Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 4A: Darah Pertama


__ADS_3


Jemari  Xavier yang memegang pergelangan tangan Akram langsung mengencang. Dia memang sudah menanti dan memperkirakan saat-saat seperti ini. Tetapi, sama sekali tidak diduganya bahwa dia akan menghadapi ini bersama Akram yang muncul di saat tidak tepat.


“Apakah kau datang bersama kelompokmu?” Xavier bertanya sambil menggertakkan gigi. Bagaimanapun juga, dia harus mengatasi ingatan mengerikan yang langsung membanjir begitu dirinya berhadapan langsung dengan pemimpin penculik itu. Meskipun sekarang sedang mengenakan pakaian yang bagus dan perlente, wajah penculik itu masihlah sama mengerikannya seperti dalam ingatan Xavier di masa lampau.


Pemimpin penculik itu terkekeh. “Tentu saja aku datang bersama mereka semua. Mereka menunggu di bawah karena aku hanya berhasil mendapatkan satu saja undangan untuk memasuki pesta ini. Lagipula, hanya aku yang paling tampan sehingga akulah yang paling pantas menyamar untuk memasuki pesta ini,” mata pemimpin penculik itu menelusuri Xavier dari atas ke bawah dengan sikap melecehkan yang kejam. “Sebenarnya aku ingin langsung membunuhmu. Tetapi, rasanya akan menyenangkan jika kita mengadakan 'reuni' lebih dahulu, bukankah begitu?” tanyanya dengan sikap melecehkan yang kentara.


Tubuh Xavier gemetar. Bukan karena ketakutan, tetapi lebih karena menahan rasa marah dan jijik.


“Jika aku berteriak. Kau akan ketahuan dan ditangkap,” ucapnya mengancam.


Ancaman Xavier itu sama sekali tak membuat pemimpin penculik itu gentar. “Di balkon ini sangatlah sepi, aku sudah memeriksanya. Jika kau berteriak, pun suaramu yang berasal dari tempat jauh ini, akan terkalahkan oleh suara musik orkestra yang dimainkan di bawah sana. Bahkan jika ada yang mendengar suaramu pun, mereka akan terlambat datang karena aku sudah membunuh kau dan adikmu,” tangan pemimpin penculik itu keluar dari belakang tubuhnya dan langsung menodongkan pistolnya, membidik ke arah Xavier. “Aku akan senang menembakmu dan membawa adikmu bersamaku. Dia mungkin lebih menyenangkan untuk diculik dibanding dirimu,” pemimpin penculik itu sengaja mengucapkan kalimatnya secara tersirat, membuat darah Xavier mendidih oleh kemarahan hingga hampir saja menguasai logika dan emosinya.


Tetapi beruntung di titik dirinya hampir meledak, Xavier bisa menguasai dirinya. Dia berpikir keras, lalu akhirnya memutuskan untuk mempertaruhkan dirinya.


Xavier melepaskan genggamannya dari tangan Akram, sementara tatapan matanya memberikan isyarat tegas supaya Akram berdiam dan menunggu sampai diberikan instruksi selanjutnya. Tubuhnya lalu maju, sengaja menutupi Akram dari pandangan dan menggunakan dirinya sebagai tameng. Langkah kaki kecilnya dengan berani membawa tubuhnya mendekat semakin dekat hingga hanya sejangkauan tangan dari pemimpin penculik yang tertegun karena tak menyangka kalau Xavier akan seberani itu mendekatinya.


“Aku belum membuka mulutku ke polisi dan ayahku, itulah yang membuat kalian bisa berkeliaran dengan bebas sampai detik ini. Tetatpi, aku sudah menulis ciri-ciri dan gambaran wajah kalian semua di laci khusus di kamarku. Jika sampai terjadi sesuatu kepadaku, kedua orang tuaku cepat atau lambat akan menemukan catatan itu dan mengejar kalian,” tatapan Xavier tampak mengejek, dilakukan dengan sengaja karena dia tahu betapa narsisnya pemimpin penculikan ini dan betapa mudahnya emosinya tersulut jika diremehkan. “Apakah kau tahu jika ayahku, Baron Night sudah menjentikkan jarinya, maka dia akan mendapatkan apa yang dia dapatkan? Apalagi yang dihadapi ayahku hanyalah kecoak kotor semacam kalian, bahkan untuk menculik seorang anak saja kalian tidak becus dan berbuat kesalahan."


