
Mendengar suara Aaron tersebut, pramugari itu menghentikan langkahnya dan menolehkan kepala. Keningnya berkerut karena tak menyangka bahwa tawanan berwajah pucat ini akan memanggil dan menahannya.
“Ada apa?” tanya pramugari itu dengan nada curiga.
“Kau pasti senang bisa menyingkirkan perempuan yang tadi menempel di pangkuan Xavier Light, bukan? Dia membuatmu diperlakukan secara tidak hormat di ruang duduk tadi.” Sahut Aaron segera, mengambil kesempatan sebisanya.
Sabina, sang pramugari cantik tersebut mengerutkan kening dan menimbang-nimbang. Dirinya sesungguhnya bukanlah pramugari biasa. Dia adalah perempuan yang memiliki berbagai kemampuan mumpuni dalam dunia bawah tanah yang dikelola oleh Dimitri, pemimpin organisasi mafia mereka yang sangat disegani.
Sabina ditugaskan secara khusus oleh oleh Dimitri untuk mengawal dan mendampingi Xavier pulang ke negaranya. Dimitri berpesan bahwa Sabina ditugaskan selama beberapa waktu di negara asal Xavier dan harus bisa mengawasi Xavier dengan baik lalu melaporkan segala hal yang berhubungan dengan Xavier kepadanya.
Karena Sabina sangatlah cantik, biasanya dia dengan mudah mendapatkan apa yang dia mau dengan mengandalkan tubuhnya. Semula, Sabina berpikir bahwa Xavier Light yang harus diawasinya ini sama seperti bos-bos besar lain yang telah ditangani dan berhasil ditaklukkannya. Mereka semua sudah tua, kebanyakan berkepala botak, berperut gendut dengan penampilan yang sangat tidak menarik. Tetapi, karena sudah menjadi tugasnya, Sabina biasanya tidak keberatan merayu, bahkan sampai tidur dengan orang-orang itu demi membuat mereka semua takluk di kakinya. Bahkan terkadang jika diperlukan, Sabina sendiri yang akan membunuh para lelaki itu di atas ranjang percintaan mereka dengan darah dingin dan tanpa belas kasihan.
Karena itulah, Sabina merupakan salah satu anak buah Dimitri yang cukup ditakuti. Dia bahkan mendapatkan nama alias sebagai Latrodectus Hesperus atau lebih dikenal dengan sebutan Black Widow. Itu adalah nama sejenis laba-laba beracun yang ini dikenal karena kecenderungan laba-laba betinanya untuk memakan jantan yang menjadi pasangannya setelah kawin.
Tadi, ketika menemukan bahwa sosok Xavier Light tidak seperti bayangan buruk yang diperkirakannya, Sabina terbakar oleh rasa terpesona hingga hampir kehilangan logikanya.
Baru kali ini dia ditugaskan untuk memata-matai lelaki setampan ini. Xavier Light merupakan perwujudan dari ketampanan seorang lelaki yang sesungguhnya, matanya sangat teduh dan dalam hingga bisa menenggelamkan semua wanita dalam pesonanya, struktur wajahnya yang sempurna masih pula ditunjang dengan bentuk tubuhnya yang proposional, ramping tapi kokoh, tidak terlalu kekar tidak pula terlalu kurus.
Satu yang pasti, Xavier Light sangat sesuai dengan tipe pria favorit Sabina.
Dimitri bilang bahwa Xavier Light berbahaya karena lelaki itu menggunakan racun sebagai senjatanya, tetapi menurut Sabina, dari pandangan pertama saja, terlihat jelas bahwa Xavier adalah pria elegan yang anggun dan berkharisma. Lelaki itu terlihat seperti tipe akademisi yang menggunakan landasan ilmiah untuk setiap tindakannya yang telah dipikirkan masak-masak.
Lelaki semacam itu, tak mungkin berbahaya atau melumuri tangannya dengan darah.
Niat awal Sabina yang semula hanya untuk memata-matai, berubah menjadi niat untuk memiliki. Dia mengerahkan segala pesonanya untuk merayu Xavier Light dengan penuh keyakinan berdasarkan pengalamannya sebelumnya.
