Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 65 : Setia atau Pengkhianat


__ADS_3


Keterkejutan Xavier tampak nyata, dan ekspresinya menggelap ketika menerima tatapan penuh iba dari Elana. Ditatapnya Elana dengan waspada, sementara bibirnya membuka untuk bertanya.


“Apa maksud dari perkataanmu itu, Lana?” tanyanya dengan suara tenang penuh perhitungan.


Mata Elana yang lebar mengawasi ekspresi Xavier yang defensif, dan dia akhirnya menyuarakan apa yang ada dipikirannya untuk menjelaskan dengan gamblang.


“Semua tawaran yang kau ajukan kepadaku… itu seperti sebuah ujuan beruntun yang selalu kau berikan pada orang-orang yang berarti kepada Akram, bukan? Jika aku lulus yang satu, maka kau akan memberikan ujian berikutnya yang lebih sulit, terus begitu sampai kau memutuskan apakah aku memenuhi standarmu atau tidak, apakah aku layak hidup atau harus mati di tanganmu …. Tidakkah kau menyadari bahwa kau memperlakukanku hampir sama seperti kau memperlakukan musuh-musuh Akram yang mengajakmu bekerja sama? Kau menguji mereka untuk melihat seberapa jauh mereka mampu menyakiti Akram, dan setelahnya kau menghabisi mereka?” Elana mengawasi ekspresi Xavier dengan saksama, menemukan retak yang hampir tak terlihat dari topeng sempurna yang dikenakan oleh lelaki itu. “Selama ini aku berpikir bahwa kau melakukannya karena… karena kau begitu membenci Akram, tetapi sekarang… aku jadi berpikir bahwa kau melakukannya karena kau… sangat mencintai Akram.”


Keheningan langsung membentang di antara mereka. Antara kesenyapan Xavier yang tak terbaca, berpadu dengan kesabaran Elana untuk menunggu.


Semula Xavier tampak ragu. Tetapi, setelah mengambil jeda untuk menetapkan hati, Xavier mengangkat kepala, lelaki itu akhirnya memutuskan untuk melepas topengnya sepenuhnya dan menatap Elana dengan penuh kepedihan tak terperi yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat.


“Aku sudah pernah bilang bukan, Lana? Bahwa batas antara benci dengan cinta sangatlah tipis,” ujarnya kemudian layaknya sebuah pengakuan dosa.


***



***


"Tuan Akram, saya mendapatkan laporan berkala dari anak buah Anda yang berjaga di sana. Sampai dengan saat ini, Tuan Xavier mengurung dirinya di dalam kamar perawatan bersama Elana. Tetapi, menurut data infus yang masuk secara digital, proses pemberian serum berlangsung lancar sesuai program. Itu berarti, saat ini Tuan Xavier tidak melakukan apa-apa selain duduk dan berbicara dengan Nona Elana.” Elios telah datang untuk kesekian kalinya guna memberikan laporan setiap jam sesuai dengan permintaan Akram. Ditatapnya ekspresi Akram yang frustasi, lalu tanpa sadar dirinya ikut menghela napas panjang.


Dua puluh jam proses pengobatan Elana ini merupakan dua puluh jam yang menegangkan bagi orang-orang yang sedang sial harus menghabiskan waktunya di sekitar Akram Night.


Bagi Elios sendiri, selain karena mereka saat ini mempertaruhkan nyawa Elana di tangan Xavier yang bisa berbuat apa saja terhadap Elana sesuai suasana hatinya, aura mengerikan yang dikobarkan oleh tuannya Akram di dalam ruangan kerjanya ini sungguh membuat bulu kuduknya berdiri.


Akram Night membatalkan semua pertemuannya hari ini, dan memilih melakukan segala hal yang berhubungan dengan pekerjaannya melalui sambungan online dan menghindari tatap muka. Bagi Elios, itu lebih baik. Sebab, dengan keadaan Akram Night yang begitu muram dan mengerikan seperti bom yang siap meledak, akan sangat berbahaya jika ada orang yang tak tahu apa-apa kemudian sedang sial dan menjadi pemicu kemarahan Akram Night lalu membuatnya meledak tak terkendali.