“Wajah pemimpin penculik itu memerah marah karena perkataan meremehkan Xavier.


Anak sekecil ini, berani-beraninya mengata-ngatai dirinya yang dewasa? Sungguh kurang ajar! Persetan dengan segala rencana! Ternyata segala siksaan yang diberikannya kepada Xavier masihlah belum cukup! Dia akan memberi anak kecil bermulut tajam ini pelajaran!


“Kau bocah kecil kurang ajar sok berani!” pemimpin penculik itu menurunkan pistolnya, lalu menggunakan tangannya untuk mencengkeram kerah pakaian Xavier. Seketika itulah Xavier menggerakkan tangannya yang sejak tadi tersembunyi di saku celananya. Sebuah suntikan berukuran sangat kecil yang dia modifikasi sendiri, berisi racun hasil percobaannya. Sebelum pemimpin penculik itu sempat menghindar, Xavier segera menancapkan jarum itu ke lengan penculik tersebut, membuat penculik itu mengaduh karena rasa menusuk yang tajam di sana.


“Kurang ajar!” Penculik itu berteriak dengan kasar. Pistolnya terjatuh dari tangannya, sementara matanya melirik ke arah lengannya. Matanya melihat jarum kecil yang jatuh dekat kakinya. Bibirnya lalu membentuk seringai mengejek ke arah Xavier. “Kau sedang mainan apa, anak kecil? Kau pikir jarum sekecil itu bisa melukaiku?” tangan pemimpin penculik itu mencengkeram ke arah leher Xavier, lalu mencoba mencekik lehernya yang kurus itu.


Xavier yang tahu jika perhatian pemimpin penculik itu sudah teralihkan, dengan cepat, kaki kecilnya menendang pistol si pemimpin penculik yang jatuh di dekat kakinya, menendangnya sejauh mungkin dari jangkauan si pemimpin penculik tersebut. Lalu, sebelum si pemimpin penculik itu sempat berbuat sesuatu, Xavier segera menoleh ke arah Akram yang masih terpaku di tempatnya dengan wajah pucat ketakutan.


“Lari! Cari bantuan!” teriak Xavier keras, membuat Akram terkesiap dari posisinya berdiri.


Sejenak, Akram masih tampak ragu, matanya berkaca-kaca menahan tangis bercampur ketakutan. Tetapi, Xavier menguatkan hati dan kembali membentak adiknya itu supaya bergerak menyelamatkan diri dan menjauh dari situasi berbahaya ini.


“Lari, Akram! Lari!”


Lecutan bentakan Xavier yang kedua itu akhirnya mampu menggerakkan tubuh Akram. Anak itu mundur dengan gemetaran, lalu dengan berurai air mata, Akram membalikkan tubuh  dan berlari menjauh dari lorong itu, lepas dari jangkauan.


Melihat mangsa berharganya lepas menjauh hanya karena dia telah kalah dari emosinya, membuat pemimpin penculik itu mengumpat-umpat tak karuan, segala kalimat kotor membanjir dari mulutnya, dan cengkeraman tangannya di leher Xavier semakin kuat, menggunakan anak yang dianggapnya sampah itu sebagai pelampiasannya.


“Sialan! Sampah sepertimu harusnya sudah membusuk dari dulu!” teriaknya penuh kemurkaan. Lupa akan ancaman Xavier dan juga segala rencananya, pemimpin penculik itu memutuskan untuk membunuh Xavier saat itu juga.


Tetapi, ada sesuatu yang aneh yang mengusik dirinya. Ekspresi Xavier saat berada dalam cekikannya saat ini benar-benar mengganggunya. Bukannya ketakutan atau kesakitan, Xavier malahan tersenyum lebar dengan tatapan mengejek ke arah pemimpin penculik itu.


Ekspresi wajah Xavier, entah kenapa mengirimkan sinyal mengerikan yang membuat bulu kuduk pemimpin penculik itu berdiri.

