
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Xavier memasang senyum lembutnya kepada Elana, tetapi lelaki itu terang-terangan memandang dingin ke arah Credence di belakang tubuh Elana.
“Aku mau berbelanja perlengkapan bayi juga, apa kau lupa? Kemarin di saat makan malam, Credence bilang akan meluangkan waktu untuk mengantarku.” Elana membalas senyuman Xavier seolah tak berdosa.
“Aku tak menyangka kalau Credence seluang itu hingga bisa berjalan-jalan dan tak bekerja. Biasanya, dia akan sangat sibuk dengan pekerjaannya, hingga bahkan untuk makan pun dia tak punya waktu,” sindir Xavier dengan nada sinis.
Credence yang telah melangkah sehingga berdiri bersisian dengan Elana memasang senyum di bibirnya.
“Kebetulan aku memang sedang ingin mengambil waktu libur untuk diriku sendiri. Aku berpikir untuk sedikit bersantai dalam beberapa hari ini. Kadang-kadang, seorang pekerja keras pun butuh waktu untuk meluruskan kaki dan meregangkan tangan.” Credence mengangguk dengan sopan ke arah Sera untuk menyapanya. “Lagipula, bukankah melihat dua calon ibu berbelanja pakaian bayi, adalah suatu hiburan menyenangkan untuk seorang laki-laki?” tambahnya kemudian, tersenyum lembut kepada Sera dengan pesonanya yang luar biasa.
Tak ada yang mempan melawan pesona Credence ketika lelaki itu sedang berniat untuk mencurahkannya sepenuh hati. Meskipun bagi Sera dia tak memiliki perasaan lebih sedikit pun kepada Credence, tetap saja dia mengapresiasi ketampanan Credence yang berpadu dengan sikap elegannya serta perlakuan sopan penuh hormatnya terharap perempuan.
Karena itulah, Sera membalas senyuman Credence dengan sikap lembut yang sama. Perempuan itu menganggukkan kepala untuk menyetujui pendapat Credence. Namun, tidak sama halnya dengan Xavier. Hatinya memanas ketika melihat senyum malu-malu yang ditujukan oleh Sera kepada Credence, lelaki itu menipiskan bibir, bersiap memulai pertarungan dengan cara yang sangat posesif.
“Seorang lelaki akan terhibur melihat calon ibu berbelanja perlengkapan bayi, jika calon ibu itu sedang mengandung anak dari benihnya. Sedangkan untuk dirimu yang tidak ikut andil apapun untuk dua calon ibu ini, aku ragu kau akan mendapatkan hiburan apapun dengan menemani mereka berbelanja. Apa tidak lebih baik kau pergi saja dan melakukan pekerjaanmu dan biarkan aku yang menjaga dua wanita ini?” usir Xavier dengan nada terang-terangan.
Sera mendongak ke arah Xavier, tatapannya jelas-jelas penuh peringatan. Bagaimanapun, sikap Xavier terhadap Credence yang begitu ramah, benar-benar terasa kasar. Sayangnya, Xavier malahan mengangkat bahu, seolah-olah tak merasa bersalah sama sekali ketika menanggapi tatapan penuh peringatan yang dilemparkan oleh Sera kepadanya.
Credence sendiri tahu pasti arti dari perkataan Xavier kepadanya. Xavier sedang memberi peringatan terang-terangan kepadanya supaya mundur. Lelaki itu seolah sedang mengumumkan bahwa Sera sedang mengandung anak Xavier, jadi tidak ada kesempatan bagi Credence untuk menyelip dan mencari celah mendekati Sera.
Tetapi, bukan Credence namanya kalau dia bisa langsung dipukul mundur oleh peringatan yang sifatnya verbal seperti itu. Sikap aneh Xavier yang seperti menahan cemburu, malahan membuat Credence tergelitik untuk terus mengusik dan membakar supaya semakin panas.
