Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 73 : Tameng Dimitri


__ADS_3


Mobil warna gelap itu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Xavier. Seorang bodyguard bersenjata melangkah turun dari kursi penumpang mobil, sambil menyeret seorang laki-laki dengan muka bengkak tak karuan habis dipukuli yang tampak pasrah.


"Ingat pesan Tuan Dimitri, kalau kau ingin Michaela-mu baik-baik saja dan tidak dilukai oleh Tuan Dimitri, maka kau harus menjalankan tugas dengan baik," anak buah Dimitri yang memiliki ekspresi keras dan dingin itu berucap perlahan sambil menyeret langkah Tedy mengikutinya mendekat ke gerbang rumah Xavier.


Tampak di depan mata mereka, pasukan penjaga milik Xavier langsung bersiaga mengangkat senjata.


"A.. aku hanya perlu menyerahkan ponsel itu pada... pada yang bernama..." Tedy mengerutkan kening, otaknya yang tumpul memang seringkali kesulitan mengingat nama orang.


Anak buah Dimitri berdecak, lalu mendengkus dengan tak sabar. "Kepada Akram Night dan Xavier Light. Harus kepada dua orang itu kau boleh memberikan ponsel yang telah diberikan oleh Tuan Dimitri kepadamu, tidak boleh diberikan pada orang lain kecuali mereka yang memerintahkannya. Sekarang, lakukan tugasmu dengan baik kalau kau ingin menyelamatkan nyawa Michaela-mu!"


Anak buah Dimitri lalu mendorong tubuh Tedy hingga jatuh tersungkur di kaki para penjaga gerbang Xavier, setelahnya dia mendongakkan kepala, lalu berucap dengan nada tenang dan tegas.


"Dia adalah pembawa pesan yang dikirimkan oleh Tuan Dimitri. Dia tidak bersenjata dan kalian boleh menggeledahnya. Semua yang kalian anggap berbahaya boleh diambil dari tubuhnya kecuali satu, sebuah ponsel. Ponsel itu harus sampai ke tangan Akram Night dan Xavier Light, karena dengan ponsel yang aman itu, Tuan Dimitri akan menelepon tuan kalian untuk mengajukan negosiasi,"


***



***


Sudah tentu Akram tak bisa tidur.


Bukan hanya karena nyeri luka bekas tembakan yang melubangi tubuhnya masih berdenyut tak karuan dan menyiksanya, tetapi juga karena pikirannya sendiri malahan sibuk berputar-putar di dalam rongga kepalanya tanpa kenal lelah. Digayuti oleh seribu pertanyaan yang keseluruhannya saling memunggungi dengan jawabannya.


Apa yang diucapkan oleh Xavier sebelumnya mau tak mau merasuk ke dalam jiwanya, beresonasi di dalam sana dan mengusik nuraninya.


Xavier menganggap Akram tak menghargai Elana? Bagaimana bisa? Bukankah tampak nyata bahwa Akram sungguh-sungguh memperlakukan Elana dengan istimewa?


Dia mau merawat Elana sendiri ketika perempuan itu sakit, dia bahkan bersedia melongggarkan aturannya - yang tak pernah dilakukannya pada perempuan manapun - dan mengabulkan permintaan konyol Elana untuk bekerja dengan gaji kecil yang menyedihkan. Dia juga memberikan sebentuk kesetiaan, dalam wujud kesediaannya untuk tak menyentuh wanita lain selain Elana. Bahkan, dia membawa masuk Elana ke dalam tempat tinggalnya, membiarkan wanita itu menjadi bagian kesehariannya, hidup dengannya, tidur di atas ranjangnya, dan segala keistimewaan luar biasa lainnya.


Bagian mana dari hubungannya dengan Elana yang dianggap kurang oleh Xavier? Apa yang maksud kata-kata Xavier bahwa dirinya tidak menghormati harga diri Elana?


Ya. Dia memang memulai hubungan dengan cara yang salah ketika memaksakan dirinya pada perempuan itu. Tetapi, setelahnya dia berusaha memperbaiki semuanya, bukan?


Akram mengepalkan tangannya, dipenuhi kemarahan yang mulai merayapi denyut nadinya ketika pikirannya berubah kalut.


