Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 19 : Aaron Dawn


__ADS_3


Eps 5/6


***


"Aku... aku tidak ingin datang ke tempat ini."


Seiring dengan mobil itu yang melaju cepat menaiki tanjakan dan hendak mengakhirinya di tikungan, Sera akhirnya tak mampu menahan lagi debaran yang menyesakkan dadanya. Dia menelan harga dirinya, menengadahkan kepala dan menatap dengan tatapan kalah.


"K-kumohon.... aku tak ingin datang ke tempat ini."


Sayangnya, belas kasihan bukanlah bagian dari diri Xavier. Xavier tidak akan bisa berdiri kuat saat ini tanpa terluka suatu apapun jika dia mudah luluh dengan belas kasihan. Jadi, meskipun saat ini Sera menatap dengan mata polos lebarnya yang tampak sangat menyedihkan, hati Xavier tetap tak tergoyahkan. Lelaki itu malah menyeringai, menatap Sera seperti orang dewasa yang sedang memarahi anak kecil yang nakal.


"Kau harus membebaskan diri dari keluarga busuk ini dan bukannya melarikan diri, Sera." Xavier mengatakan apa yang ada di benaknya dengan gamblang. "Aku sudah bilang, bahwa aku akan membebaskanmu, dengan begitu aku akan membebaskan diriku sendiri. Jadi, ketika aku berniat melakukan sapu bersih, maka tak akan ada yang bisa menghentikanku."


"Sapu bersih?" Sera membelalakkan mata cantiknya yang lebar. Ketakutan merayapi dirinya ketika membayangkan akan seperti apakah 'sapu bersih' yang dimaksudkan oleh Xavier itu.


"K-kau akan membunuh seluruh keluarga Dawn?" pekiknya ngeri.


Mata Xavier berkilat keji. "Apakah kau berpikir aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk memberi salam kepada Roman Dawn? Kau pasti tahu lebih baik dari itu, Sera." Xavier mengeluarkan tabung kaca kecil dari balik jasnya kemudian mengambil kapsul berwarna putih bersih. Lalu, sebelum Sera bisa menolaknya, lelaki itu meraih tangan mungilnya dan menggenggamkannya ke tangan Sera. "Minumlah ini sebelum kita memasuki rumah keluarga Dawn," perintah Xavier dengan nada tenang.


Sera membuka telapak tangannya dan keningnya berkerut melihat kapsul tak dikenal itu. Segera dia menengadah kembali dan menatap Xavier dengan curiga.


"Kau selalu menyuruhku meminum berbagai macam obat... apakah kau memang sengaja ingin meracuni dan membunuhku pelan-pelan?" tanyanya menuduh.


Xavier terkekeh. "Bodoh. Jika aku memang ingin membunuhmu, maka aku tak akan melakukannya pelan-pelan." Suara Xavier berubah serius ketika menyambung kalimatnya. "Itu adalah penawar racun yang akan menyelamatkan nyawamu nanti."


Sera benar-benar terperanjat ketika menyerukan pertanyaannya, "Penawar racun? Kau memberiku penawar dari racun yang telah kau suntikkan diam-diam ke tubuhku? Apakah itu artinya, kau membebaskanku? Tapi... tapi kenapa?" Mata Sera melirik ke arah kapsul putih di tangannya. Sama sekali tak dibayangkannya bahwa penawar dari racunnya itu ternyata hanya berbentuk bulatan kapsul cukup sederhana seperti ini.


Xavier menipiskan bibir penuh ironi. "Jangan bermimpi Sera, ini bukan penawar racun yang itu." Perlahan, Xavier memutar sedikit posisi duduknya ke arah Sera. "Kau pikir apa yang kubawa jauh-jauh dalam kotak hitam di pesawat tadI?"


Pertanyaan yang dialihkan itu membuat Sera bingung. Tetapi, tak urung dia menjawab juga,


"Apakah itu berisi senjata atau racun?" tanyanya menebak.


Xavier memiringkan kepala. "Hampir benar. Aku tak memerlukan senjata karena Dimitri memasok semuanya untuk kepentinganku di negara ini. Kotak hitam itu berisi gas beracun."


"Gas beracun?" Sera kembali bertanya. Entah mungkin karena kecerdasannya yang mulai mengental, saat ini Sera kesulitan menghubungkan korelasi antara gas beracun dengan pembahasan mereka sebelumnya.


