Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 124 : Hati Yang Memaafkan


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website PROJECTSAIRAAKIRA  + PART bonus mini novel eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana


****


****


****


Sera membiarkan Xavier menangis karena dia tahu bahwa lelaki itu butuh waktu untuk menata hati. Dia tidak bergerak, tidak mengganggu, bahkan tidak bertanya, karena dirinya ingin memberikan waktu seluang-luangnya bagi Xavier untuk melegakan perasaannya terlebih dahulu sebelum lelaki itu mampu berbicara dan menumpahkan apa yang dirasasakannya.


Sera bersabar, menunggu lelaki itu yang terus terisak sambil menenggelamkan wajah di belakangnya, dan sama sekali tidak berusaha menyela Xavier yang sedang meluapkan emosinya.


Baru setelah suara isakan Xavier mereda dan napas lelaki itu sudah lebih tenang, serta pelukan Xavier di tubuhnya tidak sekencang sebelumnya, Sera pun mencoba membalikkan tubuhnya untuk menatap suaminya, ingin melihat keadaannya.


Mata Xavier tampak basah, lelaki itu benar-benar pucat, dengan lingkaran hitam di sekitar matanya yang berpadu dengan rambutnya yang acak-acakan seolah sebelumnya dengan frustasi lelaki itu telah menyusurkan jari jemarinya ke rambutnya dengan gerakan serampangan.


Penampilan Xavier benar-benar berantakan dan terlihat mengibakan, tetapi di mata Sera, Xavier tetaplah suaminya yang paling tampan di dunia.


Tangan Sera mengusap pipi suaminya yang basah, sikapnya lembut dan keibuan.


“Apakah kau sudah lega?” tanyanya kemudian.


Xavier tersenyum melihat betapa pengertiannya Sera terhadapnya. Perempuan itu tidak mendesaknya, hanya bersikap penuh perhatian yang menghangatkan hatinya. Meskipun kepedihan masih terpatri jelas di matanya, Xavier mengambil tangan Sera lalu mengecupnya perlahan sebelum kemudian menganggukkan kepala.


Sera mengegrakkan tangannya untuk mengusap rambut Xavier, pada saat itulah dirasakannya rambut Xavier masih basah kuyup. Lelaki itu sepertinya mandi dan mencuci rambutnya dan tak sempat mengeringkannya, lalu langsung mendatangi Sera di ruang perawatan ini.


“Rambutmu masih basah. Kalau kau tidur dengan keadaan ini, kau bisa jatuh sakit besok pagi.” Sera mengangkat tubuhnya dan dengan berhati-hati dia duduk di atas ranjang, sementara tanpa kata Xavier segera mengikutinya, duduk di atas ranjang juga.


“Ambilkan aku handuk, aku akan mengeringkan rambutmu.” Sera memerintah dengan nada keibuan yang tegas dan Xavier tampaknya tak memiliki keinginan sama sekali untuk menentang. Dengan patuh lelaki itu melangkah turun dari ranjang dan mengambil handuk putih bersih dari laci yang ada di dalam kamar ruang perawatan itu lalu menyerahkannya ke tangan Sera.


“Duduklah di kursi.” Sera yang sudah berhasil menggerakkan tubuhnya hingga duduk di tepi ranjang menunjuk ke kursi yang ada di dekat sana. Posisi ranjang itu jauh lebih tinggi, jadi akan memudahkan Sera untuk mengeringkan dan menggosok rambut Xavier dengan handuk.


Xavier tidak berkata-kata. Lelaki itu lalu bergerak menarik kursi merapat ke pinggir ranjang tempat Sera duduk di sana sebelum kemudian dia menempatkan dirinya sendiri duduk di atas kursi itu dan memunggungi Sera.


Sera menggosokkan handuk di tangannya ke kepala Xavier dengan lembut, berusaha menyerap nuansa basah yang masih pekat di sana. Tangan Sera menyelip di antara rambut Xavier yang helaiannya terasa sangat lembut di telapaknya dan bibirnya mengulas senyuman karena hatinya yang menghangat.


