Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 54 : Mencuri Waktu


__ADS_3


"Kau baik-baik saja?"


Akram menundukkan kepala ke arah Elana, sementara tatapannya tajam menelisik keseluruhan diri perempuan itu. Saat ini dokter Nathan telah menyiapkan peralatan di mobil ambulans yang akan membawa Elana ke rumah Xavier, sementara Elana duduk di kursi roda dengan Akram berdiri di sebelahnya menunggu di lobby lift khusus yang biasanya digunakan sebagai tempat penjemputan oleh Akram.


Elana menengadah menatap Akram, lalu menganggukkan kepala. Kedua tangannya saling *** dengan gugup. Dia baru diberitahu bahwa Akram memutuskan untuk mengirimkannya ke rumah Xavier demi menjalani proses pemberian penawar obat atas racun yang menjalari tubuhnya.


Tentu saja Elana terkejut dan takut luar biasa. Bayangan berkas kematian Anastasia yang pernah diberikan Akram kepadanya langsung muncul dalam benaknya, membuatnya begidik, diliputi oleh kengerian yang amat sangat. Meskipun di depan mata Xavier tampak lemah lembut, tapi Elana sadar bahwa kekejaman Xavier yang terpampang nyata di berkas itu tak terbantahkan lagi.


Dan sekarang dia harus menyerahkan nasibnya ke tangan Xavier....


Dokter Nathan menjelaskan bahwa saat ini tidak ada jalan lain yang bisa mereka tempuh. Elana harus menerima antidote itu, dan hanya Xavierlah yang memilikinya. Xavier begitu licik menyuntikkan racun itu ke tubuh Elana sehingga membuat posisinya di atas angin. Bahkan seorang Akram Night pun akhirnya harus berkompromi dengan Xavier, demi menyelamatkan nyawa Elana.


Mata Akram melirik ke arah kedua tangan Elana yang masih saling *** dengan gugup, membuat Akram menipiskan bibir, dipenuhi oleh rasa bersalah.


Akram lalu berlutut di depan kursi roda Elana, menggunakan satu lututnya untuk menyangga tubuh sementara kedua tangannya yang besar menangkup kedua tangan Elana yang mungil hingga tenggelam sepenuhnya. Ekspresi wajahnya terlihat serius ketika dia memaksa Elana untuk membalas tatapannya.


"Kau akan dijaga ketat oleh anak buahku. Aku akan memastikan bahwa Xavier tidak akan bisa menyakitimu," Akram mengucapkan kalimatnya dengan nada serius. "Kau mempercayaiku, kan?" tanyanya dengan nada menuntut.


Elana menelan ludah, tapi tak urung dia menganggukkan kepala. Dia sudah tak memiliki siapapun dalam hidupnya, selain Akram. Jadi, di situasi antara hidup dan mati seperti saat ini, Elana tidak punya pilihan selain mempercayai Akram.


Akram membuka mulut hendak berbicara, ekspresinya menunjukkan bahwa anggukan Elana seolah-olah kurang memuaskannya. Tapi pada saat yang sama, dokter Nathan datang mendekat dan memberitahukan bahwa mobil ambulans sudah siap untuk membawa Elana, hingaa membuat Akram mengurungkan niatnya.


Tanpa kata Akram beranjak berdiri, lalu membungkuk ke arah kursi roda untuk meraup tubuh Elana yang lemah ke dalam gendongannya, sambil meminta Elana merangkulkan tangan ke sekeliling lehernya.


Setelahnya, dibaringkannya Elana ke ranjang yang disiapkan untuk memasuki ambulans. Tangannya masih menggenggam tangan Elana untuk menenangkannya ketika para petugas medis yang dipimpin oleh Nathan memasang peralatan medis penunjang ke tubuh Elana yang akan digunakan sepanjang perjalanan menuju rumah Xavier.


Ketika Akram hendak melepaskan pegangannya dari tangan Elana dan membiarkan petugas medis itu mengangkat ranjang Elana ke dalam ambulans, mata Akram yang awas melihat sinar ketakutan berkelebat di mata Elana. Layaknya mata seorang anak kecil yang ditinggalkan tidur sendirian di kamar yang gelap pada saat hujan badai menerpa.


