Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 129 : Membuka Kebenaran


__ADS_3


 


Hai ini adalah episode 6/10 yang author upload sesuai jadwal. Untuk kapan lolos reviewnya, author tak tahu, tetapi sabar saja ya, karena memang untuk part yang menggunakan gambar, proses reviewnya lebih lama daripada yang tanpa gambar.


***


***


***



Oh ya sebelum membaca, jangan lupa VOTE dengan menggunakan POIN ke novel EOTD ini ya.


Untuk sementara, VOTE hanya bisa dilakukan di NOVELTOON. Jadi kalau mau bantu VOTE author dengan POIN, boleh install NOVELTOON, lalu login dengan akun Mangatoon ( sama saja) dan berikan vote untuk novel ini ya.


Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler  yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.


***


***


***


 


EOTD akan tamat minggu depan - Lalu akan dilanjut session 2 ( Xavier di bulan Januari 2020)



***


***


***


 


Keheningan membentang ke seluruh ruangan ketika tubuh Akram membeku seperti patung seketika.


Wajah lelaki itu memucat, matanya melebar, dipenuhi oleh sinar ketidakpercayaan yang nyata.Butuh beberapa lama bagi Akram untuk bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Elana sepenuhnya, dan ketika dirinya kemudian berhasil, tangannya bahkan gemetaran ketika digerakkan untuk menangkup wajah Elana dan mendongakkanya sementara dirinya menunduk dalam, hampir menempelkan wajahnya ke arah perempuan itu untuk bertanya dengan suara yang sama goyahnya.


“Apa?” suara Akram terdengar serak dan tersekat, terasa sepercik ketidakpercayaan diri yang menodai ketegasan nadanya.


Sementara itu, berbeda dengan Elana. Ketika dia akhirnya berhasil menyimpulkan apa yang dirasakannya, lalu berhasil pula menumpahkannya dalam tiga kalimat penting nan terangkai indah, rasa percaya diri memenuhi hatinya, membuatnya memberanikan diri membalas tatapan mata tajam Akram dan memasang senyum manisnya nan luar biasa.


“Aku… mencintaimu, Akram.”Kali ini, nada suara Elana dipenuhi kepastian yang nyata. Sama sekali tak ada keraguaan di sana, hanya ketulusan hati yang dipenuhi oleh rasa yakin.Seketika itu juga, Akram merasakan dadanya berdegup kencang seolah mau pecah. Jalur napasnya seolah tersekat oleh sesuatu yang tak kasat mata, membuatnya hampir megap-megap kehabisan napas.


Pernyataan cinta Elana adalah sesuatu yang begitu mengejutkan bagi jiwanya, hingga dia seolah-olah merasa terguncang karenanya.Ya, meskipun selalu bersikap percaya diri dan membisikkan pada dirinya sendiri bahwa Elana sudah pasti akan mencintainya suatu saat nanti, bahwa Elana akan luluh dengan segala sikap lembut dan ketulusannya suatu hari nanti, jauh di dalam jiwanya, terdapat suatu gumpalan rasa takut yang pekat akibat rasa bersalah yang mendera diam-diam. Sesungguhnya, Akram sendiri bahkan tak yakin kalau Elana akan bisa mencintai dirinya setelah semua hal keji yang dia lakukan dan dia akibatkan pada perempuan itu ketika berada di dekatnya.


Rasa takut itu menggerogotinya dari dalam, membuat permukaan hatinya pecah-pecah dan kering kerontang layaknya lahan kekeringan yang tak pernah dibasuh hujan sepanjang tahun. Tetapi kemudian, pernyataan cinta Elana yang diucapkan dengan begitu ringan, tulus dan tanpa beban itu, terasa laksana banjir kelegaan yang bagaikan air bah, langsung membasahi hatinya seketika tanpa ampun hingga Akram hampir-hampir tak kuat menanggungnya.


“Apakah kau bersungguh-sungguh dengan apa yang kau katakan?” suara Akram masih terdengar parau, kedua tangan lelaki itu mengusap sisi wajah Elana lembut dan putus asa. “Apakah kau yakin kalau kau tak akan menarik perkataanmu lagi nantinya?” bisiknya perlahan dipenuhi ketakutan.


Elana mengulas senyum di bibirnya. Kali ini Akram benar-benar tampak seperti sosok yang putus asa di matanya, menanti jawabannya dengan ketakutan yang tak tersembunyi dari bola mata hazelnya yang bening berkilauan laksana burung elang.


