
"I wanna take care of you. I wanna kiss you every morning and every night. I want all of you. I want you."
Pizza itu luar biasa enak, dengan lapisan keju meleleh, jamur, pepperoni dan daging giling yang melimpah di bagian atasnya. Rasa sausnya pun sangat lezat, berpadu dengan roti pizza yang renyah di luar dan lembut di dalam, masih hangat dan beraroma harum.
Entah sudah berapa gigitan Elana habiskan. Dirinya sibuk berpesta pora dengan rasa nikmat yang membahagiakan indra perasa sekaligus perutnya. Sampai pada akhirnya, perutnya membunyikan alarm kenyang, pertandabtelah puas diisi.
Elana mengelap mulut dengan tisu, lalu menutup kembali kotak pizza itu dengan rapi, mengerutkan kening ketika dirinya baru sadar akan betapa besarnya ukuran kardus pizza tersebut.
Akram memberikannya pizza ukuran jumbo dengan dua belas potongan besar yang penuh topping, lalu lelaki itu bilang pada Elana untuk menghabiskannya? Memangnya dia pikir perut Elana sebesar apa?
Tetapi, tentu saja Elana tidak akan menyia-nyiakan berkah makanan yang lezat dan melimpah untuknya. Pengalaman hidup kekurangan makanan dan pernah merasakan perihnya perut menahan lapar tapi tak mampu membeli, membuatnya menjadi pribadi yang sangat menghargai makanan, lebih dari siapapun. Apalagi pizza ini termasuk jenis makanan mewah baginya yang mungkin tak akan mampu dia beli kecuali dia benar-benar memiliki uang berlebih.
Dia akan menyimpan sisa pizza itu di lemari pendingin malam ini dan akan memanaskannya esok pagi untuk bekal sarapan sebelum bekerja.
Elana meneguk soda dingin dari gelas besar yang diletakkannya di meja. Rasa dingin manis bercampur sensasi menggigit di tenggorokannya terasa sangat menyenangkan membasuh mulutnya.
Meskipun Akram menghina menunya ini sebagai junk food - makanan sampah, tetapi rasa Pizza dan soda ini sangat lezat dan Elana tidak menyesal melahapnya.
Setelahnya memasukkan kotak pizza besar itu ke dalam lemari es, Elana memilih duduk kembali dan termenung di depan konter dapur. Dia enggan untuk naik dan kembali ke kamarnya setelah selesai makan, seperti yang diperintahkan oleh Akram kepadanya.
Mata Elana melirik ke arah tangga, tempat Akram masih berada di dalam kamarnya. Sepertinya lelaki itu masih mandi.
Tinggal bersama Akram beberapa lama cukup untuk membuatnya tahu bahwa lelaki itu sangat menjaga kebersihan hingga mengarah pada sikap yang berlebihan, contohnya saja sekarang, Akram bisa menghabiskan waktu satu jam lebih hanya untuk mandi berendam dan membersihkan tubuhnya.
Bahkan dirinya yang seorang wanita saja tidak membutukan waktu selama itu untuk mandi.
Perkataan lelaki itu sebelum pergi benar-benar mengusik Elana. Memerintahkan Elana siap di kamarnya ketika Akram datang? Memangnya dia pikir Elana itu apa? Akram benar-benar tak menghargai Elana, memperlakukannya seolah barang tak bernyawa, yang harus siap berfungsi dengan baik sebelum digunakan.
Perlahan, Elana mengusap lengannya yang sedikit menyisakan rasa ngilu di bekas suntikan microchip tadi pagi. Seketika dia langsung teringat alat pelacak yang ditanam di tubuhnya, yang membuatnya harus meredam impian untuk melarikan diri dalam waktu dekat.
Rasa sesak langsung memenuhi dada Elana, membuatnya melupakan kebahagiaannya sebelumnya ketika menikmati sajian pizza yang luar biasa lezatnya.
Sampai kapan dia harus bertahan diperlakukan serendah ini oleh Akram?
Elana menghela napas panjang ketika dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan kepada dirinya sendiri itu. Tapi tak urung, akhirnya dia berhasil menguatkan diri dan memaksa tubuhnya supaya bergerak bangkit dari duduknya.
Tidak ada gunanya dia bersikap enggan dan mencoba mengulur waktu. Toh Akram tetap akan melakukan maksudnya tanpa ada yang bisa menghentikan, sementara Elana yang terjebak di sini tak bisa melangkah kemanapun.
