
"Apa kau sudah gila?" Akram menghardik dengan nada kasar. "Aku tak mungkin membiarkan Elana sendirian bersamamu!"
"Aku memang orang gila, kau sendiri yang mengatakannya, bukan?" Xavier terkekeh riang. "Kalau kau tak menyetujui persyaratanku, bukan aku yang akan mencelakakan Lana, tetapi dirimu. Sementara, aku sendiri kan sudah berjanji tak akan menyakiti Lana dan kau tahu bahwa aku adalah orang yang selalu memegang perkataanku. Kesembuhan Lana adalah kebahagiaanku juga," suara Xavier merendah dengan nada licik. "Tetapi tentu saja aku tidak akan berjanji untuk tidak akan membuat Lana jatuh dalam pesonaku, sebaliknya aku akan menggunakan seluruh daya upaya yang kupunya, untuk membuatnya tergila-gila kepadaku."
"Tutup mulutmu!" Akram menggeram marah seketika. "Elana bukanlah gadis bodoh yang bisa dengan mudah kau perdaya!"
Sayangnya, kemarahannya sama sekali tidak berimbas pada Xavier, seolah Xavier sudah terlalu terbiasa menghadapi kemarahan Akram sebelumnya hingga dirinya menjadi kebal.
"Kenapa kau begitu marah wahai Akram Night yang terhormat? Apakah kau sedang cemburu? Atau jangan-jangan kau sedang dilanda ketakutan bahwa kali ini aku akan berhasil lagi seperti yang sebelum-sebelumnya? Aku sama sekali tidak menyangka bahwa seorang Akram Night akan begitu mudah tersulut emosinya hanya karena menyangkut seorang gadis biasa. Kurasa, Lana memang sangat berarti bagimu. Akan sangat menyenangkan ketika melihatnya membalikkan tubuh dan meninggalkanmu tanpa menoleh lagi," suara Xavier merendah penuh arti, sengaja memprovokasi. "Kau tahu, aku bisa membaca binar harapan berkilat di mata Lana ketika aku menawarkan itu kepadanya...."
"Kau menawarkan apa?" Akram langsung menyambar dengan suara tajam.
"Ah... apakah Lana tidak menceritakan kepadamu? Hmm... yah... tentu saja. Kalau aku jadi Lana, aku juga tidak akan menceritakan kepadamu, karena kau pasti akan memporak porandakan semuanya bahkan sebelum semua rencana dimulai..." suara Xavier terdengar santai dan menjengkelkan.
"Kau menawarkan apa kepada Elana, Xavier?" Akram mengulang kembali pertanyaannya dengan nada menuntut penuh ketidaksabaran.
Keheningan membentang di tengah percakapan mereka, keheningan yang menyesakkan karena terasa layaknya tali yang diikatkan di leher dan ditarik kencang hingga terasa mencekik. Xavier sepertinya sengaja melakukan itu untuk menciptakan efek dramatis ketika dia akhirnya melemparkan kejutannya pada Akram.
"Aku menawarkan kebebasan pada Lana. Bebas dari dirimu. Aku menawarkan identitas baru, perlindungan, juga kehidupan baru yang sepenuhnya lepas darimu," Xavier berucap dengan senyum simpul di bibirnya. "Dan kau tahu, Akram? Aku melihat kebimbangan di mata Lana. Sungguh menyedihkan, karena perempuan favorit seorang Akram Night, ternyata menyimpan keinginan untuk melarikan diri jauh di sudut hatinya." Xavier mengakhiri ucapannya dengan nada mengejek yang sangat kental.
Ketika Elana membuka mata, dilihatnya Akram duduk di sampingnya dengan ekspresi beku nan muram. Lelaki itu sudah mengenakan pakaian rapi seolah bersiap untuk pergi, membuat Elana mengerutkan kening kebingungan.
"Akram? Kau hendak pergi?" tanya Elana sambil duduk dan mengusap matanya.
Tatapan Akram yang digunakan untuk memandang Elana begitu menusuk hingga jantung Elana berdebar menahan rasa takut yang menyelinap tanpa bisa ditahan. Seolah-olah Akram tengah menahan kemurkaan yang amat sangat kepadanya.
"Mandilah, Elana dan bersiap-siaplah. Kita akan pergi ke suatu tempat," desis Akram sambil mengatupkan gerahamnya.
Elana mengerutkan kening. "Pergi kemana?" tanyanya bingung, entah kenapa merasa waspada dengan sikap Akram yang tak biasa.
