Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 28 : Menjadi Sasaran


__ADS_3


"Its been a long day, i need ones of those kisses that turns in to lust."


Ketika para bodyguard itu melangkah ke arahnya, wajah Elana langsung pucat pasi karena takut mereka akan membuka semuanya dan menghancurkan kesempatan Elana bekerja di hari pertamanya. Dan Elana sungguh-sungguh tidak ingin itu terjadi.


Apakah mungkin Akram benar-benar tega menyuruh para anak buahnya untuk mengambil tindakan di depan umum dan menyeret dirinya ke tempat Akram?


Semua mata tampak mengikuti ketika para bodyguard itu berhenti tepat di samping meja Elana. Sebagian besar tampak menatap dengan penuh rasa ingin tahu dan sebagian yang lain tampak berharap-harap cemas menanti apa yang mungkin akan terjadi.


"Nona Lana?" salah seorang bodyguard itu bertanya, membuat Elana melepaskan tangannya dari sendok yang tak sadar telah digenggamnya erat sampai terasa sakit. Dirinya sudah pasrah akan apa yang mungkin terjadi nanti.


"Iya?" Elana menjawab dengan nada lemah menahan air mata.


"Saya mendapatkan instruksi dari bagian personalia untuk menjemput dan mengantar Anda kembali ke panti asuhan. Dengan status Anda sebagai karyawan percobaan dari program CSR kegiatan sosial yang bekerjasama dengan panti asuhan, telah disepakati bahwa Anda diberi waktu selama dua jam untuk kembali ke panti asuhan guna membuat laporan review kegiatan harian Anda kepada pengurus panti asuhan."


"Be... benarkah?" mata Elana melebar, dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa kalimat itulah yang akan meluncur keluar dari mulut bodyguard itu.


Alasan macam apa itu? Bagaimana mungkin seorang pegawai harus meninggalkan kantornya selama dua jam untuk membuat laporan review harian? Lagipula, bukankah jam istirahat di perusahaan ini hanyalah satu jam? Kenapa Elana harus mendapatkan tambahan potongan jam kerja satu jam lagi?


Elana memandang ke sekeliling, ke arah wajah-wajah rekan kerjanya yang ikut mendengarkan percakapan mereka itu. Dan dia tercengang melihat wajah mereka semua tampak percaya tanpa ada keraguan sedikit pun tentang apa yang dikatakan oleh salah seorang bodyguard itu.


Seniornya, Ibu Winda, malahan menepuk punggungnya dengan maksud memberi semangat.


"Pergilah Lana dan selesaikan laporanmu, buat laporan yang bagus-bagus tentang kami ya. Kau berasal dari panti asuhan yang dikelola oleh perusahaan yang terletak dekat di belakang area perkantoran ini, bukan? Kami sudah mendengar tentang program CSR perusahaan yang diwakili olehmu, dan kami ikut berharap jika program ini berhasil, akan semakin banyak lapangan perkerjaan yang dibuka untuk anak-anak yatim sepertimu."


Elana mengerjap melihat ketulusan di mata Ibu Winda. Dalam hatinya terbersit rasa bersalah karena telah ikut andil dalam kebohongan yang disusun oleh Akram, dan rasa bersalah itu meluap-luap, membuat dadanya terasa sesak.


Elana akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Dia tak punya pilihan lain selain mengikuti para bodyguard itu pergi.



Setelah dibawa melalui lorong yang sangat sepi seolah lorong rahasia, mereka melangkah memasuki lift untuk naik ke lantai paling tinggi tempat Akram berada. Begitu pintu lift terbuka, mereka langsung berhadapan dengan ruangan luas serupa ruang tamu raksasa dengan sofa-sofa hitam dari bahan kulit asli berukuran besar yang berjajar melingkar mendominasi ruangan, lengkap dengan meja bar sepanjang dinding lengkap dengan berbagai jenis minuman mahal di raknya, yang tampaknya sengaja dibuat untuk menjamu para tamu.