Tidak ada jalan baginya untuk melarikan diri. Untuk saat ini, entah nanti.
Dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Akram bisa mendengar Elana menaiki tangga dan melangkah memasuki kamarnya. Dirinya yang saat itu baru saja melangkah keluar dari kamar mandi langsung membeku.
Elana sudah siap menunggu di kamarnya
Akram masih mengenakan jubah mandi dan melangkah menuju lemari pakaiannya. Dia lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang nyaman sementara otaknya sibuk berpikir.
Apakah sebaiknya dia langsung datang menyusul Elana? Ataukah dia harus menunggu beberapa saat nanti supaya tidak terlihat terlalu bernafsu pada perempuan itu?
Otaknya yang biasanya sangat ahli mengambil keputusan tiba-tiba berubah tumpul malam ini, membuat Akram jengkel kepada dirinya sendiri. Akram akhirnya mengambil keputusan untuk menunggu sedikit lebih lama, dia akan memberi kesempatan pada perempuan itu untuk menyiapkan diri sekaligus menunjukkan pada Elana bahwa dia tidak begitu tertarik untuk menidurinya.
Perempuan itu bisa semakin besar kepala dan makin bertingkah kalau tahu betapa besarnya hasratnya saat ini untuk merenggut tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, mencumbunya dan menyatukan diri dengannya.
Akram lalu melangkah ke seberang ruangan dan memutuskan untuk duduk di sofa besar yang ada di kamarnya, tangannya bergerak mengambil layar digital tipis yang langsung menampilkan data-data yang dibutuhkannya untuk mengambil keputusan perusahaan esok hari. Susah payah Akram berusaha menenggelamkan dirinya ke dalam pekerjaan. Biasanya dia sangat menikmati waktunya bekerja, tetapi entah kenapa sekarang dia sulit berkonsentrasi.
Hampir satu jam berlalu dan pikirannya malahan sibuk dengan hitungan detik, menit dan jam yang dihabiskannya di ruangan ini seorang diri, sementara di kamar sebelahnya, perempuan miliknya sedang menunggu, dengan tubuh mungilnya yang begitu menggoda untuk disentuh.
Akram menelan ludah. Akhirnya dia sampai pada batas kesabarannya. Dengan cepat Akram meletakkan layar digital di tangannya dan beranjak dari duduk, lalu melangkah meninggalkan kamar.
__ADS_1
Ketika Akram melangkah memasuki kamar tempat Elana tidur, suasana hening langsung menyambutnya. Nuansa remang kamar tercipta karena Elana mematikan semua lampu di kamar ini sehingga pencahayaan hanya bergantung dari sinar berwarna kuning redup yang menyala menembus kaca buram yang terletak di batas dinding antara ruang kamar dan ruang mandi.
Perempuan itu tampak tidur miring, membelakangi arah Akram datang, dengan tubuh terbalut selimut sampai ke dadanya. Akram mengerutkan kening, lalu melangkah tanpa suara ke atas ranjang dan menggeser tubuhnya mendekat, baru berhenti ketika dirinya sudah begitu dekat dengan Elana yang memunggunginya.
Tangan Akram menyentuh pundak Elana, mengguncangnya sedikit.
"Elana?" desisnya pelan memecah keheningan di dalam ruang kamar itu.
Tidak ada jawaban, hanya senyap yang menyambutnya.
Akram mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Elana, didengarkannya nafas Elana yang teratur dan tubuhnya yang lunglai berbalut lelap.
Perempuan ini tidak sedang memainkan teknik jual mahal ala perempuan berpengalaman yang berpura-pura tidur untuk membuat diri mereka terlihat sulit di dapat. Elana benar-benar tidur, dengan pulas pula. Bahkan Akram bisa mendengar dengkuran halus dari napas Elana yang naik turun perlahan di depannya.
Akram menggertakkan gigi dipenuhi oleh rasa jengkel dalam jiwanya.
Dirinya menghabiskan waktu menahan hasrat, menghitung detik yang menyiksa sebelum memutuskan datang ke kamar ini, dan perempuan kurang ajar ini malahan meninggalkannya untuk tidur?
Dengan kasar, Akram membalikkan tubuh Elana ke arahnya, hendak membangunkannya. Tetapi kemudian, ekspresi lelap Elana dengan mata terpejam rapat dan bibir sedikit terbuka, membuatnya tertegun. Elana tampak kelelahan dan hal itu berhasil menyentuh titik peka di hati Akram yang selama ini belum pernah terjamah siapapun.