Berani-beraninya Xavier yang baru bertemu beberapa kali dengan Elana bersikap menghakimi seperti itu. Memangnya dia siapa?


Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Akram seketika terlepaskan dari lamunan yang berkecamuk. Tangannya dengan sigap meraih pistol yang sengaja dia letakkan di nakas samping ranjang. Matanya menatap waspada ke arah pintu.


"Siapa?" geram Akram dengan nada mengacam penuh antisipasi. Lelaki itu berusaha bangkit dengan susah payah karena menahan rasa sakit di dada dan nuansa kaku di lengannya yang berpenyangga. Karena ini sudah dini hari, Akram tahu bahwa siapapun yang saat ini mengetuk pintu kamarnya, kalau orang itu bukanlah musuh, maka orang itu pasti sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang penting.


"Ini Elios, tuan. Utusan yang dikirim oleh Dimitri telah tiba memasuki gerbang," sahut Elios dengan nada mendesak.


Akram mengerutkan kening, sedikit terkejut. Dimitri mengirimkan utusan di dini hari seperti ini? Apakah tidak terlalu cepat?


Dia telah mengirimkan orang khusus untuk mengawasi Dimitri sepanjang hari tadi. Jadi, tentu saja Akram tahu bahwa Dimitri telah menghubungi pengacaranya untuk mempersiapkan segala berkas dan kelengkapan hukum guna memuluskan proses akuisisi tersebut.


Segala sesuatu sudah dipersiapkan oleh Dimitri untuk esok pagi. Kenapa lelaki itu mempercepatnya? Adakah sesuatu yang memaksa Dimitri melakukannya? Sesuatu yang berhubungan dengan Elana?


Seketika firasat buruk langsung memenuhi rongga dadada Akram, hampir-hampir membuatnya sesak napas. Akram langsung memaksa dirinya bergerak cepat ke pintu dan membukanya


***



***


Saat ini Elana sudah dipindahkan ke kamar baru. Seorang dokter sudah dipanggil untuk memeriksa bekas-bekas perilaku kasar di tubuhnya. Elana sendiri masih berdiam diri dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


Trauma masih menggigit jiwanya dan membuat lengannya yang kurus tanpa daya berusaha memeluk dirinya sendiri untuk mengendalikan gemetarnya yang nyaris tak terkendali. Beruntung dokter yang dipanggil oleh Dimitri untuk memeriksanya itu adalah seorang perempuan, sehingga ketidaknyamanan Elana bisa ditekan karena yang menanganinya adalah perempuan sama sepertinya.


Dokter itu adalah seorang wanita setengah baya dengan aura keibuan yang menaunginya dan Elana menduga bahwa sang dokter sepertinya sudah mengenal Dimitri sejak lama, karena sikapnya sama sekali tidak canggung dan cukup santai ketika bercakap-cakap dengan Dimitri saat lelaki itu mengantarkannya masuk ke dalam kamar tempat Elana baru saja dipindahkan ke sana.

__ADS_1


Mata dokter wanita itu tampak prihatin ketika memeriksa jejak-jejak kekerasan mengerikan yang mulai menyisakan warna kemerahan bercampurn rona kuning mengerikan di seluruh permukaan kulit Elana. Sudah pasti esok pagi, seluruh bekas itu akan berubah menjadi ungu muda yang kemudian menggelap menyeramkan.


Dengan hati-hati dan tanpa suara, dokter wanita itu lalu membantu mengoleskan salep khusus berwarna bening di seluruh bekas memar kulit Elana. Salep itu terasa menyejukkan, sedingin es dan mampu menyamarkan rasa sakit yang dirasakan oleh Elana.


"Te... terima kasih," Elana berhasil berucap dari bibirnya yang gemetaran, memaksakan lidah kelunya berucap dengan suara tersekat di tenggorokan.


Dokter wanita itu menghela napas panjang, lalu menggenggamkan wadah kaca tempat salep krim khusus itu ke tangan Elana.


"Aku akan meresepkan obat penghilang sakit dan juga resep salep racikan untuk persiaanmu guna diaplikasikan di memarmu," dokter wanita itu menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka, tempat Dimitri menghilang beberapa saat sebelumnya. Setelahnya, dia mengehela napas panjang dan memberanikan diri bertanya. "Kau... bagaimana kau bisa terlibat dengan pemimpin organisasi mafia seperti Dimitri? Apakah... apakah Dimitri yang melakukan ini semua kepadamu?"


