Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 114 : Tentang Elana


__ADS_3


Hai Beautiful Ladies,


Ini adalah 7 dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019.


Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.


MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN


Kalian mungkin sudah tahu sistem ranking novel di mangatoon terbaru yang akan di samakan dengan noveltoon, dimana sistem ranking didasarkan oleh POIN yang disumbangkan sebagai Vote untuk author dan karyanya ya.


Dengar-dengar, per 25 November 2019, sistem vote menggunakan POIN sudah resmi dilakukan. Tetapi untuk sekarang, sistem VOTE menggunakan poin, baru bisa dilakukan di aplikasi NOVELTOON.


Jadi, jika ingin memberi dukungan kepada Author, kalian boleh mendownload NOVELTOON untuk memberikan poin kamu buat vote author ya. DI NOVELTOON, ada fasilitas untuk VOTE menggunakan POIN ke karya author ini.


Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :


1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis


2. Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin nama by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing


3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request nama tulisan di tumblernya.


Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.


***


Regadrs, AY


***



***


SEDIKIT TAMBAHAN BIAR GA PADA SALAH PAHAM


Ngomong-Ngomong, tiba-tiba banyak yang bisikin saya tentang nyinyir masalah bagi-bagi giveaway tumblerware ini yang dibilang pengemis poin lah, yang dibilang menghalalkan segala caralah, pengejar uanglah -- ga bilang ke saya sih siapa pelakunya dan saya juga ngerasa ga perlu cari tahu.


Saya bagi-bagi tumbler memang karena saya orangnya suka bagi-bagi rejeki, kebetulan duit saya cukup buat beliin, so what?


Kalo karena dapat ranking vote saya dan dapat hadiah, biarpun cuma secuprit, memangnya salah ya kalau saya pingin berbagi ke kalian yang udah baik hati ngasih poin? Biarpun maaf, kalo hadiahnya barang yang ga penting macam tumbler dan bukan paket liburan ke hawai atau motor gitu, daripada ga ngasih apa-apa, ya nggak?


Jadi vote dari kalian yang ngasih poin  terbanyak, ya sekaligus saya jadikan kesempatan bagi giveaway, karena saya pingin berbagi. Effort kalian ngasih poin, pingin dijadiin barang untuk menghargai kalian.


Kalian ga mau vote poin atau ga mau ngasih poin ke saya? Ga pernah saya paksa kok. Ga masalah buat saya mau ngasih poin apa ga. Saya bukan penulis baper yang doyan ngambek, woles aja.


Dulu ada ga ada ranking vote poin pun, kalian yang jadi saksi kalo saya tetap berusaha update dengan target 6 kali post dalam seminggu sebanyak 2.400 words per partnya untuk menyenangkan kalian. Kadang kalau saya lagi bagus suasana hatinya, pernah saya kasih 10 part seminggu juga kan.


Satu lagi, kalian tentu tau, saya orangnya ga pernah nyinyir dan urusin author lain apalagi komen urusan author lain. Nulis di sini aja saya udah habis waktu, belum lagi jadi translator di mangatoon (ya, saya bukan author murni, dengan bangga saya bilang kalau saya adalah seorang translator mangatoon ), saya juga sibuk sama pekerjaan real life saya, ga sempat saya ngurusin orang lain.


Seratus lebih part saya up di sini, kalian saksinya, mana pernah sepatah katapun dari saya yang ngomongin author lain. Dan saya yakin kalau author lain di mangatoon ini juga orangnya pada baik hati dan ga pernah nyinyir kok.


Karena itu sebagai sesama author, mari fokus berkarya saja yuk dan harusnya saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Dan lagi, sebagai seorang author yang memiliki banyak pembaca, sudah jadi kewajiban kita mengedukasi pembaca kita supaya berperilaku baik dan berpikiran positif dalam berinteraksi satu sama lain di dunia maya. Jadi kalian sebagai pembaca saya, ga usah nanggapin macam-macam klarifikasi saya ini, ga usah saling menuduh apalagi nyinyir dan menjelekkan pihak lain, mari kita jaga jari kita sebagai pembaca santun dan anak budiman serta pakdiman, ahahaha.