Dia tidak tega. Dan dia tidak bisa menyuruh dirinya membangunkan Elana yang tampak tidur kelelahan saat ini.
Akram melepaskan pegangannya dari tubuh Elana dan membanting tubuhnya di samping perempuan itu, berbaring telentang di keremangan kamar sambil menatap langit-langit kamar dengan tubuh nyeri. Rasa frustasi menguasai dirinya, menyadari bahwa perempuan itu ada di sebelahnya, tapi dia tidak bisa menyentuhnya.
Lalu tiba-tiba tubuh Elana berguling menyamping, merapat ke tubuhnya, sementara tangan serta kaki perempuan itu secara serampangan langsung memeluk tubuh Akram, memperlakukannya layaknya sebuah guling.
Sialan kau Elana. Sialan!
Rasa dingin merayapi punggung Elana sehingga dia sedikit begidik, lalu tubuhnya bergerak refleks dan semakin menempel erat ke guling yang dipeluknya, berusaha menyesap kehangatan dari sana untuk mengusir rasa dingin di tubuhnya.
Guling itu terasa panas menyenangkan, nyaman untuk dipeluk dan keras di bagian-bagian tertentu....
Elana mengerutkan kening ketika menyadari ada sesuatu yang berbeda. Kesadaran mulai meresapi pikirannya seketika, mengusir alam mimpi yang tadinya masih bergelayut menguasai. Tangan dan kaki Elana yang melingkar di guling itu lalu bergerak untuk memastikan, menggesek di sana, merasakannya.
Ini jelas-jelas bukanlah guling... ini jelas-jelas merupakan sosok manusia lain yang berbaring di sebelahnya.
"Sudah bangun?" suara serak muram di antara kertak gigi tiba-tiba terdengar menembus keheningan, layaknya geraman monster mengerikan yang menunggu dalam kegelapan dengan sabar sampai mangsa yang lemah beranjak mendekat dalam kelengahan, untuk kemudian segera menyambar dan menghabisinya tanpa ampun.
Elana terperanjat ketika pikiran jernihnya sudah kembali, dan menyadari bahwa Akram Nightlah yang telah berbaring di sebelahnya semalaman dan telah dipeluknya dengan sembrono layaknya guling.
Seketika Elana berusaha melepaskan kedekatan tubuhnya dengan Akram dan langsung beranjak untuk berguling menjauh. Tetapi, tentu saja dia kalah cepat dengan Akram Night, lelaki itu menahan pundak Elana supaya tak bisa bergerak.
"Hanya kau satu-satunya perempuan di dunia ini yang berani membuatku menunggu. Dan sekarang, setelah kau terbangun..." Akram tidak bisa menahan dirinya lagi, akhirnya dia menghentikan kalimatnya dan langsung mencium Elana.
Suara ponselnya yang berdering dengan getaran kencang menggetarkan nakas di samping tempat tidur membuat Akram seketika terjaga. Tangannya langsung bergerak meraih ponsel yang semalam diletakkannya di nakas ketika dia berbaring menyusul Elana ke atas ranjang, lalu segera amelihat tampilan layar ponselnya.
Elios.
__ADS_1
"Tuan Akram," Elios menyapa dengan suara sopan, "Selamat pagi, saya hanya menginformasikan bahwa meeting dengan pihak Jepang akan berlangsung dua jam dari sekarang. Apakah Anda ingin saya mengirimkan supir untuk menjemput, ataukah Anda hendak mengendarai mobil sendiri?"
"Tidak. Tidak perlu supir. Batalkan juga supir untuk Elana," Akram menjawab tenang. "Aku akan menyetir sendiri," jawabnya kemudian sambil menutup percakapan.
Di seberang sana, Elios menatap ponselnya dengan ekspresi bingung. Sudah menjadi kebiasaan Elios sebagai asisten Akram untuk memulai pekerjaannya dengan panggilan terhadap bosnya di pagi hari dan menjelaskan jadwal hari ini pada Akram Night. Atasannya itu biasanya sudah penuh vitalitas di pagi hari, menjawab setiap panggilannya dengan suara tegas, lalu segera memberikan instruksi dengan efisien dan cepat menyangkut rentetan kegiatan hari ini yang sudah terjadwal penuh.