Karena, lelaki mana yang tidak tertarik dengan tubuh indah dan wajah cantik rupawan yang dibarengi dengan penyerahan diri tanpa syarat?
Sayangnya, rencana Sabina lebur begitu saja di tengah prosesnya karena kemunculan sosok perempuan yang dipanggil oleh Xavier sebagai istri kesayangan dan kelinci kecilnya.
Bagaimana bisa perempuan itu menjadi istri seorang Xavier yang memiliki penampilan sempurna?
Sabina memendam kemarahan yang bergolak di dalam hatinya saat dia mengingat kembali ketika Xavier mengusirnya dengan kasar dari sisinya hanya untuk memberikan tempat bagi perempuan itu.
“Apa maksud perkataanmu itu?” Sabina menyahuti Aaron dan mengulang kembali pertanyaannya dengan kalimat lambat-lambat, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
Dia jelas mengerti bahwa tawanan berwajah pucat ini bukanlah orang yang kompeten dilihat dari kondisinya yang lemah dan tak bersenjata. Tetapi, tawaran untuk menyingkirkan perempuan jelek yang menghalangi jalannya mendapatkan Xavier, terlalu menggoda untuk dilewatkan.
Aaron menelan ludah. Dari awal, dia sudah tahu bahwa pramugari ini bukanlah pramugari biasa, Ketika diangkut ke dalam pesawat ini, dia sempat melihat salah seorang anak buah Dimitri yang menjadi supir Xavier, menyerahkan benda serupa ponsel mini ke dalam tangan pramugari ini.
Perempuan ini bahkan berani merayu Xavier terang-terangan. Hanya ada dua pilihan menyangkut hal ini, yang pertama dia adalah perempuan bodoh yang buta akan reputasi mengerikan Xavier, yang kedua, dia adalah perempuan kuat yang tidak takut pada Xavier.
Aaron mempertaruhkan dirinya untuk memilih pilihan yang kedua.
Perlahan Aaron membuka mulutnya, lalu berbisik pelan untuk mengungkapkan rencananya. Tak ada maaf di hatinya karena telah menggunakan Sera sebagai umpan. Yang penting saat ini, ada secercah cahaya yang bisa dia genggam sebagai penunjuk jalan menuju keselamatannya.
***
Ketika lelaki itu selesai memuaskan dirinya, seperti biasa, Xavier akan bersikap sangat lembut kepada Sera. Perlahan, tangan Xavier bergerak, merapikan kancing pakaian Sera yang dibukanya hingga kondisinya tak karuan, menutup kembali apa yang sempat terbuka dan dinikmatinya sebebas-bebasnya, lalu dikecupnya pelan dahi Sera, dengan sikap lembut dan kali ini tanpa hasrat bercinta lagi.
“Terima kasih,” bisik Xavier parau.
Lalu, tanpa menunggu jawaban tanggapan Sera, lelaki itu bangkit dari tubuh Sera dan duduk di pinggiran sofa.
Sera seketika merapikan roknya yang juga tersingkap, lalu menatap Xavier dengan sikap canggung. Lelaki itu masih duduk di pinggiran sofa tempat dia membaringkan Sera, menghalangi jalan Sera untuk bangkit dari sofa itu.
“Bisakah kau menyingkir? A-aku mau membersihkan diri,” Sera berucap dengan malu, wajahnya merah padam, apalagi mata Xavier masih mengawasi dengan tajam.
“Kenapa harus membersihkan diri? Nanti kau membuang benihku,” sahut Xavier menyeringai. Lelaki itu tahu kalau Sera sebenarnya ingin pergi dari tempat ini dan menjauhinya, tetapi dengan sengaja Xavier menahan, menggodanya.
Ucapan Xavier yang kurang ajar dan tak disaring itu membuat wajah Sera benar-benar panas. Dadanya bergolak naik turun antara malu dan kebingungan. Otaknya terasa kosong, membuatnya kesulitan mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
Sikap bingung Sera itu mau tak mau menyentuh hati Xavier. Lelaki itu lalu memutuskan untuk tak mengganggu Sera lagi dan berdiri dari posisinya duduk.
