
Elana mengerjapkan mata dan mengerutkan kening ketika cahaya matahari dari ventilasi yang terbuka mengirimkan sinyal terang yang menggelitik pupil matanya dan memaksanya bangun dari tidurnya yang lelap.
Setengah terpejam, Elana mencoba menggerakkan tubuh, ingin menggeliatkan ototnya yang terasa kaku, tapi sayangnya sesuatu **** tubuhnya, membuatnya tak bisa bergerak.
Seketika Elana membuka mata dan wajahnya langsung bersemu merah ketika menyadari bahwa Akram sedang tertidur pulas dengan posisi tengkurap dimana tubuh lelaki itu nyaris **** hampir setengah tubuh Elana.
Pantas saja dirinya mimpi dikejar-kejar hantu sampai megap-megap karena kelelahan berlari, ternyata Akramlah yang menindihnya dan beban tubuh lelaki itulah yang membuat sesak napas.
Mata Elana mau tak mau mengawasi akram yang dekat sekali dengannya, lelaki itu masih lelap, tubuhnya lunglai dan ekspresinya tampak santai dalam tidurnya yang tenang. Dengan mata tertutup dan tampak lebih muda akibat rambutnya yang acak-acakan, Akram Night yang saat ini sedang tertidur tampak jauh lebih tidak berbahaya dibandingkan Akram Night yang biasanya selalu tampak gelap, muram dan mengerikan.
Tanpa disadari, Elana terpaku menatap wajah Akram sementara dirinya berusaha menelaah perasaannya sendiri. Dalam kebersamaan yang dipaksakan itu, tentu saja ada yang sedikit berubah dalam hati Elana. Dia tidak takut lagi kepada Akram karena tahu bahwa lelaki itu tidak akan menyakitinya, kecuali Elana mendorong Akram sampai batasnya.
Meskipun begitu, bukan berarti Elana bisa dengan mudahnya memaafkan kejahatan Akram di masa lalu, kemudian jatuh pada pesona Akram tanpa perlawanan. Dirinya bukanlah jenis perempuan yang silau oleh harta dan pemnampilan fisik, karena baginya, cinta bisa tumbuh jika dipupuk perlahan dari dalam, bukan dari luar.
Saat ini masih tersisa rasa pedih yang kental di hatinya ketika mengingat bagaimana Akram memaksakan kehendak kepadanya. Bahkan rasa nyeri itu masih terngiang setiap dia mengingatnya, menohok tepat ke jantungnya dan seolah menutup jalan napasnya hingga ia tersengal tanpa sadar.
Hasrat untuk melepaskan diri dari kekuasaan Akram tentu masih menggebu dalam jiwanya, membuatnya tak mau berhenti bermimpi tentang hidup penuh kebebasan nan bahagia di suatu tempat yang jauh dari cengkeraman lelaki itu, dimana Elana bisa melupakan semua masa lalunya dan memulai lembaran baru yang sederhana sesuai dengan mimpinya yang sederhana pula.
Tetapi untuk saat ini, Elana terperangkap dalam situasi diamana dirinya tak bisa melepaskan diri. Dan yang paling ditakutkannya adalah kenyataan bahwa dirinya sudah mulai terbiasa dengan kedekatan yang dipaksakan oleh Akram kepadanya.
Perempuan tanpa pengalaman sepertinya, ketika dipaksa menghadapi Akram yang sangat ahli dan berpengalaman, apalagi yang bisa dilakukannya selain kalah dan menyerah?
Elana takut jika dia tidak segera melepaskan diri dari Akram, akan tiba saat dimana dirinya terbiasa menjadi perempuan milik Akram dan akhirnya menyerah sepenuhnya, menerima dan pasrah dengan status sebagai wanita simpanan Akram, yang hanya dipandang sebagai properti untuk memuaskan kebutuhan jasmani lelaki itu.
Elana tidak ingin itu terjadi, karena itulah Elana tidak akan menyerah untuk memperjuangkan kebebasannya dan melepaskan diri dari Akram. Dia meyakini bahwa dirinya layak untuk dipandang lebih baik daripada hanya sekedar pemuas nafsu belaka.
Tubuh Akram tampak bergerak dan kening lelaki itu berkerut meskipun matanya masih terpejam rapat, menunjukkan bahwa si empunya mata masih tenggelam dalam tidurnya yang lelap. Akram mendesakkan kepalanya ke sisi wajah Elana, menenggelamkan hidungnya di sisi sensitif dekat telinga Elana dan menghembuskan napasnya yang panas di sana.
