
Perkataan Xavier sungguh susah dicerna oleh Sera. Perempuan itu membeliak, menatap Xavier dengan mulut ternganga karena didera oleh syok luar biasa.
Tetapi, dilihat dari sudut manapun, Xavier benar-benar tak terlihat sedang bercanda. Lagipula, lelaki itu terlalu mengerikan dari semua sisi untuk bisa bercanda. Xavier tampak begitu tenang, bersedekap sambil mengulas senyum, menatap Sera dengan santai tapi menafahus, seolah-olah ingin melongok langsung ke dalam benak Sera untuk mengetahui apa yang bergolak di dalam sana.
"Tidak lucu, tahu!"
Setelah hampir beberapa lama dirinya kehabisan kata-kata, Sera akhirnya memberanikan diri untuk menyerang Xavier dengan sikap angkuhnya. Tangannya mungkin boleh terbelenggu, tetapi Sera masih memiliki hati dan mulut yang siap untuk berjuang melawan lelaki jahat itu.
Reaksi Xavier bukannya marah atau tersinggung. Sudut bibir lelaki itu berkedut seolah menahan diri supaya tidak terangkat hingga sampai meloloskan senyum.
Xavier malahan lebih tampak menahan geli menghadapi tantangan Sera. Lelaki jahat itu sedang menertawakan perlawanannya.
"Boleh kau jelaskan apa maksud perkataanmu, Sera? Karena aku tahu pasti bahwa aku tidak sedang melucu." Suara Xavier terdengar manis, tetapi sudah jelas menyelipkan ancaman berbahaya di sana.
"P-pernikahan adalah hal yang sakral, bukan main-main.... Kau malah menggunakannya sebagai lelucon!" Dengan suara terbata Sera berusaha menyerang Xavier.
Sayangnya, serangan Sera jelas-jelas terlalu lemah untuk setidaknya menyakiti harga diri Xavier. Lelaki itu tampak tidak terpengaruh sama sekali.
"Aku tidak sedang bercanda ataupun sedang menggumbar lelucon." Kembali Xavier menjawab dengan suara santai, menggunakan pengucapan lambat yang memperjelas setiap suku kata seolah-olah sedang berbicara dengan anak kecil. "Dalam hal ini, kau juga tak punya pilihan lain." Xavier menambahkan dengan kalimat misterius yang memantik kewaspadaan Sera.
"Apa maksudmu?" sambar Sera dengan rasa was-was.
Xavier menyeringai, tak menampakkan belas kasihan sedikit pun dalam nada suaranya.
"Ayahmu. Apa kau lupa? Dia adalah jaminanku supaya kau tunduk kepadaku. Dan satu lagi...." Xavier sengaja menghentikan kalimatnya, seolah ingin menggantung Sera dalam rasa penasaran sebelum kemudian menjatuhkannya. "Aaron Dawn." ucap Xavier kemudian, masih dengan tatapan menyelisik ke arah Sera.
Wajah Sera langsung memucat, menatap Xavier dengan tak percaya.
"Aaron... tapi... tapi dia sudah lari! Apakah kau menangkapnya?" seru Sera dengan nada panik, refleks dia menggerakkan tubuh, berusaha untuk duduk meskipun rasa pusing langsung menghantam kepalanya.
Xavier sendiri tampak tak suka melihat reaksinya, lelaki itu menggerakkan tangan, memberi isyarat kepada Sera.
"Tetap berbaring. Jika kau melawan, aku tak akan menjamin apa yang akan aku lakukan kepada mereka nanti." Xavier menyipitkan mata, menatap Sera dengan pandangan mencemooh. "Tentu saja aku berhasil mendapatkan Aaron-mu yang telah kau selamatkan dengan susah payah itu. Sebuah keputusan bodoh dengan menyelamatkannya dan menyuruhnya lari dariku. Karena, bagaimanapun dia berusaha lari, lelaki bodoh itu tak mungkin bisa lepas dariku."
Perkataan Xavier langsung membuat tubuh Sera membeku, pun dengan lidahnya yang kelu. Meskipun begitu, Sera tetap berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang tersekat, dipenuhi oleh kekhawatiran tak terperi terhadap nasib Aaron.
"K-kau menangkap Aaron... apakah dia masih hidup... ataulah k-kau membunuhnya?" suara Sera terbata, penuh dengan rasa ngeri.
