Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 13 : Menanti Takdir


__ADS_3


 


Xavier mempelajari ekspresi tak suka di wajah Sera dan senyum tipis terulas di bibirnya.


"Kenapa kau cemberut?" tanyanya tanpa rasa bersalah


Sera langsung berdehem, mencoba menghapuskan kebencian yang tersirat di wajahnya. Dia tahu kalau dia terus-terusan menunjukkan ketidaksukaannya kepada Xavier, lelaki itu akan mencurigainya.


Bagaimanapun, Sera melamar ke perusahaan untuk menjadi asisten Xavier. Bahkan dalam surat lamarannya, Sera menyatakan bahwa sebagai salah satu akademisi sekaligus praktisi di bidang keuangan, dia kagum dengan kinerja dan peran Xavier dalam dunia perekonomian dan bisnis sehingga termotivasi untuk bekerja kepadanya sekaligus mempelajari dan mengambil ilmu dari kejeniusan Xavier yang tak terbantahkan.


Seorang pegawai yang menuliskan kekaguman semacam itu mengenai atasannya dalam surat lamarannya, sudah pasti akan menatap atasannya itu dengan mata berbinar kagum dan tidak mungkin menunjukkan ekspresi kebencian penuh dendam dalam matanya.


Memikirkan tentang itu membuat tatapan mata Sera terpaku pada kakinya yang terbungkus selimut rumah sakit.... baru pada saat itulah Sera menyadari di mana dirinya berada saat ini, dan kenapa dia bisa sampai berada di sini.


Mata Sera melebar dan wajahnya menatap Xavier dengan panik.


"Kebakaran... rumahku!" tubuh Sera terdorong kuat, tanpa sadar langsung bergerak dan mencoba bangkit dari ranjang itu.


Tetapi seketika Xavier berdiri meninggalkan kursinya dan duduk di atas ranjang. Tangannya yang kokoh menahan tubuh Sera yang sudah setengah bangkit, lalu mendorongnya supaya kembali terbaring ke ranjang.


"Kau jangan bangun dulu. Infusmu bisa tercabut lepas," Xavier berucap tegas ke arah Sera, membuat Sera menoleh ke tangannya dan barulah dia menyadari bahwa tangannya itu sedang terhubung dengan selang infus yang tergantung di tiang dekat ranjangnya.


"Tapi... tapi kebakaran itu... bagaimana dengan rumahku?" suara Sera terdengar serak dan ekspresinya dipenuhi dengan rasa takut akan kenyataan.


Ingatan terakhirnya adalah napas sesak yang membakar paru-parunya, bahkan nyeri itu masih terasa di tenggorokannya yang sakit. Asap hitam itu mengepul mengerikan, rumahnya... rumahnya pasti...


"Secara kebetulan, rumah sakit tempatmu dilarikan ini adalah milik Akram Night yang juga milik Night Corporation. Rumah sakit menghubungiku karena aku sudah mendaftarkan identitasmu sebagai karyawan di Night Corporation sebagai asisten pribadiku," Xavier menjelaskan dengan ekspresi datar. "Mereka hanya menemukan namamu yang tercatat sebagai pemilik rumah yang terbakar habis itu, dan mereka tidak bisa menemukan sanak keluargamu. Karena itulah mereka menghubungi Night Corporation yang langsung menginfokan kepadaku sebagai atasan langsungmu."


Mata Sera berkaca-kaca. Dari semua informasi yang diberikan oleh Xavier, dia hanya mendengar jelas satu hal.... Bahwa rumahnya sudah terbakar habis.


"Aku mencoba mencari sanak keluargamu, tetapi aku tidak bisa menemukannya. Bahkan kolom nama keluarga terdekat yang bisa dihubungi di formulir lamaran kerjamu ternyata kosong." Xavier menyambung kembali kalimatnya ketika dilihatnya Sera hanya terdiam seolah menahan tangis.


Sera mengerjap ketika mendengar perkataan Xavier tersebut, dia mencoba mengusir rasa menyesakkan yang menggayuti dadanya ketika dipaksa menerima kenyataan bahwa rumah warisan dari kakeknya, sekarang sudah tak ada lagi.


Tapi Sera sadar bahwa untuk saat ini, kesedihan pribadinya bukanlah sesuatu yang penting, Sera harus berusaha supaya Xavier tak curiga akan kondisinya yang sebatang kara dan tak punya siapapun untuk menyokongnya.


