
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
Tinggal 3 Episode Lagi!
EOTL 128 : Selasa 10 November 2020
EOTL 129 & EOTL 130 : Jumat, 13 November 2020
EOTL akan tamat di episode 130 ( Jumat, 13 November 2020 )
Bonus Epilog EOTL ( FREE ) dan Ebook Full plus Bonus 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA 17 NOVEMBER 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )
Setelah EOTL Tamat, Bonus Epilog + 10 Part EOTL ( Xavier’s Happy Family ) akan menjadi konten premium yang hanya bisa diakses baca eksklusif melalui website projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers
Season 3 dari The Essence Series, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers dan bisa dibaca gratis sampai tamat.
***
***
***
“Kau benar-benar pria pengecut, Xavier! Kau benar-benar tak tahu malu!” Aaron berteriak-teriak dengan marah dan panik karena dia tak bisa melepaskan diri. “Bagaimana mungkin kau hendak membunuh musuhmu dengan cara pengecut seperti ini? Kau bukan laki-laki!”
Ada kilatan puas di mata Xavier ketika melihat Aaron yang berteriak-teriak panik ketakutan ketika menghadapi kematiannya. Namun, lelaki itu sama sekali tak tergerak dengan kalimat provokasi yang berhamburan dari mulut Aaron. Dengan tenang dia menyiapkan suntikannya dan berlutut di depan Aaron.
Begitu wajah Xavier dekat dengannya, Aaron berusaha meludah dengan panik, tetapi Xavier yang sudah menduga tindakan Aaron itu berhasil menghindarinya dengan mudah.
“Pegangi dia.” Xavier memberi perintah kepada anak buahnya yang langsung mengikuti perintahnya dengan sigap. Posisi Aaron saat ini adalah layaknya hewan ternak yang akan disembelih, dipegangi dan tak bisa tengkurap. Salah seorang anak buah Xavier bahkan menarik kerah kemeja Aaron untuk mengekspos area tengkuknya.
“Kau tak bisa melakukan ini! Kau tak bisa membunuhku dengan cara seperti ini!” Aaron terus berteriak-teriak seperti orang gila ketika jarum yang dipegang oleh Xavier terarah ke lehernya.
“Siapa bilang aku akan membunuhmu?” Masih sempat didengarnya gumaman menertawakan dari mulut Xavier ke arahnya sedetik sebelum ujung jarum itu tertancap di lehernya, mengalirkan cairan yang langsung terasa nyeri di pembuluh darahnya. Aaron berusaha meronta, tetapi efek dari cairan itu dengan cepat mengambil alih tubuhnya, merenggut kesadarannya dan membuatnya lemas lalu memejamkan mata ketika kendali pikirannya digantikan oleh selubung kegelapan.
Masih sempat Aaron memikirkan kalimat terakhir yang didengarnya dari Xavier itu di dalam pikirannya.
Xavier... tidak membunuhnya?
***
Kepala Aaron terasa pening seperti ditusuk oleh ribuan jarum dan dipukul pukul oleh ratusan palu berujung tajam yang menusuk-nusuk otaknya dan merajamnya tanpa ampun.
Aaron mengerutkan keningnya menahan sakit. Tubuhnya gemetaran menahan nyeri, apalagi ketika dirasakannya rasa sakit di kepalanya merambat ke sekujur tubuhnya.
Seperti inikah rasanya kematian itu? Sebegini menyakitkankah mati itu?
Pertanyaan itu bergema di benak Aaron ketika dia berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali ke dalam kepalanya. Kebingungan melingkupi dirinya ketika dia seolah mendengar suara pikirannya sendiri yang bergaung di dalam kepalanya.
Jika dia memang sudah mati, kenapa dia masih mendapatkan pikiran sadarnya seperti ini?
Mata Aaron terasa berat, seolah-olah bulu mata yang menggayuti kelopaknya bertambah beban menjadi berkilo-kilo beratnya, membuatnya harus berjuang sekuat tenaga untuk membuka kelopak matanya itu. Butuh waktu lama bagi Aaron hanya untuk membuka matanya saja, pada akhirnya, saat dia berhasil melakukannya, keringat dingin langsung bercucuran di pelipis dan sekujur tubuhnya, terasa membasahinya.