Xavier bersedekap, menatap Sera seolah perempuan yang ada dihadapannya itu adalah orang bodoh.
"Kenapa aku harus membunuhnya? Dia cukup berharga jika dia masih bernyawa. Aku bisa menggunakannya sebagai jaminan, selain ayahmu tentu saja. Dengan jaminan nyawa kedua orang itu, aku yakin bahwa mulai detik ini, kau akan tunduk kepadaku, menurut dan melakukan apapun yang kuperintahkan kepadamu."
Ekapresi Sera dipenuhi kengerian ketika menyadari bahwa belenggu fisik yang mengikat tangannya ini, masih tak sebanding dengan belenggu mental tak kasat mata yang dirantaikan oleh Xavier ke dalam jiwanya, dengan menggunakan orang-orang yang cukup berarti bagi Sera sebagai sandera.
"Lepaskan Aaron... dia tak ada hubungannya dengan ini...." Sera mulai putus asa, tahu bahwa tak ada jalan keluar baginya selain memohon kepada Xavier.
Sayangnya, lelaki itu bergeming, menatap Sera tanpa belas kasihan setitik pun.
"Aaron langsung terlibat dalam masalah ini, begitu kau mengambil keputusan bodoh, mengorbankan keselamatanmu sendiri dan menyelamatkannya. Sejak detik itu, aku memastikan bahwa aku tak akan pernah melepaskan Aaron-mu itu," jawab Xavier dengan nada setengah mengejek yang kental, menatap Sera dengan tatapan mencemooh.
"Dia cinta pertamamu, eh? Laki-laki pertama yang memikiki kesempatan masuk ke dalam hati remajamu dan mencurinya hanya dengan bersikap seperti malaikat penolong?" Sambil berucap, Xavier bergerak dengan halus tanpa suara, meluncur dari kursinya dan duduk di tepi ranjang.
Tangan Xavier menangkup kedua pipi Sera, memaksa wajah perempuan itu menghadap kepadanya tanpa bisa menoleh ke kiri dan ke kanan. Xavier lalu membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke arah Sera yang tak bisa bergerak, terbelenggu di besi ranjang.
__ADS_1
"Kau pasti begitu tergila-gila pada Aaron Dawn hingga rela mengorbankan nyawamu demi dirinya," bisik Xavier dengan suara menyembilu, pun dengan tatapannya yang juga tajam menikam ke arah Sera. "Apa yang sudah diajarkan Aaron-mu itu kepada dirimu yang waktu itu masih remaja? Apakah dia mengajarimu berciuman? Atau dia menyentuhmu di tempat-tempat tertentu yang terasa nikmat? Apakah dia menyuruhmu menyentuhnya?"
"H-hentikan kalimat vulgar dari otakmu yang kotor itu!" Sera berteriak frustasi, sengaja menyela kalimat Xavier dengan suara keras untuk menghentikan kalimat-kalimat tak tertahankan yang berhamburan meluncur dari mulut lelaki itu dan membuat wajahnya merah padam karena malu. "Aaron bukanlah orang yang berpikiran kotor seperti dirimu, dia baik dan memperlakukanku dengan hormat, bukannya melecehkanku!" seru Sera mengungkapkan pembelaannya terhadap Aaron dengan berapi-api.
Aaron yang dikenal oleh Sera adalah pribadi sopan penuh martabat yang juga menjadi malaikat penolongnya. Sera tak akan membiarkan Xavier menginjak-injak dan melecehkan Aaron!
Sayangnya, pembelaan Sera itu malah membuat Xavier semakin mendapatkan bahan untuk merendahkannya. Lelaki itu mendekatkan bibirnya ke bibir Sera, lalu menggigit lembut di sana dan menghadiahkan kecupan lembut yang tak diminta.
"Dengan penyangkalanmu itu, apakah kau hendak mengatakan...," Xavier mengecup Sera lagi tanpa izin sebelum melanjutkan kalimatnya, "Bahwa kau sama sekali tak memiliki pengalaman apapun dengan lelaki... sebelum diriku? Bahwa aku adalah yang pertama memeluk dan menciummu seperti ini, hmm?" Xavier menghentikan kalimatnya, menyibukkan diri untuk menggoda bibir Sera tanpa perempuan itu bisa melawan.
