
Tidak ada yang berani mengganggu suasana haru yang menyelimuti ruangan itu, tidak ada juga yang berani bersuara. Yang terdengar membahana di sana hanyalah isak tangis Elana yang terbenam dalam pelukan Akram. Tubuh Elana berguncang tak terkendali ketika pundak mungilnya gemetaran di dalam pelukan Akram, terbalur sedu sedan yang membuat napasnya sesenggukan.
Lengan kuat Akram memeluknya erat, seolah lelaki itu sedang berjuang sekuat tenaga untuk menenangkan Elana. Seluruh perhatian Akram terpusat kepada Elana, dan lelaki itu tak mempedulikan keadaan sekelilingnya. Mereka berdua tenggelam di dunia mereka sendiri yang hanya ada Akram dan Elana di dalamnya
Suara helikopter yang terdengar kencang sebelum mengudara, lalu terbang dan menjauh cepat akhirnya memudar ditelan jarak tak lama kemudian. Hal itu membuat Akram tersadar dari larutnya perasaan yang membuatnya terlupa dengan kondisi di sekitarnya.
Perlahan dengan sikap lembut tak terkira, dijauhkannya Elana dari peluknya. Perempuan itu masih menangis dan malahan berusaha memeluk Akram kembali, membuat bibir Akram mengurai senyum antara senang bercampur pahit.
Ketika menundukkan kepala dan menatap ke arah Elana yang tak mau lepas dan melingkarkan lengannya yang mungil dengan erat ke tubuhnya, Akram akhirnya memasang ekspresi bersalah di wajahnya.
Di satu sisi, dia sangat senang karena Elana memeluknya begitu erat dan seolah tak ingin lepas darinya, tetapi di sisi lain dia tahu bahwa saat ini ada prioritas yang harus diutamakan. Suara helikopter itu tidak terdengar lagi, itu berarti Dimitri sudah menjauh pergi, lepas dari pengejaran. Toh. Akram juga tidak berniat melakukan pengejaran lagi.
Hartanya yang paling berharga sudah tergenggam di tangannya. Apalagi yang dia butuhkan?
Dengan tatapan membunuh yang galak, Akram langsung mengalihkan perhatiannya ke arah dua orang teknisi yang berdiri ragu ketakutan. Sungguh sial, mereka dibayar mahal oleh Dimitri untuk memasang gelang peledak itu ke tangan tawanannya, nilai uangnya sangat menggiurkan hingga mereka mengambil risiko menerima tawaran itu. Tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa pemasangan gelang itu ternyata melibatkan dua orang mengerikan paling mengerikan di dunia bawah tanah sekaligus.
Ditambah lagi, perempuan ini sepertinya sangat berarti bagi Akram Night! Habis sudah! Jika sampai Akram Night menyimpan dendam terhadap mereka, maka sudah pasti mereka akan menyambut masa depan yang pekat menyeramkan.
“Kalian tunggu apa lagi? Cepat lepaskan gelang sialan itu dari tangan perempuanku!” Akram membentak ketika dua orang itu malahan diam berdiri setengah gemetar ketakutan.
Seperti kerbau yang dilecut oleh cemeti, dua orang teknisi itu langsung bergerak cepat, mereka melangkah mendekat, sedikit ragu ketika menatap Elana yang masih ada di dalam pelukan Akram.
Akram sendiri langsung menghela tubuh Elana untuk duduk di sofa di sebelahnya, lengannya melingkar di pundak Elana, sementara perempuan itu masih menangis meringkuk di pelukannya. Jemari Akram bergerak dengan lembut, mengusap sepanjang lengan Elana sambil lalu untuk menenangkannya.
“Tuan… maaf, kami membutuhkan tangan Nona…” dengan ragu salah seorang teknisi itu meminta, wajahnya pucat sementara kepalanya menunduk, tak berani menatap ke arah Akram karena takut lelaki itu akan memindai wajahnya, menemukan identitasnya, lalu memasukkannya dalam daftar hitam musuh-musuhnya.
