Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 57 : Penghinaan


__ADS_3

Ketakutan Sera sepertinya tercermin di matanya, karena Xavier langsung terkekeh menertawakan. Lelaki itu bangkit dari posisinya berbaring, lalu duduk di atas ranjang di dekat Sera, sementara tangannya bergerak untuk menjentik kening Sera dengan ketukan keras yang membuat Sera mengerutkan alisnya.


“Pikiran kotor apa yang sedang bergejolak di dalam otakmu yang keras kepala ini, Serafina Moon? Buang semua pikiran mesummu menyangkut diriku. Aku bukan pria masokis yang mendapatkan kenikmatan dengan menyiksa gadis-gadis,” kekeh Xavier, menebak dengan tepat dan menertawakan Sera hingga membuat pipi Sera merah padam karena malu.


“Ma-maaf.” Sera sedikit menunduk, malu luar biasa hingga tak berani menantang mata Xavier. Entah kenapa sepagi ini pikirannya sudah dipenuhi hal-hal yang aneh, membuatnya mempermalukan dirinya di depan lelaki itu.


Tangan Xavier bergerak mengambil kotak salep di nakas dan membukanya. Di dalamnya, ada tube mungil berwarna putih. Xavier mengeluarkan salep itu dari wadahnya, lalu mengambil tangan Sera dan mengoleskan krim yang terasa dingin tersebut di permukaan kulit Sera yang memerah.


“Aku memiliki banyak krim ini karena… kau tahu, penyakitku. Anemia aplastik yang kuderita menyebabkan aku mengalami trombositopenia atau kekurangan keping darah. Dengan kondisi ini, aku cenderung memiliki memar atau ruam pada kulit karena darahku yang encer mudah merembes keluar dari pembuluh darah kapiler.” Xavier mengucapkan tentang penyakitnya dengan nada datar seperti sedang membicarakan cuaca hari ini.


“Nah, sudah selesai.” Xavier menyimpan kembali salep obat itu, dan ketika menengadah lalu menatap kembali ke arah Sera, keningnya berkerut.


“Kenapa kau memasang ekspresi wajah seperti itu? Aku memang sakit, tetapi aku tidak ingin dikasihani.”


Sera menggelengkan kepala. “Aku tidak mengasihanimu. Aku….” Suara Sera terhenti karena bingung mendeskripsikan perasaannya. Cara Xavier mengungkapkan gejala sakitnya dengan sikap tegar entah kenapa menyentuh perasaan terdalam Sera dan membuat ruang hatinya disesaki oleh perasaan yang tak bisa dideskripsikan.


Xavier memasang senyum, seolah memaklumi Sera yang tergugu tak mampu bersuara. Tangannya menepuk lengan Sera lembut sebelum kemudian berucap.


“Kurasa kita harus segera bersiap-siap,” ucapnya kemudian, entah kenapa ekspresinya berubah muram dan serius.


Sera mengerutkan kening. “Apakah… apakah kita akan menemui ayahku seperti yang kau katakan kemarin?” tanyanya memastikan.


Xavier menggelengkan kepala. Matanya menatap ke arah Sera tajam, seolah-olah ingin membaca reaksi Sera sampai di titik yang sedetail mungkin.


“Tidak. Maafkan aku. Kurasa kita harus memundurkan jadwal bertemu ayahmu. Karena ada sesuatu yang harus kau lakukan lebih dahulu.” Ekspresi gelap Xavier entah kenapa menciptakan firasat buruk yang langsung menyeruak ke dalam benak Sera.


“Melakukan, apa?” tanyanya was-was.


“Menemui Aaron.” Xavier langsung menggerakkan tangannya penuh isyarat ke arah Sera, meminta perempuan itu tak menyanggah atau memprotes kepadanya sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. “Dengarkan aku dulu. Saat ini, Aaron berada di bawah penanganan Dimitri. Dia memang menerima serum penawar, tetapi dia tidak tahu bahwa itu berasal dariku. Yang dia tahu adalah bahwa Dimitrilah yang membantunya. Hari ini, imigrasi mengeluarkan keputusan deportasi untuknya sehingga dia harus pulang ke Rusia lebih cepat dari jadwal. Dia akan pulang hari ini pukul tiga siang, dan tidak tahu apakah dia bisa masuk ke negara ini lagi atau tidak dalam waktu dekat.”