Seolah sengaja menunjukkan bahwa dia memang mengawasi dan mencuri dengar percakapan di dalam kamar, pintu kamar yang tadinya sedikit membuka itu langsung terbuka lebar dan Dimitri masuk sambil menatap tajam ke arah dokter wanita yang malang itu.


"Sepertinya tugasmu sudah selesai, dokter," Dimitri berucap pelan penuh isyarat ke arah dokter wanita itu dan langsung dimengerti. Dokter itu segera beranjak bangkit, mengemasi perlengkapannya dan berdiri menjauh dari Elana.


Kini giliran Dimitri yang mendekat ke tepi ranjang, memindai Elana tanpa permisi hingga menciptakan ketidaknyaman dalam diri Elana. Dengan gerakan cepat, Elana menarik selimut yang melingkar di pinggangnya, lalu menutupkannya sampai ke dada. Elana kemudoan mendongakkan kepala ke arah Dimitri, berusaha menantang lelaki itu meskipun seluruh tubuhnya gemetaran tidak karuan.


Elana tentu saja tahu bahwa lelaki di depannya ini sama berbahayanya dengan Akram dan Xavier. Mereka semua sama-sama menguarkan aura bengis menakutkan yang secara alami memancar keluar dari tubuh mereka dan menakuti musuh-musuhnya. Bahkan tadi, Elana melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Dimitri dengan darah dingin menembak lelaki mengerikan yang mencoba memperkosanya dan membuat darahnya muncrat kemana-mana.


Bukannya Elana tidak senang karena dengan menembak penjahat itu, secara tidak langsung Dimitri telah menyelamatkannya. Dia juga tahu bahwa Dimitri menyelamatkannya dari upaya pemerkosaan bukan karena kebaikan hati, tetapi lebih karena lelaki itu memiliki tujuannya sendiri. Apapun alasannya, tetap saja melihat darah mengucur begitu derasnya dari tubuh manusia lain merupakan hal mengertikan dan traumatis bagi Elana. Jika bisa memilih, Elana sungguh tak mau melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


Dimitri hanya mengerutkan dahi melihat sikap defensif Elana. Tetapi, lelaki itu tidak mengatakan apapun, malah membalikkan tubuh dan memusatkan perhatiannya kepada dokter wanita yang telah membereskan peralatannya dan siap untuk pergi. Dengan anggukan kepala, Dimitri lalu melangkah mendekati dokter wanita itu dan menghelanya ke arah pintu.


"Apakah bekas-bekas di kulitnya benar-benar tak bisa dicegah supaya tidak menggelap lebih dari ini?" tanyanya kemudian dengan nada cemas


Sekarang saja, bekas-bekas itu tampak meninggalkan noda merah mengerikan di permukaan kulit Elana. Akram Night sudah pasti akan menyadari itu seketika ketika matanya yang tajam melihat Elana.


Dokter wanita itu menggelengkan kepala.


"Aku sudah memberikan salep terbaik untuk memar-memarnya.Tetapi, salep itu bukanlah untuk pencegah memar, proses memar dari merah menjadi kuning lalu berubah ungu dan semakin menggelap hingga memudar kembali beberapa hari kemudian adalah proses alami tubuh yang tidak bisa dicegah. Salep itu hanya membantu mempercepat proses penyembuhan," dokter wanita itu mengangsurkan kertas resep yang dituliskannya ke tangan Dimitri. "Dia juga harus segera minum penghilang sakit karena bekas memar di tubuhnya sangat banyak. Rasa nyeri akan menderanya dan semakin lama akan semakin kuat. Kalau kau tidak memberinya obat pereda nyeri, rasa sakitnya tidak akan tertahankan,"


Setelah mengucapkan itu, dokter wanita itu pun melangkah pergi, menuju ke arah supir yang telah menunggu untuk mengantarkannya pulang.


Sementara itu Dimitri masih termenung di ambang pintu, memikirkan rencananya yang hampir terkoyak karena tingkah bodoh Michaela. Dimitri ingin sekali melampiaskan kemarahannya pada Michaela, tetapi dia tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukannya.