Xavier sendiri malahan tampak puas telah berhasil menggiring opini Sera hingga mendekati kesimpulan.


"Ya. Gas beracun. Dan kapsul yang kuberikan kepadamu, adalah penawarnya. Seluruh anak buahku juga sudah meminumnya. Jadi, jika mereka terpapar gas beracun, mereka akan kebal terhadap imbasnya."


Kengerian merayapi wajah Sera. "Kau... hendak melakukan 'sapu bersih' terhadap keluarga Dawn dengan menggunakan gas beracun?" serunya kaget.


Xavier tampak tak terpengaruh dengan syok yang mengguncang kepala Sera, lelaki itu malah menyunggingkan senyum puas penuh kebanggaan.


"Aku sedang mengembangkan metode baru racun biologis, bukan dalam bentuk cairan untuk diinjeksi, bukan dalam bentuk padat untuk diminum. Gas beracun ini adalah mahakaryaku yang terbaru. Bukan gas beracun biasa. Gas ini, jika terhirup oleh korbannya, akan menghancurkan sel syaraf di seluruh tubuh, dan dalam beberapa waktu, mampu membunuh korbannya. Hampir tidak akan ada yang selamat dari gas beracun ciptaanku, kecuali kalian yang telah meminum penawar terlebih dahulu sebelum terpapar gas." Xavier menyiratkan nafsu membunuh kental dalam suaranya. "Tidakkah keluarga Dawn harusnya bersyukur? Aku memberikan kehormatan kepada mereka untuk menjadi yang pertama yang bisa mencicipi gas racunku."


Bersyukur karena dijadikan percobaan pertama kali atas racun yang mengerikan? Hanya orang gila yang akan berpikir seperti itu!


Suara pikiran Sera menggema keras dan memantul dalam tempurung kepalanya. Tetapi, dengan bijaksana, Sera tak menyuarakannya. Seberapa pun besar Sera ingin menentang Xavier, saat ini dia tahu bahwa Xavier sedang dipenuhi oleh nafsu membunuh yang mengerikan dan lebih baik Sera tak menambahkan provokasi yang bisa memancing Xavier mengambil tindakan jauh lebih keji daripada apa yang sedang direncanakannya sekarang.


"Kenapa kau kelihatan tidak senang?"


Suara Xavier yang bertanya memecah lamunan Sera yang mencekam. Perlu waktu beberapa lama bagi Sera untuk mencerna pertanyaan Xavier, sebelum kemudian dia menjawab dengan nada lugas.


"K-kau akan membunuh orang. Bagaimana mungkin aku bisa senang?"


"Mereka yang akan kubunuh adalah mereka yang saat ini membuat hidupmu seperti berada di dalam neraka. Harusnya kau bertepuk tangan dan berterima kasih kepadaku," Xavier menunduk, mengamati Sera dengan saksama. "Apakah kau lagi-lagi sedang menerapkan standar ganda, Sera? Kau datang kepadaku untuk membalas dendam karena menurutmu aku pantas mati akibat perbuatanku di masa lampau. Tetapi, kau tak menerapkan nilai yang sama untuk Keluarga Dawn?" berondong Xavier kemudian dengan pertanyaan menyelidik.


"Bukan begitu!" Sera langsung menyanggah, hampir kehilangan kendali atas emosinya. "Aku tahu... berdasarkan kekejaman yang mereka lakukan, mereka memang pantas mati. Tetapi, bukan berarti aku...,"

__ADS_1


"Apakah kau jangan-jangan adalah seorang masokis yang senang disiksa dan bahkan jatuh cinta pada penyiksamu?" sela Xavier dengan nada mengejek.


"Aku tidak begitu!" Sera membantah keras. "Maksudku... aku..."


Mobil itu tiba-tiba berhenti, membuat kalimat yang menggantung di ujung bibir Sera tertahan dan tak jadi disemburkan.


"Minum obat penawarmu. Kita akan segera melepaskan gas racun itu setelah aku selesai berbasa-basi dan mengucapkan salam kepada Roman Dawn dan keluarganya."


