Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 98 : Pecah


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


 


Ketika kursi roda Sera didorong mendekat ke arah ranjang, tatapan mata Sera langsung terpaku pada sosok yang sangat kurus, terbaring dia atas ranjang rumah sakit itu dengan mata terpejam rapat. Jantung Sera seolah-olah diremas oleh sesuatu yang tak kasat mata, mencengkeramnya rapat, mencekiknya dalam kepedihan bercampur kebahagiaan yang mendidih dan berbuih di dalam dadanya.


Ayahnya.


Sosok yang terbaring di ranjang rumah sakit itu jauh berbeda dengan ayah yang dikenal oleh Sera bertahun-tahun yang lalu sesaat sebelum mereka dipisahkan. Salvatore Moon. Ayahnya yang ada di dalam kenangan Sera dulu masihlah muda, bertubuh kuat dan sangat tampan. Pada suatu pagi terakhir yang masih jelas di dalam kenangan pedih Sera, lelaki itu masih menyempatkan diri untuk sarapan di pagi hari, memakan menu nasi dan telur dadar bersiram saus kecap sederhana buatan ibunya yang dihabiskannya sampai tandas sambil melemparkan canda berbuah tawa istrinya yang renyah menenangkan di pagi hari. Masih sempat pula sang ayah menyesap kopi hitam hangat kesukaannya, sebelum kemudian meletakkan telapak tangannya yang besar ke puncak kepala Sera dan mengusapnya lembut dengan penuh kasih sayang.


'Serafina Moon, arti namamu adalah cahaya bulan yang membakar. Kau akan terus berkobar menerangi keluarga ini. Kau akan tumbuh menjadi anak yang kuat untuk menjaga ibumu. Ayah bergantung kepadamu untuk melindungi ibumu. Jadilah anak yang kuat.'


Itu adalah kalimat terakhir yang sempat diucapkan oleh ayahnya kepada Sera sebelum kemudian pagi hari mereka yang tenang berubah menjadi pagi yang riuh rendah oleh kenangan buruk mengerikan. Sekelompok orang dengan ekspresi tak bersahabat datang menjemput ayahnya dan membawanya pergi dengan paksa, tangisannya dan ibunya yang menyayat hati pun tak mampu menghentikan perpisahan penuh kekerasan itu, menorehkan kenangan pedih bagi jiwa kanak-kanak Sera akan pertemuan terakhirnya dengan ayahnya. Baru setelah lama kemudian, Sera mengerti bahwa yang menjemput ayahnya itu adalah polisi dan mereka langsung menjebloskannya ke dalam penjara tanpa memberi kesempatan bagi Sera yang waktu itu hanyalah seorang anak kecil, untuk bertemu dengan ayahnya lagi.


Hari-hari mereka setelah itu sangatlah mengerikan. Ibunya yang semakin lama semakin kuyu dan kurus, selalu menghabiskan waktunya dengan dipenuhi kelelahan karena harus pergi bolak-balik dari rumah ke penjara kota yang letaknya sangat jauh dari rumah mereka di pinggiran kota. Fokus ibunya tertuju sepenuhnya pada persidangan ayahnya, pada semua proses yang tidak pernah berpihak pada orang miskin dari perkampungan kumuh seperti mereka. Itu semua membuat Sera mulai terlupakan, tak terurus, ditinggalkan di rumah sendirian kadang tanpa sesuatu pun yang bisa dimakan.


Seakan semua itu belum cukup buruk, ayahnya langsung mendapatkan vonis hukuman yang sangat berat, menghadapi hukuman mati yang mengerikan dan akhirnya membuat ibunya jatuh berkubang pada keputusasaan.


Ayah dan ibunya adalah pasangan yang tak berpunya dalam hal harta. Orang bilang yang berasal dari bawah sudah pasti akan berakhir dengan yang di bawah pula, tanpa kesempatan untuk memanjat naik. Itulah yang terjadi pada ayah dan ibunya. Seorang pria dari keluarga miskin, bertemu dengan wanita dari perkampungan kumuh yang sama miskinnya.


Namun, sejak awal cinta mereka memang tidak dilandasi akan keinginan untuk menumpuk harta, mereka saling berpegang pada perasaan saling memiliki, kesetiaan dan rasa cinta tulus satu sama lain untuk berpegang hidup, terlebih lagi ada Sera yang hadir di antara mereka yang harus dijaga. Ibunya bukannya tidak tahu kalau ayahnya hidup dengan tangan berlumuran dosa di lembah kriminal termpatnya berkubang dan mencari uang, tetapi ibunya tahu, bahwa memang tak ada lagi pekerjaan bersih untuk orang rendahan yang diciptakan dari bawah seperti mereka. Karena itulah, selama ini, ibunya tak pernah mempertanyakan darimana uang yang dibawa pulang oleh ayah mereka. Asal mereka bisa makan, asal mereka bisa menyambung hidup, maka itu semua sudah cukup dan ibunya berpikir bahwa mereka akan baik-baik saja selamanya.