Aaron mengerjap ketika cahaya terang langsung menyambar matanya yang terbuka, menyebabkan nyeri mengerikan langsung menghantam kepalanya dan memaksanya memejamkan matanya lagi.
Namun, Aaron tak menyerah, kali kedua dia mencoba membuka matanya kembali, kali ini dengan gerakan pelan-pelan dan berhati-hati.
Pandangannya tampak buram karena matanya yang tadinya terselubung kegelapan terpaksa menerima berkas cahaya yang langsung menusuk pandangannya. Namun, setelah beberapa kali mengerjapkan mata, Aaron akhirnya berhasil menatap segala sesuatunya dengan jelas.
Dia memandang ke langit-langit kamar sebuah ruangan, lalu memandang ke sekeliling.
Dia belum mati?
Yang ada di sekitarnya ini jelas-jelas adalah sebuah ruangan sederhana. Tidak ada tempat tidur di sana. Hanya ada sebuah meja dan sofa tunggal, lalu kursi tempat Aaron duduk sekarang. Mata Aaron mengawasi tubuhnya sendiri dan wajahnya memucat ketika menyadari bahwa dirinya terikat dengan penahan besi di sekitar pinggangnya yang memaku tubuhnya sehingga dia tak bisa beranjak dari kursi besi itu. Tangannya pun bernasib sama, tertahan oleh borgol besi yang menyatu dengan pegangan kursi besi tersebut.
Aaron benar-benar dibuat tak bisa bergerak dengan posisinya yang seperti ini.
Rasa gemetar karena ketakutan langsung menghantui diri Aaron. Dia membayangkan bahwa Xavier tidak membunuhnya karena lelaki itu ingin memuaskan hasrat kejinya untuk menyiksa Aaron dengan kejam sebelum memberikannya kematian kepadanya.
Benar juga! Xavier adalah lelaki jahat yang sangat kejam! Lelaki itu pasti tak rela untuk memberikan kematian dengan mudah kepada dirinya!
__ADS_1
Ketakutan membahana di dalam benak Aaron hingga membuat gemetarnya tak terkendali. Jantungnya sendiri memacu, bertalu-talu memukul rongga dadanya dengan kuat seolah ingin memecahnya.
Lalu di titik ketika Aaron tak tahan lagi, pintu ruangan itu terbuka, membuat Aaron dengan waspada langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pintu, ingin menyumpahi Xavier Light yang pasti datang untuk menyiksanya.
Namun, yang ada di hadapannya sungguh tak diduganya. Duduk di atas kursi roda yang didorong oleh seorang bodyguard berpakaian hitam-hitam, adalah Serafina Moon!
***
“Sera?”
Aaron memanggil dengan suara parau, matanya melebar menatap wanita yang menjadi obsesinya itu. Tatapannya mengikuti seluruh gerakan Sera, seolah-olah kerinduannya membuatnya kehausan dan ingin dipuaskan.
Sera memasang wajah tanpa ekspresi. Dibiarkannya Derek mendorong kursi rodanya ke tengah ruangan, berhadap-hadapan dengan posisi tempat Aaron duduk, lalu dia mengangguk memberi isyarat ke arah Derek.
Derek semua menatap nyonyanya itu dengan ragu. Dia sama sekali tak habis pikir kenapa Tuannya Xavier membiarkan istrinya yang masih lemah sehabis melahirkan ini untuk berdua-duaan saja dengan Aaron yang sangat berbahaya. Yah, Aaron memang sudah dibuat tak berkutik dengan diikat di kursi khusus untuk tahanan gila yang merupakan salah satu produksi dari pabrik senjata milik Akram. Kursi itu sangat kuat mengikat tubuh siapapun yang cukup malang untuk terperangkap di sana. Jika orang itu mencoba untuk melepaskan diri tanpa memasukkan kode kunci dari si pemilik kursi, kursi itu akan memberikan setruman listrik tegangan tinggi yang bisa menghanguskan korbannya menjadi abu dalam kematian yang menyakitkan.