Setidaknya dengan mengurung diri di ruang kerjanya seperti ini, hanya Elioslah yang harus menghadapi suasana hati buruk tuannya tersebut.


“Tidak ada penyadap yang bisa menembus rumah Xavier. Itu berarti yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menunggu sampai waktu sialan ini berakhir sambil tetap memantau laporan dari sana,” Akram melirik ke arah jam tangannya dan mengerutkan kening ketika memperhitungan perkiraan waktu untuk menjemput Elana nanti. Dia mengantar Elana ke tempat Xavier jam tujuh pagi. Itu berarti, baru kita-kira jam tiga dini hari dia bisa menjemput Elana untuk pulang kembali ke rumahnya. Padahal saat ini, jam belumlah menunjukkan pukul dua belas siang, masih sangat lama sekali sebelum dia bisa melihat Elana lagi.


Akram menyandarkan punggung ke kursi besarnya. Benaknya menghitung detik demi detik yang berlalu dan entah kenapa terasa begitu lambat menyiksa jiwanya.


“Elios. Siapkan mobil untuk menjemput Elana dari pukul dua belas malam. Aku akan menunggu di depan kediaman Xavier sampai Elana selesai.” Akram memutuskan dengan nada tenang yang langsung dipatuhi oleh Elios.


***



***


Segala perlindungan Xavier terhadap perasaannya runtuhlah sudah. Elana, dengan tatapan matanya yang polos dan tanpa dosa, ternyata telah berhasil memaksa Xavier mengakui kekalahannya dan memilih untuk bersikap jujur.


Tidak pernah sekalipun Xavier membiarkan orang lain mengetahui perasaan terdalamnya. Mungkin hanya satu orang yang selama ini tahu, dan orang itu sudah meninggal dunia. Satu-satunya perempuan yang bisa membuat Xavier mencintainya dengan tulus. Orang itu adalah ibu angkatnya dan ibu kandung Akram, Marlene Night.

__ADS_1


Sepanjang masa kecil Xavier, entah karena dipenuhi rasa bersalah, entah karena dia benar-benar menyayangi Xavier, Marlene menggunakan seluruh waktunya untuk mendukung Xavier mengatasi trauma dan mendorongnya untuk mencapai kesembuhan mental tanpa putus asa. Marlene tidak pernah absen mendamping Xavier saat sesi bertemu dengan psikiater guna mengatasi trauma psikisnya. Marlene jugalah yang paling tahu perasaan terdalam Xavier yang disembunyikan di balik sikap jahatnya, betapa sayangnya Xavier pada Akram Night, adik angkatnya itu.


"Aku sangat menyayangi adikku itu hingga aku rela menjadi musuhnya hanya untuk mengidentifikasi musuh-musuh Akram dan melenyapkan mereka. Bahkan, siapapun yang berusaha melukai adikku, akan kuhabisi tanpa ampun meskipun dia adalah orang dekatku ataupun anak buahku sendiri,” Xavier memasang senyum penuh ironi. “Menyedihkan, bukan? Sebagai balasan atas rasa cintaku, adikku itu membenciku setengah mati dan ingin membunuhku dengan tangannya sendiri.”


Elana menatap Xavier dengan sedih. Dia ingin memahami perasaan Xavier, tetapi lelaki di depannya ini sungguh begitu rumit untuk dipahami. Bahkan cara Xavier mencintai sendiri seolah berbanding terbalik dengan akal sehat.


Sebab, manusia mana yang caranya mencintai adalah dengan menempatkan dirinya menjadi sosok musuh bagi orang yang dicintai?


“Kau bilang mencintai Akram Night. Tetapi, kenapa kau selalu membunuh dan merenggut benda-benda ataupun… ataupun orang yang disayanginya? Bahkan…. Kau menggantung dan memutilasi hewan-hewan peliharaan Akram…” Elana mengungkapkan keraguannya, sekali lagi berusaha memastikan apa yang masih mengganjal di dalam jiwanya.


Xavier masih terlihat rapuh, meskipun begitu, tatapan matanya ketika membicarakan tentang pembunuhan yang dilakukannya, tampak berkilat mengerikan bagaikan orang gila yang haus darah.