Akram mengusap lengan Elana perlahan, sebelum kemudian menggerakkan tangan Elana ke arah teknisi itu yang langsung menyambutnya. Begitu kontak kulit terjadi, seketika Akram merasakan tubuh Elana menegang, seolah-olah perempuan itu diliputi ketakutan yang amat sangat karena disentuh oleh lelaki asing. Rasa bersalah langsung menghujam ke dalam jiwa Akram, menamparnya dengan kalimat cacian yang dia tujukan kepada dirinya sendiri.
Perempuan ini meringkuk di pelukannya karena Akram telah memaksakan diri menjadi satu-satunya tempat berpulang dan bersandar baginya. Padahal Akram sesungguhnya sama jahatnya dengan semua orang yang pernah menyakiti Elana. Dia mungkin adalah yang paling jahat di antara semuanya dan dirinya sesungguhnya tak pantas menerima pelukan Elana seperti ini.
Berusaha menekan pikiran mengganggu di benaknya, Akram menunduk dan menanamkan bibirnya dalam sebentuk kecupan lembut di permukaan pelipis Elana.
“Sshh, tidak apa-apa, aku ada di sini,” hiburnya perlahan, layaknya menghibur kucing kecil yang gemetaran.
Usahanya berhasil, tubuh Elana melemas, pasrah dan tidak lagi berusaha melawan, membiarkan kedua teknisi itu menyelesaikan tugasnya dengan gerakan sehati-hati mungkin.
Mata Akram mengawasi dengan saksama ketika para teknisi itu melakukan pekerjaannya, tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan membuat para teknisi itu semakin gugup. Tetapi, beruntung mereka akhirnya bisa melepaskan diri dari situasi menegangkan tersebut dan meloloskan gelang peledak itu dari tangan Elana.
“Sudah selesai, tuan,” salah seorang teknisi itu memberanikan diri membuka suara.
“Pergi dari sini dan jangan sampai aku bertemu dengan kalian lagi,” Akram menggeram dengan nada mengerikan, membuat para teknisi itu tidak perlu sampai diperintah dua kali. Mereka berdua langsung berbalik arah dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat.
Seiring dengan kepergian Dimitri, maka pergi jugalah seluruh bodyguard dan pasukan penjaga yang disewanya untuk berjaga-jaga jika harus bertarung kekuatan fisik melawan Akram. Untuk saat ini, seluruh rumah ini sudah lepas sepenuhnya dari sisa jejak keberadaan Dimitri. Yang tertinggal di tempat ini sekarang hanyalah anak buah Xavier dan Akram saja.
Akram sendiri masih belum beranjak dari tempatnya duduk. Tangannya masih mengelus Elana, bibirnya masih menempel di pelipis Elana dan membisikkan kata-kata lembut penuh hiburan, menyebut nama perempuan itu berulang kali untuk mengungkapkan betapa besyukurnya dia karena telah mendapatkan Elana kembali di dalam peluknya.
Entah sudah berapa lama Akram menghabiskan waktu untuk membuai Elana yang masih terisak di lengannya. Hingga akhirnya, suara sedu sedan Elana tampak melemah, dan Akram merasakan tubuh perempuan itu lunglai di peluknya seolah kehilangan kesadaran. Ekspresinya berubah cemas ketika dia melemparkan pandangannya ke arah Nathan yang sejak tadi sudah menunggu kesempatan untuk memeriksa Elana.
Tanpa menunggu isyarat berikutnya, Nathan langsung mendekat ke arah Akram sementara Akram memindahkan kepala Elana yang tenggelam di dadanya ke lengannya. Tubuh Elana lemas dan matanya terpejam, sementara kepalanya berbaring lunglai di siku Akram.