Tapi mudah-mudahan memang ga ada ya yang tega nyinyirin bagi-bagi giveaway ini, mudah2an yang bisikin saya tu cuma modal pitnah aja. Kayaknya sih memang ga ada, karena kalau sampai ada, tega amat orang lagi bagi-bagi rejeki malah dinyinyirin dan diomongin di belakang punggungnya.


Tetapi saya ngerti kok, dunia memang sudah semakin kejam, sehingga ketika ada orang berniat baik, akan selalu dicurigai dan dihakimi macam-macam, padahal tabayyun langsung aja ga pernah dilakukan. Jadi, jika inisiatif kebaikan tulus saya ini terasa mengancam atau mengganggu dan menimbulkan ketidaknyamanan pihak lain, saya dengan tulus ikhlas mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada siapapun yang merasa.


***



“Selamat pagi,”


Ketika Elana membuka mata, dilihatnya di depan mata bahwa Akram sudah mengenakan pakaian jas rapi dan tampak siap untuk berangkat bekerja.Lelaki itu langsung mendekat ke arah ranjang, lalu mengecup dahi Elana lembut sebelum kemudian mengambil tempat duduk di sisi ranjang.


Elana mengulas senyum di bibirnya dengan sedikit malu. Dia telah tertidur dengan begitu pulas setelah suster memberikan obat kepadanya semalam. Kali ini, rasa mual dan pusing di kepalanya telah memudar, dan perutnya terasa lapar.


“Selamat pagi juga, apakah kau hendak bekerja?” tanya Elana cepat sambil mengamati pakaian Akram yang rapi.

__ADS_1


Akram menganggukkan kepala, menatap Elana dengan pandangan menyesal.


“Ya, ada meeting penting hari ini dengan investor yang tidak bisa dibatalkan secara mendadak. Aku juga harus ke kantor pusat sebentar untuk membicarakan sesuatu dengan Xavier dan Credence, setelah itu aku akan langsung kembali kemari,” Akram menyentuh pipi Elana lembut, sebelum kemudian bertanya. “Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah kau tidak mual lagi?”


Elana menggelengkan kepala. “Aku baik-baik saja. Mualnya sudah hilang,” dengan senyum malu-malu Elana menenangadahkan kepala. “Malahan sepertinya… aku kelaparan,” sambungnya pelan.


Akram langsung menyeringai dan menganggukkan kepala. “Aku sudah bisa menebaknya. Karena itu, sebentar lagi bagian catering rumah sakit akan datang dan mengantarkan menu sarapan yang sangat lezat untukmu,”


Mata Elana berbinar. “Makanan lezat? Bukankah… bukankah biasanya di rumah sakit, makanannya hambar dan tidak enak… juga, biasanya dibatasi dengan menu tertentu?” Elana teringat ketika dia berada di rumah sakit terakhir kali, ada beberapa pantangan untuknya yang tidak diperbolehkan untuk disantap, sehingga akhirnya dia harus bertahan untuk menyantap menu-menu yang dibatasi.


Akram menggelengkan kepala. “Kali ini tidak, memang ada beberapa pantangan untuk kondisimu…. Tetapi sebagian besar diperbolehkan, kau malah harus makan banyak dan apapun yang kau inginkan, pihak catering rumah sakit ini akan mengusahakannya, tentu saja dengan memodifikasinya menjadi menu sehat yang sama lezatnya.”


Elana melebarkan mata. “Dengan kondisiku? Memangnya aku sakit apa?” kebingungan Elana memang beralasan.


Adakah penyakit yang memerlukan  makan banyak? Mungkin, kalau dia kekurangan gizi harus dinetralkan dengan memakan asupan bergizi tinggi selama beberapa waktu. Tetapi, sejak hidup bersama Akram, sudah tentu Elana tak kekurangan gizi lagi, bukan?


Sejenak Akram tampak menimbang-nimbang. Ekspresinya berubah serius. Begitupun ketika dia berucap kemudian, setiap kalimat diberi penekanan yang dalam, seolah-olah ingin Elana mencerna setiap kata dengan saksama.