Tadinya dia berencana menutupi atau mencari cara supaya bekas memar di kulit Elana tidak sampai kelihatan. Tujuannya adalah agar Akram dan Xavier tetap mengira bahwa Elana baik-baik saja sehingga proses penandatangana perjanjian akuisisi perusahaan senjata milik dua taipan tersebut -yang sangat ingin dikuasainya- berjalan mulus dan lancar.


Dimitri harus memikirkan cara lain untuk mengalihkan kemarahan Akram, dan bibirnya menipis ketika sebuah ide terlintas di benaknya.


Tedy mungkin bisa berguna untuknya.


Toh pada awalnya dia ingin melenyapkan pria bodoh buruk rupa yang menjadi pelayan setia Michaela itu. Sekarang, dia bisa menggunakan Tedy sebagai tameng yang bisa disalahkan atas kondisi Elana saat ini.


Sekali tepuk dua tujuan tercapai. Tedy bisa dibilang sudah tentu akan kehilangan nyawa, dan Dimitri akan mendapatkan proses penandatanganan perjanjian akuisisi dengan lancar, mulus dan tanpa gangguan lagi. Dia tahu bahwa dia tak boleh menunda-nunda kesempatan ini, penandatanganan perjanjian itu harus dilakukan secepatnya demi menumpas segala risiko kegagalan yang mungkin terjadi.


Perlahan tangan Dimitri membalikkan tubuh kembali, menatap ke arah Elana yang duduk dengan waspada sambil memeluk selimutnya, lalu lelaki itu mengambil ponsel dari balik saku jasnya.


***



***


Ketika melihat wujud utusan yang dibawa masuk oleh dua orang bodyguard Xavier ke dalam area ruang tamu, baik Akram maupun Xavier sama-sama tidak mampu menahan diri untuk saling melempar pandang penuh pertanyaan dan kesangsian.


Kenapa Dimitri mengirimkan seorang laki-laki yang tampak tidak kompeten dan babak belur seperti habis dipukuli? Apa sebenarnya tujuan Dimitri?


Setelah mengantarkan Tedy hingga sampai ke hadapan Akram dan Xavier, kedua bodyguard itupun melepaskan cekalannya. Xavier, yang saat ini berdiri bersisian dengan Akram dengan Elios dan Nathan di belakang mereka, memberikan isyarat tangan supaya para bodyguarnyanya mundur dan menjaga jarak dari utusan Dimitri ini.


Akram tidak menunggu lama, lelaki itu langsung menodongkan pistol dan membidik dengan sepenuh hati ke arah Tedy.


"Pesan apa yang ingin disampaikan oleh atasanmu?" tanyanya dengan nada galak mendesak.


Karena otaknya tak sampai, Tedy langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan bodohnya.


"Dimitri bukan atasanku... aku melakukan ini demi Michaela... demi Michaela ..." ujarnya meracau seperti orang kebingungan.

__ADS_1


Kening Akram berkerut, satu-satunya Michaela yang pernah dikenal oleh Akram adalah Michaela sang aktris yang pernah menjadi kekasih Akram, wanita posesif yang tak bisa mengendalikan hasrat menggebunya untuk mencoba mencengkeramkan kuku-kuku tajamnya demi memiliki Akram. Akram bahkan sudah melupakan Michaela sepanjang waktu ini sejak mengusir perempuan itu dari perusahaannya beberapa bulan yang lalu.


Sebagai seorang aktris terkenal, memang tidak akan menutup kemungkinan perempuan itu bisa terlibat hubungan dengan Dimitri, karena diketahuinya Michaela selalu mengincar hasil pancingan ikan-ikan besar untuk menunjang kehidupan glamournya.


Tetapi, hubungan pribadi Michaela dengan Dimitri tidak seharusnya dilibatkan dalam masalah ini. Kenapa sekarang Dimitri mengirimkan orang Michaela dan bukan orangnya sendiri sebagai pembawa pesan?


Jika Michaela ada hubungannya dengan semuanya dan Elana sampai bersinggungan dengan perempuan egois, narsis dan sangat posesif ini, maka nasib Elana sudah pasti sedang berada dalam bahaya!


