
Xavier tertegun.
Lelaki itu tak pernah lepas kendali sebelumnya dan selalu terlihat tenang serta mampu menguasai diri. Namun, kali ini keterkejutan tampak nyata membayang di wajahnya, membuatnya terlihat pucat dan untuk beberapa saat hanya mampu berdiri di sana, menatap Sera dengan lidah kelu.
“Kau bilang apa?” Ketika Sera hanya menatapnya canggung seolah menunggu jawabannya, Xavier akhirnya bertanya kembali untuk meyakinkan dirinya.
Sera menggigit bibir bawahnya seolah salah tingkah, tetapi tak urung perempuan itu berucap, mengulang kembali pertanyaannya.
“A-apakah kau ingin… menyentuh perutku?” tanyanya perlahan.
Xavier kali ini mendengar pertanyaan yang sama yang diucapkan dengan jelas untuk kedua kalinya. Sudah pasti dia memang tak salah mendengarnya.
Mata Xavier tertuju pada perut Sera. Lelaki itu lalu menelan ludahnya. Selama ini ketika bersama Sera, Xavier selalu menahan diri untuk tidak menyentuh atau bahkan melirik sekalipun ke arah perut Sera. Ada dorongan di dalam jiwanya yang melarangnya melakukan segala jenis kontak dengan perut tempat janin itu tumbuh berkembang. Itu semua dilakukannya untuk melindungi dirinya sendiri dan anak itu, supaya dia tak menumbuhkan kedekatan emosional dari dalam jiwanya kepada makhluk kecil yang sedang bertumbuh di dalam perut Sera itu. Bahkan, di saat dirinya bercinta dengan Sera pun, Xavier selalu menghindari area perut Sera, sama sekali tak mencoba menyentuhnya.
Xavier berpikir bahwa dia akan berhasil menghindari Sera sampai Sera melahirkan dengan selamat supaya dia bisa mati tanpa menjalinkan ikatan emosional kuat dengan ibu dan bayi yang sesungguhnya telah membolak-balikkan dunianya. Dulu dia mengira bahwa segala sesuatunya akan berlangsung sesuai rencana yang telah disusunnya dengan rapi. Sayangnya, bahkan seorang jenius seperti dirinya pun, bisa melakukan kesalahan jika menyangkut perencanaan yang tergantung pada perasaan manusia.
Perasaan manusia kadang sama sekali tak bisa diprediksi, seperti halnya sekarang. Dengan segala permasalahan dalam hubungan mereka, sama sekali tak disangkanya bahwa Sera akan berbaik hati memberikan tawaran kepadanya untuk menyentuh perutnya.Itu adalah sebuah tawaran menggoda dan langsung meruntuhkan tembok pertahanan Xavier seketika.
Sebab Xavier yakin bahwa seluruh calon ayah di dunia ini –dirinya bukan pengecualian- sudah pasti tak akan mampu menolak kesempatan yang ditawarkan dengan sukarela oleh seorang perempuan yang mengandung benihnya di dalam perutnya.
“Xavier?” Sera akhirnya memanggil dengan nada berhati-hati ketika Xavier tak juga menyuarakan jawabannya. Sikap Xavier itu membuat pipi Sera memerah malu, dia sungguh canggung karena dengan impulsif dirinya telah menawarkan kepada Xavier untuk menyentuh perutnya. “K-kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Maafkan aku telah menawarkannya.” Sera akhirnya bersuara sambil memalingkan muka, tak mampu menatap langsung ke mata Xavier yang menatapnya lekat.
Bodohnya dia. Kenapa dia menawarkan hal intim yang tidak seharusnya ditawarkannya? Meminta Xavier menyentuh perutnya? Sekarang Sera tampak seperti orang bodoh yang merendahkan diri dan mengemis-ngemis untuk disentuh oleh lelaki itu.
