
"My mind forgets to remind me that you're a bad idea"
Di detik yang sama Akram membuka pintu ruangannya, di detik itulah Gabriella mengayunkan tangannya dengan kekuatan penuh untuk menampar pipi Elana dengan begitu keras. Suara tamparan itu membahana di udara, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu membeku sejenak, dipenuhi keterkejutan yang amat sangat.
Elana terhuyung mundur hampir kehilangan keseimbangan ketika rasa panas menyakitkan menjalari permukaan pipinya, sementara telinganya berdenging, mengiringi pandangan matanya yang berkunang-kunang.
Elana tidak pernah ditampar siapapun seumur hidupnya, dan rasa sakit menyengat akibat tamparan itu benar-benar mengejutkannya.
Di saat yang sama, Gabriella yang telah melampiaskan kemarahannya dengan menampar orang yang dia anggap sebagai makhluk rendahan, masih merasa belum puas. Ditudingnya Elana dengan tatapan mengancam, sementara matanya masih melotot dan tangannya yang lain menunjukkan kerusakan di gaunnya.
"Gara-gara kau, sampah! Kau tahu berapa harga gaun ini? Bahkan dengan kau menjual dirimu yang busuk itu pun tak akan bisa menutup harga gaun ini!" bentaknya histeris. Gabriella masih merasa gatal, dia hendak merangsek maju lagi, ingin menjambak dan menyakiti perempuan petugas cleaning service yang baginya tak lebih berharga dari seonggok samsak tinju untuk pelampiasan.
Seketika itu juga, Elios yang telah berhasil mengatasi keterkejutannya langsung bergerak sigap, keluar dari balik mejanya dan segera berdiri di antara Gabriella dan Elana, memosisikan dirinya sebagai penengah sekaligus pasang badan untuk menjadi tameng pelindung bagi Elana.
Elios melirik ke arah pipi Elana dan matanya langsung tertuju pada sudut bibir Elana yang tampak memerah pekat dengan tetesan darah mengalir di sana, tanda-tanda memar pun sudah mulai muncul di kulit wajah Elana yang rapuh dan pucat. Tamparan Gabriella tidak diragukan lagi, sangatlah keras, dan efeknya bahkan berkali-kali lebih buruk ketika didaratkan di kulit Elana nan rapuh.
Elios mengerutkan kening, gurat kecemasan muncul di wajahnya, menguraikan ekspresinya yang biasanya datar seperti robot.
Tuan Akramnya memperlakukan Elana bagaikan porselen yang sangat berharga, dan sekarang Elios lengah hingga terjadi insiden tak diduga yang membuat Elana terluka...
"Nona Gabriella, Anda tidak boleh berbuat seperti ini. Seberapapun besarnya kesalahan karyawan kami, Anda tidak seharusnya melakukan kekerasan fisik terhadapnya," Elios masih berdiri di depan Elana dan berusaha menjaga perempuan itu dari serangan Gabriella yang buas. Dirinya berusaha membawa kembali pikiran waras Gabriella ke permukaan dan menghentikan hasrat perempuan itu untuk menyerang Elana.
Sayangnya, kewarasan Gabriella telah ditelan oleh emosi labilnya yang bercampur dengan sikap arogan dan keangkuhan tiada banding, dan hal itu membuat Gabriella kesulitan meredakan amarahnya yang meledak-ledak.
"Jangan kau lindungi sampah itu, Elios! Dia harus mengganti gaunku! Jika tidak, aku akan mencabik-cabik wajahnya sampai hancur....." suara Gabriella memudar ketika pandangannya seketika beralih pada kelebatan yang terlihat di sudut matanya. Dia langsung mendeteksi gerakan di belakang tubuh perempuan petugas cleaning service tersebut dan menyadari ada orang lain di sana.
Ketika Gabriella melihat bahwa Akram sendirilah yang hadir di ruangan itu, dalam sekejap, hanya memerlukan waktu beberapa detik saja, ekspresi wajah Gabriella langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Wajahnya yang tadinya dipenuhi emosi menggila layaknya penyihir jahat pemakan anak-anak kecil nan malang, tiba-tiba bisa beralih rupa menjadi sebentuk topeng wajah yang secantik bidadari tanpa dosa.