Perlahan, sebelah tangannya yang terbebas dari selang infus bergerak mengusap wajah, lalu Sera menoleh ke arah Xavier dan menjawab dengan nada setenang mungkin.


"Kedua orang tuaku, kakek nenekku sudah meninggal, dan aku adalah anak tunggal mereka. Kebetulan ibuku juga anak tunggal dan ayahku adalah anak yatim piatu yang berasal dari panti asuhan." Sera memasang ekspresi sedih di wajahnya yang bukan merupakan cerminan kepalsuan.


Apa yang dikatakannya hampir mendekati sebuah kebenaran. Dengan mengecualikan ayahnya yang linglung dan invalid di penjara, bisa dikatakan Sera benar-benar sendirian di dunia ini.


Sejenak Xavier terdiam seolah berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Sera. Lalu lelaki itu memasang wajah Serius.


"Kalau begitu, setelah ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Xavier dengan tatapan menelisik. "Aku sudah mengirimkan anak buahku melihat lokasi kebakaran di rumahmu. Kondisi rumahmu bisa dibilang rata dengan tanah, tak ada satu pun yang tersisa. Anak buahku juga menghubungi pihak kepolisian untuk melihat apakah ada yang bisa diselamatkan, tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa." Xavier mengawasi Sera dengan tatapan prihatin. "Bisa dibilang, kau hanya memiliki dirimu sendiri dan pakaian yang melekat di tubuhmu." Senyum penuh ironi muncul di bibir Xavier ketika lelaki itu mengoreksi kalimatnya. "Oh aku salah, pihak rumah sakit membuang pakaian tidurmu karena sudah penuh darah dan terbakar, mereka lalu memakaikan piyama rumah sakit untukmu. Jadi sekarang, kau hanya memiliki dirimu sendiri."


Sera otomatis menunduk, menatap piyama rumah sakit yang dikenakannya, lalu mengembuskan napas panjang.


Kebingungan merayapi hatinya. Jika rumahnya rata dengan tanah, itu berarti bukan hanya harta benda, uang, perabotan atau pakaiannya saja yang hilang, seluruh dokumen pendukungnya, tanda pengenalnya, kartu atm, buku banknya, bahkan ponselnya juga hangus terbakar.... Kalau sudah begini, apa yang harus Sera lakukan?


Apakah dia harus menghubungi keluarga Dawn di Rusia untuk meminta bantuan?


Tapi Roman Dawn akan marah besar atas malapetaka yang menimpanya yang ditakutkan Sera akan berimbas pada keselamatan ayahnya di penjara negara. Roman Dawn bilang jika dalam waktu enam bulan Sera mengacau dan gagal melakukan tugasnya, lelaki itu akan memerintahkan anak buahnya yang berada di dalam penjara untuk membunuh ayahnya.


Ya, selama enam bulan ini, Roman Dawn memang melepaskan pengawasannya dari Sera dan memblokir semua hal yang menghubungkan dirinya dengan Sera. Tujuannya adalah supaya Xavier sama sekali tidak bisa menelusuri jejak hubungannya dengan Sera, sehingga penyamaran Sera untuk memasuki lingkar terdekat Xavier bisa berhasil.


Roman Dawn adalah orang yang menugaskan Sera untuk menyamar demi menghancurkan dan membunuh Xavier, dengan jaminan nyawa ayahnya.


Kenyataan bahwa sampai sekarang tidak ada satu pun orang Roman Dawn yang menghubunginya, itu berarti bahwa Roman memang benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Sera benar-benar dilepaskan dari pengawasan dalam enam bulan ini.


Tapi biarpun kebingungan seperti saat ini, Sera tidak menyesali kondisinya yang terlepas dari pengawasan Roman Dawn. Sebab, dengan begitu, setidaknya, dia bisa lepas dari ancaman Samantha Dawn.

__ADS_1


Karena yang lebih mengerikan baginya adalah... jika Samantha Dawn yang gila itu sampai mendengar insiden ini. Perempuan tua itu sudah pasti akan mendapatkan alasan untuk memaksa Roman Dawn mendatangkannya ke negara ini demi mengejar Sera dan memuaskan nafsunya untuk memberikan hukuman baginya...


