
Gerakan tangan lelaki itu langsung terhenti, pun dengan ekspresinya yang santai langsung berubah keras penuh antisipasi.
“Kau ingin bicara tentang apa?” tanya Xavier kemudian. Suaranya terdengar dalam dan menusuk, membuat Sera tiba-tiba dilanda ketakutan dan menyesal atas keputusan impulsifnya.
“A-aku….” Jantung Sera berdebar semakin kencang ketika dia melirik kembali ke arah pot bunga gantung itu.Keraguan kembali meliputi benak Sera. Tetapi saat ini, dia sudah terlanjur kepalang basah dan tak bisa berhenti.
“Ma-maafkan aku!” Sera berseru keras dan langsung memerosotkan tubuhnya hingga berlutut di lantai supaya sejajar dengan Xavier. Matanya bertemu dengan mata Xavier yang terkejut. Lalu, dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Sera menggunakan tangannya untuk mencengkeram kain t-shirt Xavier dan memaksa wajah lelaki itu mendekat kepadanya.
“Aku telah berbohong kepadamu, tetapi sampai detik ini aku belum… eh aku tidak mengkhianatimu! Pramugari itu tiba-tiba memberikan alat itu kepadaku dan aku membaca ada pesan Aaron di dalam ponsel mini itu. Tetapi, aku belum membalas apapun karena aku ragu. Seharian ini kau terus mengingatkanku tentang pengkhianat jadi aku akhirnya berpikir, jika aku bermain di belakangmu, sudah pasti kami akan ketahuan dan kau sudah pasti akan membunuh kami dengan keji. Karena itu aku memutuskan untuk memberitahumu saja dan kuharap kau menghargai niat baikku ini dengan tidak melukai Aaron atau menghukumnya. Dia hanya terdesak dan sedang berusaha menyelamatkan nyawanya yang dia pikir terancam, dia tidak tahu bahwa selama aku patuh padamu maka dia akan baik-baik saja. Jadi, aku….”
“Serafina Moon.”
Suara Xavier yang tegas dan dalam membuat Sera tergeragap, mulutnya yang membuka dan terus menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya sebagai bentuk kepanikan tak terkendali akhirnya berhenti seketika.
Mata Sera mengerjap seolah baru tersadarkan, lalu dia menatap ke arah Xavier dan bertanya,
“Apa?”
Xavier seolah menahan senyum. Lelaki itu menyentuh dagu Sera dan mendongakkan perempuan itu ke arahnya. Ibu jarinya mengusap bibir Sera dengan lembut, sebelum kemudian berucap kembali.
“Pelan-pelan. Ceritakan secara berurutan supaya aku tahu kronologisnya dengan lebih terperinci,” ucap Xavier dengan nada tenang.
Mata Sera melebar, seolah tak percaya.
“K-kau tidak marah?” tanyanya terbata.
Xavier terkekeh. “Marah atau tidak, tergantung pada penjelasanmu nanti. Tetapi, supaya kau lebih tenang, aku bisa bilang kepadamu bahwa suasana hatiku sekarang sangatlah baik. Kau tahu kenapa?” Xavier bertanya dengan nada misterius dan langsung membuat Sera menggeleng kebingungan.
Sikap Sera yang polos dan tercengang itu membuat Xavier tertawa. Lelaki itu menunduk sebelum kemudian menghadiahkan kecupan lembut di bibir Sera.
“Karena istriku memutuskan untuk tak mengkhianatiku dan bersikap jujur kepadaku,” sambung Xavier setelah melepaskan pertautan bibirnya. “Sekarang, jelaskan kepadaku pelan-pelan. Pramugari itu, dia memberikan ponsel mini kepadamu?”
Sera menganggukkan kepala. “Ya. Dia bilang itu dari Aaron. Kejadiannya sangat cepat, aku menerima ponsel itu dan membaca pesan dari Aaron.”
“Apakah kau yakin itu dari Aaron? Atau jangan-jangan itu hanya untuk menjebak atau memfitnahmu di depanku?” sela Xavier perlahan.