"Akram!" Gabriella berseru dengan suara lembut, sengaja menambahkan keterkejutan bercampur pesona ke dalam suaranya. Di sisi lain, Elios tampak memutar bola matanya dengan ekspresi skeptis, mengagumi dengan sinis kemampuan berakting Gabriella.
Pantas saja Gabriella lolos casting untuk proyek film terbaru mereka, ternyata kemampuan beraktingnya cukup mumpuni.
Begitu mendengar Gabriella meneriakkan nama Akram, tubuh Elana menegang kaku dan ketakutan merayapi dirinya. Bulu kuduknya berdiri ketika menyadari bahwa Akram saat ini di belakangnya, menyaksikan semuanya. Sekarang, setelah Akram juga terlibat dalam masalah ini, tidak akan mudah bagi Elana untuk meloloskan diri. Dia sudah diperingatkan sebelumnya bahwa kalau dia ingin tetap bekerja, maka tidak ada satu orang pun yang boleh mengetahui keterkaitannya dengan Akram.
__ADS_1
Tetapi sekarang... bukan hanya Elana telah membuat masalah dengan orang luar, tetapi orang luar itu yang saat ini dirugikannya, bukanlah orang sembarangan...
Setelah berhasil mengatasi rasa sakit di pipinya yang panas, barulah Elana sadar bahwa perempuan yang menamparnya itu adalah Gabriella Roshan, seorang model terkenal yang namanya saat ini sedang naik daun. Dan melihat sikap manja merayu Gabriella ketika bertemu dengan Akram, sudah pasti model cantik itu adalah salah satu dari wanita kelas atas yang menjadi kekasih Akram Night.
Elana telah mengusik salah satu kekasih Akram Night yang samgat cantik dan sempurna. Sudah tentu Akram akan marah kepadanya dan membela wanitanya yang berkelas itu.....
Jantung Elana berdebar, menyadari bahwa dia telah berbuat kesalahan besar. Padahal ini baru hari pertamanya bekerja... kalau sudah begini, apakah Akram akan mengizinkannya bekerja lagi esok hari? Ataukah lelaki itu malah memutuskan untuk mengurung Elana kembali tanpa akses ke dunia luar seperti sebelumnya?
Gabriella sendiri seolah melupakan keberadaan orang lain di ruangan itu. Sekarang, setelah Akram Night muncul di depannya, hanya lelaki itulah yang pantas mendapatkan perhatiannya. Dengan cepat, Gabriella menghambur ke arah Akram, lalu matanya melotot ketika menyadari bahwa aksesnya untuk menghampiri Akram, terhalang oleh tubuh si petugas kebersihan bodoh yang malah berdiri menghalangi di sana tanpa bergerak.
Gabriela mendengkus sambil berjalan cepat ke arah Elana, sikapnya kasar ketika lengannya bergerak mendorong dan menyingkirkan Elana yang menghalangi jalannya, membuat Elana terhuyung ke samping dan hampir jatuh.
Segera setelah bisa mencapai Akram, Gabriella bergelayut di lengan Akram dengan sikap manja yang dirancang untuk membuat kaum lelaki bertekuk lutut di kakinya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Gaby?" Akram memanggil Gabriella dengan nama kecilnya, seperti yang pernah diminta Gabriella kepadanya. Dan itu semakin melambungkan hati Gabriella hingga penuh dengan rasa besar kepala tak terperi. Dengan Akram bersedia memanggil nama kecilnya saja, sudah jelas menunjukkan betapa intimnya hubungan mereka saat ini.
"Aku ada meeting denganmu jam tiga, apakah kau lupa?" bisik Gabriela dengan nada merayu, jemarinya yang indah, dengan kuku terawat berwarna pink mencengkeram lengan Akram semakin erat sementara dirinya menggesekkan buah dadanya yang besar dengan sengaja ke lengan Akram. "Kau tahu, karena kesibukan kita masing-masing, kita jadi susah mengosongkan waktu untuk bertemu. Jadi, begitu ada kesempatan, aku datang satu jam lebih cepat supaya kita bisa saling melepas kerinduan secara pribadi," Gabriella merendahkan nada suaranya dengan sentuhan sensual merayu. Dirinya lalu bergerak, menoleh dengan ke arah pintu ruang kerja Akram, "Ayo... aku boleh masuk ke dalam, bukan? Orang-orang bilang bahwa ruang kerja Akram Night terlarang untuk dimasuki, tapi kau pasti akan mengizinkanku masuk karena kita akan melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan di dalam sana."