Di sisi lain ruangan, tampak Elios tengah duduk menunggu di belakang meja kerjanya yang sangat besar dan penuh dengan tumpukan berkas yang tersusun rapih.


Elios memerintahkan para bodyguard itu supaya pergi, kemudian mengalihkan tatapannya pada Elana.


"Tuan Akram sudah menunggu di dalam, silahkan masuk, Nona Elana." suara Elios terdengar datar, tetapi penuh dengan nada memerintah yang tak terbantahkan, sementara pandangannya memberi isyarat supaya Elana segera mengarahkan langkah ke pintu besar yang merupakan pintu menuju ruang kerja Akram.


Elana menelan ludah dan menatap ke pintu besar yang tampak mengintimidasi di depan matanya. Dia merasakan dorongan yang kuat untuk berbalik dan melarikan diri sekencang-kencangnya, tapi dia tahu bahwa dirinya tak bisa melakukannya. Lift di belakang punggungnya sama seperti yang lain, hanya bisa digunakan dengan kartu dan kode khusus. Itu berarti Elana terjebak di tempat ini dan mau tak mau harus melalui pintu dan masuk ke dalam ruangan di mana Akram telah menunggunya.


Elana menghela napas panjang, lalu seperti hewan ternak yang digiring ke ladang pembantaian, dia mengetuk pintu ruangan Akram.


Jawaban tegas terdengar dari dalam, memerintahkan Elana masuk, dan Elana mengepalkan kedua tangannya sebelum kemudian melangkah masuk.


__ADS_1


Akram tampak berdiri sambil menyandarkan panggulnya ke meja kerjanya yang sangat besar di belakangnya. Begitu Elana melangkah memasuki ruang kerjanya, pandangan mata lelaki itu terangkat tajam, langsung menusuk ke arah Elana dengan kilatan penuh ancaman


Dengan gerakan tenang, Akram mengulurkan tangan ke arah Elana, memberi isyarat supaya perempuan itu mendekat ke arahnya.


"Tutup pintunya dan kemarilah," perintahnya tegas


Elana tidak segera melaksanakan perintah Akram, perempuan itu mematung ragu, membuat Akram menyipitkan mata dengan jengkel.


"Aku sudah menepati janjiku, kucing mungil. Sekarang, giliranmu menepati janjimu," ucap Akram mengingatkan akan pernyataan Elana sebelumnya bahwa dia bersedia melayani Akram dengan aktif dan sukarela kalau Akram mau berkompromi dengannya.


Tidak punya pilihan lain, Elana akhirnya melangkah mendekat, dan menerima uluran tangan Akram.


Tanpa menunggu lagi, Akram langsung menarik Elana ke dalam pelukannya dan melingkarkan lengannya untuk memeluk punggung Elana agar tubuh mungil perempuan itu semakin merapat padanya dan tenggelam dalam peluknya. Akram menunduk dan menenggelamkan wajahnya pada kelembutan rambut Elana, dihirupnya aroma menyenangkan yang menguar dari diri Elana, aroman lembut yang mampu menenangkan gejolak di hatinya karena seharian tak melihat perempuan itu.


"Bagaimana harimu?" Akram bertanya serak, memiringkan kepala lalu menghadiahkan kecupan lembut di pelipis Elana.


"Ba... baik, semuanya baik. Terima kasih telah mengizinkanku bekerja," Elana sengaja menambahkan kalimat terima kasih supaya Akram tetap mengizinkannya terus bekerja di masa depan.


Akram tersenyum penuh ironi, lelaki itu menjauhkan wajahnya, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya ke sisi kiri dan kanan wajah Elana dan mendongakkan perempuan itu ke arahnya.


"Hariku tidak baik, aku menahan diri sepanjang pagi, frustasi memikirkan kau yang berada satu gedung denganku tapi tak bisa kutiduri." Akram sengaja berucap dengan nada terus terang untuk membuat Elana malu.


Dan Akram berhasil, pipi Elana langsung dirayapi oleh semburat warna merah yang diinginkan oleh Akram. Dengan gugup, Elana berusaha mendorong Akram meskipun tanpa hasil.


