Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 64 : Musuh Tersembunyi


__ADS_3


Xavier melepaskan jasnya dan menyampirkannya di kursi, dia juga melonggarkan dasinya dan melangkah masuk menuju kamar tempat perawatan Elana. Kamar itu sendiri bernuansa hening dan damai. Para dokter telah meninggalkan ruangan setelah selesai memasang kembali infus penawar untuk Elana dan seperti biasanya, Elana ditinggalkan sendirian untuk beristirahat supaya efek dari serum penawar itu bisa maksimal dalam membersihkan sisa-sisa racun yang ada di dalam darah perempuan itu.


Xavier berjalan tanpa suara melintasi karpet, lelaki itu telah melepaskan alas kakinya, sengaja melangkah dengan berhati-hati supaya tidak mengganggu Elana yang tengah terpejam. Dia berhenti tepat di samping ranjang dengan mata yang masih mengawasi keseluruhan diri Elana yang masih terlelap tanpa pertahanan. Ekspresi Xavier tidak terbaca, bahkan kilat matanya yang berkabut pun, tak bisa ditelaah dengan mudah.


Tentu saja Xavier tahu bahwa efek dari serum itu akan membuat Elana mengantuk dan tertidur pulas selama beberapa waktu. Dia juga tak memiliki niat untuk mengganggu lelap Elana saat ini. Dia memilih untuk menunggu dengan sabar.


Dengan berhati-hati, Xavier melangkah duduk di samping ranjang, pada bagian ujung dekat dengan kaki Elana. Ada sinar penuh pertanyaan di mata Xavier yang tak bisa bersua dengan jawabannya saat ini, menciptakan rasa frustasi mendalam yang terasa aneh di dalam jiwanya.


Bagaimana sebenarnya perasaan Elana kepada Akram? Itu adalah hal yang masih tak bisa dibaca oleh Xavier hingga detik ini. Perasaan Elana terlihat masih abu-abu, berkebalikan dengan Akram yang sekarang memilih terang-terangan menunjukkan perasaaannya kepada Elana.


Xavier menduga bahwa mengingat Akram sama sekali tidak menutup-nutupi betapa dalamnya perasaaanya kepada Elana, tentunya akan meninggalkan luka yang sangat dalam kalau Elana memutuskan untuk mengkhianati Akram.


Perempuan ini. Lana. Sudah pasti merupakan kelemahan Akram yang paling kuat.


***



***


"Bagus, kita akan melaksanakan rencana kita segera,"


Lelaki itu menyeringai puas setelah menyelesaikan panggilan teleponnya, wajahnya tampak tersenyum penuh kemenangan ketika membayangkan betapa gemilangnya rencananya nanti. Tangannya bergerak untuk menyentuh rambut pirang pucatnya yang pendek dan mengusapnya dengan tidak sabar.


Dimitri Kazak, meletakkan ponsel di tangannya dengan gerakan kaku dan menatap kegelapan yang membentang di hadapannya. Hari masih pagi, tetapi ruang tidurnya tampak gelap karena seluruh tirai tebal di jendela di tutup rapat seolah mencegah sinar matahari memasuki rumahnya. Dimitri tidak menyukai terang. Cahaya matahari membuat matanya sakit dan nyeri, juga menyakiti kulitnya yang sensitif yang akan menyebabkan ruam merah jika terlalu lama terpapar cahaya matahari. Karena itulah, dia senang menghabiskan waktunya di tempat gelap, menghindari sinar matahari yang membuatnya tidak nyaman.


Meskipun membenci terang dan memuja kegelapan, penampilan Dimitri sendiri sungguh berkebalikan dengan kegelapan yang dicintainya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Dimitri malahan berhubungan dengan nuansa terang nan pucat. Kulitnya pucat seperti kekurangan pigmen, dan bulu-bulu di tubuhnya, dari rambut sampai ke alis dan bulu mata, semuanya berwarna pirang pucat nyaris putih. Itupun masih ditambah dengan warna bola matanya yang kemerahan.


