Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 71 : Rencana Jahat


__ADS_3


Xavier langsung menyeringai mendengar pertanyaan Akram. Wajahnya tampak polos seolah tak berdosa ketika bibirnya membuka untuk menjawab.


“Aku bersedia bekerjasama denganmu. Untuk saat ini pun, aku tidak melakukan apapun untuk menyerangmu, padahal kau jelas-jelas sedang lemah dan tanpa pertahanan di sini. Apakah hal itu belum cukup untuk menunjukkan niat baikku?” ujarnya tenang.


Akram mengerutkan kening. Bagaimanapun juga, Xavier memiliki keahlian bersandiwara tingkat tinggi, lelaki itu sudah tentu bisa mengatasi alat pendeteksi kebohongan tanpa mempercepat detak jantungnya satu milidetik pun. Jadi, setulus apa penampilan yang diberikan oleh Xavier, Akram tahu bahwa dia harus sangat berhati-hati menghadapinya.


“Aku tidak mungkin mempercayai niat baikmu dengan mudah. Kau pasti punya rencana di balik ini semua. Kau tidak mungkin mau bekerjasama dan menyerahkan perusahaan penelitian senjata biologis milikmu yang merupakan salah satu aset berhargamu tanpa syarat, hanya demi Elana!" Akram masih belum menyerah. Saat ini dia benar-benar harus memutuskan, apakah bekerjasama dengan baik-baik bersama Xavier, ataukah harus membekuk lelaki itu dan memaksanya menyerahkan perusahaannya untuk diserahterimakan kepada Dimitri.


Xavier mengangkat alisnya. “Hanya demi Lana? Bagiku Lana tidak pantas dipadukan dengan kata ‘hanya’, dia wanita istimewa,” sahutnya ringan sengaja membuat penasaran.


Pancingannya langsung tersambar. Ekspresi Akram langsung menggelap pekat.“Kau baru bertemu dengan Elana beberapa kali.  Bisa dibilang kau tak mengenalnya dekat. Aku tidak percaya kalau dalam sekejap Elana bisa menjadi begitu berarti untukmu hingga kau rela menyerahkan perusahaanmu baginya,” sahutnya sinis setengah menuduh.


“Kuantitas pertemuan tidak menentukan dalamnya perasaanku. Aku menganggapnya perempuan istimewa bahkan sejak pertama bertemu dengannya dan sebelum aku tahu bahwa dia adalah perempuan yang kau paksa untuk menjadi milikmu,” Xavier menyipitkan mata, menatap Akram dengan pandangan menelisik jauh ke jiwa. “Kau sendiri, bagaimana kau menjelaskan sikapmu  yang langsung membuat Lana menjadi milikmu, padahal kau baru satu kali pertemuan kau alami dengannya?” tanyanya tajam.


Akram tertegun. Ketika diingatkan pada masa lalu, bahkan sekarang dia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang mendorongnya melakukan itu semua, menculik Elana, memperkosanya, kemudian menahannya tanpa memberinya ruang untuk melarikan diri setitik pun.


Dahulu, Akram akan selalu mengatakan pada dirinya bahwa itu adalah dorongan fisik dari hasrat menggebu-gebu yang lepas kendali. Dia percaya bahwa ada beberapa orang yang menguarkan feromon dengan senyawa tertentu yang sangat menggoda bagi beberapa individu yang merupakan lawan jenisnya, daya tarik misterius inilah yang membuat mereka akan sangat cocok di atas ranjang.


Itulah yang Akram pikirkan dahulu mengenai Elana. Karena dia yakin bahwa ini adalah dorongan jasmaniah semata, dia percaya bahwa nanti setelah dia memuaskan diri sepuas-puasnya untuk menikmati tubuh Elana, semburan feromon itu akan terurai hingga akhirnya menguap habis tanpa sisa, menciptakan kebosanan yang akan melandanya. Lalu, dengan mudahnya dia akan membuang Elana sambil melenggang pergi dengan rasa puas.


