Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 43 : Pertanyaan


__ADS_3

Sabina sudah memeriksa semua area diam-diam dengan penuh pengalaman. Dia lalu menemukan bahwa ruangan tempat Aaron dikurung hanya dijaga oleh satu orang.


Sepertinya, terjadi insiden yang melibatkan helikopter di atas tadi sehingga menyedot seluruh penjaga ke area atas dan membuat mereka semua lengah serta meninggalkan tahanan di bawah sini.


Ada dua pilihan, Sabina membawa gas tidur bersamanya. Dia bisa memasang masker khusus dan menyebarkan gas tidur itu di seluruh area hingga membius seluruh penjaga dan dia bisa keluar dari tempat ini dengan damai. Mungkin ada satu atau dua penjaga yang tak terimbas oleh gas tidur itu, tetapi itu bukan masalah bagi Sabina. Sebab kalau hanya satu dua orang, Sabina yakin bahwa dia masih bisa bertarung untuk melumpuhkan mereka.


Tetapi, tentu saja tak ada metode yang sempurna. Dengan menyebarkan gas tidur, itu berarti Aaron juga akan terlumpuhkan. Sabina hanya membawa satu masker khusus bersamanya, karena ukuran masker itu akan membuatnya tak bisa bergerak dengan leluasa kalau dia hanya membawa satu. Jika Aaron ikut-ikutan lumpuh dan terbius, itu berarti dia harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyeret dan membawa tubuh Aaron yang lunglai keluar dari tempat ini.


Ada mobil barang kamuflase yang disewa oleh Sabina dan diparkir di bagian paling ujung kompleks gudang raksasa tersebut, mereka bisa melarikan diri menggunakan kendaraan yang telah siap itu. Tetapi, menyeret tubuh Aaron yang cukup berat kesana, pasti memerlukan perjuangan yang menguras staminanya.


Bisa-bisa, malah Sabina yang kewalahan nantinya kalau memaksakan diri.


Cara yang kedua, adalah memanfaatkan situasi dimana pertahanan musuh sedang lemah, untuk menyelamatkan Aaron selagi dia bisa.


Sabina menimbang-nimbang. Tidak ada banyak waktu. Para penjaga sedang sibuk di atas untuk urusan yang berhubungan dengan helikopter itu, mereka semua bahkan meninggalkan pos penjagaan mereka dan membiarkannya kosong, hanya menempatkan satu orang untuk menjaga pintu ruangan yang Sabina yakin merupakan tempat Aaron dikurung.


Kalau hanya satu orang, tentunya mudah bagi Sabina.


Tanpa pikir panjang, perempuan itu langsung bergerak, merangsek dan menyerang ke arah satu penjaga malang yang kebetulan sedang sial berjaga di sana, dia menggunakan tali kuat yang menjadi salah satu senjara andalannya dan langsung menjerat leher penjaga yang tak siap itu dari belakang secara tiba-tiba, tidak memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk terkejut apalagi melawan.


Hanya perlu beberapa saat itu penjaga itu meronta-ronta berusaha melawan, tetapi ikatan kuat tali di lehernya yang memutus jalur pernapasannya sangatlah kuat, membokir udara ke paru-parunya dan membuat dadanya seolah meledak terbakar hebat. Tak lama kemudian, penjaga itu dilumpuhkan, tercekik dengan mata melotot, lalu tubuhnya jatuh di lantai seketika.


Sabina langsung mendorong pintu yang berada di belakang penjaga itu, merasa beruntung karena pintu itu ternyata tak dikunci. Segera dia membukanya lebar, lalu meloncat masuk ke dalam.


Matanya seketika menemukan sosok Aron yang tengah berbaring tengkurap dan keningnya langsung berkerut dalam.


Aaron tampak tak berdaya dalam kondisi babak belur seperti habis dipukuli. Sementara itu, darah segar tampak membasahi lantai dalam jumlah banyak yang bisa membuat kening manusia manapun berkerut ngeri karenanya.


Seolah-olah, telah terjadi pembantaian manusia di dalam sini sebelumnya….


Beberapa saat lamanya, Sabina berpikir bahwa kemungkinan besar, dia harus menggunakan gas tidur itu jika saat ini Aaron tidak dalam kondisi yang siap untuk mengikuti langkahnya melarikan diri.


Tetapi, Sabina memutuskan untuk bertaruh. Dia mendekat, lalu berlutut dan mengguncang pundak Aaron yang lunglai.