Akram menipiskan bibir. "Kau akan tahu nanti. Bersiap-siaplah segera!"
Dengan kasar Akram beranjak dari duduknya dan melangkah dengan garang menaiki tangga menuju ke kamarnya. Lelaki itu lalu memasuki kamarnya dan membanting pintunya dengan kasar hingga panel-panel pintu bergetar bersamaan dengan bunyi suara kerasnya.
Elana masih terpaku beberapa lama di sofa, menatap ke atas sementara kebingungan masih melingkupi dirinya.
Apa yang terjadi dengan Akram Night? Semalam lelaki itu bertingkah lembut dan baik, tetapi hari ini dia marah-marah tanpa sebab yang jelas....
Apa jangan-jangan laki-laki juga memiliki masalah lonjakan hormon seperti kaum wanita yang mengalami pre menstruasi syndrome sehingga mereka terkadang bisa marah-marah tanpa sebab?
Elana menghela napas panjang, tak urung dia bangkit juga dari sofa dan melipat selimut tebal yang semalam pastilah diselimutkan oleh Akram ke tubuhnya. Setelahnya, sambil memeluk selimut itu di tangannya, Elana berjalan tersaruk-saruk menaiki tangga dan masuk ke kamarnya untuk mandi serta bersiap-siap sesuai dengan perintah Akram.
Di dalam kamarnya, Akram tengah duduk di tepi ranjang setelah meminum obat penenang yang diberikan oleh Nathan kepadanya untuk diminum ketika serangan panik menyerangnya.
Hatinya masih bergemuruh sementara napasnya tersengal tak terkendali ketika dia membungkukkan tubuh dan menyangga kepala dengan kedua tangannya yang berbantalkan siku di atas lututnya.
Tangan Akram bergerak untuk mengusap wajahnya sementara dia menghitung aliran napasnya dalam hati, menenangkan diri dalam setiap helaan dan hembusan napas seperti yang telah diajarkan oleh Nathan kepadanya, sebagai cara untuk menenangkan diri sendiri di saat dia mendapatkan serangan.
Kalimat Xavier di telepon tadi begitu menghantui dirinya, menciptakan rasa menggelegak tak terperi yang mencampuradukkan perasaannya. Bayangan akan Elana yang memalingkan muka dan berjalan menjauhinya, melarikan diri darinya tanpa berusaha menoleh untuk kedua kali, benar-benar membuatnya hampir meledak dalam kemurkaan.
Elana tidak boleh meninggalkannya! Tempat perempuan itu adalah di sisinya apapun yang terjadi. Dan Akram akan melakukan segalanya untuk menjaga perempuan itu di bawah kuasanya, bahkan ketika dia harus bermain kotor sekalipun.
__ADS_1
"Kita akan kemana?" Elana bertanya perlahan dengan nada hati-hati ketika supir mengarahkan mobil keluar dari pusat kota dan melaju ke jalur besar yang mengarah ke pinggiran kota.
Sayangnya, Akram memilih mengabaikan pertanyaannya. Lelaki itu malah sibuk dengan layar digital di tangannya, membuat Elana merasa malu hingga akhirnya mengalihkan kepala untuk menatap pemandangan ke luar jendela mobil.
Elana belum pernah melalui jalur ini sebelumnya, tetapi dia tahu bahwa jalur yang dipenuhi dengan pepohonan pinus nan indah di kiri dan kanannya ini, adalah jalur yang mengarah ke area pegunungan nan sejuk di pinggiran kota.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan melalui jalur pinggiran kota, mobil akhirnya berbelok ke jalan khusus yang lebih lengang daripada sebelumnya. Mereka tidak melewati jalur perkampungan biasa melainkan melalui jalan khusus dengan gerbang besar di area depan, memasuki kawasan yang sangat luas dimana orang-orang kaya di negara ini memiliki villa dan rumah-rumah megah yang dibangun di jalur-jalur perbukitan nan sejuk serta dipenuhi pepohonan nan rindang.
Elana memang mendengar ada kawasan di kota penyangga yang dibangun sebagai kawasan elite untuk orang-orang kaya agar bisa menghabiskan liburan mereka dan beristirahat setiap akhir pekan guna menjauhkan diri dari hiruk pikuk kesibukan perkotaan. Tetapi, baru kali inilah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa indahnya jalur memasuki area elite ini. Sebuah jalan perbukitan berkelok dengan pohon pinus, nuansa alami dan dihiasi oleh kabut putih yang mengambang di udara layaknya permen kapas yang baru dibuat.