"Jangan tinggalkan aku, Elana," suara bisikan parau terdengar samar di sela napas Akram yang teratur, membuat tubuh Elana langsung membeku oleh keterkejutan. Dirinya mencoba mendorong tubuh Akram yang masih tengkurap, **** setengah tubuh Elana dalam perangkap tubuhnya yang kuat, tetapi Akram bergeming, seolah masih tenggelam dalam lelap.
"Akram?" Elana bertanya perlahan, mencoba memastikan.
Tidak ada jawaban, hanya desah napas Akram yang teratur terdengar dekat di telinganya.
Jadi Akram sungguh-sungguh masih tertidur. Kalau begitu, apakah bisikannya tadi hanyalah disebabkan oleh bunga mimpi?
Tadi Elana begitu terkejut ketika Akram bergumam seperti itu, seolah menyahuti pemikiran Elana yang sedang mencari cara untuk melepaskan diri dari Akram. Hampir dia mengambil kesimpulan konyol bahwa Akram memang memilili kemampuan untuk bertelepati.
Perlahan, didorongnya tubuh Akram dengan lengannya yang sehat, sebuah usaha yang sia-sia karena tubuh Akram yang sekeras batu bahkan tak bergeser seinci pun. Elana tentu saja tak mau menyerah untuk berusaha. Hari sudah beranjak siang jika dilihat dari terangnya cahaya yang menembus ventilasi dan Elana ingin mandi.
Elana akhirnya memiringkan kepala, mendekatkan bibirnya ke sisi telinga Akram lalu mengucap nama lelaki itu dengan nada sedikit keras untuk mengusik tidurnya yang lelap.
"Akram," Elana memanggil nama lelaki itu, mulai putus asa ketika lelaki itu tak juga bangun. "Akram!" ulangnya lebih keras.
Bisikan terakhirnya membuat Akram bergerak perlahan, seolah panggilan Elana telah menembus kesadarannya. Tak lama kemudian kepala Akram terangkat dan mata hazel membuka. Rupanya Akram adalah tipe orang yang bangun seketika, karena mata itu langsung menjadi jernih saat Akram mendapatkan seluruh kesadarannya dengan cepat.
"Elana," Akram tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala untuk menghadiahkan kecupan di pelipisnya. Rasa pagi ini Akram lebih santai dan mudah tersenyum. "Selamat pagi," ucap Akram dengan sinar nyaris seperti rasa sayang di matanya. "Ayo kita tidur sedikit lebih lama lagi," ajaknya penuh arti.
__ADS_1
***
***
"Aku ingin memasak sendiri makan siangku! Ketika kau sedang mandi tadi aku bahkan sudah membuat list bahan makanan yang akan kubeli untuk membuat menuku," Elana memandang Akram dengan matanya yang lebar dan tak berdosa. "Bolehkah aku pergi keluar untuk membeli bahan makanan di supermarket terdekat?"
Elana tampaknya sudah menunggu lama untuk mengatakan itu, perempuan itu tampak begitu mungil, duduk di sofa besar yang ada di ruang tamu apartemen yang berukuran luas dan menyambung dengan area dapur dan ruang makan.
Akram baru saja melangkah turun dari tangga yang menghubungkan area kamar dengan area bawah, lelaki itu baru saja mandi, rambutnya bahkan masih basah dan wajahnya tampak segar, mengembalikan semua energinya yang terkuras beberapa waktu sebelumnya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang dan mereka berdua telah sama-sama melewatkan sarapan, karena itulah Akram menawarkan pada Elana untuk memesan makanan di luar yang akan diantarkan ke rumah, dia tentu saja sudah memiliki daftar restoran mewah dengan menu hidangan mengugah selera yang akan diberikannya pada Elana supaya dipilih.
Tapi jawaban perempuan itu sungguh tak diduga. Memasak? Ide gila macam apa itu? Dirinya memiliki begitu banyak uang dan mereka tinggal duduk santai sambil memesan hidangan semewah dan semahal apapun yang mereka mau, tapi perempuan itu malah memilih untuk repot-repot memasak?
"Tidak," geram Akram memberikan ultimatum. "Kita akan memesan makanan dari luar. Aku tidak akan membiarkan kau mengotori dapur dan apartemenku dengan berbagai carut marut bahan masakan yang berantakan." nada suara yang digunakan oleh Akram adalah nada suara tegas yang dia gunakan kepada anak buahnya. Biasanya, begitu mendengar nada suara galak tak terbantahkan itu, anak buahnya akan mengkerutkan tubuh, lalu terbirit-birit lari untuk menjalankan perintah tanpa berani membantah.
