Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 82 : Murka


__ADS_3


Lengan Elana dicengkeram dengan sangat kasar, tepat di bagian sikunya yang masih meninggalkan jejak memar atas kekerasan sebelumnya yang menimpanya. Elana mengaduh dan meringis kesakitan, dia berusaha menahan diri supaya tidak ada suara yang terlepas dari bibirnya, tetapi rasa sakit itu sungguh tak tertahankan sehingga Elana akhirnya mengaduh.


Sayangnya, rintihan kesakitannya sama sekali tidak melembutkan hati bodyguard yang mencekal lengannya itu. Elana setengah diseret berdiri, lalu ditarik menjauh dan tiba-tiba saja pegangan dilengannya dilepaskan begitu saja sehingga tubuhnya seolah didorong kencang hingga dia terhuyung dan kehilangan keseimbangan.


Elana pasti akan langsung terjerembab jatuh ke tanah dan melukai lututnya kalau saja tidak ada tubuh kokoh yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya dan menahan dirinya supaya tidak sampai terjatuh.


"Kau tidak apa-apa?" Akram bertanya cepat dengan geraman pelan.


Kedua tangan Elana berpegangan dengan erat di dada lelaki itu. Kepala Elana pun mendongak dan dia langsung menelan ludah diserang rasa takut yang membuatnya begidik ketika menatap betapa kelamnya mata Akram yang saat ini sudah ada di depannya.


"Aku... aku baik-baik saja," jawab Elana cepat, berusaha keras untuk meredakan kemurkaan lelaki itu.


Akram tidak sedang menatapnya, lelaki itu sedang menatap ke arah dua bodyguard yang barusan memperlakukan Elana dengan kasar, sementara sinar matanya menunjukkan nafsu membunuh yang amat nyata.


“Mereka…. Mereka hanya menjalankan tugas. Ada artis terkenal di sana yang harus mereka pastikan kenyamanannya," Elana mencengkeramkan tangan mungilnya ke kain kemeja Akram dan mengguncangnya sedikit, mencoba membuat lelaki itu mengalihkan perhatian dari kemarahannya lalu mau diajak pergi dari tempat itu tanpa konfrontasi.


Sayangnya, kemarahan Akram sepertinya tidak bisa diredakan hanya dengan kata-kata. Lelaki itu menunduk menatap ke arah Elana hanya untuk menyerahkan kantong kertas berisi sanwich dan juga botol minuman dari tangannya ke tangan Elana.


“Menjadi orang terkenal dan memiliki banyak uang bukan berarti berhak mengusir orang lain dari tempat umum. Bawa ini,” suara Akram tegas memerintah, hingga tidak ada yang bisa dilakukan oleh Elana selain menerima kantong kertas dan botol minuman itu dengan kedua tangannya.


Elana membelalakkan mata dan hanya bisa memandang punggung Akram dengan was-was ketika lelaki itu melangkah mendekati kedua bodyguard yang tampak berdiri di sisi kiri dan kanan bangku taman tersebut, seolah menjaga supaya bangku yang teduh itu tidak diduduki oleh siapapun sampai majikan mereka selesai melayani penggemar yang  berkerumun meminta tanda tangan.


“Akram!”


Elana langsung menjerit terkejut ketika Akram tanpa berucap apapun, menarik salah satu bodyguard yang tadi telah mencekal lengan memar Elana dan langsung melayangkan pukulan keras ke wajahnya.


Begitu kuatnya pukulan tersebut hingga membuat tubuh kekar bodyguard itu terjengkang jatuh ke belakang, terjerembab dengan keras tanpa bisa melindungi dirinya. Malangnya, ketika lelaki itu mencoba bangkit, Akram sama sekali tidak memberinya kesempatan, lelaki itu memukul kembali dengan tingkat kekuatan pukulan yang lebih keras dari sebelumnya, membuat darah bermuncratan dari hidung yang patah dan mulutnya yang sobek hingga Elana yang menjadi saksi itu semua menjerit ngeri karenanya.