"Lepaskan aku!" Setelah meronta sia-sia dan terpaksa membiarkan lelaki itu bertindak suka hati, Tetapi kemuadian, Sera akhirnya berhasil mengerahkan seluruh sisa tenaganya dan memalingkan wajah dengan kasar, melepaskan bibirnya dari pagutan Xavier. "Apa... apa kau tak malu pada dirimu sendiri? Memaksakan kehendak pada perempuan yang tak menginginkanmu?" serunya kemudian dengan napas terengah.
Xavier tertawa, seolah-olah malahan senang ketika Sera mengata-ngatainya. Lelaki itu mengusap bibirnya yang basah bekas ciuman, lalu menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap bibir Sera yang bengkak dan lembab karena diciumi habis-habisan.
"Aku tidak peduli apakah kau menginginkanku atau tidak. Yang penting sekarang adalah kehendakmu ada di bawah kekuasanku dan kau adalah milikku." Xavier menyipitkan mata dan mengawasi Sera dengan tatapan tajam. "Jika kau membangkang, aku akan membunuh ayahmu di penjara dan juga Malaikat Aaron kesayanganmu itu. Jadi, Serafina Moon, bersediakah kau menjadi istriku dan juga ibu dari anak-anakku?"
Sera ternganga, wajahnya pucat pasi mendengarkan sesuatu yang mungkin adalah jenis ucapan lamaran pernikahan yang paling mengerikan yang pernah ada di dunia ini. Wanita lain mungkin akan berbahagia menerima ucapan semacam itu dari lelaki yang dicintainya, tetapi kebahagiaan wanita-wanita lain itu tentu berbeda dengan teror yang dialami oleh dirinya saat ini....
Dari seluruh jenis lamaran pernikahan yang dibayangkannya, tidak pernah dia mengira bahwa dia akan menerima lamaran yang disertai dengan ancaman pembunuhan.
"Aku ingin kau memberikan jawaban dengan formal." Xavier tiba-tiba berucap dengan nada menuntut, memecahkan Sera dari rasa syok yang melandanya. "Tidak sopan, bukan? Membiarkan seorang yang sedang menunggu jawabanmu digantung seperti ini?"
Sera mengerutkan kening mendengar perkataan Xavier itu, dia menatap Xavier seolah-olah lelaki itu orang gila.
"K-kau sudah tidak waras ya?" seru Sera menyuarakan pemikirannya dengan lantang. Hanya manusia tak waras yang memaksakan sebuah lamaran pernikahan, lalu meminta jawaban secara formal meskipun tahu bahwa itu semua dilakukan di bawah tekanan.
Xavier tak berkedip. Lelaki itu malah menyeringai seolah menikmati interaksi pedasnya dengan Sera.
"Katakan 'Ya, Xavier Light. Aku bersedia menikah denganmu', katakan dengan suara keras," ujar Xavier memberi perintah.
"Maka dua orang yang kau sayangi akan mati." Xavier mengambil ponselnya. "Aku hanya tinggal menekan tombol panggil dan memberikan instruksi pada dua orang petugas medis yang sudah menunggu. Yang satu akan menyuntik ayahmu di penjara, dan yang lain akan menyuntik Aaron yang masih ada dalam masa pemulihan setelah terpapar racun seperti dirimu. Suntikan itu akan mengantarkan mereka segera ke alam baka dengan siksaan sakit yang tak terbayangkan. Hidup atau matinya kedua orang itu, semua itu tergantung keputusanmu, sayang." Xavier tersenyum keji.
"K-kau tidak mungkin melakukan itu...." Sera masih berusaha menyanggah, tetapi entah kenapa tatapan tajam Xavier ke arahnya membuat suaranya tiba-tiba tersekat di tenggorokan, tak bisa berbicara.
"Apa jawabanmu untuk lamaranku, Serafina Moon?" Xavier tak mau mundur, menunjukkan dengan kuat tekadnya untuk menundukkan Sera sampai terkapar rata dengan tanah di bawah kakinya.
Sera menelan ludah, di tahu bahwa dirinya tak punya pilihan lain. Meskipun mulutnya berusaha menyangkal, tapi jauh di dalam hatinya Sera tahu betapa kejammya Xavier dan betapa mungkinnya lelaki itu membunuh ayahnya dan Aaron tanpa belas kasihan.
