
"You safe with me, i promise. Because i'm not going anywhere."
Helikopter itu mendarat di landasan yang terletak di bagian tertinggi dari gedung besar yang menjadi lokasi kantor pusat perusahaan milik Akram. Di sana, sudah ada tiga buah mobil hitam terparkir menunggu. Elios sendiri yang mengemudikan mobil utama yang dimaksudkan untuk ditumpangi oleh Tuan Akram, dirinya sudah menunggu dengan setia sejak satu jam sebelumnya untuk menjemput Akram di tempat ini.
Tanpa kata, masih dengan menggendong Elana, Akram menuruni helikopter dan melangkah sambil diikuti oleh beberapa bodyguardnya menyeberangi landasan helikopter ke arah Elios.
Begitu Akram sudah tinggal beberapa langkah, Elios bergegas membuka pintu mobil yang mengarah ke kursi penumpang, dan membungkuk hormat sambil menanti dengan tenang saat Akram memasuki mobil, masih dengan Elana dalam pelukannya.
Setelah pintu ditutup, Elios langsung masuk ke kursi supir, bersamaan dengan seorang bodyguard yang duduk disebelahnya. Mobil pun melaju diikuti dua mobil lain yang berisi para bodyguard Akram. Mereka melalui jalur khusus di samping gedung, melewati area parkir yang berada di setiap lantai, sebelum akhirnya sampai ke jalan dan melaju keluar melewati halaman besar area gedung perkantoran megah tersebut. Para petugas berseragam keamanan yang bertugas di gerbang masih tampak berjaga dengan siaga meskipun hari masih dini, dan mereka semua langsung berdiri hormat ketika mobil yang dikendarai Akram melewati mereka dan keluar melalui pintu gerbang besar yang terbuka otomatis.
Mobil pun melaju membelah jalan raya di ibukota yang masih tampak senyap berhiaskan langit gelap. Hanya tampak beberapa kendaraan tak kenal tidur yang bisa dihitung dengan jari yang beberapa kali berpapasan dengan mereka.
"Tuan Akram, Anda akan menempatkan Nona Elana di Apartemen yang mana?" Elios akhirnya bertanya perlahan ketika Akram tak juga memberikan instruksi tentang arah tujuan mereka.
Akram sendiri tampak berpikir. Sejujurnya, sebelumnya dia benar-benar terlupa tentang pengaturan mengenai tempat tinggal Elana ketika secara impulsif dirinya menerima persyaratan perempuan itu dan bersedia membawanya keluar dari pulau. Memang pencarian tempat tinggal secara mendadak bukanlah sebuah masalah besar baginya. Karena, selain memiliki beberapa apartemen megah yang Akram beli atas namanya pribadi, salah satu perusahaan Akram yang bergerak di bidang properti juga mengelola jaringan besar dari rangkaian berbagai macam gedung apartemen yang berada di pusat kota.
Mereka akan selalu bisa menyediakan satu kamar apartemen untuknya jika Akram menginstuksikannya.
Wanita-wanita yang beruntung dipilih menjadi kekasih tetap Akram biasanya akan ditempatkan di satu apartemen tersendiri yang cukup nyaman dan mewah dengan tujuan memudahkan Akram datang berkunjung kapan pun dia mau. Ketika Akram sudah kehilangan minatnya pada perempuan itu, biasanya Akram akan kehilangan minatnya tak lebih dari tiga bulan hubungan, maka Akram akan berbaik hati memberikan apartemen itu kepada mantan wanitanya sebagai hadiah perpisahan.
Akram Night tidak pernah membiarkan mantan kekasihnya ditinggalkan dengan tangan kosong.
Tetapi saat ini pengaturannya tentu akan berbeda. Sebab, jika menyangkut Elana, Akram tidak berpikir untuk melepaskan perempuan itu dalam waktu dekat.
Dan sudah pasti dia tidak akan kehilangan minat semudah itu pada Elana.
