Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 25 : Berubah Rencana


__ADS_3

Xavier membuka pintu ruangan, mengangkat alisnya ketika melihat Sera sudah mengenakan pakaian yang disediakan khusus untuknya. Bibir lelaki itu mengulas senyum puas. Lalu, seperti kebiasaannya, dia mengulurkan tangannya ke arah Sera, meminta disambut tanpa sanggahan.


Serafina sendiri terpaku, meragu, tak mau bergerak maju. Bukannya menyambut uluran Xavier, Sera malah melipat tangannya, menengadah dan menatap Xavier dengan penuh permohonan.


Dia tahu tak ada gunanya melawan kekeraskepalaan lelaki itu, pun dia mengerti bahwa sikap memohon juga tak akan melembutkan hati lelaki di depannya. Tetapi, Sera tak akan mengalah sebelum mencoba sampai batas kekuatannya.


Siapa yang tahu kalau Sera terus mencoba, lelaki itu nantinya akan mendengarkannya?


"Aku tak butuh pembebasan dengan mencabut nyawa manusia.... Aku...aku tak ingin menyaksikan pembunuhan Samantha Dawn...." Mata Sera berkaca-kaca penuh kengerian. Bayangan akan racun Xavier yang mungkin bisa membuat detik terakhir Samantha Dawn meregang nyawa dalam kondisi mengerikan dan penuh kesakitan, membuat Sera gemetar ketakutan.


Sesungguhnya, Sera bukanlah perempuan penakut. Dia bahkan bertahan hidup dan tidak menjadi gila ketika dikurung di dalam ruangan gelap dengan foto-foto Anastasia Dawn dalam kondisinya yang paling mengerikan.


Tetapi Anastasia Dawn berbeda bagi Sera, itu karena Sera tak pernah mengenalnya dalam kondisi hidup. Dia tak pernah melihat secara langsung dan dekat Anastasia dalam kondisi sehat, cantik dan utuh sempurna. Karena itulah, foto-foto mayat Anastasia dalam kondisi hancur dan babak belur masih bisa diatasinya.


Kondisinya tentu berbeda jika Sera dihadapkan dengann Roman dan Samantha Dawn. Sera mengenal dekat mereka berdua, dia bahkan hidup bersama dua orang itu selama bertahun-tahun. Dia sudah pernah melihat kedua orang itu dalam kondisi sehat dan hidup. Ketika dipaksa melihat kondisi mereka meregang nyawa, bayangan kematian yang menjemput itu tak mau pergi dari benaknya, menghantui saat dia terpejam dilingkupi kegelapan, datang mengendap-endap laksana monster yang menyimpan niat jahat untuk menyakiti.


Bahkan sampai detik ini, masih terbayang jelas trauma di benak Sera ketika membayangkan bagaimana Roman Dawn melotot kesakitan saat nyawa tercabut perlahan dari tubuhnya....


Sera tak ingin bayangan mengerikan Roman Dawn itu ditambah lagi dengan ingatan tentang Samantha Dawn yang lebih sama mengerikannya.


Memang perempuan itu sangat jahat, suka menyiksa dan menyakiti Sera sebagai pelampiasannya. Bahkan terkadang, saat Sera kesakitan setengah mati oleh cambukan yang menyayat kulitnya, hati sempat Sera meneriakkan permohonan supaya Samantha Dawn mati saja. Tetapi, kobaran dendam itu tak sepadan dengan besarnya moralitasnya sebagai manusia yang menghargai nyawa manusia lain.


Sesungguhnyaa, ketika dihadapkan pada pilihan harus melihat proses kematian Samantha Dawn atau memalingkan muka dan tak peduli, maka sudah jelas Sera akan memilih yang kedua saja.


"Apakah kau akan memaafkan Samantha Dawn begitu saja atas apa yang diperbuatnya terhadapmu, lalu membebaskannya?" Xavier menyipitkan mata, menatap Sera dengan pandangan menikam tajam.


"Dia memang jahat, tetapi bukan berarti aku tak punya perikemanusiaan, merasa puas dan tertawa terbahak melihatnya menderita sakit sebelum kematian memjemputnya." Sera menjawab cepat, berharap Xavier memahami apa yang coba dikatakannya. "Kau sendiri tidak seharusnya melangkahi takdir dan bertindak sebagai malaikat kematian untuk mereka...," sambungnya kemudian dengan nada berhati-hati.