“Meskipun saat masih berstatus lajang aku memilih sibuk dengan pekerjaanku, tetapi jauh di dalam hatiku, aku adalah pria yang sangat menghargai kehidupan berkeluarga. Pasti akan sangat menyenangkan rasanya menjadi seorang pria yang memiliki tempat berpulang di rumah hangat dengan istri yang menanti dan siap memeluk untuk mengurai kelelahan di malam hari. Mengenai seorang bayi, aku sangat suka dengan anak-anak, entah anak siapapun itu. Tak ada yang bisa menolak pesona bayi lucu dengan tatapan tak berdosa dan sikap menggemaskan, bukan?” Credence mengedipkan sebelah mata, menatap ke arah Sera dan menggoda terang-terangan hingga membuat pipi Sera sedikit merona. “Karena itulah, aku suka melihat para calon ibu berbelanja kebutuhan bayi. Siapa yang tahu kalau itu juga bisa menjadi latihan untukku saat aku menjadi seorang calon ayah nanti?”
Tangan Xavier seketika bergerak dan merangkul pundak Sera, dengan posesif lelaki itu mengeratkan cengkeramannya di bahu Sera, memaksa Sera semakin menempel dalam rangkulannya.
“Karena sudah ada Elana di sini, jadi kita bisa mulai berbelanja.” Xavier mengabaikan Credence sepenuhnya dan memaksa supaya perhatian Sera supaya terarah kepadanya. “Ayo kita pilih barang-barangnya,” ajaknya dengan nada lembut.
Lalu, sebelum Sera bisa menolak, Xavier sengaja menghela tubuh Sera supaya membalikkan tubuh membelakangi Credence dan Elana. Lelaki itu kemudian melepaskan rangkulannya dan melirik ke arah Credence dengan nada penuh arti. Ketika dilihatnya Credence masih belum juga mengerti, Xavier menyapukan jemarinya dengan lembut di tengkuk Sera dan kembali melirik ke arah Credence dengan tajam.
Mata Credence sendiri sangat awas dan dia cukup ahli membaca isyarat, bibirnya langsung menipis ketika melihat bekas ciuman dan gigitan Xavier yang meninggalkan jejak di permukaan kulit tengkuk Sera yang pucat.
Astaga. Xavier benar-benar tak pernah menampakkan kecemburuan menyangkut wanita manapun sebelumnya. Kecemburuannya kepada Akram yang mengerikan pun di masa lampau ternyata bukanlah bentuk kecemburuan melainkan hanyalah sikap perlindungan posesif berlebihan kepada sang adik. Tetapi sekarang, ketika Xavier benar-benar menampakkan kecemburuannya kepada seorang perempuan, lelaki itu benar-benar bersikap seperti anak kecil yang mati-matian berjuang supaya mainan kesayangannya tidak direbut.
Xavier benar-benar mengabaikan Credence kali ini, lelaki itu membawa Sera melangkah menjauh dan langsung menuju ke salah satu rak tempat pakaian-pakaian mungil berwarna lembut tersusun rapi di sana. Elana sendiri menoleh ke arah Credence seolah meminta permakluman, lalu wanita itu bergerak menyusul mendekat ke arah Xavier dan Sera.
Credence memutuskan untuk tidak buru-buru mengikuti, lelaki itu memilih melangkah pelan ketika menyusul mendekat, memberi waktu kepada pikirannya sendiri untuk menyusun strategi. Mata Credence melirik diam-diam ke arah Sera yang kikuk di dalam rangkulan Xavier.
Perempuan ini pastilah cukup istimewa jika sampai bisa membuat Xavier takluk seperti ini. Sepertinya, meskipun Credence tidak berniat untuk sungguh-sungguh menggoda Sera supaya berpaling kepadanya, tetapi tidak ada ruginya untuk mengenal wanita ini lebih dekat.
“Kau ingin mulai dari yang mana?” Elana tersenyum sambil memandang ke sekeliling. “Aku suka berbelanja di sini karena nuansa warna barang-barang yang disediakan di sini. Semua warna pakaian dan perlengkapan bayi di sini bernuansa pastel lembut, sehingga kita bisa berbelanja dengan bebas, karena warnanya tidak mencolok pada satu gender saja. Kau tahu kan, biasanya ada pemisahan gender bayi berdasarkan warna yang membuat kita kesulitan berbelanja ketika jenis kelamin bayi kita belum ketahuan?” tanya Elana kemudian.