Rekan bodyguard yang lainnya sempat terpana sejenak ketika melihat rekannya dihajar seketika tanpa kesempatan untuk melawan. Lalu, ketika kesadaran sudah mulai melingkupinya, dengan sigap dia ikut bergerak untuk menarik Akram dan berusaha menyingkirkannya guna membantu temannya. Tangannya dengan kasar memegang tepat di pundak Akram dimana bebatan bahunya terhubung di sana, membuat Akram meringis ketika rasa sakit yang tajam akibat jahitan lukanya yang tertarik membuka kembali mengucurkan darah.


Seketika Akram berbalik, lalu tanpa memeri kesempatan untuk menghindar, dia melayangkan pukulan dengan tangannya yang sehat ke arah bodyguard yang satunya. Tepat mengenai hidungnya dan mematahkannya sampai terdengar suara berderak menyeramkan dari sana. Akram tidak berhenti sampai di situ, dia menyerang lawannya dengan pukulan fatal di titik-titik vital, melumpuhkannya dengan pukulan mengerikan dengan niat membunuh yang nyata.


“Akram!” kali ini Elana langsung meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya ke atas batu petunjuk jalan besar yang ada di pinggir trotoar, lalu menggunakan seluruh kekuatannya untuk secepatnya mendekat ke arah Akram yang seolah kesetanan.


Tangannya mencengkeram lengan lelaki itu, berusaha meredakan kemarahannya yang meluap mengerikan.


“Akram, hentikan! Kau bisa membunuhnya,” dengan putus asa, Elana mengguncang lengan Akram untuk menarik perhatiannya.


Sejenak Akram tertegun, seolah-olah suara dan sentuhan Elana telah membawa kembali ketenangannya yang semula dilibas oleh kemarahan tak terkendali. Lelaki itu lalu bangkit dan berdiri tegap di atas dua tubuh tumbang berlumur darah di dekat kedua kakinya. Napasnya sedikit terengah dan nyala api masih berkobar di matanya.


Tetapi kemudian, Akram menatap ke arah mata Elana yang melebar ketakutan bercampur cemas, dan kemurkaannya langsung terpadamkan seketika.


“Jangan menentangku,” Akram membuat gerakan meremehkan seolah menepiskan debu dari lengannya dan menghentikan semua kalimat protes yang hendak keluar dari bibir Elana. “Mereka berdua mencekal lenganmu dan bersikap kasar kepadamu. Mereka pantas dihajar," sambung Akram kemudian dengan sikap keras kepala.


“Tapi… tapi kau membuat keributan di sini….” Elana melirik cemas ke arah orang-orang yang mulai berkerumun untuk mencari tahu dan menonton sumber keributan yang cukup menarik. Dia juga melihat dengan sudut matanya, bahwa artis terkenal yang tadinya dirubungi fansnya itu telah memerintahkan bodyguardnya yang lain untuk memanggil pihak keamanan taman hiburan ini.


Bagaimanapun juga Akram telah memicu keributan di tempat ini, jadi sudah bisa dipastikan babwa pihak keamanan akan menindak mereka. Apalagi saat Elana melirik korban-korban Akram yang sebenarnya bertubuh lebih besar dengan otot bersembulan kemana-mana itu, kini tampak berbaring tanpa daya, hampir kehilangan kesadaran dengan darah melumuri wajah mereka, mengucur deras dari hidung yang patah, sudut mulut yang sobek dan seluruh bagian diri mereka yang babak belur terkena pukulan Akram.


Kalau saja dia tidak menghentikan Akram, mungkin saja lelaki ini telah membunuh para bodyguard malang tersebut….


Elana sendiri jadi semakin menyadari betapa berbahayanya Akram. Bahkan dengan sebelah lengannya yang terluka, dia bisa melawan dua orang berotot sekaligus.


Sebenarnya, seberapa tinggi teknik dan kemampuan membunuh yang dimiliki oleh lelaki ini?


Lelaki ini bagaikan mesin pembunuh yang tak bisa dihentikan. Pantas saja nama Akram begitu ditakuti oleh orang-orang yang mengenal reputasinya.