Pada detik inilah, ketika Elana menyatakan cintanya, Elana merasa begitu dicintai. Akram tak menolaknya, tak merendahkannya, tak meremehkan pernyataan cintanya, lelaki itu menghargainya, begitu mengharapkan rasa cintanya dan saat ini terlihat takut kalau Elana tak bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Hal itu menyentuh hati Elana, membuatnya merasa yakin bahwa dirinya begitu berharga di mata Akram.


Tangan Elana bergerak, menangkup tangan Akram di pipinya, sementara matanya berkaca-kaca, menatap mata lelaki itu yang begitu hangat dan penuh cinta.


“Aku mencintaimu, Akram dan aku meyakininya,”


Akram langsung menundukkan kepala dan melumat bibir Elana. Ciumannya dipenuhi kelegaan, dipenuhi rasa cinta yang meluap-luap, sedikit kasar dan serampangan, tetapi Elana memakluminya dan menerimanya dengan senang hati. Lelaki itu seolah ingin mencicip seluruh sudut diri Elana, merasakannya, menikmatinya dan memastikan bahwa perempuan yang sedang dicumbunya saat ini, saat ini benar-benar telah menjadi miliknya, hati dan jiwa tanpa kecuali.


Ketika Akram melepaskan bibir Elana, dirinya seolah enggan meninggalkan kelembutan mungil yang menghangatkan hati ini. Perlahan Akram mengangsurkan bibirnya di sana, mengurai kehangatannya dan terus mencicip kelembutannya, lalu menciuminya lagi dengan sayang.


“Terima kasih,” suara Akram serak penuh emosi ketika lelaki itu memaksakan bibirnya menjauhi bibir Elana dan mengangsurkannya di sepanjang garis pipi perempuan itu untuk menghadiahkan kecupan lembut di sana. “Aku tak akan menyia-nyiakanmu, aku berjanji sepenuh hatiku,” Akram mendorong tubuh Elana supaya berbaring di atas ranjang dan lelaki itu membungkuk di atasnya, matanya masih berkilauan oleh ketakjuban dan rasa cinta yang meluap-luap.


Elana menengadah menatap ke arah lelaki itu, sementara bibirnya yang lembab habis diciumi menguraikan senyuman tulus dengan janji yang sama.

__ADS_1


“Aku juga tak akan menyia-nyiakanmu, Akram,” bisik Elana sementara senyumnya melebar ketika mendengar perkataannya sendiri. Sama sekali tak disangkanya bahwa dia akan mengucapkan kalimat semacam itu kepada seorang laki-laki.


Akram terkekeh perlahan, lelaki itu menempatkan dirinya dengan hati-hati di atas Elana, menyangga tubuhnya dengan siku di kedua sisi kepala Elana, lalu menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Elana dengan penuh perasaan.


“Aku pikir, aku tak akan pernah mendapatkan cintamu,” suara Akram serak di dekat telinga Elana, sementara lelaki itu menyembunyikan wajahnya seolah malu kalau sampai Elana melihat pergolakan emosinya. “Aku pikir… kau tak akan pernah mampu mencintaiku yang seperti ini. Diriku yang kotor dan rusak parah, tanganku yang berlumuran darah dan kekejian. Aku pikir aku tak pantas dicintai oleh perempuan semurni dirimu yang tanpa noda di mataku,” kali ini ada gemetar di nada suara Akram, menunjukkan luapan emosinya. “Aku mensyukuri cintamu dan aku tak akan menyia-nyiakannya. Kau akan bahagia bersamaku Elana, aku akan memperjuangkan itu.”


Ketulusan dalam nada suara Akram menyentuh hati Elana. Perasaaanya meluap-luap, membuat matanya terasa panas berkaca-kaca dan dia harus menggigit bibirnya untuk menahan tangis ketika lengannya bergerak untuk melingkari punggung kokoh lelaki itu dan memeluknya erat-erat.


“Aku mencintai seluruh dirimu Akram, baik dan buruk dirimu, aku mencintai semuanya,” air mata Elana tumpah, mengalir membasahi pipinya ketika merasakan punggung Akram berguncang oleh tangis yang sama.