Xavier berucap lambat-lambat dengan artikulasi jelas di setiap patah katanya, seolah-olah ingin memastikan bahwa Sera bisa mencerna ucapannya dengan sempurna. “Aaronlah yang mengajukan permintaan kepada Dimitri, dia ingin dibantu supaya mendapatkan kesempatan untuk bertemu denganmu sebelum dia berangkat ke Rusia.” Xavier menghentikan kalimatnya, lalu menatap ke arah Sera yang tertegun dan dipenuhi keterkejutan mendengar perkataan Xavier itu.


Karena Sera tak juga berucap memutuskan, akhirnya Xavier melanjutkan kembali perkataannya.


“Menurutku, kau harus mengambil kesempatan untuk menemui Aaron, Sera dan melepaskan bebanmu.”


***


“Aku tak akan mengikutimu masuk ke sana supaya kalian mendapatkan ruang dan privasi untuk bercakap-cakap.”


Xavier memberitahu ketika mereka berada di lorong khusus yang menghubungkan antara parkiran bandara dengan lounge VVIP yang telah dipilihkannya sebagai tempat pertemuan antara Sera dengan Aaron.


“Tetapi, ruang VVIP itu dijaga ketat dengan kamera CCTV terpasang. Jika terjadi sesuatu di luar dugaan, seluruh anak buahku akan bersiaga mengambil tindakan,” sambungnya cepat.


Sera hanya bisa menganggukkan kepala. Di dalam perjalanan menuju bandara ini, dia lebih banyak terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri dan berusaha menetralkan debaran di dadanya.


Apakah ini debaran bahagia? Ataukah jenis debaran yang lain?


Sera tak bisa mengejawantahkan perasaannya sendiri. Dia tidak tahu apakah dia senang atau sedih saat mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Aaron yang akan pulang kembali ke negaranya. Mungkin ini hanyalah keterkejutan saja yang sedang menguasai dirinya. Sebab, dia sama sekali tak menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Aaron.


Mereka berjalan menyusuri lorong senyap itu hingga ke ujung. Di sana, terdapat sebuah pintu besar yang tertutup rapat, dan Dimitri serta beberapa pengawal yang berjaga, tampak menunggu.


Dimitri menyeringai ketika menatap ke arah Sera dan Xavier berganti-ganti. Lelaki itu mengangguk ke arah Xavier dan memberi salam dengan sikap enggan karena kewajiban, lalu memfokuskan pandangannya ke arah Sera dan melebarkan seringaiannya.


“Aaron sudah menunggumu di dalam sana. Ingat, dia tidak tahu bahwa kau bisa datang kemari dengan bebas atas izin Xavier. Yang diketahui oleh Aaron adalah bahwa aku membantumu menyelinap dari pengawasan Xavier sehingga bisa mencuri waktu untuk menemuinya dalam waktu terbatas. Apakah kau mengerti?” ujarnya kemudian.


Sera menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ya, tentu saja dia mengerti. Xavier telah menjelaskan tentang pengaturan itu berulang kali kepada Sera dan memastikan supaya Sera tak salah ucap.


Xavier bilang, dia memerlukan Dimitri untuk menjadi orang kepercayaan Aaron, dan Aaron tak boleh tahu bahwa Dimitri bekerjasama dengan Xavier. Entah apa alasan Xavier melakukan itu, tetapi Sera memutuskan untuk mempercayai niat baik Xavier yang mengatakan akan membebaskan Aaron dan ayahnya, sehingga dia akan mengikuti skenario yang diajarkan kepadanya dengan baik.