“Mereka semua kurusak dan kuhabisi karena mereka tak layak mendapatkan cinta Akram,” jawabnya perlahan, dengan nada berbisik yang mengerikan.


“Tidak layak?” Elana masih belum mendapatkan jawaban gamblang, karena itulah dia berusaha menggali sekali lagi.Dan Xavier memberikan apa yang diinginkannya, sebuah penjelasan yang lengkap dan terperinci, yang bisa membuat Elana memahami motif Xavier yang sebenarnya di balik sikap jahatnya yang senang memprovokasi Akram.


“Kau tahu, setelah peristiwa penculikan itu…,” sikap tegar Xavier tampak sedikit merapuh ketika dia memaksa dirinya untuk membahas mengenai penculikan yang menimpanya di masa lampau. “Setelah aku sembuh dari traumaku… aku mencari persahabatan dan kasih sayang dari adik lelakiku. Dan kau tahu apa yang kudapatkan? Dia bahkan tidak peduli kepadaku, Akram malah sibuk bermain-main sendiri dan sama sekali tidak memperhatikan diriku…”


Elana mengerutkan kening melihat sikap kekanak-kanakan Xavier yang terkuak muncul di balik sikap sempurnanya tersebut. Benaknya berhitung cepat sebelum kemudian dia mengeluarkan protes.


“Setelah peristiwa penculikanmu….Akram baru berusia empat tahun ketika itu, dia masih anak-anak… jadi menurutku, Akram mungkin tidak paham kalau….” Elana menelan ludah, tidak menyangka bahwa dia akan duduk di sini, berhadapan dengan Xavier dan memberikan pembelaan untuk Akram.


“Ya, aku tahu, Akram masih anak-anak. Tapi kau jangan lupa bahwa aku juga masih anak-anak waktu itu. Pikiran kanak-kanakku yang dibebani trauma psikis juga tak bisa paham, kenapa adikku tak mau bermain denganku dan malahan sibuk dengan mainan-maianannya….”


“Karena itulah kau menghancurkan mainan-mainan Akram?” Elan menyimpulkan perlahan tanpa mendapatkan sangkalan.


“Kau membunuh hewan tak berdosa hanya karena cemburu?” Elana berseru terkejut, tiba-tiba rasa ngeri merayapinya.


Dibutuhkan kekejian tak terperi untuk melakukan pembunuhan. Bahkan untuk membunuh hewan berukuran kecil sekalipun, membutuhkan keberanian yang cukup besar. Dan Xavier melakukan pembunuhan -bukan hanya pembunuhan biasa tetapi penyiksaan terhadap hewan-hewan tersebut- pada saat usianya masih remaja.


Entah apa yang membuat Xavier menjadi begitu kejam, mungkin sesuai kata Akram bahwa penculikandan penyiksaan itu telah mengubah mental Xavier menjadi kejam, mungkin juga Xavier sebenarnya telah memiliki bibit-bibit kekejaman di dalam jiwanya, hanya menunggu pemicu untuk membangkitkannya.


“Bukan cemburu. Lebih tepatnya, aku mulai melakukan seleksi pada segala sesuatu yang menarik perhatian Akram. Aku hanya mengkategorikan mereka pada dua hal. Setia pada Akram, atau pengkhianat. Yang setia maka akan kubiarkan hidup dan yang tidak setia layak mati,” mata Xavier kembali menyipit oleh kilat kegilaan yang kental. “Kucing liar itu, yang diselamatkan oleh Akram dengan penuh kasih, telah mencakar adikku hingga membuatnya demam selama dua hari dua malam karena infeksi. Aku langsung menghabisi kucing itu sebelum makhluk jelek itu menyakiti adikku lagi. Dan anjing itu…. Orang-orang bilang bahwa anjing adalah makhluk yang setia pada majikannya, tetapi anjing kecil yang bodoh itu malah menerima makanan dari tanganku, mengikutiku sepanjang waktu, bahkan meminta tidur di atas ranjangku. Dia lupa yang mana majikannya hanya dengan usapan kepala dan sedikit biskuit dariku. Makhluk menjijikkan seperti itu memang tak pantas hidup di dunia ini….”


