Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 4 : Masuk Perangkap


__ADS_3


"We cross infinity with every step. We meet eternity in every second"


Charles, manajer kelab malam mewah yang sangat sukses menjadi tempat tujuan para jet zet dan selebriti untuk bersenang-senang menghabiskan malam itu sedang duduk di belakang meja kerjanya. Dia membaca hasil laporan pihak keamanan tentang insiden semalam.


Sang Mogul, Akram Night yang menakutkan, ternyata memutuskan untuk menghajar pengkhianat yang ditemukannya di tempat ini semalam dengan tangannya sendiri, lalu membiarkan anak buahnya membuang tubuh musuhnya itu entah kemana. Itu bagus, karena tidak ada bukti yang tertinggal di kelab ini, jika tidak, Charles harus kerepotan berurusan dengan polisi perihal kejadian kriminal di kelab ini.


Bagaimanapun juga, anak buah Akram Night sudah sangat profesional dalam menangani kecoa-kecoa pengkhianat yang harus dilenyapkan dengan cepat. Mereka juga sangat ahli membereskan jejak-jejak kekejaman mereka tanpa pernah terlacak. Itu berarti, meskipun Akram Night memutuskan membunuh orang di tempat ini pun, Charles masih bisa lolos dari kecurigaan pihak berwajib.


Charles sudah mempelajari hasil rekaman kamera cctv yang menunjukkan adegan mengerikan ketika Akram menghajar orang malam itu tanpa ampun, membuat darahnya berceceran di lantai dan dinding toilet pria. Dia tak habis pikir betapa bodohnya orang yang berani mengkhianati Akram Night dengan kesadaran penuh. Sungguh, bagi siapapun yang tahu betapa kejamnya Akram Night, lebih baik langsung menghindar dan berharap tidak sampai harus berurusan dengan kemarahan lelaki itu.


Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka lebar, membuat Charles mendongakkan kepala dari laporan yang sedang dia pelajari. Dahinya berkerut ketika memandang sekelompok bodyguard yang mengenakan setelan jas hitam rapih berdiri di depan pintu ruangannya.


Kesadaran Charles segera mengetuk otaknya, membuatnya langsung bisa menebak siapa yang datang.


Tergopoh-gopoh, Charles berdiri dari duduk dan siap untuk menyambut. Dan memang benar dugaannya, Akram Night sendirilah yang datang. Begitu melangkahkan kaki ke ruangan Charles, aura Akram Night yang mengerikan langsung mendominasi seluruh ruangan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, mengenakan setelan hitam-hitam armani yang dijahit khusus untuknya. Tidak akan ada yang meragukan kharisma dan kekuasaan Akram jika mereka harus berhadapan langsung dengannya. Bahkan hanya dengan tatapan matanya yang tajam saja, Akram bisa membuat hati orang malang yang harus berurusan dengannya menciut tak karuan.


Charles menghentikan langkahnya beberapa langkah dari hadapan Akram, tahu untuk menjaga jarak sedikit lebih jauh dari jangkauan karena dia mendengar bahwa Akram Night tidak suka berdekatan dengan manusia lainnya. Dia masih sayang dengan nyawanya, karena itulah sedapat mungkin dia tidak ingin menyinggung manusia penuh kuasa di depannya ini.


"Apa yang membawa Tuan Akram datang berkunjung ke kantor saya malam ini?" Charles membungkukkan tubuh hormat dengan sikap merendah pada atasannya itu. Ya, dia menyebut Akram sebagai atasannya. Itu semua karena kelab ini adalah salah satu dari ratusan tempat usaha hiburan yang dimiliki oleh Akram Night.


Akram mungkin hanya menganggap kelab malam mewah dengan pendapatan milyaran rupiah setiap bulanan ini sebagai salah satu miliknya yang remeh. Sebab, Akram memiliki ratusan perusahaan yang bergerak di bidang lain selain hiburan, seperti perusahaan keuangan, IT bahkan sampai perusahaan teknologi senjata.