Dengan agresif, Gabriella menarik lengan Akram supaya bergerak mengikutinya kembali ke ruang kerjanya. Tetapi Akram bergeming, membuat Gabriella menoleh kembali ke arah lelaki itu.
Naluri jahat langsung menderas di aliran darah Gabriella, apalagi dia masih merasa kesal karena gaunnya rusak akibat bertabrakan dengan perempuan sampah itu.
"Ah! Kau tahu dia, Akram? Petugas kebersihan rendahan itu muncul entah dari mana dan tiba-tiba menabrakku! Dia bahkan merusakkan gaun mahalku! Kau tahu, gaun ini adalah rancangan terbatas dari desainer ternama yang dibuat khusus untukku. Jika gaun ini rusak, maka tidak akan bisa ditemukan gantinya dimanapun! Aku menamparnya, tapi itu tidak cukup untuk mengganti kerugianku!" Gabriella merengek sambil menghasut dengan jahatnya. "Kau harus memecatnya, Akram! Dan juga kau harus memastikan dia tidak akan diterima bekerja di manapun! Dia tidak becus bekerja! Dia lebih cocok jadi gelandangan!" sambungnya lagi dengan nada berapi-api.
Akram seolah-olah mengabaikan Gabriella yang mulutnya yang tiada henti menyerocos Lelaki itu melangkah mendekat dengan gerakan mengancam, tepat ke arah Elana yang berdiri gugup di pinggir ruangan setelah sebelumnya didorong oleh Gabriella.
Jemari Akram bergerak, menyentuh dagu Elana tanpa Elana mampu menghindar, Akram lalu mendongakkan wajah perempuan itu ke arah cahaya supaya dia bisa dengan jelas memindai bekas tamparan yang ditinggalkan oleh Gabriella di permukaan kulit Elana. Sama seperti yang ditemukan oleh Elios sebelumnya, Akram juga melihat sudut bibir Elana yang sobek dan berdarah, sementara di sekeliling bibir dan pipi Elana, tertinggal bekas memerah gelap yang sebentar lagi pasti akan berubah menjadi memar keunguan.
Akram menyipitkan mata, lalu dia mengangsurkan ibu jarinya untuk menggesek sudut bibir Elana yang terluka. Ketika Elana mengernyitkan alis dan suara rintihan kesakitan lolos akibat sentuhan itu, mata Akram langsung berkilat, dipenuhi oleh kemurkaan tiada banding.
"Kau menamparnya sekuat tenaga," Akram mendesis perlahan, memberi penekanan pada setiap kata.
Gabriella sama sekali tidak menyadari aura kemarahan mengerikan yang menguar dari tubuh Akram, dia terlalu sibuk pada dirinya sendiri hingga lupa diri.
"Tentu saja! Menamparnya tidak bisa mengganti kerugianku! Dia kan orang melarat, bahkan meskipun dia menjual seluruh harta bendanya tetap saja dia tak bisa menutup harga kerusakan gaunku! Aku masih akan menamparnya kembali tadi kalau saja asistenmu itu tidak menghalangiku dan menjadi tameng dari sampah itu!" merasa besar kepala, Gabriella kini mulai mengincar Elios. Salah sendiri Elios tidak mau bekerjasama dengannya! Sekarang, dia akan membuat Elios dihukum oleh Akram!
__ADS_1
"Kerugianmu?" Akram berucap dengan nada mengerikan. Tangannya yang memegang dagu Elana terlepas ketika lelaki itu membalikkan tubuh kembali ke arah Gabriella. "Lalu bagaimana dengan kerugiannya?" tanya Akram geram.
Pada detik itulah Gabriella menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dari sikap Akram. Dia baru merasakan, bahwa kemarahan Akram, bukannya ditujukan kepada Elios ataupun perempuan petugas kebersihan itu, tetapi malahan ditujukan secara penuh kepadanya.
Tetapi kenapa? Jelas-jelas sampah-sampah itu yang bersalah, kenapa Akram malah marah kepadanya?