Elana tidak berkata apapun, tapi teror yang memenuhi matanya seolah meneriakkan permohonan kepada Akram supaya lelaki itu menahan kepergiannya.


"Kau akan baik-baik saja. Dua puluh jam dan kau akan pulang dalam perlindunganku," Akram mengucapkan janjinya dengan suara parau, dia bergerak mengecup bibir perempuan itu, lalu memaksakan diri melepaskan genggaman tangannya dari Elana dan menjauh.


Setelahnya, Akram hanya berdiri membatu dan membiarkan ranjang Elana diangkat masuk ke dalam ambulans, diikuti dokter Nathan dan Elios yang naik untuk mendampingi.


Lama kemudian, Akram masih berdiam diri di sana dengan tatapan nanar ke arah jalanan kosong tempat mobil ambulans itu menghilang di sudut jalan.


Dua puluh jam berikutnya sudah pasti akan menjadi dua puluh jam paling panjang dan menyiksa di dalam hidupnya.


***



***


Mobil ambulans yang diikuti konvoi mobil yang penuh berisi para bodyguard Akram memasuki gerbang besar layaknya istana tersembunyi di bagian ujung perumahan megah dan seolah terpisah dari yang lainnya.


Elana tahu bahwa daerah elit di pusat kota ini memang berisi rumah-rumah megah yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang kaya, tetapi dia sama sekali tidak menyangka ada sebuah istana megah tersembunyi di tempat ini.


Sepertinya, Xavier telah membangun istana perlindungan untuk dirinya sendiri di sini, sebuah tempat tak terjamah dimana dia bisa berbuat sesukanya dan bersikap sebagai seorang tuan muda kaya yang misterius.


Mobil-mobil yang mereka bawa dihentikan oleh sepasukan petugas keamanan di halaman. Mereka tidak merenggut senjata para bodyguard yang dikirimkan oleh Akram, hanya memeriksa bagian-bagian mobil seolah-olah menghindari kemungkinan adanya bahan peledak diselipkan di sana. Sementara itu, Elios tampak bercakap-cakap dengan seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Regas, asisten Xavier, dan membicarakan segala prosedur serta peraturan yang harus disepakati bersama dalam proses pemberian serum ke Elana.


Setelahnya, ranjang dorong Elana diturunkan dari ambulans dan dengan Elios serta Nathan berjalan di sisi kiri kanannya, juga diikuti oleh para bodyguard, mereka semua dikawal untuk berjalan memasuki rumah.


Sama seperti tampilan luar rumah Xavier yang  mirip kastil abad pertengahan, bagian dalamnya pun sama indahnya. Lantai dan dindingnya tertutup penuh oleh lapisan marmer warna krem bersemburat keemasan yang cantik, berpadu dengan lukisan-lukisan aliran renaissance yang begitu pas menggantung di sepanjang dinding lorong.

__ADS_1


Elana memandang itu semua sambil berbaring ketika ranjangnya didorong melewati lorong, sementara jantungnya semakin berdebar semakin kencang seiring mereka sampai di ujung lorong tersebut. Pintu besar dari ruangan yang terletak di ujung lorong terbuka, dan di sana tampak ranjang dan kursi roda pasien yang telah disiapkan di tengah ruangan, begitu juga dengan sebuah alat yang berbentuk seperti layar digital berukuran cukup besar, tengah dinyalakan hingga menghasilkan bunyi bib konstan yang menarik perhatian.


Keseluruhan ruangan ini seolah sudah disiapkan secara khusus untuk menangani Elana.


Elios langsung mengatur supaya para bodyguard menyebar ke titik-titik penting untuk melakukan penjagaan. Setelahnya, dirinya dan Nathan mendorong ranjang Elana memasuki ruangan.


Mata Nathan terpaku pada orang-orang yang memakai jas lab putih layaknya petugas medis dan tampak tengah menyiapkan segala sesuatu di sana, dan dia memutuskan menghampiri mereka.