"Aku... aku membawa ponsel... harus diserahkan pada Akram... dan Xavier ... apakah kau salah satu di antara mereka?" Tedy akhirnya memulai percakapan, menatap ngeri pada pistol yang ditodongkan oleh Akram kepadanya. Bahunya saja masih terasa luar biasa nyeri akibat tembakan Dimitri ke tubuhnya. Jangan sampai ada lagi peluru yang disarangkan ke tubuhnya.


"Aku Akram Night," Akram menjawab cepat dan mengabaikan Xavier yang sejak tadi hanya diam dan bersedekap di sampingnya. "Berikan ponsel itu pada asistenku, Elios,"


Segera setelah Akram menyebut namanya, Elios langsung maju dan mengambil ponsel itu dari tangan Tedy.


Tak perlu menunggu lama hingga ponsel itu akhirnya mengeluarkan nada dering yang cukup keras dan membahana ke seluruh ruangan. Seketika Elios menerima panggilan telepon itu dan menyalakan pelantang suara ponsel sehingga semua orang yang ada dalam ruangan tersebut bisa mendengarkan.


"Akram Night dan Xavier Light, aku asumsikan kalian ada di sana untuk mendengarkan," suara Dimitri yang khas dengan logatnya yang aneh langsung terdengar di sana.


Akram menggertakkan gigi, menahan kemarahannya.


"Katakan apa maumu, Dimitri," geramnya tak sabar. Entah kenapa firasat buruk semakin menggayutinya pekat, menyesakkan dada.


"Kalian tentu sudah tahu apa yang kumau. Aku tidak menginginkan nyawa kalian atau menantang kekuatan kalian. Aku hanya ingin memiliki perusahaan penelitian dan pemasok senjata militer milik kalian. Seluruh berkas sudah dipersiapkan oleh pengacaraku yang sangat kompeten. Jadi, aku mengundang kalian untuk datang bersama pengacara kalian ke rumaku yang sederhana, untuk melakukan pertukaran yang adil,"


Geraham Akram berkedut mendengar kalimat Dimitri itu. Dia menduga ada yang tidak beres dan dia harus memastikannya dengan segera.


"Aku tidak akan mengambil langkah apapun sebelum aku mengetahui bahwa Elana baik-baik saja. Jika Elana ada di sana, berikan teleponnya pada Elana dan biarkan kupastikan dengan telingaku sendiri kondisinya. Setelah itu, barulah kita membicarakan tentang negosiasi," sahutnya dengan nada menuntut yang sudah tentu tak akan sudi menerima penolakan.


***



***


Catatan Author


✍️✍️✍️✍️


Hello, Beautiful people!


Maaf belum sempat kasih kepastian update. Minggu ini Author sibuk sekale agak susah bagi waktunya.


Author bikin catatan lagi supaya pembaca engga harap-harap cemas bolak balik ngecek part terbaru uda keluar atau belum.


Oke minggu ini sudah ada episode 70, 71, 72 dan episode 73 yang saat ini baru aja selesai kalian baca.


Berarti udah empat episode dari jatah 6 episode ya, masih kurang 2 episode lagi.


Tenang, kewajiban author akan dipenuhi untuk 6 episode setiap minggunya. Cuma waktunya tentu author engga bisa nentuin karena tergantung mangatoon.


Yang pasti hari ini ( Jumat sore tgl 27/09 ) author bakal masukin satu naskah lagi eps 74


Besok pagi ( Sabtu pagi 28/09) author masukin satu lagi eps 75.


INGAT JADWAL PUBLISH MANGATOON DAN JADWAL UP AUTHOR BERBEDA karena begitu author up, harus melalui SISTEM REVIEW oleh editor mangatoon dan baru bisa dipublish serta muncul di sini kalau sudah lolos review dan disetujui oleh pihak mangatoon.


Semoga proses review mangatoon cepat sehingga episode terbaru bisa keluar sesuai jadwal dalam minggu ini ya.


Tolong doakan saja supaya pihak Mangatoon lancar reviewnya, dimana naskah episode terbaru author bisa keluar setiap hari, sehingga up di mangatoonnya ga terlambat.


Thank You


🙏🙏🙏


***

__ADS_1



__ADS_2