Ternyata dugaannya salah.


Bukan hanya dia tak pernah merasa puas dengan perempuan itu. Saat ini malahan berkembang perasaan baru yang lebih kuat di dalam jiwanya. Perasaan membutuhkan, dorongan untuk selalu merindu dan ingin melihat perempuan itu kapanpun dimanapun, dorongan untuk menyentuhnya dan memastikan Elana baik-baik saja, dorongan untuk memeluk perempuan itu setiap malam dan menikmati dengkur halusnya yang terasa hangat di dadanya. Semua itu merupakan perasaan baru yang tak dimengertinya, yang ingin ditumpasnya tetapi malah bertumbuh subur seiring berjalannya waktu mereka bersama.


Tidak pernah sekalipun Akram merasakan hal seperti ini pada perempuan manapun. Bahkan tidak disaat dia menjalani kisah romantis percintaan pertamanya dengan Anastasia.


“Kau tak bisa menjelaskannya, bukan? Jadi jangan mencelaku,” Xavier yang sejak tadi mengawasi perubahan ekspresi Akram memecahkan keheningan dengan suara mencemooh. “Ingat, jangan salahkan aku kalau kau terus larut dalam kebebalanmu sehingga aku memiliki kesempatan mencuri Lana darimu.”


“Apa katamu?” suara Akram berubah menjadi geraman seiring dengan tangannya yang mengepal kuat, siap bertarung. Wajah Akram saat ini benar-benar pucat, pun dengan bibirnya yang seolah tak teraliri darah, tetapi entah dari mana, Akram seolah memiliki sisa kekuatan yang membuatnya tetap tampak garang dan menakutkan.


“Sudah, ini bukan saatnya untuk beradu argumentasi satu sama lain. Kau harus beristirahat dan memulihkan tenagamu, Akram.  Xavier sudah mau bekerjasama, itu bagus. Lebih baik kita mempersiapkan diri untuk menghadapi strategi berikutnya.” Nathan yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya memutuskan untuk menengahi ketika suasana berubah menjadi panas.


Tetapi Xavier tampaknya sedang tidak ingin berhenti mengganggu Akram. Sudah terlalu lama dia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Akram, dan saat ini cukup berharga baginya meskipun bentuk percakapan itu hanyalah berupa pertengkaran. Lagipula, sikap galak Akram sama sekali tidak membuat Xavier gentar.


Mengabaikan peringatan Nathan, lelaki itu bersedekap, sementara matanya menyipit penuh ejekan.


“Kalau aku jadi aku, sudah kunikahi Lana dan kubuat hamil hingga dia tak bisa lepas dariku,” ujarnya dengan nada penuh provokasi.


“Beraninya kau!” Akram membentak marah, hampir saja dia hendak bangkit dari duduknya kalau saja Nathan tidak menahannya.

__ADS_1


Xavier terkekeh mendengarnya. “Kau pikir, bagi Elana, dirimu ini siapa, Akram? Saat ini kedudukanmu hanyalah sebagai seorang lelaki yang mengikat Lana dengan paksa agar menjadi milkmu dan melayani kebutuhan seksmu di atas ranjang. Apa yang kau berikan kepada Lana sebagai gantinya? Apa yang kau tawarkan kepadanya sebagai ganti kepemilikanmu atas dirinya? Kau tentunya tahu bahwa Lana tidak sama seperti perempuan lainnya yang bisa puas jika kau memberikannya perhiasan permata, apartemen mewah atau bahkan mobil sport keluaran terbaru. Yang dibutuhkan oleh Lana adalah penghormatan terhadap harga dirinya, sesuatu yang sepertinya sampai dengan detik ini, telah lupa kau berikan,” kalimat Xavier menohok Akram dengan tajam hingga membuat Akram terpaku ketika menelaahnya.


Akram ternyata masih tak sanggup menyanggah ketika Xavier kembali melanjutkan kata-katanya.