Ketika Elana berada di pulau, Akram terpaksa menahan diri dan hanya bisa mengunjungi Elana di akhir pekan. Kondisi yang menyiksa itu bahkan sempat membuat Akram ingin mengevaluasi kembali kebijakan yang diambilnya. Dan kebetulan, ketika Elana memberikan persyaratannya sebagai ganti penyerahan dirinya, Akram semakin mendapatkan dorongan untuk mengeluarkan Elana dari pulau.
Sekarang setelah dirinya tidak dibatasi oleh akses jarak, sudah tentu Akram tidak ingin menempatkan Elana di suatu tempat yang jauh dari pandangannya dan hanya mengunjungi perempuan itu setiap waktu sekali. Dirinya ingin Elana ada di tempat yang berada di dalam jarak pandangnya, di tempat yang bisa dijangkaunya kapan pun dia menginginkannya.
Dengan pemikiran itu, akhirnya Akram mengambil keputusan.
"Kita ke apartemen utamaku di Night Heaven Hills," Akram menyebut nama tempat tinggalnya dengan tenang.
Tetapi reaksi keterkejutan Elios benar-benar bertolak belakang dengan ketenangan Akram, lelaki itu menginjak rem tanpa sengaja dan hampir-hampir membuat mobil mereka berdecit di jalanan kalau dia tidak bisa menguasai diri dengan cepat. Beruntung Elios bisa lekas mengembalikan ketenangan dirinya, dia segera meminta maaf pada Akram atas ketidaknyamanan tuannya itu dengan gaya menyetirnya, lalu kembali melajukan mobil dengan tenang seperti biasa.
__ADS_1
Perlahan Elios membelokkan kendaraannya ke arah yang sesuai dengan perintah Akram. Apartement Night Heaven Hills adalah salah satu Apartement bergengsi dari jajaran apartement yang dimiliki oleh keluarga Night, dengan kemewahan kelas atas dan keamananan tingkat tinggi sebagai nilai lebihnya. Apartemen yang mengedepankan kemewahan kelas atas ini kebanyakan dihuni oleh orang-orang yang menginginkan privasi seperti para artis, politikus dan golongan lainnya yang memiliki banyak harta. Karena tidak semua orang bisa menanggung harga kepemilikan apartemen ini yang sangat fantastik. Dan di atas semua itu, tuannya Akram memiliki presidential suite class, yang merupakan tipe hunian terbaik dari seluruh ruang yang ada di apartemen tersebut.
Akram memang memiliki beberapa rumah lain di seluruh penjuru negeri, tetapi, rumah yang resmi didaftarkan sebagai tempat tinggalnya adalah rumah megah yang terletak di kawasan hunian mewah di sisi kota yang lain yang merupakan rumah warisan dari kedua orang tuanya. Kadang untuk kepentingan acara resmi yang dilakukan atas nama perusahaan, Akram mengadakan jamuan makan malam atau pesta amal tahunan di rumah besarnya itu. Tetapi, untuk sehari-hari, Akram Night bisa dikatakan tidak tinggal di rumah tersebut. Rumah dengan puluhan kamar, ruangan dan juga begitu banyak pelayan serta memerlukan biaya perawatan serta pemeliharaan besar itu, terlalu berlebihan untuk dihuni seorang diri oleh Akram. Karena itulah Akram menyerahkan perawatan rumah itu kepada ahlinya dan memilih meninggali sebuah apartemen yang bisa menunjang seluruh kebutuhannya.
Sebagai seorang lajang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja dan beraktivitas dengan mobilitas tinggi, Akram lebih memilih untuk tinggal di hunian apartemen yang dianggapnya nyaman, yaitu di apartemennya di Night Heaven Hills. Selain karena lokasinya yang dekat dengan kantor pusat tempat Akram bekerja, kamar Apartement seluas 340 meter persegi, yang didesain bertingkat dua lantai dengan dua kamar luas di lantai atas yang dihubungkan dengan tangga ke ruangan-ruangan penunjang di lantai bawahnya seperti ruang santai, dapur, minibar dan balkon luas, sudah sangat sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh Akram serta bisa memuaskan seleranya.