Rasa percaya diri yang menyelubungi diri Gabriella tiba-tiba menguap perlahan, sementara tatapan marah Akram menciptakan rasa ngeri yang begitu pekat, bergerak merayapi tulang punggungnya, lalu menciptakan rasa ngilu di bulu kuduknya yang berdiri.
"Akram? .... apa maksudmu?" Gabriella mulai bertanya dengan suara lemah.
Akram menyipitkan mata, wajahnya terlihat semakin kejam.
"Kau sudah menampar untuk menebus kerugianmu. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk membalas kerugiannya?" tanya Akram lambat-lambat penuh ancaman.
"Kerugiannya? Siapa?" Gabriella kebingungan mencerna kalimat Akram, tetapi kemudian dia menyadari bahwa Akram sedang membicarakan perempuan petugas kebersihan itu. Gabriella langsung membelalakkan mata, sama sekali tak menyangka bahwa Akram Night akan berdiri untuk menuntutkan balas atas kerugian seorang petugas kebersihan rendahan yang tak berharga. Mulut Gabriella langsung terbuka, berusaha membela diri. "Kerugian apa yang bisa ditanggung oleh orang rendahan macam dia? Petugas kebersihan itu tidak berharga! Bahkan kalau dia mati bunuh diri pun, tidak akan ada ruginya!"
Suara tamparan yang begitu keras dan tanpa peringatan langsung membahana memenuhi ruangan. Akram sama sekali tidak menahan kekuatannya ketika menampar mulut Gabriella yang kotor. Kerasnya tamparan yang dilakukannya itu membuat tubuh Gabriella terhuyung ke belakang hingga akhirnya jatuh terduduk karena kehilangan keseimbangan.
Elana yang berada di belakang Akram langsung ternganga dengan wajah pucat pasi, sama sekali tak menyangka bahwa Akram akan mengayunkan tangannya untuk menampar Gabriella. Sementara itu di sisi lain, Elios tampak menghela napas, sudah menduga bahwa hal inilah yang akan terjadi.
Gabriella seharusnya bersyukur bahwa Akram hanya menamparnya. Sebab, melihat kadar kemarahan Akram yang luar biasa saat ini, Akram bisa berbuat yang jauh lebih kejam dan mengerikan daripada hanya sekedar menampar.
Mata Gabriella melebar, dipenuhi syok yang amat sangat. Sebelah tangannya mengusap pipinya yang terasa bengkak, panas menyengat dan sakit luar biasa. Sementara ketika jemarinya menyentuh sudut bibirnya yang nyeri tak terperi, darah hangat mengalir dari kulit bibirnya yang sobek.
"Akram...? Kau... kau tega memukul seorang perempuan?" Air mata Gabriella menetes karena rasa sakit luar biasa bercampur ketakutan Dia tahu bahwa Akram Night dikenal sebagai seorang pebisnis yang ditakuti karena sikap kejamnya yang tanpa tanding dan tak pandang bulu. Tetapi, Gabriella sama sekali tak menyangka bahwa Akram Night akan tega memperlakukan seorang perempuan sekejam itu.
Akram sendiri tampaknya tak peduli dengan air mata Gabriella. Lelaki itu berdiri menjulang di depan Gabriella yang terduduk tak berdaya di lantai. Pandangannya terarah ke bawah, dengan kilat mata dingin tanpa belas kasihan.
"Kenapa kau menekankan pada kata perempuan? Apakah karena kau seorang perempuan, maka aku harus memperlakukanmu dengan berbeda?" Akram mengibaskan tangannya perlahan seolah muak karena telah melakukan kontak kulit dengan Gabriella ketika menamparnya. "Kalian para perempuan selalu berteriak-teriak memperjuangkan emansipasi, menyerukan kesetaraan gender, meminta diperlakukan sama seperti laki-laki. Tetapi, ketika berhubungan dengan hukuman, kalian meminta diperlakukan berbeda, beralasan bahwa tubuh kalian lebih lemah, meminta diistimewakan hanya karena kalian adalah seorang perempuan." Akram menatap Gabriella dengan dingin. "Bagiku, kalian semua sama saja, perempuan, laki-laki, tak ada bedanya. Jika kalian berbuat salah dan aku harus mengayunkan tanganku, maka aku akan melakukannya tanpa pikir panjang, tanpa melihat apakah kalian perempuan atau laki-laki."
__ADS_1