“Bahkan aku, yang baru saja mengenal Lana, lebih tahu darimu. Kau sibuk dengan arogansimu, memamerkan kekuasaanmu, menunjukkan kekuatanmu atas Lana dan lupa bahwa yang diinginkan seorang perempuan biasanya adalah sesuatu yang sederhana. Menurutmu, apa yang akan terjadi ketika tiba-tiba ada lelaki lain yang datang mendekat dan mampu memberikan apa yang dibutuhkan oleh Lana? Mampu memberikan penghormatan atas harga dirinya, mampu memandangnya sebagai individu yang setara untuk berjalan bersisian dan bukannya memaksanya tunduk mengikuti di belakang?”


“Kalau ada lelaki yang berani berbuat seperti itu, maka aku akan membunuhnya.” Akram menggeram penuh ancaman yang dia tujukan langsung ke arah Xavier.


Mata Xavier menajam. “Lakukan saja, maka Lana akan semakin membencimu sampai ke dasar. Kau adalah seorang pemimpin perusahaan yang sangat ahli dalam memajukan perusahaanmu, tetapi kemampuan personalmu menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan perasaan sungguh menyedihkan. Kuharap kau menyadari kesalahanmu sebelum Lana benar-benar membekukan hatinya dan yang tersisa darinya hanyalah cangkang kosong nan dingin yang tersedia untuk kau setubuhi tanpa arti,” Xavier mengangkat bahu, akhirnya menyadari tatapan penuh peringatan dari Nathan yang sedikit memaksa dan menganggukkan kepala tipis. “Sampai di sini dulu percakapan kita. Kurasa kalian akan menginap di sini, karena Dimitri jelas mengatakan bahwa dia akan mengirimkan utusannya kemari esok pagi. Kamar-kamar tamu sudah disiapkan, silahkan membuat diri kalian sendiri nyaman di sini,” sambil berucap dengan nada acuh, Xavier membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Keheningan langsung membentang di seluruh penjuru kamar, hingga Nathan akhirnya menoleh dengan hati-hati ke arah Akram. Lelaki itu sedang terpaku, tampak tengah menelaah seluruh kalimat yang dilemparkan oleh Xavier kepadanya, wajahnya pucat tetapi ekspresinya gelap dan muram, membuatnya tampak seperti hantu yang baru saja dibangkitkan dari kematian dan siap untuk membalas dendam.


“Kurasa kau harus mengisi waktu yang ada ini untuk beristirahat, Akram. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk saat ini selain menunggu. Setidaknya, lakukan itu untuk mengumpulkan kekuatanmu,” Nathan memberi isyarat pada anak buah Akram untuk mendorong kursi roda yang telah disiapkan dan membawanya mendekat, “Ayolah, mereka akan mengantarkanmu ke kamar tidur tamu yang sudah disiapkan.”


Akram memberikan isyarat penolakan kepada Nathan dan memelototi anak buahnya supaya menyingkir, membuat si anak buah malang itu tergopoh-gopoh membawa kursi roda itu menjauh dengan dipenuhi ketakutan. “Aku bisa berjalan ke kamar tamu sendiri,” dengan keras kepala Akram mencoba bangkit, sebentar dia terhuyung, tetapi kakinya yang kokoh akhirnya memperoleh keseimbangannya.


Sebelum pergi, Akram menolehkan kepala ke arah Nathan dan menatap dengan cemas. “Elios saat ini sedang bersama pengacaraku untuk membicarakan tentang proses akuisisi perusahaan. Nathan, berbicaralah dengan Xavier tentang efek racun di tubuh Elana. Dia membutuhkannya dalam waktu tiga hari ke depan, jadi waktuku sempit untuk menyelamatkannya. Kau yang bisa berbicara dengan Xavier tanpa harus bertengkar dengannya, tanyakan kepadanya apakah setelah pemberian serum kedua ini, kondisi Elana sudah cukup kuat untuk bertahan, lalu tanyakan juga, seberapa besar kesempatan Elana pada hari ketiga nanti.”