***



***


Setelah melalui pelukan emosional penuh air mata selama beberapa lama, Akram dan Elana akhirnya bisa menenangkan diri dan menghabiskan waktu mereka di dalam ruang perawatan itu dalam keheningan nan syahdu yang dipenuhi oleh kelegaan dan rasa saling pengertian satu sama lainnya.


“Mereka sudah tiba.”


Akram menerima panggilan telepon pemberitahuan dari Elios yang sudah hendak menaiki lift bersama Nolan, lalu langsung menatap ke arah Elana dengan penuh perhatian sambil memberitahukan kedatangan adik yang telah ditunggu-tunggu oleh Elana sejak tadi.


Mendengar perkataan Akram, kegugupan langsung melanda Elana, membuatnya menundukkan kepala dan menjalinkan jari-jemari dari kedua tangannya untuk menenangkan diri.


Akram mengawasi Elana, lelaki itu lalu mengusap kepala Elana lembut sebelum kemudian bertanya dengan nada penuh sayang.


“Kau yakin tak ingin aku mendampingimu?” tanyanya lagi memastikan.


Elana mendongakkan kepala dan Akram bisa melihat, meskipun rasa takut dan gugup tercermin di matanya, tetap saja sinar penuh tekad menyala di mata perempuan itu, membuat Akram tak mampu menahan senyumnya.


Wanitanya, meskipun bertubuh mungil dan rapuh, tetapi memiliki tekad dan kekuatan yang besar dari dalam jiwanya.


“Aku… kurasa aku harus memberanikan diriku untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Nolan… dan… dan menerima apapun reaksinya nanti…” jawab Elana perlahan.


Akram tersenyum, lalu menghadiahkan kecupan ke dahi Elana. “Dia akan mensyukurimu, percayalah kepadaku,” jari Akram menyentuh dagu Elana dan mendongakkan wajah perempuan itu yang tertunduk. “Dan angkat kepalamu, percaya dirilah. Semua orang akan senang memiliki saudari seperti kau,” ujarnya menguatkan.


Elana mengerutkan kening, mengangkat Akram penuh rasa ingin tahu.


“Jika kau ada di posisi Nolan, apakah kau akan senang juga menerima aku sebagai saudarimu?” tanyanya cepat.


“Oh,” gumamnya sendu. “Aku mengerti.”


Akram langsung mendongakkan Elana lagi. “Memangnya kau mengerti apa? Aku belum menyelesaikan kalimatku,” ujarnya terkekeh. “Aku bilang aku tidak akan senang menerimamu menjadi saudariku, aku lebih senang menerimamu sebagai istri…. Karena seorang istri….” Akram menghentikan kalimatnya dan melumat bibir Elana dengan lembut. “bisa dicium…” tangan Akram bergerak merengkuh Elana ke dalam pelukannya. “Bisa dipeluk dan disentuh, disayang dan dicumbu denga sebebas-bebasnya…” sambungnya dengan nada mesra.


Pipi Elana merah padam ketika dia mendongakkan kepala dan menatap Akram dengan mata berbinar antara bahagia bercampur malu.


“Kau tak boleh melakukannya sekarang. Mereka akan tiba sebentar lagi,” bisiknya perlahan ketika dia melihat binar hasrat yang mulai memenuhi mata Akram, lelaki itu bahkan sudah menunduk untuk menciumnya lagi.


Akram langsung mengangkat kepala dan memasang senyum di bibirnya. “Tetapi, aku boleh melakukannya nanti malam ketika kita sendirian? Tidak melewati batas… hanya melakukan yang lain-lain,” godanya dengan nada sensual rendah yang kentara.


Wajah Elana benar-benar merah mendengar kalimat Akram itu, setengah didorongnya tubuh Akram yang begitu dekat, di berinya tatapan penuh peringatan yang bukannya membuat Akram mundur, tetapi malahan membuat Akram tertawa terbahak-bahak.


Pada saat itulah, terdengar suara ketukan di pintu, dan Akram yang masih menyisakan senyum lebar dari tawanya sebelumnya langsung berucap memberi izin.


“Masuklah,” ujarya dengan suara dalam dan tegas.Elios yang membawa Nolan bersamanya, membuka pintu itu perlahan ketika mendapatkan izin.


