Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 102 : Permata


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


Hari sudah menjelang pagi dan ruang kerja apartemen itu masih diselubungi kegelapan.


Dini hari memang sudah menuntaskan waktunya, bersiap beranjak pergi dan memaksa matahari untuk segera menggantikan singgasananya. Sayangnya, matahari tak berpikiran serupa dan memilih bermalas-malasan, tak mau bangun dengan segera. Hal itu membuat semburat kuning cerah yang harusnya sudah muncul di ufuk timur pun tertunda dan terhalangi oleh awan hitam yang membawa pasukan gerimis untuk mendampinginya.


Di dalam ruang apartemen gelap itu, Aaron duduk berselonjor di tengah ruangan, di atas karpet tebal yang membentang melapisi lantai. Tumpukan berkas-berkas ada di sekelilingnya, terbagi menjadi tiga bagian. Yang di sebelah kirinya adalah tumpukan berkas sampah yang sudah diperiksanya tapi tak bisa memberikan apa-apa kepadanya, yang di hadapannya adalah tumpukan berkas yang belum diperiksanya, dan yang berada di samping kanannya adalah tumpukan berkas yang masih meragukan baginya dan akan diperiksanya ulang.


Beginilah kalau dia terpaksa menyelesaikan semuanya dengan cara manual, kegiatan ini menghabiskan banyak waktunya dan menguras tenaganya hingga dia bahkan tak sempat makan dan tidur selama berjam-jam sejak dia pulang dari fasilitas kesehatan itu.


Tetapi, memang tidak ada cara lain, cara manual dengan memeriksa berkas fisik satu-persatu dengan teliti adalah cara paling aman yang bisa dia tempuh.


Yang lebih menyulitkan lagi adalah kenyataan bahwa seluruh berkas ini penuh dengan istilah kedokteran dan jenis-jenis obat dengan bahasa yang spesifik.


Dia bahkan tidak bisa mengejanya dengan benar, bagaimana mungkin dia bisa mengerti maksudnya?


Aaron tersenyum masam ketika matanya menelusuri angka-angka biaya yang tersusun dari penggunaan berbagai macam obat yang terasa sangat asing baginya. Dirinya mungkin berhasil mencuri wajah dan identitas dari dokter Oberon, sayangnya otaknya tetap otak miliknya, otak seorang akuntan serta pebisnis dan bukannya otak seorang dokter.


Tentu saja ketika menghadapi kesulitan semacam ini, Aaron tidak bisa meminta bantuan dokter lain, karena selain dia tak punya banyak waktu, itu akan mengarahkan kecurigaan kepada dirinya. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah bertahan dan memaksakan dirinya untuk bersabar memeriksa dengan kemampuannya yang terbatas sambil berusaha untuk tetap seteliti mungkin dalam melakukannya.


Mata Aaron sudah memerah karena dipaksa untuk memforsir diri membaca tulisan-tulisan itu dengan saksama. Tetapi, Aron tak mau menyerah, dia baru memeriksa kira-kira tiga perempat dari berkas itu dan tidak menemukan apa-apa.


Tidak bisa terus seperti ini, Aaron tahu bahwa dia tak akan bisa berhenti sebelum dia menemukan sesuatu.


Dengan menahan kantuk dari matanya yang pedih Aaron berusaha memusatkan pandangannya kembali. Dia membaca ulang semua tulisan di kertas di tangannya, lalu tiba-tiba saja dia menemukan sesuatu, membuat rasa kantuknya terusir lenyap begitu saja dan tubuhnya yang tadinya bersandar kelelahan langsung menegang karena seolah mendapatkan suntikan tenaga baru.


Ini dia. Ini dia yang dia cari!


***


 


“Bagaimana kondisi Elana?”