Pada saat yang sama, sekumpulan petugas keamanan taman hiburan ini langsung datang berderap mendekat, bersiap untuk meringkus sumber keributan.

__ADS_1


Artis cantik yang memanggil mereka juga tampak mengikuti di belakang, hendak mencari keadilan bagi kedua bodyguardnya yang dihajar tanpa ampun.


Elana yang masih memegang lengan Akram tampak cemas, apalagi ketika dia melihat Akram tampak kesakitan. Luka Akram sudah pasti terbuka dan lelaki ini berdarah lagi.


Apa yang harus mereka lakukan?


Jika Akram bersikeras melawan dan tak mau menyerah kepada puluhan petugas yang berdatangan ini, sudah pasti lelaki ini akan terluka lebih daripada ini.


Elana harus berhasil membujuk Akram supaya mau berkompromi….


“Tuan Akram?”  suara dari pemimpin petugas keamanan yang datang itu tampak luar biasa terkejut. Ekspresinya memucat, antara segan bercampur tak menyangka. “Apa… yang Anda lakukan di sini?” mata pemimpin petugas keamanan itu memandang korban-korban Akram yang bergelimpangan tak berdaya di kakinya.


Dia mendapatkan laporan gangguan keamanan di area sudut tempat akan dilaksanakan syuting iklan dengan artis cantik terkenal, Vanessa Yesu, seorang artis, model dan juga penyanyi bersuara emas yang didapuk sebagai brand ambassador untuk Taman Hiburan Ocean Garden. Dirinya, sebagai pemimpin tertinggi dari departemen keamanan dan ketertiban di taman hiburan paling besar di negara ini pun bahkan bersedia turun langsung untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan lancar.


Sebenarnya, mulai pagi tadi mereka sudah bersiap-siap berjaga ketat di seluruh perimeter keamanan dekat lokasi syuting untuk menghindari adanya insiden dari para penggemar gila yang lepas kendali. Tetapi, sama sekali tak disangka kalau keributan yang terjadi bukannya dipicu oleh fans Vanessa Yesu, melainkan oleh seseorang yang sama sekali tak disangka akan menapakkan kakinya di tempat seperti taman hiburan ini.


Apa yang dilakukan Akram Night di taman hiburan pada siang hari bolong seperti ini?


Akram menyipitkan mata, memindai dengan saksama ketika menyadari bahwa pemimpin petugas keamanan itu mengenal dirinya. Setelah beberapa saat, bibir Akram menyeringai menunjukkan pengenalan yang sama.


Pemimpin petugas keamanan itu adalah Richard, yang dulu di saat mudanya, pernah meniti karier belasan tahun dengan menjadi bodyguard Akram. Ketika usianya menginjak empat puluh lima tahun dan merasa tubuhnya sudah tak kuat lagi untuk menjadi bodyguard, Richard mengundurkan diri dan pensiun, mencari pekerjaan di belakang meja yang tidak memerlukan lagi kekuatan fisiknya yang sudah mulai menua. Pada akhirnya, koneksi Akramlah yang membantunya memberikan jalan karir sehingga dia bisa menjabat sebagai pemimpin dari departemen keamanan dan ketertiban di taman hiburan paling besar di negara ini.


Sesungguhnya, Akram memiliki saham di taman hiburan ini, saham yang sangat besar malahan, yang membuatnya bisa mengambil keputusan strategis menyangkut urusan taman hiburan ini. Tetapi Akram sengaja tidak mengatakannya kepada Elana karena dia tidak mau perempuan itu memandang dirinya dengan negatif seolah dia adalah pemimpin yang sombong dan arogan.


“Ah, Richard. Sungguh suatu kebetulan bertemu dengan dirimu di sini. Kau sudah melihat, bukan? Aku sedang memberi pelajaran pada para bajingan yang bertingkah tidak sopan pada wanitaku,” Akram memandang sinis kepada kerumunan orang yang dipenuhi rasa ingin tahu di sekeliling mereka dan langsung berucap dengan geraman mengancam tersirat. “Kau mungkin bisa menyingkirkan kerumunan orang-orang yang tidak berkepentingan itu? Itu membuatku tidak nyaman,” ucapnya dengan nada tegas berkuasa.