Xavier mengangkat kepalanya sehingga matanya kembali bertemu dengan mata Elana. Seringai menakutkan muncul terulas di bibirnya.


“Begitupun dengan wanita-wanita milik Akram yang kuhancurkan….kau pasti masih bertanya-tanya tentang wanita kekasih pertama Akram, Anastasia, bukan? Kau ingin tahu kenapa aku membunuhnya,” dengan tepat Xavier berhasil menebak apa yang ada di dalam benak Elana.


Elana tidak menyawab, dia hanya mengangguk tipis dan berusaha menahan dadanya yang berdebar karena rasa takut yang merayapi. Sungguh, bercakap-cakap dengan Xavier yang membicarakan pembunuhan seperti mengobrolkan cuaca, mau tak mau membuat perasaannya was-was tak terperi.


“Anastasia,” senyum jahat muncul di bibir Xavier ketika matanya sedikit terpejam dan mengenang. “Wanita jalang kurang ajar yang berpikir bahwa dirinya bisa mendapatkan semua lelaki yang dia mau, hanya karena dia telah membuat Akram Night bertekuk lutut di kakinya.” Sambung Xavier kemudian dengan nada jijik yang tak disembunyikan.Xavier melipat tangannya di dada, menyelonjorkan kakinya yang panjang dengan santai ketika dia mulai membuka mulutnya untuk mengungkap masa lalu.


“Ketika itu Akram pulang dari asrama sekolah yang kesemuanya berisi murid laki-laki, hingga membuatnya tak memiliki pengalaman terhadap perempuan. Penampilan Anastasia yang begitu cantik langsung memikatnya tanpa pertahanan. Orang tua Anastasia sendiri, yang rumahnya bersebelahan dengan kami dan bersahabat dengan orang tua kami, sengaja meminta Anastasia sering menginap di rumah kami dengan berbagai alasan. Aku tahu tujuan mereka sebenarnya adalah menjadikan Anastasia umpan untuk menjerat Akram, pewaris utama kekayaan keluarga Night yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang sangat besar. Tentu saja Anastasia berhasil melaksanakan tugasnya. Adikku yang polos itu sama sekali tak punya pengalaman tentang cinta dan langsung jatuh dalam jerat perempuan jalang itu.” Xavier menatap ke arah Elana dengan senyum manisnya yang mengerikan. “Anastasia dengan segera mendapatkan tempat istimewa dan menjadi kekasih Akram. Mereka mengikat janji layaknya pasangan yang saling mencintai dan akan setia sampai mati,”


Elana mengawasi ekspresi Xavier dan menyadari bahwa sampai sekarang, masih tersimpan jelas kemarahan Xavier pada siapapun yang pernah mengkhianati Akram di masa lalu. Untuk saat ini, Elana sama sekali tidak membuka mulutnya dan memilih mendengarkan dengan saksama, menanti cahaya terang yang akan mengungkap semua kebingungan rumit dari masa lalu dua saudara yang sangat pelik ini.


“Hanya diperlukan satu rayuan untuk membujuk Anastasia jatuh ke dalam pelukanku. Bahkan saat itu aku tidak merayu dengan sepenuh hati, tetapi perempuan itu langsung jatuh di kakiku,” Xavier menunjuk wajahnya sendiri yang teramat mempesona dan tersenyum masam ke arah Elana. “Wajah ini, kau tahu, wajah ini adalah racun, terutama untuk kaum wanita berhati lemah. Kurasa hanya kau satu-satunya wanita yang kebal terhadapnya.”

__ADS_1


Kata-kata Xavier membuat Elana menipiskan bibir untuk menahan senyum. Dia teringat kalimat Akram bahwa semakin mempesona wajah seseorang, maka semakin beracunlah dia. Tidak disangkanya, Xavier malah mengakui sendiri hal itu dengan sikap santai.


“Jadi, Anastasia tidak lolos ujianmu?” Elana bertanya perlahan, dengan sikap berhati-hati.


Xavier beranjak dari tempatnya duduk dan berdiri. Lelaki itu baru berhenti ketika telah mencapai pinggir ranjang, dekat dengan Elana.


