
Akram masih mencium Elana hingga pintu lift itu terbuka. Dengan cepat Akram melepaskan ciumannya, lalu membungkuk dan meraup tubuh Elana ke dalam gendongan, untuk kemudian membawanya keluar dari lift, melangkah menyeberangi ruang tamu khusus serta meja kerja Elios, dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Akram sama sekali tidak memberi kesempatan Elana untuk melepaskan diri. Diturunkannya Elana dari gendongan hingga tubuh Elana terbaring di atas sofa yang ada di ruangannya, ketika perempuan itu melenting bangkit hendak melarikan diri, dengan cepat Akram mendorongnya kembali supaya berbaring.
Dirinya butuh memeluk perempuan itu guna memastikan bahwa Elana benar-benar baik-baik saja.
"Ti... tidak!" Elana mulai berseru panik ketika tangan Akram bergerak menyentuhnya. "Tidak, Akram! Aku tidak bisa... tolong, jangan disini... aku harus kembali bekerja..."
"Aku butuh memelukmu," Akram menggeram.
"Tapi... tapi..." Elana masih berusaha membantah, ingin melepaskan diri, tetapi pegangann Akram semakin kuat kepadanya.
"Ssh.. diamlah, aku butuh memastikan kalau kau baik-baik saja," suara Akram lembut, penuh permohonan yang tak pernah dilakukannya sebelumnya, dan itu membuat Elana tak berdaya untuk melawan lagi.
***
***
Elana menatap dirinya di depan cermin dan mendesah. Wajah dan sebagian anak-anak rambutnya tampak masih basah dan lembab setelah dia membersihkan diri di ruang toilet pribadi yang terletak di dalam ruang kerja Akram.
Matanya bersinr sendu ketika tangannya bergerak menyentuh pantulan bayanganhya sendiri di cermin.
Sampai kapan dia akan hidup seperti ini? Berada di bawah kuasa Akram tanpa dia bisa melawan?
"Elana," suara dalam nan tegas terdengar dari pintu luar, ada nada kecemasan tersirat di sana. "Kau tidak apa-apa?"
Ekspresi Elana berubah masam mendengar pertanyaan itu.
Tidak apa-apa? Setelah semua yang laki-laki itu lakukan kepadanya sepanjang siang sampai dengan sore hampir berlalu? Bagaimana bisa dia tidak apa-apa?
Tapi tak urung Elana melangkah ke pintu juga, membukanya dan keluar dari ruang toilet itu. Dirinya langsung berhadapan dengan Akram yang bersekap, berdiri di dekatnya seolah sudah lama menanti Elana keluar.
"Aku memesan makanan untukmu," Akram berucap dengan nada datar. "Makanlah dulu."
Elana menggelengkan kepala jengkel. Sekarang, setelah laki-laki itu puas, dia baru ingat untuk memberi Elana makan?
"Aku tidak lapar. Aku ingin pulang dan beristirahat. Kumohon, izinkan aku pergi dari sini," tanpa mempedulikan keberadaan Akram, Elana melangkah ke arah pintu. Ini sudah hampir jam enam sore dan semua karyawan kantor saat ini sudah pasti sedang dalam perjalanan ke rumah masing-masing.
Perusahaan Akram memang tidak mendukung sistem lembur, apalagi jenis lembur yang dilakukan untuk menunjukkam loyalitas pada perusahaan. Di sini, lembur dianggap sebagai ketidak mampuan mengatur waktu secara efisien sehingga membuat karyawan terpaksa bekerja melebihi jam kerja karena ketidakbecusannya itu. Karena itulah, pada jam lima sore, hampir sebagian besar karyawan pastilah sudah pulang meninggalkan kursi mereka masing-masing.
Akram mencengkeram lengan Elana dengan hati-hati karena dia memegang lengan Elana yang baru sembuh. Perlahan dia menarik Elana supaya berdiri di hadapannya, menahannya dengan kedua tangan di bahunya.
"Kalau kau mencemaskan tentang pekerjaamu sebagai cleaning service dan rekan-rekan kerjamu, aku telah meminta Elios memulangkan mereka semua setelah jam makan siang dengan alasan komplimen khusus kerja setengah hari, setelah mereka bekerja keras melakukan pekerjaan tambahan di area renovasi hingga melewatkan jam makan siang mereka," Akram menyipitkan mata. "Semuanya terlalu bergembira untuk pulang ke rumah masing-masing hingga tak ada yang menyadari bahwa kau menghilang dari antara mereka."