“Aku mau.” Suara Xavier terdengar tegas, tiba-tiba saja memecah keheningan menyesakkan yang sempat tercipta di dalam ruangan perawatan itu. Lelaki itu lalu berdehem sejenak, tampak sama-sama salah tingkahnya dengan Sera ketika berucap untuk menguatkan kembali kalimatnya yang sebelumnya. “Maksudku, aku ingin menyentuh perutmu… jika kau mengizinkannya.”
Mata Sera melebar seolah tak percaya mendengarkan jawaban lugas itu. Ketika dia menawarkan, dia hampir yakin seratus persen bahwa lelaki itu akan menolaknya mentah-mentah.Kegugupan langsung menerpanya, menciptakan nuansa canggung yang menyesakkan dada.
“K-kau ingin menyentuhnya sekarang?” Sera akhirnya bertanya seperti orang linglung, apalagi Xavier tampaknya mengambil sikap kaku yang sama, tak beranjak bergerak dan masih berdiri di tempatnya seolah membeku.
“Oke.” Xavier menjawab tanpa pikir panjang. Lelaki itu lalu mendekatkan dirinya di tepi tempat tidur, menatap Sera yang setengah terduduk dengan menyangga bantal besar di punggungnya di atas ranjang rumah sakit itu.
Xavier membungkukkan tubuh di dekat Sera, semula lelaki itu tampak ragu, bahkan Sera bisa melihat bagaimana Xavier menelan ludahnya beberapa kali seolah-olah ada tali yang menjerat dirinya dan membuatnya tertahan untuk menyentuh.
Kalau dipikir-pikir, Xavier memang tak pernah menyentuh perutnya setelah mengetahui kehamilan Sera. Bahkan di saat-saat paling intim mereka berdua pun lelaki itu seolah mengindari area tempat bayinya bertumbuh itu… apakah Xavier memang sengaja menjauhi anaknya bahkan sebelum anak itu dilahirkan?
Xavier berdehem, memupus keraguan, lalu setelah menghela napas panjang, lelaki itu akhirnya menangkupkan tangannya di perut Sera, semula hati-hati, menyentuhkan kulit telapak tangannya lembut sebelum kemudian menangkup sepenuhnya. Lelaki itu menundukkan kepala, menatap perut Sera dan tertegun sejenak, sebelum kemudian mengangkat kepalanya dan menyeringai ke arah Sera.
“Perutmu masih rata,” ujarnya kemudian dengan nada canggung.
Sikap Xavier yang tampak tidak percaya diri seperti seorang anak yang kebingungan karena dipaksa melakukan hal baru di luar zona kenyamanannya dan terlihat berbeda dari biasanya itu membuat Sera mau tak mau menahan senyum. Sekali lagi dorongan impulsif membuatnya melakukan hal di luar logikanya. Tangan Sera bergerak sendiri, membuka gaunnya yang berkancing depan dan melepaskan untaian kancing itu di bagian perutnya sehingga menampakkan langsung permukaan kulit perutnya, lalu Sera menyentuh tangan Xavier dan meletakkannya di sana, membiarkan telapak tangan Xavier yang dingin menyentuh perutnya yang hangat.
Xavier tertegun. Matanya terpaku pada tangan mungil Sera yang masih memegangi tangannya. Indra perabanya menyentuh kulit lembut Sera, tepat di bagian perutnya. Barulah pada saat sentuhan kulit ke kulit secara langsung tanpa kain yang menghalangi itulah Xavier menyadari bahwa perut Sera terasa lebih keras dari perut normal biasa.
Kehilangan rasa canggungnya, Xavier langsung terdorong untuk memeriksa. Telapak tangannya menyusuri, menyentuh dan meraba di permukaan kulit perut Sera, sebelum kemudian lelaki itu mendongakkan kepalanya sedikit takjub.
“Perutmu… lebih keras dari biasanya?” tanyanya tak yakin.