Bayangan itu terasa begitu menakutkan bagi Sera sehingga tanpa sadar tangannya bergerak memeluk dirinya sendiri dan begidik ngeri.


Mata Xavier yang tajam mengawasi tingkah Sera, menyimpan rasa ingin tahunya untuk dirinya sendiri, sebelum kemudian bibirnya berucap,


"Kau bisa tinggal di rumahku."


Sera membelalakkan mata, tetap saja terkejut mendengar tawaran itu meskipun dia sudah menduga bahwa Xavier sudah pasti akan menggunakan kesempatan ini, menggunakan kemalangan yang menimpa Sera dengan tujuan memaksa Sera supaya tunduk dan melakukan apa yang dikehendakinya


"Aku sudah bilang kepadamu bahwa meskipun aku diterima sebagai asisten pribadimu, sangat tidak pantas kalau diriku sebagai seorang wanita, tinggal di rumahmu." Sera berucap dengan nada lambat-lambat penuh penekanan, menahan kejengkelan atas ketidakpedulian Xavier akan norma yang berlaku di masyarakat.


"Kenapa tidak pantas? Para pelayanku, koki dapurku, mereka semua tinggal di rumahku. Terlepas dari status mereka yang berkeluarga ataupun lajang, mereka semua adalah pegawaiku dan tidak ada satupun yang mempertanyakan kepantasan dalam hal ini," Xavier menyipitkan mata kembali, menatap Sera dengan penuh perhitungan. "Kau juga salah satu pegawaiku, bukan? Jadi, aku tidak akan membeda-bedakan antara kau dengan para pelayanku. Kalian semua adalah pegawaiku dan akan lebih efektif kalau kau tinggal di rumahku jika dilihat dari sudut pandang pekerjaan."


Sera menggertakkan gigi, berusaha menahan diri supaya tidak membantah habis-habisan logika Xavier yang luar biasa.


"Tidak bisakah aku meminjam uang darimu? Aku bisa menyewa tempat yang cukup layak untuk satu orang dan bisa membeli beberapa kebutuhanku dan mengurus dokumen-dokumenku yang berhubungan dengan bank dan simpanan keuanganku di bank." Sera berucap perlahan. "Nanti jika buku bank dan kartu atm-ku sudah diperbarui, aku akan menggantinya. Atau kau bisa memotongnya dari uang gajiku nanti...,"


"Aku tidak mempercayaimu."


Kalimat Xavier itu mengambang di udara, membuat rentetan kalimat yang hendak diucapkan oleh Sera terhenti seketika.


Mulut Sera ternganga dan matanya melebar penuh keterkejutan.


"Apa kau lupa bahwa aku baru mengenalmu? Kau bahkan belum mulai bekerja kepadaku dan menunjukkan apakah kinerjamu memang memenuhi kualifikasimu ataukah itu semua hanya di atas kertas. Karena itulah aku tidak mempercayaimu, jadi aku tak bisa meminjamkan uang untukmu. Tapi, jika kau berniat menggunakan uangku dan nanti aku bisa memotongnya dari gajimu, aku akan mengizinkannya. Dengan syarat, kau tinggal di rumahku, bekerja padaku dan membiarkanku membelikan terlebih dahulu barang-barang kebutuhanmu sampai nanti kau bisa membayarnya kembali dengan gajimu."


Ekspresi Xavier tampak dingin tak terbantahkan ketika dia mengucapkan kalimatnya, sementara matanya menatap tajam ke arah Sera.


Lelaki itu lalu bangkit dari posisi berdirinya di tepi ranjang, dan membungkuk dengan sengaja ke arah Sera, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sera.


"Ambil tawaranku atau tidak sama sekali, meskipun lebih bijaksana jika kau mengambilnya. Aku akan kembali lagi besok pagi untuk mendengar jawabanmu." Jemari Xavier bergerak mengambil seuntai rambut panjang Sera dan mengecupnya lembut. "Ngomong-ngomong, aku suka sekali dengan rambutmu yang lembut ini. Sungguh sayang selama ini kau memilih menyembunyikan keindahan ini."


Xavier melepaskan pegangannya dari untaian rambut panjang Sera, senyum puas tampak menghiasi bibirnya ketika menatap Sera yang pucat pasi.


