
Suara Akram terdengar jelas di tengah malam yang sepi itu. Karena itulah setiap patah katanya bergitu jelas, menggema di udara nan bersih tanpa satupun gangguan yang mungkin bisa menyebabkan salah arti. Elana tidak mungkin lagi salah dengar.
Akram bilang… dia sedang mengandung?
Tubuh Elana menegang ketika dirinya berhasil mencerna apa yang dikatakan oleh Akram kepadanya. Sontak tubuhnya bergerak, hendak menjauh pergi. Tetapi dengan sigap Akram mencengkeramnya dalam rangkulan, menariknya kembali ke dalam pelukan dengan begitu kencang seolah-olah takut Elana akan meloncat turun dari tempat tidur dan meninggalkannya.
“Jangan pergi,” suara Akram terdengar parau, bersiap untuk kemungkinan seburuk apapun. “Kau boleh membenciku karena menghamilimu tanpa sepengetahuanmu. Tapi jangan benci anak itu dan jangan pergi.”
Ada nada permohonan yang menyayat hati di suara Akram. Seolah-olah, kali ini lelaki itu benar-benar kehilangan kepercayaan dirinya di titik paling rendah yang bisa dia alami, takut kalau Elana akan meninggalkannya.
“Akram,” Elana berusaha menetralkan perasaannya sendiri, sekaligus berusaha menenangkan Akram. “Kau… menyakitiku,” apa yang dikatakan Elana terdorong oleh rasa sakit yang terasa di tubuhnya serta napasnya yang mulai sesak karena begitu kerasnya Akram memeluknya.
Begitu mendengar nada suara Elana, Akram seolah disadarkan, lengannya terbuka sukarela, melonggarkan pelukan meskipun tak sepenuhnya melepaskan. Lelaki itu menunduk, menatap ke arah Elana dengan ekspresi gelap tak terbaca.
“Apakah kau akan mencoba meninggalkanku lagi setelah ini?” desisnya dengan nada sedikit mengancam, membuat Elana melebarkan mata.
“Kenapa aku… harus mencoba meninggalkanmu?” Elana menyahut cepat.
Ada banyak hal yang carut marut di dalam benaknya ketika mendengarkan pemberitahuan Akram, tetapi entah kenapa, meninggalkan Akram sama sekali tak terlintas dipikirannya.
Elana merasa sedikit marah karena dirinya seolah-olah dibodohi oleh Akram, tetapi dia tak semarah itu hingga merasa ingin meninggalkan Akram.
Lagipula… seorang bayi… seorang bayi tumbuh dalam perutnya. Benarkah itu nyata?
Tangan Elana bergerak mengusap perutnya, dipenuhi ketakjuban bercampur rasa tak percaya. Perutnya masih begitu rata, dan selain rasa mual yang menyiksa bergolak dari perutnya, Elana tak merasakan hal lain lagi yang menandakan bahwa bayi itu ada di dalam sana.
Apakah benar saat ini ada bayi yang sedang bertumbuh di dalam perutnya?
Akram sendiri mengerjapkan mata, seolah terkejut mendengar pertanyaan balik Elana tersebut.
“Setelah mengetahui kalau aku membuatmu hamil… kau tak membenciku setengah mati dan berpikir untuk meninggalkanku?” tanyanya kembali, mengutarakan pemikirannya sekaligus mengutarakan apa yang membuatnya memeluk Elana begitu erat hingga nyaris menyakitkan tadi.
Elana menipiskan bibir. Didongakkannya kepala dan perlahan dia mencoba berkepala dingin membahas hal ini. Sekarang… sekarang sedang ada janin yang berkembang di dalam perutnya… Elana harus lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan apapun, demi bayinya.
“Kau… apakah karena kehamilanku ini, yang menjadi alasan kau melamarku?” itu adalah pertanyaan penting yang harus diajukan oleh Elana terlebih dahulu, untuk menentukan sikapnya selanjutnya.
Akram telah membuatnya percaya bahwa pernikahan yang ditawarkannya adalah karena cinta, tetapi kenyataan tentang kehamilannya ini membuatnya ragu.
Apakah mungkin… Akram menawarkan pernikahan ini demi kepentingan sang bayi?
Kalau begitu… kalau begitu mungkin Elana masih membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil sikap dan perasaan dalam menghadapi pernikahan mereka. Sebab, mengambil sikap untuk pernikahan atas nama cinta, tentu berbeda dengan mengambil sikap untuk pernikahan yang dilakukan demi masa depan bayi mereka.