Matanya langsung bersirobok dengan Akram dan sebentuk pengetahuan baru terlintas di kepalanya. Akram Night tampak begitu ceria, dengan wajah bersinar dan senyum lebar yang menghiasi dari bibir sampai matanya. Sepuluh tahun lebih dia bekerja bersama Akram, tak pernah sekalipun dia melihat ekspresi kebahagiaan selepas itu dari wajah Akram.


Elana sepertinya benar-benar menjadi seberkas cahaya yang mencerahkan Akram dan membahagiakannya. Hal itu bagus, kemungkinan besar, Elios tak akan harus bekerja dengan Akram yang begitu kelam, gelap dan membawa aura depresi mengerikan yang menyelubungi keseluruhan dirinya.


“Nolan,” Akram menganggukkan kepala ketika melihat Nolan masuk bersama Akram ke dalam ruangan.


Anak itu membawa sesuatu yang dibungkus kado berwarna biru terang, dan tersenyum sopan ke arahnya.Akram langsung beranjak turun dari posisi duduknya di atas ranjang dan berdiri di samping tempat tidur Elana, memutuskan untuk menyapa Nolan sejenak sebelum meninggalkan dua bersaudara itu menyelesaikan urusannya.


“Bagaimana ujianmu?” tanyanya berbasa-basi.


Nolan mendongakkan kepala, menatap sosok tinggi yang mengambilnya dari panti asuhan dan mengubah hidupnya itu. Dia sungguh-sungguh berusaha menjadi anak baik dan tak mau mengecewakan Akram Night yang sudah berbaik hati membiayai hidupnya dan menyekolahkannya.


“Semuanya lancar, kurasa… kurasa saya akan berhasil dengan baik,” jawab Nolan bersungguh-sungguh, mengungkapkan keyakinannya akan usaha kerasnya belajar dengan penuh disiplin demi mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi ujian sekolahnya.


“Bagus,” Akram menyentuhkan telapak tanganya yang besar ke kepala Nolan dan mengusapnya lembut untuk memberikan pujian. Dirasakannya rambut anak lelaki itu sama lembutnya dengan rambut Elana. Bagaimanapun juga, genetik tak berbohong, Nolan memang adik dari Elana. “Aku senang kau berusaha keras untuk mendapatkan nilai terbaik. Deretan prestasimu sebelumnya juga patut diapresiasi,” pujinya tenang.

__ADS_1


Mata Nolan berbinar ketika mendapatkan pujian yang ditambah dengan usapan kepala itu.“Saya… saya akan berusaha membanggakan Anda,” ucapnya dengan penuh semangat dan kesungguhan.


Akram tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. “Aku sudah bilang, bukan? Kita ini keluarga, jadi tak perlu bersikap terlalu formal kepadaku,” ucapnya tegas. “Dan mengenai pencapaian prestasimu, lakukan itu demi mendapatkan pengetahuan bagi dirimu sendiri dan mendapatkan bekal untuk menapaki kesuksesanmu di masa depan, bukan untuk membanggakan orang lain. Aku dan Elana, akan selalu mendukungmu,” sambungnya tulus.


Akram lalu berdehem, melirik ke arah Elana yang hanya menatap ke arah mereka yang sedang bercakap-cakap, sementara kegugupan tampak mengur dari aura tubuh yang menyelubunginya.


“Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan Elios terlebih dahulu. Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini, kurasa ada banyak hal yang harus kalian bicarakan,” gumamnya tegas, lalu melangkah melewati Nolan yang menganggukkan kepala menurut dan kemudian menghampiri Elios, memberi isyarat dengan matanya supaya asistennya itu mengikutinya keluar ruangan dan menutup pintu di belakangnya, untuk memberi kesempatan kepada kedua bersaudara itu guna menyelesaikan apa yang masih belum terselesaikan sebelumnya.


***



***


“Aku membawakan kado,” Nolan tersenyum lebar ke arah Elana.


Berbeda dengan sikap sopan, canggung dan diliputi ketegangan yang berbaur dengan rasa takut terhadap Akram, Nolan merasa lebih lepas dan akrab dengan Elana. Waktu yang mereka habiskan bersama di akhir pekan lalu itu telah menciptakan ikatan kuat layaknya teman akrab dan bahkan nyaris sedekat sahabat. Seolah-olah Nolan sudah mengenal Elana sejak lama.


Karena itulah, dia tidak bersikap layaknya anak penuh disiplin yang menahan diri lagi. Langkah kakinya cepat ketika dia mendekat ke arah Elana dan duduk di kursi yang sudah ditarik supaya dekat dengan ranjang.