Mereka juga memasang kamera pengawas di ruangan ini, masih ditambah dengan penjaga yang ada di depan ruangan yang bisa masuk dalam beberapa detik jika mereka menemukan sesuatu yang tak beres.
Pesan dari Tuan Xavier ada dua, yang pertama adalah melindungi Nyonya Sera dan yang kedua adalah mencegah Aaron melarikan diri bagaimanapun caranya.
Derek menghela napas untuk menelan keraguannya, lalu menganggukkan kepalanya ke arah Sera.
“Kami semua ada di luar pintu ini.” Derek memberitahukan dengan nada tegas untuk membuat nyonyanya merasa aman, lalu lelaki itu melangkah ke luar ruangan dan menutup pintunya, meninggalkan Sera hanya berduaan bersama Aaron.
“Sera? Kenapa kau menemuiku?” Ditinggalkan berduaan dengan Sera membuat Aaron mendapatkan kembali keberaniannya. “Apakah kau ingin menyelamatkanku? Kau pasti ingin menyelamatkanku, bukan? Demi masa lalu?” tanyanya dengan putus asa, bersemangat menantikan harapan baik yang mungkin bisa disambutnya dengan tangan terbuka.
Sera tidak menjawab pertanyaan Aaron. Perempuan itu memilih memindai keseluruhan diri Aaron yang berbeda. Lelaki ini sudah tak berwajah Aaron yang dikenangnya dari masa lalu, suaranya memang masih tetap sama, tetapi penampilannya sungguh berbeda.
Tetapi itu lebih baik, jika wajah Aaron berbeda, itu akan membantu Sera untuk memperlakukan Aaron sebagai orang asing.
“Kenapa kau bertindak sejauh ini, mengubah wajahmu dan mengejarku sampai kemari? Bukankah selama ini kau tidak pernah menginginkanku?” Sera membuka mulutnya dan mengajukan pertanyaannya.
Aaron sedikit tertegun ketika mendengarkan suara dingin Sera. Perempuan itu tampak menyimpan kebencian kepadanya.
Apa yang ditanamkan oleh Xavier di kepala Sera? Apakah lelaki itu telah mencuci otak Sera hingga membencinya? Kemana Seranya yang selalu menatapnya penuh pujaan, mempercayainya dengan tulus dan mengikuti apapun perkataannya?
“Kenapa kau bersikap seperti ini kepadaku, Sera?” Aaron menggunakan kata kunci yang biasanya selalu berhasil membuat Sera luluh kepadanya. “Apakah kau lupa ikatan kuat kita berdua di masa lampau? Aku menyelamatkan nyawamu! Aku yang menyelipkan roti untukmu di saat kau kelaparan! Aku yang memberikan obat untukmu saat kau terluka parah! Aku bahkan rela menanggung kemarahan paman Roman saat aku melindungimu dari murkanya!” Aaron menatap Sera dengan tatapan menggebu. “Apakah kau sejahat itu hingga melupakan hutang budimu hanya karena nafsu sesaat pada laki-laki yang bahkan tak mencintaimu?”
“Ya! Laki-laki yang tak mencintaimu! Xavier Light! Suami palsumu itu! Apa kau pikir aku tak tahu tujuan utamanya menikahimu dan berpura-pura menjadi suami yang baik? Dia hanya ingin mengambil sel punca dari plasenta anak kalian untuk keselamatan dirinya sendiri! Lelaki jahat itu hanya ingin memanfaatkanmu, Sera! Jangan jadi perempuan bodoh yang dibutakan oleh cinta lalu menyerahkan segalanya dan ditipu mentah-mentah!”
Sera mengepalkan kedua tangannya. Perkataan Aaron membuat Sera mengingat bagaimana kuatnya Xavier menolak untuk menggunakan sel punca dari plasenta si kembar. Lelaki itu mencemaskan keselamatan si kembar di masa depan karena penyakit genetik ini dan bahkan mengabaikan keselamatannya sendiri. Bagaimana mungkin Aaron berucap jelek mengenai Xavier padahal dia sama sekali tak tahu apa-apa mengenai Xavier?
