Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 15 : Kejutan


__ADS_3


"I will present myself as your gift. Feel free to devour me all whole night."


"Sepertinya Nona Michaela sengaja mengumumkan kedatangannya ke tempat ini, dia bahkan tidak repot-repot berusaha menghindari paparazzi dan malahan membiarkan mereka mengikutinya. Lobi kantor kita penuh dengan wartawan yang berkerumun. Petugas keamanan berhasil menahan mereka supaya tidak masuk lebih jauh, tetapi saya tidak yakin kita bisa menahan gosip dan spekulasi yang akan berkembang di media. Anda tahu... mereka sudah seperti burung nazar yang merubungi bangkai, apalagi sejak foto-foto Anda yang menghabiskan liburan akhir pekan bersama Nona Michaela tersebar beberapa waktu yang lalu." Elios menyambung tanpa bisa menyembunyikan nada jijik akan kelicikan Michaela.


Ekspresi Akram langsung berubah muram dan mengerikan ketika mendengar penjelasan panjang lebar yang diberikan Elios.


Jadi, Michaela, perempuan murahan dan licik itu berencana memaksa dirinya mengakui hubungan mereka dengan cara sengaja menarik para wartawan ke tempat ini. Perempuan itu tidak terima ketika Akram membatalkan janji mereka dan memutuskan untuk menempatkan Akram di situasi sulit. Akram tahu Michaela pasti histeris setengah mati ketika Akram membatalkan janjinya untuk menemani aktris itu di Selasa malam lalu, dan sekarang Michaela menunggu sampai akhir pekan tiba untuk melancarkan aksi pembalasannya.


Gosip hubungan mereka sudah terhembus sejak tersebarnya foto-foto liburan itu, meskipun begitu sikap diam Akram yang menolak memberikan klarifikasi berhasil meredakan gosip itu dengan sendirinya. Akram sendiri disebut-sebut sebagai bujangan paling diminati yang selalu tampil bergonta-ganti wanita sebelumnya. Jangankan aktris pemenang penghargaan seperti Michaela, dirinya bahkan pernah terlihat sedang berkencan dengan putri bangsawan eropa, model kelas dunia dan banyak lagi perempuan kelas atas lainnya.


Publik seharusnya melupakan hubungan Akram dengan Michaela secepatnya dan menganggap Michaela hanyalah satu dari perempuan beruntung yang berada di deretan wanita-wanita yang pernah dipacari Akram. Tetapi sekarang, dengan Michaela mendatangi kantornya terang-terangan di akhir pekan, membawa kerumunan wartawan pula, akan mengembangkan rumor baru yang akan dilahap para penggosip dengan rakusnya. Michaela sengaja ingin membuat hubungan gelap mereka terekspos dalam upayanya untuk memiliki Akram.


Akram menggertakkan gigi menahan amarah. Aktris bodoh dan arogan itu berpikir bahwa dia bisa menjebak Akram dan menjadikan Akram miliknya? Akram akan menunjukkan kepada Michaela betapa mengerikannya dirinya ketika memutuskan untuk menyerang balik.


"Aku akan menemui Michaela," Akram memutuskan dengan suara sedingin es.



Ketika Akram memasuki ruangan mewah yang khusus disediakan untuk ruang tunggu bagi para tamu VVIP yang memiliki janji temu dengannya, Michaela langsung berdiri dari duduknya dan menghambur ke arahnya.


"Akram! Aku sangat merindukanmu!" Michaela mengerling dan berbisik dengan suaranya yang mendesah penuh godaan. Perempuan itu mengenakan gaun mini ketat berwarna merah yang sangat seksi menempel di tubuhnya dan menampilkan begitu banyak kulitnya yang terbuka. Dengan gerakan tubuh yang berpengalaman dan menggoda, Michaela menggesekkan dadanya yang besar ke tubuh Akram, bergelayut manja kepadanya.


Akram melirik ke arah manajer Michaela yang berdiri dengan canggung di belakang, melemparkan pandangan penuh peringatan ke arahnya yang langsung dipahami oleh manajer malang itu. Dengan langkah tergesa, manajer itu bergerak pergi meninggalkan ruangan sambil terbungkuk-bungkuk menggumamkan ijin berpamitan.