“Oh ya? Kado apa?” tanya Elana ramah, menatap Nolan dengan penuh sayang.


Pipi Nolan sedikit memerah ditatap sayang seperti itu, tetapi matanya berbinar penuh semangat.


“Ini jaket rajut wool yang hangat. Elios bilang kalau musim hujan sudah tiba dan udara dingin akan berlangsung sepanjang hari, karena kau bertubuh kurus dan tak punya lemak untuk menghangatkanmu, maka akan bagus jika kau mendapatkan jaket wool untuk membantumu menahan hawa dingin.,” senyum Nolan tampak malu-malu ketika melanjutkan. “Aku… separuh uangnya menggunakan tabungan dari uang saku yang kudapat selama ini. Tetapi… jumlahnya masih kurang… jadi… jadi Elios membayarkan sisanya…” ujarnya mengaku.


Elana langsung terkekeh mendengar kejujuran anak lelaki di depannya itu. Tangannya langsung bergerak untuk mengusap kepala Nolan dengan sayang.


“Biarpun cuma separuh, tetapi itu merupakan hasil kerja kerasmu menabung. Aku sangat menghargainya,” Elana berucap dengan tulus, lalu menerima kotak kado itu dari tangan Nolan dengan mata berbinar. “Bolehkah aku membukanya sekarang?” tanyanya dengan penuh semangat.


Nolan menganggukkan kepala, sama bersemangatnya dengan Elana.


Begitu mendapatkan persetujuan, tangan Elana langsung bergerak untuk membuka bungkus kado itu dengan berhati-hati. Di dalamnya terdapat kotak tebal indah berwarna biru tua. Perlahan Elana membuka kotak itu dan senyumnya terkembang ketika melihat sehelai jaket rajutan serupa sweater tebal berbahan wool khasmir yang terasa lembut di tangan. Elana meletakkan kotak itu di nakas samping tempat tidur. Lalu memeluk jaket hadiah Nolan untuknya. Matanya berkaca-kaca senang, sementara senyum tulus muncul di bibirnya.


“Terima kasih, Nolan. Aku pasti akan memakainya setiap saat,” ucapnya sungguh-sungguh.


Nolan tersenyum lebar, senang karena hadiahnya dihargai. Anak lelaki itu lalu menatap Elana dengan tulus.


“A… aku sedih begitu mendengar kau sakit,” ucapnya kemudian.


Tangan Elana langsung bergerak untuk mengusap kepala Nolan dengan sayang. “Sekarang aku sudah jauh lebih baik. Nanti setiap akhir pekan, aku akan minta kepada Akram untuk mengunjungimu, ya. Kita bisa menghabiskan waktu bersama di akhir pekan.”


“Benarkah?” mata Nolan berbinar penuh kebahagiaan. “Kalau begitu… aku akan menantikan saat-saat itu…” tiba-tiba binar kebahagiaan di mata Nolan hilang, berganti dengan keraguan dan hal itu membuat Elana tak bisa menahan diri untuk bertanya.


“Kenapa, Nolan? Apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Elana dengan nada berhati-hati.


Nolan menggelengkan kepala, masih tampak berpikir keras.


“Tuan Akram… beliau mengambilku dari panti asuhan… lalu Elios berkata bahwa kau akan menikah dengan Tuan Akram… itu berarti, apakah kau akan menjadi ibu angkatku?”


Jiwa pengecut di benak Elana mendorongnya untuk memberikan jawaban ‘Ya’ bagi pertanyaan Nolan itu, tetapi ada sisi lain hatinya yang berteriak bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran kepada adiknya.


Elana menghela napas panjang sementara matanya menatap ke arah wajah Nolan yang menanti jawaban dengan penuh pertanyaan, dia menguatkan hati, lalu menatap Nolan dengan pandangan bersungguh-sungguh.


“Nolan, ini akan terasa mengejutkan dan aku… aku minta maaf karena baru mengatakannya sekarang,” sekali lagi Elana menghela napas panjang untuk menguatkan diri.


“Sebenarnya… aku… aku adalah kakak kandungmu,” perlahan Elana mengaku, menekankan setiap patah kata yang diucapkannya dengan keseriusan yang nyata.


***


***


***





__ADS_1




__ADS_2