
Di dalam mobil, Xavier tetap mendudukkan Sera di pangkuannya. Tangannya memeluk erat, menahan tubuh perempuan itu supaya tak sampai terjatuh dari sana. Tetapi, sesungguhnya dia tidak perlu melakukan itu. Karena Sera sendiri sedang merangkulnya erat-erat, lengan mungil perempuan itu melingkar di lehernya dan bergantung di sana seolah Xavierlah satu-satunya pegangan baginya supaya tak tenggelam. Wajah Sera disembunyikan di lekuk leher Xavier, berderai dengan air mata yang terus menderas dan mengalir dari netranya yang seolah tak mau berhenti, bekerja keras memompa buliran bening itu sampai terkuras habis tiada sisa.
Xavier bisa merasakan permukaan kulit lehernya yang basah, dibasuh oleh kesedihan Sera. Begitupun dengan lengannya yang hanya bisa mengusap punggung dari tubuh mungil itu yang terus berguncang karena isak tangis.
Aaron Dawn Sialan.
Xavier menggertakkan gigi sambil menatap lurus ke depan. Untuk saat ini, dia memang membiarkan lelaki itu lepas, pulang ke Rusia dengan selamat. Dimitri sudah mengambil tindakan tepat dengan bergegas membawa Aaron pergi, sebelum Xavier meledakkan amarahnya kepada kecoa busuk tak berguna itu. Jika tadi Xavier diberikan kesempatan berhadapan langsung dengan Aaron, dia mungkin akan langsung membasahi tanganya dengan darah Aaron, menewaskannya seketika di tempat tanpa pikir panjang dan tak memikirkan konsekuensi di belakang.
Beruntung itu semua tak terjadi. Sebab, separah apapaun Aaron melukai Sera, sepedih apapun Sera tersakiti, jika Sera tak menginginkan Aaron mati, maka Xavier tak boleh melanggar janji.
Ya, dia terikat dengan janji yang harus ditepati demi berkomitmen pada kesepakatan mereka. Dia bersepakat untuk membebaskan Aaron dan membiarkan lelaki itu pulang kembali ke Rusia dengan selamat. Meskipun begitu, apa yang terjadi setelah kecoa busuk itu kembali ke Rusia, seberapapun Xavier ingin membunuh Aaron dan mencabik-cabiknya sampai berserpih, keputusan akhirnya tetap tergantung pada keinginan Sera sendiri.
Xavier menundukkan kepala, lalu menenggelamkan wajahnya di kelembutan rambut Sera. Bibirnya bergerak mengecup dengan perlahan, lengannya memeluk semakin erat untuk menenangkan tubuh mungil yang berguncang di dadanya itu.
“Apakah kau ingin memelukku lebih dari ini?” Lelaki itu tanpa pikir panjang langsung menawarkan penghiburan dengan cara yang unik. Bercinta adalah satu-satunya cara menghibur diri dan melepas stres yang diketahuinya, dan dia memang hanya tahu cara penghiburan yang melibatkan fisik, karena Xavier tak memiliki pengalaman banyak dalam hal interaksi sosial dengan orang lain yang melibatkan emosi.
Perkataannya rupanya berhasil menembus kesedihan Sera, membuat perempuan itu mendongakkan kepala dan menatap bingung ke arah Xavier.
Matanya basah oleh air mata, pun dengan pipinya. Bibir Sera masih gemetaran oleh isakan yang terus merambati tenggorokannya, sementara hidungnya terlihat merah akibat tangis.
Perempuan ini tampak menyedihkan dan acak-acakan, tetapi entah kenapa tetap saja berhasil menumbuhkan minat Xavier untuk memesrainya.
Karena Sera tetap tak berucap dan malah menatap Xavier bingung, lelaki itu menggerakkan tangan untuk menangkup pipi Sera, membiarkan jemarinya mengusap kelembutan pipi basah itu dan menyerap air matanya.
“Apakah kau menerima penawaranku? Aku menawarkan tubuhku untuk menghiburmu.”
Xavier berhasil, kalimatnya membuat isakan Sera terhenti. Perempuan itu mengerutkan alisnya hingga menciptakan sejentik guratan di keningnya, lalu akhirnya suaranya yang serak terdengar bertanya,
“Menggunakan… tubuhmu?”