Sera tersenyum melihat sikap Xavier yang tampak bingung. “Ya… sejak beberapa minggu lalu memang seperti ini. Elana bilang kalau untuk kehamilan hampir delapan minggu, biasanya perut ibu hamil masih belum membuncit, dan baru akan kelihatan membesar dengan pesat setelah lewat usia enam belas minggu. Tetapi, perutku sudah sedikit membuncit di usia kehamilan muda, kau juga merasakannya, kan?”
Merasa riang karena bisa membicarakan mengenai kehamilannya dengan Xavier, tanpa sadar Sera menangkupkan tangannya di tangan Xavier dan menggerak-gerakkan tangan lelaki itu mengusap perutnya tanpa perlawanan berarti.
“Kata dokter Nathan, kemungkinan karena dinding rahimku yang tipis. Atau mungkin juga ini benar-benar bayi kembar sesuai prediksi sehingga perutku membesar lebih cepat karena ada dua bayi yang sedang bertumbuh bersamaan.”
“Dinding rahimmu yang tipis?” Perkataan Sera itu menarik perhatian Xavier seketika. Mata Xavier terangkat, menatap ke arah Sera dengan waspada. “Kenapa aku tidak tahu tentang itu? Apakah itu berbahaya untukmu?” tanyanya dengan suara tegang.
Sera mengerjapkan mata. “Eh… aku tidak tahu, dokter Nathan pernah menyebutkan tentang itu pada saat melakukan pemeriksaan rutin atas kehamilanku. Kau… kau tidak ada di sana, jadi kupikir dokter Nathan telah melaporkan semuanya kepadamu.”
Nathan mungkin telah mencoba menghubunginya untuk memberikan penjelasan atas hasil pemeriksaannya terhadap Serafina secara terperinci, tetapi beberapa kali Xavier menolak mendengarkannya, dirinya memang berusaha menjauh secara emosional dari Sera dan bayinya, sehingga menolak mendengarkan hal-hal yang bisa membuat hatinya menghangat dan perasaannya terikat kepada wanita hamil dan anak dalam kandungannya itu.
Pada akhirnya, Xavier hanya bilang kepada Nathan bahwa dia tidak peduli dengan segala perincian kecil dan menegaskan pada Nathan bahwa yang terpenting baginya adalah bahwa Nathan harus bisa memastikan Sera mengandung dengan selamat sampai melahirkan anaknya.
Mungkin itu jugalah yang membuat Nathan berhenti melaporkan hasil pemeriksaan kondisi kehamilan Sera kepadanya.
Xavier menipiskan bibirnya. Sekarang penyesalan merayapinya ketika menyadari bahwa bisa saja Sera mengalami masalah dengan kandungannya tanpa dia mengetahuinya.
Tangan Xavier masih menangkup perut Sera, tetapi sekarang lelaki itu memusatkan perhatiannya secara penuh kepada wajah istrinya itu.
“Kau kemungkinan besar mengandung bayi kembar, tetapi dinding rahimmu tipis. Apakah itu akan membahayakan nyawamu?” tanyanya perlahan, diliputi pemikiran menakutkan akan masa depan.
Xavier sudah pasti akan meminta penjelasan secara terperinci kepada dokter Nathan mengenai hal ini. Meskipun tujuan dari kehamilan Sera adalah supaya Xavier bisa memiliki keturunan yang bisa meneruskan garis darahnya, dia tak mau Sera menjalani kehamilan berisiko yang akan mengancam nyawanya dalam prosesnya.
Saat Xavier berkutat dengan rasa bersalahnya, Sera malahan memikirkan hal yang sebaliknya. Perempuan itu tak bisa menahan senyum lebar yang terulas dari bibirnya. Entah kenapa, perhatian Xavier kepadanya saat ini terasa menyenangkan dan membuat hatinya menghangat.
__ADS_1
Mungkin itu semua karena dorongan hormon di tubuhnya, yang membuat dirinya sebagai seorang perempuan hamil merasa ingin disayang dan diperhatikan.