Xavierlah yang terlebih dahulu berhasil menyingkirkan rasa tersekat di dadanya dan langsung mengajukan pertanyaan kepada Akram. Lelaki itu merangsek semakin dekat, tak sabar untuk mendapatkan jawaban dan Elios tampaknya memilih mengikutinya dalam diam sambil menantikan jawaban yang sama.


Akram sendiri tampak seperti orang linglung. Lelaki itu menatap ke arah Xavier dan Elios berganti-ganti sambil mengerutkan kening seolah otaknya kesulitan mencerna apa yang divisualisasikan oleh indra penglihatannya.


Sikap Akram itu membuat Xavier kesal sementara Elios di belakang sana memilih diam bersabar dan menunggu sampai atasannya itu bisa berbicara. Tentu saja Xavier tak sesabar Elios. Dia berusaha melirik ke belakang punggung Akram untuk mencari dokter Nathan atau siapapun yang bisa ditanyai, sayangnya dia tak menemukannya.


“Akram Night.” Akhirnya Xavier mengeraskan nada suaranya, memaksakan supaya Akram mendengarkannya. “Apa yang terjadi pada Elana?” tanyanya dengan suara menuntut. “Apakah Elana baik-baik saja?”


Sejenak Akram kembali seperti orang kebingungan, tampak ada sesuatu yang lain yang memenuhi kepalanya sehingga lelaki itu kesulitan merangkai kata untuk menjawab.


Namun, tak lama kemudian Akram tiba-tiba tersenyum, wajahnya berseri-seri hingga nyaris bercahaya cemerlang. Lelaki itu seketika meletakkan kedua tangannya ke pundak Xavier, menepuknya keras hingga Xavier mengerutkan kening karena bingung dengan tingkah saudara angkatnya.


“Xavier.” Akram menyeringai, menyebut nama Xavier dengan ekspresi cerah. “Xavier!” ulangnya lagi dengan nada suara lebih keras.


“Hey.” Xavier menatap Akram dengan kebingungan yang tajam. “Apa yang terjadi? Kuasai dirimu.”


Meskipun nada suara Xavier terdengar kasar dan tak bersahabat tetapi di dalam hatinya dia merasakan seberkas harapan yang mulai menyala.


Akram tampak tidak menangis, lelaki itu tidak terlihat kalut dan muram. Yang ada, Akram malahan tersenyum lebar dengan ekpresi berseri-seri. Itu berarti tak ada yang perlu dikhawatirkan dari Elana, bukan?


Namun, tentu saja Xavier tidak membiarkan dirinya senang lebih dulu tanpa mendapatkan bukti. Bisa saja adik angkatnya ini menjadi gila karena mencemaskan Elana hingga bertingkah di luar nalar.


“Di mana dokter Nathan? Lebih baik aku bertanya kepadanya.” Kembali Xavier melongok ke belakang tubuh Akram tanpa menemukan apa-apa. Dia tidak memaksa Akram untuk menjawab pertanyaannya karena dari pengamatannya, dia langsung memutuskan bahwa Akram tak bisa ditolong lagi. Adik angkatnya itu sepertinya sudah gila.


Akram mengerjap, binar di matanya berhasil sedikit diredupkan meskipun masih menyala. Lelaki itu rupanya telah berhasil mendapatkan kendali dirinya dan mengembalikan pikiran logisnya.


“Dokter Nathan masih di dalam. Dia sibuk menangani Elana,” sahutnya perlahan. Suaranya terdengar gemetar ketika melanjutkan kalimatnya. “Elana… Elana mengalami pendarahan, dan di perjalanan ke rumah sakit tadi darahnya mengalir deras sekali membuatku sangat cemas.” Ekspresi Akram tampak sangat tersiksa. “Ketika tiba di sini, dokter memutuskan untuk melakukan operasi cesar darurat guna menyelamatkan ibu dan bayinya.”


Xavier menahan napas. “Apa yang terjadi? Bagaimana kondisi bayinya? Apakah Elana masih dalam proses operasi?”


