
Untuk sekejap, Elana berusaha meronta. Itu semua karena pikiran rasionalnya menyadari bahwa mereka saat ini berada di tempat terbuka, berada di hadapan orang-orang lain yang bisa melihat mereka dengan begitu mudahnya.
Tangan Elana bergerak hendak mencengkeram bagian kemeja Akram, tetapi kemudian terhenti seketika ketika menyadari ada bekas luka tembakan Akram di sana. Jika dia menyentuhkan tangannya dengan serampangan, bisa saja dirinya nanti malahan menyentuh luka Akram yang masih belum sembuh benar dan menyakiti lelaki itu.
Akhirnya, Elana hanya bisa berdiri kaku dengan tangan terkepal ketika Akram melumat bibirnya dengan ciuman dalam yang penuh lumatan penuh nafsu. Lelaki itu mencecap bibirnya dengan sepenuh hasrat, seolah-olah apa yang dia lakukan dengan menggebu-gebu pada tubuh Elana semalam dan juga dini harinya masihlah tak cukup untuk memuaskan hasratnya. Bibirnya yang kuat menekan bibir Elana, sementara lidahnya menjelajah bagaikan pasukan perang yang menyerbu ke benteng pertahanan Elana dan menekan tepat di tempat kelemahan Elana. Lidah itu mencicip perlahan permukaan bibir Elana, lalu bergerak menggoda, menyentuh bagian bibir Elana yang terbuka. Ketika Elana terkesiap dan membuka mulutnya sedikit, Akram mendorong lidahnya masuk, sebelum kemudian menggoda seluruh bagian mulut Elana dengan penuh gairah.
Akram seharusnya dihukum karena memiliki keahlian mencium sehebat ini dan menggunakannya tanpa ampun pada seorang wanita malang yang tidak memiliki banyak pengalaman.
Elana menggerutu dalam hati sementara seluruh tubuhnya dipenuhi gemetar tak terkendali, merasakan kenikmatan menjalari dirinya tanpa bisa dibendung, membuat kakinya menjadi lemah sehingga pasti akan terjatuh kalau Akram tidak menahan tubuhnya dan menopangnya.
Entah berapa lama Akram memuaskan dirinya dengan sengaja dan dengan tanpa tahu malu. Ketika Akram akhirnya melepaskannya, napas Elana sama berkejarannya dengan napas Akram, tersengal-sengal berusaha mereguk oksigen karena mereka tadi terlalu sibuk memuaskan nafsu dengan ciuman yang sangat panas.
Akram mendorong Elana ke dalam pelukannya, mengusap lengannya perlahan dan membiarkan Elana menenggelamkan wajahnya yang merah merona karena malu luar biasa ke dadanya. Lelaki itu tampaknya berusaha menetralkan napasnya sendiri dan bersikap santai dengan meletakkan dagunya di puncak kepala Elana.
Elana menghela napas panjang, sama seperti Akram, dia juga sedang berusaha menenangkan diri dan menetralkan napasnya. Tetapi kemudian, di telinganya yang menempel ke dada Akram, dirasakannya lelaki itu tengah berdebar kencang. Seolah-olah jantungnya tengah memukul rongga dadanya dengan kekuatan penuh, didorong hasrat untuk meloncat keluar dari sana.
Dengan penuh rasa ingin tahu, Elana mendongakkan kepalanya dan pipinya kembali terasa panas ketika merasakan Akram tengah mengawasinya.
Selama ini, Elana hampir-hampir tidak pernah memperhatikan, dia selalu tahu bahwa Akram adalah sosok dengan penampilan fisik yang menawan, itu semua juga terbukti dengan banyaknya wanita yang tergila-gila dengan lelaki itu dan bermimpi untuk menjadi kekasihnya.
Tetapi, sekarang, ketika lelaki itu sedang menatapnya dengan kilatan mata dalam penuh emosi dan hasrat membakar yang bercampur aduk menjadi satu, dengan bibir yang memerah dan sedikit memucat di sekelilingnya akibat ciuman panas mereka tadi dan juga dengan geraham mengetat layaknya seorang pejuang tangguh yang sedang menahan diri untuk tidak segera bergembira dan mengklaim hasil kemenangannya, Akram tampak luar biasa mempesona di mata Elana.
Ini adalah kali pertama Elana menampakkan kilasan terpesona ketika menatap langsung ke arah Akram, dan Akram tentu saja menyadarinya. Sayangnya, hal itu tidak membuat kondisi tubuhnya yang mulai terasa nyeri karena bergairah menjadi lebih baik, malahan bertambah buruk, membuatnya merasakan dorongan primitif untuk memanggul Elana, membawanya ke ranjang terdekat dan bercinta dengan perempuan itu.