Setelah pintu tertutup di belakangnya dan Akram hanya berdua di ruangan itu dengan Michaela, tangan Akram bergerak, mendorong kasar dan menjauhkan tubuh Michaela yang lengket seperti lem di dadanya.


Michaela memekik ketika langkah kakinya terdorong mundur menjauh dengan paksa. Perempuan itu sempat terhuyung kehilangan keseimbangan sebelum kemudian berpegangan pada punggung sofa di dekatnya. Bibirnya yang merah merona terbuka, menatap Akram dengan ekspresi memelas yang dibuat-buat.


"Akram? Kenapa kau mendorongku?" mata Michaela berkaca-kaca. "Aku datang kemari karena merindukanmu, aku bahkan tidak sakit hati ketika kau membatalkan janji kita sebelumnya, tetapi, kenapa kau bersikap kasar kepadaku?"


Akram memasang ekspresi jijik, sama sekali tidak tersentuh dengan kesenduan Michaela yang palsu. Di masa lampau, Akram memang menggunakan Michaela untuk selingan demi memuaskan nafsu jasmaninya. Dia menikmati perempuan itu, dengan tubuh indah terawat dan sikap memuja tergila-gila kepadanya, dan tidak keberatan memberikan sedikit waktu dan uangnya untuk dihabiskan bersama Michaela. Tentu saja semua itu dilakukan dalam balutan hubungan tanpa status, dengan tujuan untuk memuaskan nafsunya saja.


Tetapi, sepertinya Michaela menjadi besar kepala dan berpikir bahwa dia mampu menguasai hati Akram, serta lupa diri dan tidak menyadari betapa rendah posisinya di mata Akram.


Sekarang, setelah Akram merasakan berada dalam rengkuhan Elana, menikmati kesucian perempuan itu dimana tubuh Elena hanya pernah dijamah olehnya, mengenal kepolosan jiwa Elana yang memilih menolak dan membencinya tanpa silau oleh kesempurnaan fisik Akram maupun hartanya, barulah Akram melihat dengan jelas betapa palsu dan murahannya Michaela jika dibandingkan dengan Elana.


Michaela memang dibalut barang-barang kelas atas, dengan tampilan tubuh serta wajah hampir sempurnay ang memerlukan biaya perawatan luar biasa banyaknya. Tetapi, seekor ular biarpun dibungkus dengan intan permata, tetaplah seekor ular.


Akram tidak mau berbasa-basi, dengan cepat dia meletakkan tablet yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja.


Michaela memandang tablet itu dengan bingung, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Akram, matanya dipenuhi pertanyaan.


"Apa ini, Akram?"


"Bukalah." Akram menyahut datar.

__ADS_1


Michaela menelan ludah, entah kenapa sikap dingin Akram membuatnya merasakan firasat buruk yang memancing bulu kuduknya berdiri. Tapi tak urung, diraihnya tablet itu dan dibukanya dengan penasaran. Dan ketika matanya terarah pada tampilan gambar yang terpampang di layar, wajahnya berubah pucat. Jemarinya yang gemetar bergerak menggeser foto itu, dan matanya terbelalak ketika menemukan bahwa masih ada foto-foto yang lain yang tak kalah vulgarnya di sana.


Itu adalah foto-foto dirinya di atas ranjang, telanjang dalam kondisi paling memalukan dan sedang melakukan hubungan terlarang dengan seorang laki-laki yang sudah beristri dalam berbagai posisi vulgar. Michaela memang tak segan-segan menjual tubuhnya demi kepentingan karir, tetapi dia selalu berhati-hati menjaga image baiknya di mata publik sebagai selebritis lajang yang dipuja banyak orang.


Jika gambar-gambar ini sampai tersebar, maka image yang dijaganya selama ini akan hancur berantakan, begitu juga dengan karirnya. Tetapi.... tetapi darimana Akram mendapatkan akses untuk memperoleh foto-foto intim ini? Sebegitu besarkah kekuasaan Akram hingga lelaki di depannya ini bisa dengan mudah menguak rahasia busuk orang-orang yang ingin dihancurkannya?


"A... akram?" suara Michaela gemetaran dilanda syok yang amat dahsyat begitupun dengan tubuhnya. Kakinya tiba-tiba saja lemas, membuat tubuhnya terbanting tanpa daya ke atas sofa.