“Hei, kau bisa bangun?” panggil Sabina dengan suara keras, mencoba mengusik Aaron dari ketidaksadarannya.


Ternyata keberuntungan masih berpihak pada Sabina. Aaron mengerang dari mulutnya yang lebam berlumuran darah karena habis dipukuli. Tetapi setidaknya, mata lelaki itu terbuka dan berhasil mendapatkan kembali kesadarannya.


Butuh beberapa lama bagi Aaron untuk mengenali dan menyadari kehadiran Sabina seutuhnya, dan itu membuatnya begitu terperanjat hingga langsung terloncat dari posisinya tengkurap sebelum kemudian terduduk di lantai dengan mulut ternganga lebar.


“Sabina?” seru Aaron terkejut, dipenuhi ketidakpercayaan.


Sabina menipiskan bibirnya, sadar kalau semakin banyak waktu yang mereka buang di sini untuk berbicara, maka akan semakin besar resiko mereka tertangkap.


“Bicara nanti. Kau babak belur, tetapi sepertinya kau masih bisa bangun.” Sabina bangkit dan berkacak pinggang, bibirnya tersenyum puas ketika Aaron menganggukkan kepala, lalu dengan penuh tekad, meskipun rasa sakit luar biasa mendera sekujur tubuhnya, Aaron berhasil bangun dan berdiri.


“Bagus. Paksakan dirimu. Ikuti aku.”


Dengan sigap, Sabina membalikkan badan kembali menuju pintu, memimpin jalan bagi Aaron untuk keluar dan melepaskan diri dari tawanan Xavier.


***


Langkah Sera seolah melayang dan pikirannya menerawang ketika dia masuk ke dalam mobil yang langsung melaju meninggalkan rumah Xavier untuk menuju ke rumah sakit.


Mobil itu melajut cepat, menembus keramaian jalan dan sedikit meliuk ketika melakukan manuver untuk melewati kemacetan di beberapa titik perjalanan. Tetapi, Sera sendiri bahkan tak memperhatikan pemandangan di luar jendelanya.


Benaknya masih terngiang akan perkataan Elana tadi.


Xavier terluka dan kritis…


Xavier yang ada di dalam ingatan Sera adalah seorang lelaki kuat dan tangguh. Lelaki itu memancarkan aura mengerikan yang membuat siapapun takut untuk mendekat. Karena itulah, Sera sama sekali tak pernah menyangka bahwa Xavier akan bisa dilukai, apalagi sampai terluka parah ataupun jatuh dalam kondisi kritis.


Lelaki itu bilang bahwa dia memiliki banyak musuh yang ingin melenyapkannya. Apakah salah satu dari musuh itulah yang melukainya? Siapa? Bagaimana caranya?


Pertanyaan berkecamuk di dalam benak Sera, dan entah kenapa jantungnya berdegup kencang ketika membayangkan kemungkinan Xavier tak tertolong dari luka yang dideritanya.


Kalau sudah begitu… bagaimana dengan dirinya?


Tangan Sera tanpa sadar bergerak untuk menyentuh perutnya tanpa sadar.


Bagaimana jika ternyata Xavier sudah berhasil menanamkan benihnya ke dalam tubuhnya?

__ADS_1


Sera sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan berada pada titik dimana dia kebingungan saat Xavier celaka. Padahal dulu tujuan utamanya adalah membunuh dan melenyapkan Xavier dari dunia ini….


***


“Apa?”


Suara Akram menggelegar, dipenuhi kemarahan ketika lelaki itu menerima kabar dari Elios yang datang menghadap kepadanya setelah menerima kabar genting itu.


Saat ini, Akram sudah tiba di rumah sakit tempat Xavier berada. Begitu mendapat kabar bahwa Xavier terluka, Akram langsung menghambur ke rumah sakit untuk melihat kondisi Xavier. Tadi, Elana sempat ingin ikut ke rumah sakit juga, tetapi, istrinya itu tertahan oleh Zac yang terus menangis dengan tubuh sedikit demam karena tumbuh gigi. Situasi itu membuat Elana tak bisa meninggalkan Zac karena anak mereka terus menerus menempel kepada ibunya dan meminta susu dalam kondisi tak enak badan seperti saat ini.


Karena itulah, Akram akhirnya datang sendiri ke rumah sakit tanpa membawa Elana bersamanya sambil berjanji kepada Elana bahwa dia akan segera memberi kabar begitu mendapatkan informasi dari Dokter Nathan mengenai kondisi Xavier.