"Akram," Elana memberanikan diri menyebut nama lelaki itu sambil menatap langsung. "Kumohon, bisakah... bisakah kau tidak perlu memanggilku lagi di jam makan siang? Kau selalu menahanku lebih dari yang seharusnya. Alasan apa lagi yang akan dibuat jika kejadian ini terulang kembali? Kau ... kau tidak mungkin memulangkan mereka terus menerus selama setengah hari, bukan?"
Ekspresi Akram menggelap. Sebelah tangannya bergerak meraih dagu Elana dan mengangkat wajah mungil perempuan itu ke arahnya.
"Kau tidak berada dalam posisi sejajar denganku untuk mencoba bernegosiasi. Apa kau pikir aku tidak bisa mencabutmu dari pekerjaanmu, lalu mengikatmu di dekatku sehingga aku bisa menyentuhmu kapan pun aku mau? Jangan memaksakan keberuntunganmu, Elana. Kau tahu aku tidak sebaik hati itu untuk berkompromi denganmu," Akram mendesis dengan suara tegas.
"Tapi kau sudah berjanj!" Elana menyela dengan mata berkaca-kaca. "Kau berjanji akan membiarkanku bekerja kalau seluruh persyatan dipenuhi. Sekarang, apakah kau akan bersikap rendah dengan mengingkari janjimu itu?"
"Siapa yang bersikap rendah sebenarnya di sini, Elana?" Akram semakin mendongakkan Elana ke arahnya, memegang dagu perempuan itu dengan kencang, sementara dirinya menunduk dan mendekatkan wajahnya mengancam. "Kau bilang tentang persyaratan. Aku sudah memenuhi seluruh persyaratan yang kau ajukan sampai dengan saat ini. Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau ingat persyaratan dariku yang telah kau setujui tapi tak pernah kau lakukan?" desak Akram dengan nada mengancam yang gelap.
Pipi Elana langsung merona hingga terasa panas. Tentu saja dia ingat persyaratan Akram. Lelaki itu memintanya untuk menunjukkan sikap sukarela, mengambil inisiatif dan aktif ketika mereka bercinta. Elana tiba-tiba merasa malu ketika menyadari bahwa tidak ada satupun dari persyaratan Akram itu yang dilakukannya.
Mata Akram menyipit menyadari rona di pipi Elana. Senyum sinis muncul di bibirnya melihat kilasan rasa bersalah di mata Elana.
"Bukannya bersikap sukarela, kau selalu bersikap seolah muak ketika bercinta denganku," Akram menempelkan bibirnya ke bibir Elana dan menggeseknya dengan provokatif. "Meskipun tubuhmu sepertinya lebih jujur daripada mulutmu."
"Hen... hentikan!" Elana memalingkan muka dengan cepat, melepaskan pegangan Akram di dagunya. Mulut Akram yang tajam berhasil mempermalukan Elana hingga ke dasar, dan entah kenapa, lelaki itu sepertinya senang melakukannya. Mata Elana mulai berkaca-kaca karena pergolakan perasaannya, dan tentu saja hal itu tak lepas dari pengawasan Akram.
Tanpa diduga, Akram kemudian malah membawa Elana ke dalam dadanya, memeluknya erat-erat.
"Kalau kau menunjukkan niat baik untuk memenuhi persyaratan yang kuajukan, maka aku akan mempertimbangkan untuk memberimu kenyamanan di jam kerja dengan tidak memaksamu datang ke tempat kerjaku setiap jam makan siang," suaranya melunak, menunjukkan niat baik untuk berdamai.
Ketika Elana tidak menjawab, tetapi juga tidak meronta saat Akram memeluk perempuan itu erat dan menenggelamkan kepala Elana di dadanya, Akram hanya menipiskan bibir antara jengkel dan kagum dengan kekeraskepalaan Elana dan usahanya yang konstan tanpa surut untuk melawan dirinya.
"Sekarang, makanlah dulu. Kau akan pulang bersamaku malam ini," putus Akram cepat, membawa Elana ke sofa dimana pada meja di depannya terdapat beraneka macam hidangan menggiurkan yang membuat Elana membelalakkan mata dan lupa kalau dia tadi hendak melawan Akram dengan mengatakan bahwa dirinya sudah kenyang.