Sera terkesiap. Ah, ya ampun. Sama sekali dia tak membayangkan kemungkinan itu. Pikirannya terlalu sibuk dengan kecemasan akan keselamatan Aaron sehingga Sera langsung mempercayai pramugari itu tanpa pikir panjang.
“Untuk apa pramugari itu memfitnahku? Kami kan tidak saling mengenal?” Sera menyuarakan kejanggalan di hatinya, bertanya kepada Xavier dengan bingung.
Mata Xavier menyipit, menatap Sera dengan tajam.
“Kau harus berhati-hati kepadanya, Sera. Pramugari itu, bernama Sabina, dia bukan perempuan biasa. Dia adalah anak buah Dimitri yang sangat hebat. Pembunuh berbahaya, petarung kuat dan ahli menyamar. Di atas pesawat itu, aku mengusirnya karena dia berusaha menggunakan tubuhnya untuk menarik perhatian dan menguasaiku. Mungkin aku lupa bilang bahwa dia juga terkenal sebagai penakluk lelaki. Black Widow adalah julukannya, karena dia sering membunuh lelaki-lelaki yang telah berhasil ditaklukkannya.”
Xavier menghentikan kalimatnya sejenak dan menatap Sera tajam. “Mungkin Sabina merasa bahwa dia bisa menaklukkan lelaki manapun yang dia mau, tetapi dia lupa bahwa aku -Xavier Light- yang sudah menikahimu, sangat menjunjung tinggi kesetiaan. Selama kita berdua masih terikat pernikahan, maka aku tak akan menyelingkuhi dirimu. Karena itulah, dia menumpahkan kebenciannya kepadamu dan menganggapmu penghalang. Siapa yang tahu rencananya untuk menyingkirkanmu?” Xavier mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan, membuat Sera membelalakkan mata bingung.
“Menyingkirkanku?” Sera membeo, mengulang kata-kata Xavier seolah kesulitan mencerna seluruh kalimat penjelasan lelaki itu.
“Intinya, pramugari itu, Sabina. Dia adalah musuh yang berbahaya. Kau harus selalu waspada dan berhati-hati jika menyangkut dia, mengerti?” Xavier bertanya dengan nada tegas menuntut dan bibirnya membentuk seringaian puas ketika Sera langsung menganggukkan kepala dengan patuh.
“Baik, kembali lagi ke pembahasan utama kita. Sabina memberikanmu ponsel mini, dan kau menerimanya. Tetapi aku tak melihat ponsel itu dimana-mana?”
Tentu saja Xavier berpura-pura. Tetapi, kemampuan aktingnya sangatlah bagus sehingga Sera sudah pasti tak akan menyadari kebohongannya.
Sera menelan ludah. Menatap kembali Xavier dengan sangat berhati-hati.
“K-kau…. Benar-benar tak marah?” tanyanya lagi dengan nada tak percaya. Sikap Xavier luar biasa tenang ketika menerima pengakuannya, sangat bertolak belakang dengan apa yang dibayangkan oleh Sera sebelumnya.
Tadinya dia mengira bahwa Xavier akan murka lalu mengancam akan menyakiti Aaron seketika, membuat Sera harus memohon-mohon setengah mati untuk menyelamatkan nyawa Aaron.
Xavier mengawasi ekspresi Sera dan sudut bibirnya malahan berkedut seolah menahan geli.
“Bisakah kau menunjukkan kepadaku dimana kau menyembunyikan benda itu?” tanyanya mengulang.
Sera kembali menelan ludah, didera oleh kegugupan yang membuat paru-parunya seolah diremas oleh tangan tak kasat mata, mencekiknya dan membuat napasnya tersengal panik. Tetapi, tak urung, tangan Sera bergerak juga menunjuk ke arah pot bunga gantung yang ada di atas kamar mandi.
“D-disana,” jelasnya dengan nada terbata.
Xavier mengangkat sebelah alisnya. “Boleh aku mengambilnya?” tanyanya sopan.