Sera tersenyum. “Maksudmu, warna biru untuk bayi lelaki dan warna pink untuk bayi perempuan?” tebaknya cepat.
Elana tertawa. “Nah, benar itu. Di sini, pemisahan gender berdasarkan warna tidak berlaku. Kau bisa memakaikan anak perempuanmu warna biru lembut, dan juga terdapat banyak warna-warna lain yang bisa dipilih, seperti krem, hijau pastel, bahkan oranye lembut pun ada di sini.” Elana menggosokkan tangannya dengan bersemangat, terlihat seperti anak kecil yang hendak masuk ke dalam ruangan bermain yang menyenangkan. “Jadi, kita akan mulai dari mana? Perlengkapan pakaian sehari-hari, perlengkapan mandi, atau perlengkapan tidur? Ah, ada juga perlengkapan makan, tetapi bayi kita belum bisa makan sampai usia enam bulan.” Elana menolehkan kepala dan menatap ke arah Sera dengan penuh rasa ingin tahu. “Apakah kau berencana untuk menyusui sendiri bayimu?”
Pertanyaan itu membuat pipi Sera memerah. Dia tentu sadar bahwa ada Xavier di dekatnya yang sedang merangkulnya. Xavier tentu saja mendengar pertanyaan Elana itu, dan itu membuat Sera merasa canggung. Tingkah Xavier yang tiba-tiba berubah sikap tentu saja membuat Sera bertanya-tanya. Tadi Xavier terlihat begitu santai di dekatnya, lelaki itu bahkan bisa tertawa lepas, sesuatu yang tak pernah ditunjukkan oleh Xavier kepadanya sebelumnya. Tetapi setelah Elana dan Credence datang, Xavier bersikap begitu tegang, seolah-olah rantai kesabarannya meregang tegang hingga akan putus dan meledak begitu saja.
Apa penyebabnya? Dilihat dari sikap lembut Xavier ketika menghadapi Elana, sudah jelas bukan Elana yang membuat Xavier jadi bersikap negatif begitu. Sera melirik ke arah Credence yang melangkah mendekat perlahan dan dia langsung mengambil kesimpulan bahwa Credencelah yang membuat Xavier bersikap seperti ini.
Tetapi kenapa? Bukankah Xavier dan Credence adalah sahabat akrab dan mereka berdua bahkan menjalin aliansi baik dalam hubungan pribadi maupun hubungan bisnis sejak dulu tanpa masalah?
Pandangan Sera ke arah Credence tentu saja disadari oleh Xavier. Lelaki itu mengetatkan cengkeraman jemarinya untuk meremas bahu Sera dan kembali berusaha mengalihkan perhatian Sera kembali arahnya.
“Apa rencanamu? Apakah kau berencana untuk menyusui sendiri bayimu?” Xavier menanyakan pertanyaan vulgar itu tanpa berkedip, tak peduli kalau pipi Sera jadi merah padam karenanya.
Astaga, biarpun Xavier adalah ayah dari bayinya, tetapi hubungan pribadi mereka tak seintim itu untuk membicarakan masalah menyusui bayinya di depan umum, dengan Elana yang disertakan dalam percakapan mereka pula. Tetapi, meskipun merasa sangat malu dan kikuk, pertanyaan itu sudah diajukan, dan Elana sepertinya juga tengah menanti jawabannya. Pada akhirnya, Sera tahu bahwa dia harus menjawabnya.
“Aku… jika memungkinkan, aku ingin menyusui anakku sendiri.” Sera menjawab perlahan, berdehem sejenak untuk memuluskan suaranya yang tersekat.
Mata Elana melebar senang, perempuan itu jelas tampak setuju dengan keputusan Sera.