Lalu, tanpa menunggu jawaban dari Sera, lelaki itu membalikkan tubuh dan melangkah pergi sambil meninggalkan ruangan dan membiarkan pintu tertutup di belakangnya.


Begitu yakin bahwa Xavier sudah benar-benar pergi, tangan Sera langsung bergerak meraih rambutnya, dan kepalanya menunduk menatap untaian rambut panjangnya yang tadi dikecup oleh Xavier.


Astaga! Sera baru sadar bahwa dia tidak mengenakan wig untuk melindungi rambut panjangnya ini dari pengelihatan Xavier!



"Xavier."


Elana yang sedang duduk sambil membacakan cerita untuk Zac di ruang bermainnya langsung menegakkan punggung dan menyapa dalam senyum ketika melihat Xavier tiba-tiba saja muncul dan berdiri di ambang pintu.


Xavier melebarkan senyumnya sambil memandang berganti-ganti ke arah Elana dan Zac. Lelaki itu kemudian menoleh sedikit ke arah lorong di belakangnya untuk memeriksa situasi, lalu melepas sepatunya dan melangkah masuk ke dalam ruang yang dialas matras tahan air tebal yang khusus dipasang di ruang bermain Zac tersebut.


"Akram memintaku datang menemuinya untuk membahas bisnis. Tapi, kepala pelayan tadi bilang kalau Akram sedang mandi dan dia memintaku untuk menunggu di ruang belajar. Tapi aku bosan hanya diam menunggu lalu menyelinap keluar lorong hingga mendengar suaramu, dan sampailah aku di sini."


Xavier berucap sambil melangkah hingga ke tengah ruangan. Ketika kakinya sudah dekat dengan Zac yang tengah duduk sambil menggigit-gigit mainan karetnya, lelaki itu menekuk kaki dan dengan santai duduk berselonjor di dekat Zac.


Zac memang baru bertemu beberapa kali dengan Xavier, tetapi ingatan anak itu rupanya cukup bagus untuk mengingat wajah pamannya. Senyum Zac melebar dan anak itu langsung membuang mainannya, lalu segera melebarkan tangannya yang montok dan mengapai-gapai dengan bersemangat ke arah Xavier, meminta untuk dipeluk.


Tanpa canggung, Xavier meraih Zac, lalu meletakkan anak itu ke pangkuannya, dengan wajah Zac menghadap ke arahnya.


Kening Xavier berkerut ketika menatap wajah Zac dengan saksama sementara Zac yang senang dipangku oleh pamannya langsung berceloteh riang dengan jari montoknya menggapai-gapai wajah Xavier.


"Kau tampak semakin mirip dengan Akram, kenapa bisa begitu?" keluh Xavier dengan ekspresi tak suka.


Elana yang mengawasi interaksi Xavier dengan Zac terkekeh.


"Tentu saja Zac mirip dengan Akram, Akram adalah ayahnya," sahut Elana dalam senyum lebarnya sambil memutar bola mata ketika menjawab pertanyaan konyol Zac.

__ADS_1


Xavier mengedipkan sebelah matanya pada Elana.


"Akan lebih menyenangkan kalau Zac mirip denganmu, kau cantik dan anak-anakmu seharusnya mewarisi kecantikanmu," puji Xavier setulus hati. Lelaki itu lalu menatap kembali ke arah Zac dan mencubit pipinya lembut hingga Zac tertawa-tawa senang. "Sayangnya gen Akram terlalu kuat diwariskan kepadamu, Zac yang malang. Yah, setidaknya, meskipun kau cukup sial karena bentuk fisikmu sejelek Akram, semoga kau mewarisi sifat-sifat baik ibumu dalam dirimu," gumam Xavier setengah bercanda, membuat Elana terkikik dalam tawa karena tahu bahwa hanya Xavierlah yang berani mengata-ngatai Akram seperti itu.


"Apakah kau sudah selesai mengganggu istri dan anakku?"


Suara Akram yang menyela membuat Elana dan Xavier langsung mendongakkan kepala ke arah pintu. Akram bersandar di ambang pintu, lelaki itu mengenakan turtle neck gelap dan rambutnya basah sehabis mandi. Penampilan suaminya itu tampak luar biasa mempesona seperti biasanya di mata Elana.


Dilihat dari ekspresi jengkel Akram, sepertinya lelaki itu mendengar perkataan Xavier barusan yang mengata-ngatainya.


