Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 64 : Selamat Tinggal


__ADS_3

“Aku sudah melakukannya.”


Suara Dimitri terdengar di seberang sana, tak mau menyembunyikan nada bersungut-sungut tak suka di sana.


Xavier memandang waspada ke sekeliling lorong rumah sakit yang senyap itu, memastikan bahwa tak ada seorang pun yang mencuri dengar percakapan mereka. Tadi saat melihat layar ponselnya menampilkan panggilan telepon dari Dimitri, Xavier segera berpamitan keluar ruangan untuk menerima telepon dan meninggalkan Sera berada di dalam ruang pemeriksaan dengan Dokter Amera di dalam sana untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang kehamilan pertama.


“Bagus. Kau hanya perlu membakar dan mengipasi terus sampai Aaron mengambil keputusan.”


Xavier berucap dengan nada puas misterius yang membuat Dimitri di seberang panggilan telepon mengerutkan kening karena tak habis pikir.


“Sebenarnya apa rencanamu? Kau menginginkan anak itu, bukan? Kenapa kau malah memprovokasi Aaron untuk mencelakakan Serafina Moon dan bayinya? Apakah semua yang kau lakukan itu hanyalah kepura-puraan? Apakah kau sesungguhnya ingin melenyapkan Serafina Moon dan bayinya dengan menggunakan tangan Aaron sebagai alatmu?” tebaknya frustasi.


Xavier menyeringai jahat. “Itu semua tak ada hubungannya denganmu. Tugasmu hanyalah membakar dan terus mengipasi sampai nyala api itu membesar tak terkendali, karena yang kutunggu adalah ledakan besar yang sesungguhnya.” Seperti biasa, Xavier memilih bersikap menjengkelkan dengan berteka-teki. “Lakukan saja tugasmu dan kabari aku lagi.”


Tanpa menunggu tanggapan dari Dimitri, Xavier memutus panggilan teleponnya dan mencengkeram ponselnya itu dalam genggaman.


Kali ini, dia sedang bertaruh. Jika dia menang dalam pertaruhannya ini, maka semuanya akan berjalan baik sesuai dengan rencananya.


***


"Kalian bisa menunggu di sini.” Dokter Nathan membuka pintu sebuah ruangan seukuran apartemen studio yang terletak di lantai paling atas gedung rumah sakit tersebut. “Hasil testnya mungkin akan keluar dua jam lagi paling lambat,” sambungnya kemudian, menginformasikan sambil melirik ke arah jam tangannya.


“Oke. Biarkan Sera beristirahat dulu.” Xavier menyentuhkan tangannya ke pundak Sera dan menghelanya lembut memasuki ruangan.


“Aku akan kembali nanti.” Dokter Nathan menganggukkan kepala, lalu segera berbalik pergi meninggalkan mereka berdua sendirian. Ketika hanya berdua-duaan sendirian saja itulah Xavier dan Sera berdiri saling berhadapan di ruangan itu, kedua mata bertatapan, diliputi oleh kecanggungan.


“Bagaimana keadaanmu?” Tatapan Xavier yang awas tiba-tiba menyadari bahwa ada lingkaran hitam yang mulai terbentuk di bawah mata Sera.


Perempuan itu jelas-jelas kelelahan. Bukankah dia yang membuat perempuan ini kelelahan semalam?


Tangan Xavier bergerak menangkup sisi pipi Sera dan dengan lembut mendongakkan wajah perempuan itu ke arahnya.


“Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi ketika Sera tidak menjawab pertanyaannya yang pertama.


“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah.” Sera menganggukkan kepala perlahan, lalu melirik ke atas ranjang. “Aku tidur sebentar, ya?” tanyanya pelan.


Sera tidak berbohong, tubuhnya terasa kehabisan energi oleh semua hal beruntun yang terjadi dari semalam sampai kembali malam saat ini. Semua hal seolah-olah bertubi-tubi datang dalam kehidupannya, membuat batinnya lelah mencerna dan berimbas kepada fisiknya.


“Tidurlah.” Xavier merengkuh pundak Sera dan mengarahkannya ke tempat tidur. Lelaki itu membantu Sera berbaring dan menyelimutinya. Lalu tanpa kata, Xavier membalikkan badan, meninggalkan Sera sendirian di atas ranjang dan membanting tubuhnya ke arah sofa besar yang ada di seberang ruangan.