Xavier juga telah meyakinkan Sera bahwa dia tidak menyimpan dendam apapun atau berencana membalas dendam kepada Aaron karena lelaki itu telah menusuknya dengan pisau dan membahayakan nyawanya. Yang penting untuk saat ini, Aaron sebentar lagi akan melangkahkan kaki kepada kebebasannya, pulang kembali ke Rusia dan mungkin akan segera mengurus segala warisan keluarga Dawn seperti yang telah ditakdirkan untuknya.


“Masuklah. Aku akan menungguimu di mobil.” Xavier menyentuh lengan Sera sedikit, membuyarkan Sera dari lamunannya, membuat Sera menganggukkan kepala, membisikkan ucapan terima kasih lirih, lalu mengikuti jejak Dimitri yang membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan dirinya masuk ke ruangan itu.


***


Aaron tampak sangat tampan. Lelaki itu mengenakan turtle neck warna cokelat muda dan celana nuansa yang sama dengan gradasi warna yang lebih gelap. Rambutnya tersisir rapi, sementara tubuhnya terlihat tegap dan sehat, tampak segar sehingga melegakan hati Sera.


“Hai.” Sera melangkah mendekat ke arah Aaron yang berdiri di tengah ruangan sambil memasukkan tangannya ke saku celana. Lelaki itu juga sedang memasang senyum untuk menyambutnya sehingga mau tak mau Sera membalas senyumnya.


“Aku senang kau berhasil mencuri waktu untuk menemuiku. Kau tahu, aku harus pergi beberapa saat lagi.” Aaron melebarkan senyumnya. Matanya menyusuri keseluruhan diri Sera yang menghentikan langkah tepat di hadapannya, hanya sejangkauan lengan jauhnya. “Kau tampak sehat dan baik-baik saja,” sambungnya kemudian.


Sera tersenyum lembut. “K-kau juga.” Sera memindai wajah Aaron dan keningnya berkerut ketika melihat luka dan lebam yang telah mengering dan meninggalkan jejak tipis di wajah lelaki itu. “Tapi.. kau luka-luka, tambah Sera dengan ragu.

__ADS_1


Aaron terkekeh. “Ini hanya luka biasa. Aku sudah sembuh.” Aaron masih lekat menatap Sera. “Bagaimana denganmu? Seperti apa kehidupanmu sebagai Nyonya Light? Sepertinya kau diurus dengan baik, ya?”


Mata Aaron yang awas langsung menemukan bahwa Sera memakai barang-barang mahal milik merk ternama dari ujung kepala sampai ujung kakinya, bahkan sepatunya saja sepertinya merupakan pesanan khusus yang harganya selangit.


Saat ini, penampilan Serafina Moon tampak jauh berbeda dengan Sera yang dikenalnya. Sera yang ada di keluarga Dawn hanyalah seorang perempuan yang berperan layaknya budak, kotor, tak terawat dan selalu memakai pakaian lusuh dengan tingkat percaya diri yang nyaris nol. Tetapi, Sera yang berdiri di hadapannya ini seperti orang lain. Perempuan itu tampak luar biasa cantik dan elegan, membuat Aaron mengerutkan kening dan bertanya-tanya, sihir apakah yang digunakan oleh Xavier Light hingga membuat Sera yang dulunya seperti kuncup bunga abadi, bisa mekar sempurna seperti ini.


“A-aku tak mau membicarakannya.” Sera berbisik perlahan, memutuskan bahwa perihal pernikahannya dengan Xavier Light adalah sesuatu yang tak nyaman untuk dia bicarakan saat ini. “Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu. K-kau tahu, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu. Kau pasti akan sukses di masa depan. Aku yakin kau akan membawa bisnis keluarga Dawn berjaya dan semakin hebat ke depannya.”


Segurat kilatan sinis nan jahat muncul di mata Aaron, hanya sekelebatan hingga Sera tak menyadarinya. Aaron tiba-tiba saja membuka lengannya, lalu menatap Sera dengan tatapan penuh arti.


“Baiklah. Aku juga mendoakan yang terbaik untukmu.” Aaron mengangkat alisnya ketika melihat Sera tak memahami isyaratnya. “Bolehkah aku meminta pelukan selamat tinggal? Hanya pelukan antar sahabat saja,” pintanya lembut.