Dimitri dibesarkan dalam hinaan saudara-saudaranya sebagai anak aneh dan cacat. Tetapi, dia menunjukkan kepada mereka semua bahwa anak aneh dan dianggap cacat pun bisa tumbuh menjadi kuat kalau dia mau. Segera setelah dia mengumpulkan kekuatan dan kepercayaan ayahnya, yang dilakukannya pertama kali adalah membunuh saudara-saudaranya untuk melibas semua duri yang menghalangi jalannya untuk menjadi nomor satu. Sekarang, penghalang dirinya untuk menjadi nomor satu ada di dua musuh besarnya, Akram Night dan Xavier Light


Tidak sia-sia dirinya menyusupkan Regas untuk menjadi asisten pribadi Xavier. Ternyata, meskipun terkenal jenius dan sangat lihai, Xavier bisa kecolongan juga. Hingga sampai dengan detik ini, Xavier tidak mencurigai Regas sebagai agen ganda yang sengaja dimasukkan olehnya untuk mencari cara menemukan jalur kelemahan guna menusuk dari belakang. Mungkin karena latar belakang Regas yang begitu sempurna, mungkin juga karena Xavier tidak pernah mengetahui motif pribadi dan rahasia Regas yang ternyata menyimpan dendam tersembunyi terhadapnya.


Bahkan  tanpa diduga, Xavier ternyata begitu mempercayai Regas hingga mengangkat lelaki itu menjadi asistennya, menjadi orang terdekat yang mengetahui seluruh gerak-gerik Xavier dengan sangat terperinci. Yang pasti, Dimitri sangat senang dengan kenyataan bahwa selama ini dia berhasil membodohi Xavier Light dengan telak.


Akram Night dan Xavier Light, dua kakak beradik itu adalah musuh besarnya yang selama ini begitu dibencinya. Mereka berdua merupakan batu sandungan baginya untuk menjadi nomor satu dalam segala hal.


Selama ini tidak ada yang berani mengusik dua bersaudara tersebut, bahkan musuh-musuh mereka yang menggunakan segala cara untuk melawan, semuanya berhasil dibekuk sebelum bangkit sepenuhnya, kalah oleh kekuatan dan kekuasaan mereka berdua. Beberapa memang masih terus berusaha, sementara beberapa yang lain memilih diam dan menunggu karena terlalu takut, sambil berharap bahwa pertikaian antara dua kakak beradik itu akan membuat mereka saling menghabisi satu sama lalin.


Anehnya, meskipun Xavier Light sangat hebat, dan dia selalu bertikai secara terang-terangan dengan Akram Night, lelaki itu juga tidak pernah berhasil dalam usahanya melawan Akram Night. Musuh-musuh yang bekerjasama dengan Xavier Light untuk melawan Akram Night juga sama sialnya nasibnya, jika kerjasama itu berakhir dengan kegagalan, maka mereka sudah pasti akan dihabisi tanpa sisa. Hanya musuh-musuh yang cukup nekat dengan kebencian yang luar biasa besar saja yang berani mengajak kerjasama Xavier Light dengan pertaruhan nyawa mereka sendiri.


Tetapi, Dimitri tentu tidak sebodoh orang-orang yang berpikiran pendek itu. Dia memilih untuk bersikap sabar dan menyusun rencana di balik bayang-bayang. Dengan penuh perhitungan, Dimitri memutuskan akan menyerang lawannya menggunakan kecerdikan meskipun itu berarti dia harus membuang waktunya begitu lama hanya untuk menemukan kelemahan dua musuh besarnya tersebut.


Selama ini, dia menghabiskan seluruh waktunya untuk mencoba menemukan kelemahan Xavier Light dan Akram Night, dan dia tertahan dalam usahanya tersebut. Akram dan Xavier selalu tampak kuat dan tanpa kelemahan sehingga Dimitri harus melangkah mundur karena tidak menemukan senjata andal untuk melawan.


Sampai dengan akhir-akhir ini, Regas membuat laporan mengenai kemungkinan satu orang perempuan yang cukup berarti bagi Akram Night. Dan Dimitri memerintahkan Regas untuk menunggu sampai Xavier bergerak menemukan perempuan itu.

__ADS_1


Dugaannya tidak salah, tidak memerlukan waktu lama bagi Xavier untuk membuka tabir yang menutupi misteri mengenai perempuan kesayangan Akram Night tersebut.