“Xavier tidak seperti itu.” Sera berusaha menjaga suaranya tetap datar meskipun dadanya bergolak penuh emosi.
Aaron melebarkan matanya, keputusasaan tampak mewarnai dirinya hingga lelaki itu berjuang keras untuk membuat Sera percaya kepadanya.
“Kau dibutakan oleh wajah suamimu! Kau jadi lupa siapa yang berjasa kepadamu hingga kau bisa seperti ini. Aku orangnya, Sera! Akulah yang membuat dirimu menjadi sosokmu yang sekarang! Kalau bukan karena dirimu, kau mungkin sudah mati terluka infeksi karena luka bekas cambukan yang terbuka. Kau mungkin juga sudah mati kelaparan dikurung di gudang itu! Akulah yang menjadi sahabatmu di saat-saat susahmu, akulah yang menjadi pendukungmu di saat kau butuh kekuatan untuk menopangmu! Bagaimana mungkin kau tega melupakan semua jasaku kepadamu hanya karena nafsu sesaat?”
Napas Aaron terengah saat lelaki itu mengucapkan kalimat beruntun yang menyembur tak terkendali. Ketika lelaki itu berhasil menormalkan napasnya, matanya menatap ke arah Sera seolah menahan sakit. “Lihatlah aku, Sera. Aku ini Aaronmu! Apakah kau sudah lupa? Tidakkah kau sadar? Akulah satu-satunya pria yang mencintaimu dengan tulus! Hanya aku! Bukan Xavier!”
Sera menggigit bibibirnya.
“Ya. Aku tidak menyangkal bahwa kaulah yang menyebabkan aku menjadi Sera yang sekarang, yang berdiri di sini dihadapanmu,” jawabnya kemudian.
Mata Aaron langsung melebar penuh harap. Sera menerima pemikirannya! Tinggal membuat Sera menyadari cintanya saja maka dia akan bisa membujuk Sera untuk membantunya melepaskan diri dari tempat terkutuk ini!
“Ya! Ya! Sekarang kau mengerti, kan Sera? Akulah manusia yang paling berjasa kepadamu! Kau harus sadar bahwa Xavier tak ada artinya jika dibandingkan dengan diriku....”
“Kaulah yang berjasa untuk membuat hidupku semakin menderita! Kaulah yang merusak kehidupanku tanpa aku mengetahuinya dan sekarang kau memintaku berterima kasih kepadamu?”
Sera tiba-tiba menyela dengan suara gemetar penuh kegeraman, dan kalimat yang diucapkannya itu sungguh tidak disangka oleh Aaron hingga membuatnya membeku dengan mata melotot dan mulut menganga.
“A-apa? Kau bilang apa, Sera?” tanyanya dengan suara gemetaran, merasakan firasat buruk di dalam hatinya.
Mata Sera yang menatapnya kemudian tampak berkaca-kaca, tetapi mata itu juga dipenuhi oleh nyala api yang berkobar, nyala dari seorang wanita kuat yang disakiti hatinya.
“Aku sudah tahu semuanya, Aaron. Kau pikir Xavier tidak menceritakan semuanya kepadaku? Kau menghamili Anastasia Dawn, kau juga bekerjasama dengan Roman Dawn untuk mencuci otakku, berperan sebagai penyelamat untuk membuatku berhutang budi kepadamu. Apakah kau tidak tahu? Kalian semua sungguh jahat, menanamkan trauma kepada diriku, membuatku seperti boneka pembalas dendam yang bisa kalian kendalikan semaunya? Pada waktu itu kau tidak memikirkan aku sebagai individu, aku hanyalah alat bagimu! Perempuan bodoh yang kau buat jatuh cinta kepadamu, dan kau tertawakan karena kau telah berhasil mengelabuhiku begitu lama tanpa aku menyadarinya!”
Tangan Sera kembali terkepal ketika terucap, ujung kukunya menekan kuat, menancap hingga melukai telapak tangannya. Tapi Sera tidak merasakannya. Hatinya lebih sakit saat berucap, hingga air matanya jatuh bergulir membasahi pipi.