“Kamar mandi ada di sebelah sana.” Xavier menunjuk pintu besar di area yang berseberangan dengan bar. “Setelah kau selesai, kembalilah kemari karena kita sudah hampir tiba,” perintahnya kemudian dengan nada tegas.
__ADS_1
Sera sendiri tak mau lagi menanggapi Xavier. Begitu lelaki itu menunjukkan lokasi kamar mandi, dia segera bangkit dan melewati Xavier begitu saja, setengah berlari menuju area kamar mandi dan membanting pintunya menutup keras-keras setelah dia masuk, meninggalkan Xavier begitu saja sendirian di ruang duduk itu.
***
“Tunggu sebentar.”
Setelah mereka menuruni tangga pesawat di bandara, Xavier membantu Sera masuk ke dalam kabin penumpang mobil hitam yang telah menunggu. Lelaki itu lalu menutup pintu mobil dan melangkah menjauh, berbicara kepada anak buahnya untuk memberikan beberapa instruksi sebelum mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Ditinggalkan sendirian di kabin penumpang mobil, Sera tidak bisa duduk tenang. Dia bergegas menggeser tubuhnya mendekat ke arah jendela yang tertutup rapat, mengintip keluar.
Keningnya berkerut ketika melihat Aaron tengah dingiring menuruni pesawat. Bahkan dari jauh pun, lelaki itu tampak lunglai dan pucat pasi.
Apakah itu efek dari gas beracun yang terhirup oleh Aaron ketika mereka berada di rumah keluarga Dawn? Atau jangan-jangan, sama seperti dirinya, Xavier juga menyuntikkan racun, tetapi untuk Aaron dia menyuntikkan racun yang lebih berbahaya dan melemahkannya?
Perhatian Sera terkonsentrasi pada Aaron yang melangkah dengan dikawal oleh dua orang bodyguard bertubuh besar yang rapat di kiri dan kanannya menuju ke arah mobil lain yang sudah menunggu.
Aaron akan ditahan di mana?
Pertanyaan Sera menggema ke dalam benaknya, hingga ketika suara ketukan terdengar dari kaca sisi lain mobilnya membuat Sera begitu terperanjat hingga hampir terloncat dari duduknya.
Dengan waspada, Sera menolehkan kepalanya ke arah sisi lain mobilnya. Keningnya berkerut ketika melihat sosok wanita pramugari itu membungkuk di sana, mendekatkan wajahnya ke kaca mobil yang gelap.
Tangan si pramugari itu bergerak pelan, menyentuhkan ujung jarinya ke kaca mobil, lalu menggores di sana, membentuk huruf ‘A’ perlahan di kaca jendela yang berembun tersebut.
Langit sudah menggelap, tetapi cahaya lampu terang di tiang-tiang raksasa yang menerangi area luas bandara tersebut membuat Sera mampu melihat huruf yang digoreskan di sana dengan jelas.
Huruf ‘A’? Apakah maksudnya Aaron?
Dengan jantung berdebar, Sera menoleh ke sekeliling, meluaskan pandangan sejauh mungkin dan mencari-cari Xavier. Napasnya terembus lega ketika melihat Xavier sedang memunggunginya di area depan mobil, tampak sedang bercakap-cakap serius dengan anak buahnya. Lelaki itu bahkan tak meletakkan satu bodyguard pun untuk menjaga Sera di mobil ini, pun tak ada supir yang biasanya menempati bangku depan kursi mobil ini.
Apakah Xavier menganggap Sera benar-benar telah menyerah pasrah setelah dia mengikat dirinya dalam pernikahan dan menggunakan jaminan nyawa Aaron serta ayahnya?
Sera tak sempat menyimpulkan jawaban atas pertanyaannya sendiri karena ketukan di jendela mobilnya terdengar mendesak. Pramugari itu sepertinya juga gelisah karena tak mau ketahuan oleh Xavier sedang mengajak Sera berinteraksi.