Mobil yang mereka kendarai akhirnya memasuki gerbang besar yang berpenjagaan khusus di pintunya. Elana sendiri langsung menyadari bahwa penjaga gerbang itu mengenakan pakaian jas hitam yang khas sama seperti anak buah Akram.
Apakah ini adalah gerbang menuju salah satu villa berlibur milik Akram?
Para penjaga gerbang tampak membungkuk hormat ketika mengetahui siapa yang ada di dalam mobil lalu membiarkan pintu gerbang terbuka secara otomatis untuk memberi jalan bagi mobil majikan mereka memasuki jalur menuju rumah besar serupa villa yang ada di dalamnya.
.
Banguman villa itu cukup megah dan terawat, berlantai dua dengan pilar-pilar kokoh berwarna putih yang menghiasi bagian depannya. Pepohonan yang rimbun mengelilingi villa dan memberikan keteduhan, menciptkan nuansa segar yang menyenangkan yang melingkupi keseluruhan bangunan tersebut.
Akram memerintahkan supir untuk menghentikan mobil di sisi jalur masuk nan teduh, tetapi sama sekali tidak bergerak untuk keluar dari mobil.
Lama kemudian, Akram masihlah tetap bungkam dalam keheningan di kabin kursi penumpang itu, seolah menunggu sesuatu. Sehingga, setelah tak tahan didera oleh rasa ingin tahu dalam kediaman yang misterius, Elana memutuskan untuk bertanya kepada Akram kenapa mereka berdiam di dalam mobil dan hanya menunggu saja.
Tetapi, ketika Elana membuka mulutnya untuk bertanya, sebuah gerakan terlintas di sudut matanya dan membuat perhatiannya teralihkan. Dia menolehkan kepala ke arah kaca jendela mobil yang gelap untuk melihat dengan jelas sumber gerakan itu dan matanya langsung melebar karena mengenali sosok yang direfleksikan oleh pandangan matanya tersebut.
Elios?
Sosok berkaca mata itu sudah pasti Elios. Meskipun Elana melihat dari jarak agak jauh dan dibatasi oleh kaca mobil nan gelap, dia sudah tentu tak mungkin salah mengenali sosok Elios.
Dilihatnya Elios saat itu tak sendirian, dia ditemani oleh seorang anak laki-laki yang mungkin berusia sekitar sepuluh tahunan yang tampaknya sedang bercerita dengan begitu bersemangat kepada Elios. Hubungan keduanya tampak baik, karena beberapa kali Elios tertawa mendengar cerita anak lelaki itu, dan mereka juga tertawa bersama-sama ketika Elios seolah mengatakan sesuatu yang lucu untuk membalas perkataan anak itu.
Elana menyipitkan mata dalam usahanya untuk melihat dengan jelas, sementara jantungnya berdesir dengan suatu rasa aneh ketika dia memandangi anak lelaki yang sedang bersama Elios itu. Anak itu terlihat asing, tetapi entah kenapa terasa familiar.
Apakah jangan-jangan... Elana pernah melihat anak itu di suatu tempat tetapi melupakannya? Apa hubungan anak itu dengan Elios? Mungkinkah jangan-jangan Elios ternyata sudah mempunyai anak?
"Namanya Nolan. Usianya sepuluh tahun. Aku mengambilnya dari panti asuhan. Sejak saat itu dia tinggal di tempat ini. Aku menjadi wali resminya dan aku menugaskan Elios untuk bertanggung jawab sebagai perpanjangan tanganku atas segala kebutuhan anak itu, termasuk juga kesehatan dan pendidikannya." Akram tiba-tiba berucap di belakangnya, membuat Elana berjingkat karena kaget.
Dia menolehkan kepala ke arah Akram dan baru menyadari bahwa dirinya begitu tertarik dengan keberadaan anak itu hingga tanpa sadar telah memutar tubuhnya hingga menghadap ke jendela sepenuhnya dan mengabaikan Akram.
"Nolan...," Elana mengulang nama yang diberitahukan oleh Akram kepadanya dan entah kenapa ingin menghapalnya. Kembali disandarkannya tubuhnya ke kursi penumpang mobil di sebelah Akram, sementara tatapannya tampak sangat berhati-hati, tak mau menyinggung Akram yang tampak begitu muram tak terperi. "Dia.... dia anak angkatmu?" tanyanya kemudian berusaha memastikan.
