berputar kembali ke masa lalu ketika interaksi awalnya dengan Akram hanya menciptakan rasa ngeri dan takut yang memenuhi rongga dadanya.
Tangan Akram yang tadinya menyentuh dagu Elana bergerak lembut mengusap pipinya, menyelipkan anak rambutnya yang terurai ke belakang telinga perempuan itu.
“Apakah sekarang kau takut kepadaku?” tanya Akram tenang.Elana mengawasi wajah Akram, sementara pertanyaan itu menggema di dalam jiwanya.
__ADS_1
Takutkah dia? Setelah begitu banyak hal yang mereka alami dalam kebersamaan mereka yang tak singkat itu? Bagaimanakah perasaannya sekarang kepada lelaki ini? Apakah dia masih terus dihantui rasa benci, takut, terancam dan sekuat tenaga ingin melarikan diri?
“Sedikit,” karena masih tidak mampu menelaah perasaannya sendiri, maka Elana memilih memberikan jawaban mengambang yang dirasa paling aman untuknya.
Mata Akram sedikit berkilat mendengar jawaban itu, seolah-olah ada ketidakpuasan di sana. Tetapi, lelaki itu sepertinya memilih tidak memperpanjang permasalahan dan menganggukkan kepala tanda pengertian sebelum kemudian berucap lagi.
“Kau memang harus menyimpan sedikit ketakutan kepadaku,” suara Akram dalam dan gelap. “Supaya kau menyadari betapa mengerikannya hal-hal yang bisa kulakukan kalau aku sampai dikhianati oleh perempuanku.” Geramnya mengancam, menciptakan gelenyar ketakutan yang menjalari bulu kuduk Elana tanpa bisa ditahankan.
Tetapi setelahnya, sikap Akram berubah lembut. Lelaki itu memeluk Elana kembali ke dadanya dan mengusap kepalanya perlahan.
“Besok, Craden akan datang. Dia adalah Auditor berlisensi terbaik di negara ini dan tentunya akan banyak bekerja denganmu maupun Xavier. Kau, sebagai asisten Xavier akan berinteraksi lebih banyak dengannya, jadi sekarang aku akan memberikan peringatan kepadamu. Jangan berani-beraninya kau terpesona kepada lelaki itu, atau aku akan menghancurkan lelaki itu tanpa sisa.” geram Akram dengan ancaman mengerikan yang nyata.
***
Ketika Elana meninggalkan ruangan, Akram membalikkan tubuh dan melangkah ke jendela kaca besar di ruangannya yang menampilkan pemandangan langit dan merenung.
Awan kelabu tampak menutupi langit sementara suara guntur terdengar menyambar di kejauhan, menandakan bahwa hujan akan turun sebentar lagi.
Akram melirik jam tangannya. Jam dua siang. Itu berarti di jam pulang kantor nanti, kemungkinan hujan akan turun dengan deras. Akram mengingatkan dirinya sendiri untuk memberikan instruksi kepada supir Elana supaya tidak perlu menjemput perempuan itu nanti sore, karena Elana akan ikut dengan mobilnya yang akan mengantarkan perempuan itu pulang.
Ya, dia memang senang menyiksa dirinya sendiri. Meskipun harus menderita karena harus melewatkan malamnya dengan tidur sendirian, juga tidak bisa menyentuh perempuan itu dengan cara intim untuk melampiaskan hasratnya, Akram tetap bertekad untuk menghabiskan malamnya di rumah Elana dan makan malam bersama perempuan itu sebelum kemudian dia pulang ke rumahnya sendiri untuk berkutat dengan ranjangnya yang dingin dan sepi.
Belum lagi, pikiran tentang kedatangan Craden sungguh mengganggunya.
Cradence Evening, adalah teman masa kecil sekaligus senior di sekolah Akram di masa lampau. Orang tua Craden dulunya adalah tukang kebun di keluarga Akram, sementara usia Craden sendiri beberapa tahun lebih tua dari Akram, mendekati usia Xavier. Karena itulah di masa lampau, Craden lebih sering menghabiskan waktu bermainnya bersama Xavier.
Pada saat insiden mengerikan yang menimpa Xavier, Craden juga menjadi saksi dengan mata kepalanya sendiri, bertapa mengerikannya kondisi Xavier ketika pertama kali diselamatkan dan betapa sulitnya proses penyembuhan mental Xavier sampai akhirnya bisa bersikap normal selayaknya orang biasa. Mungkin karena itu jugalah, ikatan persahabatan antara Craden dengan Xavier begitu kental layaknya saudara.
Ketika menginjak usia sekolah, ayah Akram memberikan beasiswa ketika melihat potensi Craden sebagai anak yang cerdas dan menyekolahkannya di satu asrama dengan Akram. Pada saat yang sama, Xavier yang terus menerus menjalani konseling rehabilitasi untuk kesembuhan mentalnya dianggap tidak mampu untuk menjalani kehidupan berasrama yang mengharuskannya berbaur dengan orang banyak, sehingga diputuskan bahwa Xavier menjalani pendidikan di rumah.