Kejadian yang menimpa suaminya, hukuman mati yang mengancam suaminya, membuat ibunya menyadari bahwa dia turut andil dalam kemalangan yang menimpa keluarga mereka. Seharusnya dia memberikan batas-batas kepada suaminya, seharusnya dia mencegah suaminya bertindak terlalu jauh dalam menerima pekerjaan kriminal sebagai ganti uang untuk menghidupi keluarganya. Lalu penyesalan itu terus menikam, bertubi merobek hati hingga akhirnya ibunya tak kuat lagi dan memilih mengakhiri kehudupan diri dan meninggalkan anaknya tanpa perlindungan di dunia ini.


Cerita kehidupan Sera berubah drastis setelah itu semua terjadi, tetapi untuk saat ini, Sera tak ingin mengingatnya lagi, dia juga tak ingin menyalahkan tindakan ibunya yang memilih lari dari kenyataan hidup ini. Dia hanya ingin mengingat kenangan manis yang terjalin antara dirinya dan ayahnya. Kenangan saat tubuh mungilnya terayun dalam tawa di gendongan ayahnya, kenangan saat mereka berboncengan sepeda melalui gang sempit perumahan kumuh yang padat penduduk, mengebut menembus angin sore yang kencang dengan hati ringan dan senyuman lebar, kenangan saat badai petir menghantam rumah reyot mereka dan ayahnya datang untuk memeluk memberikan perlindungan dan ketenangan. Sera hanya ingin mengingat segala kenangan saat dia merasa aman dan bahagia di dalam pelukan dan perlindungan ayahnya.


Mata Sera terpaku pada sosok ayahnya  yang saat ini terbaring diam di atas tempat tidur. Sekarang, sosok Salvatore yang ada di dalam kenangan kecilnya sudah tidak tersisa lagi di sana. Tidak ada Salvatore bertubuh kekar tinggi dengan rambut setengah panjangnya yang menaungi wajah penuh senyum lebar ketika melebarkan tangan untuk menerima pelukan dari Sera, tak ada lagi sosok Salvatore yang tampan yang selalu bisa membuat ibunya tersipu-sipu ketika dia memeluk sang ibu dari belakang dengan penuh cinta. Tidak ada sosok ayah yang kuat, yang selalu menoleh dalam senyuman ketika Sera memanggilnya dengan penuh semangat.


Yang ada di hadapannya adalah lelaki tua yang mungkin jauh menua sebelum usianya yang sesungguhnya, badannya kurus kering, dengan kelopak mata terpejam yang cekung ke dalam nyaris seperti rongga mata tengkorak, rambutnya habis, hanya menyisakan helaian tipis putih yang rapuh dan sepertinya akan rontok berjatuhan jika disentuh, kulitnya keriput dan kering, ternoda oleh bercak kecokelatan tanpa penuaan yang tak terhindarkan.


Yang lebih menyedihkan lagi adalah selang-selang itu, semua tersambung ke mesin penunjang kehidupan yang mengeluarkan bunyi konstan mengerikan seakan membentangkan tenggang waktu kematian untuk ayahnya. Napas ayahnya terdengar naik turun dengan menyedihkan, bergantung pada bantuan oksigen yang terhubung pada saluran pernapasannya.


Air mata membanjir tanpa sadar, tumpah dari sudut air mata Sera ketika tangannya yang gemetar bergerak perlahan ke ranjang dan menggenggam permukaan tangan berkulit kering dan kurus itu. Bibir Sera bergetar ketika kepedihan semakin menusuk jiwanya, melebarkan luka lamanya dan mengalirkan banjir air mata yang menderas menyakitkannya.


"A-ayah." Kalimat Sera itu terucap dengan suara tersekat gemetaran, meluncur pelan sebelum kemudian hanyut dibawa arus isak tangis yang semakin lama semakin mengeras. Sera ingin mengucap semua kata yang tersimpan di dadanya selama ini untuk ayahnya. Dia ingin mengungkapkan perasaannya, tetapi yang keluar hanyalah isakan serak yang menyakitkan tengorokannya.


Ayah. Maafkan aku. Maafkan anakmu ini. Aku bukanlah anak yang kuat. Aku tak mampu menyelamatkan ibu. Aku tak mampu menyelamatkanmu. Aku tak mampu menyelamatkan keluarga kita. Aku tak mampu melakukan semuanya. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku.


Tubuh mungil Sera tertelungkup di samping ranjang, bertumpu pada tangan ayahnya yang terbaring beku, menumpahkan air matanya di sana, membasahinya dengan banjir air mata penyesalan, menangis keras-keras, penuh luka, penuh rasa bersalah.


