
Upload 2/6 part minggu ini.
Xavier masih terpaku pada manik bening yang indah itu, yang mengingatkannya pada sepasang mata anak kecil tanpa dosa, milik perempuan berambut pendek di depannya tersebut.
Perempuan itu juga menatap Xavier, tetapi alih-alih menunjukkan keterpesonaannya, dia malahan melebarkan senyum yang sangat polos dan ceria, hampir-hampir menyilaukan mata.
“Selamat siang Tuan Xavier Light. Saya Serafina Moon. Saya hadir kemari untuk memenuhi panggilan interview dengan Anda,” ujarnya dengan sikap percaya diri nan tanpa beban.
Hal itu membuat Xavier sedikit mengerutkan kening. Ada dua hal yang mengganggunya. Yang pertama, entah karena sudah terlatih atau apa, perempuan ini berhasil menampilkan citra ceria tanpa beban di hadapannya. Seolah-olah tidak ada hal yang memberati dirinya, membuatnya tampak seperti anak kecil yang datang untuk bermain dengan bebas dan bukannya sedang datang untuk menghadapi wawancara demi mendapatkan pekerjaan kelas tinggi dengan posisi penting yang diincar oleh banyak orang berkualitas sebagai saingannya.
Yang kedua adalah kenyataan bahwa perempuan itu sama sekali tak terlihat terpesona kepadanya.
Ya, Xavier sudah sangat terbiasa ketika perempuan-perempuan yang melihat wajahnya akan melebarkan mata, sedikit tersipu, atau membuka mulutnya ketika rasa terpesona kepadanya yang membuat debar jantung mereka semakin cepat tanpa bisa ditahan lagi. Dia selalu menikmati itu semua, sambil mengejek dengan kepongahan yang tersembunyi di balik senyum manisnya.
Tetapi, perempuan di depannya itu bahkan tak melebarkan mata sama sekali. Seolah-olah ketampanan Xavier bukanlah sesuatu yang menarik untuknya. Entah kenapa… itu membuat Xavier sedikit tersinggung.
Mata Xavier menyipit penuh kewaspadaan. Jika memang perempuan ini adalah agen yang dikirimkan untuk membalas dendam, maka kemungkinan, perempuan ini sudah dilatih untuk menghadapi pesona Xavier. Yah, jika memang keluarga Dawn selicik dugaannya, mereka pasti sudah mempersiapkan perempuan ini sebelum masuk ke sarang serigala mengerikan seperti dirinya.
“Silahkan duduk Nona Sera. Saya boleh memanggil Anda begitu?” tanya Xavier dengan sikap tenang dan tanpa ekspresi. Lelaki itu meletakkan berkas di tangannya, lalu menyilangkan kaki dan bersedekap sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
Dia sengaja memasang sikap tubuh santai, meskipun tidak bisa menyembunyikan aura mengintimidasi yang menguar dari tubuhnya.
Perempuan bernama Sera itu menganggukkan kepala, lalu melangkah dengan punggung tegak dan sikap penuh percaya diri mendekat ke kursi sofa di seberang Xavier. Mata Sera sempat ragu dan melirik ke arah meja kerja Xavier nan lebar dengan kursi-kursi di seberangnya yang dikosongkan.
Hal itu tentu saja tak luput dari pengamatan Xavier. Sera sepertinya bingung kenapa sesi wawancara mereka dilakukan dengan informal sambil duduk di atas sofa dan bukan seperti biasanya yang dilakukan di meja kerja secara formal.
“Aku lebih suka melakukan wawancara kerja dengan santai. Karena aku sedang mencari asisten pribadi, bukan ajudan yang selalu tak lupa memberi hormat dengan punggung tegak ketika aku memberikan perintah,” Xavier mengulas senyum terbaiknya. “Duduklah, mari kita mulai sesi wawancaranya.”
Perempuan itu duduk, menatap Xavier dengan mata besarnya yang seperti seekor rusa. Lalu, tiba-tiba saja, insting alami Xavier sebagai seorang predator langsung menyala. Membuatnya tiba-tiba saja berpikir seandainya saja dia bisa menaklukkan dan menundukkan perempuan ini di bawahnya.