Aaron masih terperangah mendengar rentetan kalimat yang dilemparkan oleh Sera kepadanya. Pada saat itulah dia menyadari bahwa tipis harapan baginya untuk menyelamatkan diri jika Sera tidak mendukungnya. Matanya melebar kembali, menatap Sera dengan dipenuhi oleh kepanikan, berusaha membela diri sekuat tenaga.
“Itu fitnah! Itu fitnah! Bagaimana mungkin kau lebih percaya Xavier Light jika dibandingkan dengan diriku? Aku lebih lama bersamamu sedangkan Xavier baru saja bertemu denganmu! Bagaimana mungkin kau mengkhianati ikatan persaudaraan dan persahabatan yang terjalin lama di antara kita hanya demi mempercayai kebohongan yang difitnahkan oleh Xavier kepadaku?” Aaron berteriak keras dalam nada penyangkalan yang nyata, tahu bahwa ini adalah satu-satunya kesempatannya untuk melarikan diri.
Tapi Sera bergeming, tak tersentuh sama sekali dengan ucapan Aaron. Perempuan itu mengusap air matanya, lalu mengangkat dagunya dengan angkuh terhadap Aaron.
__ADS_1
“Waktuku bersama Xavier memang jauh lebih singkat dibandingkan dengan waktuku bersamamu. Namun, di dalam waktu yang singkat itu, kebaikan dan ketulusan yang diberikan oleh Xavier bahkan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kelicikan dan kejahatan yang kau lakukan kepadaku, Aaron.”
“Bagaimana mungkin aku jahat kepadamu?” Aaron menyanggah dengan suara kuat. “Tidak tahukah kau bahwa aku mencintaimu? Aku tak ingin kehilanganmu! Aku berjuang untuk bisa hidup bersamamu? Kau pikir, untuk apa aku repot-repot mengubah wajahku lalu mempertaruhkan nyawaku hingga ke tempat ini kalau bukan karena aku mencintaimu? Aku bisa saja hidup enak-enak di Rusia sana, menikmati harta warisanku dan bersenang-senang! Tapi aku tidak melakukannya! Itu semua karena aku ingin menyelamatkanmu dari cengkeraman tipuan Xavier! Bagaimana mungkin kau bilang aku tidak mencintaimu, padahal aku telah mengorbankan begitu banyak hal demi dirimu?”
“Seharusnya kau bersenang-senang dengan hidupmu sendiri dan tak mengganggu hidupku lagi, Aaron. Seharusnya ketika Xavier memberikan kebebasan kepadamu dalam nampan emas, kau langsung mengambilnya saja dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.” Sera menyahuti dengan nada marah, membuat napasnya sedikit terengah.
“Namun, sayangnya kau malahan tidak mengambilnya dan membiarkan dirimu dikuasai oleh ego dan obsesimu. Ya, apa yang kau rasakan kepadaku itu bukan cinta. Aku bisa membedakannya karena aku tahu seperti apakah dicintai dengan cinta sejati. Apa yang kau rasakan kepadaku hanyalah obsesi untuk memiliki. Selama ini aku memujamu dan menjadi bonekamu dengan pasrah, seolah-olah menjadi benda yang kau miliki dengan mudah, tetapi ketika aku mengalihkan pandanganku darimu, egomu yang tinggi itu tak tahan lagi. Kau tak bisa menerima bahwa kau tak menjadi pusat pemujaanku lagi, karena itulah kau mengejarku dan ingin memilikiku. Kau sama sekali tak mencintaiku Aaron, dan ketika kutengok perasaanku di masa lalu, aku jadi sadar bahwa sesungguhnya aku juga tak pernah mencintaimu.”
Wajah Aaron memucat, tubuhnya seolah kehilangan daya ketika mendengar kalimat Sera itu. Matanya menatap ke arah Sera dengan penuh penyangkalan dan bibirnya berucap dengan suara terkejut nan parau.
“Apa? K-kau tak pernah mencintaiku?”