Xavier yang berdiri di samping Sera hanya bisa menunduk menatap. Dia ingin memeluk, dia ingin mengusap pundak mungil yang berguncang itu untuk meredakan tangis Sera dan menawarkan penghiburan darinya. Tapi dia tahu bahwa dirinya tak bisa melakukannya.


Ini adalah kesempatan bagi Sera untuk menumpahkan air mata. Ini adalah waktu yang tepat bagi Sera untuk meluapkan permohonan maafnya lalu menerima pengampunan atas dirinya sendiri dan melangkahkan kaki dengan ringan ke masa depan setelahnya.

__ADS_1


Hati Xavier sakit melihat kepedihan Sera, lebih sakit lagi ketika menyadari bahwa dia, sang penyebab segala kemalangan hidup Sera, tak bisa melakukan apa-apa untuk perempuan itu saat ini.


Xavier melangkah mundur, memberikan jarak, memberikan kesempatan bagi Sera untuk mendapatkan waktunya sendiri bersama ayahnya, memberikan kesempatan untuk reuni dan bernostalgia antara ayah dan anak yang terpisah lama, berdua saja.


***


"Kondisinya semakin parah."


Suara dokter Nathan terdengar berbisik ketika lelaki itu menyerahkan kertas hasil pemeriksaan ke tangan Xavier yang menerimanya dalam diam.


Xavier membaca tulisan yang terpampang di kertas itu dengan cermat dan ekspresinya semakin menggelap ketika dia semakin mendalami apa yang tertulis di kertas itu.


"Berapa lama lagi?" Xavier menyerahkan kertas itu kembali kepada Nathan, menghela napas sedikit sebelum bertanya dengan suara tersekat perlahan. "Tinggal berapa lama lagi waktunya?"


"Saat ini.... bisa dibilang Salvatore sepenuhnya bergantung pada alat penunjang kehidupannya. Jika alat itu dilepas, maka tidak usah menunggu lama." Dokter Nathan menggerakkan jemari untuk memijit pangkal hidungnya dengan frustasi. "Kau mungkin akan sekuat tenaga berusaha memperpanjang rentang hidup Salvatore demi Sera, tapi kurasa segala sesuatu memiliki batasnya. Kau tak bisa melebihi apa yang sudah digariskan, Xavier. Umur seseorang berada jauh di luar kendalimu," nasehatnya dengan suara berhati-hati.


Xavier mengembuskan napas pedih. "Aku tahu tak akan ada kesempatan bagi Sera untuk berinteraksi dengan ayahnya dalam keadaan sadar. Tapi tak kusangka kemalangan itu pun masih ditambahkan dengan kematian yang sudah siap menjemput dalam waktu dekat. Dia... dia tak akan sanggup menanggungnya." Suara Xavier terdengar bergetar ketika memikirkan istrinya. "Sera tak akan sanggup menanggungnya jika tahu. Dia akan pecah berantakan."


"Kondisinya yang sekarang memang tidak mendukung. Karena itulah kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menahankan kematian ini, setidaknya sampai Sera melahirkan dan pulih kembali dari proses operasi Cesar." Dokter Nathan menatap Xavier dengan senyum pengakuan di bibrnya. "Tadinya aku menentang kau membawa Sera kemari karena mencemaskan kondisinya. Tetapi, setelah aku melihat Sera tadi, kurasa kau melakukan keputusan yang tepat. Sera butuh untuk melihat ayahnya. Dia butuh menumpahkan perasaannya, itu akan membuat pikirannya lebih ringan nantinya dan itu bagus untuk suasana jiwanya. Terlebih lagi... jika yang terburuk terjadi... setidaknya Sera sudah mendapatkan kesempatan untuk melihat ayahnya."


Xavier menganggukkan kepala. "Kurasa setelah ini, jika memang itu baik untuk perkembangan suasana hati Sera, aku akan menjadwalkan secara berkala kunjungan Sera kemari untuk menjenguk ayahnya secara rutin."


Dokter Nathan tak membantah. "Aku akan melakukan pemeriksaan atas kondisi tubuh dan kehamilan Sera secara berkala. Jika kondisi tubuh Sera tetap baik, maka kunjungan rutin kurasa bisa dijadwalkan secara teratur." Keheningan membentang di antara mereka setelah kalimat dokter Nathan itu. Sang dokter tampak mengawasi Xavier yang sedang memaku matanya ke arah pintu tertutup tempat Sera dan ayahnya sedang bereuni di baliknya, lalu seulas senyum muncul di bibirnya. "Kau sudah berubah, Xavier," ucapnya kemudian memecah keheningan.


Xavier menolehkan kembali kepalanya ke arah dokter Nathan dan mengangkat alisnya sedikit.