“Tidak. Operasinya sudah selesai.” Kembali Akram berseri-seri, senyum pecah di wajahnya lagi seolah lelaki itu tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak tersenyum lebar.


“Elana sedang tidur. Kondisinya stabil dan operasinya berjalan lancar.” Akram menghela napas dalam-dalam seolah berbagai macam perasaan yang menyenangkan membanjiri dadanya hingga membuatnya kewalahan.


Ketika berucap kemudian, suaranya terdengar takzim. “Elana melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik. Putri kami, permata kami. Dia luar biasa cantik, Elana dan bayinya luar biasa cantik.”


***


 


Xavier berdiri di depan kaca yang membatasi dirinya dengan ruangan bayi khusus yang terletak di lantai atas. Dia memberi isyarat kepada perawat yang mengikuti langkahnya dan perawat itu melangkah masuk ke dalam ruang bayi yang steril, membersihkan diri, mengenakan pakaian pelindung lengkap sebelum kemudian memasuki area tempat bayi Akram dan Elana berada dan membuka tirai di balik kaca yang menutupi dan membatasi antara si bayi dengan Xavier.


Mata Xavier langsung tertuju pada sosok mungil yang tengah tertidur pulas di dalam kotak inkubator itu. Bayi itu cantik, dengan bulu mata tebal, hidung tinggi dan bibir indah yang membuatnya tampak sangat menggemaskan. Pipinya juga montok, begitupun dengan tubuhnya. Tubuh bayi itu cukup besar dengan berat yang cukup dan montok di sana-sini sehingga sama sekali tak menampakkan kalau dia dilahirkan beberapa minggu lebih cepat dari yang seharusnya.


Dokter Nathan bilang bahwa kondisi bayi Akram dan Elana stabil, tetapi bayi itu masih tetap berada dalam status pengawasan dan observasi sampai mereka semua memastikan semuanya berjalan dengan baik.

__ADS_1


Xavier hanya berharap bahwa kondisi stabil dan tenang ini terus berlanjut, sehingga semua bisa mendapatkan ujung yang membahagiakan.


Perawat itu tampak menunggu dengan sabar ketika Xavier mengawasi bayi itu dengan saksama, lalu setelah beberapa saat, perawat itu memberi isyarat bahwa waktu sudah habis dan tirai akan ditutup. Xavier mengangguk tipis sebagai jawaban dan tirai itu pun ditutup rapat kembali untuk menghalangi pandangan dari luar.


Lelaki itu masih berdiri beberapa lama di depan dinding kaca yang lebar di hadapannya itu. Ekspresinya termenung ketika berusaha mencerna perasaan-perasaan asing yang bergolak di dadanya.


Dia bukan ayah bayi itu, tetapi kepolosan, keindahan dan kemurnian dari bayi tanpa dosa di hadapannya itu menghangatkan hatinya, membuatnya merasakan kesedihan ketika tirai itu ditutup dan dia tak bisa menatap bayi itu lebih lama lagi.


Bibir Xavier mengulas senyum penuh ironi ketika membayangkan keributan yang terjadi sebelumnya.


Pantas saja Akram Night tadi tidak bisa meninggalkan tempat ini, memaksa terus berdiri di posisinya saat ini dan marah besar ketika waktunya mengawasi bayinya yang sedang berada di dalam kotak inkubator dibatasi demi kepentingan bayi itu sendiri.


Akram pasti ingin berlama-lama memandang anak perempuannya, dia pasti ingin menggendong anak perempuanya. Sayangnya, kondisi saat ini belum memungkinkan bagi dirinya untuk melakukannya.


Beruntung dokter Nathan berhasil membujuk Akram supaya mau bekerjasama. Dengan sikap persuasif, dia mengatakan kepada Akram bahwa lebih baik jika lelaki itu berada di sisi Elana yang baru pulih pasca operasi dan merekalah yang akan mengurus bayinya. Akram akhirnya mau menerima dan bersedia setengah diseret pergi oleh dokter Nathan meninggalkan tempat ini.


