Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 122 : Penjemputan


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website PROJECTSAIRAAKIRA  + bonus mini novel part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana


 


****


****


****


 


“Di mana Sabina?”


Ketika Credence memasuki ruangan, pertanyaan itulah yang pertama kali ditanyakan oleh Xavier, membuat Credence yang datang dengan rambut acak-acakan dan ekspresi lelah langsung mengangkat alisnya.


“Pertanyaan macam apa itu? Kau bukannya menyambut kedatanganku ketika pertama kali melihatku dan malahan menanyakan Sabina?” sahutnya dengan nada mencela yang nyata, lalu menutup pintu di belakangnya dan tanpa permisi langsung membanting tubuhnya ke atas sofa.


Mata Credence lalu mengawasi Akram yang sedang menyandarkan tubuhnya ke sofa, kakinya yang panjang terjulur lurus dan matanya terpejam.


“Sedang apa dia? Dia tidak mungkin sedang tidur, kan?” Credence bertanya sambil menunjuk bingung ke arah Akram.


Xavier memberikan isyarat supaya Credence memelankan nada suaranya.


“Jangan ganggu Akram, dia sedang mencuri waktu sejenak untuk beristirahat. Dia kelelahan,” ucapnya kemudian.


Kembali alis Credence terangkat, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Akram Night? Beristirahat?” dengan senyuman aneh Credence mengawasi Akram dengan saksama. “Kalau aku tak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku tak akan semudah itu percaya. Akram Night yang kukenal biasanya memiliki energi berlebih yang mengerikan hingga kadang dia bisa hanya tidur satu atau dua jam dalam sehari. Aku masih ingat saat dia memaksaku bekerja nonstop ketika aku membantunya mengolah catatan keuangan perusahaannya. Lelaki itu seperti robot sebelumnya, apa yang membuatnya jadi manusiawi sekarang?”


Xavier tidak membutuhkan waktu lama. “Keluarganya. Istri dan anak-anaknya, itulah yang membuatnya jadi manusiawi,” sahutnya cepat.


Credence mengamati bagaimana cepatnya Xavier menjawab, dan tanpa keraguan sedikit pun pula. Bibirnya langsung membentuk seulas senyum.


“Ah ya, bayi-bayi kalian yang manis. Aku sudah membawa hadiah untuk putri-putri cantik kalian. Kuharap esok aku bisa menemui Elana dan Sera untuk mengucapkan selamat dan memberikan hadiahku. Kurasa... kehadiran anak-anak kalian memang telah berhasil mengubah kalian menjadi lebih manusiawi dibandingkan sebelumnya,” ucapnya kemudian menyetujui.


Xavier tidak membantah, lelaki itu pun menyusul Credence dan mendudukkan dirinya di sofa.


“Berubah dalam artian yang baik tentu saja.” Mata Xavier mengawasi Credence dan kepalanya mengangguk perlahan seolah telah mendapatkan kesimpulan. “Kau juga akan mendapatkan giliran pada akhirnya, meski dengan penampilanmu yang seperti itu, aku yakin bahwa kisah cintamu tidak akan biasa-biasa saja,” tambahnya sedikit mengejek.


Credence tertawa terbahak.


“Jangan bandingkan aku dengan dirimu jika masalah penampilan. Kalau menyangkut yang satu itu, kau tetaplah yang terbaik dan aku tak mungkin bersaing denganmu. Namun, setidaknya ketika aku menemukan wanita yang menggugahku nanti, aku yakin bahwa diriku tidak akan menjadi penculik dan penyekap perempuan yang kemudian kucintai habis-habisan....” Mata Credence melirik ke arah Akram ketika berbicara. “Atau aku juga tidak akan menjadi lelaki yang tadinya ingin menjebak musuh tapi jatuh cinta kepada musuh itu sendiri,” sambungnya kemudian sambill menatap Xavier penuh sindirian.


Xavier sama sekali tak terlihat tersinggung dengan ucapan Credence, lelaki itu malah menyeringai.


“Kau boleh mengejek semaumu. Nanti, ketika tiba waktunya duniamu dijungkirbalikkan oleh seorang perempuan, giliran akulah yang akan mengejek dan menertawakanmu,” ancamnya kemudian.


Credence menipiskan bibirnya, tapi matanya berkilat penuh senyum.


“Ah, meskipun cinta telah melembutkanmu, tapi kau tidak berubah, kau masihlah Xavier Light yang pendendam yang kukenal.”