“Aku mengira bahwa kau adalah penyelamatku. Aku mengira kau adalah sahabatku. Karena itulah aku memujamu dan menjadikanku pusat duniaku. Aku dibutakan oleh rasa hutang budi dan ditipu oleh sikapmu yang seperti malaikat bagiku. Namun, saat semua kedok kepalsuanmu terbongkar, musnah sudah apapun yang pernah kurasakan kepadamu. Bahkan bisa dibilang, aku tak merasakan apapun mengenai dirimu.” Mata Sera terlihat dingin ketika dia mengucapkan kalimatnya.
Perempuan itu kemudian bergerak, mencoba bangkit dari kursi rodanya. Semua gerakannya tampak tertahan oleh kondisi tubuhnya yang masih lemah, tetapi Sera berhasil menguatkan diri, menggunakan lengannya yang rapuh untuk berpegangan di lengan kursi roda itu guna membantunya berdiri.
Ketika akhirnya Sera berhasil berdiri dengan tegak, perempuan itu kemudian menyeret langkahnya, tertatih perlahan mendekati tempat Aaron terikat di kursinya.
Aaron membeliak. Entah kenapa ada sesuatu di mata Sera yang membuatnya ketakutan. Seluruh tubuhnya yang terperangkap di kursi itu menegang, tak bisa melakukan apapun selain menunggu.
Sera tidak berdiri di hadapan Aaron. Perempuan itu malahan memutar di belakang Aaron, lalu Aaron merasakan tangan Sera yang dingin menyentuh lehernya.
“Kaulah yang membayar orang untuk menganiaya ayahku di penjara dan membuat beliau mengalami koma, bukan? Kau hendak menjadikan ayahku sandera di masa lampau, dan bahkan di masa sekarang, kau juga hendak menjadikan ayahku yang terbaring koma dan tak berdaya menjadi sanderamu lagi, demi menuntaskan keinginan jahatmu yang dipenuhi ego.” Sera berucap perlahan dengan nada lambat-lambat di belakang Aaron. “Aku tak akan membiarkan keluargaku atau orang lain menjadi korban kejahatanmu lagi, Aaron.”
Aaron berusaha mendongakkan kepala ke belakang untuk melihat wajah Sera, tapi lehernya memiliki batas kemampuan untuk meregang, membuatnya menunduk kembali dengan putus asa.
“Aku tidak melakukannya!” Aaron menyangkal, masih berusaha membela dirinya. Tapi suaranya langsung tersekat ketika merasakan ujung jarum yang tajam menyentuh lehernya dan menembus permukaann kulitnya. Sesuatu yang menggigit terasa bercokol di dalam kepalanya, membuat rasa pusingnya yang tadi sempat dia lupakan kembali datang, memukul-mukul kepalanya dengan rasa nyeri yang tak bisa diabaikan.
Ada rasa gatal bercampur panas menyengat dari bekas suntikan di lehernya, Aaron ingin menyentuh bekas itu dan menggaruknya, tapi tak bisa melakukannya karena tangannya terikat. Pada akhirnya, dia menggerak-gerakkan tubuhnya dengan panik, melampiaskan rasa frustasinya dengan gerakan membabi buta.
“Lepaskan aku! Apa yang kau suntikkan kepadaku, hah? Dasar ******! Percuma saja aku mencoba menyelamatkanmu! Tahu begitu, di masa lampau kubiarkan saja kau mati!”
Aaron mulai mengumpat dengan penuh kemarahan, tetapi hal itu tak membuat ekspresi Sera berubah. Perempuan itu tersenyum, mengamati bekas suntikan di leher Aaron dengan puas.
Sebelum masuk ke dalam ruangan ini, Xavier telah mengajarinya menyuntikkan benda seukuran nano itu ke leher Aaron. Dia merasa bangga karena dia berhasil melakukannya dengan sempurna.