Tetapi tentu saja, Akram tidak bisa melakukan itu. Ada hal-hal yang harus diprioritaskan dan Akram tahu bahwa sekarang ini, kesembuhan Elana adalah yang utama. Dia harus bersabar sampai belasan jam ke depan untuk bisa memeluk perempuan itu lagi.
Dengan lembut Akram mengecup dahi Elana, lalu menghela tubuh perempuan itu ke arah petugas medis yang telah menunggu dengan sikap canggung, salah tingkah atas pertunjukan kemesraan panas yang tampaknya sengaja dipertontonkan oleh Akram Night di hadapan mereka.
“Aku akan menjemputmu nanti,”
Akram mengucapkan kalimat janji itu, dan membiarkan para petugas medis membawa Elana ke kamar perawatan seperti biasa.
***
***
Setelah tubuh Elana menghilang di balik lorong, Akram mengalihkan pandangannya ke arah Xavier, bersiap-siap untuk konfrontasi.
__ADS_1
Xavier menyunggingkan seringai lebar, lalu memiringkan kepala sambil mengawasi Akram dengan sikap mengejek.
“Kau mungkin membutuhkan tisu di sebelah sana,” mereka saat ini berada di area ruang tamu Xavier, dan lelaki itu dengan sengaja mengedikkan dagunya ke arah kotak tisue berwarna emas yang tersedia di meja ruang tamu tersebut.
Akram mengikuti arah yang ditunjuk oleh Xavier, lalu mengerutkan kening dengan marah ke arah lelaki itu kembali.
“Tisu untuk apa?” sambarnya kasar.
Dengan santai Xavier menggerakkan ujung jarinya membuat gerakan melayang melingkar di hadapan bibirnya sendiri, ekspresinya tampak menahan tawa.
“Untuk menghapus bekas noda lipstick Lana dari bibirmu. Kau benar-benar belepotan dan berwarna pink di sekitar bibirmu. Kau tentu tak ingin kembali ke perusahaanmu dengan kondisi seperti itu, bukan?”
Jawaban Xavier berhasil memukul telak Akram, membuat rona merah langsung melintas di rona pipinya yang tinggi. Akram tidak berkata apapun, hanya mengambil saputangan dari sakunya dan mengusap bibirnya perlahan dengan sikap elegan yang terlambat.
Elana sesungguhnya tidak menggunakan lipstick dengan warna tebal dan mencolok seperti wanita-wanita lainnya. Perempuan itu hanya menggunakan sesuatu berbentuk stick berwarna pink serupa pelembab bibir dengan rasa stroberi yang warnanya semakin pink setelah beberapa lama digunakan. Karena itulah dengan mudahnya pelembab bibir berwarna itu berpindah ke bibir Akram setelah Akram menciumnya dengan panas tadi.
Akram mencatat dalam hati untuk memerintahkan Elios memberikan lipstick dengan kualitas terbaik, dengan warna tidak mencolok dan tidak mudah luntur setelah dia mencium Elana nanti. Karena Akram yakin, ada banyak sekali kesempatan di masa depan dimana dirinya akan mencium Elana berkali-kali dengan spontan.
Setelah yakin bibirnya bersih dadi bekas warna pink yang menempel, Akram memasukkan kembali sapu tangan ke sakunya, lalu menatap Xavier dengan ekspresi serius seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Aku akan pergi sesuai persyaratanmu, tetapi ada hal-hal yang harus kubicarakan denganmu,” ujarnya dengan suara dalam dan sengaja mengirimkan nada mengintimidasi di sana.
Sayangnya, Xavier tampaknya tak terpengaruh dengan sikap berkuasa Akram yang kental. Lelaki itu tetap tampak santai dan sekali lagi menganggukkan kepala sedikit.
Akram menggertakkan gigi, tetapi dia menahan diri. Diperlukan kesabaran yang sangat tinggi untuk menghadapi sikap Xavier yang penuh provokasi, itu masih ditambah dengan beban trauma yang masih memukul dirinya dengan kental, karena setiap dirinya menatap wajah Xavier, langsung terbayang wajah kekasih pertamannya yang kehilangan nyawa dengan tubuh tergantung di langit-langit kamar perawatannya. Bayangan itu tentu saja tidak semengerikan jika dibandingkan dengan sebelum dia bertemu Elana. Sekarang, setelah Akram memiliki Elana di peluklannya, entah kenapa segalanya trauma dan kenangan mengerikan yang dimilikinya tampak memudar, terusir oleh kebahagiaan yang memenuhi jiwanya.