Akram menganggukkan kepala perlahan, sementara tatapan matanya menusuk ke arah Elana dengan bibir menipis seolah menahan marah.
Elana mengawasi Akram sejenak, lalu mengawasi anak itu dan tanpa bisa ditahan dia kembali mengawasi Akram diam-diam.
Akram bukanlah tipikal seseorang penuh kasih sayang melankolis yang akan mengangkat seorang anak laki-laki secara pribadi untuk kemudian membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Entah kenapa Elana tahu bahwa Akram adalah tipe yang akan memilih memberikan sumbangan luar biasa besar ke panti asuhan sebagai bentuk amalnya, daripada mengangkat satu orang anak secara khusus.
Kalau begitu, kenapa Akram mengadopsi Nolan sebagai anak angkatnya? Apakah jangan-jangan....
Entah wajah Elana yang mudah terbaca bagaikan buku yang terbuka, entah mungkin karena tatapan Elana yang penuh tuduhan. Yang pasti, ekspresi Akram berubah masam ketika dirinya seolah bisa membaca imajinasi liar yang bergulir di benak Elana.
"Tidak. Nolan bukanlah anak haramku. Aku tidak punya satupun anak haram karena aku tidak akan bertindak serampangan dengan menebar benih tanpa tanggung jawab pada perempuan manapun," Akram menggeram tanpa menyembunyikan ketersinggungannya, lalu tiba-tiba melemparkan seberkas amplop cokelat ke Elana.
__ADS_1
Elana menunduk menatap amplop cokelat di pangkuannya, lalu mendongakkan kepala kembali ke arah Akram dengan ragu.
Dari pengalamannya yang terakhir, ketika Akram memintanya membaca sebentuk berkas yang misterius, isinya adalah sesuatu yang menciptakan trauma tersendiri di dalam jiwanya. Karena itulah, Elana hanya memegang berkas di pangkuannya dan meragu diam tanpa berani membukanya.
Akram melirik ke arah Elana dengan tak sabar, lalu menunjuk ke arah berkas di pangkuan Elana dengan sikap tegas.
"Buka dan bacalah," perintah Akram tak kalah tegas.
Elana menatap berkas itu lagi, lalu menelan ludah dan menggerakkan tangannya untuk membuka berkas tersebut karena tahu bahwa dia tak punya pilihan lain.
Isi berkas tersebut hanyalah satu lembar kertas saja dan Elana menariknya keluar dari amplop untuk membacanya lebih jelas di bawah sinar matahari.
Dahinya langsung berkerut ketiika membaca tulisan berukuran besar yang menjadi judul dari berkas tersebut.
Tertulis di sana bahwa ini adalah hasil dari test Deoxyribo Nucleic Acid atau yang biasa disebut sebagai test DNA. Yang lebih aneh lagi, di dalam test DNA itu tercantum sampel atas namanya yang dibandingkan dengan sampel atas nama Nolan.
Jantung Elana berdebar ketika membaca hasil akhir test tersebut. Dinyatakan bahwa dari pemindaian jejak profil genetik marker pada bagian mitochondria yang merupakan jejak genetik yang diturunkan dari garis ibu, jelas menunjukkan hasil akurat bahwa mereka berdua, Elana dan Nolan, berasal dari ibu biologis yang sama.
Elana ternganga dan memandang tak percaya ke arah berkas di tangannya. Dibacanya berulang-ulang hasil test DNA itu untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Berasal dari ibu biologis yang sama? Jadi... jadi... mereka bersaudara? Nolan adalah adiknya?
Didorong oleh naluri impulsif, Elana langsung bergerak membuka pintu mobil, ingin memastikan kebenaran informasi itu dengan mata kepalanya sendiri dan ingin melihat lebih dekat. Dilihatnya Elios telah membimbing Nolan untuk memasuki pintu villa yang kemudian tertutup rapat. Elana ingin mengejar tetapi pintu mobil itu terkunci dan tak bisa dibuka, membuat dirinya dengan panik langsung menolehkan kepala ke arah Akram untuk meminta pertolongan.
Sayangnya, bukanlah pertolongan yang didapat oleh Elana, melainkan sikap dingin bergurat kekejaman yang memberdirikan bulu kuduknya.
"Siapa yang bilang kau boleh keluar dari mobil dan menemui anak itu?" Akram mendesis dari kertak giginya, membisikkan ancaman menyeramkan.