Dokter Nathan mengangkat bahunya. "Xavier yang dulu, tidak akan mau repot-repot melakukan ini semua. Kupikir... jika menyangkut dirimu yang dulu, kau akan lebih memilih mengambil keputusan cepat dan praktis dengan melenyapkan ayah Sera saja supaya tidak menjadi pengganjal dalam hubungan kalian." Dokter Nathan menebak dengan tepat, membuat Xavier menyeringai getir.


"Aku yang dulu seperti makhluk yang tenggelam dalam kubangan gelap dan tercekik tanpa ada yang menyelamatkan. Aku yang sekarang sudah diselamatkan. Tentu saja aku berbeda," jawabnya kemudian dengan nada misterius yang penuh senyuman.


***


Perempuan itu akhirnya tertidur.


Gelap sudah membentang di permukaan langit di luar sana ketika Xavier akhirnya menguatkan hati untuk menginterupsi pertemuan penuh luapan emosi antara Sera dengan ayahnya. Xavier menutup pintu kamar perawatan di belakangnya, lalu melangkah diam-diam melewati karpet tebal ruangan itu untuk mendekati Sera.


Istrinya masih duduk di kursi yang ditarikkannya mendekat di samping ranjang. Tubuh perempuan itu telungkup, dengan kepala rebah di atas tangan ayahnya yang tak membuka mata. Kedua tangan Sera digunakan untuk menggenggam tangan kurus dan renta ayahnya sekaligus meyangga kepalanya yang berbaring miring dengan napas teratur tenggelam dalam lelap karena kelelahan menangis.


Mata Xavier terpaku pada pipi Sera yang basah kuyup oleh aliran air mata yang menderas, pun dengan sudut mata perempuan itu yang bengkak kemerahan karena diperas sedemikian rupa untuk mengalirkan sedih yang membanjir.


Xavier menggerakkan jemarinya untuk mengusap sisa basah di pipi Sera. Dia lalu memejamkan mata, merasakan sesak yang menyeruak di dada, seberkas emosi yang dulu tak mungkin dirasakan oleh hatinya yang dingin.


Setiap manusia kadang menyimpan penyesalan atas hasil perbuatan dan kesalahannya di masa lalu. Xavier yang dulu tidak memedulikan semua itu. Hatinya terlalu gelap untuk dicemari emosi tak berguna seperti penyesalan. Tetapi, dirinya yang sekarang tidak begitu.


Seluruh hasil kejahatannya di masa lalu sekarang terpampang nyata di hadapannya, seperti sebuah hukuman telak yang memukul mundur sisi sombong dirinya yang dulu dipenuhi jiwa jahat dan gelap. Dua makhluk di depannya ini, sosok ayah yang terbaring koma dan sedang menanti kematian yang berpadu dengan sosok anak perempuan tak berdaya yang sedang hamil besar lalu menangis keras sampai kelelahan. Semua ini adalah hasil ciptaan dosa masa lalu Xavier. Situasi menyedihkan yang ada di hadapannya ini, adalah hasil dari kejahatan Xavier di waktu itu yang terlalu kejam dan tak mau memikirkan orang lain selain dirinya sendiri.


Apakah dia menyesal? Ya. Dia sangat menyesal. Rasa itu menghantam jiwa Xavier dengan kuat dan mencabik-cabiknya dengan cara paling menyakitkan yang bisa dirasakan oleh hati manusia.


Pecah sudah. Xavier jatuh berlutut, tak bisa menahan emosi yang menderas di dalam jiwanya. Air mata yang panas mengalir dan mencairkan hatinya yang beku, dipenuhi kesakitan yang merintihkan permohonan maaf tak berguna yang bergulung penyesalan atas sesuatu yang tak mungkin diperbaiki lagi.

__ADS_1


Waktu tak bisa diputar kembali, darah yang tertumpah tak bisa dipulihkan lagi dan dosa yang terjadi di masa lalu sudah tak bisa mendapatkan pengampunan lagi. Manusia tak punya kekuatan untuk menghapus yang telah terjadi, hanya mampu berkubang pada penyesalan di hati, memohon ampun pada yang tersakiti, lalu menyeret diri untuk melangkah maju dan berusaha tak menoleh lagi.


Xavier sudah menerima hukuman atas kejahatannya, penderitaan Sera, kesedihan orang yang paling dikasihinya, itu sudah menjadi hukuman telak yang paling berat untuknya.


Dalam ruangan kamar yang remang itu, tiga sosok manusia menerima penebusannya. Seorang ayah yang berbuat kesalahan hingga membuatnya terpisah dari anaknya, seorang anak perempuan yang memohon ampun karena tak punya daya untuk melindungi keluarganya, dan juga seorang lelaki yang menumpahkan air mata karena dialah yang menjadi penyebab semuanya.


 


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


 


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


 


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Yours Sincerely


AY


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2