“Nathan sudah meneleponku pagi ini dan memberikan laporan yang kuminta mengenai efek serum penawar racunmu dengan kondisi ELana. Jika ELana memang benar hamil, Nathan bilang bahwa hal itu tidak akan memberikan pengaruh buruk kepada janinnya. Tetapi, tentu saja aku harus memastikan sendiri. Tentu saja ELana tetap menjadi prioritas utamaku, jika serum itu ternyata membahayakan janinnya, aku akan memikirkan cara untuk menyelamatkan Elana terlebih dahulu,”
Kata-kata Akram kali ini berhasil mengubah ekspresi Xavier dari santai menjadi terkejut luar biasa. Seolah-olah topeng senyum yang dipasang di wajahnya langsung terkoyak dan berganti dengan mata membelalak dan bibir terbuka seolah tak percaya.
“Kau… kau membuat Lana hamil?” seru Xavier cepat, berusaha memastikan kemustahilan yang barusan menyambar telinganya.
Akram berdehem, sama sekali tidak menyangka bahwa Xavier akan memberikan reaksi terkejut yang nyata. Tadi dia berpikir bahwa Xavier akan mengejeknya, atau mungkin malahan menggunakan kehamilan Elana untuk mengancamnya dan mempersulitnya. Akram sudah siap untuk berdebat dan bernegosiasi, jadi dia sama sekali tidak siap melihat Xavier bersikap layaknya manusia normal yang terkejut ketika mendengar kabar kehamilan Elana.
“Aku belum memastikan itu. Tetapi menurut dugaan Nathan, kemungkinannya sangat besar,” dengan mata menyipit, Akram melemparkan tatapan menyalahkan ke arah Xavier. “Semua karena racunmu dan serum penyembuhmu sekaligus, Elana tidak bisa mendapatkan suntikan kontrasepsinya karena itu,”
Xavier langsung terkekeh mendengar kalimat Akram, lelaki itu mendapatkan kembali topeng senyumya dan mengangkat bahu dengan santai.
“Kau mencoba mencari kambing hitam atas keteledoranmu sendiri? Kalau kau tahu bahwa Lana tidak bisa menerima suntikan kontrasepsi, kenapa kau tetap menidurinya dan mengambil risikonya?” tatapan Xavier tampak menelisik ke arah Akram dan penuh tuduhan, “Apakah itu karena kau akhirnya mempertimbangkan usulku dan berusaha menahan Lana dengan menghamilinya?”
Akram tentu saja tidak akan bilang bahwa saat pertama, dia bercinta dengan Elana karena tidak tahu bahwa perempuan itu sedang berada dalam masa subur tanpa perlindungan kontrasepsi. Xavier tidak boleh tahu tentang keteledorannya yang satu itu. Lagipula, untuk kali kedua, Akram tetap bercinta dengan Elana, dengan pengetahuan bahwa Elana akan hamil akibat perbuatannya. Semua itu dilakukan dengan sadar, atas keinginan kuatnya untuk menghamili perempuan itu.
__ADS_1
“Aku melakukan itu bukan karena usulan darimu, jangan terlalu memandang tinggi dirimu sendiri,” Akram menatap Xavier dengan pandangan angkuh, “Apakah serum itu berbahaya jika memang saat ini Elana sedang mengandung?” Akram mengembalikan kembali pembahasan mereka ke pertanyaan utamanya sebelumnya, sikapnya tidak sabar, menunggu jawaban Xavier karena apapun yang akan dijawab oleh Xavier saat ini, akan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan oleh Akram berikutnya.
Jika Xavier mengatakan bahwa serum itu berbahaya…. maka Akram akan sungguh mengutamakan keselamatan Elana terlebih dahulu. Bahkan jika itu harus membuat janinnya… anak mereka berdua yang sedang mencoba bertumbuh untuk diterminasi. Sudah tentu Akram akan merahasiakan segala proses yang dilakukannya dari Elana karena dia tidak ingin membuat perempuan itu bersedih. Tetapi sungguh, saat ini Akram berharap serum itu tidak menyakiti janin yang mungkin sudah berada di dalam kandungan Elana, sehingga dia bisa fokus menjaga sampai Elana bisa melahirkan anak mereka.
Xavier mengawasi ekspresi Akram yang tegang menanti jawabannya. Kali ini dia memutuskan berbaik hati dan mengakhiri penderitaan Akram dengan singkat.
“Serum itu tidak berbahaya untuk janin. Kau bisa tenang.” Xavier mempelajari kelegaan yang langsung menghiasi wajah Akram dan dia menyeringai. “Kau sudah membuat rencanamu sendiri ya? Apakah kau berencana untuk menikahi Lana, atau kau akan tetap menjadikannya wanita simpananmu hingga melahirkan anak harammu?” tanyanya dengan nada memancing yang menjengkelkan, membuat ekspresi Akram yang tadinya melembut karena lega langsung mengeras seketika.