Sera merasa seperti seorang ibu yang sedang mengurus anak kesayangannya, menggosok rambut sang anak dan mengeringkannya. Bibirnya tersenyum ketika membayangkan bahwa ketika si kembar besar nanti, dia mungkin akan sangat menikmati menggosok rambut panjang si kembar, lalu mengeringkannya dan mengucirnya dengan kepang warna warni yang cantik.


“Kalau kau tidur dengan rambut basah, itu bisa berbahaya untuk kesehatanmu. Kepalamu bisa pusing, kau bahkan bisa sakit flu.” Setelah sisi yang kanan mengering, Sera mengalihkan handuk di tangannya untuk menggosok sisi yang kiri, melakukan proses pengeringan yang sama dengan sikap lembut dan kadang menghadiahkan pijatan menenangkan di permukaan kulit kepala Xavier dengan jari jemarinya yang mungil.


Setelah dengan telaten dia menggosok lembut rambut Xavier, nuansa basah dan lembab di rambut Xavier pun menghilang. Sera kemudian meletakkan handuk yang sedikit basah karena menyerap kelembapan itu di nakas samping ranjang. Tangan Sera lalu menyentuh pundak Xavier dan mulai memijit pundak suaminya dengan pijitan menenangkan.


Xavier memejamkan mata, tubuhnya yang menegang sejak tadi tampak rileks.


“Hmm....” Lelaki itu mendesiskan gumaman nikmat ketika ujung jari Sera memijit di titik-titik yang terasa kaku.


“Nyaman?” Sera berbisik perlahan, senang karena usahanya mendapatkan tanggapan baik.


Xavier tersenyum. “Kau yang habis melahirkan, seharusnya aku yang memijitmu,” ujarnya kemudian.


Sera terkekeh. “Siapa bilang pijitan ini gratis? Setelah ini gantian kau yang memijitku,” sahutnya bercanda.


Candaannya membuahkan hasil, Xavier mengangkat sudut mulutnya sedikit, membentuk lengkung senyuman yang ditunggu-tunggu oleh Sera sejak tadi.


“Aku akan memijitmu sebanyak apapun, semaumu, selama apapun, sesukamu, nanti,” sahut Xavier dengan nada sukerela, layaknya suami yang berbakti penuh kepada istri.


Senyuman Sera melebar, perempuan itu lalu membungkukkan tubuhnya dan merangkul suaminya dari belakang. Xavier membalas perlakuan sayang dan perhatian itu dengan penerimaan penuh, lelaki itu kemudian membalikkan tubuh sebelum meletakkan kepalanya di pangkuan Sera.


“Aku sangat beruntung memilikimu, kau tahu itu, bukan?” Suara Xavier terdengar parau ketika berucap, dipenuhi dengan ketulusan.


Sera menyusurkan jari jemarinya di helaian rambut Xavier yang telah mengering. Kelembutan helaian rambut lelaki ini selalu membuatnya takjub, layaknya bulu yang sangat lembut dan ringan, menguarkan harum aroma shampo yang menyenangkan untuk dihirup.


“Aku juga beruntung memilikimu.” Sera membalas dengan ketulusan yang sama. “Karena itulah aku akan sedih jika kau bersedih. Aku selalu ingin kau berbahagia, Xavier.”


Suara Sera itu mengambang di udara, seiring dengan keheningan yang tercipta. Xavier seolah mempersiapkan diri untuk berucap, menelan ludahnya berkali-kali sebelum lelaki itu akhirnya bisa berkata-kata.


“Aku selama ini masih berharap bahwa anemia aplastik yang kuderita disebabkan karena keracunan zat kimia berat saat aku mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu.” Xavier menghela napas panjang. “Ternyata, kontaminasi itu hanyalah pemicu. Aku sudah memiliki bakat secara genetik untuk menderita penyakit itu. Aku membawanya di gen-ku dan aku mungkin menurunkannya kepada anakku.”