Sayangnya nada suara itu rupanya tak mempan untuk menghadapi Elana, bukannya mengkerut mundur, perempuan itu malah melangkah maju sambil mendongakkan kepala, seolah siap untuk menantangnya.
"Kalau tidak memasak sendiri aku tidak mau makan... dan kalau tidak makan aku tidak punya tenaga, jadi aku tidak akan bersedia menemanimu di atas sana," Elana melirik ke atas kamar, membuat Akram segera memahami maksudnya. Elana tahu bahwa kelemahan Akram adalah hasrat untuk menyentuhnya yang bergolak seolah tak pernah surut, dan dia memanfaatkan itu untuk melawan Akram. Yah, Akram mungkin bisa selalu memaksakan kehendaknya, seperti yang selalu dia lakukan sebelumnya, tetapi, mengetahui bahwa Elana menolaknya di awal sudah tentu akan mengganggu hasrat Akram dan mengurangi kenikmatan yang didapatnya dari proses bercintanya dengan Elana.
Elana memang sengaja meminta memasak sendiri di apartemen guna mengulur waktu kebebasannya dari jamahan Akram. Lelaki itu sudah jelas ingin menghabiskan waktu seharian ini untuk menumpahkan hasratnya pada Elana, dan jika Elana tidak memiliki alasan kesibukan lain, bisa jadi Akram akan memerangkapnya di atas ranjang seharian dan hanya akan melepaskannya jika waktunya makan atau ke toilet.
Setidaknya dengan memasak sendiri entah makan siang atau makan malam, Elana bisa berlama-lama menyibukkan diri si sana, sehingga ada berjam-jam waktu bebasnya dari jamahan Akram tanpa harus melayani lelaki itu bercinta sepanjang hari.
Rahang Akram mengeras mendengar ancaman tersirat Elana dan matanya menyiput, dipenuhi oleh amarah yang mendidih perlahan dan menciptakan aura mengerikan yang membungkus tubuhnya.
Ekspresi Elana tidak berubah, perempuan itu bahkan tetap mendongakkan dagunya dengan angkuh, tak berkedip menatap Akram.
"Itu lebih bagus. Kenapa tidak kau lakukan dari dulu? Lekas hubungi perempuanmu itu untuk menemanimu, jadi aku bisa beristirahat dengan senang hati," Elana beranjak dan dengan santai melewati Akram, hendak melangkah menaiki tangga dan kembali ke kamarnya.
Sekejap kemudian, tangan Akram mencekal lengannya yang sehat, menahan tubuh Elana supaya tidak bergerak maju.
Elana mengerutkan kening, mendongak untuk menatap Akram dengan ekspresi bingung.
"Ada apa lagi?" tanyanya kemudian.
Jejak kemarahan masih bergurat di wajah Akram dan lelaki itu tengah menahannya sekuat tenaga.
"Mana daftar belanjamu?" tanya Akram di antara kertak gigi yang terkatup rapat.
Bibir Elana menipis menahan senyum kemenangan yang terselip di sana. Rasanya menyenangkan bisa membuat Akram mengalah kali ini.
"Apa?" Elana memasang wajah tak berdosa dan pura-pura tak mengerti, "Bisakah kau ulangi lagi?"
Mata Akram berkilat dengan ancaman berbahaya, tapi tak urung lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Elana.
"List belanjanya, berikan kepadaku, Elios yang akan membelikannya." desis Akram kasar.
__ADS_1
Kali ini Elana tidak bisa menahan-nahan senyumnya lagi, dengan mata berbinar Elana mengambil daftar belanjaan itu dari sakunya dan menyerahkannya ke tangan Akram. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan memotret daftar belanja Elana lalu menghubungi Elios yang tampaknya selalu siap sedia di seberang sana meskipun hari libur sekalipun.
"Aku akan menunggu di kamar atas, panggil aku kalau belanjaannya sudah datang, ya!" Elana beranjak kembali hendak pergi, tapi Akram masih menahan pergelangan tangannya dalam cengkeraman membuat Elana tak bisa melangkah menjauh. Sebelah tangan Akram sedang memegang ponsel di telinganya, dan begitu tersambung kepada Elios, lelaki itu langsung memberikan serentetan instruksi dengan nada tegas. Setelah semua perintahnya tersampaikan, Akram menutup kembali ponselnya.
Akram lalu memusatkan perhatian lagi ke arah Elana, menatap satu-satunya perempuan yang telah berhasil membuat Akram Night mengalah dengan sukarela. Tetapi tentu saja Akram tidak akan membuat Elana terus menerus berada di atas angin. Dia akan menunjukkan kepada Elana siapa yang berkuasa dalam hubungan mereka.