Xavier mengulas senyum penuh ironi. "Seorang pembunuh memang selalu melangkahi takdir, merenggut nyawa manusia dan membuangnya dari buku kehidupan yang seharusnya masih tersisa lembarannya." Xavier mengangkat bahunya. "Tetapi selama ini, aku selalu memegang teguh prinsipku. Aku hanya membunuh atau melukai orang-orang yang berbuat dosa besar atau orang-orang bermental pengkhianat keji, orang-orang yang memenuhi kriteriaku sebagai manusia yang pantas mati."


Mata Xavier tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali ketika menatap Sera dan menyambung kalimatnya dengan satu kesimpulan pasti. "Aku tak pernah membunuh tanpa alasan."


"Bagaimana dengan seluruh karyawanmu yang kau suntik dengan racunmu? Mereka tak berbuat salah kepadamu! Mereka punya keluarga! Tapi kau malah meracuni mereka tanpa hati!" Sera menyanggah cepat, entah kenapa hatinya dirayapi kemarahan.


Xavier menggelengkan kepala sedikit, bibirnya menipis ketika mengucap penjelasannya, "Racun yang kutanam ke tubuh mereka dalam kondisi tidur dan baru akan terbangun hanya ketika mereka mengkhianatiku. Jika mereka bertingkah baik selama bekerja denganku, aku bisa memastikan bahwa racun itu tak akan bereaksi." Xavier mengerutkan kening ke arah Sera. "Kita tidak sedang membahas karyawanku. Kita sedang membahas Samantha Dawn, tidakkah kau ingin perempuan tua jahat itu menuai apa yang sudah ditaburnya?"


Sera menggigit bibirnya. "Tidak dengan cara seperti ini." Kembali Sera menatap Xavier dengan penuh permohonan. "Kumohon, Xavier. Dengan dirimu membunuh suaminya pun, sudah cukup menjadi hukuman bagi Samantha Dawn.... tidak perlu sampai membunuhnya...."


"Tidak." Xavier menyela dengan suara tajam. Tatapannya penuh tekad. "Aku sudah memutuskan bahwa suami istri Dawn harus dihabisi. Dengan begitu aku akan membebaskanmu, sekaligus membuka jalan untuk kebebasanku sendiri. Jadi, tak ada kata berputar balik, kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai sampai tuntas."


Tanpa memberikan kesempatan bagi Sera untuk bersuara, Xavier melangkah maju, lalu merenggut pergelangan tangan Sera, memaksa Sera untuk mengikutinya melangkah keluar dari ruang perawatan itu.


***


Perjalanan dengan menggunakan mobil kali ini tampaknya lebih lama dari perjalanan mereka dari bandara menuju kediaman Keluarga Dawn beberapa waktu yang lalu.


Bahkan sepertinya, kendaraan yang membawa mereka ini sudah melalui pinggiran kota moskow, melewati hutan-hutan pinus berlumur putihnya salju dan juga jalanan yang juga tertutup salju tebal, berkelok mengerikan yang dipenuhi gurat jejak ban dari kendaraan yang lalu lalang melewatinya.


Sera bahkan sudah tertidur beberapa kali, dirinya bangun dengan rasa pening menggila, ditambah mual yang mulai bergolak dan memanjat saluran pencernaannya dengan penuh semangat, berlomba-lomba ingin mencapai batang kerongkongannya.


Mata Sera mengerjap, menyadari bahwa tubuhnya masih berguncang oleh jalanan yang tak rata dan berkelok, lalu matanya akhirnya membuka lebar, menatap seluruh interior gelap kabin penumpang mobil yang terasa menyesakkan, baru kemudian dia menolehkan kepala ke arah Xavier yang dia tahu sedang duduk di sebelahnya dalam keheningan.


Saat menolehkan kepala itulah, Sera menyadari bahwa Xavier tengah mengawasinya terang-terangan. Lelaki itu bahkan tak mau repot-repot mengalihkan mata demi kesopanan, dan terus bergeming tanpa rasa bersalah mengamati Sera dengan tatapan menyelisik.


"Kau baik-baik saja?"


Xavier akhirnya memecah keheningan dan bertanya tenang, sementara matanya mengawasi Sera dengan kening berkerut. Wajah Sera tampak pucat, seperti sedang menahan sakit.


Segera Sera menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aku mual, pusing dan ingin muntah. Sebenarnya kemana kau akan membawaku?"