Akram mengambil tempat duduk di hadapan Elana dan pikirannya berputar. Tentu saja dia masih memikirkan tentang Xavier. Akram berencana akan membuat pengaturan perihal penjagaan keamanan bagi Elana. Penjagaan itu harus ketat tanpa celah, tetapi sekaligus harus bisa membuat siapapun tidak curiga tentang status Elana saat ini sebagai wanitanya.
Sampai Elios bisa menyelesaikan pemindaian seluh karyawan yang bekerja di bawah naungan perusahaannya, maka siapapun memiliki kemungkinan untuk menjadi mata-mata bagi Xavier. Mereka harus sangat berhati-hati untuk saat ini.
__ADS_1
Memikirkan tentang Xavier membuat Akram teringat bahwa Elana sempat berada satu ruangan dengan monster itu. Ekspresi wajahnya menggelap ketika dia menatap Elana yang tengah menikmati makan siangnya yang sangat terlambat.
"Kau bertemu dengan orang aneh di toilet laki-laki?" Akram memulai pertanyaannya dengan nada menyelidik.
Elana yang tengah menyuap makanan sesuap penuh ke dalam mulutnya membelalakkan mata mendengar pertanyaan Akram itu. Dia kelaparan karena Akram telah membuatnya terlambat makan siang dan memforsir kekuatan tubuhnya hingga dia merasa letih, tetapi bukan berarti dirinya terlalu lemah untuk beradu argumentasi dengan lelaki itu.
"Tak cukup dengan menanam microchip GPS di tubuhku, apakah kau juga memasang kamera CCTV untuk mengawasiku?" serunya penuh tuduhan.
Bibir Akram menipis, tetapi tak keluar bantahan dari mulutnya menyangkut tuduhan Elana.
"Aku hanya memantaumu jika menurutku kau berada dalam situasi berbahaya." Akram kembali menatap Elana dengan pandangan menusuk. "Kau bertemu dengan seorang laki-laki di toilet karyawan, bukan? Perlu kau tahu kalau dia adalah orang yang sangat berbahaya. Mulai sekarang, jika kau melihatnya lagi -meskipun aku akan menggunakan segala.cara untuk mencegah itu terjadi- kau harus segera berlari menghindar sejauh mungkin."
Ingatan Elana langsung kembali pada insiden dimana dia bertemu dengan sosok asing di toilet karyawan itu. Keningnya berkerut dalam karena perkataan Akram tidak cocok dengan visualisasi yang dialaminya langsung.
"Dia tampak sangat sakit dan lemah," Elana mengerutkan kening dan mengungkapkan pikirannya. "Bagaimana mungkin orang selemah itu adalah orang berbahaya?"
Ekspresi Akram berubah serius, memberi penekanan di setiap kata seolah-olah dia ingin Elana mendengar peringatannya dengan saksama.
"Apakah kau tidak pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa semakin indah penampilan fisiknya, maka akan semakin beracunlah dia?" Akram bertanya dengan nada ironi yang kental.
"Apakah kau sedang membicarakan tentang dirimu sendiri?" tanya Elana dengan nada sinis. Ada seberkas kepuasan dalam jiwanya, merasa senang karena dia telah menggunakan kalimat yang diucap Akram untuk menyerang diri Akram sendiri.
Sayangnya, kepuasan Elana tidak berlangsung lama. Bukannya merasa terhina, Akram malahan menyeringai dengan mata berkilat sensual yang sepenuhnya diarahkan pada Elana.
"Jadi, menurutmu penampilan fisikku indah?" tanya Akram cepat, kalimatnya berhasil memukul jatuh Elana dengan telak dan membuat pipi Elana merah padam karena malu.
***
***
Ketika mereka sampai di rumah, Akram membebaskan Elana untuk masuk ke dalam kamarnya, sementara dirinya masuk ke dalam kamarnya sendiri
Beberapa jam berlalu setelah Akram membereskan beberapa urusan pekerjaan, lalu beranjak untuk mandi dan membersihkan diri. Akram sengaja memberikan kesempatan Elana beristirahat dan berencana membebaskan Elana dari sentuhan tangannya untuk malam ini.
Ketika dia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan uap tersisa dari air hangat yang digunakannya, ponselnya berbunyi. Ekspresi Akram langsung berubah waspada, tahu bahwa panggilan ini adalah informasi yang ditunggunya. Diangkatnya ponsel itu dengan cepat.