Xavier terkekeh. “Aku bukan seorang penghibur yang baik. Aku tidak bisa menggunakan kata-kata lembut untuk menguatkan semangatmu. Jadi hal semacam itu tak akan kulakukan, karena jika kupaksa, maka itu akan terdengar kosong tanpa makna.” Ibu jari Xavier bergerak mengusap bibir bawah Sera yang sedikit terbuka, tatapannya berubah tajam, sementara lelaki itu menundukkan kepala dan mengusapkan bibirnya di bibir Sera. “Tetapi, aku bisa menghiburmu dengan tubuhku. Menenggelamkanmu dalam kenikmatan dan membuatmu lupa. Kau mengerti maksudku, bukan?”
Mata Sera melebar, tatapannya nanar, sementara ketidakpercayaan memenuhi jiwanya.
Xavier menawarkan bercinta untuk menghiburnya. Astaga, apa sebenarnya yang ada di pikiran lelaki ini? Bagaimana bisa seseorang menawarkan bercinta untuk menghibur seorang perempuan yang menangis karena sakit hati?
“Kau mungkin menganggapku gila, tetapi metodeku biasanya berhasil.” Xavier menghadiahkan kecupan lembut menggoda di bibir Sera, mengirimkan senyar yang langsung membanjiri tanpa bisa ditolak. “Tidakkah kau ingin merasakan sendiri bahwa ada lelaki yang luar biasa dan jauh lebih baik dari kecoa itu di dalam genggamanmu dan menjadi milikmu?”
Sera mengerjap. Kalimat Xavier seperti sihir, menggodanya sampai ke batas akhir hingga dia seolah dimantrai, tak mampu mengucapkan penolakan.
“Aku menunggu jawabanmu.” Xavier menggesekkan hidungnya di hidung Sera. “Apakah kau ingin bercinta denganku?”
Pipi Sera merah padam, aliran bergelora membanjiri darahnya, membuat seluruh tubuhnya terasa panas. Dia ingin bersuara, tetapi suaranya tersekat di tenggorokan, membuat lidahnya kelu.
Hal itu membuat Xavier tersenyum penuh pengertian. Lelaki itu menenggelamkan kembali Sera ke dalam pelukannya dan menghadiahkan kecupan lembut di puncak kepalanya.
“Aku akan mengganggap kediamanmu sebagai persetujuan,” simpulnya penuh percaya diri.
Lelaki itu lalu membungkuk sedikit ke depan dengan masih memeluk Sera, sambil menekan tombol intercom yang menghubungkan komunikasi dengan supir yang mengendarai mobil di depan.
“Berbeloklah, ke arah sana.” Xavier menyebutkan salah satu hotel bintang lima yang dimiliki oleh Akram dan supir langsung mengarahkan mobil ke sana, sesuai dengan perintahnya.
***
Lobby hotel itu cukup ramai, para tamu tampak berlalu lalang sesuai dengan urusannya sendiri-sendiri, bercampur dengan para petugas hotel berseragam rapi yang melintas untuk melakukan pekerjaannya masing-masing.
Xavier memilih meninggalkan kursi rodanya dan berjalan masuk ke hotel dengan bantuan tongkat karena dia tak mau menarik perhatian. Meskipun sedikit lebih lambat dari biasanya, tetapi langkahnya tegap ketika menggandeng tangan Sera menyeberangi lantai lobby yang luas, lalu membawanya ke area petugas resepsionis.
Untuk hotel semewah ini, area meja resepsionisnya pun tampak sangat mewah, berlapis marmer hitam dengan semburat emas yang tampak indah di mata.
“Kau baik-baik saja?” Xavier menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Sera yang memilih berdiri di belakangnya di depan meja resepsionis itu.
Sera menganggukkan kepala sebagai jawaban, memilih untuk tak bersuara. Dia sudah mengusap rambutnya dan mengikatnya di belakang dan menghapus air matanya yang telah berhasil dihentikannya sekuat tenaga. Dari jauh, dia tampak baik-baik saja, meskipun jika ada orang yang mendekat, mereka pasti dengan mudah bisa menemukan bekas air mata di kelopak matanya yang bengkak dan sembab.
Petugas resepsionis itu menyapa ketika Xavier datang, membuat Xavier menolehkan kepala dan teralihkan perhatiannya. Sera yang mengamati dari punggung Xavier langsung bisa melihat ada keterkejutan bercampur rasa terpesona yang muncul tak bisa ditahan di mata resepsionis itu ketika melihat wajah calon tamunya yang luar biasa tampan.