Sera ketakutan. Sekarang, jalanan semakin kasar dan berkelok, sementara yang tampak di kiri dan kanan mereka hanyalah hutan pinus nan rimbun seolah tak berujung, penuh dengan perpaduan warna hijau kecoklatan dan putuhnya tumpukan salju tebal yang mendominasi.

__ADS_1


Kendaraan yang tadi sempat berpapasan dengan mereka di awal perjalanan sudah tak ada lagi, seolah-olah area ini benar area yang sangat jarang dikunjungi oleh manusia.


Karena tak ada lagi kendaraan yang berpapaaan, itu berarti baha kendaraan yang mereka tumpangi benar-benar sendirian di jalanan ini. Seakan ingin memperburuk suasana, hujan salju pun turun semakin deras. Hujan salju itu menimpakan buliran putihnya yang kasar serupa serpihan es menjatuhi bumi dan menutupi berkas cahaya matahari, menggayuti udara di sekitarnya, sehingga suasana di sekeliling mereka menjadi gelap berkabut.


Jangan-jangan, bukannya ingin membunuh Samantha Dawn, Xavier ternyata ingin membunuh Sera dan membuang mayatnya di lokasi antah berantah ini?


Pemikiran itu membuat Sera begidik, dan sikapnya itu tentunya tak lepas dari mata Xavier yang tajam.


"Aku bukannya akan membawamu ke tempat sesat. Lokasi penjara paling buruk milik Dimitri berada di beberapa kilometer lagi ke depan. Sudah dekat."


"Apa maksudmu dengan lokasi penjara paling buruk?" Sera menyambar, menanyakan apa yang mengganjalnya.


Xavier menyeringai. "Dimitri punya penjara yang disebut sebagai penjara neraka. Penjara itu dimaksudkan untuk menyiksa musuh-musuhnya yang dia tahan. Penjara itu berada di lokasi terpencil, dengan pencahayaan serta sirkulasi udara buruk, kotor dan sangat lembab, penuh penyakit dan hewan-hewan jorok, serta memiliki sanitasi yang sangat jelek." Seringai Xavier menipis menjadi senyuman. "Saking buruknya tempat itu, aku jadi berpikir bahwa racun yang kita berikan kepada Samantha, mungkin malahan akan dia anggap sebagai penyelamatnya."


Perasaan Sera langsung sesak mendengar deskripsi Xavier yang mengerikan itu. Sera tahu bahwa Samantha sangat menjaga kebersihan dan benci segala sesuatu yang jorok, perempuan itu juga paling takut pada segala macam kuman, bibit penyakit, virus dan bakteri hingga hampir berlebihan dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungannya supaya bebas dari kontaminasi. Tidak terbayangkan betapa mengerikannya bagi Samantha Dawn ketika dia dikurung di penjara neraka tersebut.


Sementara itu, mengenai racun yang akan diberikan oleh Xavier kepada Samantha....


Sera menelan ludahnya dengan panik. Memikirkan akan menyaksikan eksekusi Samantha Dawn yang mengerikan membuat rasa mual langsung menjadi-jadi di perut Sera.


Sayangnya, Xavier yang tak punya belas kasih seolah sengaja tak mempedulikan kesakitan yang tampak di wajah Sera dan malahan membahas tentang rencana eksekusinya terhadap Samantha dengan sengaja.


“Dia akan mati dengan cepat. Kau tak perlu khawatir.” Xavier tiba-tiba berucap dengan nada sedikit menenangkan tetapi juga misterius.


“Apa maksudmu?” Sera langsung menyambar. Sungguh, pembahasan tentang kematian yang dibicarakan oleh Xavier dengan gaya kasual tanpa beban ini benar-benar membuat mualnya semakin menjadi.


“Aku akan memberimu kesempatan untuk melihat betapa menderitanya Samantha Dawn. Kau bahkan boleh memberikan umpatan, kutukan atau pernyataan apapun untuknya." Xavier mengawasi Sera dengan penuh minat. "Setelah kau mengucapkan kalimat terakhirmu kepadanya, maka aku akan menyuntikkan racun khusus yang menyerang otaknya. Racun itu bergerak dibatang otak lalu mematikannya, seperti saklar yang mematikan lampu. Klik! Lalu mati.”


Cara Xavier menggambarkan kematian dengan begitu ringan membuat Sera marah. Bagaimanapun, mereka sedang membicarakan nyawa manusia di sini, tetapi Xavier berbicara seolah mereka sedang membahas pilihan menu sarapan.