“Elana,” Akram menggunakan jarinya untuk mengangkat dagu Elana supaya menengadah menghadap ke arahya. “Aku bahkan sudah berniat menikahimu sebelum bayi itu ada,” tatapan mata Akram tajam ketika berucap, pun dengan suaranya yang terdengar jujur dipenuhi ketulusan. “Dengan atau tanpa adanya bayi kita, aku akan tetap menikahimu,” sambungnya dengan nada suara mantap.
Elana mengerutkan kening, mencoba percaya tetapi masih merasa ragu. Bagaimanapun waktunya terasa pas dan semua berlagsung begitu cepat. Lamaran Akram, percepatan pernikahan mereka, dan juga…. Keberadaan bayi ini…
“Kau sudah mengetahui aku hamil sejak pertama kali aku terbangun di rumah sakit, bukan? Kalau begitu… kenapa kau tidak mengatakan tentang bayi ini lebih cepat?” tanya Elana bingung, sedikit bercampur dengan curiga.
Akram meraih tangan Elana dan mengecupnya. “Karena aku berpikiran hal yang sama denganmu. Aku ingin kau menerima lamaranku berdasarkan pertimbangan perasaanmu yang sesungguhnya, karena kau memang ingin menikahiku. Bukan karena adanya bayi yang membuatmu merasa harus menikahiku sebagai ayah dari bayi yang kau kandung,” ketika Elana masih tak juga berkata-kata, Akram menyambung kembali dengan nada putus asa.
“Aku sudah melamarmu terlebih dahulu bahkan sebelum aku mengetahui bayi itu ada, Elana. Aku sudah mencintaimu lebih dulu… ketika kau diculik, ketika kau terkena racun, semua itu membuatku berada di titik dimana aku sadar bahwa aku tak mampu kehilanganmu. Pada saat itulah, aku memutuskan untuk menyerah pada perasanku, mengakui cintaku kepadamu dan ingin menjadikanmu milikku dalam ikatan pernikahan,” mata Akram meredup oleh kelembutan nan lembut. “Bayi itu adalah hadiah tak terduga, yang kuterima dengan senang hati, kuharap… kuharap ketika kau membuka hatimu untukku dan menerima lamaranku, kau juga akan menerima kabar kehamilanmu dengan bahagia.”
Elana termenung, berusaha mencerna kalimat panjang Akram yang menghangatkan hati itu. Tetapi, di suatu titik, kening Elana berkerut dalam dan dia menatap Akram dengan pandangan terkejut tak terkira.
Tangan Elana bergerak untuk mencengkeram tangan Akram yang masih menyentuh dagunya, matanya bersinar serius dengan tatapan lebar yang membuat jantung Akram seolah-olah direnggut paksa dari rongga dadanya.Kalimat berikutnya bahkan terdengar lebih mengejutkan hati, membuat Akram hanya bisa terperangah ketika mendengarnya.
“Akram! Aku tak mungkin hamil!” seru Elana setengah berteriak dengan ekspresi bersungguh-sungguh, “Dokter Nathan pasti salah memeriksa!” sambungnya yakin.
***
***
Sekali lagi Maya tampak mencoba mencari informasi dari laptop yang ada di depan matanya. Keningnya berkerut dalam sementara bibirnya mengerucut penuh kemarahan, merasa tak puas dengan apa yang terpampang di hadapannya.
Sungguh aneh, baru kemarin dia melakukan pencarian atas nama Elana Layl di internet dan tidak menemukan apapun, seolah-olah Elana adalah makhluk dari angkasa luar yang tiba-tiba saja muncul ke bumi ini tanpa membawa jejak masa lampaunya yang bisa ditelusuri.
Kemarin tak ada data apapun tentang Elana Layl, sama sekali tak ada. Sekarang, tiba-tiba saja, seluruh data tentang Elana muncul ketika dia melakukan pencarian, tertata rapi dengan urut seolah-olah disusun dengan begitu lengkap oleh seseorang, khusus untuk memuaskan manusia-manusia penuh rasa ingin tahu semacam dirinya.
__ADS_1
Disitu tertulis kalau kedua orang tua Elana sudah meninggal, Elana tidak dilahirkan di negara ini, tetapi di luar negeri, ibunya meninggal karena sakit, ayahnya meninggal karena kecelakaan, Elana lalu dibawa pulang ke negara ini dan dirawat di sebuah panti asuhan kecil pinggiran kota.