Arah percakapan itu membuat mata Xavier berkilat dingin. Kelembutan cerah ceria yang tadi menguar di auranya lenyaplah sudah, berganti dengan kemarahan kuat yang membakar, laksana api hitam yang disulut dari hati panas yang dipenuhi kegelapan.


“Aku akan selalu membalas siapapun yang mencoba melukai keluarga dan teman-temanku.” Xavier terdengar geram. “Apakah kau sudah melihat kondisi Nathan?” tanyanya kemudian.


Credence menganggukkan kepala. Ekspresi wajahnya ikut berubah muram.


“Aku melihatnya sebelum kemari dan berbicara dengan dokternya. Dia masih belum sadar, tetapi dia telah melewati masa kritis.”


“Saat ini yang kita lakukan hanyalah menunggu dan berharap Nathan kuat serta berhasil bangun dari komanya. Meskipun dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi semuanya tergantung akan tekad hidup Nathan dan perjuangannya untuk bisa bangun kembali. Namun, jika itu menyangkut Aaron. Aku tidak akan menunggu.”


“Kita terlalu meremehkan Aaron sebelumnya. Tidak disangka dia bisa menjadi musuh yang cukup licin.” Credence menganggukkan kepala. “Kurasa mulai sekaranbg kita tak boleh menganggapnya remeh dan mengerahkan seluruh kemampuan kita untuk menangkapnya.”


“Karena itulah kali ini aku membutuhkan Sabina.” Xavier menyipitkan mata, menatap Credence dengan tatapan menyelidik. “Kau tidak sebodoh itu dengan membawa Sabina datang kemari secara terang-terangan, bukan?”


Credence terkekeh. “Aku memang tidak sejenius dirimu, tapi aku tidak sebodoh itu. Sabina datang ke negara ini dengan diam-diam dan dalam penyamaran rapat. Aku tentu saja tak ingin terlihat bersama Sabina oleh musuh-musuhku. Bagaimanapun, reputasi perempuan itu di dunia bawah tanah sangatlah buruk, aku tak mau dia merusak reputasiku sebagai orang baik.” Credence berucap dengan nada suara tanpa dosa, tapi apa yang diucapkannya benar adanya. “Memangnya apa yang kau perlukan dari Sabina sehinga kau harus menyembunyikannya?”


Pada saat yang sama, Akram yang tidurnya terganggu oleh dua lelaki yang bercakap-cakap di depannya langsung menyambungkan diri dengan arah pembicaraan mereka.

__ADS_1


“Aku sudah menyebarkan informasi ke seluruh dunia bawah tanah bahwa Sabina datang kemari untuk menuntut balas kepada Serafina Moon. Jika memang Aaron memiliki kontak yang bekerjasama dengan kontak yang menjadi sumber informasinya dari dunia bawah tanah, maka dia akan segera mendengar informasi itu.”


Akram terbangun dari tidur lelapnya yang singkat dan langsung sadar sepenuhnya tanpa memerlukan proses lama. Dia memang telah terbiasa mengisi energinya dengan tidur lelap singkat yang berkualitas. Setelah dia melakukan itu, biasanya dia akan bangun dengan energi terisi penuh dan tubuh segar kembali.


“Jadi kau ingin memanfaatkan perasaan Aaron pada Sera untuk membuatnya muncul serta masuk ke dalam perangkapmu?” Credence menelaah kalimat Akram dengan cepat.


Xavier menganggukkan kepala. “Aku ingin membuat Aaron keluar dari persembunyiannya dan mendatangi Sabina. Namun, tentu saja itu bukan satu-satunya rencanaku. Aku memiliki rencana cadangan yang berlapis-lapis.”


“Apa rencanamu?” Akram langsung menolehkan kepala ke arah Xavier dan mengerutkan keningnya. Dia belum mendengar mengenai rencana lainnya dari mulut Xavier, karena itulah dia dipenuhi oleh rasa ingin tahu.


“Aku akan....”


Pada saat yang sama, ponsel Credence berbunyi membuat Credence langsung mengambil dan mengangkatnya karena dia mengenali nada panggil khusus yang dipasangnya untuk orang tertentu itu.


Itu adalah nada panggil dari Dimitri, sesuai dengan nama pemanggil yang tertulis di ponselnya. Kabar baik dari Dimitri menyangkut pencariannya terhadap dokter Rasputin adalah sesuatu yang telah ditunggu-tunggunya, karena itulah dia langsung mengangkatnya dengan cepat.