Sera menganggukkan kepalanya. “Boleh…. Aku…aku tidak melakukan apapun kepada benda itu. Aku belum menyentuhnya lagi sejak menyembunyikannya,” sambungnya cepat.
Xavier menganggukkan kepalanya sedikit, lalu menggunakan kursi untuk mengambil benda yang tersembunyi di dalam pot kaktus tersebut. Setelah mengembalikan kursi itu, Xavier menimang-nimang ponsel mini di tangannya itu dan menatap Sera dengan tatapan tenang.
“Boleh aku melihat isinya?” Kembali Xavier berpura-pura, menggunakan bakat aktingnya untuk memperdaya Sera.
Sera melirik ke arah ponsel mini yang tampak sangat mungil di tangan Xavier, perempuan itu lalu menganggukkan kepala.
“Bo-boleh,” sahutnya dengan suara tersekat.
Xavier menekan tombol, melihat sekilas pesan-pesan yang sudah dibacanya, lalu menipiskan bibir ketika menahankan kemarahannya saat membaca kembali pesan yang sangat egois itu.
Aaron dengan kejam berusaha memanfaatkan kepolosan Sera demi kepentingannya. Lelaki itu bahkan tak peduli apakah Sera akan menemui celaka ketika mencoba menolongnya.
“Baiklah.” Xavier memasukkan ponsel mini itu ke sakunya, memasang ekspresi datar. “Aku akan menyimpan ponsel mini ini.”
Sera membelalakkan mata, menatap Xavier dengan bola mata berlumur kecemasan tak terkendali.
“K-kau tak akan melakukan apapun kepada Aaron bukan?” Sera yang telah bangkit dari posisi berlututnya, mendatangi Xavier lagi. Tangannya dengan putus asa menyentuh lengan Xavier, mencengkeramnya.
Hal itu membuat Xavier dilanda oleh ironi yang menyakitkan. Perempuan ini hampir-hampir menolak semua sentuhannya dan tak mau menyentuhnya kalau tidak dipaksa. Tetapi sekarang, sudah dua kali Sera mencengkeram kain t-shirt-nya tanpa diminta karena perempuan itu sangat mencemaskan keselamatan Aaron.
__ADS_1
“Aku hanya akan memberikan sedikit peringatan kepada Aaron. Peringatan karena mencoba membujukmu untuk berkonspirasi di belakangku.” Xavier mengulurkan tangannya, mengusap pipi Sera yang langsung memucat ketika mendengar ultimatumnya. “Tetapi, kau tak usah khawatir, Sera. Keputusanmu sudah tepat dengan memberitahuku, dengan begitu, kau telah menyelamatkan nyawa Aaron. Sebab, jika aku mengetahui belakangan ketika kau telah mengkhianatiku, aku tak akan segan-segan membunuh Aaron dengan kejam dihadapanmu dan memaksamu untuk melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, dengan jarak yang sangat dekat.”
Xavier mengucapkan kalimatnya lambat-lambat dan penuh kesungguhan, hingga Sera bahkan langsung bisa memvisualisasikannya dalam imajinasinya. Kengerian merayapi diri Sera, tetapi beruntung masih ada rasa syukur di sana. Setidaknya, dia telah mengambil keputusan tepat dengan memberi tahu Xavier.
“Lain kali, jika kau menerima barang pemberian dari orang lain, benda apapun itu. Kau harus melaporkannya kepadaku. Siapa yang tahu kalau benda yang kau terima itu ternyata merupakan bahan peledak, media virus atau bahkan kamera pengintai serta mikrofon penyadap. Kau tentu tak ingin melukai dirimu dan orang lain dengan menyimpan benda itu, bukan?”
Ekpresi Sera langsung berubah ngeri ketika menyadari kebenaran perkataan Xavier.
“A-apakah ponsel mini itu mengandung salah satu benda-benda mengerikan itu?” tanya Sera dengan panik.
Tidak ada. Xavier menjawab dalam hati, diam-diam menikmati kebingungan Sera. Xavier sendiri telah memeriksa ponsel mini itu sampai ke partikel terkecil, dan dia tak menemukan sesuatupun yang mencurigakan di sana.