Akram malah meraih kedua tangan Elana, mencengkeramnya dan menarik Elana mendekat dan menciumnya.



"Tuanmu Akram ada di dalam, bukan? Kalau begitu kenapa aku tidak boleh masuk?!" model cantik yang menjadi salah satu wanita pasangan Akram hampir berteriak pada Elios yang memasang ekspresi datar dan tampaknya tidak terpengaruh dengan emosi yang terpancar dari diri Gabriella.


"Sesuai jadwal yang saya miliki, Anda memiliki janji dengan Tuan Akram pada pukul tiga siang untuk meeting bersama CEO dari Night Entertainment membahas rencana produksi film terbaru yang akan diluncurkan tahun depan. Saat ini baru jam dua siang, Anda seharusnya tahu bahwa Tuan Akram memiliki jadwal padat dan Anda sebaiknya tidak mencoba menemui beliau di luar jadwal yang ditentukan," jawab Elios tenang.


Gabriella menggigit bibir dengan wajah memerah seolah ditampar. Ingin rasanya dia menyerang asisten Akram yang berwajah seperti robot dan terlihat tanpa emosi, tetapi nyatanya memiliki mulut beracun yang sangat pedas. Sayangnya, sudah tentu Gabriella tidak bisa melakukannya. Dia tahu bahwa Elios merupakan orang kepercayaan Akram, dan dia harus bisa menundukkan Elios dahulu agar jalannya mudah untuk meraih Akram.


Butuh perjuangan yang berat bagi Gabriella untuk meraih perhatian Akram Night. Dan akhirnya beberapa masa yang lalu, dia berhasil mendapatkan kesempatan untuk menemani lelaki itu di atas ranjang, merasakan bagaimana hebatnya Akram Night, lelaki sempurna yang bukan hanya memiliki kekuasaan serta kekayaan tak tertandingi, tetapi juga sangat ahli menyenangkan wanita di atas ranjang.


Karena itulah banyak wanita yang tergila-gila pada Akram Night, termasuk Gabriella. Dan Gabriella sendiri yang telah merasa memiliki tangkapan besar di genggaman tangannya, sudah tentu tidak ingin melepaskan Akram Night dari cengkeramannya.


Dirinya sangat cantik, dengan darah Yordania yang menanamkan pesona tersendiri di genetiknya, tubuhnya juga sangat indah semampai penuh dengan kesempurnaan, membuat dirinya menjadi supermodel papan atas yang diperebutkan oleh begitu banyak rumah mode elit dunia. Semua itu membuat Gabriella yakin, bahwa hanya dirinyalah yang pantas bersanding dengan Akram Night nan luar biasa tampan. Mereka akan sangat serasi ketika berdampingan di acara-acara megah sebagai pasangan.


Gabriella bertekad mencapai impian tertinggi yang sampai detik ini tidak bisa dicapai oleh perempuan-perempuan lainnya. Dia ingin menjadi istri dari Akram Night. Dan untuk mencapai tujuannya itu, Gabriella lebih dari siap untuk. menyingkirkan perempuan-perempuan lain yang sekiranya akan mengganggu rencananya.


Ketika mendengar desas-desus bahwa Akram Night telah mencampakkan Michaella, saingan terberatnya yang merupakan artis papan atas pemenang penghargaan, jiwa Gabriella langsung bersorak-sorai penuh kegembiraan. Hilangnya batu sandungan dari jalannya membuat dirinya yakin bahwa jalannya untuk memiliki Akram akan berlangsung mulus.


Tapi masalahnya, beberapa waktu terakhir ini, Akram seolah kehilangan minat terhadapnya karena sibuk bekerja. Beberapa kali Gabriella meminta manajernya menghubungi Elios untuk memberitahu bahwa dia tersedia bagi Akram, tetapi Elios mengatakan bahwa Akram terlalu sibuk untuk menemuinya. Yah, Akram memang terkenal sebagai sosok yang gila kerja, karena itulah Gabriella akhirnya berusaha menenangkan diri sambil berpikir, bahwa ketika Akram lelah dari kesibukan pekerjaannya, lelaki itu pasti akan menghubungi dirinya.