“Aku akan memperlakukan Elana sebagai wanita bermartabat. Lagipula, anak yang merupakan keturunanku, tentu saja harus menyandang nama ‘Night’ secara resmi,” jawabnya cepat dengan nada geram sedikit tersinggung.
Xavier langsung mengangkat bahunya.
“Aku hanya bertanya. Karena kulihat selama ini kau sepertinya menghindari apapun yang berhubungan dengan pernikahan. Tidak kusangka kau ternyata dengan sukarela menyerahkan dirimu dalam sebuah ikatan, dengan seorang perempuan yang tidak kukira akan menundukkan Akram Night yang sangat buas,” ujarnya mengejek.
Akram langsung menyipitkan mata. “Karena itulah, ini sekaligus menegaskan bagimu kalau kau sudah tidak memiliki kesempatan lagi dengan Elana. Dia milikku,”
“Oh, dia mungkin milikmu. Tetapi itu tidak akan menghentikan aku untuk membuat Lana menjadi sekutuku,” sambar Xavier tanpa malu, penuh dengan nada misterius yang disengaja.
Akram melebarkan mata geram. “Elana berada di pihakku, dia tidak akan mau menjadi sekutumu."
“Oh ya? Kau bahkan tidak memperlakukanya dengan baik, bagaimana kau bisa menjamin Lana akan loyal padamu dengan perlakuanmu yang merendahkan terhadapnya? Contohnya, banyak jabatan bermartabat dengan beban kerja ringan yang bisa kau berikan kepada Lana, tetapi kau malah menjadikannya seorang cleaning service di perusahaanmu yang harus bekerja keras menggosok toilet dan melakukan berbagai pekerjaan berat yang melelahkan…. Begitukah caramu memperlakukan calon istrimu?” cela Xavier dengan nada menuduh nan lugas.
“Itu karena Elana sendiri yang menginginkannya!” Akram menyahut keras. “Kalau aku boleh memilih, aku bahkan tidak akan membiarkannya bekerja! Kau pikir aku senang melihatnya bekerja seperti itu? Aku bisa memberikan pekerjaan sebagai sekertaris pribadiku yang nyaman, tetapi, apakah kau pikir Elana akan menerimanya dengan mudah?”
“Nanti kalau aku memasuki perusahaanmu, Lana akan menjadi sekertaris dan asisten pribadiku, dan kau bisa tenang karena aku berjanji akan menjaga kenyamanan Lana dalam bekerja,” Xavier tiba-tiba menyahut dengan nada yakin, membuat kemarahan Akram semakin berkobar hingga hampir mencapai batasnya.
“Apa katamu? Beraninya kau lancang seperti itu?” suara Akram masih terdengar datar, sementara tangannya terkepal, mencoba menahan diri untuk tidak merangsek dan memukul mulut kotor Xavier saat itu juga.
Xavier bersedekap, menyandarkan tubuhnya dengan santai di dinding, lalu menyeringai penuh kemenangan ke arah Akram.
“Sebagai ganti pabrik dan pusat penelitian senjata biologis yang kuserahkan untuk menebus Lana, kau sudah membuat kesepakatan denganku dengan menyerahkan saham perusahaan utamamu kepadaku secara legal. Memang hanya sepuluh persen, tetapi sudah cukup untuk memberikan aku kuasa memasuki perusahaanmu dan memilih sekertaris pribadiku sendiri.” Xavier mengangkat bahu.
“Selama ini aku tidak begitu menyukai pekerjaan kantoran yang menyulitkan. Tetapi khusus untuk perusahaanmu aku memutuskan untuk memberikan dedikasiku. Aku akan mulai berkantor di perusahaanmu secara rutin efektif mulai minggu depan. Kau mungkin terlalu sibuk mengurus Lana hingga tak menyadari bahwa aku sedang membangun ruangan kerjaku sendiri dengan memanfaatkan ruang meeting besar yang kosong yang letakknya tepat berada di sebelah ruanganmu. Sementara, untuk sekertaris pribadiku, aku sudah menyerahkan memo perintah ke bagian personalia, dan begitu aku berkantor secara efektif, maka Lana secara resmi akan menjadi sekertaris dan asisten pribadiku. Meskipun secara resmi kau adalah pemilik perusahaan, tetapi aku adalah bagian dari komisaris pemegang saham dan kau tidak memiliki hak untuk menganulir keputusanku meyangkut karyawan, itu sudah tertulis secara adil di dalam kontrak jual beli saham yang diberikan oleh Elios kepadaku,” seringai Xavier makin melebar ketika melihat Akram tampak meradang. “Oh, sungguh aku tidak sabar untuk menantikan hari-hari kita bisa bekerjasama dengan baik di perusahaanmu, Akram.”
******
***
__ADS_1