Ponsel mini itu, kemungkinan besar memang digunakan sesuai dengan fungsinya, untuk mengirim pesan singkat dalam bentuk teks.
“Aku tidak tahu. Aku akan memeriksanya nanti.” Xavier kembali berbohong ke arah Sera, lalu lelaki itu menopangkan kedua tangannya di pundak Sera dan meremasnya lembut.“Aku akan mengurus segalanya dengan baik. Selama kau patuh, menurut dan menjadi ibu dari anak-anakku, maka aku akan menjamin keselamatan Aaron dan juga ayahmu.” Xavier meyeringai, menatap ke arah Sera dengan tatapan penuh arti. “Sekarang sudah tenang?” tanya Xavier menahan senyum.
Sera masih menengadah menatap Xavier, sementara pikirannya langsung berkutat, berkomunikasi dengan hatinya sendiri.
Apakah dia sudah tenang? Ya, tentu saja. Jaminan keselamatan yang diberikan Xavier kepada Aaron dan ayahnya, tentu saja langsung melonggarkan cekikan di lehernya dan membuatnya bisa bernapas dengan lega.
“T-terima kasih, Xavier.” Sera mengucapkan terima kasih dengan sedikit kebingungan. Dirinya sendiri masih dipenuhi oleh rasa takjub dan tak percaya karena Xavier menanggapi semuanya dengan santai tanpa kemarahan setitik pun.
“Karena kita sudah selesai membahas ini, maka kita akan melanjutkan yang tadi.” Tangan Xavier bergerak kembali, bergerilya merayapi pinggang Sera, lalu turun ke panggulnya dan berusaha menurunkan celana Sera yang sudah dia longgarkan ikatan talinya.
Sera sendiri terbelalak, tak menyangka bahwa Xavier akan secepat itu berpindah emosi, dari ketenangan menghadapi pengakuan Sera, berubah menjadi perayu penuh hasrat yang hana memikirkan kebutuhan fisik.
“K-kau masih mau melakukannya?” seru Sera dengan nada tak percaya.
Xavier terkekeh. “Tentu saja. Aku akan melakukannya dengan senang hati, bahkan aku akan memberikan bonus pijatan untuk punggungmu saat kita melakukannya,” jawab Xavier dengan nada lugas.
Sera terbelalak, semu merah menghiasi seluruh rona wajahnya ketika dia menatap Xavier ngeri.
“B-bonus pijatan? Aku tak mau menerimanya….” Suara Sera terhenti ketika Xavier menyentuhkan tangannya di dagu Sera, dan mendongkkan perempuan itu ke arahnya.
“Kau pikir kau sedang membahas apa, Sera? Kenapa pipimu sangat memerah?” Xavier menyeringai setengah mengejek. “Aku sendiri, sedang membahas tentang mandi. Apakah kau memiliki pikiran yang berbeda?”
“M-mandi?” seru Sera tercengang.
“Ya, Mandi. Aku sedang membahas tentang mandi.” Xavier menjelaskan kembali kalimatnya seperti sedang berbicara dengan anak kecil. Alisnya terangkat, menatap Sera dengan senyum lebarnya. “Kau pasti memikirkan tentang yang lain-lain, ya?” tebaknya penuh arti.
Sera mengerucutkan bibir, merasa malu setengah mati, tetapi memutuskan untuk menutupi harga dirinya.
“Aku juga memikirkan tentang mandi.” Sera menjawab dengan dagu terangkat, menunjukkan keangkuhannya. “Tapi aku tak butuh bonus pijatan untuk mandi,” sambung Sera kemudian, memberikan penolakan gamblang.
Xavier terkekeh. “Bagaimana dengan bonus ciuman? Dan bukan hanya di bibir tapi….”
“Xavier!” Sera menyela, menghentikan Xavier dari segala kalimat vulgar yang mungkin akan terlontar dari bibirnya, wajahnya sudah merah padam karena malu, tak tahan jika harus mendengarkan kata-kata intim dari bibir Xavier.