Jika saja dokter Nathan tak pandai membujuk, mungkin Akram Night akan membangun tenda di depan kaca besar ini dan berdemo menuntut para perawat rumah sakit agar membuka tirai pembatas pandangannya ke area dalam ruang bayi sehingga dia bisa dengan bebas memandangi bayinya selama dua puluh empat jam penuh.


Senyum melebar di bibir Xavier. Pantas saja Akram memperingatkannya tentang perasaan seorang ayah yang pertama kali melihat atau memeluk anak kesayangannya, ternyata lelaki itu kehilangan kewarasan serta sikap dinginnya dan langsung berubah jadi konyol dan sedikit gila secara sukarela jika menyangkut bayinya.


Apakah dia akan jadi seperti itu nantinya? Sera juga akan melahirkan, dan bukan hanya satu, perempuan itu akan menghantarkan dua bayi sekaligus ke dunia.


Seperti apa perasaannya nanti? Akan bagaimana rasanya jika dia mendapatkan kesempatan untuk memeluk anak-anaknya di lengan-lengannya? Akankah dia meledak dalam kebahagiaan dan bertingkah konyol di luar nalar seperti Akram?


Memikirkan tentang Sera membuat Xavier rindu. Dia mengambil ponselnya dan langsung menelepon istrinya itu.


***


 


Hari sudah bergulir melewati garis pagi, menciptakan nuansa terang setengah hati karena gerimis telah menghujani bumi sejak dini hari tadi. Matahari tampaknya lebih memilih bersembunyi, membentengi diri dengan tirai gerimis yang semakin menderas seiring dengan bertambahnya waktu.


Sera mencoba tidur sejak Xavier pergi dini hari tadi, tetapi dia gelisah dan hampir-hampir tak bisa melakukannya. Dia akhirnya berbaring diam dengan mata terpejam sambil berdoa untuk keselamatan Elana di dalam hatinya. Ketika matahari mulai naik, Sera sudah mandi, rapi, berganti pakaian dan sedang menikmati sarapannya di pantry dapur sambil menatap pintu kaca besar yang memantulkan hujan lebat di luar sana.


Secangkir sari lemon hangat dengan beberapa helai daun mint segar yang direndam di sana ada di hadapannya, siap untuk membasuh mulutnya dari menu sarapan berminyak yang dilahapnya sampai habis sebelumnya.


Sera menyesap sari lemon mint hangat itu, menikmati rasanya yang terasa pas berpadu dengan hujan di luar sana dan pada saat yang sama, ponselnya berdering nyaring.


Ketika melihat nama Xavier, segera Sera mengangkatnya. Hampir saja ponsel itu jatuh dari tangannya karena dia begitu terburu-buru.


“Xavier?” Jantung Sera berdegup kencang ketika dia membuka mulutnya untuk bertanya. “Bagaimana Elana?” pertanyaan itulah yang diajukannya lebih dulu, menyampaikan kecemasannya tentang Elana.


Hening beberapa detik, lalu Xavier terdengar menyahuti di seberang sana dengan senyum dalam nada suaranya.


“Elana baik-baik saja. Pendarahannya telah ditangani dan dokter menjalankan operasi cesar darurat baginya. Aku masih belum bisa menemuinya karena Elana masih dalam masa observasi pasca operasi.”


Senyum masih terulas dalam nada suara Xavier ketika menjawab.


“Bayinya baik-baik saja. Memang masih dirawat di inkubator karena lahir sedikit lebih cepat dari waktunya. Tapi, secara keseluruhan baik-baik saja.” Xavier memberikan jeda lama dalam kalimatnya dan ketika menyambungnya kemudian, suaranya terdengar parau. “Bayi perempuan, Sera… dan dia sangat… cantik.”