“Aku baik-baik saja. Kau tidak lihat? Bahkan selera makanku bagus dan aku tidak mengalami mual muntah sama sekali.” Sera mengusap punggung tangan Xavier yang masih menangkup perutnya. “Kurasa anak di dalam perut ini juga sehat dan baik-baik saja.”
Mata Xavier tertuju lagi ke perut Sera. Entah kenapa tiba-tiba saja rasa haru menyeruak ke dalam jiwanya, memenuhi dadanya hingga sesak dan membuat tenggorokannya tersekat tak bisa berkata-kata.
Wanita ini sedang berjuang mengandung anaknya, dan di dalam perut Sera, ada anaknya, darah dagingnya yang sedang bertumbuh dan berjuang untuk bisa hidup. Sementara dia….
Xavier menggertakkan gigi, kepalanya terangkat dan langsung menatap ke arah Sera. Ketika mata bening itu balas menatapnya tanpa dosa dan tanpa dendam, kepala Xavier langsung terasa sakit, ditekan oleh pukulan rasa bersalah yang bertalu-talu tak kenal ampun.
Xavier menggerakkan tangannya untuk memijit pangkal hidungnya, lalu berucap perlahan dengan nada menyerah.
“Aku sedikit lelah. Bolehkah aku berbaring bersamamu sejenak?”
Pertanyaan itu membuat Sera melebarkan mata dengan mulut terperangah kaget.
Lelaki ini tidak pernah meminta izin sebelumnya. Kenapa sekarang dia harus meminta izin?
Sera menelan ludah dan akhirnya menganggukkan kepala. Perlahan dia menggeser tubuhnya di ranjang itu, memberikan ruang bagi Xavier untuk berbaring.
“Kau boleh berbaring di sini,” ucapnya lembut kemudian.
Senyum penuh ironi mau tak mau muncul di bibir Xavier. Dia sadar bahwa sejak awal pertemuannya dengan Sera, dia telah melakukan hal-hal kejam dan pemaksaan yang menyakiti perempuan di depannya ini. Xavier telah menempatkan Sera pada situasi terpojok, mengancamnya, mendesaknya dan juga memaksa perempuan itu menjadi miliknya… hanya untuk ditinggalkan kemudian.
Sera layak membencinya dan semuanya akan lebih mudah jika perempuan itu memilih membencinya setengah mati. Xavier lebih mudah menangani kebencian meluap-luap dengan hatinya yang hampir mati rasa. Namun, kenapa Sera malahan bersikap baik kepadanya? Sikap Sera itu membuatnya kebingungan.
Apa yang harus dia lakukan kepada perempuan ini supaya beban rasa bersalah di pundaknya bisa hilang dan tak menyesakkannya?
Tubuh Xavier bergerak tanpa kata, naik ke atas ranjang. Dengan lembut dihelanya Sera supaya berbaring miring membelakanginya, digunakannya sebelah lengannya sebagai alas kepala Sera, lalu Xavier menempatkan dirinya merapat ke tubuh Sera, merangkulkan lengannya yang lain ke pinggang perempuan itu dan menariknya mundur merapat sehingga punggung Sera menempel ketat ke dada bidangnya yang keras.
“Sepanjang hubungan kita hingga di titik ini, aku mungkin telah menyakitimu dan berbuat jahat kepadamu. Aku tahu kau membenciku, jadi aku tidak akan meminta banyak darimu. Aku hanya minta, apapun yang terjadi di masa depan nanti, jangan pernah sekalipun kau mencoba mengkhianatiku. Ada kode etik yang menyegel nafsu membunuhku, yang hanya bisa lepas jika musuhku melakukan tindakan pengkhianatan. Sisi gila di dalam diriku sangat buas dan kejam jika menyangkut pengkhianatan, aku bisa kehilangan kendali diriku jika sampai kau mengkhianatiku. Aku sungguh tak ingin harus membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri.” Xavier merengkuh Sera ke dalam lengannya dan memeluknya erat-erat hingga wajah Sera tenggelam di dadanya. “Jika memang salah satu dari kita harus mati, maka akulah yang akan mati lebih dulu. Apakah kau mengerti?”