“Wah, hebat sekali Sera. Kau tidak akan menyesal menyusui sendiri bayimu. Kau tahu, aku juga memutuskan untuk menyusui sendiri Zac sampai dua tahun masa keemasan dirinya, tetapi sekarang, aku harus berhenti melakukannya karena kehamilan ini.” Elana mengelus perutnya lembut, perempuan itu tampak menyimpan emosi campur aduk di dalam dirinya, seolah-olah penyesalannya membaur dengan kebahagiaan atas kehadiran calon adik Zac di dalam perutnya. “Tetapi, setidaknya aku hamil saat Zac sudah bisa mendapatkan asupan makanan selain ASI, jadi aku bisa lebih tenang,” sambung Elana kemudian sambil tersenyum cerah.
Mata perempuan itu kemudian mengarah ke perut Sera dan keningnya sedikit berkerut ketika dia mengalihkan tatapan matanya ke arah Xavier. “Tetapi, Dokter Nathan bilang kalau kemungkinan besar Sera mengandung anak kembar, bukan?” tanyanya lagi.
Xavierlah yang kini menganggukkan kepala. “Ya. Kemungkinan besar Sera mengandung anak kembar.” Xavier menjawab cepat, menyetujui pertanyaan Elana sebelumnya.
__ADS_1
“Kalau begitu, pengaturannya mungkin sedikit berbeda denganku. Aku tidak memiliki masalah berarti dalam menyusui Zac, karena kebetulan air susuku mengalir sangat deras, yah meskipun ada saatnya aku benar-benar kewalahan karena Zac sangat aktif menyusu. Orang bilang, bayi lelaki lebih rakus dalam menyusu dibandingkan dengan bayi perempuan.” Elana berbisik dengan nada rendah yang hanya ditujukan kepada Sera. Perempuan itu lalu menatap ke arah perut Sera lagi dengan tatapan lembut. “Tetapi, jika kau mengandung anak kembar, mungkin berbeda lagi permasalahannya. Kurasa kau harus membeli pompa ASI untuk menampung ASImu sekaligus memancing produksi ASI yang lebih besar.”
“Pompa ASI? Jadi aku tidak menyusui secara langsung?” Sera mengerutkan kening, tampak tidak mengerti.
“Untuk bayi kembar, kurasa kau harus lebih fleksibel dan tidak memaksakan diri harus menyusui secara langsung. Ada masanya kau harus fokus pada satu bayi yang sedang menangis misalnya, sementara yang satu lagi sedang kelaparan dan butuh minum ASI dengan segera. Pada saat itulah, stok asi di pendingin yang diberikan dengan botol akan sangat membantu. Xavier mungkin bisa membantu menyusui salah satu bayimu dengan botol sementara kau mengurus yang lainnya. Pengaturan itu akan sangat penting sehingga kebutuhan bayimu terpenuhi dalam proses pertumbuhannya.” Elana tersenyum ke arah Xavier, sekali lagi berucap dengan nada tak berdosa.
Kedua pasangan di depannya tersebut langsung berubah canggung. Sera kehabisan kata-kata karena dia tahu bahwa setelah dirinya melahirkan anak ini, dirinya kemungkinan tak akan berhubungan lagi dengan Xavier. Pun dengan Xavier sendiri, dia bahkan berpikir bahwa kemungkinan dia sudah sekarat menghadapi kematiannya pada saat anaknya sedang bertumbuh besar.
“Aku tidak….” Xavier mengeluarkan bantahannya dengan spontan, tetapi Elana sepertinya sedang tidak ingin mendengarkannya karena perempuan itu tiba-tiba menarik tangan Sera dan membuatnya terlepas dari rangkulan Xavier.
Dengan ringan, Elana mengajak Sera mengikuti langkahnya dan membawa mereka berdua ke arah salah satu rak yang ada di dekat mereka.
“Kalau begitu, selain pompa ASI elektrik, kita harus membeli botol susu, pensteril botol dan juga penghangat susu elektrik, jangan lupakan suplemen khusus ibu menyusui yang bisa memaksimalkan produksi air susu. Kau lebih suka merk yang mana?”