“Dia pingsan?” Akram berbisik perlahan, nadanya ketakutan. “Tadi dia sadar dan baik-baik saja. Apa yang terjadi padanya, Nathan?” sambung Akram dengan nada gusar.
Nathan tidak menjawab, lelaki itu memeriksa nadi Elana, lalu keseluruhan tanda-tanda vitalnya. Setelahnya dia menghela napas panjang.
“Tidak apa-apa, dia hanya kelelahan. Sepertinya Elana tidak tidur sama sekali sejak kejadian itu. Kau hanya harus membawanya pulang dan membiarkannya beristirahat sepenuhnya,” simpul Nathan menenangkan.
Akram menghela napas panjang. Matanya kembali terarah kepada bekas-bekas memar di sekujur tubuh Elana yang mulai menggelap. Bahkan dari jarak dekat seperti ini, memar itu terlihat lebih menyeramkan. Saat ini Elana pasti sedang merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
“Bagaimana dengan bekas memar dan rasa sakitnya? Tidakkah kita seharusnya memberikan obat?” tanya Akram dengan nada khawatir.
Nathan memindai tubuh Elana dan memastikan kembali. Setelahnya dia menggelengkan kepala perlahan.
“Untuk saat ini tidak perlu, sepertinya Dimitri telah memberikan penanganan medis untuk Elana. Karena itulah Elana bisa jatuh tertidur. Menurutku, dia sudah minum obat penahan sakit. Tetapi, aku tentu akan meresepkan salep untuk memarnya dan juga obat penahan sakit guna kau berikan saat Elana sudah bangun nanti.”
__ADS_1
Akram menganggukkan kepala, lalu hendak bangkit dari duduknya. Dia berusaha membawa Elana beranjak bersamanya, tetapi tentu saja Nathan langsung menahannya.
“Apa kau hendak melukai dirimu sendiri, Akram? Kau bahkan belum boleh mengangkat lenganmu, bagaimana mungkin kau hendak mencoba membawa Elana dalam gendonganmu? Kemari, biar aku yang mengambil alih,” tanpa meminta izin kepada Akram, Nathan langsung bergerak gesit, meraih Elana dan membawanya ke dalam gendongannya.
Ketika Akram menatapnya dengan tatapan membunuh bercampur kecemburuan, Nathan hanya tersenyum pahit dan sama sekali tak gentar. Ditatapnya Akram dengan berani sebelum berucap.
“Tunggu apalagi? Ayo kita pergi supaya Elana bisa beristirahat,” ajak Nathan dengan tak sabar.
Baru kali inilah Akram mengalah ketika disuruh-suruh oleh Nathan. Dia bahkan tak mengeluarkan sepatah katapun meskipun ekspresinya tampak muram mengerikan, dan langsung berjalan mengikuti Nathan yang masih menggendong Elana melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
***
***
Begitu terfokusnya perhatian semua orang pada Elana, hingga tidak ada yang memperhatikan ketika Xavier menyelinap pergi dari ruang tamu utama rumah tersebut dan menaiki tangga ke lantai dua.
Bahkan Elios yang sibuk mengkoordinasi seluruh anak buah Akram sepeninggal atasannya itu juga melupakan keberadaan Xavier. Segera setelah seluruh anak buah Akram meninggalkan rumah itu dan menghapus seluruh jejak mereka di sana, Elios pun ikut meninggalkan rumah Dimitri.
Yang tertinggal di sana sekarang hanyalah Xavier dan anak buahnya yang menunggu dengan tenang di lantai bawah, sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Xavier sebelum pergi meninggalkan mereka.
Xavier yang telah terbebas sepenuhnya, melangkah perlahan menyusuri lorong lantai dua yang senyap. Di kiri dan kanan lorong, terdapat pintu-pintu tertutup yang kemungkinan besar merupakan kamar kamar-kamar untuk tidur penghuni rumah.