Dan kemudian, dewi fortuna seolah berpihak kepadanya. Dia berhasil terpilih menjadi pemeran utama dalam film berskala besar yang didanai oleh *Night Entertainment. Night Entertainment merupakan salah satu perusahaan milik Akram Night yang bergerak di bidang entertainment* dan media. Popularitas Gabriela yang sedang berada di titik puncak dan antusiasme para penggemarnya akan alih profesinya dari seorang supermodel yang berubah halauan menjajal seni peran, merupakan salah satu daya tarik utama kenapa dirinyalah yang dipilih menjadi pemeran utama.

__ADS_1


Meeting siang ini merupakan kesempatan emas baginya, dan Gabriella tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan itu. Dia berdandan dengan luar biasa cantik dan berpakaian seksi menggoda, lalu memutuskan datang satu jam lebih cepat untuk menemui Akram.


Gabriella bertekad menggunakan daya tarik tubuhnya dan menawarkan seks kilat yang menyenangkan sebelum meeting, untuk membuat Akram tergila-gila kepadanya.


Gabriella yakin saat melihat penampilan dan tubuhnya saat ini, Akram pasti tak kuasa menolaknya dan rencananya akan berjalan mulus. Sialnya, dia malahan harus berhadapan dengan herder berwajah robot milik Akram yang bersikeras melarangnya memasuki ruangan Akram.


Gabriella juga tak berani nekad memaksa menerobos masuk, karena dilihatnya ada dua bodyguard berwajah dingin dan bertubuh kekar tampak berdiri di kiri dan kanan lift, menatap mereka dengan siaga. Dirinya yakin bahwa dua orang itu akan segera meringkusnya tanpa ampun kalau dia memaksakan kehendaknya di sini.


Tak ada jalan lain, dia harus merayu Elios sampai luluh.


"Akram pasti akan senang melihatku," Gabriella merendahkan suaranya nan kental dengan nada sensual, lalu melemparkan tatapan merayu ke arah Elios. "Ayolah, aku punya hadiah untuk Tuanmu dan dia pasti akan berterima kasih denganmu nanti karena telah mengizinkan aku masuk ke sana."


Ekspresi Elios sama sekali tidak berubah ketika menjawab.


"Tidak, Nona Gabriella. Instruksi dari Tuan Akram sangat jelas. Beliau tidak ingin diganggu untuk saat ini. Silahkan Anda duduk dan menunggu. Tuan Fabian dari Night Entertainment juga sudah mengabari bahwa beliau akan tiba setengah jam lagi, jadi meeting dengan Tuan Akram akan berlangsung sesuai jadwal pada pukul tiga siang." Elios menggerakkan tangan penuh isyarat pengusiran dan menunjuk ke arah sofa besar berwarna hitam yang terletak di area depan lift, dekat dengan pintu besar ruang kerja Akram yang saat ini tertutup rapat.


Beberapa detik kemudian, tatapan Elios kembali terarah ke pintu ruang kerja Akram yang terbuka, dan Elana tampak muncul di sana dengan was-was. Perempuan itu tentu melihat kehadiran Gabriella yang sedang memunggunginya dan matanya yang panik langsung tertuju pada Elios, menyadari bahwa dia keluar dari ruang kerja Akram di saat yang tidak tepat.


Elana tidak menyangka ada tamu di ruang depan, tetapi dia juga tak ingin masuk kembali ke dalam ruangan Akram hanya untuk menghindari tamu itu. Sudah cukup susah payah dirinya berhasil melepaskan diri dari Akram yang seolah tak bisa berhenti menyentuhkan tangannya pada Elana di dalam sana, Elana tak mau kembali dan mengumpankan diri pada predator lapar itu. Dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini dan kembali bekerja.


Elios sepertinya memahami ekspresi wajah Elana dan mengangguk tipis. Tanpa suara, Elios memberi isyarat singkat dengan tangannya, menyuruh Elana melewati punggung Gabriella diam-diam dan langsung menuju lift dimana para bodyguard telah datang kembali dan berdiri menunggu untuk mengantarkan Elana turun, tanpa perlu menarik perhatian Gabriella dan menambah masalah baru.