Sera semula tampak ragu. Tetapi akhirnya dia berpikir bahwa tidak ada salahnya memeluk Aaron. Lelaki itu adalah malaikat penyelamatnya, sahabatnya dan tumpuannya di masa lalu ketika dirinya merasa putus asa dan tak punya harapan hidup. Aaron adalah sosok yang memeluknya dan menguatkannya ketika dia terbaring lemah, penuh dengan luka bekas cambukan di punggungnya. Aaron pulalah yang menyuapinya makan dan memberinya minum saat dia menjalani hukuman dibiarkan  kelaparan yang menguras seluruh energinya sehingga tak mampu menggerakkan tubuh.


Tanpa kata, Sera melangkah masuk ke dalam pelukan Aaron dan membiarkan lelaki itu merengkuhkan lengannya ke sekeliling tubuhnya dan menenggelamkan Sera ke dadanya.


Sera memejamkan mata haru. Batinnya berbisik mengucapkan selamat tinggal kepada cinta pertamanya. Hatinya bersenandung dengan nyanyian merelakan. Sera sudah siap melepaskan, tahu pasti bahwa kemungkinan jalan mereka yang saling terkait akan berhenti sampai di sini dan tak akan bersilangan lagi.


Tetapi tiba-tiba saja, dirasakannya Aaron sedikit membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Sera. Napas lelaki itu terasa panas, meniup sisi rambut Sera yang menutupi telinganya, sebelum kemudian berbisik dengan nada kejam dan kasar.


“Dasar jal*ng pel*cur yang tak tahu malu. Aku tak akan pernah memaafkanmu karena telah mengkhianatiku. Kau perempuan rendahan yang menjual tubuhmu dengan harga murah, aku sangat jijik kepadamu.”


***


Ekspresi Xavier menegang ketika matanya yang mengawasi kamera CCTV menemukan bagaimana perpisahan yang seharusnya berjalan manis itu tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat.


Sikap tubuh Sera yang tadinya masuk ke pelukan Aaron dengan sukarela tiba-tiba berganti dengan tubuh menegang seolah ditusuk oleh pedang tak kasat mata. Perempuan itu bahkan langsung melenting, mendorong dada Aaron yang tadinya memeluknya dan memberontak dari pelukan lelaki itu.


Tubuh Sera meloncat beberapa langkah, mundur menjauh dari Aaron, sementara wajah Sera terlihat pucat pasi, penuh dengan ekspresi terguncang yang melumuri piasnya wajah itu.


Alarm peringatan langsung berdering di kepala Xavier. Dia langsung menyadari bahwa yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan yang diperkirakan.


Dengan cepat Xavier menyalakan intercom, menghubungi Dimitri dan meneriakkan perintah cepat dengan nada mendesak kepada lelaki itu.


“Keluarkan Aaron dari sana!” bentaknya keras segera setelah panggilan itu tersambung.


Xavier tidak menunggu jawaban Dimitri lelaki itu segera memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan kursi rodanya, lalu bersegera mendatangi area tempat Sera bertemu dengan Aaron.


***


Mata Aaron menatap tajam ke arah Sera, dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi, menusuk Sera sampai ke dasar hati.


“A-apa maksud perkataanmu, Aaron?” Suara Sera gemetar. Telinganya mendengar dengan jelas, matanya menangkap dengan tepat, tetapi hatinya masih tak mau menerimanya.


Aaron yang dikenalnya bukanlah lelaki jahat yang berdiri angkuh sambil menatap penuh dendam ke arahnya seperti ini. Aaron yang dikenalnya adalah lelaki baik, malaikat penyelamatnya yang selalu tak bercela di mata Sera.