Xavier memasang telinganya baik-baik, berusaha menangkap suara sekecil apapun yang dia bisa. Dan bibirnya langsung menyeringai ketika mendengar suara gedoran dari pintu di ujung lorong yang diiringi dengan teriakan marah seorang perempuan.
Dengan penuh antisipasi, Xavier melangkah mendekati pintu yang telah menjadi tujuannya itu. Seringainya bertambah semakin lebar seiring dengan dia semakin mendekati pintu tersebut. Kilat kekejaman di matanya berkobar seolah-olah lelaki itu semakin tak sabar untuk mendapatkan pelampiasan.
Xavier kemudian berdiri, diam tepat di depan pintu yang masih digedor dari dalam itu, seolah-olah manusia yang ada di balik pintu tersebut begitu putus asa berampur marah, tak sabar ingin dikeluarkan dari kurungan.
“Lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini! Dimitri! Kau tak boleh memperlakukanku seperti ini!”
Michaela berteriak putus asa, melakukan semua yang dia bisa untuk menarik perhatian siapapun yang berada di luar sana. Segala cara sudah dilakukannya, memukul menendang, dan bahkan saat ini dia sedang memukul-mukul pintu dengan kursi rias mungil yang tersedia di kamar, membuat lengannya terasa sakit dan peluh kelelahan bercucuran di dahinya.
Entah sudah berapa lama Michaela berjuang supaya dilepaskan. Tetapi, sepertinya Dimitri memilih untuk mengurungnya sampai seluruh urusannya selesai.
Tetapi dugaannya ternyata salah besar. Bukan hanya Dimitri memutuskan untuk terus mengurungnya, lelaki itu bahkan tega meninggalkannya sendirian di rumah ini.
Tadi, Michaela mendengar suara helikopter menderu di luar sana dan firasat buruk langsung menyerangnya. Dia segera berlari ke jendela untuk membuktikan firasatnya yang ternyata benar. Dilihatnya seluruh pasukan Dimitri undur diri meninggalkan rumah itu menggunakan mobil-mobil yang telah disiapkan. Pun dengan Dimitri, dengan kejam lelaki itu pergi seorang diri menggunakan helikopter yang tak terkejar lagi.
Dasar lelaki brengsek pengecut! Michaela benar-benar ditinggalkan sendirian, terkurung di kamar dalam rumah kosong yang dipenuhi oleh pasukan musuh!
Karena itulah dengan putus asa dia menggunakan kekuatannya untuk menggedor pintu kembali, berharap masih ada yang berbaik hati untuk mengeluarkannya dari rumah ini.
Lalu, sebuah suara lembut terdengar dari luar, begitu lembutnya hingga membuat gerakan liar Michaela yang putus asa terhenti seketika.
“Mundurlah supaya kau tidak terkena peluru. Aku akan menembak pintu ini,”
Perintah itu begitu tenang dan menyiratkan kesungguhan yang tulus. Michaela sendiri tak punya harapan selain satu-satunya penolongnya yang masih tetinggal itu. Karena itulah, dia langsung menurut, melangkah mundur dan menatap pintu dengan was-was.
“Apakah kau sudah menjauh dari pintu?” suara itu terdengar lagi, masih dengan nada lembut tetapi kali ini tersirat tuntutan di sana.
Michaela otomatis mengangguk. Tetapi, ketika disadarinya bahwa orang diseberang pintu itu tidak bisa melihat anggukannya, dia langsung berdehem dan mengucapkan kata ‘ya’ dengan suara serak.
Begitu mendengar kepastian darinya, suara ledakan keras dari tembakan jarak dekat langsung membahana di udara, membuat Michaela refleks menutup telinga dengan kedua tangan karena suara itu menyakiti gendang telinganya.
Pintu kayu tebal itu langsung terkoyak, hancur berkeping di pegangannya dan langsung membuka. Sosok yang kemudian muncul di balik pintu itulah yang membuat mata Michaela melebar dipenuhi keterpesonaan tak terperi.