Sera berbaring miring, matanya mengerjap dan menatap ke arah Xavier diam-diam, mencuri pandang sambil berusaha supaya tidak ketahuan. Lelaki itu tidak sedang menatapnya, tetapi malahan setengah membungkuk di atas sofa dan sibuk menatap sesuatu di tangannya.


Apa itu? Hasil prit out USG kandungannya tadi?


Lelaki itu tak bersuara, tampak sibuk dalam pikirannya sendiri, merenung dalam sepi. Keheningan yang membentang lama itu entah kenapa membuat mata Sera tiba-tiba terasa berat, tak bisa menahan diri untuk memejamkan mata dan langsung larut ke dalam lelapnya.


****


Entah sudah berapa lama Sera tertidur, tetapi ketika dia terbangun kemudian, dilihatnya Xavier masih berada di posisi duduknya yang sama. Lelaki itu begitu fokus menatap benda yang dipegang di tangannya hingga seolah-olah tidak menyadari kalau Sera sudah membuka matanya.


“Kenapa kau melihatnya terus?”


Akhirnya Sera memutuskan untuk bertanya, memecahkan keheningan yang melingkupi mereka berdua.


Xavier mengangkat pandangannya dan menatap ke arah mata Sera yang terbuka. Seulas senyum muncul tipis di bibirnya.


“Kau sudah bangun?” lelaki itu mengajukan pertanyaan retorika yang memang tak perlu di jawab, lalu dengan hati-hati tangannya bergerak memasukkan foto hasil USG tersebut ke saku bajunya.


“Aku hanya masih diliputi perasaan takjub,” sambungnya kemudian, menjawab pertanyaan Sera. “Selama ini, aku tak pernah menghargai kehidupan. Kau tahu, baik kehidupanku sendiri, kehidupan orang lain, bahkan kehidupan makhluk-makhluk lainnya di dunia ini.” Mata Xavier menyipit, mengawasi Sera dengan tajam. Secara tidak langsung, dia hendak mengatakan bahwa dirinya adalah orang tanpa belas kasihan yang bisa mencabut nyawa makhluk apapun demi kepentingannya tanpa rasa bersalah sama sekali. “Aku tidak pernah memperhatikan bahwa kehidupan makhluk hidup… ternyata dimulai dari sesuatu yang sekecil ini. Aku tidak pernah memperhatikan bahwa perjuangan makhluk hidup untuk bisa terlahirkan ke dunia, lalu tumbuh besar dan menciptakan tanda di bumi ini, ternyata harus melalui kerja keras bahkan ketika dia masih berwujud setitik kecil serupa biji wijen.”


Xavier menepuk hasil foto USG di dadanya, lalu tersenyum lembut ke arah Sera. “Makhluk ini, anak kita, bahkan diukurannya yang begitu kecil, sudah bekerja keras untuk bertahan hidup, berusaha menempelkan dirinya di dinding rahim supaya tidak luruh dan lepas jatuh. Menakjubkan, bukan?”


Sera menatap Xavier dengan berhati-hati. Dia tahu bahwa lelaki di depannya ini memiliki mental pembunuh yang mengerikan. Dari apa yang dipelajarinya tentang Xavier di masa lampau, lelaki ini tak segan-segan mencabut nyawa siapapun yang menghalangi jalannya dengan kejam.


Benarkah sosok dengan mental yang sudah kejam dari awal, bisa tersentuh hatinya ketika melihat kehidupan kecil yang mulai berkembang di perut Sera?


Pertanyaan Sera tak bisa bertemu dengan jawabannya karena pintu tempat apartemen mini yang mereka berdua tempati saat ini memperdengarkan bunyi ‘bib’ beberapa kali. Ekspresi Xavier menegang, tetapi lelaki itu tidak mengatakan apa-apa ketika bangkit dari posisinya duduk di sofa dan mendekat ke arah pintu.


Tidak meninggalkan kewaspadaannya, Xavier memeriksa dulu citra tampilan kamera pengawas yang menampilkan gambar area depan pintu, sebelum kemudian membukanya ketika melihat bahwa Dokter Nathanlah yang berdiri di sana.

__ADS_1


“Bagaimana?” Tanpa mempersilahkan Dokter Nathan masuk, lelaki itu langsung bertanya penasaran.