“Kau mungkin belum mencintaiku. Tetapi…. Jika kau membayangkan akan menghabiskan seluruh sisa hidupmu bersamaku, apakah itu terasa mengerikan?” tanyanya perlahan.


Kali ini giliran Elana yang tertegun, bingung kenapa Akram langsung memutar balik arah pembicaraan mereka ke belokan yang berlawanan.


Bukankah tadi mereka sedang membicarakan kondisi Elana?Tetapi pertanyaan Akram langsung dicerna oleh pikirannya. Dia menelaah semua, sementara imajinasinya langsung terbentuk ketika membayangkan dia hidup bersama dengan Akram seumur hidupnya. Sekarang pun, sebenarnya bisa dibilang Akram telah menjadi bagian dalam kehidupannya sehari-hari. Lelaki itu selalu ada dan memastikan dirinya tidak absen bahkan hanya sehari pun dari kehidupan Elana. Dan ternyata… ketika Elana membayangkan harus menjalani hari-harinya seperti ini bersama Akram, dia… sama sekali… tak keberatan.


Sungguh hati manusia itu adalah sesuatu yang paling mudah dibolak-balikkan dalam sekejap. Dahulu kala, setiap dia menatap Akram, yang tersimpan adalah rasa benci, jijik, takut dan bercampur dengan keinginan untuk melarikan diri sejauh mungkin. Sekarang… seolah-olah hati Elana sudah menerima dengan tangan terbuka kehadiran Akram yang merangsek masuk dan menjadi bagian dalam kehidupannya.


Bersama dengan Akram terasa wajar, dan Elana tak keberatan melakukannya terus-terusan.


Bibir Elana sedikit bergetar ketika dia berucap, berusaha mengejawantahkan segala perasaan komplek di dalam jiwanya, dalam satu tuangan kalimat yang tersusun penuh makna dari bibirnya.


“Aku menerimamu, Akram,” ujarnya perlahan.


Mata Akram menggelap. “Sepenuhnya? Bahkan dengan diriku yang telah begitu jahat dan melukaimu di masa lalu?”


Elana menganggukkan kepalanya. “Kau sudah menebus semuanya, dengan bunganya,” ujarnya penuh arti, memancing seringai lembut yang langsung muncul dari bibir Akram.


“Aku tidak ingin kau merasa bahwa aku tengah menjebakmu. Apalagi setelah kondisimu sekarang…” Akram menghentikan kalimatnya, lalu menatap Elana dengan penuh perhatian. Jemarinya bergerak meraih tangan Elana, menggenggamnya, lalu membawa tangan Elana ke mulutnya dan menghadiahkan ciuman di punggung tangan Elana. “Kau sudah membuatku jatuh cinta sampai seperti ini. Tidakkah kau ingin bertanggung jawab dan bersedia menikahiku segera?”


Akram sendiri, yang matanya tampak mengawasi Elana dengan saksama seolah-olah memahami kebingungan Elana. Senyum ironisnya terkembang kembali di bibirnya ketika dia akhirnya meletakkan tangan Elana di ranjang lalu mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah perempuan itu supaya mereka bisa berhadap-hadapan dengan lebih dekat.


“Aku ingin kau mengatakan bersedia menikahiku karena jauh di lubuk hatiku kau benar-benar bersedia melakukannya, dengan sepenuh hatimu,” Akram tampak ragu sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku tidak ingin kau menikahiku karena kau harus melakukannya.”Kalimat Akram terdengar penuh teka-teki tersirat, sehingga bukannya membuat Elana tercerahkan, malahan membuat Elana kebingungan tak terperi.


“Kenapa kau seolah berteka-teki?” Elana akhirnya bertanya, mengungkapkan kebingungannya.