“Xavier,” Sera menggerakkan kembali jari-jemarinya untuk membelai rambut lelaki itu. “Kita sudah pernah membicarakan ini, bukan? Dugaan bahwa penyakit itu diturunkan secara genetik memang selalu ada. Tetapi, dari yang kupelajari, anemia aplastik tidak selalu diturunkan seratus persen pada keturunan langsung. Ada kasus empat bersaudara tetapi hanya satu saja yang terkena, bahkan ada kasus dimana anak-anak pasangan yang salah satunya adalah penerita anemia aplastik, mereka semua baik-baik saja dan tidak mendapatkan penyakit itu. Kita masih punya harapan. Bahkan jika si kembar sakit pun, bukankah dunia kedokteran akan berkembang terus di masa depan? Kita akan berpegang pada harapan yang terbaik dan bergenggaman tangan untuk menghadapinya.”

__ADS_1


Xavier menghela napas panjang. “Maafkan aku karena membawa gen penyakit yang membahayakan anak-anak kita,” bisiknya parau penuh rasa bersalah.


Sera menangkup pipi Xavier dan menengadahkan lelaki itu menghadapnya.


“Apakah kita akan mengulangi adegan ini terus menerus? Kau yang didera rasa bersalah dan aku yang selalu berusaha meyakinkanmu bahwa segalanya akan baik-baik saja?” Senyuman Sera begitu tulus dan dia memastikan Xavier melihatnya. “Aku tidak butuh permintaan maafmu, Xavier. Aku butuh kau memiliki tekad kuat untuk tetap sehat, sehingga kau bisa mendampingiku membesarkan anak-anak kita nanti. Aku yakin, jika kita bergenggaman tangan dan saling mendukung satu sama lain, semuanya akan baik-baik saja.”


Xavier tersenyum lemah ke arah Sera.


“Terima kasih, sayang.” Xavier berucap dengan tulus. Kepercayaan Sera akan kekuatan mereka bersama dalam menghadapi masa depan telah berhasil membangkitkan semangatnya yang sempat runtuh tadi. Dia merasa jauh lebih baik sekarang dan entah kenapa lelaki itu seolah ingin bermanja-manja di pelukan istrinya malam ini. Kepala Xavier tertengadah, menatap Sera dengan ekspresi lembut dan hangat. “Aku ingin tidur dengan memelukmu,” bisiknya kemudian.


Sera tersenyum kembali. Perempuan itu menggeser tubuhnya, lalu berbaring miring di sisi ranjang yang menempel di dinding, memberikan ruang yang cukup untuk suaminya.


“Kemarilah,” bisiknya lembut, membuka tangannya untuk memeluk.


Tak perlu menunda lagi, Xavier melangkah naik ke atas ranjang dan berbaring di pelukan istrinya. Keheningan yang damai membentang di antara mereka, tetapi Sera tahu bahwa Xavier masih belum tidur, seolah masih ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Sera tidak memaksa, dia menunggu dengan sabar, tangannya mengusap punggung suaminya, ingin menunjukkan bahwa dia akan selalu ada sebagai sandaran jika Xavier membutuhkannya.


“Sera?”


Pada akhirnya, setelah keheningan membentang lama di antara mereka, Xavier sendirilah yang memecahkan keheningan itu dengan memanggil nama istrinya.


“Ya?” Sera menyahuti pelan, berusaha tak terdengar terlalu menuntut.


“Aku... akhirnya menemukan ayah kandungku.” Suara Xavier terdengar tersekat di tenggorokan. “Tadinya aku berharap hasil yang berbeda, tetapi hasil test darah itu menunjukkan bahwa dia benar-benar ayahku.”


Dan begitulah, setelah Xavier memutuskan membuka diri dan bercerita, kalimat demi kalimat pun mengalir dari mulutnya, menceritakan semua yang terjadi kepada Sera tanpa ada satu pun yang terlewati.


***


 


Credence menolehkan kepalanya ketika Xavier muncul di ujung lorong. Dari langkah kakinya pun, terlihat jelas bahwa Xavier sesungguhnya enggan untuk datang ke sudut ruang perawatan intensif ini.


“Kenapa aku harus datang kemari?” Xavier menatap ke arah Credence yang sedang berdiri di depan jendela kaca besar yang menampilkan sosok pasien yang tengah terbaring dengan berbagai alat penyambung kehidupan terhubung ke tubuhnya. Mata Xavier tetap tertuju pada Credence dengan tatapan tajam, seolah menolak untuk melihat arah yang sama seperti arah pandangan Credence.