Perhatian Xavier teralihkan, fokusnya langsung berubah arah pada apa yang akan dihadapinya. Lelaki itu kehilangan pengawasannya hingga tak menyadari perubahan pada wajah Sera yang dilanda ketakutan.


Sera menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia takut dicurigai... Dia memikirkan Aaron... ya, Aaron pasti saat ini sedang berada di dalam rumah itu bersama dengan Roman Dawn, sebab sudah menjadi tugas Aaron untuk mendampingi Roman, karena dia adalah asisten pribadinya.


Xavier benar, Sera mungkin menginginkan seluruh keluarga Dawn untuk menemui ajalnya di tangan Xavier. Tetapi... tidak dengan Aaron. Sera tidak ingin Aaron mati.


Aaron Dawn adalah keponakan dari garis keturunan Roman Dawn yang berasal dari keluarga tidak mampu dan yatim piatu. Lelaki itu lalu diangkat sebagai anak, dibesarkan, disekolahkan dan dididik untuk menjadi penerusnya setelah Roman kehilangan penerus keturunannya.


Bisa dibilang kalau Aaron dan Sera, bernasib sama, keduanya sama-sama masuk ke dalam keluarga Dawn karena kematian Anastasia. Tetapi, mereka diperlakukan dengan berbeda. Ketika Sera diperlakukan dengan kejam dan penuh siksaan, hanya sebagai alat untuk membalas dendam, Aaron dibesarkan layaknya tuan muda pewaris yang menghabiskan banyak waktunya dengan berbagai guru les dan totor untuk mempersiapkan dirinya menjadi penerus keluarga Dawn nantinya.


Meskipun begitu, hanya Aaronlah yang memperlakukan Sera dengan baik dan tulus di dalam rumah siksaan itu. Mereka bersahabat sejak lama, dan saling mendukung. Atau mungkin bisa dibilang bahwa Aaronlah yang mendukung Sera untuk bertahan sampai detik ini. Lelaki itu selalu menyelundupkan obat untuk punggung Sera yang penuh bilur setelah dicambuki oleh Samantha Dawn sebagai pelampiasan nafsunya. Aaron juga sering membawakan makanan diam-diam untuk Sera ketika Sera sedang berada dalam masa hukuman dan tak boleh makan. Sementara bagi Aaron, Sera adalah satu-satunya teman sebaya di rumah itu yang bisa menjadi rekan bercerita dan saling menguatkan.


Aaron adalah satu-satunya tangan yang bisa Sera genggam di saat dirinya terpuruk jatuh. Lelaki itu jugalah yang menjadi pengikat tak kasat mata dirinya dengan Keluarga Dawn. Bagi Sera, Aaron sama pentingnya seperti keluarganya.


Dan satu-satunya alasan kenapa Aaron lolos dari perhatian Xavier sekarang, adalah karena Roman merahasiakan kenyataan bahwa Aaron adalah anak angkat dan calon penerusnya. Di mata semua orang, Aaron hanyalah salah satu asisten tak penting dan tak menonjol dari Roman Dawn. Bahkan bisa dibilang merangkap sebagai pelayan pribadinya yang selalu mengekor Roman Dawn kemana-mana.


Dan sekarang, di tengah 'sapu bersih' yang dicanangkan oleh Xavier, Sera gemetar kebingungan, memikirkan bagaimana caranya dia bisa menyelamatkan Aaron.



Aaron Dawn membaca berita yang dikirimkan oleh orang-orang suruhannya dan mengerutkan kening.


Saat ini, dia sedang berdiri di depan jendela ruang perpustakaan yang terletak di lantai megah kastil besar yang dulunya merupakan salah satu tempat peristirahatan keluarga Dawn dan sekarang telah beralih fungsi menjadi rumah tinggal selama bertahun-tahun lamanya.


Bagi Aaron sendiri, kastil ini adalah rumahnya, karena kehidupannya mulai berputar balik setelah dia diangkat anak oleh Roman Dawn yang merupakan paman jauhnya, lalu dibesarkan dengan baik untuk menjadi penerusnya di kastil besar ini.


Tetapi, ada satu hal yang selalu mengganjal pikirannya dan membuatnya cemas. Itu adalah tentang Sera. Aaron sesungguhnya sama sekali tidak setuju dengan cara Roman dan Samantha Dawn memperlakukan Sera selama ini, apalagi ketika Roman Dawn memutuskan bahwa Sera sudah siap, kemudian mengirimnya langsung untuk menusuk masuk ke lingkar dalam di garis pertahanan Xavier untuk menjalankan misi balas dendamnya.