Syukurlah. Setidaknya Sera mengambil keputusan tepat. Dengan begini, dirinya maupun Aaron akan aman.
Sera tahu Xavier cukup jahat dan kejam, tetapi dia juga tahu bahwa Xavier selalu memegang perkataannya.
Xavier membenci pengkhianat, sebagai gantinya, Xavier juga tak akan mengkhianati.
“Ayo.” Xavier membuka t-shirtnya, sementara tangannya bergerilya lagi, berusaha melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Sera. “Kita mandi dan yang lain-lainnya di sana,” ajaknya dengan sikap menggoda sambil berkutat dengan pakaian Sera.
“Yang lain-lain?” Sera melebarkan mata, tak mampu menolak gerakan Xavier dan hanya mampu bertanya dengan polos.
Lelaki itu membungkuk, menghadiahkan kecupan di pundak Sera lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sera.
“Aku tak pandai menjelaskan dengan kata-kata. Lebih baik kita mempraktekkannya langsung,” bisiknya serak, penuh hasrat berbalut ketidaksabaran.
***
Dini hari ketika Sera masih terlelap di atas ranjang, Xavier bangkit dari sana. Lelaki itu mengenakan pakaiannya kembali, lalu menyempatkan diri untuk menyentuhkan jemarinya di kepala Sera, mengusapnya lembut sebagai salam perpisahan, sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Langit masih gelap karena jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Udara dingin langsung menyentuh permukaan kulit, begitu Xavier melangkah keluar pintu depan rumah dan melewati lobby sebelum kemudian berjalan menyeberangi lantai lobby yang luar menuju mobil hitam yang sudah menunggunya.
Supirnya yang telah bersiap di sisi mobil langsung tergopoh-gopoh membukakan pintu untuknya, mempersilahkan Xavier masuk ke dalamnya.
Hanya mengangguk sedikit, Xavier masuk ke dalam mobil, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi mobil ketika supir mulai menjalankan mobil untuk menuju tempat yang diinstruksikannya.
Sera akhirnya memilih mengaku kepadanya. Tepat di titik paling kritis dimana perempuan itu bisa saja melangkahkan kaki ke sisi berlawanan dan menjadi pengkhianat bagi Xavier.
Syukurlah. Itu berarti Xavier tidak akan dihadapkan pada pilihan untuk membunuh Sera. Dia tak ingin Sera mati untuk saat ini, karena dia benar-benar menginginkan anak dari perempuan itu.
Perjalanan menuju area pinggiran kota itu biasanya membutuhkan waktu beberapa jam ketika di siang hari saat melalui jalan-jalan yang penuh sesak oleh kendaraan. Tetapi, di dini hari seperti ini ketika orang-orang masih terlelap di balik selimutnya dan tertidur, mereka bisa menempuh perjalanan sangat jauh lebih cepat dari waktu yang diperlukan.
Mobil itu memasuki kompleks pergudangan raksasa yang dijaga oleh sekelompok petugas keamanan secara ketat di gerbangnya. Mereka semua mengenali mobil milik Xavier dengan pelat nomor khususnya yang khas, dan langsung membukakan gerbang baginya.
Kompleks pergudangan berukuran raksasa yang sangat luas ini memang dimiliki oleh Xavier. Di dalamnya, terdapat gudang-gudang besar dengan privasi satu lama lain dan dibatasi oleh pagar tinggi satu sama lain.
Gudang-gudang itu disewakan kepada perusahaan-perusahaan besar, terutama pabrik ataupun perusahaan distribusi yang membutuhkan gudang berukuran luas untuk penyimpanan skala besar. Ada ratusan gudang di dalam sana, dan salah satu gudang yang dikosongkan oleh Xavier dan tidak disewakan kepada tenant manapun, adalah gudang besar yang berlokasi paling ujung dan paling terpisah dari yang lainnya.
Gudang itulah yang menjadi lokasi tempat Aaron saat ini dikurung.