Tanpa sadar, Elana beringsut sedikit menjauh, tubuhnya refleks berusaha menghindari postur tubuh Xavier yang mengintimidasi.Tetapi, Xavier tidak bertindak lebih jauh. Lelaki itu hanya berdiri di pinggir ranjang dan mengawasi Elana dengan mata tajamnya yang penuh kilatan tak terbaca.


“Bukan hanya tidak lulus ujianku. Tetapi, Anastasia telah gagal total,” Xavier menyipitkan mata. “Aku tidak pernah mengundangnya ke ranjangku. Tetapi pada suatu malam, dia datang dan menyerahkan dirinya dengan harga murah. Ketika aku mencicipinya, dia bahkan sudah tidak perawan, padahal aku tahu persis bahwa Akram belum menidurinya. Dan yang lebih menjijikkan lagi, Anastasia seolah ketagihan akan kenikmatan pengkhianatan di belakang Akram tanpa ketahuan, merasa senang karena telah berhasil menjerat dua bersaudara dalam pesonanya. Perempuan jalang itu selalu menawarkan dirinya untuk berkali-kali kutiduri setelahnya, melemparkan dirinya yang murahan di belakang punggung Akram yang tak tahu apa-apa,”


Elana ternganga, sama sekali tidak menyangka akan menerima informasi seperti itu dari mulut Xavier. Benaknya ragu, takut kalau apa yang dikatakan Xavier kepadanya ini hanyalah bentuk lain dari manipulasi lelaki itu terhadapnya.


Mungkin saja, bukan? Bisa saja Xavier sengaja membuat dirinya terlihat benar di mata Elana untuk menumbuhkan empati Elana terhadapnya dan membuat pertahanan diri Elana melemah?


Tetapi, ekspresi Xavier begitu gelap ketika mengenang. Rasa jijik dan kebencian di wajahnya begitu nyata seolah-olah benar-benar diluapkan dari dasar jiwanya. Jika saat ini Xavier sedang berakting, berarti lelaki itu benar-benar aktor yang sangat ahli yang layak mendapatkan penghargaan atas kemampuan beraktingnya.


“Meskipun…. Meskipun Anastasia berbuat salah…. Tapi kau… kau tidak seharusnya membunuhnya,” Elana berhasil mengeluarkan kalimat mencela tersebut meski seungguhnya hatinya dipenuhi oleh rasa takut.


Mata Xavier bersinar tajam sedikit menakutkan, lalu tiba-tiba saja, sebelum Elana sempat menghindar, Xavier membungkuk ke atas ranjang, setengah menindih Elana. Tubuh Elana menegang kaku dipenuhi rasa takut, matanya membelalak sementara tubuhnya melenting, siap meloncat, meronta atau memukul jika Xavier berbuat kurang ajar.


Tetapi seperti yang sebelumnya, Xavier tidak berbuat apa-apa selain menindih Elana dan terus berbicara.


“Aku harus melenyapkan Anastasia, karena aku melihat bahwa Akram telah membeli cincin, merencanakan lamaran kejutan dan upacara pernikahan. Aku tidak mungkin membiarkan Akram terjerumus dalam pernikahan dengan jalang itu, bukan?“ Xavier menjawab dengan pertanyaan, tetapi Elana tak mampu memberi jawaban.


Ketika lelaki itu melanjutkan perkataannya lagi, ekspresinya tampak seperti menanggung beban yang sangat berat. “Kau mungkin menganggapku orang gila atau aneh, tetapi begitulah caraku menyelesaikan setiap permasalahan. Kita tidak boleh mempercayai siapapun, kecuali orang-orang itu telah lulus standar yang kutetapkan. Seperti yang sudah kukatakan tadi, hanya ada dua orang di standarku. Yang satu orang setia dan yang kedua pengkhianat. Para pengkhianat ini, mereka harus dilenyapkan sebelum bertindak semakin jauh dan menimbulkan kerugian besar.”


Kedua lengan Xavier memerangkap Elana di sisi kiri dan kanan kepalanya, sementara matanya berkilat oleh sesuatu yang begitu mirip dengan emosi yang disebut dengan kepedihan.