“Apakah ada perkembangan bagus?” Credence langsung bertanya dengan nada tak sabar.


Dimitri terdengar menjelaskan di seberang sana. Kalimatnya cepat dan cukup singkat, tapi mampu membuat ekspresi wajah Credence berubah setelah dia menutup pembicaraan dengan Dimitri.


“Apakah ada kabar bagus?” Xavier yang sangat ahli membaca ekspresi wajah seseorang langsung bertanya seolah bisa menebak dengan cepat apa isi percakapan Credence dengan Dimitri.


Credence menganggukkan kepala.


“Dimitri telah menemukan dimana dokter Rasputin bersembunyi. Secara mengejutkan, lelaki itu ternyata ada di negara ini juga, dia masuk ke negara ini beberapa hari yang lalu dengan mengubah wajah dan keseluruhan dirinya sehingga tak bisa dikenali. Dia mencuri identitas orang lain, seperti yang dilakukan oleh Aaron. Tidak ada yang tahu kenapa dia datang ke negara ini seolah menantang maut dengan masuk ke sarang musuh. Saat ini, orang suruhan Dimitri masih melakukan pengintaian diam-diam di sekeliling pondok terpencil yang dia sewa dan belum melakukan penyergapan. Dari laporan yang ada, sejak datang dan masuk ke dalam pondok itu, dokter Rasputin tidak keluar lagi dari sana.”


Xavier langsung berdiri dari posisinya duduk.


“Bilang pada Dimitri untuk menahan penyergapan itu. Biarkan orang-orangku yang melakukannya.” Dengan ekspresi keras Xavier pun bertanya. Credence melebarkan mata.


“Kau tidak berencana untuk pergi sendiri menjemput dokter Rasputin, bukan?” tanyanya seolah tak percaya.


Xavier menipiskan bibir dengan keras kepala.


“Aku memang berencana untuk menjemput dokter sialan itu sendiri. Bagaimanapun, dokter itu ikut andil sehingga Aaron bisa menyusup dan mendekati Sera dan juga membuat Nathan terluka.”


Akram menganggukkan kepala.


“Apakah kau pikir ini adalah jebakan?” Credence berucap dengan waspada.


Akram termenung. “Kita masih belum tahu. Itu adalah tugas Xavier untuk memastikannya.” Akram menatap Xavier dengan mata menyipit. “Aku atau Credence bisa saja pergi kesana, tapi kurasa itu tidak akan efektif karena kau adalah orang yang paling tepat untuk melakukannya. Bagaimanapun, adalah ahli menginterograsi seseorang karena kau ahli membaca ekspresi dan sikap tubuh manusia lainnya. Kau tentu tak akan membiarkan dirimu jatuh ke dalam jebakan apapun, bukan?”


Xavier menyeringai. “Tidak, Akram. Kau bisa tenang. Aku akan datang menjemput dokter Rasputin dengan amunisi penuh.”


***


 


Setelah mendapatkan izin untuk memasuki ruang bayi dan mengunjungi dua putrinya, seorang perawat mengantarkan Xavier ke ruangan khusus dimana si kembar ditempatkan.


Dia hanya diberi waktu singkat untuk berkunjung dan berinteraksi dengan kedua putrinya karena kedua bayi kembarnya, meskipun telah dinyatakan normal dan sehat tanpa kelainan apapun berdasarkan hasil test laboratorium terakhir, masih memerlukan perawatan intensif di dalam kotak inkubator setidaknya selama satu sampai dua minggu ke depan.


Xavier berlutut di depan kotak inkubator putri kecilnya dan meraih tangan bayinya untuk kemudian menghadiahkan kecupan di sana.


Bayi kecil itu tertidur dengan mata terpejam rapat, tetapi ketika merasakan mulut ayahnya menyentuh kepalan tangannya, tubuhnya langsung menggeliat memberikan reaksi.


“Halo Elaine, apakah kau sedang bermimpi indah?” Xavier berbisik lembut sambil masih menahan kepalan tangan Elaine di bibirnya. Anaknya itu begitu kecil dan mungil, tetapi ajaibnya, anak ini hidup, bernapas, berdetak jantungnya dan keseluruhan dirinya merupakan bukti nyata yang indah dari perpaduan dirinya dengan Sera.


Seolah mengenali suara ayahnya, Elaine kembali menggeliat dan mengerjapkan mata. Kali ini bayi itu benar-benar terbangun dan membuka matanya, menatap Xavier dengan mata beningnya yang indah, yang sangat mirip dengan dirinya.