Dokter Nathan menyeringai lebar, lelaki itu menyerahkan lembaran kertas hasil test laboratorium ke tangan Xavier dan membiarkan lelaki itu memeriksanya.


“Selamat. Kau akan menjadi seorang ayah.” Dokter Nathan melongok ke arah Sera yang terbaring penuh antisipasi di atas ranjang, lalu seringaiannya berubah menjadi senyuman tulus. “Kalian berdua akan memiliki anak, kemungkinan anak kembar.”


***


“Kau terlihat kelelahan.” Xavier merangkul Sera ke dalam pelukannya, membiarkan perempuan itu bersandar ke dadanya. “Apakah ini karena kehamilanmu ataukah aku telah memforsirmu semalam?” Lelaki itu bertanya pelan tetapi nada suaranya tidak menunggu jawaban, seolah-olah dia sedang berucap kepada dirinya sendiri.


“Aku tidak apa-apa, mungkin aku tidak cukup tidur semalam dan baru terakumulasi sekarang,” Sera menjawab tanpa perlawanan, menyandarkan tubuhnya ke dada Xavier dan memejamkan mata. “Biarkan aku tidur sedikit lebih lama,” pintanya dengan nada mengambang sebelum kemudian jatuh terlelap ke dalam tidurnya kembali.


Xavier menundukkan kepala untuk mengintip mata Sera yang terpejam sambil menyandarkan pipi dengan nyaman di dadanya. Jemarinya bergerak, menyentuh anak rambut yang menguntai di pipi Sera, lalu menyelipkanya ke belakang telinganya.


Xavier akhirnya bisa menguasai diri setelah gelombang kejutan bercampur antisipasi yang menimpanya kembali ketika menerima kepastian tentang kehamilan Sera. Sekarang, mereka berada di dalam kabin penumpang mobil yang sedang melaju untuk mengantarkan Sera kembali ke rumahnya.


Ya. Kembali ke rumah Sera sendiri. Karena sesuai dengan kesepakatan, Xavier tidak akan menyentuh ataupun mendatangi Sera, kecuali pada saat pemeriksaan rutin kehamilan dan pastinya saat Sera melahirkan nanti.


Tetapi, bisakah dia melakukannya?Kehidupan kecil yang sedang bertumbuh di dalam perut Sera terasa menakjubkan baginya. Anaknya, keturunan darahnya sekarang sedang berjuang untuk tumbuh besar di perut perempuan itu. Xavier merasakan dorongan kuat untuk menyingkap pakaian Sera, mengamati perut itu selama berjam-jam setiap harinya, mengukur pertambahan ukuran perut itu dengan saksama setiap saat, tak ingin melewatkan sedetik pun dari pertumbuhan anaknya di dalam kandungan perempuan itu.


Tetapi, dia tahu bahwa dia tak boleh melakukannya.


Jika Xavier tak bisa menahan hasratnya dan terus menempelkan dirinya serta menanamkan keberadaannya dalam kehidupan Sera, maka, bukan tidak mungkin jika mereka berdua akan semakin dekat dan sudah pasti akan semakin kuat keterikatan batin di antara mereka.


Xavier tidak mau keberadaannya menjadi hal yang biasa bagi Sera. Dia tak ingin Sera menerimanya atau terikat dengannya. Sebab, dia akan meninggalkan luka bagi perempuan itu jika tiba waktunya bagi dirinya untuk meninggalkan Sera dan anaknya.


Lebih baik jika tak ada ikatan apapun di antara mereka berdua, lebih baik Sera membentengi hatinya dengan pembatas yang kokoh, demi keamanan perempuan itu sendiri.


Mobil mereka akhirnya memasuki kawasan perumahan tertutup tempat Sera akan tinggal selama masa kehamilannya dan mungkin untuk seterusnya nanti. Xavier masih merangkul perempuan itu dalam rengkuhan lengannya dan menatap ke luar jendela, menunggu sampai mobil itu berhenti di area balkon rumah tersebut.


Ketika supirnya bergerak membukakan pintu belakang kabin penumpang untuknya, Xavier menolak kursi roda yang ditawarkan untuknya. Dia mengambil tongkatnya sendiri dan mengguncang tubuh Sera sedikit untuk membangunkannya.


“Sera. Kita sudah sampai.” Xavier berucap pelan, tetapi nada suaranya tegas sehingga bisa menembus kesadaran Sera yang masih dilingkupi kabut tebal.