Mengabaikan keberadaan Xavier, Elana membawa Sera menjauh darinya. Kedua perempuan itu lalu dengan riang bercakap-cakap satu sama lain, memilih-milih barang dengan asyik seolah-olah melupakan keberadaan orang lain di dalam ruangan itu.
***
Credence melangkah mendekat dan berhenti di sebelah Xavier. Sama seperti Xavier, pandangan matanya ikut terpaku ke arah dua wanita hamil itu.
“Apakah kau benar-benar akan meninggalkannya setelah dia melahirkan anaknya?” Credence memulai percakapan dengan suara perlahan, menjaga supaya percakapan itu hanya bisa didengarkan oleh telinga mereka berdua saja.
Xavier menggertakkan giginya. “Apa urusannya denganmu?” geramnya kemudian tanpa menyembunyikan nada tak suka di dalam suaranya.
Credence melirik sedikit ke arah tingkah defensif Xavier, dia lalu mengangkat bahunya.
“Maksudku, tingkahmu yang berniat melepaskan dan tak memperjuangkannya, membuatku merasa seolah-olah itu bukan dirimu.” Credence menjawab dengan nada tenang. “Jika seorang Xavier yang dulu kukenal menginginkan sesuatu, bukankah dia akan memperjuangkannya dengan sekuat tenaga sampai bisa memilikinya?”
Keheningan membentang di antara mereka ketika Xavier memilih merenung dulu sebelum memilah kata untuk menjawab.
“Xavier yang kau kenal sudah tidak ada. Dia sudah kalah dan menyerah dengan penyakitnya.” Ketika menjawab kemudian, suara Xavier terdengar menyimpan kepahitan yang sangat dalam.
Credence mengerutkan kening dan menoleh ke arah Xavier.
“Aku tidak berniat mengambil sel punca dari anak-anakku. Aku akan menyimpannya di bank plasenta supaya suatu saat nanti bisa digunakan oleh mereka jika anak-anakku membutuhkannya. Kau tahu, penyakit ini memang menimpaku karena kecelakaan yang menyebabkanku terpapar bahan kimia beracun dan merusak sistem tubuhku. Tetapi, bukan tidak mungkin bahwa penyakitku ini merupakan penyakit bawaan yang tersimpan di dalam genetikku, bukan? Aku bisa saja menurunkan penyakitku ini kepada keturunanku, anak-anakku bisa saja terserang penyakit yang sama seperti yang kuderita. Kurasa, mereka akan lebih membutuhkan sel punca itu dibandingkan diriku.”
Mata Xavier mengikuti Sera yang tampak bahagia tertawa dengan Elana. Ekspresinya yang gelap sedikit melembut ketika melihat baik Elana dan Sera tiba-tiba menolehkan kepala kepadanya. Elana sendiri langsung melambaikan tangan ke arah Xavier ketika pandangan mereka bersirobok.
“Kami akan ke toilet di sebelah sana,” ujar Elana memberitahu. Tangannya menunjuk ke arah toilet khusus pelanggan yang terletak di ujung ruangan dari area butik yang sangat luas itu.
Xavier menganggukkan kepala. Matanya bertemu dengan mata Sera yang tampak malu-malu, sebelum kemudian perempuan itu membalikkan badan, berjalan bersisian dengan Elana menuju ke arah toilet.
Xavier sendiri masih terus mengawasi sampai Elana dan Sera menghilang masuk ke dalam area toilet tersebut, sebelum kemudian dia mengalihkan kembali perhatiannya ke arah Credence, melanjutkan kembali pembahasan mereka yang terpotong sebelumnya.
“Bahkan jika aku memutuskan untuk mengambil sel punca itu guna menyelamatkan diriku sendiri, risikonya cukup besar, aku bisa saja gagal melalui tahap transisi dan mati begitu saja.” Xavier menghela napas panjang. “Jadi, bukankah lebih baik aku tidak menumbuhkan harapan tinggi tentang membentuk sebuah keluarga dan sebagainya, lalu malahan menghancurkannya berkeping-keping kemudian? Sera akan lebih baik dengan cara ini. Jika dia tidak terikat perasaan denganku, maka akan lebih mudah baginya menerima kematianku nanti.”