Kurang ajar. Xavier tidak tahu kenapa keluarga Dawn tidak melakukan hal sesuai dugaan dengan mengirimkan perempuan penggoda yang pandai merayu, bertubuh seksi dan berpengalaman dengan perempuan. Dengan perempuan-perempuan seperti itu, Xavier akan lebih mudah memanipulasi mereka seperti yang dia lakukan pada yang lain di masa lampau.
Alih-alih melakukan itu, yang datang kepadanya malahan perempuan berwajah polos dengan aura tanpa dosa seperti anak kecil yang secara kebetulan adalah kelemahannya.
Itulah sebabnya ketika di masa lampau dia berhadapan dengan Elana yang sekarang menjadi istri Akram, Xavier tidak pernah bisa mendorong dirinya untuk berbuat kekejaman di luar batas terhadapnya. Itu semua karena, meskipun dirinya kejam dan tak berperikemanusiaan, dia selalu memiliki keadilan yang tertanam di hatinya. Jika orang itu berbuat jahat atau pengkhianatan yang menjijikkan, Xavier tidak akan keberatan untuk memberikan penghukuman kejam. Tetapi, sedapat mungkin, Xavier tidak akan menghukum orang yang tak bersalah. Karena itulah di masa lampau, sikap Elana yang polos dan tanpa dosa telah berhasil melembutkan hatinya.
Mata Xavier mengawasi semakin tajam ke arah Sera, sementara hatinya bertanya-tanya.
Bagaimana dengan perempuan ini? Apakah aura polos tanpa dosa yang dipancarkannya itu adalah sungguhan, ataukah perempuan ini sebenarnya sudah terlatih dengan tujuan membuat Xavier lengah?
Bibir Xavier mengulas senyum, yah, mungkin dia hanya harus duduk tenang dan melihat apa yang terjadi nanti.
“Terima kasih. Kami akan menghubungimu nanti, Sera.” Xavier menutup pembicaraan dengan tenang. Hatinya puas karena sudah mengambil keputusan. Dengan sikap ramah yang disengaja, Xavier mengulurkan tangannya ke arah Sera. “Asistenku akan menghubungimu untuk hasilnya nanti.”
Sera yang tingginya jauh di bawah Xavier harus mendongakkan kepala untuk menatap lelaki itu.
“Saya tidak sabar menunggu kabar,” ucapnya dengan suara kuat, membalas senyum Xavier, sementara tangan mungilnya bergerak untuk menyambut uluran tangan Xavier.
Dua anak manusia itu bersalaman dan dengan sengaja, Xavier mengeratkan genggamannya sejenak ke tangan Sera sebelum kemudian melepaskannya.
“Kuharap kita bisa bertemu lagi.”
Xavier berbicara selayaknya mengucap janji ke arah punggung Sera yang sebelumnya sempat menganggukkan kepalanya dan berpamitan lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan pintu tertutup di belakang punggungnya.
__ADS_1
Selama beberapa lama, Xavier menatap ke arah pintu ruang kerjanya yang tertutup itu. Dia lalu melangkah ke balik meja kerjanya dan menekan tombol interkom yang menghubungkannya langsung dengan meja Elios.
“Ya, Tuan?” tak sampai sedetik Elios langsung menerima panggilan itu dan bersuara.
“Jam berapa jadwal kandidat berikutnya?” tanya Xavier cepat.
“Saya menjadwalkan setiap sesi interview selama satu jam saja dengan jeda istirahat setengah jam. Untuk saat ini, kandidat asisten nomor urut dua di jadwal berikutnya belum tiba,” sahut Elios langsung.
“Batalkan semua. Kirimkan kompensasi permintaan maaf dari perusahaan kita ke alamat mereka,” Xavier memutuskan dengan nada yakin. Seulas seringai menghiasi bibirnya sementara matanya membara penuh tekad. “Aku tak butuh melakukan sesi wawancara lagi. Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi asistenku.”
“Baik, Tuan.” Untuk sejenak, Elios terdengar ragu di luar sana. Lalu tak lama kemudian, suaranya kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih rendah. “Apakah Anda yakin dengan keputusan ini?” tanyanya lagi.