"Kau tentu masih ingat, bukan? Itu adalah foto-foto ketika kau mengumpankan tubuhmu kepada produser film yang sudah beristri demi mendapatkan peran di filmnya. Aku masih memiliki banyak foto-foto vulgar skandalmu dengan banyak pria lain di tanganku. Dan jika kau tidak ingin asistenku menyerahkan foto itu pada para wartawan yang berkumpul di bawah, kau harus angkat kaki dari tempat ini, menemui para wartawan di bawah sana dan menjelaskan bahwa kedatanganmu ke tempat ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Kau datang untuk menemui direktur pemasaranku dan menawarkan dirimu menjadi brand ambassador perusahaan kami, tetapi kami menolakmu karena kau dianggap tidak cukup kompeten untuk menjadi wajah perwakilan perusahaan kami." Akram berucap dengan suara menusuk, penuh ancaman yang menggetarkan nyali siapapun yang mendengarnya.


"Akram.... jangan lakukan ini padaku...setelah semua yang kita lakukan bersama. Kita bersenang-senang di atas ranjang, bukan? Apa kau sudah lupa?" Michaela mulai merengek tak terkendali. "Ampuni aku... aku hanya ingin bersamamu, Akram, aku mencintaimu! Kumohon! Kumohon... Akram!"


Akram mengibaskan tangannya, ekspresinya kali ini benar-benar gelap mengancam.


"Aku masih berbaik hati karena tidak menghancurkanmu sampai berkeping-keping untuk saat ini. Pergilah Michaela dan jangan pernah muncul di depanku lagi. Jika kau berani melanggar peringatanku, aku tak akan berpikir dua kali untuk menghancurkanmu. Kau mesti tahu bahwa bukan hanya kariermu saja yang bisa kupadamkan, jika kesabaranku habis, aku bisa mencabut nyawamu dengan mudah dan membuang mayat busukmu di selokan seperti sampah tak berharga."



Hujan badai sepertinya memilih datang di akhir pekan ini, meniupkan angin berderu yang menghempaskan dedaunan sampai bergoyang tiada henti. Pepohonan besar yang mengelilingi penjuru pulau ini pun tam kuasa menahan kekuatan badai, tampak meliuk-liuk, seolah diguncang paksa dari tempatnya berakar jauh di dalam tanah.


Malam ini, Elana menghabiskan waktunya seperti biasa, dalam kesendirian, duduk di sofa dekat jendela besar dan menatap langit malam yang menggelap di luar sana.


Hari-harinya di vila ini dipenuhi oleh rutinitas monoton tanpa jeda yang semakin lama semakin membuatnya terbiasa. Elana akan terbangun di pagi hari, mandi, memakan sarapan, lalu menghabiskan waktunya di perpustakaan besar yang menyimpan banyak sekali buku-buku berharga dengan berbagai judul menarik yang terletak di lantai dua vila ini.


Pelayan lalu akan mengantarkan makan siangnya pada jam yang tepat, dan setelah makan siang, Elana akan menghabiskan beberapa jam lagi di perpustakaan tanpa merasa bosan.


Satu-satunya yang disyukuri Elana berada di dalam vila ini adalah dia bisa menghabiskan waktunya di antara timbunan buku-buku berharga yang seolah tak ada habisnya untuk dinikmati. Ketika membaca, dirinya seolah terlepas dari dimensi ruang dan waktu, masuk ke dalam kisah buku dan melupakan segala kepedihannya di dunia nyata.


Ketika sore menjelang, Elana akan mandi dan pelayan akan membawakan makan malam ke kamarnya. Setelahnya, Elana akan berbaring sambil melanjutkan membaca lagi buku yang dibawanya ke kamar sampai tertidur, atau jika tidak, dia akan menyalakan televisi untuk menonton acara-acara menghibur yang bisa melarutkan kebosanannya.


Hari-harinya seharusnya berjalan seperti biasanya dan begitu hari ini tiba, seharusnya tidak ada yang berubah. Tetapi entah kenapa pikiran bawah sadar Elana menyadari bahwa hari ini berbeda.