“Ada dua hal yang disuntikkan kepadamu. Yang pertama, yang disuntikkan sendiri oleh Xavier kepadamu, adalah racun yang berkembang lambat di dalam tubuhmu, kau harus mendapatkan penawar secara berkala dari Xavier kalau kau ingin bertahan hidup. Hanya Xavier yang bisa membuat penawar racun itu dan formulanya tak ada di manapun, karena hanya ada di dalam kepala Xavier. Dengan begitu, hidupmu tergantung pada kehidupan Xavier. Jika Xavier hidup, maka kau akan mendapatkan suplai penawar itu dengan aman.” Sera menjelaskan dengan nada dingin.
Ketika dirinya mengawasi Aaron yang sekarang, dia yakin benar bahwa perasaannya di masa lampau memang sudah mati.
“Yang kedua, yang kusuntikkan kepadamu, adalah bom seukuran nano yang sekarang pasti saat ini telah bergerak dan berhasil bercokol di batang otakmu. Bom itu bisa meledak sewaktu-waktu kalau dirasa kau memang pantas diledakkan. Akulah yang memegang kendali atas bom itu, dan aku tidak akan pikir panjang untuk meledakkan bom itu jika kau datang kembali untuk mengganggu ketenangan keluargaku. Oh, jangan lupa, bom itu juga merupakan alat pelacak keberadaanmu dan merupakan pengawas khusus dari dalam kepalamu. Xavier akan membebaskanmu, Aaron, kau akan hidup jauh di sana, jauh dari keluarga kami. Namun, ingatlah, kau tidak akan pernah mendapatkan kebebasanmu yang sesungguhnya. Kau akan selalu diawasi, baik di luar kepalamu, maupun dari dalam kepalamu sendiri. Kurasa, itulah hukuman yang paling pantas untukmu. Hidup dalam siksaan karena terbelenggu oleh racun di tubuhmu dan bom di dalam kepalamu.”
Sera melanjutkan ucapannya dengan nada tegas, melangkah mundur tertatih menjauhi sosok tubuh Aaron yang mulai oleng kehilangan kesadaran.
“Enyahlah dari kehidupan kami dan jangan datang lagi,” bisik Sera perlahan ke arah Aaron yang mungkin sudah tak mendengarnya. Perempuan itu melemparkan pandangannya ke arah Aaron, lalu menghela napas kemudian.
Selamat tinggal, Aaron.
Sera berbisik dalam hati, dengan tegas memutuskan semua ikatan masa lalunya dengan Aaron, lalu membuka pintu dan melangkah keluar dari sana, membanting tertutup pintu ruangan tempat Aaron berada di belakangnya.
Ketika melangkah keluar dari ruangan itu, seketika tubuh Sera langsung jatuh ke pelukan Xavier yang telah menunggu di depan pintu. Lelaki itu langsung merengkuh tubuh rapuh Sera ke dalam pelukannya, memeluknya erat, menghadiahkan ciuman penuh kasih dan tangan kuatnya mengusap-usap punggung Sera untuk memberikan dukungan.
Bendungan perasaan yang ditahan oleh Sera langsung rubuh menjadi kepingan debu, air mata Sera seketika membanjir, membuatnya menangis terisak di dalam pelukan suaminya yang hangat dan menenangkan.
Xavier menerima tangisan Sera di dadanya, membiarkan istrinya menumpahkan perasaan di dalam pelukannya. Wajahnya tenggelam di dalam rambut Sera, sementara bibirnya mengucapkan bisikan lembut yang dipenuhi cinta luar biasa.
“Kau hebat, Sera. Aku bangga kepadamu. Aku mencintamu.”
***
***
***
Tinggal 3 Episode Lagi!
EOTL 128 : Selasa 10 November 2020
EOTL 129 & EOTL 130 : Jumat, 13 November 2020
EOTL akan tamat di episode 130 ( Jumat, 13 November 2020 )
Bonus Epilog EOTL ( FREE ) dan Ebook Full plus Bonus 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA 17 NOVEMBER 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )
Setelah EOTL Tamat, Bonus Epilog + 10 Part EOTL ( Xavier’s Happy Family ) akan menjadi konten premium yang hanya bisa diakses baca eksklusif melalui website projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers
Season 3 dari The Essence Series, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers dan bisa dibaca gratis sampai tamat.
__ADS_1