Didorong oleh pikiran impulsifnya, tangan Sera langsung bergerak untuk menurunkan kaca jendela, menyediakan celah sempit yang cukup untuk berkomunikasi sekaligus menjaga keamanan dirinya dari serangan tak terduga. Ada sedikit keterkejutan terlintas di benaknya ketika kaca jendela itu ternyata bisa turun dengan mudahnya.
“Ada apa?” Sera bertanya perlahan, antara was-was bercampur ingin tahu.
Pramugari itu hanya menatap Sera tajam, lalu tangannya bergerak dan melemparkan benda hitam mungil melalui celah kaca jendela yang terbuka.
“Dari Aaron,” ucap pramugari itu setengah berbisik. Lalu, tanpa menunggu reaksi Sera selanjutnya, perempuan itu membalikkan tubuh dan menjauhi area mobil Sera sebelum dirinya ketahuan.
Sera termangu sambil mengambil kotak kecil berwarna hitam itu dan menjaganya tetap berada di tangannya. Matanya terus mengikuti punggung pramugari itu yang semakin jauh lalu menghilang ketika perempuan itu memasuki area gedung bandara. Lalu, seolah tersadar, Sera mengerjap dan segera menutup kaca jendela mobil dan kepalanya langsung menduk, menatap dengan penuh rasa ingin tahu benda yang ada di tangannya.
Benda itu berwarna hitam, berbentuk kotak dengan layar kecil dan satu tombol besar di sana. Bentuknya seperti ponsel tapi ukurannya sangatlah mini, sangat pas di telapak tangan Sera.
Pramugari itu bilang kalau benda ini berasal dari Aaron?
Dengan penuh rasa penasaran, Sera membolak balik dan memeriksa seluruh bagian ponsel itu. Kerutan di keningnya semakin dalam ketika dia akhirnya memutuskan menekan satu-satunya tombol yang ada di benda itu.
Layar benda itu langsung menyala, tidak terlalu terang dan mencolok seperti layar ponsel pada umumnya, tetapi cukup terang sehingga Sera bisa membaca tulisan yang terpampang di sana dengan jelas.
---Sera, pramugari itu mau membantuku. Ini adalah alat komunikasi dua arah lewat teks. Kau bisa berkomunikasi denganku menggunakan ini karena aku juga mendapat satu alat. Jaga benda ini baik-baik karena nyawaku tergantung pada benda ini dan dirimu. Aku akan menghubungimu lagi nanti jika situasi sudah aman. Aaron.---
Tulisan itu membuat Sera melebarkan mata dan terkesiap. Dengan waspada, matanya kembali terangkat untuk mencari-cari sosok Xavier. Ketika dilihatnya lelaki itu telah menyelesaikan percakapan dengan anak buahnya dan hendak membalikkan tubuh, tangan Sera yang menggenggam benda itu langsung gemetaran dan pikiran paniknya berusaha memeras otak, berusaha mencari tempat yang tepat untuk menyembunyikan benda itu.
Jangan di kantong… Xavier bisa saja menyuruh anak buahnya menggeledahnya untuk melihat ada atau tidak benda berbahaya yang dibawanya ketika memasuki rumah lelaki itu….
Tapi dimana? Dimana tempat yang aman dan bisa menjaga supaya benda itu tidak jatuh?
Sera menelan ludah ketika melihat langkah Xavier yang semakin dekat ke arah mobil. Tanpa pikir panjang, dia mengambil keputusan pertama yang muncul di kepalanya.
Tangannya bergerak memasukkan benda itu ke balik pakaiannya, masuk ke area dadanya dan menyelipkan ponsel mini itu ke balik bra-nya.
***
__ADS_1
Rumah Xavier berada di area perkotaan tetapi di dalam komplek perumahan mewah yang sangat menjaga privasi. Gerbang masuk menuju area rumah itu dijaga ketat oleh petugas keamanan yang melakukan beberapa prosedur pemeriksaan sebelum mereka bisa masuk ke dalam area tersebut.
Sera jadi berpikir, akan sulit untuk melarikan diri dari perumahan ini, karena mereka sepertinya juga melakukan pemeriksaan yang sama untuk orang-orang yang hendak keluar dari perumahan ini.