“Tidak usah berpura-pura bodoh, Serafina Moon. Atau, aku sekarang harus memanggilmu Serafina Moon Light? Bahkan nama kalian bisa menyatu dengan menjijikkan, menunjukkan bahwa makhluk kotor memang ditakdirkan bersatu dengan yang sama-sama kotor.” Aaron berucap tanpa perasaan, menjatuhkan Sera sampai ke dasar, didorong oleh hasrat untuk menginjak-injak Sera sampai hancur lebur tanpa sisa. “Aku tahu kalau kau telah menjual tubuhmu kepada Xavier Light, menjadi pel*cur di atas ranjangnya dan membuang harga dirimu. Kau bahkan mengkhianatiku tanpa perasaan, lupa atas segala jasa yang telah kulakukan bagimu,” kembali Aaron menyambung kalimatnya, nadanya masih tetap sama, penuh penghinaan dengan tujuan untuk menyakiti.


“A-aku tidak mengkhianatimu. K-kau salah paham….” Sera berucap dengan bibir gemetaran. Hatinya sakit tidak terperi, air matanya merebak di pelupuk, terasa panas membakar sehingga pertahanan dirinya pun runtuh, membuatnya kehilangan suara, tertelan oleh isak, tak mampu berkata-kata.


“Tidak usah berdalih. Seharusnya aku sadar bahwa sikap murahan sudah mengalir di darahmu dan tak bisa diubah lagi. Tidak ada gunanya aku bersikap baik dan menolongmu di masa lampau. Kalau saja aku tahu bahwa kau akan berubah menjadi pribadi hina seperti ini, pastilah aku tak sudi menolongmu di masa lalu. Lebih baik kubiarkan saja kau mati dengan luka infeksi di punggungmu, atau kehilangan nyawa karena kelaparan. Kurasa itu memang lebih cocok bagimu.” Aaron menyipitkan mata, bibirnya berbisa, bersiap melempar racun. “Anak seorang pel*cur, sudah pasti akan menjadi pel*cur juga.”


“K-kau… apa maksudmu? Kenapa kau bilang begitu?” Penghinaan yang dilemparkan Aaron secara jelas kepada ibunya, membuat Sera mendapatkan kekuatan untuk bersuara lagi.


Sayangnya, suaranya ditelan oleh tawa sinis Aaron yang tampak berpesta pora di atas kesakitan Sera.


“Kau tidak tahu ya? Ibumu dulu adalah seorang wanita penjaja diri yang menawarkan tubuhnya secara murah kepada laki-laki di jalanan. Hidupnya sudah rendah serendah-rendahnya, entah sudah berapa lelaki yang menyentuhnya, mungkin puluhan, bahkan bisa saja mencapai ratusan. Aku tak bisa membayangkan betapa kotornya dan rusaknya tubuh ibumu. Beruntung, ayahmu yang berselera rendah menemukan ibumu dan mengentaskan dia dari kubangan lumpur. Tetapi, mengingat betapa murahannya ibumu, apakah kau yakin bahwa kau adalah anak kandung ayahmu? Kau bisa saja anak dari lelaki-lelaki mesum yang menjadi pelanggan ibumu itu.”


Suara tamparan keras membahana di ruangan itu. Tangan Sera terayun keras, menampar Aaron sekuat tenaga. Napas Sera terengah berat, sementara matanya nanar penuh air mata, mencerminkan kepedihan hati tak terperi karena dihina dengan tidak berperikemanusiaan.


“Kau boleh menghinaku… tetapi jangan pernah… jangan pernah mengina ibuku!” Sera berteriak keras, hatinya campur aduk. Kecewa, marah, sedih dan ingin mati, semuanya menjadi satu, membuat dadanya sesak oleh kesakitan yang nyata.


Tetapi, sebelum Aaron sempat membuka mulut, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan Dimitri memasuki ruangan, menatap Aaron dan Sera berganti-ganti dengan ekspresi datar.


“Kurasa sudah cukup salam perpisahan kalian.” Dimitri melemparkan tatapan mata penuh peringatan ke arah Aaron.


Dia memang mendengar bahwa Aaron akan memberikan balas dendam kecil kepada Sera, dan dia mengizinkan itu terjadi karena berpikir akan melihat pertunjukan kecil yang menyenangkan untuk mengganggu Xavier yang  tak disukainya. Tetapi, yang tak disangkanya, adalah bahwa Aaron akan menggunakan jalan seperti ini untuk membalas dendam kepada Sera.