Hari ini adalah hari jumat, yang berarti merupakan awal dari akhir pekan dimana Akram akan datang mengunjunginya, dan juga... hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Yah, mungkin hari ini bisa dikatakan bukan hari ulang tahunnya yang asli. Elana yakin bahwa tanggal ulang tahun yang diberikan pada identitasnya oleh pihak panti asuhan bukanlah hari ulang tahunnya yang sesungguhnya. Mungkin pihak panti asuhan memutuskan untuk mencantumkan tanggal dimana dia ditinggalkan di panti asuhan sebagai tanggal lahirnya untuk mengisi data formalitas kelahirannya. Elana adalah bayi yang dibuang di panti asuhan, tidak ada yang bisa memastikan kapan tepatnya Elana lahir ke dunia ini.


Tetapi, tetap saja bagi Elana, hari ulang tahunnya ini terasa istimewa baginya. Dahulu, dia selalu menghabiskan hari ulang tahunnya dengan perayaan sederhana di panti asuhan dengan adik-adiknya yang sama-sama yatim piatu dan tinggal di sana. Karena panti asuhannya adalah panti asuhan sederhana dengan pemasukan terbatas dan hanya menggantungkan diri dari kebaikan hati donatur, maka setiap perayaan ulang tahun anak-anak di sana termasuk Elana dirayakan dengan sederhana. Ibu kepala panti asuhan akan membuatkan kue bolu dengan bahan-bahan termurah yang akan dimakan bersama-sama setelah menyanyikan lagu ucapan selamat ulang tahun. Memang perayaannya tidak mewah, tetapi tetap saja menghangatkan hati karena semuanya berkumpul dengan doa tulus diselubungi kebahagiaan.


Ketika Elana keluar dari panti asuhan, dia pun merayakan ulang tahunnya di tempat kerja. Rekan-rekan kerjanya akan menancapkan satu batang lilin kecil di atas cupcake yang tak kalah kecilnya, mereka lalu menyanyikan lagu untuknya dan mereka tertawa bersama-sama. Jadi, bisa dibilang meskipun selalu dengan perayaan sederhana, Elana tidak pernah menghabiskan hari ulang tahunnya sendirian.... kecuali mungkin malam ini.


Mungkin ini akan menjadi malam pertama untuknya dimana dia menghabiskan ulang tahunnya dalam kesendirian.


Hujan badai yang begitu deras membuat Elana ragu apakah Akram akan mau repot-repot datang ke villa ini malam ini. Elana berpikir bahwa Akram tentu akan lebih memilih menghabiskan waktunya di tempat mewah dengan pelayanan kelas atas dan wanita-wanita yang memujanya dan melayaninya tanpa henti. Karena itulah, Elana yakin bahwa Akram tidak akan datang.


Lagipula, tanpa sengaja dia melihat berita gosip artis di televisi tadi, mengenai artis luar biasa cantik pemenang penghargaan bergengsi yang hari ini khusus datang ke perusahaan Akram Night untuk menawarkan kerjasama. Artis itu jelas-jelas mengadakan jumpa pers yang menjelaskan detail hubungan murni profesionalnya dengan perusahaan Akram, tetapi Elana tahu bahwa apa yang ditampilkan di permukaan tidak sesederhana itu.


Mungkin saja malam ini Akram tengah menghabiskan waktunya bersama aktris itu, bukan? Sebenarnya itu bukanlah masakah untuk Elana dan malahan menjadi keuntungan besar baginya. Jika Akram menemukan perempuan lain untuk melayaninya, setidaknya dia akan terbebas dari paksaan untuk melayani Akram.

__ADS_1


Meskipun begitu, duduk sendirian di hari ulang tahunnya kali ini entah kenapa terasa begitu menyedihkan....


Elana menggosok lengannya dengan perasaan jengkel pada dirinya sendiri. Apakah dia sebegitu putus asa dan tidak mau sendirian di hari ulang tahunnya sampai-sampai dia didera kesepian saat ini?


Mungkin karena dia menderita homesick setelah dicabut paksa dari kehidupannya sebelumnya, mungkin juga hujan deras di luar sana menumbuhkan rasa melankolis di dadanya. Elana tidak tahu yang mana penyebabnya, yang Elana tahu dia harus mengatasi bibit kelemahan yang mulai tumbuh di hatinya dan berusaha untuk tetap kuat.