“Aku akan memastikan bahwa cairan apapun yang akan dimasukkan ke dalam tubuhmu, aman bagi dirimu,” Nathan menoleh ke arah Elana dengan tatapan menenangkan, lalu melangkah pergi meninggalkan sisi ranjang Elana.


Ditinggalkan sendirian bersama Elana, Elios memandang ke sekeliling ruangan, ekspresi wajahnya tampak ragu dan dipenuhi kewaspadaan. Lelaki itu tampak sedang memindai semua orang berserta situasi di sekeliling mereka, lalu menghela napas sambil menoleh ke arah Elana.


“Mereka bilang bahwa Xavier sedang ada urusan mendadak. Dia tidak ada di tempat entah sampai jam berapa, sehingga dia tidak bisa menyambut kita,” Elios menoleh ke belakang tubuhnya ke arah pintu kamar untuk memastikan kembali, lalu menatap Elana dengan senyuman. “Semula saya tidak percaya. Tetapi, mengingat sejauh ini Xavier tetap tidak juga menampakkan diri, saya menduga bahwa apa yang dikatakan oleh Regas benar adanya. Anda bisa sedikit tenang, Nona Elana.” sambungnya lembut.


Elana menganggukkan kepala dan hatinya terasa hangat. Elios dan Nathan, dua orang ini adalah orang-orang yang setia dan bahkan mungkin menjadi sahabat yang selalu mendampingi Akram. Tetapi, mereka berdua telah memperlakukan Elana layaknya sahabat juga, mencemaskan kondisinya dan berusaha menenangkannya dengan caranya masing-masing. Hal itu membuat Elana terharu hingga ingin menangis rasanya.


Para petugas bergerak untuk membantu memindahkan Elana dari ranjang dorong ke ranjang pasien yang telah tersedia, lalu mulai memasangkan alat-alat ke tubuhnya. Mereka bergerak begitu cepat dan efektif hingga Elana menjadi panik. Matanya melirik ke arah dokter Nathan yang terus berdiri di dekatnya. Tatapan Elana jelas menunjukkan rasa takut, juga keinginan untuk diselamatkan, dan dokter Nathan langsung memberikannya. Tangan lelaki itu *** jemari Elana, menenangkannya.


“Aku sudah memastikannya. Antidote itu memiliki sertifikasi lengkap dan asli, dan itu benar-benar untuk penawar racunmu, tidak akan berbahaya untukmu.” Nathan memasang senyumnya yang paling lembut. “Bersabarlah ya? Kau akan sembuh, Elana.”


Sekali lagi yang bisa dilakukan oleh Elana hanyalah menganggukkan kepala. Dia berbaring diam dan menurut ketika jarum infus ditusukkan ke tubuhnya untuk memasukkan selang ke pembuluh darahnya dan mengalirkan cairan infus yang kali ini terasa begitu hangat, bercampur dengan darahnya dan menyebar ke seluruh tubuh sekaligus membawa kehangatan itu untuk mematikan rasa beku yang tadinya menguasai dirinya.


Elana merasa begitu nyaman hingga matanya terpejam, napasnya berubah teratur ketika kehangatan yang menyenangkan mulai melingkupi tubuhnya, rasanya seperti dibuai dalam pelukan dan diayunkan dengan penuh kehati-hatian.


“Infus itu akan membuat Nona Lana mengantu lalu tertidur pulas,” salah seorang tenaga medis dari pihak Xavier yang tadi bekerjasama dengan dokter Nathan untuk menangani Elana berucap sambil tersenyum, “Mungkin kita bisa membiarkan nona Lana beristirahat dan menunggu di luar.”


“Menunggu di luar? Tidak, kami tidak akan melakukannya!” Elios menyela dengan cepat dan waspada. Mereka sudah tentu tidak akan meninggalkan Elana di dalam sini sendirian begitu saja.


Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Xavier pada Elana yang sendirian ketika mereka melepaskan pengawasan?