Itu adalah struktur wajah yang paling indah yang pernah dilihat oleh mata Michaela sebelumnya. Ketampanannya begitu mempesona hingga melebihi batas ketampanan seorang manusia. Bibir Michaela ternganga dan dia langsung sadar ketika menatap lelaki itu.
Ini sudah pasti adalah Xavier Light yang ketampanannya melegenda.
Selama ini Michaela selalu melihat foto-foto lelaki itu dimuat di media-media yang memuji ketampanan dan kejeniusannya, tetapi dirinya sama sekali belum pernah berkesempatan bertemu secara langsung. Itu semua karena sosok Xavier Light memang dikenal sangat jarang bersosialisasi. Jangankan menghadiri undangan di jamuan-jamuan yang diisi oleh tamu-tamu kelas atas, orang-orang bahkan bilang bahwa Xavier Light hampir tidak pernah keluar dari rumahnya.
“Michaela, artis yang sangat terkenal, mengagumkan dan pemenang penghargaan,” Xavier tersenyum dengan nada lembut. “Sungguh suatu kesenangan tersendiri bisa berjumpa denganmu di sini,” ucapnya guna mengalihkan keterpakuan Michaela yang seolah tersihir oleh pesonanya.
__ADS_1
Kata-kata Xavier sebenarnya mengandung makna ganda yang mengerikan. Tetapi, Michaela salah menangkapnya sebagai kalimat kekaguman dari seorang lelaki yang memujanya. Dia langsung mendapatkan kepercayaan dirinya yang pongah, mendongakkan dagunya dan berusaha merapikan rambutnya yang berantakan. Dipasangnya senyuman yang paling seksi dan ditatapnya Xavier dengan menggoda.
“Xavier Light yang terkenal memiliki ketampanan seperti malaikat. Aku tak menyangka begitu beruntung melihat bukti ketampananmu dengan mata kepalaku sendiri,” ucapnya memuji dengan nada genit dan tatapan mata merayu.
Senyum Xavier melebar. “Apa yang membuatmu berakhir di tempat seperti ini, Michaela?” tanyanya cepat.
Pipi Michaela memerah. Tidak mungkin dia bilang bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh Dimitri dan dicampakkan dengan kejam, bukan? Lagipula, melihat sikap Xavier Light yang ramah, sepertinya lelaki itu sama sekali tidak menghubungkannya dengan penculikan wanita jalang jelek di bawah sana.
Melihat ketampanan Xavier, tidak mungkin lelaki ini memiliki kepedulian pada perempuan jelek itu. Dimitri pasti telah berhalusinasi ketika mengatakan bahwa perempuan jelek itu memiliki arti penting bagi Akram dan Xavier. Sudah pasti karena kesalahan strategi itulah maka Dimitri terbirit-birit melarikan diri ketika usahanya untuk menguasai Akram dan Xavier tidak berjalan sesuai rencana.
Begitu Michaela membuka mulut, kebohongan langsung terlontar dengan lancar di sana. Bakatnya sebagai seorang akrtris juga semakin membantu untuk membuat kata-katanya meyakinkan.
“Dimitri....mafia jahat itu, musuh kalian yang baru melarikan diri itu… dia mengejar-ngejarku seperti orang gila, dan ketika aku menolaknya, dia tidak terima dan mengurungku di sini,” Michaela memasang ekspresi sedih bercampur takut yang tentu saja hanyalah sebuah akting. “Dia… dia sudah pergi, bukan? Aku sudah bebas, bukan?’ tanyanya kemudian sambil sengaja menambahkan nada rapuh yang pasti akan membuat hati laki-laki manapun terenyuh.
Sayangnya, Michaela tak tahu bahwa menghadapi perempuan-perempuan palsu pengkhianat seperti ini, Xavier sama sekali tak punya hati. Lelaki itu menutupi rasa muaknya dengan sikap ramah, lalu mengulurkan tangannya dengan lembut ke arah Michaela.