Apakah lelaki itu benar-benar tak punya hati?


“Apakah sama sekali tak terbersit rasa bersalah di hatimu karena telah membunuh mereka semua? Apakah kau tak pernah dibayangi wujud korban-korbanmu pada saat mereka meregang nyawa dijemput kematian?” tanya Sera dengan nada miris bercampur sinis.


“Bukan kau yang bisa menentukan apakah seseorang itu layak mati atau tidak,” Sera menyanggah. “Aku… aku tak mau melihat Samantha Dawn mati, aku tak mau mengucapkan kalimat terakhir atau apalah… pokoknya aku tak mau terlibat apapun yang berhubungan dengan kematiannya! Samantha Dawn memang jahat, tetapi bukan berarti aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri!” Suara Sera sedikit meninggi, dilanda kepanikan karena mereka sudah semakin mendekati eksekusi.


Xavier sendiri malahan memutar bola matanya seolah mengejek tingkah histeris Sera.


“Standar ganda lagi, Sera?” tanya Xavier dengan nada penuh ironi yang menusuk.


Sekali lagi Sera menatap langsung ke arah lelaki itu, matanya penuh dera dan siksa, menahan kesakitan.


“Apa maksudmu?”


“Bukankah kau datang ke tempatku untuk membunuhku? Kau menganggap aku jahat dan pantas dibunuh, bukan? Kenapa kau memperlakukan standar yang berbeda untuk Samantha Dawn? Dia sama jahatnya denganku, kan? Bahkan kejahatannya dilakukan langsung kepadamu, menggunakan tangannya sendiri dan juga kekuasaannya untuk menyiksa tubuhmu serta menyakiti jiwamu. Sementara itu, bagaimana denganku? Apakah kau tak sadar kalau aku tak pernah melakukan kejahatan apapun secara langsung kepadamu? Bukankah seharusnya, kau lebih mengarahkan niat membunuhmu kepada Samantha Dawn dan bukan kepadaku?”


Sera membelalak mendengar pertanyaan Xavier tersebut. Otaknya seolah-olah menjadi bebal dan lidahnya membeku kelu, tak mampu menghantarkan satu kalimat pun untuk menjawab pertanyaan Xavier.


Di sisi lain, Xavier tersenyum karena perkataannya berhasil membungkam Sera. Lelaki itu bersedekap puas, lalu mengalihkan pandangannya dari Sera dan menatap lurus ke depan seolah-olah perdebatan mereka sudah diakhiri.


Mobil yang mereka kendarai pun melaju semakin kencang seiring dengan hujan salju yang semakin deras, sementara keheningan menyeruak menyiksa di dalam kabin penumpang itu. Lalu, pada saat Sera masih berusaha merangkai kata-kata untuk menyanggah Xavier. Tiba-tiba saja ponsel lelaki itu berbunyi.


Ekspresi Xavier ketika mendengar nada dering ponselnya itu tampak terkejut, seolah-olah lelaki itu sedang tak menunggu panggilan apapun melalui ponselnya dan suara dering ponsel itu mengganggunya, membuatnya berfirasat buruk.


“Ada apa?” tanpa menunggu orang di seberang sana berucap, Xavier langsung menyahuti panggilan yang diangkatnya dengan nada suara tegas sedikit mengintimidasi.


Sera berusaha menajamkan telinganya untuk mencuri dengar. Sayangnya, dia tak berhasil  menerjemahkan suara gumaman tak jelas yang terdengar sayup dari ponsel Xavier.


Hanya satu yang bisa dia simpulkan: orang di seberang sana tampak berbicara dengan panik dan cemas.


“Oke.” Xavier berucap tajam dan mata Sera yang awas langsung meneliti ekspresi lelaki itu dan menyadari bahwa kerutan di wajah Xavier semakin dalam ketika orang yang meneleponnya telah selesai berbicara. “Kami akan tiba sebentar lagi,”sambungnya kemudian.

__ADS_1


Setelah menutup teleponnya, Xavier memajukan tubuh, menekan tombol intercom untuk berkomunikasi dengan supir yang ada di kabin depan.


“Percepat.” Perintahnya singkat, lalu menutup komunikasi kembali. Supir itu langsung mengikuti perintah, mempercepat laju kendaraan yang tadinya sediki pelan berhati-hati berubah menjadi penuh manuver cepat dalam menghadapi kondisi jalan yang semakin terjal berliku.