“Mulutmu memang berkata seperti itu, tetapi aku melihat sendiri betapa posesifnya kau atas Sera. Kau mungkin bilang tak ingin memiliki Sera, tetapi kau tidak tahan kalau membayangkannya dimiliki oleh orang lain, bukan?” Credence berucap dengan nada suara menyalahkan. Ketika dia membalikkan tubuh dan menghadap ke arah Xavier kemudian, nada suaranya terdengar bersungguh-sungguh. “Aku tak setuju dengan jalan yang kau pilih ini. Seolah-olah kau sudah menentukan seluruh skenario berdasarkan kemauanmu sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan dan kehendak Sera. Kau harus ingat, Xavier. Dirimu bukan pemilik jiwa Sera yang berhak menentukan kemana dia akan melangkah, kau juga tak boleh mengatur keputusan apa yang akan Sera pilih di masa depannya nanti. Sera berhak memutuskan segalanya bagi dirinya sendiri. Jika dia memilih untuk mengambil risiko bersamamu, bukankah kau seharusnya tak memiliki hak untuk mengaturnya?”
Kembali Xavier menggertakkan giginya. “Kenapa kau sangat ikut campur? Tidakkah kau sadar bahwa urusan Sera dan aku adalah urusan internal kami? Kau hanyalah orang luar,” geramnya kemudian dengan nada mengingatkan.
Peringatan keras dari Xavier biasanya menakutkan. Tetapi, sekali lagi hal itu tidak membuat Credence mau mundur begitu saja.
“Kalau kau tidak mau menerima Sera, aku bersedia menerimanya.” Dengan nada serius Credence berucap. “Aku bersungguh-sungguh ketika aku bilang bahwa aku adalah lelaki yang merindukan pulang ke dalam sebuah keluarga hangat yang bahagia. Bukankah mendapatkan paket instan seorang istri cantik dan dua anak kembar yang pasti memiliki penampilan luar biasa, adalah hal yang cukup praktis dan menguntungkan bagiku?”
Xavier mengepalkan tangannya. “Jangan coba-coba melakukannya, Credence.” Suara Xavier benar-benar terdengar penuh ancaman dan dipenuhi kemarahan yang siap meledak. Lelaki itu mungkin akan memulai baku hantam dengan Credence kalau saja ponselnya tidak berbunyi.
Xavier melupakan sejenak adu katanya dengan Credence. Lelaki itu mengambil ponselnya dan keningnya berkerut ketika melihat nama Dimitri di sana. Ekspresinya langsung menegang.
Ketika Dimitri menelepon, hal itu bisa dibilang selalu identik dengan kabar buruk. Ada apa lagi kali ini?
Dengan sikap dingin Xavier mengangkat ponselnya, sementara Credence menunggu dan menyimpan rasa ingin tahunya dalam tatapan mata penasaran ketika melihat perubahan suasana hati Xavier ketika mengangkat telepon.
“Ada apa, Dimitri?” Suara Xavier langsung menyahuti, terdengar tak sabar menerima kabar buruk apapun yang akan dilemparkan oleh Dimitri.
***
__ADS_1
“Maafkan aku, Sera. Kehamilan ini membuatku sering bolak-balik ke kamar mandi,” Elana tersenyum malu, perempuan itu berjalan terburu-buru memasuki ruang toilet dan menitipkan tas tangannya kepada Sera. “Tunggu sebentar, aku akan segera kembali kalau sudah membereskan urusan buang air kecil ini," bisik Elana setengah tertawa sebelum kemudian melangkah pelan masuk ke dalam bilik toilet yang tersedia.