Mereka semua mengabaikan kondisi psikologis Sera selama ini... mereka bahkan tidak peduli bahwa Sera menyimpan ketakutan pada Xavier Light lebih dari siapapun.


Karena kecemasannya itulah, Aaron akhirnya melanggar perintah Roman dan diam-diam membayar orang untuk mengawasi Sera dari jarak jauh lalu melaporkan kepadanya. Aaron melakukan itu semua dengan mengabaikan resiko kalau sampai dia ketahuan, Roman Dawn akan marah besar kepadanya.


Saat ini kecemasan semakin mengendap di dalam benak Aaron, karena dia baru mendapat laporan bahwa sejak rumah Sera terbakar habis dalam insiden beberapa hari lalu, jejak Sera seolah hilang ditelan bumi.


Apa yang terjadi pada Sera? Jelas-jelas tak ada mayat dalam insiden kebakaran itu. Apakah Sera diculik? Jika itu yang terjadi, apakah Xavier Light terlibat dalam hal ini?


Aaron memijit pangkal hidungnya yang mulai berdenyut nyeri ketika pikiran-pikiran buruk mulai menyerangnya.


Dia tak pernah menyetujui rencana Roman untuk melakukan pembalasan dendam kepada Xavier Light dengan menggunakan Sera. Xavier Light terlalu berbahaya, sementara Sera terlalu rapuh. Kalau sudah begini....


Pergerakan dari pemandangan gerbang dan jalur masuk menuju pintu utama kastil menarik perhatian Aaron dan mengalihkannya dari lamunan. Mata Aaron terpaku ketika melihat iring-iringan mobil hitam yang memasuki gerbang tanpa perlawanan, tampak begitu kontras dengan hamparan salju putih yang menutupi jalanan serta pucuk-pucuk pohon pinus di bawah sana.


Ada tamu yang datang?


Jika benar, maka itu adalah tamu tak diundang. Aaron susah memeriksa jadwal Roman pagi ini, dan Roman tidak menerima tamu karena pamannya itu memutuskan untuk bekerja dari rumah mengingat kondisi kesehatannya menurun karena terserang flu berat. Bahkan, pagi-pagi sekali tadi, Samantha Dawn memilih menjauh dari suaminya dan mengungsi di hotel supaya tidak tertular flu. Bibinya itu terlalu mementingkan diri sendiri dan bahkan tak mau repot-repot mengurus suaminya yang sedang sakit.


Mata Aaron menatap waspada ke arah mobil yang berhenti tepat di bawah jendela tempatnya berdiri saat ini. Pintu mobil itu terbuka dan detak jantungnya seakan dihentikan paksa ketika melihat siapa sosok yang turun dari mobil tersebut.


Xavier Light?


Aaron sampai menempelkan kedua telapak tangannya ke kaca dalam usahanya untuk memastikan dan melihat lebih jelas. Ya, dia tak mungkin salah. Sama seperti Sera, dirinya juga dicekoki selama bertahun-tahun dengan gambar dan berita-berita mengenai Xavier Light oleh Roman Dawn. Lagipula, ketampanan yang bisa dibilang tak manusiawi itu, mungkin hanya bisa dimiliki oleh Xavier Light di dunia ini.


Lalu, seolah kedatangan Xavier Light belum cukup mengejutkan, Aaron melihat lelaki itu mengulurkan tangannya ke bagian kursi penumpang mobil, seolah hendak membantu orang lain turun dari sana.


Ketika tampak tangan rapuh menyambut uluran tangan itu, dan sosok mungil yang begitu familiar turun dari sana, mata Aaron membelalak lebar karena syok.

__ADS_1


Sera!


Segera Aaron melenting menjauh dari jendela, membalikkan tubuh dan berlari menuruni tangga, hendak menuju kepada Roman Dawn yang sedang berada di ruang belajarnya di lantai satu.



Roman Dawn terbatuk-batuk lagi. Batuk ini sangat menyiksa hingga pagi ini dia bangun dengan perut kram yang terasa sangat sakit. Flu yang melandanya melibas pertahanan tubuhnya dengan cepat, bukan hanya membuatnya pusing dengan hidung berair yang sangat tidak nyaman, tapi juga berbonus batuk yang menyakitkan.