Pendidikan perempuan itu tertera jelas di sana, sekolah negeri biasa… sampai lulus Sekolah Menengah Atas. Setelah itu, tak ada lagi keterangan pendidikan tambahan di sana. Catatan pendidikannya pun biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol dari Elana yang mungkin bisa dibanggakan seperti yang ada pada riwayat pendidikan Maya yang gemilang.
Apakah data ini memang sengaja dihilangkan sebagian demi privasi atau kepentingan lain… ataukah memang Elana tidak menempuh pendidikan lain setelah Sekolah Menengah Atas?
Mata Maya makin melebar penuh kemarahan ketika membayangkan kemungkinan bahwa Elana hanyalah lulusan Sekolah Menengah Atas biasa.
Bagaimana bisa si jenius Xavier mengambil anak lulusan SMA rendahan sebagai asistennya? Apakah pertimbangan Xavier sudah dibutakan oleh cinta?
Terlebih lagi… jika memang Elana dengan pendidikan rendahnya itu berhasil mencuri hati Akram Night seperti yang dikatakan oleh Credence kepadanya tadi, bagaimana bisa Maya menerima kekalahannya begitu saja? Bagaimana mungkin Maya rela dikalahkan oleh seorang perempuan dengan pendidikan rendah, penampilan biasa-biasa saja dan segalanya yang tentu saja Maya lebih unggul di segala bidang?
Yang lebih menjengkelkan lagi, semua data tentang Elana Layl ini sebelumnya tak ada sama sekali, dan sekarang tiba-tiba muncul sepenuhnya seolah semuanya hanyalah data buatan yang diciptakan untuk mempermainkan orang yang mencari tahu.
Elana sudah pasti bukanlah orang biasa-biasa saja, ada sesuatu tersembunyi tentang perempuan itu yang pasti berbahaya. Akram Night pastilah tertipu oleh kepolosan penampilannya.
Bisa saja Elana sebenarnya adalah perempuan berbahaya yang dikirimkan oleh suatu sindikat penjahat untuk mencelakakan Akram di saat lelaki itu lengah, bukan?
Maya harus berusaha mencari tahu lebih jauh lagi. Dia tidak akan menyerah sebelum menemukan bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa Elana bersalah di depan Akram.
***
***
Xavier bertopang dagu dengan malas di depan Laptopnya. Sebenarnya, dia melakukan ini semua karena dia sedang bosan dan juga sudah kebiasaannya untuk bersikap waspada sehingga tidak ada salahnya dia mengawasi Maya lebih jauh, termasuk juga dalam hal aktivitas Maya di laptopnya.
Tak disangkanya, ketika kemarin dia meretas laptop Maya, dia malah menemukan hal yang menarik.
Dari kemarin, Maya terus menerus berusaha mencari tahu tentang Elana, perempuan itu berusaha sekuat tenaga dan tanp sampai melakukan segala cara, sampai mencoba masuk ke dalam data yang berwajib dan juga masuk ke deep web meskipun akhirnya perempuan itu gagal melakukannya. Meskipun begitu, keingintahuan Maya yang besar terhadap Elana menggelitik jiwa Xavier, hingga akhirnya dia bekerjasama dengan Elios dan mengambil data-data baru tentang Elana yang sudah disiapkan untuk pengumuman pernikahan perempuan itu dengan Akram Night, dan memasangnya seketika sebagai umpan bagi Maya.
Sudah diduga, ternyata Maya masih belum menyerah malam ini. Perempuan itu masih mencari-cari seperti orang gila, berusaha menemukan hal tersembunyi yang sebenarnya tak ada, dan langsung menyambar umpan informasi yang diberikan oleh Xavier dan melahapnya habis-habisan.
Xavier tak suka perempuan yang dipenuhi keingintahuan yang tak pada tempatnya, juga perempuan sok pintar yang merasa dirinya lebih baik dari yang lain serta meremehkan yang lain. Dan Maya sudah masuk ke dalam daftar perempuan yang tak disukainya.