Sera mendengar suara Xavier bergetar di akhir kalimatnya dan perasaan hangat langsung memenuhi jiwanya.


Ah, Xaviernya benar-benar telah berubah saat ini. Lelaki itu dulu mungkin memiliki jiwa yang terlalu dingin sehingga tak mungkin akan terenyuh ketika menatap makhluk serupa bayi tanpa dosa yang sangatlah indah untuk disyukuri keberadaannya. Tetapi, Xavier yang sekarang bersedia melembutkan hati dan mau tersentuh ketika menatap seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia ini.


“Apakah… bayi kita nanti, apakah mereka juga akan sehat dan baik-baik saja ketika dilahirkan nanti?” Xavier tiba-tiba bertanya, ada kecemasan di dalam nada suaranya.


Sera tersenyum, menganggukkan kepala meskipun dia tahu bahwa Xavier tak bisa melihatnya.


“Ya, Xavier. Bayi kita akan dilahirkan dengan sehat dan baik-baik saja. Kurasa mereka akan sangat cantik, karena mereka mirip denganmu, karena mereka adalah anakmu.”


Hening membentang di percakapan telepon itu, kedua orang tua yang sedang menanti kelahiran anak mereka itu dipenuhi rasa haru yang amat sangat hingga membuat suara mereka sama-sama tersekat di tenggorokan dan kesulitan merangkai kata.


Xavierlah yang berucap kemudian, memecahkan keheningan di antara mereka dengan suara serak penuh harap.


“Bagaimana kondisimu? Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana si kembar?”


“Aku baik-baik saja, hanya kaki yang sedikit bengkak, tetapi tak separah kemarin, aku masih bisa berjalan kesana kemari.” Sera tersenyum lebar. “Sedang si kembar masih seaktif biasanya. Sejak tadi pagi, mereka menendang kesana kemari dengan ribut, mungkin ingin segera ibunya bangun lalu makan. Aku sangat kelaparan pagi ini, kau tahu aku telah menghabiskan sepotong besar cake buah dan sepiring besar nasi goreng buatan koki yang sangat lezat.”


Xavier terkekeh. “Teruslah makan banyak dan kau akan baik-baik saja.” Nada suaranya berubah serius ketika berucap kemudian dengan suara parau dan tersekat. “Teruslah baik-baik saja, Sera. Berjanjilah.”


Hati Sera menghangat. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi Sera tahu bahwa suaminya telah menumpahkan seluruh doa dan harapannya ke dalam kalimatnya. Dia merasakan ketulusan Xavier dan itu membuatnya merasa kuat.


“Ya, Xavier. Aku akan baik-baik saja. Aku berjanji.”


Xavier tampak puas mendengar kalimat Sera tersebut, sebagian besar kecemasanya memudar sehingga ketika dia berucap kemudian suaranya terdengar ringan.


“Apakah kau ingin datang ke rumah sakit?”


Seketika Sera menganggukkan kepala dengan bersemangat. Tentu saja dia mau, dia ingin bersama Xavier, dia ingin menjenguk Elana, dia juga ingin melihat bayi mungil dari Elana dan Akram yang sudah pasti sangat cantik.


“Aku mau!” Sera berusaha menjawab tenang, tetapi dia tak berhasil menyembunyikan nada penuh semangat yang berkobar di dalam suaranya.


“Aku akan membuat pengaturannya.” Xavier tak menjelaskannya secara terperinci, tetapi Sera tahu bahwa lelaki itu sedang membicarakan tentang pengaturan perimeter keamanan untuk menjaga dan melindunginya ketika dia melangkahkan kaki keluar dari rumah. “Bersiap-siaplah, kau akan dijemput untuk datang ke rumah sakit.”


***

__ADS_1


 


“Nyonya, pihak rumah sakit mengatakan bahwa saat sedang ada perbaikan di jalur parkir lantai atas karena ada mobil tergelincir ketika naik ke parkiran atas barusan, jadi kita terpaksa parkir di sini dan menuju lantai atas dengan masuk melalui lift khusus di lobby.”