Nathan menganggukkan kepala, memahami sinar kecemasan yang nyata di mata Akram.


“Aku melakukannya. Istirahatlah,”


***



***


Xavier meletakkan cangkir tehnya, lalu membalas tatapan Nathan dengan tajam.“Maka Lana akan mati,” jawabnya tenang.


Nathan membanting tubuhnya di sofa yang terletak di sudut perpustakaan itu dan mengerutkan keiningnya.“Apakah sama sekali tidak ada toleransi? Bahkan setelah pemberian serum penawar yang kedua, hasilnya tetap sama?” tanyanya cepat.


“Serum penawar itu diberikan dengann dosis khusus yang penuh kehati-hatian. Jika kurang, maka tidak akan berimbas, jika berlebihan maka akan membunuh Lana. Aku sudah bilang kepadamu, bukan? Serum itu baru akan benar-benar bersih di hari ketiga. Jika sampai hari ketiga nanti Lana tidak bisa diselamatkan, maka dia akan mengalami hipotermia dan mati.”


Nathan terdiam, menelaah perkataan Xavier, lalu melemparkan pertanyaan yang sejak tadi terasa mengganggunya.


“Apa sebenarnya yang menjadi motivasimu, Xavier?”


Xavier mengangkat alis. “Menyelamatkan Lana, memangnya apalagi?”


"Elana adalah perempuan yang sangat berarti bagi Akram, dan biasanya kau membunuh yang seperti itu, bukannya menyelamatkannya. Kau seperti bukan dirimu sendiri saat ini. Apakah kau sedang bersandiwara dan menyusun rencana khianat di belakang?” Nathan langsung menyahut dengan cibiran, menunjukkan ketidakpercayaannya.

__ADS_1


Xavier langsung terkekeh. “Lalu kau pikir seperti apa diriku yang sesungguhnya? Kau pikir aku tak punya hati, bukan?”


“Kau memang tak punya hati.” Nathan mengiyakan dengan cepat, lalu melemparkan tatapan penuh peringatan ke arah Xavier sambil beranjak berdiri. “Saat ini kami masih membutuhkanmu untuk bekerjasama. Jadi, kami akan berkompromi. Tetapi, jangan kau pikir kami kehilangan kewaspadaan, Xavier. Fokus kami saat ini memang untuk menyelamatkan Elana, tetapi kami akan segera tahu kalau kau mengambil langkah berkhianat di belakang.”


“Aku membenci pengkhianat, sudah tentu aku tidak akan membuat diriku menjadi salah satu di antara mereka.” Xavier menyahut dingin, matanya membalas dengan menantang ke arah mata Nathan yang menelisik kepadanya. Lalu, dirinya hanya memasang senyum sedih di wajah ketika Nathan berbalik untuk beranjak pergi dan meninggalkan ruangan.


Akram sungguh beruntung karena memiliki orang-orang yang begitu setia dan rela berkorban bagi dirinya. Seandainya saja dia memiliki satu saja orang yang seperti itu, dia akan menjaganya baik-baik dan tak akan membiarkannya terlepas lagi.


***



***


Sadar bahwa apa yang hendak direncanakannya mungkin akan ketahuan kalau dia melakukannya di luar sini, Michaela memasukkan kembali ponselnya dan bergegas melangkah menaiki tangga, segera memasuki kamar tidurnya. Dikuncinya pintu untuk mencegah dirinya terpergok di tengah percakapan penting, juga untuk mencegah ada yang mencuri dengar, lalu ditekannya nomor yang sudah sangat dikenalnya itu.