Senyum lembut menggoda alami langsung muncul di bibir resepsionis yang dipoles dengan lipstick warna merah jambu basah nan ranum. Tatapan matanya mengedip merayu, melemparkan isyarat tak keberatan untuk menerima pendekatan lebih jauh.
“Apakah Anda ingin memesan kamar?” Resepsionis itu berucap dengan nada lembut menggoda, membuat Sera tanpa sadar mengerutkan keningnya.
Selalu seperti itu. Semua wanita seolah tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Xavier dan mata mereka seakan dimantrai sehingga terus menerus ingin melahap ketampanannya itu tanpa terkendali. Kesempurnaan fisik Xavier seakan menciptakan sihir yang membuatnya dengan mudah mampu memesona hati wanita manapun yang ditemuinya, membuat para wanita itu bergerak merayu dengan alami.
Xavier menganggukkan kepala, menjawab mengiyakan pertanyaan resepsionis itu dengan nada sopan dan kalimat mengalun lembut. Dia lalu meletakkan kartu khusus berwarna hitam dan emas yang diambil dari dompetnya ke atas meja resepsionis, membuat sang resepsonis langsung melebarkan mata terkejut melihatnya.
Seketika itu juga, resepsionis itu berdiri, sikap merayunya langsung berubah formal, tubuhnya menegang, lalu tiba-tiba saja perempuan itu membungkuk penuh hormat ke arah Xavier.
“S-saya akan memanggilkan manajer kami.” Resepsionis itu berucap gugup, lalu membungkuk sekali lagi untuk memohon izin berpamitan pergi meninggalkan tempatnya, sebelum kemudian terbirit-birit meninggalkan meja resepsionisnya.
Tingkahnya itu membuat resepsionis yang berada di area lain saling menoleh kebingungan. Mereka menatap punggung resepsionis perempuan yang pergi, lalu mengalihkan pandangan dengan penuh informasi ke arah Xavier, sang tamu yang menciptakan kepanikan itu.
Bertambah lagi mata-mata terpesona yang menatap ke arah Xavier….
__ADS_1
Sera menghitung dalam hati mata-mata para perempuan yang melebar ketika melihat keindahan fisik dalam wujud hidup di depan mereka. Di saat seperti ini, barulah Sera menyadari bahwa Xavier ternyata terlalu menarik perhatian wanita jika berada di tempat umum. Selama ini, dirinya dan Xavier memang jarang berada di tempat umum berduaan, pertemuan mereka kebanyakan di lakukan di area privat yang tak banyak orang lalu lalang, dan baru kali inilah mereka berada di situasi seperti ini.
Entah kenapa… hal itu membuat Sera tidak nyaman. Xavier seolah terlalu mencolok… sementara Sera hanya ingin bersembunyi dan tak terlihat.
“A-apa yang kau berikan kepada resepsionis itu? Kenapa dia jadi seperti itu?” Sera menyentuh sedikit lengan kemeja Xavier untuk menarik perhatian lelaki itu ke arahnya.
Xavier menolehkan kepala ke arah Sera, lalu tersenyum lembut. “Ah, hanya kartu yang diberikan oleh Akram kepadaku. Katanya jika aku ingin tinggal di salah satu hotel miliknya, aku hanya perlu mengeluarkan kartu itu.”
Sera melirik kartu hitam emas yang masih diletakkan Xavier dengan santai di atas meja resepsionis itu. Kartu tersebut hanyalah sebuah kartu kecil, tetapi melihat tingkah resepsionis yang langsung lari terbirit-birit untuk memanggil manajernya, sudah pasti itu adalah kartu yang sangat penting.
“Apakah maksudmu… kau berniat mengambil fasilitas gratis dan tidak membayar kamar hotel ini?” Tiba-tiba saja pikiran itu melintas di pikiran Sera, membuatnya bertanya secara impulsif.
Xavier memiringkan kepala, bibirnya tersenyum lebar. “Menurutmu bagaimana? Aku berencana untuk mengambil kamar terbaik yang tersedia di hotel ini. Rasanya menyangkan, bersenang-senang dengan dibayari oleh Akram.” Lelaki itu terkekeh, seolah bisa mengambil keuntungan dari saudaranya telah membuat suasana hatinya jadi baik.