Akram Night yang dikenal oleh Elios, diketahuinya selalu terbangun ketika fajar menjelang, seolah tidak sabar untuk memulai hari dengan produktif. Sementara itu, Akram Night yang menjawab teleponnya tadi terdengar berbeda, sang atasann menjawab dengan suara parau seolah-olah baru bangun dari tidurnya.
Tapi mungkinkah itu? Elios menatap layar ponselnya yang menggelap, lalu menggelengkan kepala untuk mengusir pikirannya itu.
Tidak. Tidak mungkin Akram Night baru bangun saat terang tanah sudah menyentuh hari. Tadi pasti hanya perasaannya saja.
Akram meletakkan ponselnya dan mengalihkan perhatiannya ke sesosok makhluk mungil yang saat ini berbaring meringkuk di lengan dan dadanya.
Bibirnya melembut ketika membayangkan tentang Elana.
Rasanya sepadan. Seluruh penantiannya yang menyiksa sepanjang malam itu terbayarlah sudah.
Akram sebenarnya tergoda untuk membangunkan Elana dan menghabiskan waktu bersamanya sepanjang hari, tetapi hari ini jadwalnya penuh, dan dia tahu bahwa Elana pasti juga ingin berangkat bekerja.
"Bangun, kucing mungil," Akram menundukkan kepala dan berbisik di telinga Elana untuk mengusik tidurnya.
Tanggapan Elana adalah menggumam terganggu, tangannya bergerak untuk mengusir Akram lalu tubuhnya berguling memunggungi Akram, hendak melanjutkan tidurnya kembali.
Dengan gemas Akram mendekat kembali ke arah Elana dan menggigit bahu mungilnya yang telanjang.
"Bangun Elana, kau akan terlambat bekerja jika tak segera bangun," ujar Akram sambil menghadiahkan kecupan di permukaan kulit perempuan itu.
Kali ini bisikan Akram langsung menembus kesadaran Elana, membuat matanya terbuka lebar seketika.
Tangan Elana bergerak meraih jam meja kecil disebelah nakas dan langsung terkesiap melihat penunjuk waktu di sana.
"Astaga! Aku terlambat!" Elana berseru terkejut sambil beranjak bangun, lalu membungkus selimut di tubuhnya yang telanjang, melangkah turun dari tempat tidur dan lari terbirit-birit ke kamar mandi, meninggalkan Akram yang masih terbaring di ranjang sambil memasang ekspresi masam karena diabaikan.
"Selamat pagi," Elana yang sedang memasukkan pizza yang telah dihangatkannya ke dalam kantong kertas yang ditemukannya di laci dapur langsung menyapa begitu melihat Akram menuruni tangga. "Apakah kau mau pizza?" Elana menawarkan dengan sikap ramah yang terpaksa. Dua potongan pizza sudah dihangatkan oleh Elana di microwave, sedianya hendak dibawa Elana sebagai bekal. Tapi jika Akram mau, Elana tidak keberatan berbagi.
"Aku tidak makan junk food." Akram menjawab tanpa menyembunyikan rasa jijik dalam suaranya, lalu mengamati Elana dengan tajam.
Elana langsung mengerucutkan mulut mendengar penolakan kasar Akram, dia menghela napas dan memutuskan untuk kembali pada rencana awal, yaitu untuk membawa pizza di kantong kertas itu sebagai bekalnya bekerja
Akram sudah mengenakan setelan jas lengkap yang rapi, siap untuk bekerja, begitupun dengan Elana. Lelaki itu langsung mengangkat alis ketika melihat Elana berdiri di sana seolah menunggunya turun sejak lama dan tampak sangat gugup.
"Ada yang ingin kau katakan?" tebak Akram dengan tepat.
Elana *** kedua tangannya yang berjalinan dengan canggung, menatap Akram dengan hati-hati seolah sulit mengucapkan kata.
"Aku... eh bolehkah aku pinjam uang tunai sedikit saja? Nanti... kau boleh memotongnya dari gajiku. Aku hendak naik angkutan umum ke tempat kerja tapi tidak punya uang tunai.... kau tahu, kan, aku tidak bisa membayar angkutan umum dengan kartu," Elana memasang senyum terpaksa dan berusaha bercanda, tapi rupanya candaannya tak sampai ke hati Akram.
Ekspresi lelaki itu malahan menggelap, dipenuhi kemarahan.
__ADS_1