Seringai Xavier makin lebar. “Oh, aku sangat yakin, Elios. Kau bisa tenang karenanya.”
Elios tampak berdehem. Dari nada suaranya saja, lelaki itu sudah menunjukkan ketidaksetujuannya dengan gamblang. Tetapi, sepertinya Elios akhirnya memilih untuk tidak memaksakan ketidaksetujuannya tersebut karena dia sadar, bahwa bukan kapasitasnya meminta Xavier membatalkan niatnya. Tuannya Akram mungkin lebih pantas melakukan itu.
“Perlu Anda ketahui bahwa saya akan tetap menjalankan tugas saya dengan melaporkan apapun keputusan Anda mengenai kandidat istimewa ini kepada Tuan Akram.” Elios menyelipkan nada peringatan dalam suaranya. Tuannya Akram mungkin tidak akan menyetujui keputusan Xavier untuk memasukkan musuh yang masih belum jelas tujuannya ke dalam perusahaan. Apalagi posisi yang ditawarkan adalah posisi penting sebagai asisten Xavier yang kemungkinan besar akan memiliki akses ke data rahasia dan krusial perusahaan. Jika salah strategi dan lengah, bisa saja mereka malahan akan menciptakan kerugian besar bagi perusahaan.
“Tenang saja Elios. Aku yakin bahwa Akram akan setuju denganku,” Xavier menjawab dengan nada yakin.
Bagaimanapun juga, jika memang Sera dikirim oleh keluarga Dawn dengan tujuan untuk membalas dendam, maka menjadi suatu keanehan ketika dia baru dikirim sekarang, pada saat Xavier dan Akram sudah mulai berkongsi kembali.
Tebakan Xavier adalah, bahwa mereka juga mengincar Akram untuk upaya pembalasan dendam ini.
Xavier tahu bahwa Akram pasti sudah memikirkan kemungkinan ini. Adik angkatnya itu sudah pasti akan setuju dengan keputusan yang dia ambil.
“Aku juga akan sangat berhati-hati menghadapi semua kemungkinan, Elios.” Xavier menyambung santai. “Buang semua kekhawatiranmu. Jika sampai aku lengah dan merugikan Akram, aku berjanji akan menggantinya dalam jumlah dua kali lipat lebih banyak.”
Keheningan terbentang di antara percakapan mereka ketika Elios sepertinya tengah menimbang-nimbang sebelum akhirnya bersuara.
“Kapan Anda ingin saya memberitahu Nona Sera bahwa dia terima sebagai asisten pribadi Anda?”
“Jangan sekarang. Aku harus terlihat tengah menyeleksi para kandidat dengan sangat serius, bukan? Jangan sampai dia menjadi besar kepala karena mengira bahwa aku langsung memilihnya,” Xavier terkekeh perlahan. “Berikan waktu tiga hari lalu telepon Nona Sera dan sampaikan kabar baik itu,” putusnya perlahan dengan penuh pertimbangan.
Sera meletakkan jemarinya di dada ketika dia berlari melewati gerbang raksana yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan di sana. Gerbang raksasa itu adalah pintu keluar serta masuk dari dan menuju kantor utama Night Corporation yang sangat megah.
Perasaan Sera sudah tidak enak sejak dia melangkah keluar dari gedung utama tempat dia menjalani sesi wawancara yang meskipun singkat, telah berhasil menguras seluruh tenaganya. Perutnya bergolak, akumulasi dari ketegangan menumpuk yang menciptakan rasa mual menyiksa yang saat itu langsung memanjat ke kerongkonganya, tak sabar untuk terlontar keluar. Beruntung Sera bisa menahannya sekuat tenaga.
Seolah siksaan belum berakhir, Sera masih harus berjalan sangat jauh karena dia tidak membawa kendaraan ketika datang ke tempat ini.