“Kakak,” Michaela langsung memanggil begitu ada sahutan dari seberang sana. Yang dipanggil dengan sebutan ‘kakak’ oleh Michaela ini sebenarnya adalah Tedy, kakak tirinya yang selama ini selalu setia menjadi pendamping Michaela, berdiri di sampingnya sebagai pengawal dan pengikut setianya, bahkan sejak Michaela meniti karir sebagai seorang aktris dari bawah hingga menjadi aktris pemenang penghargaan seperti saat ini.


Mungkin karena kesalahan genetik, kakak Michaela sama sekali tidak memiliki jejak rupawan pada dirinya, penampilan fisiknya sangat bertolak belakang dengan Michaela. Tedy memiliki tubuh sedikit bungkuk, muka lebar dengan tulang pipi yang terlalu menonjol, hidung yang hampir tanpa tulang penyangga dan bola mata menonjol yang seolah hendak meloncat keluar dari rongga matanya. Kemampuan intelektual Tedy juga kurang, sehingga dia selalu tampak seperti laki-laki bodoh dari luar.


Segala kekurangan itu membuat Michaela enggan mengakui Tedy sebagai kakak tiri saudara sedarah dari satu ibu, dia tidak ingin dipermalukan ddlan dituduh melakukan operasi plastik jika sampai kecantikannya disandingkan dengan kakaknya yang jelek. Sepanjang waktu di depan orang-orang, Michaela memperlakukan Tedy seperti jongos rendahan yang diperintah dan disuruh-suruh semaunya, toh Tedy juga tidak keberatan melakukannya. Sebab, bisa berada di dekat Michaela tanpa diusir menjauh sudah merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.


Tetapi di balik semua kekurangan Tedy, Michaela mempertahankan Tedy karena lelaki itu begitu penurut, setia dan sangat memujanya. Jika Michaela meminta Tedy membunuh orang demi dirinya, kakak tirinya itu pasti akan langsung melakukannya tanpa pikir panjang.


Dan di saat-saat seperti ini, Tedy yang bodoh itu sungguhlah akan sangat berguna baginya.


“Aku punya tugas untukmu. Datanglah ke rumah Dimitri nanti malam. Aku akan bilang kepada penjaga gerbang bahwa aku memang menunggu kedatanganmu, kau akan bisa masuk kemari dengan mudah,” Michaela berucap dengan nada memerintahnya yang biasa, sementara matanya berkilat jahat, membayangkan betapa puasnya dia nanti saat memandang perempuan jelek yang katanya kesayangan Akram itu, dijamah dan dinodai oleh Tedy hingga rusak parah.


***



***


“Aku akan pergi menemui pengacaraku untuk mempersiapkan semua berkas yang kuperlukan guna memuluskan proses akuisisi perusahaan,” Dimitri tidak bisa menyembunyikan suaranya yang bersemangat ketika dia merapikan dasinya dan menolehkan kepala ke arah Michaela yang duduk dengan tenang sedang menyantap makan siangnya. “Kau sedang tidak ada jadwal syuting?” tanyanya kemudian ke arah Michaela.


Michaela mengelap mulutnya. “Jadwal syuting sudah selesai akhir pekan kemarin, jadi kurasa aku akan menghabiskan jeda waktu senggangku untuk beristirahat,” senyum Michaela tampak menggoda ketika dia melemparkan tatapan sensual ke arah Dimitri. “Kalau saja kau tidak begitu sibuk dengan urusanmu, kita bisa menghabiskan waktu seharian di ranjang dan bersenang-senang,” godanya perlahan.


Dimitri menyeringai. “Nanti, sayang. Nanti setelah semua selesai, aku akan membawamu ke Vienna, kota paling romantis di dunia dan kita bisa bersenang-senang semau kita,” lelaki itu mendekat ke arah Michaela dan melumat bibirnya penuh nafsu. “Mungkin aku akan pulang larut malam, gunakan waktu liburmu untuk beristirahat,” setelah melepaskan pertautan bibirnya, Dimitri pun melangkah pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Michaela yang tersenyum jahat penuh dengan makna terselubung.


***

__ADS_1



__ADS_2