Jika tidak sedang berpergian untuk urusan bisnis maupun pribadi, Akram akan selalu pulang ke apartemen utamanya itu yang lebih berfungsi sebagai tempat privatnya. Dan hal itulah yang membuat Elios benar-benar terkejut dengan keputusan yang diambil oleh Akram.
Tuannya itu menjaga kehidupan pribadinya yang sesungguhnya dengan sangat ketat, apa yang diliput oleh media, hubungan-hubungan Akram dengan para public figure dan artikel-artikel bisnis maupun gosip yang membahas tentang Akram, semuanya berada di bawah kendali tuannya itu dan diatur sebagai kamuflase pencitraan dirinya di depan khalayak umum. Sementara itu, kehidupan pribadinya yang sesungguhnya tertutup rapat, tanpa ada yang bisa menembus. Bisa dibilang, hampir tidak ada yang tahu bahwa Akramlah yang meninggali kamar terbaik di Night Heaven Hills ini, bahkan tidak ada satu pun dari wanita-wanita Akram sebelumnya yang mengetahui tentang tempat ini.
"Apakah Anda yakin membawa Nona Elana kemari?" Elios memberanikan diri bertanya dengan hati-hati ketika mobil mereka berbelok menuju gerbang pertama Night Heaven Hills. Petugas keamanan langsung datang, memberi hormat dan melakukan pemeriksaan identitas. Elios menunjukkan kartu khusus penghuni apartement yang langsung discan secara digital untuk menentukan apakah pengunjung boleh memasuki area dalam atau tidak.
Sistem keamanan yang ketat telah memustahilkan upaya penerobosan dan penyusupan dari pihak manapun, hingga sejak apartemen ini didirikan, belum ada yang berhasil lolos melalui berlapis-lapis gerbang dan pemeriksaan keamaman di tempat ini.
Terdengar suara 'bib' perlahan pertanda bahwa mereka boleh masuk. Petugas-petugas itu lalu memberi hormat sekali lagi dan membuka gerbang, mempersilahkan mereka masuk. Mobil pun melaju melalui jalan besar panjang yang akan menghubungkan mereka dengan gerbang pemeriksaan kedua. Karena apartemen ini mengutamakan sistem keamanan tingkat tingginya dan privasi penghuninya, maka mereka harus melalui beberapa pemeriksaan ketat sebelum bisa memasuki area utama dari apartemen tersebut.
"Aku harus mengawasi Elana sedekat mungkin. Jadi apartemenku adalah pilihan terbaik." Akram menjawab singkat, tidak menginginkan bantahan apapun dari asistennya yang setia.
Matahari masih mengintip di kaki langit ketika seorang pelayan membangunkan Elana dengan hati-hati, sejenak Elana membuka mata dan kebingungan karena tidak mengenal lingkungan di sekitarnya dan juga tidak mengenal pelayan yang membangunkannya.
Berbeda dengan ruangan yang ditempatinya di villa yang penuh dengan nuansa abu-abu dan hitam, kamar tempatnya terbangun sekarang seluruhnya berwarna krem yang berpadu dengan nuansa kayu hangat berwarna cokelat tua yang mendominasi. Elana memandang ke sekeliling dengan bingung, dia berusaha mengumpulkan memorinya dan berhasil memanggil ingatan tentang Akram yang mengangkatnya lalu membawanya ke gendongan.
Elana begitu lelah semalam, hingga ketika Akram membawanya pergi, dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk memberontak dan lebih memilih untik menenggelamkan dirinya semakin dalam ke alam mimpi.
Dan disinilah dia, di bawa terbang ratusan kilometer jauhnya dan berakhir di sebuah tempat baru yang asing tanpa dia menyadarinya.
__ADS_1
Elana meringis sambil mengutuki keteledorannya dalam hati, tetapi Elana tidak memiliki kesempatan untuk berlama-lama mengutuk diri sendiri karena gerakan pelayan yang masih menunggu di samping ranjang, mengalihkan perhatiannya.