“Dia tak akan bertahan lama. Kurasa kau harus melihatnya.” Credence berucap dengan nada berhati-hati, sedikit membujuk meskipun tak memaksa.


“Kenapa wajahnya kembali seperti semula? Bukankah dia melakukan operasi plastik untuk mengubah wajahnya supaya bisa memasuki negara ini?” tanyanya seketika.


Sosok dokter Rasputin yang terbaring di sana adalah sosok dokter Rasputin asli yang ada di foto-foto lamanya. Lelaki itu masih menyisakan gurat ketampanan yang nyata, meskipun ketampanannya itu dikalahkan oleh kondisi tubuhnya yang pucat, kurus dan berkeriput akibat penyakitnya.


“Dia ternyata tidak melakukan operasi plastik. Ketika dia dibawa kemari dalam kondisi kritis, dokter menemukan dia menggunakan topeng yang sangat sempurna dengan kualitas yang nyaris tak bisa dibedakan dengan wajah asli.” Credence menjawab perlahan. “Kurasa, itu adalah jenis topeng yang sama yang dia buat untuk Aaron.”


“Begitu.” Xavier mengalihkan pandangan matanya, seolah tak tahan untuk menatap  wajah dokter Rasputin. Semakin dilihat, malahan semakin dirinya menemukan gurat kemiripan dengan lelaki itu, dan perasaan muak semakin melanda jiwanya.


Kenapa dia harus mirip dengan ayah yang tak diinginkannya? Xavier lebih memilih tetap sebatang kara di dunia ini daripada memiliki seorang ayah berhati picik yang memutuskan untuk membuangnya bahkan saat dia masih berada di dalam kandungan.


Pembicaraannya dengan Sera semalam telah cukup menyembuhkan hatinya yang sakit dan sempat terpuruk. Perempuan itu memeluknya sepanjang malam, menenangkan dirinya dan mengatakan bahwa yang terpenting saat ini adalah Xavier yang sekarang. Xavier yang dia cintai, Xavier yang menjadi suami dan ayah dari anak-anaknya. Sementara hal-hal yang berkaitan dengan asal usul Xavier yang ditolak bahkan sejak dia dikandung, itu hanyalah perkara untuk berbesar hati dan memaafkan, karena hanya dengan itulah hati yang membara dikungkung oleh api kemarahan, bisa menjadi tenang dan memeluk kedamaian.


Mata Xavier melirik kembali ke arah sosok dokter Rasputin yang berbaring tak sadarkan diri, dan rasa getir tak terperi kembali melumuri hatinya, membuatnya nyeri.


Credence melirik ke arah Xavier dan mengamati reaksinya.


“Aku minta maaf sebelumnya karena melakukan penyelidikan tanpa seizinmu. Ketika hasil test darah itu menunjukkan bahwa Dokter Rasputin adalah benar-benar ayahmu, aku mengirimkan instruksi pada Dimitri di Rusia untuk melakukan penyelidikan sepenuhnya. Semua hal menyangkut ibumu dan ayahmu ada di dalam sini.” Credence menunjukkan microchip kecil di tangannya ke arah Xavier.


Mata Xavier melirik ke arah microchip kecil di tangan Credence itu, tetapi lelaki itu seolah tak tergerak untuk mengambilnya.


“Apakah aku memiliki saudara yang masih hidup, sekarang?” tanyanya kemudian.


Credence menggelengkan kepala. “Kau tidak memiliki saudara. Kau adalah anak satu-satunya yang dilahirkan oleh ibumu. Ibumu juga anak tunggal, begitupun dengan dokter Rasputin. Ada kerabat jauh ibumu yang masih hidup sekarang. Namanya Lucy, dialah yang mengurus ibumu hingga sebelum masa kematiannya.” Credence berniat untuk memberikan beberapa informasi penting menyangkut hasil penyelidikannya. Jenis informasi yang Xavier harus tahu karena menurut pengamatannya, Xavier sama sekali tak tertarik mengambil microchip berisi hasil penyelidikan penuh dan lengkap dari tangannya.