Akram menghela napas panjang. “Kau akan tahu nanti setelah waktunya tepat, sayangku. Tetapi untuk saat ini, untuk hari ini. Aku ingin kau memikirkan baik-baik pertanyaanku kepadamu tadi. Aku melamarmu sekali lagi, Elana Layl,” Akram tidak menyebut nama asli Elana yang diberikan kepadanya sejak perempuan itu dilahirkan, melainkan menggunakan nama baru Elana, yaitu Elana Layl. Nama itulah yang diberikan olehnya secara pribadi ketika Elios memperbaharui seluruh dokumen identitas Elana. Layl berarti malam. Itu artinya, Akram telah menghadiahkan namanya belakangnya sendiri, yang juga berarti malam, untuk mengikat perempuan ini bahkan sebelum dia menikahinya.


“Pikirkan baik-baik lamaranku ini. Aku akan pergi untuk memberikan waktu kepadamu, nanti aku akan kembali kepadamu untuk mempertanyakan jawabanmu. Jika kau menerima lamaranku, maka kita akan menikah segera.” Akram mencondongkan tubuhnya untuk mengecup dahi Elana yang tak sempat menolak. Lelaki itu kemudian berdiri, sedikit membungkuk untuk berpamitan. “Aku harus pergi. Sebentar lagi petugas catering rumah sakit akan datang dan membawakan menu makanan lezat untuk menuntaskan rasa laparmu.”Setelah melemparkan senyum sekilas yang terasa menghujam hangat ke dalam jiwa Elana, lelaki itu kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan sendirian Elana yang masih terkesima di tempat dengan lidah kelu, tak mampu berucap apapun.


***


“Jangan katakan dulu kepadanya mengenai kehamilannya sampai aku mendapatkan jawaban.”


Akram berucap perlahan ketika dirinya berpapasan dengan dokter Nathan di lorong rumah sakit. Akram memang telah menceritakan rencananya untuk mempercepat pernikahannya dengan Elana dan memangkas habis kesempatan satu bulan penuh yang tadinya diberikannya kepada Elana.


Kehadiran bayi ini mengubah segalanya. Sekarang, ketika usia bayi di dalam kandungan Elana masih begitu muda, mereka harus menikah segera untuk menghindari omongan busuk dari khalayak yang tak mengerti situasi sebenarnya di antara mereka. Akram tidak peduli jika dirinya dinilai sejelek-jeleknya oleh publik, dia bahkan senang dengan predikat jahat, keji dan tak mengenal belas kasihan yang disematkan kepadanya yang memberikan keuntungan tersendiri karena membuat orang-orang takut kepadanya. Tetapi, jika itu menyangkut Elana, maka semuanya berbeda. Akram tidak mau jika orang-orang mempertanyakan moral Elana ketika hamil sebelum dinikahi olehnya. Dia juga tak ingin ada gosip tak bertanggung jawab yang disebarkan oleh mulut-mulut kotor yang mengatakan bahwa Elana menggunakan kehamilannya untuk menjebak Akram supaya dinikahi olehnya.


Di matanya, Elana adalah perempuan lugu paling suci yang pernah dikenalnya, dengan kepolosan lahir batin yang saat ini membuatnya menghargai perempuan itu setinggi-tingginya. Dia tidak ingin Elana diganggu, dia akan menjaga Elana sekuat tenaga supaya tetap aman, nyaman dan bahagia di sampingnya.


“Kau sudah mengajukan lamaran kembali?" Nathan mengangkat alisnya, bibirnya terulas senyum.


“Aku akan mendapatkan jawaban nanti malam,” sahut Akram lugas.


“Apa sebenarnya, bedanya, Akram? Bukankah meskipun Elana menjawab ya atau tidak, kau akan tetap menikahinya? Apalagi sekarang setelah ada bayi itu di perut Elana?” Nathan mengutarakan pertanyaannya, menatap Akram dengan penuh rasa ingin tahu.


“Setidaknya, aku tahu bagaimana aku harus bersikap kepada Elana setelah ini. Jika dia mengatakan bersedia, maka hatiku tenang. Itu berarti Elana telah menerimaku seutuhnya, dan yang perlu kulakukan adalah menjaga perasaan itu supaya tetap bertumbuh. Jika Elana masih ragu dan menolakku, itu berarti aku harus berusaha lebih keras lagi untuk memenangkan hatinya,” Akram tidak bisa menahan diri untuk memijit pangkal hidungnya dengan frustasi ketika berucap. Bayangan Elana yang menolaknya membuat jantungnya berdenyut oleh rasa sakit. “Bagaimanapun, aku akan tetap mempercepat pernikahan ini demi anakku.”