Di masa asrama itulah, dengan Craden sebagai seniornya dan tanpa ada Xavier di antara mereka, hubungan persahabatan Akram dan Craden berkembang pesat. Pada masa itu, Akram sangat mengagumi Craden dan menjadikan lelaki itu panutannya. Dia bahkan sempat berharap seandainya saja Craden yang menjadi kakaknya dan bukannya Xavier yang gila dan jahat yang suka membunuh hewan peliharaan kesayangannya dan merenggut mainan-mainan kesukaannya.
Karena usia Craden lebih tua darinya, maka lelaki itu lebih dahulu lulus dari asrama dan kemudian memutuskan untuk merintis usaha sendiri serta menolak bantuan finansial dari ayah Akram. Kemudian, ketika ayahnya yang menjadi tukang kebun di keluarga Akram meninggal dunia, Craden akhirnya memutuskan untuk tinggal di luar negeri dan mengadu nasib atas kesempatan besar yang menantinya di sana.
Setelah Akram menyelesaikan sekolahnya dan pulang ke rumah, insiden mengerikan itu pun terjadi yang membuat Xavier diusir dari keluarga Akram dan diputuskan hubungan kekerabatannya dengan keluarga mereka.
Pada saat itulah, Craden datang dan menolong Xavier. Dua lelaki itu, yang sama-sama merintis segala sesuatunya dari bawah akhirnya sama-sama bangkit berjuang dan mencapai puncak kejayaan mereka dengan caranya masing-masing.
Yah, Xavier menjadi kaya raya bukanlah suatu hal yang perlu dipertanyakan. Otaknya yang jenius dan kemampuan mengingatnya yang seperti komputer sudah pasti menjadi bekal yang berlebih baginya untuk menggapai kekayaan. Berbeda dengan Craden, lelaki itu berjuang dengan kekuatannya sendiri sehingga saat ini bisa dibilang dia mampu mengangkat dirinya untuk menjadi setara baik dengan Akram maupun Xavier.
Jika Akram bisa dibilang pandai dan Xavier disebut sebagai anak jenius, maka Craden berada di atas mereka semua. Lelaki itu memiliki wajah setampan Xavier dengan otak luar biasa cerdas dan kekayaan melimpah yang didapatkan bukan dari warisan orang tua atau nama besar keluarga yang memberikannya garis keturunan, melainkan dari kerja kerasnya sendiri yang luar biasa.
Craden benar-benar memulai segalanya dari nol, hingga akhirnya dia mencapai puncak kejayaannya dengan kekuatannya sendiri. Dan hal itulah yang membuat Akram, mau memberikan respeknya yang tak mudah diberikannya kepada orang lain.
Sayangnya, dalam pertikaian antara Akram dengan Xavier, Craden memilih berada di pihak Xavier. Bukan karena lelaki itu membenci atau memiliki dendam terselubung dengan Akram, tetapi lebih karena Craden memiliki rasa solidaritas tinggi pada Xavier, yang sama-sama berasal dari manusia kelas bawah yang berjuang dari bawah pula.
Meskipun lebih memilih menjadi sahabat dan mendukung Xavier, Akram bisa memastikan bahwa lelaki itu memilih tak terlibat langsung dalam pertikaian terutama yang menyerang Akram secara fisik. Sebagai seorang akademisi, tentu saja Craden memilih untuk tidak terlibat sama sekali dengan pertarungan antara Akram serta Xavier yang penuh dengan senjata dan darah. Karena itulah, Akram sampai dengan detik ini tidak pernah menganggap Craden sebagai musuhnya.
Tetapi, entah kenapa kehadiran Craden di tempat ini, pada saat dia sedang berjuang untuk memiliki Elana terasa tidak tepat. Ada firasat buruk yang menggugat ketenangan dalam jiwa Akram, seolah-olah instingnya sebagai seorang lelaki yang telah mengklaim wanitanya membisikkan bahwa akan ada pengganggu lain yang setara dengannya, yang sedang mengincar wanitanya.
Tentu saja Akram tak akan membiarkan itu terjadi. Elana hanya miliknya dan Akram akan menyingkirkan siapapun yang mencoba merenggut perempuan itu dari sisinya.
***
CRAZY UPDATE 2 dari 10
Hello.
Part crazy update diposting secara bertahap sepanjang hari kamis tanggal 7 November 2019.
Untuk lolos reviewnya, author tidak bisa menjamin sepuluh bisa lolos langsung secara bersamaan ya.
Mudah-mudahan sesuai mau author bisa lolos langsung ke sepuluh-sepuluh partnya.
Tetapi, jika admin Editor mangatoon membutuhkan waktu bertahap untuk mereview part crazy update ini sehingga episode2nya keluarnya tidak bisa berbarengan dan bertahap terpisah-pisah jam atau bahkan terpisah hari ( baru update besok ), maka mohon permaklumannya ya.
Regadrs, AY
__ADS_1
***