Setiap rumah dibatasi dengan taman raksasa dengan pagar tinggi yang membuat satu rumah dengan yang lain terpisah jauh. Sepertinya, semua penghuni perumahan ini adalah orang-orang yang menjunjung privasi tinggi serta tidak berniat mengurusi urusan satu sama lain.
Setelah membantu Sera turun dari mobil, lelaki itu langsung menggenggam tangan Sera dan tak melepaskannya.
“Selamat datang di rumah. Rumah ini sekarang menjadi rumahmu,” bisik Xavier lembut sambil membawa Sera melewati ruang tamu rumah megah rumah itu. “Kau sudah pernah di sini sebelumnya, jadi kurasa kau sudah familiar dengan situasi rumah ini. Tetapi, dengan senang hati besok aku akan menemanimu untuk tour ke sekeliling rumah sekaligus memperkenalkan nyonya baru mereka ke seluruh staf dan pegawai yang bertugas di rumah ini.”
Sambil berucap, Xavier tampak menganggukkan kepalanya sambil lalu kepada para pelayan dan pengawal yang menyambutnya di rumah itu. Lelaki itu tak menghentikan langkahnya untuk bertegur sapa dan langsung menghela Sera menaiki tangga menuju kamarnya.
Setelah mereka memasuki kamar, lelaki itu langsung menutup pintu di belakangnya, lalu menarik Sera yang hendak melepaskan cengkeraman Xavier di tangannya dan membawa tubuh Sera hampir merapat ke pelukannya.
“Mau kemana?” Xavier berbisik parau, menundukkan kepala dan menenggelamkan wajahnya di sisi lekukan antara leher dan bahu Sera, mengendus dan menghirup di sana dengan sensual hingga mengirimkan senyar ke tubuh Sera.
Xavier tak peduli penolakan Sera ataupun tubuhnya yang menegang kaku. Lelaki itu malahan menyelipkan tangannya di balik gaun Sera, mengangkat gaun Sera ke atas dan menggunakan tangannya untuk mengelus perut Sera dengan sikap menggoda.
“Aku bertanya-tanya apakah anakku sudah bersemayam di dalam sana,” desah Xavier serak tepat di telinga Sera, mengembuskan napas panasnya di sana.
Sera menggeliat, berusaha menyingkirkan tubuh Xavier yang mendesak paksa, merapat kepadanya dan mengancam akan meruntuhkan benteng pertahanannya.
“Jangan konyol, sudah jelas kalau aku belum hamil,” tubuh Sera terkesiap merasakan rabaan panas tangan Xavier di perutnya yang menggoda. “Lagipula, kita baru melakukannya kemarin. Kau… kau sudah melakukannya sebanyak enam kali sejak semalam sampai sesiangan tadi, dan sekarang kau mau lagi?”
“Pengantin baru biasanya melakukannya dalam frekuensi sering. Lagipula aku sedang sangat berdedikasi dalam usaha untuk bisa menghamilimu, jadi wajar jika aku berusaha keras.” Seringai di wajah Xavier melebar ketika mencerna perkataan Sera. “Kau menghitung berapa kali aku bercinta denganmu?” Xavier terkekeh, tampak senang dengan jawaban Sera, lelaki itu menggeser wajahnya dan mengecupi sisi wajah Sera. “Apakah aku perlu menyediakan papan untukmu sehingga kau bisa menulis turus di sana untuk menghitung berapa kali kita bercinta? Aku jamin, kau akan memenuhi papan itu dengan turusmu dalam waktu singkat,” sambungnya merayu.
Wajah Sera merah padam, dia hendak membuka mulutnya untuk mengeluarkan sanggahan, tetapi lelaki itu langsung menanamkan bibirnya di bibir Sera yang terbuka sementara tangannya bergerak membuka kancing depan gaun Sera. Membuat Sera panik luar biasa karena tangan Xavier hampir-hampir menyentuh tempat dimana dia menyembunyikan ponsel mini pemberian Aaron tersebut.
“Buka pakaianmu, wanita. Aku ingin bercinta,” perintah Xavier dengan nada tegas yang tak mau menerima penolakan.
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
Thank You
__ADS_1
Yours Sincerely - AY