Sera mengerutkan kening. Matanya memandang ke sekeliling, ke keseluruhan interior lobby hotel yang luar biasa megah ini. Bahkan interior lobby tempatnya berdiri sekarang tampak dipenuhi dengan berbagai fitur kemewahan berkualitas nomor satu. Sera pernah melakukan perjalanan untuk urusan pekerjaannya dan pernah juga dia menginap di hotel-hotel bintang lima pada kota-kota yang disinggahinya, tetapi tak pernah dia masuk ke dalam hotel semewah ini sebelumnya.
Harga kamar semalamnya yang paling murah saja mungkin akan sangat mahal di luar standarnya dan akan membuatnya mengerutkan kening ketika mengetahuinya.
“Apakah… kau tak akan membuat Akram rugi kalau melakukannya?” Sera bertanya lagi dengan cemas.
Xavier tergelak. “Akram sudah kaya, dia tidak akan rugi memberikan satu kamarnya untuk kutempati.” Tangan Xavier tiba-tiba saja bergerak dan meraih tangan Sera untuk kemudian menyatukan jari jemarinya dengan Sera sehingga bertautan. “Tidak usah memikirkan hal-hal remeh seperti itu, pikirkan dirimu sendiri saja,” ucapnya lembut.
Kalimat Xavier memang tidak diucapkan dengan nada penuh penghiburan ataupun nada rayuan yang biasanya dimiliki oleh pria-pria dengan mulut semanis madu. Xavier tampak kaku ketika berusaha menghibur, suaranya malah tampak seperti ultimatum berujung perintah, tetapi entah kenapa sikapnya tersebut bisa menyentuh hati Sera.
Rasa perih akibat hinaaan Aaron yang tak disangka dan mencabik jiwanya itu masih terasa menyakiti, menusuk tajam dan meninggalkan luka menganga. Tetapi entah kenapa penghiburan dari Xavier terasa mengena di hati. Meskipun, Sera tiba-tiba ragu apakah dia harus benar-benar menerima tawaran Xavier bercinta untuk menghibur dirinya.
Semula Sera mengira lelaki itu hanya bercanda atau sekedar memberikan penawaran ekstrim hanya untuk mengalihkan perhatian Sera dari kesedihannya. Tetapi saat ini, dia berdiri di lobby hotel mewah ini, melihat sendiri lelaki itu sedang memesan kamar sebagai tempat mereka bercinta nanti.
Tadi Sera benar-benar impulsif ketika menerima tawaran Xavier. Lelaki itu berhasil mengusik kepedihan akibat harga dirinya yang dijatuhkan dengan mengatakan bahwa Sera bisa memeluk yang jauh lebih baik dari Aaron.
Sekarang berdiri di sini dengan logikanya yang telah kembali, Sera tiba-tiba merasa ngeri karena tanpa pikir panjang telah membiarkan Xavier membawanya kemari untuk bercinta.
Hubungan mereka berdua benar-benar tidak jelas. Pasangan yang diikat oleh tali pernikahan yang gagal mengikat hati. Bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak melibatkan perasaan di sini dan bertindak hanya secara transaksional saja? Jika mereka bercinta sekarang di luar masa subur Sera, bukankah itu hanya akan menambah permasalahan mereka di kemudian hari?
“Xavier…” Sera memulai pembicaraan, berusaha mengutarakan pikirannya dan berharap lelaki itu bisa mengerti.
Xavier tidak akan tersinggung jika mereka membatalkan niat mereka untuk bercinta, bukan?
“Tidak.” Suara Xavier terdengar dingin kemudian menyahuti Sera dengan cepat.
Kepala Sera menengadah dan keningnya berkerut mendengar jawaban lugas itu, dia membuka mulutnya untuk menanyakan maksud Xavier, tetapi lelaki itu langsung berucap dengan mata memperingatkan ke arahnya.
“Tidak, Sera. Kau sudah menyetujuinya. Kita sudah di sini sekarang, jangan bersikap pengecut dengan mengundurkan diri tiba-tiba.” Xavier menyambung kalimatnya, menunjukkan bahwa sesungguhnya dia sudah bisa melihat jelas apa yang ada di dalam benak Sera hanya dengan menatap matanya.
Sera melongok kembali dari balik punggung Xavier yang telah membalikkan tubuh membelakanginya dan menghadap ke arah sumber suara. Matanya melebar ketika melihat seorang perempuan yang luar biasa cantik, dan tampak sangat elegan.