Apalagi yang harus Sera pertimbangkan? Sejak awal, Sera bahkan tak pernah memberikan nilai pada dirinya sendiri, dia tak pernah berharga, dia sudah menganggap bahwa dirinya ini hanyalah sebuah alat yang bisa digunakan untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang dia sayangi. Sekarang, situasi yang sama berlangsung kembali, dan keputusan Sera sudah jelas, dia harus menerima lamaran Xavier.
"Aku bersedia menikah denganmu, Xavier Light." Sera mengucapkan kalimat penerimaan lamaran itu dengan nada terpaksa sambil menggertakkan gigi. Tangannya bahkan terkepal menahan emosi.
Xavier menyeringai, tak bisa menyembunyikan kepuasannya. Tetapi, tampaknya Xavier masih jauh dari selesai dalam upayanya menyiksa Sera. Lelaki itu membungkuk kembali di atas Sera, mendekatkan wajahnya dengan sikap menggoda.
"Aku belum pernah melamar wanita lain sebelumnya, jadi aku tak tahu pasti. Tetapi, kurasa kita harus menandai peristiwa penting dan membahagiakan ini dengan sebuah ciuman. Apakah kau setuju?" tanyanya kurang ajar.
Ketika Sera mengalihkan pandangan mata dengan jengah dan tak mau menjawab, Xavier membungkuk semakin dekat ke wajah Sera untuk menarik perhatiannya.
"Aku ingin kau menciumku." perintahnya tegas penuh ancaman, lalu sedetik kemudian melembutkan nada suaranya dengan kemesraan palsu yang disengaja. "Kau pasti sangat ingin menghadiahkan ciuman pada tunanganmu ini, bukan?"
Sekali lagi, Sera didesak hingga tak punya pilihan lain. Dadanya bergolak oleh rasa marah bercampur frustasi yang pedih, dan dengan penuh rasa terpaksa yang menghujam ke dalam kalbu serta menyakiti jiwanya, Sera terpaksa menyambar bibir Xavier yang sudah tersedia dekat dengannya dan menciumnya.
Tak ada yang bisa dilakukannya. Meskipun sesungguhnya Sera ingin menggunakan giginya untuk melukai bibir lelaki itu sampai berdarah dan memberikan nila pada kesempurnaan wajahnya, tetap saja Sera tak berani melakukannya.
Xavier diam saja, tidak melakukan apapun dan membiarkan Sera mengecup bibirnya singkat sebelum kemudian perempuan itu melepaskan diri seolah tersengat listrik. Tetapi, dia tak sebaik hati itu untuk melepaskan Sera begitu saja. Tangannya kembali meraih dagu Sera dan menghadiahkan ciuman di bibirnya. Kali ini benar-benar jenis ciuman dewasa yang diberikan oleh seorang lelaki kepada seorang perempuan sebagai cap dan tanda kepemilikan.
__ADS_1
Lama setelahnya, barulah Xavier melepaskan Sera. Lelaki itu tersenyum melihat Sera yang tak berpengalaman megap-megap kehabisan udara, lalu menegakkan punggung dan melangkah mundur menjauh untuk memberikan ruang bagi perempuan itu bernapas.
"Segera setelah kau dinyatakan pulih, maka kita akan melakukan dua hal penting yang utama." Mata Xavier menyipit penuh antisipasi, seolah tak sabar melakukan apa yang direncanakannya. "Yang pertama, kita akan melangsungkan pernikahan dan yang kedua, kita akan memberikan hukuman kepada Samantha Dawn sebagai hadiah pernikahan untukmu."
"Aku tak ingin hadiah pernikahan semacam itu," Sera begidik ngeri, tak berani membayangkan jenis racun seperti apa yang akan digunakan oleh Xavier untuk memberikan hukuman pada Samantha Dawn.
"Tapi aku bersikeras memberikan hadiah pernikahan ini kepadamu, karena aku sudah menjanjikan pembebasanmu atas masa lalu yang sekaligus akan menjadi pembebasan bagiku." Xavier mengangkat sebelah tangannya untuk memberi isyarat supaya Sera menutup mulut dan tak membantah lagi. Lelaki itu lalu membalikan tubuh dan membuka pintu ruang perawatan, hendak melangkah pegi.