Sera tersenyum lembut ketika melihat tubuh mungil Elana menghilang di balik bilik toilet. Dia kemudian melangkah ke cermin besar yang menutupi hampir seluruh sisi dinding toilet besar nan mewah di sisi wastafel itu. Diletakkannya tas mereka berdua ke atas sofa yang terletak di sisi dinding terdekat darinya, lalu berdirilah dia di depan wastafel yang sepenuhnya terbuat dari marmer putih bersemburat keemasan di depannya.
Ketika menatap pantulan bayangan dirinya di cermin itulah Sera baru menyadari bahwa wajahnya terlihat kuyu, bahkan ada kantong hitam samar yang mulai terbentuk di bawah matanya yang kontras dengan kulit tubuhnya yang pucat.
Semalam Xavier hampir-hampir tak membiarkannya tidur. Ketika mereka telah selesai memuaskan diri, Xavier seolah terbakar lagi sebelum kemudian membawa Sera untuk mengikuti terbakar bersamanya.
Mengingat itu semua, membuat pipi Sera terasa panas karena malu. Segera Sera menyalakan kran air, berniat untuk memercikkan sedikit air ke wajahnya supaya wajahnya tampak sedikit lebih segar. Pada saat itulah perhatiannya teralihkan oleh pintu bilik yang terbuka. Bilik toilet itu terletak di sebelah pintu tertutup yang sedang digunakan oleh Elana dan sesosok perempuan cantik dengan rambut pendek dan pakaian hitam rapi tampak keluar dari sana.
Mata Sera mengikuti sosok perempuan itu dari pantulan bayangan cermin di depannya. Tetapi dia kemudian mengalihkan pandangannya demi kesopanan ketika perempuan cantik itu tersenyum ke arahnya, lalu melangkah ke sampingnya dan menyalakan keran air di wastafel sebelahnya. Perempuan itu mencuci tangan, lalu meletakkan tas tangannya di marmer putih wastafel, lalu membuka tasnya itu, mungkin hendak mengambil kosmetik untuk berdandan.
Sera mengalihkan perhatiannya dengan sedikit membungkuk di atas keran air dan mulai memercikkan air yang terasa menyegarkan ketika menyentuh wajahnya. Pada saat itulah pikirannya berputar, menyelisik kejanggalan yang tadi sempat terlewatkan.
Perempuan itu mengenakan pakaian biasa yang cukup rapi dan terkesan maskulin, mirip seperti setelan jas tiga potong lelaki, tapi yang ini sepertinya dijahit khusus untuk tubuh perempuan. Tetapi, pakaian yang dikenakan perempuan itu jelas-jelas bukanlah seragam karyawan di butik bayi ini. Seluruh karyawan butik ini mengenakan pakaian dengan nuansa krem lembut, lagipula tak ada tanda pengenal identitas di dadanya seperti yang dikenakan oleh manager butik hingga pramuniaga butik bayi ini.
Apakah perempuan ini adalah salah satu pelanggan butik bayi ini? Tetapi, Xavier bilang kalau seluruh butik ini sudah dipesan dan hanya dibuka untuk mereka sebagai pelanggan VIP, bukan? Kalau begitu, siapa perempuan ini? Kenapa bisa berada di dalam toilet butik ini?
Suara klik pelan membuat perhatian Sera teralih, firasat buruk yang menggayuti membuatnya segera menegakkan punggung dan menoleh waspada ke arah perempuan di sebelahnya.
Tetapi, semuanya sudah terlambat. Perempuan misterius di sebelahnya itu telah mengokang senjatanya dan menodongkan pistol mungil berperedam di tangannya ke arah Sera.
Tubuh Sera membeku tak bisa bergerak seketika karena terguncang oleh kejadian yang tak disangkanya, matanya terpaku ke arah moncong pistol yang tertodong dekat sekali dengannya.
“Jangan berteriak. Atau aku juga akan membunuh temanmu yang sedang berada di dalam bilik kamar mandi,” desis perempuan itu dengan suara dingin yang kental oleh kekejaman.
Kemudian, perempuan itu menurunkan pistolnya dan membidik ke arah perut Sera.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
Yours Sincerely
AY
***
***
***
__ADS_1