Semua perusahaan itu membanjiri Akram Night dengan profit triliunan rupiah yang jauh lebih menguntungkan dari kelab malam ini, sehingga akan membuat kelab malam ini tampak kecil dan sepele jika dibandingkan. Akram Night hanya pernah berkunjung beberapa kali ke kelab malam ini untuk menghabiskan waktu bersama wanita-wanitanya, tetapi tidak pernah satupun kedatangannya bertujuan membahas urusan pekerjaan. Beliau bahkan tidak pernah mau menyisakan waktu untuk datang langsung di setiap rapat pemegang saham yang menentukan kebijakan strategis perusahaan, hanya mewakilkan semua urusan pada asistennya.


Jadi, urusan segenting apakah yang membawa Akram Night datang ke kantornya malam ini? Charles hanya mampu bertanya-tanya dalam hati, tanpa berani menyuarakannya.


Akram menatap manajer kelab malam itu dengan mata dinginnya yang tajam.


"Tutup kelab ini untuk malam ini," perintahnya tegas tak terbantahkan.


Charles mengerutkan kening, tetapi tentu saja dia tidak berani membantah apalagi mempertanyakan keputusan Akram Night.


"Siap, Tuan. Saya akan melaksanakan perintah Anda." jawabnya cepat dengan patuh.


"Beritahukan kepada para seluruh pegawaimu untuk tidak datang malam ini. Kecuali satu orang yang harus kau pastikan datang." Akram memberi tanda pada Elios, Sang Asisten yang sudah berdiri di belakangnya. Elios langsung melangkah melewati Akram dan menyerahkan selembar berkas pada Charles.


Charles menerimanya dan mengerutkan kening dalam. Di depannya ada biodata karyawan yang dilampirkan foto close up yang tampak polos dan tidak menarik. Seorang remaja perempuan berusia sembilan belas tahun, karyawan baru di tempat ini, baru mulai bekerja semalam....


Seorang pembersih toilet?


Charles mengangkat alis ketika membaca keterangan di depannya, tidak bisa menahan keterkejutannya ketika akhirnya selesai membaca habis seluruh biodata karyawan itu.


Apa urusan Akram Night yang begitu berkuasa dengan seorang pembersih toilet? Apakah Elios tanpa sengaja telah memberinya kertas biodata yang salah?


Merasa tak yakin, Charles mengulang membaca lagi biodata karyawan di tangannya dengan seksama, dan seketika itu, ingatlah dia bahwa gadis pembersih toilet ini adalah sosok yang kemarin muncul di kamera cctv ketika Akram Night tengah menghajar musuhnya di sana. Charles bahkan tidak menyangka bahwa gadis itu masih hidup sampai sekarang, mengingat kehadiran gadis itu semalam jelas-jelas telah menginterupsi kesenangan Akram Night dalam menghukum dan menghajar pengkhianat yang menjadi musuhnya.


Apakah Akram Night baru akan memberikan pelajaran pada gadis penjaga toilet itu malam ini? Tetapi, hanya untuk seorang gadis penjaga toilet, kenapa harus sampai menutup kelab malam mewah mereka dan membuang kesempatan mendapatkan omset ratusan juta dalam semalam?


"Kau harus memastikan hanya gadis itu yang datang malam ini. Dan dia harus datang," Akram menekankan pada kata 'harus' yang bahkan sampai diucapkannya dua kali, menunjukkan secara tersirat pada Charles bahwa dirinya akan menerima hukuman mengerikan dari Akram kalau sampai tidak berhasil melaksanakan perintahnya.


"Baik, Tuan." Charles menjawab cepat sambil kembali membungkukkan tubuh dengan gugup. Dia harus menghubungi Karel malam ini untuk memastikan kedatangan gadis itu sesuai permintaan Akram Night. Selain menjadi penanggung jawab karyawan di bagian Cleaning Service, Karel juga menjadi penanggung jawab atas seluruh karyawan di kelab ini.