Dokter Nathan membawa harapan baru bagi mereka. Lelaki itu menjelaskan bahwa meskipun kondisi Xavier dengan anemia aplastiknya membuatnya mengalami pendarahan lebih parah daripada orang biasa, tetapi tim medis berhasil memberikan penanganan terbaik untuk mempertahankan kehidupan Xavier. Nathan juga bilang setelah mendapatkan transfusi darah, kondisi Xavier sudah berangsur stabil untuk saat ini.


Sekarang, setelah menerima kabar yang melegakan hati itu, Akram malah mendapatkan kabar tak menyenangkan menyangkut Aaron, penusuk Xavier yang seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya.


“Sabina, Anak buah Dimitri yang sangat ahli datang dan membawa kabur Aaron. Saat ini saya telah mengkoordinasikan tim untuk melacak keberadaan mereka. Sayangnya, perempuan itu sangat tangguh dan licik, serta berpengalaman dalam melakukan pelarian di area konflik, karena itulah dia sangat pandai menutup jejaknya dan membuat kami kesulitan.” Elios menjelaskan dengan cepat dan efisien, memberikan informasi yang diperlukan oleh Akram.


“Apakah menurutmu itu atas instruksi Dimitri? Kenapa dia berani menentang Xavier, bukankah Xavier sudah meracuninya sehingga dia tak berkutik dan tak berani berbuat macam-macam?” Akram memberondongkan pertanyaannya dengan cepat.


Elios menganggelengkan kepala sedikit. “Saya sudah mengatur komunikasi dengan pihak Dimitri Kazak, tetapi dia mengatakan bahwa dirinya tidak ada hubungannya dengan ini semua. Dimitri bilang, anak buahnya yang melarikan Aaron itu adalah seorang pembelot yang bertindak bukan atas nama Dimitri dan berada di luar tanggung jawab lelaki itu.”


Bibir Akram menipis sinis. “Dasas pengecut,” desisnya geram.


Matanya menajam ketika otaknya berpikir dan membuat rencana sebelum kemudian Akram kembali mengeluarkan perintah tegas kepada Elios.


“Lakukan pemeriksaan besar-besaran. Sebarkan pelacak kita yang paling ahli. Perempuan itu, anak buah Dimitri, biarpun dia memiliki reputasi hebat, tetapi saat ini dia tidak familiar dengan negara ini dan itu bisa menjadi kelemahannya. Aku ingin dalam dua puluh empat jam, kita bisa menemukan persembunyian perempuan itu dan juga Aaron.”*


**


Pintu kabin penumpang mobil itu tiba-tiba terbuka, membuat Sera terkesiap karena terkejut.


Karena begitu terlarut dalam pikirannya Sendiri, Sera sampai tak menyadari bahwa mobil sudah berhenti sejak lama di lobby rumah sakit.


“Mari Nyonya, saya akan mengantar Anda ke atas.” Salah seorang bodyguard Xavier membungkuk sopan ke arah Sera dan mempersilahkannya turun dari mobil.


Mau tak mau, Sera melangkah turun dari mobil dan mengikuti langkah Sang bodyguard yang memimpinnya menaiki lift hingga sampai ke lantai atas bangunan rumah sakit besar ini.


Hampir tak ada orang lain yang berpapasan dengan mereka di sepanjang lorong panjang itu, hanya ada beberapa perawat yang mengangguk formal ke arah Sera dan tak ada pasien lainnya di sana. Hal itu membuat Sera yakin bahwa satu lantai ruangan ini, memang hanya diperuntukkan untuk satu pasien VVIP saja.


Mereka lalu melangkah ke sebuah pintu besar yang dijaga oleh beberapa bodyguard berpakaian hitam di depannya. Begitu melihat Sera, salah seorang bodyguard itu membukakan pintu untuknya.


“Silahkan, Nyonya.” Bodyguard yang mengantar Sera itu dengan sopan mempersilahkan Sera memasuki ruangan, sementara bodyguard itu sendiri ternyata tidak ikut masuk ke dalam ruangan.