“Ibumu meninggal beberapa waktu lalu karena radang paru-paru. Sebelum meninggal, dia meminta Lucy untuk menghubungi dokter Rasputin dan memberitahu lelaki itu mengenai keberadaanmu. Dari informasi yang kudapat, di masa lampau dokter Rasputin meminta Anna menggugurkan kandungannya bukan karena dia tak ingin bertanggung jawab atasmu. Sebagai seorang dokter, dokter Rasputin tahu bahwa dia menderita penyakit genetik yang bertumbuh di dalam dirinya. Dia sudah bertekad untuk tak memiliki anak seumur hidupnya, karena itulah dia meminta ibumu menggugurkan kandungannya. Ibumu sendiri tidak mampu melakukan itu, jadi dia kabur dari ayahmu dan mengikuti temannya ke negara ini. Setelah dia melahirkanmu, dia menyerahkanmu ke panti asuhan lalu pulang kembali ke negaranya.”


“Siapa namanya?” Xavier bertanya dengan nada datar.


Credence mengangkat alisnya. “Nama siapa? Ibumu?” tanyanya memastikan. Ketika Xavier menganggukkan kepala, Credence pun menjawab. “Namanya Anna. Seorang perempuan yang sangat cantik. Kurasa, kau memiliki wajah yang luar biasa, bukan tanpa alasan, kau berasal dari dua manusia yang sangat rupawan. Aku memiliki foto-foto dokumentasi tentangnya di microchip ini. Jika kau ingin melihatnya kau boleh....”


“Apakah benar apa yang dikatakan oleh dokter Rasputin, bahwa dia adalah seorang *******?” Xavier menyela kembali bertanya dengan nada getir.


Pertanyaan itu sungguh sulit dijawab dan Credence memerlukan waktu beberapa lama untuk menguatkan hati dan menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Sayangnya, ya. Ibumu melakukannya karena butuh uang sebab dia sebatang kara di dunia ini. Namun, setelah dia melahirkanmu dan pulang kembali ke Rusia, dia bekerja sebagai buruh di pabrik susu hingga tua dan tidak menjual dirinya lagi.”


Xavier menganggukkan kepala. “Aku mengerti,” jawabnya kemudian, masih dengan nada getir di suaranya.


“Xavier. Kau harus sadar bahwa ayahmu ingin ibumu menggugurkan dirimu bukan karena dia tak menginginkanmu, tetapi seperti yang dikatakan oleh Anna kepada Lucy, dokter Rasputin tidak ingin menurunkan penyakit genetiknya kepadamu. Ibumu tidak tega membunuhmu dan melahirkanmu tetapi dia terpaksa menitipkanmu ke panti asuhan karena dia tak bisa menghidupimu, dia sendiri kesulitan untuk makan, Lucy bilang ibumu takut tak sanggup membesarkanmu, apalagi jika kau nanti benar-benar menderita penyakit seperti yang dikatakan oleh dokter Rasputin kepadanya ketika lelaki itu menyuruhnya menggugurkanmu.” Credence memberikan jeda di kalimatnya untuk melihat apakah Xavier mendengarkannya. Setelahnya, dia pun menyambung kembali. “Kau tahu kenapa dokter Rasputin menggunakan topeng penyamaran itu? Dia melakukannya karena dia ingin membantumu di saat terakhirnya, dia ingin menawarkan dirinya untuk menggantikan ayah Sera dan berbaring di ranjang rumah sakit untuk menyamar sebagai ayah Sera demi mengecoh Aaron, karena dia tahu bahwa saat ini Aaron sedang bergerak untuk mendekati ayah Sera.”


Xavier menipiskan bibir, ekspresinya wajahnya keras seolah tak tersentuh sama sekali dengan perkataan Credence.


“Apakah selain menculik dan membius kepala perawat di fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat, ada pergerakan lain dari Aaron saat ini?” tanyanya kemudian.


Credence menggelengkan kepala. “Aaron masih menyekap dan membius lelaki malang itu di rumahnya. Sampai dengan saat ini, Aaron masih belum keluar dari rumah itu. Kurasa, dia sedang mengumpulkan data dan informasi menyangkut kepala perawat itu serta mempersiapkan diri untuk melakukan penyamarannya.”


“Bagus. Siapkan tim penyergapan di sekeliling Aaron. Aku akan mendatangi Aaron segera setelah ini, tetapi ada sesuatu yang harus kulakukan terlebih dahulu.”