Saat ini, meskipun Maya tak menyadarinya, dia sedang berada di bawah pengawasan ketat Xavier. Apapun gerakan Maya nanti yang mungkin bisa membahayakan Elana, Xavier akan mencegahnya terlebih dahulu. Tetapi, jika nanti tindakan Maya hanyalah berupa rencana licik ala perempuan picisan yang pada akhirnya malah akan mempermalukan dirinya sendiri, maka Xavierlah yang akan maju di barisan paling depan untuk bertepuk tangan dan menertawakannya.
***
***
Akram mengangkat alisnya dan menatap Elana bingung. Elana tampak bersungguh-sungguh dengan perkataannya hingga Akram sedikit percaya. Tetapi, hasil pemeriksaan Nathan sudah pasti dipastikan setelah penelitian lab yang memiliki integritas tinggi, kemungkinan salah sangatlah kecil….
“Aku… waktu di kantormu, dokter Nathan menyuntikku dengan suntikan kontrasepsi, bukan? Itu kan periode tiga bulan setelah yang sebelumnya, bukankah dokter Nathan bilang kalau tubuh perempuan disuntik dengan kontrasepsi, maka hormon tubuh dikondisikan seolah-olah sedang hamil sehingga tak bisa dibuahi? Jangan-jangan kalian salah mengira kondisi tubuhku sebagai kehamilan, padahal aku tak sedang hamil?”
Akram tertegun mendengar rentetan perkataan yang keluar dari bibir Elana. Pada akhirnya, setelah dia berhasil mencerna semua salah paham Elana, bibirnya yang tadinya kaku langsung terurai membentuk senyuman lebar.
Perlahan Akram menggelengkan kepala.
“Elana, kau salah paham. Nathan hanya menyuntikmu dengan vitamin waktu itu….”
Elana melebarkan mata. “Jadi, kalian berbohong kepadaku, dengan senga tidak menyuntikkan kontrasepsi, untuk membuatku hamil?” tuduhnya cepat, mengambil kesimpulan tergesa.
Sekali lagi Akram menggelengkan kepala. “Tidak Elana, Nathan menghindari suntikan hormon kontrasepsi dan memilih untuk tidak menyuntikmu, karena kemungkinan besar, kau sudah hamil sebelum kejadian itu. Aku tak pernah menjebakmu dengan kehamilan, Elana. Kehamilanmu itu murni dikarenakan ketidaksengajaan,” Akram menghentikan kalimatnya, lalu menghela napas panjang. “Maafkan aku, untuk seorang seusiaku, aku harusnya lebih bertanggung jawab dalam melakukan segala sesuatu, tetapi, kehamilanmu adalah murni karena keteledoranku… meskipun aku sama sekali tak menyesalinya,” ucapnya dengan nada bersungguh-sungguh.
Elana mengerutkan kening. “Jadi aku sudah hamil sebelumnya?” benaknya langsung menghitung-hitung dengan saksama di awang-awang, lalu dia memandang Akram dengan tatapan terkejut. “Astaga, aku memang harusnya sudah menerima suntikan kontrasepsi jauh sebelumnya…,” ujarnya baru tersadar setelah menghitung.
Akram menganggukkan kepala. “Racun dari Xavier dan penculikan Dimitri membuat jadwal suntikanmu terlambat, Nathan tak mau terjadi risiko terjadi komplikasi antara hormon dan racun sehingga dia sengaja menunda jadwalnya untukmu. Dan aku…” ada rona merah tipis yang melintas di tulang pipi Akram nan tinggi. “Dan aku yang tak bisa menahan diri, akhirnya malahan memelukmu tanpa pikir panjang begitu aku mendapatkanmu kembali dari tangan Dimitri. Aku hanya ingin memelukmu saat itu, dan persetan dengan segala perhitungan kalender kesuburan.”
Akram menghela napas ketika mendapati tatapan Elana yang masih bingung ke arahnya, akhirnya dia menjelaskan perlahan, supaya benar-benar tak ada sangkaan di benak Elana bahwa Akram berusaha menjebak dan membohonginya dengan sengaja.“Ketika aku sudah terlanjur bercinta denganmu tanpa pengaman, Nathan menelepon dan mengatakan bahwa kau sedang dalam puncak masa suburmu dan kemungkinanmu untuk mengandung sangatlah besar. Kau tahu apa yang kurasakan saat itu? Aku merasa takut."
"Takut?" Elana membuka mulutnya ingin tahu. "Kau takut karena aku mungkin hamil?" tanyanya kemudian.