Mobil yang dinaiki oleh Xavier berhenti tepat di depan pintu gerbang gudang pribadinya, sementara beberapa petugas keamanan bersenjata langsung membukakan akses untuknya masuk. Mobil itu lalu berhenti tepat di depan pintu gudang, sementara Xavier bergegas turun, mengangguk sedikit ke arah para anggota pasukan keamanan yang memberi hormat kepadanya.
“Bawa aku ke tempat tawanan.” Xavier memberi perintah dengan suara tenang. Lelaki itu lalu melangkah mengikuti anak buahnya menuju ke sebuah pintu tebal, tempat Aaron dikurung.
"Tinggalkan kami.” Xavier memberi perintah dengan nada tegas, membuat para penjaga keamanan yang berada di situ tak berani membantah. Mereka akhirnya memutuskan untuk berjaga di pintu dan menunggu di luar kalau-kalau tuan mereka membutuhkan bantuan.
__ADS_1
Xavier melangkah masuk ke dalam ruangan remang dengan pencahayaan minim itu. Tak ada apapun di saana, hanya kasur busa tipis untuk tidur di sudut ruangan, kamar mandi berukuran sangat kecil di sisi yang satunya dan nakas kayu sederhana tempat nampan dan peralatan makan kosong terletak di sana, menunjukkan kalau tahanan yang satu ini telah menghabiskan makanannya.
Aaron sendiri sedang tak berbaring di atas tempat tidur seperti dugaan Xavier. Lelaki itu duduk di sudut ruangan, tampak kesulitan memejamkan mata sehingga memutuskan untuk berjaga di sana.
Kepala Aaron langsung terdongak ketika mendengar ada orang yang memasuki ruangan, dan matanya langsung membelalak lebar ketika melihat siapa yang datang.
“A-apa yang kau inginkan?” Aaron berseru seketika dengan defensif sekaligus ketakutan. Entah kenapa baginya, Xavier selalu membawa aura negatif yang memberinya firasat buruk di setiap kehadirannya.
“Mungkin akulah yang harus bertanya, apakah yang kau inginkan…. Sebagai permintaan terakhirmu?” Xavier berdiri di sana, menjulang di hadapan Aaron yang tampak mengkerut berlutut di depannya tanpa daya, dan mengucapkan kalimat mengerikan yang membuat Aaron seketika gemetaran.
“A-apa maksudmu?” Seru Aaron panik, mulai menduga-duga hingga debaran jantungnya berubah tak terkendali.
Firasat buruknya langsung merebak nyata ketika dilihatnya Xavier mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Sebuah ponsel mini. Ponsel milik Sabina yang dimintanya untuk diberikan kepada Sera sebelumnya.
Apakah Sera telah ketahuan? Bagaimana nasib Sera sekarang? Apakah perempuan itu dibunuh oleh Xavier?
Aaron langsung dipenuhi ketakutan oleh bayangan-bayangan mengerikan yang menderanya. Jika Sera sampai kenapa-kenapa, maka hilang sudahlah jaminan keselamatannya. Tanpa keberadaan Sera, maka nyawa Aaron tak ada lagi harganya….
“Sera langsung melapor kepadaku ketika dia mendapatkan benda ini, yang katanya berasal darimu.” Xavier sedikit berbohong dan itu dilakukannya dengan sengaja. “Dia bilang kau mengganggunya, membujuknya untuk menusukku dari belakang. Dia merasa sangat terganggu,” sambung Xavier kemudian dengan nada mencemooh.
Mata Aaron langsung melebar kaget. “Kau bohong! Sera tak akan mengatakan hal semacam itu mengenai diriku!” sanggahnya cepat, diliputi kengerian.
Selama bertahun-tahun, dia dan Roman Dawn telah bekerja sama supaya Sera memandangnya sebagai malaikat penyelamat. Tanpa Sera sadari, segala skenario dijalankan supaya perempuan itu menganggap Aaron sebagai satu-satunya pegangan yang bersedia menolongnya di kala susah dan itu akan membuat Sera tak akan mampu mengkhianati Aaron!