Elana menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa, menghela napas panjang sebelum kemudian memejamkan mata. Dia tahu bahwa dia perlu membangun kekuatan dirinya guna menghadapi Akram yang mengintimidasi. Dia sudah seharusnya melupakan hal-hal tidak penting, berusaha lebih fokus untuk memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup, dan mengumpulkan kekuatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman Akram.



Suara petir menggelegar yang menyusul kilatan cahaya terang mengerikan menembus kaca jendela membuat Elana terperanjat. Matanya terbuka, terbangun paksa dari tidur lelapnya yang dijatuhinya tanpa sengaja.


Elana menegakkan punggung, membuka mata lebar-lebar dan menyadari bahwa dia telah tertidur di atas sofa ini. Kilatan-kilatan cahaya menembus lagi melalui kaca jendela yang belum ditutup tirainya itu, disusul suara guntur bergemuruh dan menggetarkan panel-panel kaca membuat Elana menyadari bahwa hujan masih turun sampai saat ini dan kali ini malahan bertambah deras di luar sana. Dari intensitas hujan itu, Elana menduga sepertinya badai akan tetap berlangsung sampai esok menjelang.


Sudah berapa lamakah dia tertidur?


Elana melirik ke arah jam di dinding yang terletak tepat di seberangnya, memicingkan mata karena dia kesulitan melihat jam itu dari tengah ruangan yang gelap remang.


Kening Elana berkerut. Seingatnya tadi, dia tertidur tanpa mematikan lampu. Kalau begitu... kenapa sekarang kamarnya gelap? Mungkinkah terjadi pemadaman listrik karena badai? Tetapi Bibi Ana mengatakan bahwa villa ini menggunakan energi listrik terbarukan dengan panel matahari yang mampu menyimpan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai beberapa bulan ke depan.... Apakah pengaruh hujan badai juga mengganggu fungsi aliran listrik di pulau ini?


Suara pintu yang ditutup di ujung ruangan membuat Elana langsung menoleh dengan waspada. Matanya membelalak ketika menemukan sosok Akram yang berdiri di dekat pintu.


Elana mengawasi Akram di kegelapan, menatap ketika lelaki itu membuka mantel tebal yang membungkus tubuhnya. Mantel itu tampak berat dan basah kuyup, meneteskan-neteskan air ke bawah, dan Akram dengan santai melemparkan mantel itu hingga teronggok di lantai, lalu melangkah mendekati Elana.


Rambut dan wajah Akram tampak basah dan percikan air tampak menodai setelan jas resmi berwarna abu-abu kelam yang dikenakan oleh Akram.


Akram datang? Hujan badai tengah bergolak di luar sana dan Akram tetap bisa datang? Bagaimana caranya?


Lelaki itu melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depan Elana yang duduk di atas sofa.


Tubuh Elana sendiri malahan membeku, antara kebingungan dan keterkejutan akibat kehadiran Akram yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.


Lalu seolah ingin lebih mengejutkan Elana lagi, Akram tiba-tiba berlutut di depannya yang tengah duduk di atas sofa. Lelaki itu menunjukkan kotak yang dibawanya, dan mengeluarkan isinya.


Mata Elana membelalak semakin lebar ketika melihat ada sebuah potongan kue berbentuk segitiga dengan krim putih dan strawberrry di tangan Akram. Ada juga satu batang lilin kecil tertancap di potongan kue itu yang kemudian dinyalakan Akram dengan pemantiknya


Akram kemudian mengangkat kue itu ke atas, dekat dengan wajahnya, membuat cahaya kekuningan dari lilin yang menyala memancar menerangi sisi wajahnya dan mempertegas bayangan garis-garis aristrokat di sana. Cahaya lilin itu juga memantul di mata Akram yang berwarna hazel, menciptakan ilusi api berkilauan yang memantul di bola matanya.


Ditengah kegelapan dengan diterangi nyala api, Akram tampak seperti sosok dewa dari dunia khayalan yang muncul dari dalam dalam buku fantasi yang dibaca oleh Elana tadi siang.


"Kurasa aku belum terlambat, masih ada beberapa menit sebelum jelang tengah malam." Akram berucap tenang tanpa setitik pun senyum terulas, membelah keheningan dengan suaranya yang tegas dan dalam. "Selamat ulang tahun, Elana."



 


__ADS_1


__ADS_2