"Elios," Akram menyebut nama lawan bicaranya dengan nada tegas, lalu terdiam menunggu informas
"Tuan, kami sudah mengikuti mobil Xavier sampai dia pulang ke rumahnya. Sepertinya dia memang tidak menyembunyikan keberadaan dirinya dan tetap pulang ke mansion miliknya yang sama dari lima tahun yang lalu. Saya menempatkan orang untuk berjaga dan memgintai di sekeliling area dekat rumah itu, dan dari laporan mengatakan bahwa sejak masuk ke rumah tadi siang, Xavier tidak keluar lagi."
"Oke," Akram mengerutkan kening ketika dia mengingat perkataan Elana yang mengatakan bahwa di matanya, Xavier terlihat lemah dan sakit. "Apakah Nathan sudah berhasil menembus informasi medis mengenai Xavier? Elana bilang bahwa Xavier tampak lemah dan sakit. Tetapi, Xavier yang kutemui di ruang tamu VVIP itu tampak sehat tanpa kekurangan suatu apapun."
"Dokter Nathan belum memberikan informasi lagi, tuan," Elios menjawab cepat. "Tetapi saya akan menghubunginya segera dan melaporkan perkembangan terbaru pada Anda."
"Bagus. Aku ingin seluruh gerakan Xavier, sekecil apapun, terus dipantau tanpa celah dan dilaporkan kepadaku."
Akram tengah menutup pembicaraannya dengan Elios ketika tiba-tiba dari arah dapur lantai satu terdengar suara benda kaca pecah terbanting berkeping-keping dengan suara keras.
Tanpa menunggu lama, Akram langsung meraih pistol dalam jangkauannya, lalu bergerak dengan cepat dan waspada keluar dari kamarnya, langsung menuju area dapur.
***
***
Pemandangan di depannya bukanlah sesuatu yang dibayangkan oleh Akram. Semula, Akram mengira ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam apartemennya dan cukup ceroboh untuk menjatuhkan barang-barang Tetapi, saat ini, yang tampak adalah Elana yang duduk di lantai dengan panik sementara tangannya yang gugup tengah berusaha memunguti pecahan kaca dari poci teh yang telah hancur berkeping-keping.
Ketika Elana mendongak dan menyadari kehadiran Akram di depannya, wajahnya berubah pucat pasi.
"Ma...maafkan aku... perutku sangat sakit seperti kram dan aku ingin membuat teh, tapi air panas terciprat ke tanganku hingga aku menyenggol poci teh... ini harganya pasti sangat mahal, kau bisa memotongnya dari gajiku..."
Akram menyimpan pistolnya, ekspresinya berubah gelap dipenuhi kemarahan.
"Menyingkir dari sana, Elana! Kau akan terkena pecahan kaca kalau melakukan itu!"
Elana menatap Akram bingung. "Tapi...pecahan ini... aku harus...." suara Elana terhenti ketika Akram sudah berdiri di dekatnya, menjangkaunya sebelum kemudian mengangkatnya.
Elana menatap Akram bingung, lalu matanya beralih ke arah pecahan kaca di lantai dapur.
"Pecahan kaca itu ...." Elana hendak membantah lagi, masih berusaha melepaskan diri dari gendongan Akram. Tetapi, baik gerakan maupun suaranya kemudian, langsung terhenti oleh hardikan Akram.
"Bodoh! Lupakan pecahan kaca itu, seseorang akan mengurusnya nanti!" sentak Akram kasar, lalu membawa Elana menaiki tangga dan langsung menuju ke kamarnya, bukan ke kamar Elana. Lelaki itu meletakkan Elana di atas ranjangnya, lalu membungkuk di atas Elana, mengawasi perempuan itu dengan saksama.
"Bagian mana yang sakit?" tangan Akram bergerak, menyelinap dari bawah gaun Elana, lalu menyusup untuk menyentuh lapisan kulit perutnya secara langsung.
__ADS_1
Gaun Elana terangkat sampai atas sementara telapak tangan Akram terasa begitu panas. di perutnya, nyaris seperti kompres hangat yang menenangkan rasa kram yang berdenyut di sana.
"Di sini yang sakit?" Akram mempelajari ekspresi wajah Elana dan menebak dengan tepat. Tangannya terus mengusap dan menekan di sana dengan lembut, berusaha membantu.