Credence melirik ke arah dokter Rasputin yang masih tak sadarkan diri, lalu dia menyodorkan kembali microchip yang ditolak itu ke arah Xavier.


“Kau benar-benar tak ingin mengambil ini?” tawarnya berhati-hati.


Xavier menipiskan bibir dan menggelengkan kepala.


“Tidak. Aku akan mengubur masa laluku setelah ini. Seperti yang Sera katakan, yang terpenting adalah masa kini dan masa akan datang. Aku akan menjalani dua masa itu sebaik-baiknya dan mengabdikan diriku untuk membahagiakan istri dan anak-anakku.”


Credence mengawasi ekspresi Xavier yang dipenuhi dengan kesungguhan. Lelaki itu kemudian menganggukkan kepala dan memasukkan kembali microchip itu ke sakunya.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi untuk memastikan semua persiapan penyergapan berjalan lancar.” Tangan Credence bergerak menepuk pundak Xavier untuk memberinya kekuatan. “Satu pembesuk boleh menjenguk pasien di dalam sana hanya dalam waktu singkat, tak lebih dari lima belas menit. Gunakan waktumu sebaik-baiknya. Sebab, dari yang dokter katakan kepadaku, waktu dokter Rasputin benar-benar sudah tidak lama lagi. Katakan apa yang perlu kau katakan dan ringankan beban hatimu,” ucapnya kemudian sebelum melangkah pergi dan meninggalkan Xavier sendirian di sana, masih berdiri terpaku menatap sosok pasien yang terbaring lemah di balik jendela kaca bening di hadapannya.


***


 


Xavier berdiri di samping ranjang pasien tempat dokter Rasputin berbaring tak sadarkan diri. Tubuhnya kaku dan membeku, tak bergerak seincipun, menciptakan keheningan membentang yang hanya dinodai oleh bunyi alat sensor tanda kehidupan dan alat penunjang kehidupan yang terhubung ke tubuh pasien di hadapannya ini.


Mata dokter Rasputin terpejam rapat, dadanya naik turun, dan saluran napasnya terhubung dengan oksigen yang membantu mempermudah proses pernapasan di paru-parunya.


“Mereka bilang kau akan segera mati.” Xavier berucap perlahan, memecahkan sendiri keheningan yang diciptakannya di ruangan itu.


Tentu saja tidak ada respon dari dokter Rasputin atas perkataannya. Xavier memindai seluruh ekspresi dokter Rasputin dan ketika dia melihat betapa miripnya lelaki itu dengan dirinya, kegetiran kembali merayapinya.


“Kalau kau harus pergi, maka kau bisa pergi dengan tenang,” suara Xavier terdengar serak dan tersekat saat berucap, tertahan oleh emosi aneh yang menyesakkan dadanya. “Apa yang terjadi di masa lalu adalah masa lalu. Bagaimanapun, jika tanpa dirimu dan tindakanmu di masa lalu, aku yang seperti ini tak akan tercipta di masa sekarang. Aku menyadari bahwa semuanya merupakan garis takdir yang memang harus dijalani.”


Xavier menghentikan kalimatnya, matanya masih terpaku seolah ingin menyimpan wajah dokter Rasputin di dalam ingatannya, lalu lelaki itu menghela napas panjang, seolah ingin melepaskan seluruh beban di jiwanya.


“Pergilah dengan tenang. Aku sudah memaafkanmu,” bisiknya dengan suara parau, lalu memalingkan muka dan membalikkan tubuh, menyeret dirinya pergi meninggalkan ruangan itu dengan hati yang sudah memaafkan.


Xavier sudah pergi dari sana dan menutup pintu di belakangnya, hendak menatap lurus ke masa depan dan tak ingin menoleh ke belakang lagi. Dia tak melihat bahwa ada buliran air mata yang menetes turun hingga membasahi bantal, mengalir dari sudut mata dokter Rasputin yang masih terpejam tak sadarkan diri.


Itu adalah air mata penuh kepedihan sekaligus syukur dari  hati seorang ayah yang sudah dimaafkan.


***


***


***


***


Hello.


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website projectsairaakira  +  part bonus eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely


AY


 


 

__ADS_1


__ADS_2