Aku mencintaimu Serafina Moon. Jika kau mengkhianatiku, itu akan membuatku gila.
Suara hati Xavier tiba-tiba menggema di dalam kepalanya, membuatnya tertegun sendiri, didera rasa terkejut ketika jiwanya bahkan tak memiliki hasrat sedikit pun untuk membantah pernyataan cinta diam-diam yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri itu. Astaga, tidak pernah dibayangkannya seseorang seperti dirinya bisa merasakan cinta kepada orang lain.
Sejak kapan rasa itu tumbuh? Apakah sejak mata mereka berpadu pertama kali ketika Xavier mengundang Sera untuk wawancara pekerjaan? Atau sejak Xavier memeluk tubuh lunglai perempuan mabuk di depannya yang sebelumnya menantang dengan menolak memakai gaun yang dia belikan? Atau jangan-jangan sejak dia mereguk kenikmatan berbuah kedamaian jiwa yang hanya bisa diberikan oleh kelembutan tubuh perempuan itu? Sejak kapan hatinya jatuh dalam pesona? Sejak kapan dia mencintai Serafina Moon seperti orang gila yang tak tahu diri?
Cinta. Seperti inikah rasanya? Hanya sakit yang terasa, menyembilu menyayat rongga dada.
Di sisi lain, pertanyaan Xavier yang mengandung ultimatum mendesak itu membuat Sera mengerutkan kening. Lelaki itu sudah pasti sedang membicarakan tentang Aaron dan memperingatkannya. Ancaman Xavier itu begitu pekat oleh kegelapan hingga membuat bulu kuduk Sera begidik.
Pada akhirnya, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menganggukkan kepala menyetujui.
“Aku mengerti Xavier.” Bisiknya pelan, sedikit tak rela namun terpaksa.
Bibir Xavier menipis. Telinganya yang tajam sudah tentu mendengar dengan jelas nada tak yakin di dalam suara Sera. Tetapi untuk saat ini, lelaki itu memilih tak mendebatnya. Bibirnya mendekat, berbisik di telinga Sera dan mengembuskan napas panasnya hingga membuat tubuh Sera terkesiap.
“Bagus. Pegang kata-katamu, jangan sampai lepas,” ancamnya serak menahan hasrat yang mulai tergugah oleh kedekatan tubuh mereka.
Xavier menundukkan kepala hingga wajahnya bisa berlabuh di lekukan antra leher dan bahu Sera, menenggelamkan wajahnya di sana, menghirup dalam-dalam aroma manis menyenangkan dari tubuh Sera yang seolah bisa mendamaikan jiwanya dan menyembuhkan semua lukanya. Lama mereka berpelukan dalam keheningan di posisi saling merapat seperti itu. Sera sendiri merasa nyaman dengan rengkuhan rapat dari lengan lelaki yang melingkupinya itu dan matanya mulai terpejam, dibuai oleh kantuk.
“Maafkan aku.”
Suara Xavier terdengar parau ketika berucap, membuat Sera yang tadinya hampir memejamkan mata, damai dalam pelukan langka yang mungkin tak akan didapatkannya di kemudian hari, jadi membuka matanya lagi karena terkejut.
Dia mencoba menoleh ke belakang, ingin melihat ekspresi wajah Xavier, tetapi tak bisa melakukannya. Xavier memeluknya rapat di belakangnya, kepala lelaki itu dekat di sisi lehernya, sementara napasnya terasa panas di sana, mengirimkan senyar yang tak bisa ditahan ke seluruh permukaan kulit Sera.