Tadinya Dimitri memutuskan untuk menyusup di tengah dan menggunakan segala cara untuk mendapatkan perempuan itu guna menekan Akram Night. Tetapi, Regas malahan melaporkan perkembangan yang lebih baru lagi, menunjukkan bahwa Xavier Light juga memiliki keterikatan dengan perempuan itu.


Bisa dibilang bahwa Akram Night dan Xavier Light telah mengembangkan perasaan yang lebih jauh kepada perempuan misterius yang dipanggil dengan nama Elana tersebut


Dimitri menyeringai di tengah kegelapan yang melingkupinya. Kalau begini caranya, rupanya keberuntungan sungguh sedang berpihak pada dirinya. Asal dia bisa mendapatkan wanita tersebut, maka dia akan menggenggam baik Akram Night maupun Xavier Light di tangannya. Asal dia bisa memegang perempuan itu di bawah kuasanya, maka dia akan bisa mengendalikan Akram Night dan Xavier Light sesuka hatinya. Sekali tepuk, maka dua serangga bisa mati di tangannya.


Sungguh, jika dia berhasil nanti, hal itu akan menjadi sebuah kemenangan yang sangat menyenangkan, membuat jantungnya berdebar penuh antisipasi, tidak sabar menunggu sampai saat itu tiba.


Sesuai rencana, dia akan mendapatkan perempuan yang menjadi pusat seluruh rencananya tersebut dalam waktu dekat. Dimitri sendiri tidak bisa menahan rasa penasarannya terhadap perempuan itu. Dia begitu ingin tahu, perempuan seperti apa yang berhasil menundukkan dua makhluk buas yang sangat ditakuti di dunia bawah tanah tersebut.


“Sayang?”


Suara serak perempuan yang sensual dari atas ranjang terdengar memanggil, mengguggah Dimitri dari lamunannya yang penuh rencana. Dimitri sendiri langsung melangkah ke atas ranjang dan naik lagi ke sana, memeluk perempuan cantik bertubuh indah itu dengan penuh nafsu. Jemarinya bergerak, bergulir menyusuri permukaan kulit mulus nan lembut tersebut sementara bibirnya mulai menciumi perempuan itu.


“Michaella, sayang. Kau sudah bangun? Mari, akan kubuat kau kelelahan hingga tertidur lagi,” Dimitri terkekeh menggoda sambil menggulingkan tubuhnya untuk menindih perempuan itu.


Ya, Michaella adalah artis terkenal yang sangat cantik, terlebih lagi, perempuan itu adalah mantan kekasih Akram Night yang telah dicampakkan dan dibuang begitu lelaki itu bosan terhadapnya. Setelah kehilangan Akram Night, Michaella akhirnya jatuh ke dalam pelukan Dimitri yang menerimanya dengan tangan terbuka, lalu naik ke atas ranjang Dimitri dan menjadi kekasihnya.


Untuk sekarang, Dimitri memang harus puas hanya bisa menikmati sisa-sisa bekas Akram Night. Tetapi dia yakin di masa depan nanti, akan ada saatnya ketika dialah yang melemparkan sisa dan bekasnya kepada Akram Night yang menyembah di bawah kakinya.


***



***


Xavier yang telah menunggu entah berapa jam akhirnya kembali mengurai senyum ketika melihat mata Elana mengerjap dan membuka. Sepertinya efek serum penawar yang membuat mengantuk itu telah pudar, karena Elana telah terbangun dari tidur lelapnya dan membuka mata.


Tak seperti pertemuan sebelumnya dimana Elana langsung panik ketakutan dan ingin menjerit ketika melihat wajahnya pertama kali setelah membuka mata, perempuan itu kini hanyalah mengerutkan kening sedikit bingung.


“Xavier?” Elana mengerjapkan matanya kembali, seolah masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih terpecah-belah. Suara Elana sendiri terdengar sedikit parau dan tersekat, seolah-olah tenggorokannya tengah kering.


Xavier langsung bangun dari posisinya duduk di ujung tempat tidur Elana, melangkah ke arah minibar kecil di kamar itu dan mengambil sebotol air mineral yang tersedia di sana. Diangsurkannya botol itu ke arah Elana dengan niat baik.


“Minumlah, kau pasti haus setelah tertidur beberapa lama,” ucap Xavier lembut. Ketika dia melihat ekspresi Elana yang ragu, Xavier langsung menyeringai dengan ironis. “Itu minuman botol dalam kemasan, masih disegel. Tidak ada racun di dalamnya,” sahutnya dengan nada meyakinkan tetapi diselipi canda.