Elana mengangguk, mengerutkan kening ketika rasa kram yang menyakitkan bergolak dari dalam perutnya.
"Mungkin... mungkin asam lambung... " bisik Elana perlahan, mulai pucat karena menahan sakit.
Rasa bersalah langsung berkelebat di ekspresi wajah Akram.
"Karena aku membuatmu terlambat makan?" Akram mengerutkan kening. Ketika Elana tak menjawab dan malahan memejamkan mata seolah menahan sakit yang amat sangat, Akram berdiri dengan cepat. "Aku punya kotak obat di suatu tempat di sini. Aku akan mengambilkan obat untukmu." ujarnya sebelum bergegas ke arah lemari pakaiannya.
Beberapa lama kemudian, Akram masih berkutat di depan lemari pakaiannya dan membongkar barang-barang serta mengobrak-abrik pakaian yang ada di sana. Lemari Akram sangat besar, tertanam hampir memenuhi seluruh sisi dinding kamarnya dengan berbagai lapisan rak dan penataan yang dipilah dengan sangat rapi dan sempurna.
Saat ini, meskipun dalam kondisi sakit, Elana meringis melihat Akram yang hampir-hampir menghancurkan seisi lemarinya hingga berantakan tak karuan, sangat bertolak belakang dengan dirinya yang biasa, yang selalu rapi dan teratur dengan sempurna.
"Seharusnya itu ada di sini. Sialan! dimana benda sialan itu?"
Akram mengumpat dalam serentetan gerutuan sementara tangannya terus begerak mencari dan membongkar barang-barang.
"Akram..." Elana berusaha memanggil. "Ini hanya gastritis biasa, aku sering mengalaminya jika terlambat makan dan nanti akan reda sendiri jika..."
"Kau sering mengalaminya jika terlambat makan? Sering? Sebenarnya seperti apa gaya hidupmu dulu? Apakah terlambat makan menjadi hal yang biasa untukmu? Kau sama sekali tidak bisa mengurus dirimu sendiri. Jika kau tak bertemu denganku, kau mungkin akan berakhir mati kelaparan di jalanan!" Akram menyahut dengan nada marah, membuat Elana jengkel.
Bahkan dalam kondisi dirinya sakit sekalipun, dan ini disebabkan oleh Akram yang membuatnya terlambat makan, lelaki itu tetap menemukan cara untuk mencari-cari kesalahannya.
Ponsel Akram tiba-tiba berbunyi dan Akram mengangkatnya dengan marah.
"Sebaiknya ini penting. Jika tidak aku akan membunuhmu. Lekas bicara!" bentaknya dengan nada mengancam.
Suara sahutan dari seberang sana membuat ekspresi Akram berubah, lelaki itu mendengarkan suara dari seberang dan ekspresinya berubah lebih tenang.
"Aku akan mengatur jadwal pertemuan denganmu besok untuk pembicaraan lebih jelas." jeda sejenak seolah Akram ragu untuk bertanya. "Apa yang bisa membantu meredakan sakit perut karena gastritis? Bukan, bukan aku, kau pikir aku siapa hingga bisa menderita sakit yang disebabkan oleh gaya hidup kacau seperti itu?" Akram melirik ke arah Elana yang semakin masam wajahnya, tetapi lelaki itu tampaknya tak peduli. "Oke, baik...." Akram tampak serius mendengarkan sebelum kemudian menatap pembicaraan dengan gumamnya singkat.
Tangannya bergerak untuk mencari lagi dan kali ini dia berhasil menemukan apa yang dicarinya, sebuah kotak obat warna putih berukuran tanggung yang ternyata terletak di dasar lemarinya yang paling dalam. Kotak obat itu adalah pemberian Nathan untuk Akram, berisi perlengkapan pertolongan pertama dan berbagai macam jenis obat untuk penanganan darurat penyakit-penyakit ringan. Tetapi Akram memang jarang menggunakannya karena dia jarang sakit.
Akram mengambil kotak itu dan membukanya, lalu memeriksa dengan saksama masing-masing obat. Diambilnya satu obat untuk gastritis, diperiksanya batas kadaluarsa obat itu. Setelah memastikan semuanya, Akram bangkit dan beranjak ke arah Elana yang duduk di atas tempat tidur lelaki itu, sedang mengawasi Akram tanpa berkata-kata.