"Siapa yang bilang kau boleh pergi?" Akram mengeratkan cengkeramannya di pergelangan tangan Elana, menahan kuat di sana sehingga setiap percobaan Elana melepaskan diri tergagalkan. "Aku sudah memberikan apa yang kau inginkan, sekarang giliranmu memberikan apa yang kuinginkan," mata Akram berkilat penuh arti, membuat pipi Elana merah padam.
"Memangnya apa yang kau inginkan?" Elana meninggikan nada suaranya, dirinya masih tak menyerah untuk mencoba melepaskan pegangan tangan Akram di pergelangannya, namun tak berhasil juga.
Akram sendiri, tanpa diduga malah membawa tangan Elana ke bibirnya, lalu memberikan kecupan ringan yang terasa panas di punggung tangan Elana sementara matanya menatap tajam ke arah perempuan itu, menujukkan maksudnya dengan jelas.
"Aku ingin kau memelukku, Elana," jawabnya dengan suara parau penuh ketegasan.
Tatapan tajam Akram yang seakan menusuk ke dalam jiwa itu membuat Elana merasa gugup. Matanya melirik ke arah pintu lalu ke arah jam di dinding, dan kemudian kembali ke arah Akram, berusaha membujuk lelaki itu untuk membatalkan apapun niat yang ada di dalam hatinya.
"Aku tidak bisa... Elios eh... Elios akan segera datang membawa belanjaan dan... dan aku harus memasak... dan..."
"Masih ada waktu, masih banyak waktu," Akram menyela kalimat Elana, dia tidak bilang kalau dirinya telah menyuruh Elios datang satu jam lagi. Dipeluknya perempuan itu sebelum Elana bisa menolaknya.
Elana. Miliknya. Wanitanya.
Dalam hatinya, Akram bersumpah akan menjaga Elana dengan seluruh kekuatannya, sehingga Xavier tidak akan bisa menyentuhkan tangannya pada perempuan ini, lalu merenggut dan mencabik-cabiknya seperti yang selalu Xavier lakukan pada milik Akram di masa lampau.
***
***
Di sisi lain, di sebuah supermarket besar di tengah kota, Elios tampak berdiri kaku di depan rak bahan makanan segar yang terbentang dalam susunan rapi bertingkat di sepanjang dinding di hadapannya. Sebuah ponsel tergenggam di tangan kirinya dan sebuah keranjang belanja tampak ada di tangan kanannya.
Sungguh, Elios tidak menyangka bahwa dia akan menghabiskan hari liburnya yang hanya sedikit ini, untuk berbelanja di supermarket seorang diri.
Belum lagi, sepertinya hanya dia satu-satunya laki-laki lajang di area sayur, buah dan bahan segar ini yang berbelanja seorang diri tanpa keluarga yang menemani. Di semua sisi, dilihatnya banyak keluarga yang menghabiskan hari minggu dengan berbelanja bersama.
Yah, seumur hidupnya, baru kali inilah Elios berbelanja di supermarket. Meskipun dia lajang dan hidup sendiri, tetapi waktunya habis untuk berkerja hampir sepanjang hari. Dia hampir selalu makan siang direstoran bersama Akram dan jika dia sempat makan malam di rumah, maka dia akan memanfaatkan persediaan makanan instant dan makanan kaleng di lemari pendinginnya yang hanya tinggal dipanaskan di microwave.
Untuk membeli kebutuhan sehari-hari pun, Elios tidak pernah melakukannya sendiri. Dia menggunakan jasa pengurus pengaturan rumah tangga yang selain menjaga kebersihan apartemennya, akan sekaligus mengisi stok kebutuhannya jika telah menipis. Dan sampai dengan saat ini, Elios merasa cukup nyaman hidup dengan cara seperti itu.
Elios mencoba mengabaikan kecanggungan yang tercipta akibat nuansa kontras di sekelilingnya dan memfokuskan diri pada foto daftar belanja yang dikirimkan oleh Tuannya Akram kepada dirinya.
Nama-nama bahan makanan yang dituliskan Elana di daftar belanja itu kebanyakan terlihat seperti nama makanan alien untuknya. Sebagai asisten Akram Night, Elios terbiasa menyelesaikan permasalahan rumit dengan mudah karena kecerdasannya di atas rata-rata. Tetapi baru kali ini dia merasa kesulitan mengerjakan tugas dari Akram, padahal tugas berbelanja seharusnya menjadi tugas yang sangat sederhana.
Sepertinya dia sedang berada dalam masalah besar. Bagaimana dia bisa membedakan yang mana bawang putih, yang mana yang bawang merah, lalu apa itu bawang bombay dan satu lagi...bawang daun??
__ADS_1