“Tidak, jangan berkata apapun dulu, biarkan aku bicara.” Xavier menghela napas dalam-dalam, memutuskan untuk berucap sebelum Sera menyelanya. “Aku sedang sekarat. Kau pasti tahu itu,” ujarnya kemudian dengan suara serak.
Tubuh Sera menegang. Dia tahu bahwa Xavier sedang sakit. Tetapi mengenai sekarat? Bagaimana bisa?
“Ta-tapi katamu, dengan sel punca dari plasenta anak kita, kau bisa….” Suara Sera terbata dan tersekat, bercampur dengan kebingungan.
“Aku membuatmu hamil dan menginginkan anak darimu, bukan demi sel punca itu. Aku tak peduli apakah aku akan mendapatkan sel punca itu atau tidak,” Xavier menyahuti dengan suara parau. “Memaksamu melahirkan anakku… semua itu hanyalah hasil keegoisanku yang tidak ingin pergi begitu saja dari dunia ini lalu hilang tanpa jejak. Berada sebatang kara di dunia ini, membuatku seolah melayang di dunia yang tak kumiliki, tak bisa menancapkan akarku karena aku sendiri bahkan tak punya akar untuk berlabuh. Itu semua membuatku menumbuhkan obsesi, ingin meninggalkan akar yang bertumbuh di dunia ini sepeninggalku. Aku tak ingin ketika aku mati nanti, semua sisa diriku benar-benar musnah dari dunia ini. Aku ingin memiliki sisa diri keturunanku, anak yang dialiri darahku, makhluk yang membawa genetikku, untuk melanjutkan hidup, membuatku setidaknya layak untuk dikenang. Aku ingin ada anak-anakku yang mengingatku pernah ada di dunia ini saat aku mati nanti. Karena itulah aku meminta maaf, aku melibatkanmu dalam obsesiku, memaksamu mengandung anak dari lelaki yang kau benci.”
“Xavier. A-aku tak membencimu seperti itu….” Sera hendak menyanggah, tetapi dia menghentikan kalimatnya karena kebingungan mendeskripsikan perasannya sendiri.
Jika bukan benci, lalu apa perasaan Sera kepada Xavier?
Ketika pelukan lengan Xavier di tubuhnya melemah, Sera akhirnya berhasil membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah lelaki itu. Xavier masih menundukkan kepala sehingga Sera memberanikan diri menggunakan kedua jemarinya untuk menyentuh pipi lelaki itu, mengangkat wajah Xavier hingga menghadap ke arahnya. Perhatiannya teralihkan pada pernyataan Xavier sebelumnya yang mengatakan bahwa dirinya sedang sekarat, membuatnya secara impulsif berucap memberi semangat,
“K-kau belum tentu akan mati. Kau masih bisa menggunakan sel punca plasenta itu….”
__ADS_1
“Serafina Moon.” Xavier menghentikan kalimat Sera dengan kata-kata tegasnya. Mata indah Xavier menatap serius ke arah istrinya, tangannya bergerak mengambil tangan Sera yang menangkup pipinya, lalu membawanya ke bibir dan mengecupnya lembut.
“Biarkan aku yang memikirkan itu. Kau hanya harus memegang janjimu untuk tidak mengkhianatiku dan melahirkan anak-anak kita dengan selamat. Kau mengerti?” tanyanya tegas.
Sera membalas tatapan mata Xavier dengan bingung tapi tak urung dia menganggukkan kepala.
“Mengenai melahirkan dengan selamat... a-aku tak bisa menjanjikan sesuatu di masa depan yang aku tidak tahu. Tapi, tapi aku bisa berjanji akan menjalani kehamilanku dengan baik serta menjaga kandunganku tetap sehat.” Suara Sera terdengar sedikit serak ketika dia menjawab pertanyaan Xavier.