Baru kali inilah Sera menyadari bahwa untuk menjadi seksi, tidak perlu mengenakan pakaian seksi minim yang sengaja menampakkan bagian-bagian tubuh untuk menggoda. Perempuan itu mengenakan blazer dan celana panjang dengan bentuk seperti jas lelaki, tetapi dimodifikasi dengan potongan indah feminim yang mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya sangat pendek, dipotong rapi di bawah telinga. Tetapi, bukannya membuatnya tampak seperti laki-laki, rambut yang membingkai wajah bermata lebar, hidung tinggi dan bibir mungil nan cantik itu, malahan semakin menonjolkan kewanitaannya.
Dengan penuh percaya diri, perempuan itu mengulurkan tangan, kepalanya menengadah, menatap Xavier dengan ramah.
“Selamat siang Tuan Xavier Light, saya Liliana manager hotel ini. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa Anda akan datang ke tempat ini tanpa pemberitahuan.” Senyum muncul perlahan di bibir perempuan bernama Liliana itu, seolah sengaja diatur untuk memesona lelaki. “Sungguh suatu kehormatan bisa menerima kunjungan Anda di tempat ini.”
Ternyata kartu hitam bersepuh emas itu berfungsi untuk memberikan identitas kepada para tamu VVIP yang datang ke hotel ini. Mereka pasti langsung mengkonfirmasi identitas Xavier dan segera mengetahui bahwa tamu yang datang dan menyerahkan kartu ini adalah saudara angkat dari pemilik hotel yang juga termasuk pemegang saham besar di Night Corporation.
Xavier menyambut senyuman sang manager hotel dengan sikap ramah yang sama. Lelaki itu membalas uluran tangannya, lalu berucap dengan nada suara datar.
“Terima kasih atas sambutannya. Saya hanya mampir secara impulsif karena ada kepentingan mendadak. Tidak perlu terlalu formal.” Xavier mengangangkat alis ketika melihat Liliana masih menatapnya nanar seolah terpesona. “Bolehkah saya mendapatkan kamar saya, sekarang?”
Perempuan cantik itu tergeragap, tetapi dengan cepat dia berhasil menguasai diri. “Kamar Anda sudah disiapkan. Kamar terbaik yang ada di hotel ini. Akan siap dalam beberapa menit lagi.” Liliana tiba-tiba saja mengerlingkan mata dengan sikap merayu nada suaranya yang tadinya formal, berubah menjadi serak menggoda. “Anda seorang diri menginap di hotel ini, bukan? Jika Anda tidak keberatan, saya menawarkan diri untuk menemani Anda makan malam di restoran hotel kami yang memiliki hidangan kuliner terbaik. Setelah makan malam, saya bisa memberikan tour singkat ke seluruh fasilitas terbaik hotel ini, jika mungkin Anda ingin menjelajahinya. Saya jamin Anda tidak akan menyesal.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada tersirat yang sopan, tetapi bahkan telinga Sera yang lugu ini, bisa langsung menerjemahkan artinya. Liliana sepertinya merupakan wanita cantik yang terbiasa dikejar lelaki, perempuan itu kemungkinan besar sering membuat kaum lelaki jatuh bertekuk lutut di kakinya. Karena itulah, dengan penuh percaya diri, dia menawarkan dirinya untuk menemani Xavier baik secara formal… maupun secara informal.
Jemari Sera terkepal. Seperti inikah kehidupan Xavier selama ini? Berhadapan dengan wanita-wanita yang melemparkan diri ke dalam pelukannya dengan terang-terangan? Jika memang begitu, kenapa Xavier mempertahankan Sera? Dia bisa mendapatkan teman bercinta dengan mudah setiap saat, bukan?
Xavier sendiri bukannya tak memahami isyarat yang diberikan oleh Liliana. Lelaki itu menyeringai, bersikap pura-pura bodoh. “Aku datang kemari untuk bersenang-senang, bukan untuk makan malam atau tour yang berhubungan dengan bisnis,” tolaknya halus dengan nada datar.