Sebuah cara licik dan murahan. Sebuah cara pengecut untuk menjatuhkan orang lain dengan menghina asal usul dan darah yang mengalir di tubuh seorang anak tak berdosa.


“Ayo, Aaron. Pesawatmu sudah menunggu. Kita pergi dari sini.” Dimitri tahu bahwa dia harus segera menyingkirkan Aaron dari sini sebelum Xavier datang dengan segala kemurkaannya yang mengerikan. Dia mendapatkan tugas untuk mengirimkan Aaron terbang bebas pulang ke Rusia, dan itulah yang akan dilakukannya.


Aaron rupanya juga menyadari bahwa bahaya telah mendekat ke dirinya. Jika dia tak segera menyingkir, kemungkinan besar dia tak akan pernah bisa pergi dari sini.

__ADS_1


“Selamat tinggal, Perempuan j*lang. Kuharap, saat kita bertemu lagi nanti, aku bisa menginjakmu dengan lebih keras daripada sekarang.”


Tak membuang waktu lagi, Aaron menyempatkan diri mengucapkan kebenciannya kepada Sera, sebelum kemudian lelaki itu bergegas pergi, mengikuti langkah cepat Dimitri menuju ke arah pesawat yang sudah menanti, meninggalkan Sera sendirian dengan hati yang tersakiti.


***


Tubuh Sera rubuh, jatuh ke lantai. Sementara tangisnya membeludak tak terkendali, meledak dari dadanya, membasahi wajahnya.


Bahunya terguncang kuat, dipenuhi rasa sakit yang seolah meletup-letup di seluruh pembuluh darahnya, menghancurkannya sampai ke bagian terkecil, menyakitinya sampai dia tak mampu lagi menahannya.


Lalu, pintu ruangan itu terbuka. Sejenak hanya terdengar senyap yang menyapa. Tak lama kemudian, terdengar alunan lembut suara dengung mesin kursi roda elektrik Xavier yang mendekat.


Lelaki itu menghentikan kursi rodanya tepat di depan Sera yang bersimpuh menangis di lantai. Matanya menatap nanar ke arah tubuh mungil yang terisak tak terkendali, ditelan kehancuran atas penghinaan yang mengguncang hati.


Xavier kemudian membungkuk, meremas bahu Sera lembut untuk mengarahkan perhatian perempuan itu kepadanya.


“Serafina Moon,” bisiknya lembut, memasang ekspresi penuh empati yang menghibur hati saat Sera akhirnya mendongak dan menatap wajahnya.


Perempuan itu tampak dicabik oleh kepedihan yang nyaris terasa ngeri. Wajahnya basah, matanya menampilkan pedih yang berkaca-kaca, sementara hidungnya merah, menyiratkan luka lebar yang menyerpihkan jiwanya.


Xavier menghela napas panjang, tangannya meremas kembali pundak Sera dengan lembut.


“Naik ke pangkuanku. Ayo kita pulang, Sayang.”


Bisikan Xavier bagaikan kait penyelamat yang menarik Sera dari air bah kepedihan yang menenggelamkannya. Sera meraih kait itu, bergantung kepadanya dengan putus asa. Tubuhnya pun bergerak sendiri, menurut naik ke arah pangkuan Xavier yang sudah menanti.


Dirinya yang mungil sepertinya sama sekali tak memberati lelaki itu, malah terasa pas ketika meringkuk di dada Xavier dan melanjutkan isakan pedihnya yang tak bersuara.


Xavier memeluk Sera dengan sebelah tangan, menghadiahkan kecupan di pucuk rambutnya. Sementara tangannya yang lain bergerak menekan tombol kursi rodanya dan mengarahkannya  keluar dari ruangan, melewati pintu besar yang telah dibukakan lebar-lebar oleh anak buahnya, lalu membawa mereka berdua pergi dari tempat penuh kenangan laknat itu.


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia

__ADS_1


Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan.


AY


__ADS_2