Regas melangkah maju, segera mengambil alih situasi dengan efektif. “Mari, saya akan menunjukkan kepada Anda ruang tunggu yang nyaman yang biasa Anda gunakan selama dua puluh jam Anda menunggu nona Elana. Para bodyguard yang dikirim oleh Tuan Akram bisa diatur untuk mengelilingi seluruh sisi kamar ini baik di bagian luar maupun dalam. Dari pihak kami, saya sendiri yang akan menjadi jaminan keselamatan bagi Nona Lana,”bRegas berucap dengan nada meyakinkan sebelum memimpin langkah menuju sebuah pintu kaca raksasa yang berada di salah satu sisi ruangan dan memenuhi dinding.


Elios dan Nathan saling bertukar pandang. Akhirnya, mau tak mau mereka mengikuti langkah Regas yang membuka pintu kaca tersebut dan menunjukkan sebuah ruangan lain yang menempel langsung dengan kamar tersebut.


Ruangan itu seperti sebuah lounge yang khusus dibuat untuk bersantai sepanjang hari. Dengan sofa-sofa besar yang memenuhinya, meja-meja rendah berlapis kaca. Pun dengan pantry dapur kering yang dilengkapi mesin pembuat kopi, pemanas listrik dan berbagai macam kue pastry dalam rak sajian keramik yang ditempatkan di sana. Di dindingnya, terpasang televisi berukuran raksasa yang hampir memenuhi seluruh sisinya, sebuah tampilan modern yang tampak kontras dengan nuansa klasik dari mesin piringan hitam yang terletak tepat di sebelahnya.


Yang paling penting dari itu semua adalah, ketika pintu kaca transparan itu ditutup, mereka bisa melihat dengan jelas tampilan Elana yang tengah tertidur di atas ranjang dan sedang menerima infus, tepat di depan mata mereka.


“Anda bisa melakukan pengawasan dari sini. Terhalangi kaca steril, tetapi tidak akan menghalangi pandangan Anda dari Nona Elana,” Regas menyerahkan sebuah alat berwarna hitam dengan tampilan layar digital sebesar ponsel ke tangan Nathan sebelum berucap. “Ini adalah alat monitoring tetesan cairan infus yang di sambungkan dengan jaringan nirkabel. Anda bisa menganalisa secara real time kecepatan tetesan sesuai setpoint, memeriksa kondisi tetesan, dan juga mengetahui sisa cairan infus. Seluruh data kami tampilkan secara realtime dengan data digital yang terperinci sehingga Anda bisa mengontrol kondisi Nona Lana dari waktu ke waktu tanpa harus mengganggu istirahatnya,” Regas kini menoleh ke dokter Renault mencari persetujuan. “Karena, dokter Renault mengatakan bahwa efek dari serum antidote itu seperti obat tidur yang akan membuat Nona Lana tidur pulas sepanjang prosesnya, ada baiknya Nona Lana dibiarkan tidur dan beristirahat tanpa gangguan.”


Nathan menoleh ke arah Elios, saling bertukar pandang sebelum kemudian menganggukkan kepala. Diambilnya alat itu dari tangan Regas sebagai bentuk persetujuan.


“Baik, kami akan menunggu di sini dan mengawasi. Begitu juga dengan para bodyguard yang berjaga di luar ruangan, mereka akan tetap bersiaga sampai seluruh proses selesai,” tatapan Nathan menajam ke arah Regas. “Tetapi, bukan berarti kami tidak akan menyerbu masuk ke dalam kamar kalau kami merasa ada sesuatu yang membahayakan Nona Elana. Anda juga harus tahu bahwa seluruh sisi rumah ini sudah dikepung oleh anak buah Tuan Akram yang siap menyerbu kalau mereka mendapatkan kode bahaya dari kami.”