Xavier mengulas senyum, lalu tanpa diduga, lelaki itu menunduk dan mengecup bibir Sera lembut. Bukan ciuman penuh nafsu yang sebelum-sebelumnya selalu diberikan oleh Xavier kepadanya, tetapi lebih seperti ciuman penuh kasih sayang.
Entahlah, Sera sendiri tak yakin bahwa lelaki dengan jiwa gelap seperti Xavier bisa merasakan kasih sayang murni.
“Untuk sementara, aku akan memuaskan diri dengan jawabanmu. Selanjutnya, kurasa kita harus berkonsultasi secara intensif dengan Nathan dan dokter kandunganmu untuk memastikan segala sesuatunya berlangsung baik.”
Sera melebarkan matanya. “Xavier, mengenai sel punca dari plasenta bayi itu.…”
“Sudah kubilang kau tidak perlu memikirkannya, bukan? Aku akan membereskan segala sesuatu yang menjadi bagianku. Kau tinggal mengerjakan apa yang menjadi bagianmu, melahirkan anak itu dengan selamat tanpa melukai dirimu sendiri. Sekarang tidurlah. Aku juga akan tidur sebentar. Aku lelah.” Xavier menenggelamkan kembali Sera ke dadanya, memeluknya erat dan memupuskan semua kemungkinan perdebatan yang akan terjadi. Dalam keheningan kamar, napas Xavier terdengar teratur seolah-olah lelaki itu memang jatuh tertidur dengan mudahnya tanpa waspada atau tanpa pertahanan diri.
Lelaki itu tidak berbohong, sepertinya dia benar-benar kelelahan.
Mata Sera sendiri masih nyalang terbuka, menatap kain kemeja Xavier yang rapat dengannya. Pikirannya kalut, membuat rasa kantuk apapun yang mencoba mendekat, langsung terusir pergi tanpa perlawanan.
Lelaki itu langsung mengalihkan pembicaraan tentang kondisi sakitnya dan seolah tak mau membahasnya lagi. Sera masih belum puas, dia masih ingin mengejar dan bertanya. Satu hal yang pasti, hatinya pedih ketika Xavier berucap seolah-olah dia sudah pasti mati.
Apakah lelaki ini memang berniat memiliki anak hanya untuk menjadikannya seorang anak tak berayah? Bagaimana bisa Xavier seegois itu? Menciptakan sebuah kehidupan hanya untuk meninggalkannya?
Tetapi kemarahan atas keegoisan yang membara di dadanya langsung terguyur padam oleh pikiran cemas yang memenuhi kepalanya.
Xavier mengatakan dirinya sedang sekarat. Apakah lelaki itu bersungguh-sungguh? Apakah benar penyakit Xavier sebegitu parahnya hingga tak bisa diselamatkan lagi?
Rasa nyeri yang tak terduga langsung merayap ke dalam hati Sera, membuatnya harus menghela napas pendek-pendek untuk meredakan sakitnya.
Membayangkan Xavier tidak ada lagi di dunia ini, tidak menghirup udara yang sama di bumi ini dan tidak menjejakkan langkah yang sama di planet ini, membuat nuansa kosong menyakitkan menggayutinya, menumbuhkan ketakutan pekat yang membayangi jiwanya.
Sera tak ingin Xavier mati. Itu sudah pasti.
Hubungan mereka dimulai dengan dendam, trauma dan ancaman mengerikan pada awalnya. Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa Xavier adalah satu-satunya pria yang pernah begitu dekat dan begitu intim dengannya. Seolah-olah, lelaki itu tanpa sadar menempatkan dirinya di dalam hati Sera dan membuat Sera terbiasa dengan kehadirannya.
Apakah karena itu, Sera sekarang jadi takut kehilangan Xavier? Apakah tanpa disadarinya Xavier telah memiliki arti lebih di dalam hati Sera? Apakah Sera selama ini tanpa sadar telah… mencintai Xavier?
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
***
***
__ADS_1
***