Sayangnya, hal itu tak membuat Liliana mundur. “Yang saya tawarkan, juga tidak berhubungan dengan bisnis, Tuan Xavier. Saya pikir, akan menyenangkan jika kita bisa mengenal lebih dekat secara personal. Anda tahu, orang-orang bilang bahwa otak saya jenius, karena itulah saya bisa menyelesaikan pendidikan lebih cepat dan hampir mencapai puncak karir di usia semuda ini. Saya juga mengagumi Anda karena kejeniusan Anda, dan kedatangan Anda kemari merupakan kejutan menyenangkan untuk saya, karena pada akhirnya saya bisa bertemu dengan lelaki yang menjadi idola saya.” Sekali lagi, Liliana melemparkan tatapan mata merayu penuh tawaran yang memunculkan hasrat. “Saya dan Anda sepertinya cocok. Tetapi siapa yang tahu? Orang bilang, jika kita tidak mencicipi, kita tidak akan pernah tahu rasanya.”
Astaga. Sikap terang-terangan Liliana yang menawarkan dirinya kepada Xavier di tempat umum seperti ini, di lobby hotel yang terbuka dimana siapapun bisa mendengarnya, benar-benar membuat Sera yang menguping sejak tadi jadi tercengang.
Apakah pada masa sekarang, wanita-wanita semakin menjadi putus asa dan tak bermoral, sehingga dengan mudahnya mereka melemparkan diri ke pelukan laki-laki yang dianggapnya sebagai kandidat paling memenuhi syarat?
Xavier sendiri memiringkan kepala, mengawasi Liliana dengan saksama. Tidak disangkanya gangguan muncul tiba-tiba di saat dia sudah siap bercinta.
Perempuan di depannya ini memang cantik dan sempurna, dan tawarannya untuk menyerahkan diri ke pelukannya bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi Xavier. Mungkin Liliana memang terpesona kepada fisiknya, mungkin perempuan itu benar-benar mengaguminya sebagai idola. Yang lebih mungkin lagi, Liliana sepertinya berpikir bahwa dengan menjadi orang dekat bagi Xavier Light, dia bisa menaikkan jenjang karirnya di Night Corporation dengan mudah.
Xavier sudah bisa menghadapi perempuan-perempuan seperti itu, yang memberikan tubuh dan hatinya hanya berdasarkan hitung-hitungan materi dan transaksi timbal balik yang menguntungkan. Di masa lampau, dirinya mungkin akan mengambil tawaran tersebut tanpa pikir panjang, meredakan stresnya dan melampiaskannya pada hubungan ranjang pada wanita manapun yang sepakat tak menggunakan hati.
Tetapi di masa sekarang….
Xavier menggelengkan kepalanya tipis. “Mohon maaf Nona Liliana. Saya takut saya harus menolak tawaranmu. Saya bilang bahwa saya datang ke hotel ini untuk bersenang-senang dan itulah yang akan saya lakukan. Sayangnya, rencana saya bersenang-senang itu sama sekali tak akan pernah melibatkan Anda.”
__ADS_1
Xavier mengulurkan tangannya ke belakang dan meraup Sera yang sejak tadi bersembunyi di balik punggungnya yang kokoh. Tangan Xavier merangkul Sera dan membawanya dengan kuat, menarik Sera ke permukaan supaya berdiri sejajar di sampingnya, di bawah rangkulannya, memastikan supaya Liliana bisa melihat Sera dengan jelas.
“Wanita ini memang pemalu dan selalu memilih bersembunyi di belakang punggung saya. Perkenalkan, Serafina Light, istri saya. Kami masih pengantin baru, jadi Anda pasti tahu kan kebutuhan mendadak yang membuat sepasang pengantin baru tiba-tiba saja membelokkan mobil dan memilih menyewa kamar hotel karena tidak sabar menunggu untuk sampai di rumah?” Xavier menyeringai, bersikap kurang ajar tanpa tahu malu, melibas kecanggungan yang langsung tercipta di antara Liliana yang shock luar biasa dengan Sera yang kikuk karena ditempatkan sebagai peluru untuk menyerang wanita malang di depannya itu.
“Sekarang, apakah kamar kami sudah siap? Karena saya membutuhkannya segera.” Seolah semua hantamannya itu belum cukup, Xavier menambahkan lagi dengan mengeratkan rangkulannya di pundak Sera, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mengecup sisi telinga Sera dengan sengaja. “Sayang, kau juga sudah tidak sabaran, bukan?” bisiknya menggoda, dengan suara parau penuh makna.
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan.
__ADS_1
AY