Elana menelan ludah, menatap Akram dengan bingung sementara lidahnya kelu, kesulitan merangkai kata.
"A...Akram...kau....kau menemukan adikku, bagaimana bisa? Ba.. bagaimana dengan ibuku? Dengan keluargaku? Dengan asal usulku?" tiba-tiba, pertanyaan bertubi-tubi yang membanjiri otak Elana langsung meluncur dari mulutnya. Kedua tangan Elana saling berjalinan dan meremas dengan gugup, seolah-olah menyadari bahwa saat ini, dirinya berada di bawah belas kasihan Akram. "Apakah.... apakah aku boleh... menemui adikku?" mohonnya dengan nada terbata, hanya bisa berharap Akram memberikan izin tanpa mempersulitnya.
Tapi, Akram bergeming di sana. Ekspresinya bahkan semakin tak terbaca, begitu dingin dan muram, dipenuhi percikan kekejaman yang entah kenapa mengingatkan Elana pada pertemuan pertamanya dengan Akram di saat lelaki itu tengah menghajar anak buahnya yang berkhianat.
Ekspresi Akram.... hampir sama dengan saat ini, seolah lelaki itu dipenuhi amarah dan rasa terkhianati.Tetapi, kenapa Akram bersikap seperti itu? Apa yang menyebabkan kemarahan lelaki itu tersulut sampai sedemikian besarnya?
Sambil tetap mengawasi Elana dengan tajam, bibir Akram membuka, memberi penjelasan dengan nada tak bersahabat.
"Setelah membuang dirimu yang masih bayi di panti asuhan, ibumu menjalani hidupnya dengan bahagia, dia melupakanmu lalu menikah dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirimu. Mereka lalu memiliki Nolan sebagai anak pertama mereka. Sayangnya, suami ibumu tak berumur panjang, begitupun dengan ibumu yang kehilangan nyawa di saat Nolan masih kecil, meninggalkan Nolan sebatang kara karena tidak ada keluarga dekat dari pihak ibumu dan ayahnya. Karena itulah, Nolan berakhir di panti asuhan, sama seperti dirimu,"
Mata Elana tampak berkaca-kaca mendengar penjelasan Akram. Test DNA itu sebenarnya sudah bisa menjadi bukti nyata tak terbantahkan, tetapi di luar test DNA tersebut, penjelasan Akram seolah menjadi bukti penutup yang paling meyakinkan, membuat Elana tanpa perlawanan langsung mempercayainya.
Elana tidak memikirkan tentang ibunya yang membuangnya di panti asuhan. Dia bahkan tidak terdorong untuk bertanya-tanya mengenai itu. Dirinya yakin, bahwa sang ibu di masa lampau memiliki alasan sendiri untuk membuangnya dan Elana sama sekali tidak memiliki rasa benci atau dendam terhadap apa telah dilakukan ibunya kepadanya di masa lalu.
Mungkin takdir dirinya dan ibunya memang sudah ditentukan untuk tidak akan pernah bersinggungan di dunia ini hingga Elana lapang dada menerimanya.
Tetapi ... jika menyangkut Nolan, tentu semua berbeda adanya. Adiknya itu masih hidup, sehat, dengan darah dan daging yang hidup dan nyawa yang mengaliri tubuhnya.
Elana mengerjapkan mata dan mengembuskan napas berkali-kali guna mengatur kebahagian tak terperi yang membuncah di dadanya. Sebagai seorang perempuan yang hidup sebatang kara tanpa sanak saudara dalam hidupnya, kenyataan bahwa dia memiliki seorang adik, tentu saja menjadi sebentuk keajaiban yang begitu menyenangkan.
Dia punya seorang adik... dia punya seorang adik!
Elana mengulang-ulang kalimat itu dalam kepalanya, sementara hatinya berpesta pora oleh rasa takjub bercampur bahagia.
Sayangnya, kebahagiaannya tak berlangsung lama, sebab Akram dengan kejam langsung menghancurkannya tanpa ampun.
"Akankah kau berencana meninggalkanku, Elana?" geram Akram perlahan layaknya singa lapar yang menanti kesempatan untuk menerkam mangsa. "Karena jika kau sampai melakukannya, aku akan menghabisi nyawa adikmu bahkan sebelum kau sempat bertemu dengannya dan mengungkapkan kebenaran tentang persaudaraan kalian berdua.'
__ADS_1