“Ponsel ini ada di tanganku dan Sera sendirilah yang telah menyerahkannya kepadaku. Bahkan, tanpa aku harus membuka segala kedok busukmu di depan Sera, istriku itu sudah ingin membuangmu.” Xavier berbohong lagi dengan sengaja. “Aku datang kemari, untuk menghabisi nyawamu karena sekarang, kau dengan kekurang ajaranmu itu, sudah tak berguna lagi bagiku. Setelah aku membunuhmu, aku akan datang kepada Sera dan menceritakan semua hal busuk dan kebohongan yang kau lakukan untuk memanipulasi istriku. Segera setelah aku selesai, Sera mungkin akan meludah di atas kuburanmu.”
***
Tubuh Sabina yang berpakaian hitam-hitam meloncat dengan lincah di atas atap bangunan gudang di dalam kompleks pergudangan raksasa di pinggiran kota tersebut.
Tidak salah lagi, ini adalah gudang tempat Aaron ditahan.
Langit masih begitu gelap, tetapi matahari sudah mulai mengintip malu-malu di ufuk pagi, hendak menguarkan sinarnya menerangi bumi sebentar lagi. Sabina tahu waktunya sangat sempit untuk menjalankan tujuannya.
Tetapi, seluruh rencananya tadi memang berantakan ketika dia tersesat dan kesulitan menemukan kompleks pergudangan raksasa ini berada. Ketika akhirnya dia menemukan tempat yang tepat, sudah berjam-jam dibuangnya untuk memeriksa bangunan-bangunan lain yang ternyata salah.
Dimitri meneleponnya dengan murka semalam, memarahi Sabina karena telah menyalahi otoritasnya dan bergerak sendiri di luar perintah yang diberikan kepadanya.
Kenyataan bahwa Dimitri mengetahui bahwa dia bekerja sama dengan Aaron, menunjukkan bahwa bantuan Sabina dalam bentuk ponsel mini yang diberikannya kepada Aaron dan Sera sudah ketahuan oleh Xavier.
Itu berarti, harapannya untuk memiliki Xavier sirnalah sudah.
Sialan. Sungguh sialan. Sabina semula hendak memanfaatkan Sera yang tampak polos dan bodoh dan membuatnya dibunuh oleh tangan Xavier sendiri karena mengkhianatinya. Tetapi, Sabina rupanya terlalu memandang tinggi Serafina Moon. Perempuan itu bahkan dengan bodohnya langsung ketahuan, tanpa perlu menunggu sampai satu hari penuh.
Dimitri berpesan kepadanya bahwa Sabina tak boleh berbuat macam-macam, karena nyawa Dimitri ada di tangan Xavier dan lelaki itu bisa membunuhnya kapan saja. Tetapi sesungguhnya, Sabina sendiri tak peduli kepada Dimitri. Begitu bertemu dengan Xavier, hasratnya untuk menaklukkan lelaki itu bergolak tak terkendali, terlebih lagi sikap Xavier yang menolaknya, malahan membuat darahnya mendidih terbakar oleh rasa ingin memiliki yang menggelora.
Jika Sabina tidak bisa memiliki Xavier dengan cara halus, maka dia harus menggunakan cara kasar.
Lelaki bernama Aaron yang menjadi tawanan itu, Sabina sudah menyelidiki seluruh asal-usulnya dan memiliki dugaan kuat kenapa Xavier menjadikannya sandera. Itu semua berhubungan dengan Serafina Moon.
Sekarang, meskipun Aaron kemungkinan sama bodohnya seperti Serafina Moon, Sabina memutuskan untuk menggunakan Aaron sebagai perpanjangan tangannya demi menyingkirkan Serafina Moon dari samping Xavier.
Untuk langkah pertama, Sabina akan menyelamatkan Aaron dan membebaskannya dari kurungan Xavier, lalu dia akan memanfaatkan Aaron untuk mencapai tujuannya, sebelum kemudian melenyapkan lelaki bodoh itu.
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
Thank You
Yours Sincerely - AY
__ADS_1