Mata Sera mengerjap, tetapi kesadarannya masih belum kembali sepenuhnya, perempuan itu berusaha memfokuskan tatapannya ke arah Xavier meskipun semuanya tampak berbayang di matanya.


“Xavier?” Sera menyebutkan nama lelaki itu untuk memastikan. Tangannya bergerak menggapai, menyentuh pipi Xavier karena wajah lelaki itu tampak bergoyang di matanya. “Kenapa kau bergerak-gerak?” tanyanya dengan nada polos.


Perlahan Xavier menggeser tubuhnya, melangkah turun dari mobil. “Ayo, kita sudah sampai. Aku ingin menggendongmu tetapi aku tak bisa dalam kondisiku yang seperti ini. Kau bisa berjalan sendiri?” tanyanya sambil sedikit berdiri bertumpu pada tongkatnya dan sedikit membungkuk sambil mengulurkan tangannya ke arah Sera.


“Sepertinya bisa.” Suara Sera terdengar goyah dan tidak yakin, sama seperti tubuhnya yang langsung terhuyung ketika berusaha menjejakkan kaki dengan normal di lantai.


Kaki Sera terasa lunglai, seolah tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Beruntung Xavier dengan sigap merangkul pinggangnya, membimbing Sera perlahan melangkah memasuki rumah, langsung menuju ke kamar.


Ketika sampai di ambang pintu, Xavier menoleh ke belakang dan menatap anak buahnya dengan sikap tegas.


“Tinggalkan kami.” Xavier memberi perintah kepada dua anak buahnya yang mengikuti dengan siaga di depan mereka dan para anak buahnya itu menganggukkan kepala sebelum kemudian melangkah meninggalkan area dalam rumah itu untuk berjaga di pos mereka masing-masing.


Xavier membanting pintu di belakangnya, lalu kembali membimbing Sera menuju ranjang. Perlahan dibantunya perempuan itu berbaring di ranjang, dan bibirnya mengulas senyum tipis ketika melihat Sera setengah meringkuk dengan mata terpejam.


Perlahan Xavier mengambil selimut yang terlipat di kaki ranjang dan dirinya duduk di tepi ranjang itu, tubuhnya membungkuk sementara tangannya hendak menyelimutkannya ke tubuh perempuan itu. Tetapi, gerakannya terhenti ketika Sera ternyata membuka matanya dan perempuan itu mengangkat tangan untuk menangkup pergelangan tangan Xavier yang sedang bergerak untuk menangkupkan selimut itu ke dada Sera.


“Kau tidak tidur?” Mata Sera masih berkabut ketika mengutarakan pertanyaan itu, seolah-olah kesadarannya belum kembali sepenuhnya.


Xavier tersenyum penuh ironi. “Aku akan tidur. Nanti. Di rumahku sendiri,” jawabnya kemudian.


Sera mengerutkan kening. “Kenapa kau tidak tidur di sini?”


“Karena rumahku bukan di sini. Ini rumahmu,” jawab Xavier setengah jengkel.


“Tapi aku ingin kau tidur di sini.” Tanpa diduga Sera menggerakkan tangannya untuk merangkul leher Xavier.


“Kenapa kau tak mau tidur di sini?” tanyanya tanpa rasa berdosa.


Xavier menggertakkan giginya. “Aku tak bisa tidur di sini.”


“Kenapa?” tanpa rasa bersalah Sera mengejar kembali dengan pertanyaan.


“Karena kau tak akan tidur kalau aku tinggal di sini.”

__ADS_1


“Aku tak ingin tidur.” Sera melebarkan mata dengan keras kepala.


“Serafina Moon.” Xavier menggertakkan gigi, menahan diri. “Jangan memaksakan keberuntunganmu. Tidurlah,” geramnya setengah mengancam.


Lelaki itu menggunakan tangannya untuk mengurai jalinan tangan Sera yang melingkari lehernya, berusaha melepaskan diri dan hendak bergerak menjauh. Tetapi bukannya melepaskannya, tangan Sera malahan menyentuh pipi Xavier, membuat gerakan lelaki itu membeku seketika.


Sera melebarkan mata, menatap Xavier seolah terluka.


“Kau tidak menginginkanku?” tanya dengan nada polos, tidak berniat menggoda tetapi mampu menggelorakan darah Xavier sampai mendidih.