“Ayahku orang baik dan selalu memikirkan orang lain. Dia bahkan mengorbankanku demi memikirkan puluhan ribu nasib karyawan yang bergantung kepadanya. Tetapi, orang sebaik itu, bahkan masih ada yang ingin menyakitinya. Orang yang menculikku dan berusaha menusuk ayahku dari belakang, mereka adalah orang-orang suruhan dari orang dekat ayahku sendiri. Mereka berkedok sebagai sahabat ayahku, tetapi di belakang mereka sibuk mencari cara untuk menjatuhkan ayahku, mencoba menghancurkan ayahku dengan penuh kedengkian. Ketika orang-orang jahat ini mengetahui bahwa penculik yang mereka bayar telah salah sasaran dan menculik aku bukannya Akram, mereka lepas tangan dan tak mau ikut campur. Hanya membayar setengah lalu memutuskan hubungan, tak mau bertanggung jawab atas kelangsungan nasibku yang sudah terlanjur diculik dan diolak untuk ditebus. Itulah yang membuat para penjahat yang mereka sewa menjadi marah besar dan melampiaskan kemarahan mereka kepadaku… aku disiksa dengan penuh kekejaman tak terperi yang tak seharusnya dialami oleh anak berusia delapan tahun.”


Jemari Xavier mengusap pipi Elana lembut ketika suaranya sedikit bergetar penuh trauma masa lalu. “Jika kau… jika kau mengalami sepersepuluh saja yang kualami saat itu, kau mungkin lebih memilih mati saja. Tetapi aku… aku bertahan untuk hidup. Di tiap malam yang menyiksa saat mulutku penuh darah yang mengucur dari gigi-gigiku yang tanggal karena dipukuli, di tiap malam membekukan setiap lenganku yang kurus dan penuh lebam menggigil untuk memeluk perutku yang perih menggigit karena kelaparan, di saat mataku yang bengkak karena ditinju sudah tak mampu lagi mengeluarkan air mata, dan di saat… di saat…. Para penjahat itu membuka celanaku, melecehkanku hingga kesakitan yang kualami terasa layaknya dimutilasi hidup-hidup…. Aku tetap bertahan…. Aku tetap berjuang untuk hidup, aku tak mau mati…. Kau tahu kenapa?” kali ini getaran di suara Xavier sangat nyata


Ketika Elana mendongakkan kepala takut-takut untuk melihat wajah lelaki itu, keterkejutan bercampur rasa pedih langsung meliputi hati Elana ketika dia melihat mata Xavier sudah basah oleh air mata, menyentuh hati Elana dalam denyut penuh empati yang dalam.


“Kau tahu kenapa aku tetap bertahan di titik paling menyakitkan dimana seharusnya aku mati saja?” suara Xavier terisak bercampur dengan tangisannya.  “Karena aku ingin pulang. Karena aku ingin kembali ke pelukan ayahku, ke pelukan ibuku dan juga ingin memeluk lagi adikku. Karena aku merasa masih punya harapan, masih punya keluarga. Sebab itulah ketika mereka membuangku untuk mati, aku menggunakan segenap tenagaku untuk bertahan hidup,” tubuh Xavier mulai berguncang ketika dia bergerak untuk memeluk Elana.


“Aku tahu kenapa aku dan Akram tertarik kepadamu. Kau… sikapmu, kepolosanmu, kebaikan hatimu yang tanpa prasangka, semua itu mirip dengan Marlene ibu kami…. Setelah… setelah terapi yang menyiksa itu, Marlene selalu ada untuk memelukku, dia selalu ada untuk membuatku kuat…. Kumohon, Lana…. Kumohon peluklah aku….”


Tanpa sadar, Elana merasakan matanya ikut basah oleh air mata. Kepedihan Xavier, seluruh siksaan mengerikan yang dialaminya, semuanya tercermin dalam suara gemetar dan isak tangis yang membanjir tanpa sandiwara.


Tangan Elana bergerak dalam usahanya untuk meringankan beban Xavier, lalu memeluk lelaki itu dan membiarkannya meluapkan emosi, menangis di dalam pelukannya.


***



***

__ADS_1



__ADS_2