Sera menelan ludah, merasakan sedikit takut seolah dibawa masuk ke area tak dikenal yang menyeramkan, tapi tak urung dia melangkah masuk juga ke dalam. Bodyguard itu langsung menutup pintu di belakangnya, seolah menutup jalan Sera untuk membalikkan tubuh dan melarikan diri.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung mendongakkan kepala ketika menyadari kehadiran Sera. Ada sosok Dokter Nathan yang beberapa kali berurusan dengan Sera selama dirawat di rumah sakit ini. Ada juga sosok Akram Night dan Elios, asistennya yang setia. Sera memutar pandangan ke sekeliling dan merasa canggung ketika tak menemukan sosok Elana di dalam ruangan ini. Malahan sekarang, semua mata tampak memandangnya tajam, apalagi sosok Akram Night. Lelaki itu memasang ekspresi muram dan memberikan tatapan menusuk kepada Sera seolah-olah Sera adalah seorang kriminal yang harus dilenyapkan.


Tanpa menatapnya bermusuhan saja, Akram Night sudah begitu menakutkan dengan segala reputasi yang dibawanya, apalagi sekarang. Sera merasakan bulu kuduknya berdiri, seperti alarm peringatan yang bergaung nyata di dalam kepalanya, membuatnya ingin lari terbirit-birit ketakutan dengan ekor dijepit di antara kedua kakinya.


Tadinya, Sera berpikir jika ada Elana, setidaknya ada perempuan di sini, jadi dia tidak sendirian layaknya seekor tikus yang terjebak di antara para predator mengerikan yang berbahaya yang kesemuanya sedang melabuhkan pandangan ke arahnya.


“Silahkan duduk, Sera kami sedang membahas mengenai kondisi Xavier. Mungkin kau mau bergabung.” Dengan ramah, Dokter Nathan memecahkan suasana canggung itu dan langsung memberi isyarat bagi Sera untuk duduk di sofa sebelahnya.


Sera menghela napas lega ketika Akram Night kemudian mengalihkan tatapan tajamnya dari Sera. Dia berjalan dengan sedikit canggung, lalu duduk di sofa samping Nathan dan menundukkan kepala, menjalinkan rangkaian jari jemarinya dengan gugup, memutuskan untuk diam saja dan mendengarkan.


“Jadi yang bisa kita lakukan sekarang hanya menunggu?” Akram seolah mengabaikan kehadiran Sera dan kembali memfokuskan perhatiannya kepada Dokter Nathan yang kembali menatap hasil laporan pemeriksaannya.


“Aku melakukan prosedur yang hampir sama seperti ketika Xavier dilukai oleh Maya. Hanya saja waktu dulu, Xavier terluka di rumah sakit sehingga bisa langsung ditangani. Untuk yang kali ini, dia harus menunggu pertolongan helikopter dan bertahan dengan darah yang terkuras hingga sampai di rumah sakit dan mendapatkan penanganan. Jadi, kondisi Xavier lebih buruk daripada yang sebelumnya.” Dokter Nathan menghela napas panjang. “Aku sudah melakukan transfusi darah untuk meminimalisir kerusakan organ. Luka Xavier juga membutuhkan penanganan khusus karena kekurangan trombosit yang dideritanya, membuat pendarahannya terus terbuka, tidak menutup dan tidak mengalami pembekuan darah.” Nathan menghela napas panjang. “Sekarang, semuanya bergantung pada niat Xavier untuk bertahan hidup. Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu.”


Sera mendengarkan apa yang diucapkan oleh Nathan dengan saksama, dan batinnya bergolak. Tadinya, dia hendak berdiam diri saja dan menjadi pendengar, tetapi saat ini, dia tak bisa menahan mulutnya untuk bertanya.


“Xavier… terluka karena apa? Siapa pelakunya? Bagaimana bisa?”


Tiga pertanyaan yang sejak tadi bergaung di dalam kepalanya langsung terlontar begitu saja dari bibirnya, membuat tiga pasang mata lelaki di dalam ruangan itu langsung menghujam ke arahnya.


“Kekasihmu, yang berada di bawah pengawasan Xavier, menyerang dan menusuk dada Xavier dengan pisau.”


Suara Akram yang dalam dan tenang tiba-tiba menyahuti, menguarkan aroma mengerikan yang langsung memenuhi udara di sekeliling mereka.


Sera sendiri, langsung dirayapi ketakutan ketika mendengarkan perkataan Akram itu. Akram dan Xavier adalah saudara angkat. Mungkin karena tak ada hubungan darah itulah, keduanya sangat berkebalikan satu sama lain. Xavier selalu berucap dengan tenang seolah tanpa beban, meskipun lelaki itu membawa aura menyeramkan yang khas, tetapi pembawaannya berbicara selalu santai, seperti penjahat licik yang membuat musuhnya lengah dengan sikapnya yang berbunga-bunga, lalu tiba-tiba menyerang di titik paling fatal tanpa peringatan. Sementara Akram… lelaki ini langsung menebarkan aura mengancam penuh intimidasi yang gelap di setiap perkatannya.