__ADS_1


Anak itu masih kecil… tetapi entah mengapa mengeluarkan aura pembunuh yang sangat kental dari tubuhnya.


“Apa… Kenapa kau malah tersenyum? Apa kau sudah gila?” Pemimpin penculik itu mencoba mengetatkan cengkeraman tangannya di leher Xavier. Tetapi, entah kenapa tenaganya seolah-olah disedot oleh kekuatan tak kasat mata. Tangannya terasa lunglai dan tubuhnya terasa melemas tak terkendali, dan bukannya berhasil mengetatkan cengkeramannya ke tubuh Xavier, tangannya malah jatuh tak berdaya di samping tubuhnya, disusul dengan kakinya yang kali ini merasakan hal yang sama, tak mampu lagi menopang tubuhnya.


Pemimpin penculik itu memelototi Xavier, tubuhnya bergerak mundur, bersandar di dinding supaya tak jatuh.


“Apa… apa yang terjadi?” pemimpin penculik itu masih berhasil mengeluarkan suara sebelum kemudian tubuhnya merosot jatuh ke lantai, napasnya mulai tersengal-sengal akibat panas tubuhnya yang meningkat drastis. Lalu, tak lama kemudian pandangan  matanya mulai berkunang-kunang diikuti oleh darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya.


Xavier menegakkan tubuh, mengusap dan menepuk-nepuk tuxedonya untuk merapikannya dengan gerakan angkuh. Dia lalu berjalan ke depan pemimpin penculik itu, berdiri tepat di sana dan menunduk tanpa belas kasihan ke arah pemimpin penculik yang telah sekarat itu.


“Kau tahu apa yang tadi kusuntikkan kepadamu?’ Xavier berucap lambat-lambat dengan suara dingin. “Suntikan itu berisi bakteri Bacillus anthracis, penyebab penyakit anthraks. Bakteri itu sudah kumodifikasi hingga bermutasi menjadi lebih ganas dan lebih membunuh berkali-kali lipat dari aslinya. Kau akan mengalami gatal dan melepuh di sekujur kulitmu sebentar lagi, lalu disusul dengan radang otak dan pendarahan hebat dari seluruh tubuhmu dalam beberapa menit ke depan,” Xavier terkekeh puas. “Aku sudah memastikan bahwa kau akan mengalami rasa sakit luar biasa sebelum kematian menjemputmu,”


Mata pemimpin penculik itu melotot. Dia tidak percaya bahwa seorang anak kecil bisa melakukan ini semua pada orang dewasa sepertinya. Tetapi, apa yang dikatakan oleh Xavier kini terasa tepat seperti apa yang dikatakan oleh Xavier. Seluruh tubuhnya sakit dan terasa panas terbakar, darah yang amis tak henti-hentinya mengalir dari hidung dan mulutnya, membanjir hingga menetesi pakaiannya. Si pemimpin penculik itu bahkan mulai terbatuk-batuk karena tersedak oleh darah yang mengucur dari kerongkongannya. Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya dan merasakan sakit luar biasa yang membuat tubuhnya tak berdaya.


Xavier melirik ke arah tubuh si pemimpin penculik yang sebentar lagi mampus itu. Rasa puas bercampur lega melingkupi hatinya. Tetapi, ini semua belum selesai. Masih ada empat orang lagi yang harus dihabisinya.


Xavier meninggalkan tubuh penculik itu dengan sikap tak peduli. Petugas keamanan akan menemukan mayatnya dan mengurusnya nanti. Dia sendiri juga sudah memastikan bahwa bakteri yang menyerang tubuh si pemimpin penculik, hanya akan efektif di tubuh inang terinfeksi dan akan mati seketika setelah inangnya mati. Hal itu untuk memastikan bahwa jasad si pemimpin penculik itu tidak akan menginfeksi dan menularkan bakteri di tubuhnya kepada orang sehat lain yang nantinya akan menangani jasadnya.


Tanpa melihat lagi ke arah si pemimpin penculik yang masih mengerang-erang kesakitan, Xavier melangkah pergi meninggalkan area balkon itu. Dia hendak turun menuju area parkir untuk menghabisi empat yang sisanya.