Elana bergerak perlahan berusaha untuk duduk di atas ranjang tersebut dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. Gerakannya penuh kehati-hatian, berusaha untuk tidak menyentuh tangannya yang tengah diinfus.Tatapan Elana masih jelas menunjukkan keraguan pada air yang diangsurkan oleh Xavier Light kepadanya, tetapi tak urung, diterimanya juga botol air tersebut.


Mata Elana mengawasi botol air di tangannya, lalu perempuan itu mendongak dan menatap Xavier dengan kening yang masih berkerut.


“Kata orang, racun bisa disuntikkan ke dalam botol air mineral yang masih bersegel ini dengan menggunakan jarum yang sangat kecil sehingga tidak terdeteksi,” dengan suara pelan Elana mengungkapkan tuduhannya yang penuh kecurigaan.


Seketika itu juga Xavier tergelak lepas. Perempuan ini masih terasa sama, seolah-olah membawa cahaya yang menyinari hatinya nan gelap dan mengangkat beban jiwanya.


Apakah ini yang dirasakan oleh Akram Night ketika bersama dengan Elana? Sehingga Akram begitu terikat pada perempuan ini?

__ADS_1


“Aku tidak akan meracunimu. Sudah cukup sekali aku meracunimu dan aku sangat menyesalinya,” Xavier masih menyisakan senyum setelah tawanya habis. Ditatapnya Elana dengan lembut. “Kau bisa memegang perkataanku, Elana. Kau akan aman dan baik-baik saja di sini. Sudah kubilang, kan? Aku hanya ingin berbicara.


“Kau bilang kau hanya ingin berbicara, tetapi sebenarnya kau hanya sedang mencari cara untuk memprovokasi Akram menggunakan diriku,” Elana menyahut, entah kenapa mendapatkan keberanian untuk menghadapi Xavier. “Mengenai tawaran kebebasan yang kau berikan kepadaku, sebenarnya kau tidak sungguh-sungguh dengannya, bukan? Kau memberikan tawaran itu kepadaku hanya untuk memprovokasi Akram. Karena, jika kau bersungguh-sungguh dengan rencanamu, tidak mungkin kau memberitahukan rencanamu itu di awal di depan Akram, karena siapapun juga sudah tahu bahwa Akram akan menggunakan segala cara untuk mencegahnya. Rencanamu itu bahkan sudah dibunuh sebelum bisa mendapatkan nyawa….” Elana menganalisa dengan lancar seiring dengan kalimat yang meluncur dari bibirnya.


Xavier tidak menjawab ataupun membantah tuduhan Elana. Seperti yang dilakukannya kemarin, lelaki itu malah bergerak dengan santai untuk menyeret sofa tunggal mendekat ke ranjang, sebelum kemudian duduk di sana dengan tenang dan menatap Elana pandangan yang sangat serius.


“Aku bersungguh-sungguh dengan tawaranku. Menurutmu kenapa aku memberitahu Akram? Kenapa aku tidak merahasiakannya? Itu semua karena aku tahu bahwa diriku dan Akram Night sama kuatnya. Kami bisa saling melawan berhadap-hadapan tanpa saling menusuk dari belakang kalau kami mau.” Xavier mengawasi Elana dengan ekspresi serius. “Tetapi bagaimanapun kuatnya diriku dalam melawan Akram Night, aku tahu bahwa entah serius atau tidak tawaranku, kau tidak akan pernah menerimanya. Aku benar, bukan?”


Elana tertegun, dia tidak menjawab, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa kata-kata Xavier benar adanya.


“Anak buahku mengatakan bahwa hari-hari kemarin, Akram membawamu ke tempat-tempat yang tak pernah kalian kunjungi sebelumnya. Aku menduga dia sedang mengancammu dengan menggunakan orang lain. Benarkah begitu?” Xavier menyipitkan mata sambik memberondong Elana dengan pertanyaan. “Apakah Akram menggunakan caranya yang biasa, menyandera kelemahan orang lain untuk menekan mereka supaya mengikuti apa yang mereka mau? Itukah yang dilakukan Akram kepadamu sehingga kau tak berdaya dan terpaksa mengikuti kemauannya?”