Segera setelah Akram berdiri di samping ranjang, dia langsung menggenggamkan obat itu ke tangan Elana.
"Diam di sini dan jangan bergerak sedikitpun. Jangan minum obatnya dulu. Tunggu aku kembali!" pesannya kasar dengan nada penuh peringatan, lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Elana yang masih tercengang kebingungan menatap ke arah pintu yang ditinggalkan oleh Akram dalam kondisi terbuka lebar, lupa untuk ditutup kembali.
***
***
Setelah suara barang-barang berjatuhan serta denting logam tak terkendali disambung dengan berbagai umpatan Akram yang terdengar sampai melalui pintu kamar atas yang terbuka, Akram akhirnya muncul di ambang pintu tak lama kemudian.
Secara mengejutkan, lelaki itu datang dengan membawa nampan di tangannya. Di atas nampan itu terdapat mangkuk putih dengan isi yang mengepulkan uap panas.
Elana mengerutkan kening ketika Akram memasang meja pendek untuk sarapan di ranjang ke pangkuannya, lalu meletakkan mangkuk itu di depannya.
Apa yang ada di dalam mangkuk itu mungkin dimaksudkan untuk menjadi bubur, tetapi penampilannya luar biasa jeleknya, dengan warna bubur putih keruh yang dituang berantakan di mangkuk, belum lagi serpihan-serpihan hitam bekas gosong tercampur di dalamnya. Seolah-olah Akram mengeruk dari dasar panci yang gosong dan melemparkan begitu saja isi bubur tersebut ke mangkuk dengan terburu-buru.
Lelaki ini repot-repot membuatkan bubur untuknya? Kenapa dia tidak menyuruh anak buahnya membelikan makanan baginya seperti yang biasa dia lakukan?
Elana tidak bisa menahan diri membelalakkan mata lebar melihat sajian di depannya, membuat seberkas rona merah melintas di tulang pipi Akram yang tinggi.
"Obatmu itu harus diminum segera setelah makan dan Nathan bilang dengan kondisimu, kau harus makan makanan lunak," Akram menatap Elana yang tampak ragu melihat kondisi bubur di depannya, matanya menyipit menampakkan ketersinggungan. "Penampilannya memang buruk, tapi bubur itu layak dimakan, dan aku tidak memasukkan sesuatu yang aneh di dalamnya," suara Akram penuh nada memaksa. "Ayo, makanlah!"
Ditekan oleh nada mengintimidasi seperti itu, tidak ada hal lain yang bisa diperbuat oleh Elana selain menyuapkan bubur itu ke mulutnya. Rasa bubur itu ternyata seburuk penampilannya, hambar dan tidak enak, dengan seberkas getir beraroma gosong yang bergulir tanpa permisi di lidahnya. Tetapi, Akram benar, bubur itu masih layak untuk dimakan.
Elana menghabiskan bubur itu dengan patuh di bawah pengawasan Akram. Setelahnya, Akram segera menyingkirkan mangkuk bubur yang telah kosong, membawakan air dan menyuruh Elana meminum obatnya tanpa mendapatkan perlawanan sedikitpun dari perempuan itu.
Akram lalu mendorong Elana sampai berbaring di ranjang, menyelimutinya rapat, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusap dahi Elana, seolah berusaha membantunya untuk tertidur.
Lama kemudian, ketika napas Elana sudah teratur dengan mata terpejam rapat di tengah cahaya temaram, Akram yang mengira bahwa Elana sudah tidur, beranjak dari ranjang dan melangkah ke sofa besar di kamarnya.
Tidak disadarinya bahwa sebenarnya Elana masih terbangun dan sedang berpura-pura tidur. Perempuan itu menggigit bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena sakit di perutnya, tapi lebih karena rasa sakit menyesakkan di dadanya.
Seumur hidupnya yang sebatang kara ini, Elana tidak pernah menerima perhatian dari siapapun yang khusus diberikan untuknya. Bahkan di panti asuhan pun, dia dirawat dengan formal, bukan dengan kasih sayang penuh perhatian yang ditujukan khusus pada satu individu.
Baru kali inilah Elana dirawat dengan begitu penuh perhatian, meskipun dibalut dengan sikap arogan nan kasar. Dan ironisnya, semua itu diberikan oleh Akram Night. Sosok yang seharusnya akan selalu menjadi pemeran antagonis dalam drama kehidupannya...
__ADS_1
***