“Kasihan sekali dirimu, perempuan secantik dirimu tidak seharusnya mendapatkan perlakuan sekasar ini. Mari, ikutlah denganku,” ajaknya dengan nada persuasif yang sangat sulit ditolak.
Seandainya saja Michaela tidak sedang menjaga image-nya di depan Xavier, dia pasti akan langsung meloncat dengan senang hati dan menerima uluran tangan Xavier. Tetapi, saat ini dia berakting sebagai perempuan rapuh yang memiliki harga diri tinggi dan menatap uluran tangan Xavier dengan ragu.
“Kau… kau akan membawaku kemana?” tanyanya perlahan.
“Kita tidak mungkin ke kantor polisi untuk melaporkan Dimitri karena itu akan menimbulkan skandal yang mengganggu karir keartisanmu, bukan? Jadi, aku menawarkanmu untuk datang ke rumahku, kau bisa tinggal dan bersantai di sana…. bersamaku. Kau tidak diperlakukan dengan layak di sini. Tetapi, jika kau bersedia bersamaku, aku akan memastikan kau mendapatkan perlakukan yang sangat layak untuk kau terima,” jawab Xavier dengan nada meyakinkan sedikit merayu.
Mata Michaela melebar dan jiwanya langsung bersorak-sorai dipenuhi oleh kegembiraan tak terperi mendengar pertanyaan Xavier itu.
Lelaki ini… mengajaknya tinggal bersama? Seorang Xavier Light meminta dirinya untuk menjadi kekasihnya? Tentu saja akan sangat bodoh jika Michaela sampai menolaknya!
Dengan sikap malu-malu yang palsu, Michaela menerima uluran tangan Xavier, lalu sengaja membuat dirinya terhuyung hingga ketika Xavier menangkapnya, dirinya langsung jatuh terhuyung di pelukan lelaki itu.
“Aku… aku mau ikut denganmu,” bisik Michaela dengan suara serak manja sambil mendongakkan kepala ke arah Xavier.
Xavier terkekeh perlahan, tidak mengatakan apa-apa dan hanya merangkul Michaela, lalu menghelanya keluar dari ruangan itu, mengajaknya berjalan bersama melewati lorong rumah untuk menuruni tangga.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari Xavier, tubuhnya kaku tanpa suara sambil tetap merangkul Michaela melangkah menuruni tangga. Perempuan itu menggelayut di dadanya, bersikap manja tanpa tahu malu dan terlalu bahagia dengan keberuntungan besarnya yang dia kira akan dia dapatkan, sehingga lengah dan malah sibuk menikmati rangkulan Xavier.
Padahal, seandainya saja Michaela mendongakkan kepala saat ini, dia pasti akan mengkerut ketakutan setengah mati ketika melihat wajah gelap Xavier yang diliputi kekejaman gila nan menyeramkan.
Ya, Xavier akan memastikan, bahwa begitu Michaela masuk ke dalam rumahnya, perempuan itu tidak akan bisa keluar lagi dari sana dalam kondisi hidup. Bahkan, ketika nanti Xavier selesai menuntaskan kemarahannya, jangankan nyawanya, mayat Michaela pun, sudah pasti tidak akan bisa terselamatkan dalam kondisi utuh.
***
***
CATATAN AUTHOR
✍️✍️✍️✍️✍️✍️
Sistem up dan publish cerita di mangatoon harus melalui sistem REVIEW dari admin dan editor mangatoon. Author tidak memiliki kuasa untuk menentukan tanggal up.
Yang bisa dilakukan oleh author hanya menyerahkan naskah untuk direview dan kapan naskah tersebut diloloskan review, sepenuhnya merupakan hak dari editor dan admin mangatoon.
Terima kasih atas dukungan dan cinta yang diberikan supaya author semangat.
by AY
🙏🙏🙏🙏🙏
***
__ADS_1
***