Jika sesuai dugaannya, bahwa empat orang yang lain lagi sedang menunggu di dalam mobil, maka hal itu akan menjadi lebih mudah bagi Xavier.


Karena dia memiliki alat berbentuk semprotan, berisi spora bakteri Bacillus anthracis yang bisa efektif membunuh manusia dalam ruang yang tertutup rapat.



Baron yang baru saja sampai rumah setelah mengurus segalanya, melepas jasnya dengan ekspresi lelah sambil menatap ke arah Marlene yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Tidak disangkanya Marlene malahan sedang menunggunya sampai larut begini di ruang tamu, bersama Xavier yang tampaknya sudah terlelap sejak lama.


Xavier tampak berbaring miring di atas sofa dengan berbantalkan paha Marlene. Anak itu terlihat tidur pulas dengan jemari lentik Marlene mengusap-usap rambutnya. Mata Baron mencari-cari ke seisi ruangan, tetapi tidak menemukan Akram di sana. Kemungkinan besar, Akram sudah diantarkan tidur di kamar bersama pengasuhnya.


Hari ini luar biasa melelahkan bagi Baron. Insiden matinya lima orang di pestanya dengan cara mengerikan, dimana yang satu mati di balkon atas dan yang lainnya mati di dalam mobil di tempat parkir, sungguh membuat pihak kepolisian kerepotan luar biasa. Baron jadi sibuk mengurus segala sesuatunya dari mengawal hasil penyelidikan polisi, sampai dengan menangani media massa supaya berita menyangkut insiden ini tetap terkendali dan tidak berkembang menjadi gosip raksasa. Dia sudah membungkam yang perlu dibungkam, dan bekerjasama dengan orang-orang di berbagai posisi untuk menyelesaikan semua hal. Karena itulah, baru tengah malam menjelang dia baru bisa pulang ke rumah.


Semalam, hingar bingar pesta diruntuhkan oleh Akram yang berteriak sambil menangis ke tengah pesta, mencari bantuan karena ada orang jahat yang ingin melukai kakaknya.


Situasi jadi tak terkendali karena bukan hanya Baron yang menghambur ke balkon atas, tetapi juga diikuti oleh petugas keamanan dan juga para tamu yang ingin tahu. Kehebohan langsung terjadi ketika mereka malahan menemukan pemandangan mengerikan di sana, sesosok mayat laki-laki yang mati mengenaskan tergenang darah dengan sekujur tubuh dipenuhi benjolan dan lepuhan warna hitam yang mengerikan.


Seolah satu mayat itu belum cukup mengerikan, petugas keamanan yang menyisir lokasi untuk mencari keberadaan Xavier malahan menemukan empat mayat lagi yang mati mengenaskan dalam kondisi yang sama di dalam mobil yang tertutup rapat di tempat parkir.


Hasil dari laboratorium menunjukkan bahwa mayat-mayat itu terpapar oleh bakteri mematikan yang sama, hanya saja cara mereka terinfeksi di area berbeda. Yang mati di balkon terinfeksi di aliran darahnya dan yang lainnya sepertinya terinfeksi di saluran napas dimana bakteri itu masuk dalam wujud spora yang dihirup.


Yang lebih aneh lagi, bakteri itu sepertinya dimodifikasi untuk langsung mati setelah inangnya juga mati, sementara yang berwujud spora di udara juga dimodifikasi untuk langsung  mati setelah beberapa menit tidak menemukan inang untuk ditempati. Hal itu membuat, meskipun bakteri itu memiliki efek mengerikan, dia tidak bisa menyebar dan menulari orang lain.


Sistem kerja bakteri itu benar-benar seperti mesin pembunuh yang dibuat hanya untuk melukai orang atau sasaran yang dituju saja…


Tangan Marlene masih mengusap rambut Xavier yang lembut, ekspresi wajahnya sangat sedih.