Regas malahan tersenyum lebar mendengar ancaman Elios. Lelaki itu malah menganggukkan kepala dengan santai, menunjukkan dengan gamblang bahwa sama sekali tidak ada niatan buruk dari pihaknya untuk menyakiti Elana.“Saya sudah bilang, bukan? Saya bersedia menjamin keselamatan Nona Elana dengan nyawa saya sendiri,” jawabnya lugas dan langsung menutup percakapan


***



***


“Terasa aneh, bukan? Kenapa Xavier yang menusukkan racun ke Elana demi memaksakan mencuri waktu bersama Elana, malahan meninggalkan lokasi ketika Elana tiba di tempat ini?” Elios mengeluarkan laptopnya dan meletakkannnya di meja. Dia memindai seluruh jaringan di ruangan ini dan memasang pelindung jaringan dengan jalur khusus untuk melindungi seluruh data laptopnya sebelum kemudian menyalakan laptopnya dan mulai bekerja.


Tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan oleh Elios selama menunggui proses penginfusan Elana yang panjang, selain melaporkan kondisi terkini pada tuannya Akram, yang baru saja selesai dilakukannya. Elios tidak suka menghabiskan waktunya dengan menonton TV, tidur-tiduran dan bersantai. Jadi, dia memutuskan untuk menunggu sambil menyelesaikan tumpukan pekerjaannya yang menggunung sebagai asisten Akram Night yang kemarin sempat tidak disentuhnya karena fokus pada Elana.


Sementara itu, Nathan bersedekap menatap ke arah pintu kaca tembus pandang yang menampilkan Elana yang tengah tidur dengan napas teratur. Diliriknya alat digital di tangannya untuk memeriksa, lalu dia mengangkat bahu sambil menghela napas panjang sambil membanting tubuhnya di sofa sebelah Elios.

__ADS_1


“Aku juga merasa curiga. Tetapi, sampai detik ini tidak ada yang aneh, bukan? Mungkin Xavier memang sedang ada urusan mendadak di luar rencananya semula. Saat ini Elana tampak jelas di ruang sana tengah tidur dan menerima infus dengan prosedur sempurna seperti yang sudah seharusnya, sementara suasana terasa begitu damai. Jadi, menurutku sekarang tidak ada yang bisa dilakukan meskipun kita tidak boleh menurunkan kewaspadaan kita,” Nathan bersedekap, menyandarkan kepalanya ke punggung sofa dan berlawanan dengan kalimatnya sebelumnya menyangkut kewaspadaan, Nathan malah memejamkan mata.


“Hei, kau sedang apa?” Elios mengerutkan kening melihat tingkah Nathan di sebelahnya.


“Tidur. Memangnya apa lagi?” Nathan menjawab dengan mata masih terpejam. “Aku akan mencuri waktu untuk bertirahat sejenak. Kau berjagalah dulu, nanti kita gantian,” sambung Nathan sambil menghela napas panjang sebelum kemudian terjatuh lelap.


Elios hanya melirik dan tidak berusaha mencegah apa yang dilakukan oleh Nathan. Dia tahu bahwa lelaki itu pasti sangat lelah selama dua hari ini memimpin penanganan terhadap kondisi Elana hingga  bisa dibilang tak sempat tidur.


***



***


Langkah kaki Xavier lembut ketika dia menapaki karpet tanpa menggunakan alas kaki. Tidak seperti biasanya dimana dirinya selalu mengenakan pakaian formal, Xavier saat ini mengenakan pakaian santai yang membuatnya tampak jauh lebih muda daripada usianya.


Dengan celana jeans hitam dipadu dengan sweater panjang berwarna senada yang tampak kebesaran di tubuh rampingnya, itu masih ditambah dengan rambutnya yang acak-acakan dan tidak disisir rapi ke belakang seperti ketika Xavier tampil di depan umum, Xavier saat ini tampak seolah-olah sedang bersiap untuk bersantai sepanjang hari.


Langkah Xavier terhenti ketika dia sampai tepat di tepi ranjang Lana, mengawasi perempuan yang tengah tertidur pulas itu dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Sejenak, Xavier mengalihkan pandangannya ke pintu dan dinding kaca yang memenuhi satu sisi ruangan, menampilkan sosok Elios yang tengah bekerja dan juga Nathan yang tampaknya langsung jatuh tertidur kelelahan begitu membanting tubuhnya di sofa.