Tidak perlu menunggu lama agar perintahnya dipenuhi. Richard langsung berbalik dan memberikan instruksi singkat kepada seluruh anak buahnya yang langsung bergerak membubarkan kerumunan dengan cepat dan tanpa perlawanan.


“Apa yang terjadi?” Vanessa yang tadinya melihat dari kejauhan dan menyadari bahwa segala sesuatunya tak berjalan sesuai dugaannya, akhirnya memutuskan melangkah mendekat guna mencari tahu apa yang sedang terjadi. Dia tadinya hendak memprotes ketika menyadari bahwa sosok yang memicu keributan dan menghajar anak buahnya tidak mendapatkan penanganan yang semestinya. Tetapi, ketika mendekat dan mengenali siapa yang mereka hadapi, langsung tahulah dia kenapa para petugas keamanan itu sama sekali tidak berani bertindak.


“Akram Night?” seru Vanessa seolah tak percaya.


Vanessa sendiri tidak membunuh harapannya untuk bisa menjadi salah satu dari deretan kekasih Akram Night suatu saat nanti. Dia tahu bahwa Akram hanya mau mengencani wanita-wanita kelas tinggi dari kalangan keluarga bangsawan, artis terkenal atau model internasional dan para wanita lain yang terkenal dengan kecantikan serta berjaya di bidangnya. Itu jugalah yang membuatnya termotivasi menjadi perempuan hebat yang bisa memenuhi kriteria perempuan yang pantas mendampingi Akram Night.


Dia telah berhasil meniti karir menjadi artis tingkat tinggi, model bertubuh seksi dan memiliki suara emas pula..Hanya tinggal menunggu sampai dia berusia di atas dua puluh lima tahunan sehingga dia bisa cocok sepenuhnya menjadi wanita Akram.


Akram memasang ekspresi dingin, melirik ke arah Vanessa dengan sikap mengenali yang datar.


“Vanessa Yesu,” Akram menganggukkan kepala singkat.


Hati Vanessa langsung berbunga-bunga ketika menyadari bahwa Akram ternyata mengetahui nama lengkapnya.


Mungkinkah sebenarnya dirinya sudah menarik perhatian Akram sejak lama dan lelaki itu menunggunya untuk dipetik? Pertemuan mereka saat ini bisa saja menjadi takdir yang mungkin akan mempertautkan mereka berdua, bukan?


Dengan dagu terangkat, Vanessa langsung bersikap sebagai penguasa panggung, memancarkan kecantikannya yang luar biasa dan tersenyum tipis dengan pongah ketika menyadari bagaimana para lelaki petugas keamanan yang masih ada di sekeliling mereka langsung terkagum-kagum oleh pesona kecantikkannya yang luar biasa.


Dia melangkah maju mendekat, memasang ekspresi paling indah yang bisa diberikannya dan tersenyum lembut menggoda ke arah Akram.


“Aku sama sekali tidak menyangka bisa bertemu dengan sosok Akram Night di taman hiburan seperti ini. Apa yang kau lakukan di sini, Akram? Apakah kau sedang meninjau prospek bisnis baru yang menguntungkan?” Vanessa melebarkan tangannya sambil memajukan buah dadanya yang besar, memamerkan aset tubuhnya yang biasanya mampu membuat banyak lelaki melotot tergila-gila karenanya, “Kalau kau hendak menanamkan investasi di perusahaan ini, kita mungkin bisa sering bertemu dan bekerjasama. Kau tahu, aku baru saja menerima kontrak untuk menjadi brand ambassador bagi Ocean Garden,” sambungnya dengan bibir basah dan mata berbinar penuh arti.


Akram menyipitkan mata, menatap Vanessa dengan pemindaian terang-terangan dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat hati Vanessa membuncah dan jantungnya berdegup kencang, diiringi dengan gelenyar tubuhnya yang tak terkendali, gemetar karena dipandang oleh lelaki sejantan Akram Night.