__ADS_1


“Aku sangat bersyukur karena Xavier berhasil melepaskan diri dari penculik itu dan bersembunyi di salah satu ruang kamar hotel milik kita. Tetapi yang membuatku terkejut adalah ketika Xavier akhirnya membuka mulutnya pertama kali setelah sekian lama dan mengidentifikasi bahwa yang mati di balkon itu adalah pemimpin dari gerombolan penculiknya. Tak lama polisi menyatakan bahwa empat lain yang mati di mobil adalah rekannya juga. Mereka sudah pasti datang ke pesta itu dengan niat buruk kepada Xavier, beruntung akhirnya mereka semua menemui ajal sebelum mencapai maksudnya,” Marlene mendongakkan kepala dan menatap ke arah Baron dengan sikap polos. “Menurutmu, kenapa mereka semua mati bersamaan? Apa yang terjadi?”


Baron langsung menatap ke arah Xavier yang masih tertidur pulas, lalu matanya kembali mengawasi wajah Marlene.


Istrinya itu memiliki hati yang begitu tulus dan selalu berpandangan baik pada semua orang. Itu semua tampak dari bagaimana cara Marlene mencintai Xavier seperti anak kandungnya sendiri dengan tulus tanpa membedakan. Tetapi, sampai dengan detik ini, Marlene tetap memandang Xavier sebagai malaikat kecilnya yang tanpa dosa…


Bagaimana jika pandangan Marlene ternyata salah?


Baron menelan ludahnya, mencuri-curi pandang ke arah Xavier sambil berupaya menghilangkan pikiran buruk yang menggayuti dirinya.


Berdasarkan hasil forensik, polisi akhirnya menyatakan bahwa kemungkinan besar, kelima penculik itu telah terkontaminasi oleh bakteri yang telah bermutasi di suatu tempat sebelum datang ke pesta itu. Jadi, merupakan sebuah kesialan ketika akhirnya bakteri itu menyerang di kondisi puncaknya dan membuat mereka semua mati dalam sekejap hampir bersamaan waktunya. Mereka semua malahan sibuk mensyukuri bahwa bakteri yang mengkontaminasi itu bukanlah jenis bakteri yang menular dan menyebabkan pandemi.


Baron berpikir bahwa polisi buru-buru menutup kasus ini, karena korbannya adalah para penculik yang melakukan tindak kejahatan keji yang saat itu sedang dalam masa pengejaran.Mereka orang jahat, jadi tidak ada yang bersedih dan menuntut keadilan atas kematian mereka yang aneh.


Bukankah dengan begini, maka sekali tepuk dua ekor lalat langsung mati? Polisi berhasil menemukan pelaku penculikan, dan mereka tidak perlu memperpanjang proses lagi karena para pelaku kejahatan itu sudah mati secara bersamaan.


Tentu saja ada berbagai kecurigaan yang muncul, terutama menyangkut situasi kebetulan yang berkaitan dengan kondisi Xavier. Tetapi, ketika mata semua orang terarah kepada Xavier dan melihat bagaimana rapuhnya anak itu, semua orang dewasa pasti langsung berpikir, bahwa tidak mungkin seorang anak kecil bisa menjadi dalang di balik semua peristiwa.


Tetapi, mereka semua tidak mengetahui kemampuan Xavier seperti yang diketahui oleh Baron. Jika mereka mengetahui sedikit saja dari kemampuan otak Xavier, mereka semua pasti akan ketakutan seperti yang dia rasakan saat ini.


Mata Baron beralih ke pintu kaca ruang laboratorium mini yang dibuatkannya untuk anak itu. Jantungnya berdegup diiringi dengan firasat tak enak menyusup ke dalam jiwanya.Apakah dia berbuat kesalahan dengan menyediakan lab mini itu untuk Xavier?


Apakah benar dugaannya bahwa Xavierlah yang mengatur semua rencana balas dendam yang sangat mengerikan ini?



N.O.T.E.D


Sorry Episode 4 ternyata terlalu panjang untuk dijadikan 1 part karena terdiri dari 7.500 words, jadi author memecahnya menjadi 3 bagian, episode 4A, 4B dan 4C yang masing-masing 2500 words ya, supaya tidak terlalu panjang loadnya.


Eps 1 - 4 A, B dan C akan author gunakan untuk mengulas masa lalu Xavier dulu. Yang menunggu romance Xavier, sabar yakk nanti pasti muncul.



Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Regards, AY

__ADS_1



__ADS_2