“Kau sangat suka menyiksa orang.” Xavier mendesiskan kalimatnya dengan marah. Lelaki itu naik ke atas ranjang dan membungkuk di atas Sera. “Jangan menyesali apa yang sudah kau nyalakan saat kesadaranmu kembali sepenuhnya nanti.” Xavier membungkukkan tubuh dan menempelkan bibirnya ke bibir Sera, menggeseknya dengan gerakan menggoda. “Jika kau memang memintanya, maka aku akan tidur di sini,” sambungnya kemudian memutuskan.


Sera melingkarkan tangannya kembali ke leher Xavier, mendekatkan wajah lelaki itu sampai merapat kepadanya. Xavier benar, kemungkinan besar saat pikiran logis datang menguasainya esok pagi, dia pasti akan menyesali ini habis-habisan. Tetapi, sekarang Sera memilih tak peduli. Di matanya saat ini, Xavier tampak siap melesat pergi dan mengucapkan selamat tinggal serta tak akan menoleh lagi.


Setidaknya, malam ini saja. Sera ingin menyerah pada dorongan hatinya yang impulsif, dan menyerahkan dirinya kepada Xavier. Setidaknya, jika firasatnya benar bahwa Xavier akan pergi, dirinya memiliki sekeping kenangan dengan ayah dari anak-anaknya yang bisa dia simpan sampai nanti.


“Jadi kau akan tidur di sini?” Sera berbisik perlahan di bibir lelaki yang mulai menjelajahi bibirnya itu, menginterupsinya dari cumbuan panas yang siap membakar.


“Siapa bilang aku akan tidur?” Xavier berbisik parau dengan nada suara merayu. “Aku akan menidurimu,” geramnya kuat.


***


Perempuan itu meringkuk di tubuhnya dan menyalurkan hawa hangat yang menyenangkan kepadanya di balik selimut yang membungkus mereka berdua dengan rapat.


Xavier kembali menatap nyalang ke atas langit-langit kamar, mencoba menelaah pikirannya kembali yang campur aduk tak karuan.


Serafina Moon sungguh-sungguh merupakan kelemahannya. Tubuh mereka seolah bersinergi ingin saling memeluk satu sama lain, hingga ketika Sera memintanya, dia tak bisa menolaknya.


Xavier tidak pernah selembut itu ketika bercinta dengan perempuan, pun dia tak pernah sesabar itu mengajari perempuan polos yang masih belum tahu cara memuaskannya, membimbingnya perlahan-lahan sehingga mereka bisa saling memberi dan menerima dengan tingkat kenikmatan yang membuat ketagihan.


Bahkan pada malam ini, Xavier bersikap ekstra lembut. Berhati-hati menyentuh perempuan itu agar tidak sampai mengganggu kandungannya. Dokter Nathan sudah menerangkan bahwa percintaan di trisemester kehamilan boleh dilakukan tetapi harus dengan berhati-hati dan tidak berlebihan, dan Xavier berusaha menerapkan itu di percintaan mereka kali ini.


Percintaan yang seharusnya menjadi yang terakhir kalinya. Xavier bertekad supaya hal ini tidak sampai terjadi lagi.


Perlahan Xavier melepaskan tubuh Sera yang menempel lekat kepadanya dan mengurai kedekatan mereka. Matanya mengawasi ekspresi Sera yang tertidur lelap dengan damai, menahan diri sekuat tenaga supaya tidak membungkukkan tubuh lalu membangunkan perempuan itu dan menyentuhnya lagi untuk memuaskan hasratnya yang mulai bangkit.


Sera butuh tidur. Begitupun dirinya, dia juga butuh istirahat dan menenangkan pikirannya selama beberapa waktu.


Dengan gerakan hati-hati, Xavier menggeser tubuhnya, turun dari ranjang. Dia lalu merapikan kembali selimut Sera dan menapakkan kakinya di karpet tebal kamar. Xavier lalu memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya. Setelah rapi, langkah kakinya bergerak hendak keluar kamar, hanya berhenti untuk menoleh sedikit ke arah Sera yang masih lelap dan berbaring damai di atas ranjang.


Tatapan Xavier menyiratkan kehampaan yang memilukan, tetapi lelaki itu mengeraskan hati.


“Selamat tinggal, Serafina Moon.”


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


Yours Sincerely

__ADS_1


AY


__ADS_2