Sesekali, dilihatnya Elios yang mengawasi ke arah pintu kaca tersebut, mengawasi kondisi Elana dengan waspada, tampak sekali tengah berjaga dan tak ingin melepaskan Elana dari pandangannya.


Hal itu membuat Xavier tersenyum. Elios adalah asisten Akram yang sangat setia. Lelaki itu berasal dari panti asuhan sama seprertinya, dan Akram mengambil Elios dari sana, mengentaskannya, memberikan pendidikan dan menjadikannya tangan kanannya yang sempurna. Elios benar-benar seperti hewan terlantar yang setia dan tahu balas budi kepada tuan yang menyelamatkannya. Begitu teguh membela tuannya dan tak memiliki setitik niatpun untuk mengkhianati Akram.


Karena itulah Xavier sama sekali tidak pernah mencoba menarik Elios supaya menyeberang ke sisinya, sebab dia tahu bahwa itu akan percuma.


Elios memang tengah menatap ke dalam ruangan ini, tetapi dia tidak menyadari kehadiran Xavier karena Xavier telah mengakalinya. Dinding kaca besar yang menjadi pembatas antara ruangan tempat Elana tidur dengan ruangan tempat Elios serta Nathan menunggu bukanlah dinding kaca biasa. Itu adalah layar digital canggih yang bisa menampilkan rekaman gambaran nyata dengan komposisi dan tampilan sempurna.


Saat ini, di sisi Xavier, dinding dan pintu kaca itu berlaku layaknya kaca tembus pandang biasa yang menampilkan sosok Nathan dan Elios apa adanya. Tetapi, dari sudut pandang Elios dan Nathan, dinding itu berubah menjadi layar digital yang menampilkan rekaman sosok tubuh Elana yang tengah tertidur pulas secara konstan dan terus menerus, menyamarkan kejadian nyata yang sebenarnya terjadi di balik pintu kaca ini.


Jadi, untuk saat ini, apapun yang dilakukan oleh Xavier di dalam kamar bersama Elana, tidak akan ada orang lain yang menyadarinya….


Mengingat tentang itu semua membuat pandangan Xavier teralih kembali ke atas ranjang  dan matanya terpaku lagi ke arah Elana. Perempuan ini sungguh cantik, bahkan ketika matanya yang penuh kilauan polos tanpa dosa itu tengah tertutup rapat, kecantikannya masihlah menguar di balik tampilan alaminya yang tidak dipoles oleh riasan sedikitpun.


Rasa bersalah mengaliri hati Xavier ketika melihat betapa pucatnya tubuh Lana, betapa kurusnya pergelangan tangannya yang saat ini terkulai lemah dengan infus yang tersambung di punggung tangannya.


Apakah Akram tidak mengurusi perempuannya ini dengan baik? Tidakkah dia memberinya makan yang proposional supaya Lana tidak begitu rapuh dan terlihat lemah seperti saat ini?


Xavier menghela napas dan duduk di tepi ranjang. Dia tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuh dan mengusapkan jemarinya ke pipi Elana, sekali lagi merasakan denyutan rasa bersalah ketika menyadari bahwa pipi perempuan itu masih dingin, imbas dari racun yang dia suntikkan ke tubuh Lana.


“Maafkan aku, Lana,” Xavier berbisik perlahan.


Entah suara bisikan Xavier ternyata mampu menembus alam tidur Elana, atau karena sentuhan tangan Xavier yang panas yang membuat Elana terusik dari mimpinya, mata Elana terbuka perlahan, pertama-tama mengerjap seolah berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Lalu mata itu terbuka lebar, mendapatkan kesadarannya sepenuhnya dan langsung bertatapan dengan Xavier yang saat ini tengah berada dekat sekali dengannya.


Ketakutan langsung melumuri bola mata Elana, dipenuhi kepanikan luar biasa yang mendorongnya untuk membuka mulut dan hendak menjerit. Sayangnya, suaranya tak bisa keluar, karena pada saat itu juga, Xavier membungkuk di atasnya dan meletakkan telapak tangannya tepat ke mulut Elana untuk membungkam suara apapun yang mungkin muncul dari sana.


***



***



__ADS_1


__ADS_2