“Aku tidak memerlukan pertimbangan investasi untuk tempat ini, karena aku sudah lama menjadi pemegang saham terbesar di sini,” Akram menjawab tenang dengan nada angkuh. Dirasakannya cengkeraman Elana di lengannya mengencang pertanda bahwa perempuan itu terkejut dengan informasi itu, tetapi Akram mengabaikannya untuk saat ini.


Ada urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum dia memusatkan kembali perhatiannya kepada Elana.


Berbeda dengan ekspresi Akram yang gelap dan muram, mendengar pemberitahuannya itu, Vanessa tampak semakin terang benderang, tak bisa menutupi kebahagiaaan yang membuncah di dalam dirinya.


“Oh benarkah? Jadi kita akan sering bertemu dan bekerjasama nantinya?” seru Vanessa kesenangan, membayangkan kesempatan besar di depan mata hingga membuatnya lupa diri.

__ADS_1


Akram kembali menyipitkan mata, kali ini ekspresinya menggelap, tampak tegas sekaligus berbahaya.


“Tidak,” sahutnya dengan nada dalam tak terbantahkan.


Jawaban singkat itu membuat Vanessa mengerutkan kening tak paham.


“Tidak? Apa maksudnya, Akram?” tanyanya cepat, ingin mendapatkan jawaban dengan segera.


“Tidak, kita tidak akan bertemu lagi setelah ini. Aku akan memastikannya.” Akram mengulangi kembali perkataannya, tampaknya tak ingin memberi penjelasan lebih lanjut pada Vanessa yang penasaran. Mata Akram malah teralih dari Vanessa dan menatap ke dua tubuh yang masih bergelimpangan tak sadarkan diri di kakinya. “Apakah dua orang ini adalah bodyguardmu?” tanyanya cepat.


Vanessa mengikuti arah tatapan mata Akram dan menatap dua orang pegawainya yang malang. Sambil menelan ludah, dia kembali menatap Akram lalu menganggukkan kepala takut-takut.


Astaga… dia begitu terpesona dengan kehadiran Akram hingga lupa kalau lelaki di depannya ini telah menghajar dua bodyguardnya tanpa ampun...


Sebenarnya kesalahan apa yang dilakukan oleh kedua bodyguardnya hingga mereka harus menerima kemurkaan Akram yang sedemikian besarnya?


“Mereka betul adalah bodyguardku…. Apa…. Apa kesalahan mereka, Akram?” Vanesa melemparkan tatapan takut-takut ke arah Akram ketika bertanya.


Akram mengeraskan ekspresinya, kali ini kemarahan terpampang nyata di wajahnya.


“Mereka dengan kurang ajar berani-beraninya mengganggu wanitaku,” dengan gerakan cepat, untuk menunjukkan keberadaan Elana yang sejak tadi seolah tak dilihat dan diabaikan oleh Vanessa, Akram meraih Elana dan merangkul perempuan itu dengan posesif, lalu membawanya tangan Elana ke bibir sebelum kemudian mengecup jemarinya dengan luar biasa lembut.


***



***


CATATAN AUTHOR


✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️


**Hello. Maafkan Author yang hanya mampu kembali dengan membawa satu part saja untuk kalian.


Sejujurnya, Author masih sakit flu parah dan belum sembuh benar.


Jadi janji crazy update dari author belum sanggup author wujudkan karena tubuh belum mendukung. Untuk menulis beberapa paragraf saja, mata author masih berkunang-kunang tidak kuat


Tetapi, author tidak akan berhenti berusaha menuliskan lanjutan kisah ini untuk kalian.


Ini sekedar satu part singkat untuk melepas rindu kalian, yang author tulis dengan penuh perjuangan, semoga kalian menghargainya seperti author yang terus menghargai seluruh support, dukungan, semangat dan doa dari kalian.


Thank You.


AY**



***



***



***


__ADS_1


**


__ADS_2