Rasa haru langsung menghantam diri Xavier, membuatnya tak mampu berkata-kata.


“Kau cantik sekali.” Xavier berbisik lembut, mencondongkan tubuhnya untuk mengecup pipi anak itu dengan sayang. “Tak tahukah kau bahwa cinta kedua seorang ayah adalah putri mereka? Aku mencintaimu di detik pertama kau dilahirkan di dunia ini, putriku,” Xavier berbisik dengan suara parau, dirinya dipenuhi kesyahduan yang menyesakkan dada hingga membuat sudut matanya terasa panas oleh emosi.


Kenyataan bahwa dia sekarang memiliki keturunan, putrinya, darah daging yang berasal dari genetiknya dan menjadi satu keluarga dengan si kembar selalu mampu membuat dirinya dibanjiri oleh emosi kebahagian melimpah yang membuat dadanya seolah akan meledak.


Gerakan di tempat lain membuat Xavier teralihkan perhatiannya dari menatap Elaine dengan penuh cinta. Lelaki itu menolehkan kepala ke arah kotak inkubator milik Ainee yang menjadi sumber dari gerakan itu.


Bibir Xavier mengulas senyuman lebar ketika dilihatnya Ainee ternyata tengah membuka mata, dan menggeliat-geliat mencari perhatian di dalam kotak inkubatornya. Ukuran tubuh Ainee memang lebih kecil dari Elaine, tetapi si bungsu jauh lebih aktif dari kakaknya dan lebih sering meminta perhatian dengan suara tangisannya yang sangat keras.


Namun sekarang, meskipun bayi itu terbangun, dia tidak menangis. Tubuh mungilnya tampak bergerak-gerak seolah-olah Ainee hanya ingin menarik perhatian ayahnya.

__ADS_1


Dengan lembut Xavier menggeser tubuhnya mendekat ke arah bayinya, lalu kembali mengambil tangan mungil bayi itu dan menghadiahkan kecupan di sana. Aine menolehkan kepala ke arahnya dan meskipun Xavier tahu bahwa pengelihatan bayi mungil itu belum sempurna benar, tetapi dia merasakan bahwa putrinya sedang mengawasinya lekat-lekat. Mata bayi itu sama lebarnya dengan mata kakaknya dan terlihat sangat jernih dengan bola matanya yang sangatlah besar.


Ditatap oleh anaknya membuat hati Xavier dipenuhi oleh kehangatan. Lelaki itu menghela napas panjang untuk meredakan rasa haru yang membuat dadanya penuh dan terasa seperti sesak napas, lalu mengecup bayinya dengan sayang.


“Aku masih tak percaya bahwa aku bisa memiliki kalian, putriku, hartaku yang sangat berharga.” Xavier menipiskan bibir dan membulatkan tekad untuk mencapai keberhasilannya. “Ayah akan menjalankan tugas ayah dengan baik, ayah akan melindungi ibu kalian, melindungi keluarga kita.”


Ya. Xavier telah mendapatkan keluarga utuh yang selama ini tak berani dia bayangkan akan bisa dia miliki. Sekarang, dia bertekad kuat untuk melindungi keluarganya ini dari ancaman penjahat yang ingin menghancurkan orang-orang tercinta di dalam istana bahagianya ini.


***


 


Pondok itu sangat kumuh, terletak di jantung area paling miskin di pinggiran ibu kota yang merupakan area terlupakan dan hampir-hampir ditinggalkan.


Xavier dengan diikuti oleh Derek dan beberapa bodyguard di belakang mereka melangkah sambil mengerutkan kening saat melihat situasi di sekeliling mereka yang sangat jorok dan kotor.


Seakan kejorokan itu belum cukup buruk, aroma tak sedap yang menyapa penciuman saat mereka melangkah semakin dekat dengan pondok tempat persembunyian dokter Rasputin menambah lagi buruknya lingkungan ini.


Ya, lingkungan kumuh ini memang terletak di dekat lokasi pengeloaan sampah terbesar di pinggiran kota ini. Orang-orang biasanya menghindari area ini karena takut terhadap ancaman penyakit dari sampah yang menggunung dan menanti untuk diproses di lokasi raksasa yang dipagari tembok tinggi yang berbatasan dengan area kumuh ini.


Bahkan, tembok setinggi itu pun tak mampu membendung aroma busuk yang menyebar naik ke udara dan memenuhi sekelilingnya dengan nuansa pekat yang mengusik indra penciuman.