Tubuh tuanya mungkin sudah tak sanggup menghadapi musim dingin di Rusia yang sangat berat, hingga ujungnya sistem imunnya kewalahan ketika diserang virus. Akhirnya, karena rasa sakit yang mendera tubuhnya tak kunjung reda, hari ini dia memutuskan untuk beristirahat saja di rumah, dirawat oleh para pelayan karena istrinya langsung kabur pagi-pagi buta untuk tinggal di hotel karena takut tertular.


Suara langkah berderap yang mengganggu tiba-tiba terdengar dari luar ruang belajar tempatnya setengah berbaring di sofa, membuat Roman Dawn mengerutkan kening. Pagi ini diawali dengan keheningan yang menyenangkan hingga Roman sempat tidur dengan nyaman hingga matahari melampaui setengah lingkar perlintasannya, lalu tiba-tiba ada keributan yang tak diharapkan....


Firasat buruk tiba-tiba melanda diri Roman, dia berusaha bangkit dari duduknya hendak melangkah ke pintu ketika mendadak pintu ruang kerjanya terbanting terbuka dengan kerasnya.


Aaron tampak terengah di ambang pintu, menghampiri Roman yang masih terhuyung dengan panik.


"Kita harus segera pergi dari sini, paman!" serunya. Meskipun Aaron telah diangkat secara resmi sebagai anak angkatnya, Roman Dawn tak pernah mengizinkan Aaron memanggilnya dengan sebutan ayah. Roman hanya mengizinkannya memanggil dengan sebutan 'paman' sesuai dengan hubungan kekerabatan mereka.


Roman Dawn terbatuk-batuk lagi, begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Aaron firasat buruknya mengental dan dia merasakan jantungnya berdebar kencang.


"Apa yang terjadi?" tanyanya waspada, mulai dilanda rasa panik yang merayapi pembuluh darahnya.


"Xavier Light datang membawa banyak anak buahnya. Mereka semua sedang mengumpulkan para pelayan dan mengusir semuanya pergi dari sini. Saat ini Xavier sedang menuju kemari dan...,"


Suara panik Aaron terhenti ketika ada suara berdehem disengaja yang terdengar dari belakang punggungnya. Baik Aaron dan Roman sama-sama menoleh, dan mata mereka langsung terpaku pada sosok Xavier yang tersenyum lebar di ambang pintu.


"Paman?" Xavier yang tampak luar biasa ceria tersungging berkilauan di sana. Lelaki itu menelusuri sosok Aaron dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan menilai. "Aku tak pernah tahu kalau Roman Dawn memiliki keponakan berusia dewasa, apakah mungkin... kau dipersiapkan secara rahasia untuk menjadi penerus Keluarga Dawn?" mata Xavier menyipit ketika mengucapkan pertanyaan retorikanya, sementara senyumnya berubah menjadi seringai keji. "Kalau begitu, kau harus tetap di sini untuk menemani pamanmu. Yang lain boleh pergi, tetapi demi memutus untaian dendam yang turun temurun, maka siapapun yang memiliki darah keluarga Dawn di tubuhnya, harus tinggal untuk mati."




 


___PRAKATA DARI AUTHOR____


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR


***


***


***


____DI MANA GAMBAR VISUALISASINYA?____


Buat yang nanya kenapa tidak ada gambar visualisasinya


jadi gini, untuk postingan tanpa gambar biasanya cepat lolos reviewnya bisa di hari yang sama


Untuk postingan yang ada gambarnya, lolos reviewnya lebih lama, bisa dua atau tiga hari atau lebih.


Karena mengejar postingan bisa lolos cepat, maka author post di sini dulu tanpa gambar, nanti kalau udah lolos review dan bisa dibaca oleh kalian semua, kira2 ngumpul lima part, baru author edit lagi dan ditambahkan gambar.


Jadi kalau mau lihat yang ada gambar, silahkan cek mundur episode 1 sd 15 EOTL, itu udah lengkap ada gambar visualisasinya. Coba cek ya buat yang ingin liat gambarnya yak.


Thank You. By AY

__ADS_1


__ADS_2