Nathan menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa dia mengerti apa maksud Akram.“Baiklah, aku akan meminta seluruh staff yang bertugas untuk merawat dan menangani Elana saat ini, tutup mulut sampai dengan nanti malam,” sahutnya tegas.


Akram menghela napas. “Jangan sampai ada kalimat yang terlepas tanpa sengaja dari bibir mereka. Sebab, kabar mengenai kehamilan ini… aku ingin kalau aku sendirilah yang memberitahukannya langsung kepada Elana.”


***

__ADS_1



***


Ketika Maya memasuki ruang kantor Xavier yang dengan cepat telah dimodifikasi dengan menambahkan dua meja besar sementara di sana untuk dirinya dan Cradence bekerja, pikiran Maya masih terpaku pada kursi kosong yang ada di sebelah Elios.Hanya Elios yang duduk di sana dan menyapa sambil lalu ketika Maya Lewat.


Dimana Elana? Apakah perempuan rendahan itu sedang bersantai-santai di toilet dan merayu bosnya lagi?


Pertanyaan Maya langsung terpupuskan ketika melihat Xavier ada di dalam ruangan, sedang berdiskusi dengan Cradence. Itu berarti, Elana tidak sedang bersama Xavier.


Yah, lagipula, kenapa Maya harus menyibukkan diri dengan memikirkan Elana? Persetan dengan keberadaan perempuan itu, otaknya yang jenius ini sudah terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal yang lebih penting!


Baik Xavier maupun Credence langsung menoleh ketika mendapati Maya memasuki ruangan. Credence langsung mengawasi wajah Maya yang sedikit pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya. Seringainya langsung terbentuk di wajahnya yang tampan.


“Pagi yang buruk, eh?” sapanya ramah sebelum berdiri dengan sikap elegan dan bersikap layaknya gentleman sejati dengan menarikkan kursi untuk Maya.


Dengan anggun Maya duduk di kursi yang telah ditarikkan oleh Credence untuknya. Dia lalu mengulas senyum terpaksa sebelum kemudian berucap.


“Maafkan pagi ini atas keterlambatanku. Semalam aku minum-minum terlalu banyak di acara jamuan yang diadakan oleh keluargaku, sehingga pagi harinya aku terbangun dengan hangover,” Maya mengalihkan pandangan ke arah Xavier yang memasang ekspresi datar, lalu akhirnya membuka mulut karena tak mampu menahan rasa ingin tahunya. “Tetapi, sepertinya aku lebih beruntung karena bisa menyeret diriku bangun dari tempat tidur dan akhirnya mampu tiba di tempat ini dengan selamat meskipun kepalaku sakit luar biasa. Sementara itu…. Asistenmu, Elana, aku tidak melihatnya hadir hari ini. Apakah dia mengalami akhir pekan yang berat sehingga tak mampu menyeret dirinya untuk bangun dan berangkat bekerja hari ini?”


Maya tidak bisa menahan suara mencemooh yang tersirat kental dalam nada suaranya. Baginya, kedisiplinan itu penting, bahkan ketika tubuh menolak untuk bekerjasama. Tadi pagi, Maya bisa saja memohon izin sakit saat dia terbangun dengan kepala sakit luar biasa. Tetapi, karena dia adalah perempuan yang bertanggung jawab dan disiplin terhadap etos kerja, Maya tetap datang bekerja.


Sementara itu, Elana… perempuan manja itu mungkin habis berpesta dengan Xavier sepanjang akhir pekan hingga tak mampu bangun di pagi harinya. Dan karena malas, Elana pasti merayu Xavier untuk membiarkannya membolos hari ini sehingga dia bisa tidur-tiduran sepanjang hari dan tak bekerja.


Sikap jijik dan cemooh Maya, tanpa disadarinya tercermin jelas di wajahnya dan tentu saja tak mungkin lolos dari pengamatan Xavier yang sangat teliti. Mata Xavier menyiratkan kilat berbahaya yang berhasil disembunyikannya di balik wajah datar dan senyum palsu yang dipasangnya.