__ADS_1


Rasa takutlah yang membuat kalimat Akram tersebut terlambat tercerna oleh otak Sera. Dia mengerutkan kening, memprotes cepat setelah berhasil menelaah apa yang dikatakan oleh Akram sebelumnya.


“Kekasihku? T-tapi aku tidak punya….”


“Aaron Dawn.” Akram menyela dengan dingin. “Kekasihmu, bukan? Atau setidaknya dia adalah cintamu yang bertepuk sebelah tangan?” sindir Akram sinis.


Sera membeliak. “Aaron Dawn bukan kekasihku, dia lebih seperti….”


Suara Sera terhenti ketika Akram mengangkat tangannya, memberi isyarat supaya Sera tak melanjutkan perkataannya.


Mata Akram Night begitu tajam ketika menatap Sera dengan pandangan menyembilu.


“Serafina Moon. Aku tidak peduli, siapa Aaron Dawn bagimu. Sesungguhnya, aku juga tak peduli kepadamu. Sejak awal, aku sudah menentang ketika Xavier memilih untuk memasukkanmu ke dalam kehidupannya dan menjadikanmu solusi untuk menyelamatkan nyawanya. Aku sudah tahu bahwa kau hanya akan membawakan masalah demi masalah untuknya. Kau tahu, jika keputusan bergantung kepadaku, aku akan lebih memilih mengeliminasi semua sumber masalah sesegera mungkin.” Akram menyipitkan mata dan menatap Sera dengan pandangan mengancam. Lalu, tiba-tiba mata Akram tertuju pada perut Sera sebelum kemudian kembali ke mata Sera lagi. “Tetapi, untuk saat ini, aku akan menoleransimu, karena besar kemungkinan kau sedang mengandung anak Xavier yang tentu akan berguna untuk menyelamatkan nyawanya. Hanya sebesar itulah nilai nyawamu di mataku.”


Akram secara terang-terangan menilai Sera dengan sangat merendahkan. Lelaki itu bahkan tak memberikan kesempatan bagi Sera untuk menyanggah, dan langsung berdiri dari tempatnya duduk.


“Mengenai Aaron Dawn. Akulah sekarang yang akan memburunya,” tambahnya dengan nada penuh tekad, lalu menoleh ke arah Dokter Nathan. “Aku ingin dikabari perihal perkembangan kondisi Xavier sampai yang sekecil-kecilnya,” perintahnya tegas sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan sambil diikuti oleh Elios yang setia, tanpa menoleh lagi.


***


Begitu Akram meninggalkan ruangan, Sera langsung mendongakkan kepala, bertanya kepada Dokter Nathan mengenai perkataan Akram yang paling mengusik pikiran cerdasnya.


“Dokter Nathan…. Akram Night bilang bahwa dia akan memburu Aaron. Tetapi, bukankah Aaron berada di dalam tahanan Xavier? Kenapa Akram harus memburunya?” Sera memberondong Dokter Nathan begitu ada kesempatan, tak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan jawaban.


Mata Dokter Nathan meredup ketika mendengar bahwa pertanyaan pertama Sera kepadanya ternyata bukanlah mengenai kondisi Xavier, tetapi malahan menanyakan Aaron.


Tiba-tiba terbersit rasa kasihan di benak Dokter Nathan kepada Xavier.


Xavier Light dianugerahi keberuntungan luar biasa dengan penampilan fisik yang sempurna. Tetapi, sepertinya lelaki itu tak beruntung ketika berhubungan dengan perempuan. Lihat saja Sera, bahkan ketika Xavier memberikan perhatian lebih kepadanya, menikahinya, memberikan benihnya untuk mengikatnya, tetap saja tak bisa meluluhkan hati perempuan itu untuk membalas perhatiannya.


“Urusan Aaron bukan berada di ranahku.” Dokter Nathan mengisyaratkan penolakan untuk menjawab ke arah Sera. “Bukankah sebaiknya kau menanyakan kondisi kesehatan suamimu?” sambungnya cepat, bertanya dengan nada menusuk yang membuat Sera tertegun malu.


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ ****EOTD****telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part****EOTD****ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih.


AY

__ADS_1


__ADS_2