"Selamat pagi Nona, ini pukul setengah pagi dan Anda berada di apartemen Tuan Akram. Nama saya Elisa, saya ditugaskan datang dari rumah pusat pagi ini untuk melayani Anda sebelum bekerja." pelayan berusia setengah baya itu berucap hormat memperkenalkan diri sambil meletakkan pakaian yang terlipat rapih di ke meja samping tempat tidur, "Kamar mandi ada di sebelah sana dan air mandi sudah saya siapkan, semoga temperaturnya pas untuk Anda. Setelah Anda selesai bersiap-siap, mohon turun ke lantai bawah untuk sarapan, karena setelah selesai sarapan, Tuan Elios akan datang untuk menjemput Anda pukul tujuh tepat." setelah menjelaskan semua informasi dengan suara datar, sekali lagi pelayan itu membungkukkan tubuh memberi hormat, lalu berpamitan undur diri dengan sikap formal, sebelum kemudian melangkah pergi.
Sikap pelayan yang efisien dan formal itu membuat Elana tertegun beberapa lama setelah dia ditinggalkan sendirian. Kemudian, perkataan pelayan itu sebelumnya tiba-tiba memantik kesadarannya.
Seseorang yang dipanggil dengan sebutan Tuan Elios akan menjemputnya? Kalau tidak salah, bukankah Elios itu adalah asisten Akram, sosok lelaki berwajah cerdas dengan penampilan elegan yang sempat memperkenalkan dirinya di rumah sakit waktu itu?
Dan menjemputnya...... Elana mengerutkan kening untuk berpikir, lalu kegembiraan menyelimuti rona wajahnya ketika dia menyimpulkan bahwa kemungkinan besar, Elios akan menjemputnya untuk mengantarkannya bekerja. Akram telah menepati janjinya, bukan hanya membebaskan Elana dari pulau itu, tetapi juga akan membiarkannya bekerja.
Pemikiran itu membuat Elana bersemangat. Dengan riang dia melompat dari tempat tidurnya, melupakan tubuhnya yang luluh lantak sebelumnya dan setengah berlari menuju kamar mandi.
Ketika Elana menyelesaikan makannya dan pelayan itu membereskan semuanya dengan efisien tanpa mengizinkan Elana membantu sedikit pun, Elana akhirnya memilih duduk di sofa besar berwarna krem yang berada dekat dengan ruang makan. Mata Elana memandang kagum ke sekeliling ruangan yang tampak begitu luas dengan keindahan penataan ruangan dari perpaduan perabot berkelas dan pengaturan desain interior yang tanpa cela.
Orang-orang kaya yang memiliki uang ternyata begitu senang menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli kemewahan. Untuk tempat ini misalnya, bahkan kamar mandi di tempat ini beberapa kali lebih luas dari kamar kontrakannya di masa lampau.
Jam belum lagi menunjukkan pukul tujuh dan Elana menunggu dengan gelisah di setiap detiknya. Dia tak sabar dan penuh antisipasi menunggu apa yang akan terjadi. Dan saking sibuknya dengan pikirannya, Elana bahkan lupa untuk bertanya-tanya mengenai Akram yang sama sekali tak hadir sejak dirinya membuka mata.
Tapi tidak masalah, bukan? Ini adalah hari kerja, dan seharusnya Elana bisa bebas dari Akram di hari kerja. Untuk sekarang ini, Elana lebih baik melupakan tentang Akram dan fokus pada penggenapan janji Akram untuk membiarkannya bekerja.
Suara bel dari luar membuat Elana hampir terloncat dari posisi duduknya karena dikejutkan dari lamunannya. Dia belum sempat bergerak ketika pelayan setengah baya itu secepat kilat melangkah ke pintu dan melihat ke layar kecil di samping pintu yang menampilkan dua sosok laki-laki yang berdiri tepat di luar pintu.
Setelah mengkonfirmasi siapa yang datang, pelayan itu pun membuka pintunya dan Elana mengerutkan kening ketika melihat siapa yang datang memasuki pintu apartemen itu.
Bukan hanya asisten Akram yang bernama Elios saja yang datang, tetapi juga diikuti oleh sosok lelaki lain yang dikenal oleh Elana sebagai dokter Nathan, dokter pribadi Akram.
Kenapa? Untuk apa dokter Nathan ada di sini?
__ADS_1