Jarak dari gedung utama ke pintu gerbang di depan lumayan jauh, meskipun bagi manusia sehat, hal itu bukanlah masalah karena jalan khusus pejalan kaki yang disediakan sangatlah sejuk penuh dengan naungan pohon raksasa rindang yang melingkupi serta ditambah pemandangan taman bunga, pancuran air di berbagai titik serta kolam-kolam berisi ikan koi yang akan membantu supaya langkah kaki siapapun yang hendak keluar dari perusahaan ini terasa ringan hingga tanpa sadar sudah melangkahkan kaki hingga gerbang utama.
Sayangnya, semua itu tak berlaku bagi Sera. Dia sedang tidak sehat, dan itu semua dipacu oleh stres dan rasa gelisah serta ketakutannya yang membuat asam lambungnya meronta dan mempengaruhi fisiknya.
Tak mau menimbulkan keributan dengan muntah di trotoar, Sera memaksa diri mempercepat langkahnya hingga tak sadar sudah setengah berlari ketika akhirnya keluar dari gerbang tersebut.
Sera semakin mempercepat kakinya, dia tidak menoleh lagi ke belakang, hingga beruntung karena langkahnya kemudian bertemu dengan sebuah minimarket di pinggir jalan.
Sambil menghela napas lega, bergegas Sera masuk ke dalam minimarket tersebut, mengambil air dingin dari counter pendingin dan menenggaknya dengan penuh semangat sehingga menandaskan lebih dari setengah botol isi air tersebut.
Sera lalu bergegas berjalan ke kasir, hendak membayar air yang sudah diminumnya. Matanya kemudian melirik ke arah rak yang terletak tepat di depan area kasir dan tangannya langsung menyambar cokelat batangan dengan bungkus warna hitam yang tersedia di sana.
Dalam kondisi stres, cokelat batangan, yang merupakan perpaduan kakao, susu dan gula, merupakan makanan yang paling efektif untuknya saat ini. Gula bisa mengembalikan tenaga secara kilat bagi tubuhnya yang lunglai karena stres. Sementara cokelat, khususnya cokelat hitam mengandung enzim polifenol yang dapat menimbulkan efek bahagia dan menenangkan.
Kali ini, Sera benar-benar berharap kalau cokelat itu bisa membantu menenangkan dirinya…
Setelah membayar semuanya di kasir, Sera memasukkan botol minum itu ke dalam tasnya, lalu melangkah keluar dari minimarket tersebut. Tangannya dengan cekatan membuka bungkus cokelat tersebut, lalu menggigitnya dalam gigitan besar yang langsung menciptakan sensasi menyenangkan rasa manis dan nikmat membalur seluruh permukaan lidah dan mulutnya.
Seolah itu belum cukup, Sera kembali menggigit lagi, begitu terus hingga cokelat batangan tersebut tandas dari tangannya.
__ADS_1
Sudah lebih tenang sekarang.
Sera menghela napas dalam-dalam sambil membuang sisa bungkus cokelat ke tempat sampah yang dilaluinya ketika keluar dari lahan parkir minimarket tersebut. Dilihatnya ada taxi yang melaju ke arahnya dan tanpa pikir panjang, Sera melambaikan tangannya untuk menghentikan taxi tersebut, lalu masuk ke dalamnya.
Setelah menyebutkan alamat tujuan kepada supir taxi, Sera menyandarkan kepalanya ke bagian belakang kursi dan memejamkan mata.
Akhirnya.
Akhirnya dia bisa bertemu langsung dengan Xavier Night. Beruntung Sera bisa menutupi seluruh rasa takutnya dengan topeng ceria yang sebenarnya merupakan pribadi aslinya. Dia tidak tahu bagaimana ke depannya. Apakah Xavier terpedaya dengan topeng yang dipasangnya, ataukah lelaki itu ternyata sudah mengetahui segalanya, tetapi diam saja dan menunggu saat untuk menyergapnya di saat dia lengah.
Membayangkan mata tajam yang seolah menusuk dan begitu kontras dengan ekspresi ramah dan bibir penuh senyum itu, membuat Sera merasa ngeri luar biasa.
Rasa gemetar langsung melingkupi tulang punggungnya dan menjalar ke kuduknya, membuat bulu-bulu di sana berdiri ketika rasa takut kembali merayapi jiwanya.