Dan gadis itu dikatakan baru bekerja kemarin? Ini bahaya, gadis itu bukan karyawan tetap dan besar kemungkinan dia tidak kembali bekerja lagi malam ini mengingat insiden semalam cukup mengerikan baginya.


Bagaimana jika gadis itu tidak kembali?


Kalau begitu sama saja Charles tidak berhasil melaksanakan perintah Akram. Itu berarti dia bisa saja kehilangan nyawa. Memikirkan itu semua, membuat wajah Charles memucat hingga dia hampir-hampir tidak mendengar perintah yang diberikan oleh Akram kepadanya.


"Maaf Tuan, bolehkah Anda mengulangi lagi?" Charles bertanya cepat dengan nada takut.

__ADS_1


Akram menyipitkan mata, jelas sekali tidak suka karena Charles mengabaikan perintahnya sebelumnya, tetapi kemudian Akram memutuskan tidak memperpanjang masalah karena ada hal lain yang lebih penting.


"Kamar utama di atas. Siapkan kamar utama di atas. Sepertinya aku akan memakainya malam ini."


Setelah memberi perintah dengan nada dingin, Akram membalikkan tubuh, diikuti oleh Elios pergi bersama para bodyguard berwajah kaku yang mengikuti mereka.


Sementara itu Charles masih terpaku di sana semakin bingung.


Kenapa tuan Akram memintanya menyiapkan kamar utama di bagian paling atas kelab ini?


Kamar itu merupakan kamar mewah kelas VVIP yang dibangun sangat megah dan luas, hampir satu lantai di atas kelab ini. Akram Night pernah membawa beberapa perempuannya tidur di kamar itu guna memuaskan diri, tapi sangat jarang, mungkin hanya sekitar setahun sekali. Selebihnya, kamar itu tidak pernah digunakan dan selalu dikunci, hanya pembersihan dan perawatan berkala yang membuat pintu kamar itu terbuka sebelumnya.


Mungkin tujuan utama Akram Night menutup pintu kelabnya adalah untuk bersenang-senang dengan salah satu perempuannya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan gadis pembersih toilet itu.


Mungkin di saat Akram Night bersenang-senang di lantai atas, anak buahnya akan menangani dan membereskan gadis penjaga toilet itu.


Ya, pasti begitu. Charles hampir saja memukul kepalanya sendiri karena dia telah memberati pikirannya dengan berbagai dugaan kusut yang hampir tak mungkin terjadi.


 



 


"Apa?" Karel menjawab telepon Charles dengan nada terkejut. Bosnya itu menelepon dengan panik malam ini, tergesa menjelaskan keinginan pemilik kelab mereka yang berkuasa. "Mereka meminta kita menutup kelab dan memastikan hanya Elana yang masuk bekerja?" sambungnya kemudian, bertanya dengan nada tak percaya.


"Kau harus memastikannya, Karel! Kalau tidak aku akan kehilangan nyawaku!" Charles berteriak di ujung telepon, napasnya terengah seolah-olah ketakutan kehilangan harapan hidup. "Dia baru bekerja kemarin, bukan? Kau tahu siapa yang membawanya ke tempat ini?"


"Sachi yang membawanya," Karel menjawab singkat. "Ada alamat Elana di biodata karyawan, tetapi rumahnya ada di pinggiran kota, dan masuk ke gang kecil. Akan sangat sulit menemukannya. Aku akan menghubungi Sachi untuk menemukan rumah Elana. Kemarin Sachi menjemput Elana untuk datang kemari, jadi aku yakin dia tahu alamat Elana."


"Bagus. Lakukan segera. Tuan Akram bilang akan datang kemari jam sebelas malam, dan saat itu, kita harus memastikan Elana benar-benar sudah tiba di kelab. Ketika dia tiba di kelab, lakukan semua sesuai rencana," suara Charles merendah penuh kengerian. "Jangan sampai gagal, Karel. Kau tahu betapa kejamnya Akram Night, kita bertaruh nyawa malam ini kalau sampai gagal," bisiknya mendesak.