Tidak sembarang orang bisa naik ke wilayah ruang kerja Akram, dan merupakan kemustahilan bagi seorang petugas cleaning service junior dan tidak berpengalaman seperti Elana untuk ditugaskan membersihkan ruangan Akram. Untuk menghindari pertanyaan yang tidak diinginkan, lebih baik jika tidak ada satupun orang luar yang melihat Elana berkeliaran di area ini.


Gabriella sendiri sudah terlalu murka hingga dia tidak meyadari kehadiran Elana yang mengendap-ngendap dengan langkah cepat hendak melewatinya. Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya, wajahnya sudah merah padam karena amarah, berpadu dengan napasnya yang mulai tersengal berbalut emosi.


Asisten Akram sialan! Lihat saja nanti kalau dia sudah berhasil menjadi istri Akram, hal pertama yang akan dilakukannya adalah meminta Akram membuang Elios, menghajarnya sampai babak belur dan membuangnya ke jalanan!


Dengan cepat, Gabriella memutar tubuhnya, menghentakkan kaki penuh kemurkaan dan hendak menuju ke kursi yang ditunjuk oleh Elios, tetapi tanpa diduga, dirinya malahan bertabrakan keras dengan sosok lain yang entah darimana sudah berada di belakang dirinya.


Tabrakan itu sangat keras karena Gabriella membalikkan tubuh dengan kekuatan penuh. Buah dadanya yang besar dan perutnya yang rata terasa sakit, matanya lalu melotot ketika menyadari bahwa entah bagaimana, tabrakan itu membuat tas yang dibawa oleh Gabriella sendiri tersangkut di bagian gesper ke gaunnya. Dan ketika Gabriella berusaha melepaskan tasnya yang tersangkut itu dengan penuh emosi, hal itu malahan menyebabkan baret panjang yang merusak gaun sutra halus nan tipis dengan harga luar biasa mahal yang sengaja dipakainya untuk menarik hati Akram di pertemuan mereka nanti.


"Ma...maaf...saya...tidak sengaja... mohon maaf..." Elana berseru dengan gugup ketika melihat kerusakan yang ditimbulkannya.


Dan demi melihat bahwa yang menabraknya hanyalah seorang berseragam cleaning service biasa, semakin bergolaklah kemurkaan di jiwa Gabriella. Sudah merupakan sifat dasar manusia yang berhasrat menunjukkan superioritasnya dan melampiaskan frustasinya pada golongan yang lebih lemah dari dirinya, jadi ketika Gabriella tidak bisa meluapkan kemarahannya pada Elios, maka makhluk rendahan bodoh yang sekarang berada di depannya ini, merupakan sasaran yang sangat empuk dan sangat pantas untuk menjadi pelampiasannya.


"Dasar sampah rendahan!! Lihat kerusakan yang kau buat!! Mati saja kau!!" teriak Gabriela histeris, meluapkan seluruh emosi jiwanya.


Sebelum Elios bisa mencegah, Gabriella telah mengangkat tangannya lalu mengayunkannya ke wajah Elana, menumpukan seluruh emosinya, frustasinya dan kemarahannya ke dalam kekuatan ayunan tangannya. Secepat kilat perempuan itu mendaratkan tamparan itu ke wajah Elana yang tak sempat menghindar. Tamparan dengan kekuatan pukulan luar biasa itu sampai menciptakan suara keras akibat beradunya telapak tangan Gabriella dengan kulit pipi Elana nan rapuh, membuat wajah Elana terhentak ke belakang dan kakinya terdorong mundur beberapa langkah.


Para saat yang sama, pintu ruang kerja Akram terbuka. Akram menemukan kartu karyawan Elana tertinggal di atas meja dan dirinya hendak meminta Elios mengembalikannya pada Elana, tetapi malahan menyaksikan adegan tak terduga di depan mata.


- - -


 


 

__ADS_1



__ADS_2