Xavier Night. Monster mengerikan yang menjadi sumber ketakutan serta mimpi buruknya sedari kecil akhirnya ada di hadapannya. Mungkin memang ini saatnya bagi Sera untuk menghadapi sosok yang merupakan perwujudan dari ketakutan terbesar jiwanya.
Xavier berdiam cukup lama mengawasi dari lokasi tersembunyi yang ternaungi pepohonan rindang di kompleks perumahan sederhana itu.
Rasa ingin tahunyalah yang membawanya kemari untuk datang mengawasi, ingin melihat langsung tempat tinggal perempuan itu dengan mata kepalanya sendiri.
Sama sekali tak diduganya bahwa Serafina Moon, dengan segala kualifikasi pendidikannya yang luar biasa, ternyata malahan lebih memilih tinggal di perumahan sunyi nan sederhana di pinggiran kota dan bukannya tinggal di apartemen yang berada di pusat kota dan lebih mudah diakses.
Ya, jika dilihat dari kualifikasi pendidikan Sera yang sudah diverifikasinya, perempuan itu mendapatkan nilai yang gemilang dari semua jalur yang ditempuhnya. Mungkin tingkat kepandaiannya bisa menyamai Maya yang sombong dan sudah mati itu, tetapi sebagai nilai lebihnya, sama sekali tak ada jejak kesombongan yang terbaca dari tampilan luar yang ditunjukkan Sera kepadanya.
Dari pengalaman kerja Sera di perusahaan-perusahaan besar sebelumnya, Xavier meyakini bahwa Sera lebih dari mampu untuk membeli apartemen kelas atas di tengah kota dan dia tak habis pikir kenapa perempuan itu malahan tinggal di rumah kecil yang sedikit reyot dan kuno seolah-olah tak pernah direnovasi sejak rumah itu didirikan.
Perempuan itu ada di rumahnya. Sendirian.
Ya, Xavier sudah memastikannya ketika dia mengawasi dalam kegelapan. Seorang perempuan, tinggal sendirian di sebuah rumah di pinggiran kota yang begitu sepi dan gelap padahal waktu belum juga menunjukkan pukul sembilan malam.
Dirinya sendiri tinggal di perumahan megah dengan penjagaan ketat dan privasi antara satu rumah dan rumah lainnya. Tetapi perumahan milik Serafina ini bahkan tak memiliki batas dengan tetangga, menempel dengan dengan dinding tunggal satu sama lain, yang bukan hanya merusak privasi, tetapi juga keamaman. Mengenai keamanan lingkungan luar sendiri juga sangat meyedihkan. Untuk masuk ke kompleks perumahan ini, hanya tersedia satu gardu penjaga di luar yang dijaga oleh petugas keamanan berusia lanjut yang mungkin akan kepayahan ketika beradu tinju dengan pencuri atau perampok.
Tempat tinggal yang dipilih Sera ini sangat kontradiktif dengan tampilan percaya diri, profesional serta kecerdasannya yang fantastis dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Xavier pada sesi wawancara tadi pagi.
Sebuah pilihan hidup aneh yang tak bisa dimengerti oleh Xavier.
Entah kenapa, memikirkan itu membuatnya semakin tertarik kepada Sera. Perempuan itu layaknya misteri yang menunggu untuk diungkap lapisan demi lapisannya sehingga Xavier bisa melihat warna aslinya nanti. Sungguh, Xavier sangat tak sabar untuk bisa menemukan inti asli Sera, sehingga dia bisa menggenggam kelemahan perempuan itu di tangannya.
Getaran ponsel di sakunya membuat Xavier mengalihkan pandangan tajamnya dari rumah itu. Dia mengambil ponselnya dan ujung bibirnya langsung terangkat ketika melihat nama peneleponnya. Tangannya langsung memberi isyarat kepada supirnya yang menanti instruksi dan melihat dari kaca tengah mobil, memerintahkannya untuk menjalankan mobil dan meninggalkan tempat ini.
Seiring dengan laju mobil itu, Xavier mengangkat teleponnya, lalu menyapa, masih dengan senyum yang tersirat dalam nada suaranya.
“Dimitri,” ujarnya sambil menyeringai mengerikan.
Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.
Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.
Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya
Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.
__ADS_1
Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.