Elana menatap Xavier dengan mata membelalak. “Kau… kau menyuruh orang untuk mengikuti kami?” tanyanya cepat penuh tuduhan.


Xavier mengangkat bahunya. “Aku selalu mengawasi musuh-musuhku. Aku yakin Akram juga melakukan hal yang sama terhadap diriku.” Ekspresi Xavier berubah serius tak terperi. “Lana, jika aku mengubah kondisi tawaranku, akankah kau menerimanya?”


“Aku tidak akan menerima tawaran apapun darimu,” Elana menjawab cepat, memilih dengan bijaksana.


Xavier menyeringai. “Tetapi aku belum menjelaskan tawaranku kepadamu, bagaimana mungkin kau tega menolaknya sebelum mendengarkannya?”


Elana menatap ke arah Xavier dengan ragu. Meskipun Xavier mengucapkan kalimatnya dengan santai, tetapi Elana menyadari bahwa ada makna berbahaya yang menguar dari perkataan Xavier.


Entah kenapa hatinya tiba-tiba dilanda kecemasan.“Apakah kau memiliki rencana untuk mencelakai Akram?” tanyanya kemudian dengan nada ragu berhati-hati.


Xavier menatap Elana lurus seolah berusaha menembus ke dalam hatinya. Senyum indah yang sedari tadi menghiasi wajahnya sudah menghilang tanpa jejak.


“Aku bukan hanya akan mencelakai Akram Night. Aku bisa melenyapkan Akram dengan bantuanmu. Tentu saja jika kau menginginkannya.”


Elana terperangah. “Melenyapkan Akram dengan bantuanku?” tiba-tiba rasa ngeri bercampur ketidaknyamanan melingkupi hati Elana. Dia mungkin pernah membenci Akram Night atas perlaluan dan pemaksaan lelaki itu kepadanya. Tetapi, Elana memiliki jiwa pemaaf dan dia bahkan telah berjanji kepada lelaki itu untuk memberinya kesempatan.


Sebenci apapun Elana dahulu terhadap Akram Night, Elana tidak pernah memiliki keinginan untuk membunuh lelaki itu.


“Aku memiliki racun  tak terdeteksi yang bisa kau masukkan ke dalam makanan dan minuman Akram Night. Aku yakin  bahwa posisimu cukup dekat dengan Akram sehingga memungkinkanmu untuk melakukannya tanpa membuat Akram curiga. Setelah dia mendapatkan racun itu dari tanganmu, dia bisa mati dengan tenang karena racun itu tidak berjejak. Dokter hanya akan menemukan diagnosa sebagai serangan jantung ketika melakukan pemeriksaan terhadap mayatnya,” mata Xavier menyipit dan mengawasi Elana dengan penuh perhitungan. “Tahukah kau bahwa dengan menjadi orang paling dekat dengan Akram Night, maka kau akan menjadi kelemahannya? Orang-orang akan mengejarmu sebagai jalan untuk menjangkau Akram Night dan kau bisa melihat sendiri bahwa salah satunya adalah diriku. Kalau kau bersedia bekerjasama denganku, maka kau akan mendapatkan kebebasanmu dengan mudah. Jika Akram Night mati, bukan hanya seluruh ancamannya terhadap orang-orang yang kau kasihi akan terlepaskan, tetapi kau juga akan terbebas sepenuhnya. Tawaranku sungguh menarik, bukan?”


Elana tertegun mendengar pertanyaan Xavier itu. Butuh waktu beberapa lama bagi Elana untuk berpikir sebelum menjawab. Tetapi, di detik berikutnya ketika Elana mendongakkan kepala untuk menatap Xavier, bukan kebencian, tuduhan atau sikap perlawanan yang ditunjukkan oleh Elana, melainkan tatapan sedih mengasihani yang ternyata lebih memberikan efek membunuh dari semua hal yang bisa ditunjukkan oleh Elana pada Xavier.


“Sampai kapan kau harus terus-menerus berbohong? Bukankah aku pernah bilang bahwa berbohong itu melelahkan?” tanya Elana dengan kalimat yang sama sekali tidak pernah diduga oleh Xavier, membuat Xavier langsung tertegun bingung kehabisan kata.



.


***



***

__ADS_1


__ADS_2