"Bos sudah datang, aku harus pergi," Xavier mencolek hidung Zac yang tersenyum lebar, lalu menyerahkan Zac ke pangkuan Elana dengan pandangan menyesal.


"Tinggalah untuk makan malam," Elana menawarkan dalam senyum. Lalu, sebelum Xavier sempat mengucapkan kalimat penolakan, perempuan itu memandang lembut ke arah Akram dan bertanya. "Akram... boleh, kan?"


Mulut Akram sebenarnya sudah setengah terbuka untuk mengucapkan penolakan atas usul Elana yang mengajak Xavier makan malam di rumahnya. Tetapi, begitu matanya bertemu dengan mata Elana yang penuh binar permohonan, ditambah lagi dengan Zac yang seolah-olah membantu ibunya dengan memberikan tatapan mata berbinar menggemaskan ke arah Akram, hati Akram langsung melembut.


Hati lelaki mana yang tak akan luluh ketika harus berhadapan dengan dua harta berharga yang paling dia cintai di dunia?


"Boleh. Asal dia langsung pulang setelah makan," Akram menjawab sambil melirik sinis ke arah Xavier, lalu membalikkan tubuh sambil memberi isyarat supaya Xavier mengikutinya.



"Nathan sudah melapor kepadaku. Apa yang kau lakukan? Kau bilang pada Elios akan menjadikannya asisten pribadimu untuk menelisik lebih jauh hubungannya dengan keluarga Dawn. Tapi sekarang kau malah membakar rumahnya? Apakah kau berubah pikiran dan memutuskan untuk membunuhnya?"


Akram langsung memberondong Xavier dengan pertanyaan begitu mereka masuk ke ruang kerjanya yang kedap suara.


Xavier sudah membagikan informasi yang didapatnya mengenai Serafina Moon, dengan terperinci dan tanpa ada satupun yang ditutupinya kepada Akram.


Karena belum yakin apakah dendam Serafina dan keluarga Dawn juga menyangkut kepada Akram -mengingat hubungan Akram dan Anastasialah yang dulu membuat Xavier memutuskan membunuh Anastasia- Maka Akram memutuskan untuk berdiam dan bersikap pasif sambil membaca situasi. Tetapi\, mendengar laporan kebakaran di pemukiman padat penduduk yang membumi hanguskan rumah Serafina\, tentu saja Akram tidak bisa berdiam diri begitu saja tanpa meminta penjelasan Xavier.


Xavier sendiri malahan membanting tubuhnya di sofa dan menggelengkan kepala dengan sikap seenaknya.


"Tidak seekstrim itu. Aku belum akan membunuhnya. Lagipula, kenapa kau mencelaku? Aku hanya sedang mengikuti caramu," jawabnya sambil lalu.


Akram mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"


Xavier terkekeh. "Aku membakar rumah Serafina untuk menghapuskan semua pilihan yang dimilikinya sehingga dia mau tak mau, terpaksa tinggal di rumahku."


Jawaban Xavier itu membuat mata Akram menyipit.


"Kau tidak seperti dirimu, Xavier. Dirimu yang kukenal akan langsung membunuh Serafina Moon ini, lalu menyerbu ke Rusia dan menghabisi keluarga Dawn tanpa membuang-buang waktu. Sekarang, kau malah berpura-pura bodoh dan mengulur-ngulur waktu. Juga, kau sengaja membahayakan dirimu sendiri dengan memberikan kesempatan lebar kepada Serafina menembus pertahanan terdekat dirimu, padahal kau tahu bahwa dia menyimpan dendam mendalam kepadamu dan ingin membunuhmu?"


Tatapan Xavier tampak tak terbaca ketika lelaki itu menjawab pertanyaan Akram. Tetapi, kilas kepedihan tampak nyata sedetik di sana, sebelum Xavier melenyapkannya dan menyembunyikannya dalam palung hatinya yang tak berujung.


"Mungkin, aku memang sudah lelah dan ingin berhenti serta menerima penghukuman atas dosa-dosaku? Dan mungkin... aku merasa bahwa Serafina adalah algojo yang dikirimkan oleh takdir untuk membunuhku, sehingga tanpa sadar, aku berharap dia berhasil melaksanakan balas dendamnya itu."


***



***


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR


Thank You. By AY


__ADS_1


__ADS_2