Akram Night menginginkan Elana untuk datang ke kelab?


Karel memang mendengar insiden semalam ketika Akram menghajar musuhnya di toilet lelaki, tetapi dia melihat sendiri rekaman cctv bagaimana Elana menangani semuanya dengan baik, tidak panik dan tetap membersihkan toilet sampai benar-benar seluruh jejak darah dan kebrutalan Akram sebelumnya habis tak bersisa.


Kalau begitu apa yang salah dengan Elana? Kenapa Akram masih mengincarnya sampai sekarang?


Karel menggelengkan kepalanya bingung. Dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Tetapi, itu bisa dipikirkannya nanti. Sekarang dia harus menjalankan perintah Charles, memastikan bahwa Elana harus benar-benar datang malam nanti.


Nasib Elana mungkin akan berakhir malang karena harus bersinggungan jalan dengan Akram Night, tetapi itu bukan urusannya. Dia harus tahu mana yang harus dicampuri dan mana yan harus diabaikan kalau ingin nyawanya aman.


Dengan cepat, ditekannya panggilan untuk menghubungi Sachi.


 



 


Elana berhasil berangkat lebih pagi malam ini. Dia memutuskan langsung memakai seragamnya yang sudah kering dan menutupinya dengan jaket longgar warna hitam. Langkahnya ringan, siap bekerja lagi malam ini, dia hanya tinggal menunggu kendaraan umum di halte depan dan berharap waktunya cukup sehingga dia bisa sampai ke tempat kerja tanpa terlambat.


Ketika Elana menapak keluar dari gang yang menghubungkan jalan besar dengan rumahnya, sebuah mobil hitam yang terparkir di ujung gang tiba-tiba membunyikan klaksonnya. Elana mengerutkan kening, menatap mobil hitam yang tampak familiar itu dengan waspada. Langkahnya kaku, sedikit menjauh.


Dia pernah melihat mobil hitam itu, tetapi dimana?


Kaca gelap mobil itu tiba-tiba diturunkan, dan wajah Karel yang dikenalnya langsung tampak di sana, membuat Elana ternganga karena terkejut.


"Hai Elana," Karel menyapa ramah, senyumnya lebar bersahabat.


"H..hai juga," Elana menyahut cepat. Tapi tak urung dahinya berkerut dalam. Area rumahnya di pinggiran kota ini cukup jauh dari kelab malam di tengah kota tempatnya bekerja, bukan? Apa yang sedang Karel lakukan di sini?

__ADS_1


"Aku tadi ada urusan dengan Sachi di supermarket tempat kalian bekerja," Karel menunjuk ke arah supermarket yang tak jauh dari lokasi mereka sekarang. "Lalu Sachi bilang kau tak ada yang mengantar, jadi aku memutuskan mampir dan sekalian mengantarmu, karena kita kan satu jalan." Karel menjulurkan tangan dari balik kemudi dan membukakan pintu penumpang untuk Elana, "Ayo naiklah, kalau tidak cepat kita bisa terlambat."


Sedetik Elana terpaku, bingung harus berbuat apa. Tetapi, Karel benar-benar tidak berbahaya, bukan? Lelaki ini adalah atasannya, lagipula Karel menjemputnya atas permintaan Sachi.


Sedikit dibebani keraguan, Elana akhirnya melangkah memasuki mobil Karel, menutup pintunya dan menoleh ke arah Karel dengan canggung.


"Te.. terima kasih," ucap Elana terbata kemudian.


Karel menganggukkan kepala, tersenyum lebar. Entah kenapa lelaki itu terlihat sangat senang ketika Elana naik ke mobilnya.


"Pasang sabuk pengamanmu, aku akan sedikit mengebut malam ini," ucap Karel riang, lalu mulai menjalankan mobilnya menembus keramaian jalan.