Meskipun begitu, melihat banyaknya rumah-rumah kumuh yang dibangun dengan material seadanya di area ini, menunjukkan bahwa area ini masih menjadi pilihan alternatif bagi orang-orang yang mencari kawasan rumah murah yang bisa dijangkau asalkan mereka bisa mendapatkan atap untuk bernaung.


Yah, jika orang-orang itu memiliki indra penciuman yang kebas dan kulit serta perut yang kuat, mungkin tidak akan menjadi masalah untuk tinggal di rumah ini.


Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa dokter Rasputin memilih area yang sangat buruk ini sebagai tempat tinggalnya? Jika hanya untuk bersembunyi, lelaki itu tak perlu melakukannya sampai seperti ini, bukan? Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa lelaki itu sama sekali tak menutup kehadirannya di negara ini dan membuatnya seolah sengaja ingin ditemukan.


Xavier menatap lurus ke pondok kumuh di hadapannya. Para penembak jitu telah berjaga di sekeliling rumah itu untuk melakukan penyergapan, pun dengan pasukannya yang berjaga di sekeliling rumah itu. Dokter Rasputin telah dipastikan berada di dalam rumah itu, sendirian dan tanpa senjata serta tanpa orang lain bersamanya.


Meskipun begitu, Derek tetap bersikeras supaya Xavier memakai rompi anti peluru di tubuhnya dan juga membawa kain pelindung untuk meminimalisasi efek serangan ledakan bom yang mungkin terjadi. Bagaimanapun, di situasi yang masih belum bisa dibaca seperti ini, keselamatan mereka adalah yang utama yang harus dijaga.


Xavier memberikan isyarat kepada pasukan yang berjaga di sekeliling mereka, lalu lelaki itu melangkah masuk ke dalam pondok tersebut dengan diikuti oleh Derek dan satu bodyguard lagi yang mengawalnya dari jarak dekat.


Nuansa remang yang pekat langsung menyambut mata Xavier ketika mereka melangkah memasuki pondok tersebut. Aroma pengap juga seketika melingkupi seolah-olah ruangan ini tak pernah dibuka sebelumnya, membuat Xavier mengerutkan kening karenanya.


Mata Xavier menatap waspada ke ujung ruangan. Di sana , duduk sosok lelaki yang sudah menunggu.


Sosok itu tak sama seperti sosok dokter Rasputin di dalam fotonya, jelas sekali bahwa sang dokter telah melakukan operasi untuk mengubah ciri fisik tubuhnya hingga jejak dirinya yang lama tidak lagi ditemukan. Seperti yang dikatakan oleh Credence, dokter Rasputin sepertinya telah melakukan permak total baik wajah maupun tubuhnya untuk menciptakan penyamaran sempurna yang membuat dirinya tak bisa dikenali lagi. Entah identitas siapa yang telah dicuri oleh dokter Rasputin, tetapi melihat kumuhnya penampilan lelaki itu, kemungkinan yang dia curi identitasnya adalah pria malang yang menjadi pemilik sesungguhnya dari rumah ini.


Meskipun sosok lama dokter Rasputin tak bisa ditemukan lagi, kenyataan bahwa sosok lelaki itu adalah satu-satunya manusia yang berada di dalam pondok bau dan berantakan ini, menunjukkan bahwa lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah dokter Rasputin itu sendiri.


Yang lebih mengejutkan, lelaki itu tampaknya sama sekali tak kaget dengan kedatangan Xavier dan pasukan yang berkeliling menyergap rumah ini, dia duduk dengan tenang di atas kursi, bertumpu siku pada meja di hadapannya dan membiarkan kedua tangannya menyangga dagunya dalam keheningan.


Seolah-olah dokter Rasputin sudah tahu bahwa dirinya akan ditemukan dan dia telah menunggu mereka semua masuk ke dalam pondok ini dan datang menangkapnya.


Meskipun nuansa pondok itu sangatlah remang,  Xavier bisa melihat bahwa dokter Rasputin tengah mengulas senyum ketika matanya bersirobok dengan tatapan Xavier yang dipenuhi kewaspadaan.


“Selamat datang,” suara dokter Rasputin terdengar parau kemudian. “Aku sudah menunggu kalian. Terutama kau, Xavier Light.”


 


 


***


***


***


***


Hello.


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website projectsairaakira  +  part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely

__ADS_1


AY


__ADS_2