Derek, salah satu bodyguard kelas tinggi yang ditugaskan oleh Xavier untuk menjaga Sera, membuka pintu mobil yang terparkir di area parkir dekat dengan lobby rumah sakit.


Sera menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa perubahan rencana itu bukanlah masalah baginya.


“Tidak apa-apa, aku bisa masuk dari mana saja,” jawabnya tenang.


Xavier tadinya memerintahkan Sera untuk masuk lewat jalur parkir khusus di lantai atas yang langsung terhubung dengan lantai tempat Elana dan bayinya dirawat. Mungkin Xavier memikirkan keamanan Sera, tetapi bagi Sera sendiri, siapa sih yang berminat untuk menyerangnya di kondisi damai seperti ini?


Lagipula, jika ada musuh datang menyerang pun, mereka akan kesulitan karena sekeliling Sera dijaga keta,t baik oleh para bodyguard yang mengawalnya terang-terangan, maupun mereka yang mengawalnya dari tempat tersembunyi.


“Kalau begitu, saya akan menyiapkan kursi roda Anda.” Derek menutup pintu kembali sebelum mengambil kursi roda yang terlipat di bagasi. Lelaki itu dengan cekatan menyiapkan kursi roda yang dipakai Sera karena kaki bengkaknya membuatnya kesulitan berjalan, lalu segera membantu Sera turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya.


Derek sendirilah yang mendorong kursi roda itu memasuki area lobby rumah sakit yang sekarang cukup ramai di jam pagi menjelang siang yang merupakan jam-jam sibuk rumah sakit. Para penjaga mengikuti dari jarak aman, memastikan seluruh perimeter yang melingkari Sera bersih tanpa ada ancaman dari manapun.


Semua berjalan lancar hingga mereka sampai di depan lift khusus yang tampak dijaga oleh dua bodyguard yang ditempatkan oleh Akram di sana dan bersiap untuk naik ke lantai atas.


“Mohon maaf, Nyonya.”


Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar menyapa di belakang mereka. Panggilan mendadak dan tak disangka itu langsung membuat tubuh Derek dan para bodyguard lainnya menegang waspada. Mereka semua langsung memasang posisi siaga, siap melindungi apapun yang terjadi, bahkan beberapa sudah memasukkan tangan ke dalam saku jasnya, bersiap mengambil pistol jika dibutuhkan.


“Maaf, Nyonya.” Lelaki yang menyapa Sera itu melangkah mendekat dengan sikap santai seolah-olah tak menyadari penjagaan ketat yang mengelilingi Sera. “Saya menemukan sapu tangan ini di lantai di lorong yang Anda lalui tadi. Saya rasa, Anda menjatuhkan ini?” Lelaki itu menunjukkan sapu tangan putih bersih dengan bordiran indah bunga-bunga mungil berwarna biru di empat sisi ujungnya ke arah Sera.


Sera menengadah untuk menatap wajah lelaki yang menyapanya itu dengan lebih jelas. Wajah lelaki itu terasa familiar, membuat Sera mengerutkan kening dan memeras otaknya, berusaha untuk mengingat-ingat.


Tak lama kemudian usahanya berhasil, ingatan segar itu langsung muncul di kepalanya.


Lelaki ini adalah dokter, dokter yang dikenal oleh dokter Nathan dan kemarin berpapasan dengan mereka di fasilitas kesehatan tempat ayahnya dirawat.


“Dokter Oberon?” Sera meyebut nama dokter itu tepat seperti yang didengarnya kemarin dan sang dokter di hadapannya langsung tersenyum lebar penuh keramahan sambil menganggukkan kepala.


 


 


***


***


***


***


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


 


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt


 


Yours Sincerely


AY


 


***


***


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2