Akram menggelengkan kepala. Sekarang, setelah mendapatkan kesempatan dimana mereka berdua bisa berbicara dari hati ke hati, Akram memutuskan untuk jujur kepada Elana. Kehamilan ini adalah hal terakhir yang pernah dirahasiakannya kepada perempuan itu, setelahnya, Akram bertekad tidak akan merahasiakan apapun lagi. Mereka akan menapak ke langkah yang baru setelah pernikahan mereka nanti, dan Akram ingin mengawali semuanya dengan benar, demi Elana, demi anaknya, dan demi keluarga kecil mereka yang akan segera terbentuk nanti.
"Aku tidak takut karena kehamilanmu bukan bayi itu yang membuatku takut, tetapi rasa bahagiaku. Pada saat itu, aku terpompa oleh ledakan kebahagiaan hingga di titik aku merasa takut. Aku begitu ingin memilikimu hingga aku takut kau tak merasakan hal yang sama. Kau tahu? Membayangkan kau mengandung anakku, membayangkan bahwa 23 kromosommu bergabung dengan 23 kromosomku, hingga membentuk bayi dengan 46 kromosom lengkap yang merupakan perpaduan dari kita berdua. Membayangkan sesosok bayi terbentuk di rahimmu, anak kita berdua yang mungkin mewarisi segala yang terbaik dari kita berdua nantinya... membuatku begitu bahagia hingga aku sesak napas," Akram menenggelamkan Elana kembali ke dalam pelukannya. "Saat itu aku memutuskan, bahwa terhadap anak ini, aku akan memuja dan menyambutnya dengan senang hati, sepenuhnya seperti aku mencintai ibunya," Akram mengecup dahi Elana lembut, lalu menyambung lagi dengan pertanyaan bernada was-was. "Kau sama sekali tidak menyatakan pendapatmu sejak tadi, dan itu membuatku bertanya-tanya... apakah kau juga senang dengan kehamilan ini sama sepertiku, ataukah kau membencinya karena anak ini membuatmu terjebak?" Akram menundukkan kepala dan menatap Elana lurus-lurus. "Apakah kau jadi ingin melarikan diri dariku?"
"Akram," Elana menegur, merasa sedih ketika berkali-kali Akram menyebut tentang Elana yang ingin melarikan diri dengannya.
__ADS_1
Ya, Elana sangat bertekad melakukannya dulu, tetapi itu dulu ketika hatinya belum menerima Akram dan Akram masih memperlakukannya sebagai benda mainan dan tak menghormati dirinya sebagai seorang perempuan.
Sekarang, bahkan tanpa keberadaan bayi ini, Elana sudah bisa menerima bahwa dia akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama lelaki itu. Ditambah lagi, dengan keberadaan bayinya bersama Akram di dalam perutnya, misalnya di detik ini Elana belum berubah hati sekalipun, sudah tentu Elana tak akan sejahat itu memisahkan seorang anak dari ayah kandungnya.
Tetapi, lidah Elana kelu. Bagaimana cara dia mengungkapkan kepada Akram kalau dia sama sekali tak keberatan dengan keberadaan bayi di dalam perutnya? Apalagi setelah Akram menjelaskan bahwa bayi ini tercipta sebagai sebuah ketidaksengajaan yang indah, bukannnya sebagai alat untuk memerangkapnya....
Instingnya sebagai seorang ibu, sudah tentu akan langsung mencintai bayi ini begitu dia menyadari keberadaannya di perutnya.
Elana baru saja membuka mulutnya, hendak berbicara, tetapi pada saat yang sama, Akram meraih kedua tangan Elana dan mengecupnya.
"Aku dan anakku di dalam perutmu, adalah satu paket yang sudah pasti akan menyayangimu terus menerus di masa depan nanti. Aku mohon, terimalah kami berdua, dan kami berjanji bahwa kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu," Akram berucap dengan nada bersungguh-sungguh, dan cara Akram menyebutkan dirinya dan calon anaknya sebagai suatu kesatuan entah kenapa membuat Elana tak bisa menahan tawa.
Bibirnya yang tadinya membuka hendak memberikan jawaban serius, membentuk seringai lebar yang berubah menjadi kekehan tawa perlahan. Elana menenggelamkan wajahnya ke dada Akram untuk menyembunyikan tawanya, tetapi tetap saja pundaknya berguncang tanpa bisa disembunyikan.