 



 


Ketika mobil Karel sampai di tempat parkir, Elana menatap bingung ke arah parkiran yang kosong. Hanya ada beberapa mobil berwarna hitam yang terparkir di sana, sungguh berkebalikan dengan semalam dimana parkiran mobil yang luas itu tampak penuh sesak.


"Kita kepagian, karena itu masih sepi. Lagipula, Kelab sepertinya buka terlambat malam ini," Karel memberikan penjelasan singkat ketika membukakan pintu untuk Elana, lalu menghela langkah Elana supaya mengikutinya menuju ke arah pintu depan kelab.


"Kita... tidak lewat pintu karyawan?" Elana bertanya khawatir ketika Karel melangkah menuju lobby besar dan mewah kelab itu. Berbeda dengan kemarin, Sachi membawanya masuk ke kelab ini lewat pintu karyawan di basement, dia bilang di pintu depan dikhususkan untuk tamu yang membawa kartu pass khusus yang diperiksa oleh para penjaga di depan pintu. Tidak semua orang bisa memasuki kelab mewah ini, mereka harus memiliki kartu keanggotaan eksklusif yang memiliki harga cukup mahal.


"Kelab belum buka, jadi kita bisa masuk lewat sini," tiba-tiba saja senyum Karel hilang dan ekspresinya berubah gugup ketika membuka pintu. Elana mengerutkan kening ketika mempelajari wajah Karel.


Kenapa Karel berubah seolah ketakutan? Takut pada apa?


Pintu kelab terbuka, dan terbentang di hadapan mereka pemandangan yang gelap gulita dari ruang kelab yang sepi. Elana memandang ke sekeliling dengan bingung. Kenapa tidak ada satu orang pun? Bahkan para karyawan, bartender, pelayan bar yang seharusnya menyiapkan kelab sebelum buka juga tidak ada sama sekali.


Elana menolehkan kepala bingung ke arah Karel, hendak bertanya kepadanya. Tapi, ekspresi Karel yang sedang menatapnya membuatnya terpaku. Mata Karel memandangnya tajam, dari ujung kepala sampai kaki, seolah menilai Elana dengan seksama.


Lalu sebelum Elana bisa membuka suara, Karel mendorong tubuh Elana hingga terjerembab jatuh ke lantai.


"Maafkan aku Elana. Kau sendiri yang memasukkan dirimu dalam masalah," Karel berucap pelan, lalu tiba-tiba saja lelaki itu membalikkan tubuh meninggalkan Elana, keluar kembali dari pintu depan dan menutup pintunya dari belakang.


Elana menoleh ke arah kepergian Karel dengan bingung, matanya menatap pintu yang kini sudah tertutup rapat, dengan cepat dia berusaha bangkit, mencoba mengejar Karel untuk mencari penjelasan, tetapi suara langkah-langkah kaki yang terdengar di belakangnya membuat Elana menolehkan kepala kembali menuju ke arah sumber suara.


Matanya melebar ketika menemukan sosok yang dikenalnya, berpakaian jas hitam-hitam dengan beberapa anak buahnya yang memakai jas lengkap berwarna gelap yang sama di belakangnya.


Itu adalah penjahat yang menghajar orang kemarin di toilet lelaki...?


Lelaki berpakaian hitam dengan aura mengancam yang kuat itu memberi isyarat jari ke arah anak buahnya, dan tiba-tiba saja, beberapa lelaki berjas hitam tersebut langsung bergerak ke arah Elana.


Elana tertatih berusaha berdiri dengan panik, mencoba melarikan diri. Tetapi percuma, langkah kakinya yang lemah jelas kalah oleh para lelaki kuat yang tiba-tiba sudah mengelilingi dan meringkusnya.


"Tunggu dulu! Ada apa ini? Kenapa kalian melakukan ini?" Elana berteriak, mencoba meronta sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri.


"Bawa dia ke kamar atas," lelaki beraura gelap itu memberi perintah, dan tubuh Elana tanpa daya diseret menaiki tangga menuju lantai atas kelab malam itu.


 





 


__ADS_1


__ADS_2