Meskipun begitu, mata Sera tak pernah lepas mengawasi Xavier, mencoba menilai perubahan situasi dengan saksama.


Tubuh Xavier yang seolah menegang, membuat Sera menyadari bahwa kemungkinan besar telah terjadi sesuatu yang tak sesuai dengan rencana yang telah diatur lelaki itu sebelumnya dengan sangat rapi dan tanpa cela.


Beberapa lama bersama Xavier, Sera langsung tahu bahwa Xavier yang terbiasa mengatur rencana dengan terperinci dan sempurna, sangat tidak suka jika terjadi sesuatu yang mengubah atau membelokkan jalannya rencananya itu. Bahkan meskipun perubahan itu hanya terjadi pada satu variabel kecil saja.


“Ada apa?” Sera memberanikan diri untuk bertanya dengan suara serak tersekat.


Xavier bergeming, tampak terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tak mendengar apa yang dikatakan oleh Sera.


Kediaman Xavier itu membuat jantung Sera berdebar oleh firasat buruk.


Apakah jangan-jangan, terjadi sesuatu pada ayahnya atau... Aaron?


“Xavier?” Sera bertanya kembali, mencoba menarik perhatian Xavier, tak sabar ingin mendapatkan jawaban.


Lelaki itu kali ini menoleh, matanya mengawasi Sera dengan tajam layaknya predator yang ingin menelan mangsanya bulat-bulat.


“A-ada apa?” Sera memberanikan diri mengajukan pertanyaan ketika mata Xavier malah menyiratkan sinar keji dan lelaki itu tak kunjung juga menjawab.


Kali ini, pertanyaannya berhasil mengubah sikap murung Xavier. Lelaki itu menyeringai, menatap Sera dengan penuh rasa jengkel dan kemarahan.


“Kau seolah pembawa sial bagiku. Sejak aku bertemu denganmu semua rencana yang kubuat selalu berbelok ke arah yang tak sesuai. Aku sangat tidak menyukai itu." tangan Xavier tiba-tiba bergerak membuka satu kancing kemejanya yang tadinya terpasang rapi, melonggarkan bagian atas kemejanya dengan santai.


Sera mengikuti arah gerakan Xavier dan tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering oleh prasangka.


"K-kau mau apa?" Akhirnya Sera bisa mengeluarkan suara parau dari tenggorokannya yang dehidrasi.


Xavier menyeringai jahat.


"Segalanya sudah bergerak di luar rencana, jadi, aku berpikir untuk melepaskan kendali diriku sebentar dan melakukan apa yang sebenarnya sudah ingin kulakukan sejak tadi...," Mata Xavier menyipit mengawasi Sera.


Kemudian, tanpa sempat Sera menghindar, lelaki itu meraih kedua bahu Sera dan menahan tubuh kurusnya dengan kekuatan tangannya. Lalu, lelaki itu mendesakkan tubuhnya hingga punggung Sera membentur pintu mobil. dan dalam sekejap, Xavier menyusulnya, merapat padanya, menahan tubuh Sera dengan tubuhnya.


Lalu, lelaki itu menunduk, wajahnya hampir menempel ke wajah Sera, bibirnya mencari-cari, tak peduli dengan gerakan kepala Sera yang panik serta putus asa, menggeleng-gelengkan kepala untuk menghindari bibir lapar lelaki itu.


Sayangnya, perjuangan Sera sepertinya sia-sia, Xavier berhasil memagut bibir Sera yang setengah terbuka, lalu menciuminya tanpa ampun.


"Persetan' dengan semua rencana! Bagaimana...." Xavier berbisik di sela kecupannya yang panas. "Kalau aku... " suara Xavier terputus-putus karena bibirnya yang lapar terus mencicip bibir Sera dengan rakus. "... memilikimu saja.... sekarang juga, di sini?"


***


___PRAKATA DARI AUTHOR___


- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking chat.


-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya


- Mohon maaf, dua hari kemarin author benar-benar sibuk urusan kerjaan sehingga tak sempat upload naskah. Author akan berusaha lebih rajin kalau udah agak nyantai nanti. Doakan ya semoga urusan kerjaan author lancar dan sukses.


- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.


- kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.


Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.


Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).

__ADS_1


Sincerely Yours - AY


__ADS_2