Sikap ceria Elana menular, menciptakan seringaian lebar dan mata berbinar dari pihak Akram, lelaki itu menundukkan kepala dan menciumi sisi wajah Elana yang bersembunyi di dadanya dengan sikap penuh sayang.
"Hei," aku sedang memohonkan penerimaanmu, bukannya sedang melawak, kenapa kau malahan tertawa?" bisik Akram dengan senyum dalam nada kalimatnya. Suara kekehan tawa Elana entah kenapa terdengar bagaikan musik di telinganya. Sepanjang dia mengingatnya, Elana jarang tertawa lepas ketika berada di dekatnya, dan sekarang rasa hangat membuncah di dadanya, menciptakan percik kebahagiaan yang menerangi seluruh bagian jiwanya, ketika dia memeluk perempuannya yang tertawa.
Tawa Elana pastinya adalah pertanda baik. Perempuan itu tidak menangis, tidak menuduh dan tidak marah kepadanya. Perempuan itu tertawa. Jadi, Akram boleh berharap sedikit lebih tinggi, bukan?
Dipeluknya Elana erat-erat, diciuminya rambut, dahi, pelipis dan seluruh sisi wajah Elana untuk mengungkapkan kasih sayangnya.
"Aku akan menganggap tawamu ini sebagai jawaban," Akram akhirnya melabuhkan bibirnya di bibir Elana dan mengecupnya pelan, membuat tawa Elana tertelan dan wajahnya merona oleh nuansa malu bercampur bahagia. "Elana Layl, kita akan melangsungkan pernikahan segera," putusnya kemudian dengan nada tegas.
***
***
Hai, 1 part ini mungkin satu-satunya yang akan lolos di hari Senin. Author sedih kalau kalian menunggu2 tanpa kepastian buat lolosan Review, jadi jangan menunggu lagi kalau misal yang 1 ini bisa lolos senin ya. Tunggu InsyaAllah di hari selasa.
3 part yang lain mungkin baru lolos Selasa, karena hari ini author sempat tarik kembali untuk revisi bagian pentingnya demi kesempurnaan naskah.
Mohon maaf sebelumnya. AY
***
***
Jangan lupa, dukung Author dengan VOTE RANKING AUTHOR dengan cara menyumbangkan POINMU ke novel Essence Of The Darkness
( saat ini baru bisa di NOVELTOON, di MANGATOON belum bisa )
3 pemberi poin terbanyak SEPANJANG bulan NOVEMBER ( minggu terakhir ) dan DESEMBER ( akumulasi poin, bukan mingguan ) akan mendapatkan tumbler yang bisa dicustom nama sebagai hadiah.
Untuk Yuuri Hikaru, penyumbang poin terbanyak minggu kemarin ( November hanya ada 1 minggu karena rank vote poin baru dibuka 25 November) , terima kasih banyak ya karena telah bersedia memberikan poin yang pasti dikumpulkan dengan susah payah kepada author.
Follow Author ya, Author akan hubungi kamu untuk menanyakan alamat dan custom nama di tumbler. Tetapi, hadiahnya dikirim barengan sama pemenang DESEMBER di awal Januari nanti gpp ya. Sekali lagi terima kasih atas sumbangan poin darimu.
Untuk yang belum dapat, jangan khawatir, hadiah Desember nanti berdasarkan akumulasi November ( 1 minggu terakhir ) dan juga Desember, jadi poin yang kalian sumbangkan kemarin terus diakumulasi dan diperhitungkan. Pengumuman pemenang di Awal Januari nanti ya.
UCAPAN TERIMA KASIH UNTUK SEMUA PEMBACA YANG TELAH MEMBERIKAN POINNYA.
Dan untuk semua pembaca yang telah menyumbangkan poin bagi Author sehingga minggu kemarin author mendapatkan ranking satu: TERIMA KASIH BANYAK tulus dari hati author. Sungguh tak menyangka kalau karya ini akan diapresiasi oleh kalian sebesar itu. Terima kasih.
Author tak bisa menyebutkan satu persatu, tetapi semoga rasa terima kasih author tersampaikan kepada kalian tanpa kecuali.
Author ga bisa membalas apa-apa, selain terus menuliskan part-part terbaru cerita ini yang semoga bisa menyenangkan kalian, dan author akan berusaha supaya poin yang kalian berikan tidak sia-sia.
Thank You, Thank You, Thank You!
Salam hangat, AY
__ADS_1