“Kenapa kau peduli pada Elana? Dia sedang sakit, dan aku sebagai atasannya telah menyetujui ijin sakitnya,” jawab Xavier dengan tenang.


Maya langsung mencibirkan bibirnya dengan jijik, memuji dirinya sendiri karena dia bisa menebak situasi yang terjadi. Tentu saja, si wanita simpanan sedang sakit dan sang bos sudah pasti memberikan izinnya. Sungguh suatu bentuk kolusi yang menjijikkan….


“Kenapa kau tampak tidak senang?” Xavier mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menarik perhatian Maya yang tadinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


Seketika Maya mendongakkan kepala, dan matanya langsung bersirobok kembali dengan mata Xavier yang berkilat tajam. Kali ini Xavier tak mau repot-repot menyembunyikan kilat berbahaya di sana.


Maya selama ini selalu merasa dirinya superior, dia tidak pernah takut pada apapun karena tahu bahwa dirinya adalah wanita kuat yang tak mudah dijatuhkan begitu saja. Dengan kecerdasan dan dukungan keluarga ningratnya yang kaya raya, sudah pasti hampir tidak ada orang yang berani melawannya, apalagi sampai membuatnya takut. Tetapi sekarang, ketika Xavier dengan wajah datarnya melemparkan sinar membunuh yang tersirat dari kilat matanya, entah kenapa… Maya merasa takut setengah mati.


Bulu kuduknya bahkan terasa berdiri, membuatnya merasa seperti makhluk lemah tak berdaya dalam incaran predator pemangsa yang tak akan segan-segan mencabik-cabik tubuhnya dahulu untuk menyiksanya, sebelum kemudian mengoyak dan melahapnya sampai habis tak bersisa.


Tapi meskipun saat ini dirinya sedang ketakutan setengah mati, Maya tak mungkin menyerah begitu saja. Dia tahu bahwa dirinya harus bersikap kuat di depan Xavier untuk membuat lelaki itu menghargainya.


“Aku hanya tak suka karyawan yang membolos di hari senin. Siapa yang tahu sesibuk dan seliar apa mereka menghabiskan akhir pekan mereka sehingga akhirnya tak mampu bangun di hari senin?” Maya mengucapkan sindiran penuh arti ke arah Xavier, tahu bahwa hal itu akan menohok Xavier dan mungkin bisa menciptakan kekalahan di ekspresi wajahnya.


Tetapi Maya salah, bukannya merasa bersalah, ekspresi Xavier tampak begitu gelap dan semakin mengerikan. Seolah-olah, kemarahan yang tadi ditekan di dasar hatinya yang dalam, telah menyeruak kuat dan tanpa ampun, ditujukan khusus kepada maya.


“Tahu apa kau,” Xavier menghentikan kalimatnya dan menatap Maya dengan tatapan membunuh nan tajam. “Tentang betapa buruknya akhir minggu yang dialami oleh Elana?” geramnya dengan nada sinis mengerikan.


Keheningan langsung membentang di dalam ruangan itu. Xavier masih menatap marah menanti jawaban, sementara itu Credence seolah-olah tak mau ikut campur atas sikap lancang Maya dan memilh memundurkan eksistensi dirinya, sibuk mempelajari berkas-berkas yang ada di tangannya dan bersikap seolah dirinya tak ada di ruangan tersebut.


Maya sendiri tercengang, sama sekali tak menyangka bahwa Xavier akan semarah itu hanya karena membahas pelacur simpanannya yang pemalas itu. Dia membuka mulutnya hendak mengeluarkan sanggahan dengan berbagai alasan, tetapi suara ketukan di pintu.


“Masuk,” Xavier mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan berucap dengan nada tak sabar.


Seketika pintu terbuka dan Elios muncul di sana.


“Tuan Akram telah tiba, beliau ingin kalian semua ke ruangannya,” ucap Elios memberitahu dengan sikap formal dan tatapan sopan.


***



***



***



***


__ADS_1


__ADS_2