Tetapi, ketika sudah berada di ambang pintu, lelaki itu seolah teringat sesuatu dan menghentikan langkah, menoleh kembali ke arah Sera.
"Setelah pernikahan nanti. Kau harus menyerahkan jiwa dan ragamu kepadaku dan setia kepadaku. Aku tak akan menoleransi jenis pembangkangan sekecil apapun." Mata Xavier memindai Sera dengan saksama lalu mulutnya menyeringai. "Aku tahu bahwa kau menderita trauma dan menyimpan rasa takut terhadap diriku. Tidakkah kau tahu? Aku pernah membaca komentar seseorang mengenai kisah hidupku, bahwa untuk menghilangkan traumamu dan menyembuhkan dirimu, kau harus membiasakan diri berada di dekat sumber traumamu secara terus menerus. Karena itulah, aku dengan senang hati akan menyediakan tubuhku untuk membantu menyembuhkan traumamu."
Setelah mengucapkan kalimat yang membuat Sera jengah dan ngeri itu, Xavier langsung melangkah pergi dan menutup pintu di belakangnya. Tidak memberikan kesempatan pada Sera untuk menyanggah atau membantahnya.
"Akram."
Xavier langsung menyapa ketika mendengar suara Akram menyahuti panggilan teleponnya.
"Apakah kau sudah menyelesaikan urusanmu di Rusia?" Akram langsung bertanya tanpa merasa perlu berbasa-basi.
"Tinggal sedikit lagi, semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Tetapi, aku meneleponmu bukan untuk membicarakan itu," jawab Xavier dengan nada misterius.
"Apa yang terjadi, Xavier?" Akram langsung bertanya dengan waspada. Telinganya yang tajam menangkap suara Xavier yang sedikit goyah seolah lelaki itu ragu untuk berbicara. Xavier yang dikenalnya selau berucap dengan nada provokasi yang menjengkelkan, kadang penuh ancaman bernuansa gelap. Tetapi, Akram tahu pasti bahwa Xavier tidak pernah bersikap ragu sebelumnya.
"Ini bukan kabar buruk, bahkan jika dipandang dari sudut pandang tertentu, ini bisa dibilang sebagai kabar bahagia...." Hening sejenak seolah-olah Xavier kebingungan merangkai kata. "Aku akan menikahi Serafina Moon," sambungnya kemudian.
Bisa dibayangkan Akram sedang tertegun penuh keterkejutan di seberang sana. Tetapi, lelaki itu akhirnya bisa menguasai dirinya dan bertanya,
"Kapan?"
Xavier tanpa sadar mengangkat bahu meskipun sadar bahwa Akram di seberang telepon sana tak bisa melihatnya.
"Segera setelah kondisi Sera memungkinkan, kira-kira seminggu lagi." Kembali gugup, Xavier berdehem sebelum bertanya. "Apakah kau, Elana dan Zac bersedia datang kemari untuk menghadiri pernikahanku? Aku tahu ini mungkin mendadak, tapi...." Suara Xavier tersendat, seolah dia sedang berjuang untuk melontarkan kalimat terakhirnya. "Tapi, hanya kalian bertigalah satu-satunya keluarga yang kumiliki dan aku ingin keluargaku menghadiri pernikahanku ini."
\====PRAKATA DARI AUTHOR====
Terima kasih atas Vote Poinnya selama ini, terimakasih telah memberikan poinnya untuk author.
Terima kasih juga untuk like, komen, subscribe favorite, dan rate bintang limanya. Sekali lagi terima kasih
Dan maaf postingan tersendat kemarin karena sedang banyak kerjaan. Mudah2an author bisa menebus semuanya.
Jangan lupa baca novel author yang lain di mangatoon juga, berjudul INEVITABLE WAR, sudah sampai episode 65 sekarang lho.
Postingan ini tanpa gambar dulu biar lolos reviewnya cepat ( kalau pakai gambar lolos review lama.bisa dua atau tiga hari kadang lebih). Nanti kalo udah lolos, baru diedit author dikasih gambar visualisasi. Bisa dicek EOTL part 1-15 sekarang sudah lengkap full gambar visualisasi yak.
Thank You - by AY
__ADS_1