
"Hanya mengejar seorang perempuan dan kalian tidak becus melakukannya?" Akram membentak, melemparkan layar digital di tangannya ke arah anak buahnya dengan kasar. "Cari titik lokasinya! Temukan dia secepatnya!" hardiknya dengan nada tak sabar.
Dengan kepala tertunduk, anak buahnya itu bergegas memungut layar digital yang dilemparkan oleh Akram ke arahnya, membacanya sejenak, lalu bergegas bergerak bersama anak buahnya untuk menuju ke lokasi yang ditampilkan oleh alat pelacak di tangan lengan Elana.
Pada saat yang sama, sekelompok bodyguard yang lain datang tergopoh-gopoh, berlari ke arah mereka dengan wajah panik luar biasa.
"Tuan Akram!" lelaki itu membungkuk dan berusaha menetralkan napasnya yang tersengal. "Kami sudah menemukan Nona Elana... dia ada di dekat sini...tapi... tapi..." lelaki itu meragu, seolah nyalinya ciut seketika. Meskipun begitu, dia tak punya pilihan lain selain melaporkan keadaan yang sebenarnya kepada tuannya yang saat ini sudah dalam keadaan marah luar biasa. Tindakannya itu tentu bagaikan menyiramkan bahan bakar ke atas api yang sedang berkobar. "Tapi.... ada Tuan Xavier di sana bersama Nona Elana ..., dia... dia tak sengaja bertabrakan dengan Nona Elana dan mereka saat ini sedang bercakap-cakap. Kami langsung mundur dan tak jadi menyergap karenanya. Kami menunggu instruksi dari Anda untuk langkah selanjutnya..." sambung lelaki itu dengan napas terengah.
Ekspresi Akram berubah murka, semakin gelap dan mengerikan. Tetapi, dia menahan diri supaya tidak mengayunkan tangan dan menghajar anak buahnya yang tak becus itu sampai babak belur.
Masih ada hal penting lain yang harus dilakukan dan itu menyangkut keselamatan jiwa Elana.
Meskipun Xavier berinteraksi dengan Elana, monster itu sepertinya masih tak tahu bahwa Elana adalah perempuan favorit yang ingin disembunyikan Akram dari cengkeramannya. Anak buahnya sudah berbuat benar dengan mengambil langkah mundur sehingga status Elana tidak ketahuan. Dan untuk saat ini, Akram harus menjaga supaya Xavier tetap tidak tahu kebenaran apapun tentang Elana.
"Kepung mereka dari berbagai sisi dan pastikan Xavier menyadarinya. Dia akan lari. Setelahnya kejar dia dan giring supaya kembali ke mobilnya lalu pastikan dia menjauh dari lokasi," Akram memberi perintah dengan tegas, memperhitungkan semua kemungkinan dengan saksama dan berharap kali ini tidak akan ada yang mengacaukan rencananya.
Tangan Akram mengepal menahan marah memikirkan Elana. Sialan perempuan itu! Entah kenapa Elana dengan ceroboh selalu menggiring dirinya sendiri ke dalam marabahaya, membuat dada Akram terasa nyeri dan jantungnya seolah hendak meledak karena didera kecemasan.
Seharusnya dia tidak pernah memberikan izin bagi Elana untuk keluar dari jangkauannya! Seharusnya dia mengurung dan merantai saja Elana di kamarnya, lalu bercinta dengan perempuan itu sepanjang hari hingga Elana kehabisan tenaga dan terlalu lelah untuk mencoba melepaskan diri darinya!
***
Elana melebarkan mata, menatap ke arah lelaki di depannya dengan bingung. Sekejap, dia kesulitan untuk mencerna apa sebenarnya yang dikatakan oleh lelaki itu sebelum kemudian dia menyadari maksudnya dengan jelas.
Astaga! Dirinya telah memanggil lelaki itu dengan nama julukan tak sopan yang seharusnya hanya dia gunakan di dalam hati saja!
"Ma...maafkan saya!" Elana segera membungkukkan tubuh untuk meminta maaf atas ketidaksopanannya dengan sikap sangat malu. Sayangnya, dia lupa bahwa posisinya saat ini begitu dekat dengan lelaki di depannya, hingga ketika dia membungkukkan tubuh, kepalanya malah membentur dada lelaki itu dengan keras hingga terdengar suara benturan di sana.
"Ah... maaf... maaf!" dengan panik Elana bergerak mundur, mengelus dahinya yang terasa sakit.
Keras sekali... memangnya lelaki itu memakai baju besi di balik pakaiannya?
Elana membatin dalam hati, tidak menyadari bahwa orang-orang yang memiliki banyak musuh seperti Xavier, selalu mengenakan rompi anti peluru di balik pakaiannya untuk melindungi diri dari serangan tak terduga.
Lelaki di depannya itu melangkah mendekati Elana yang mundur dan dengan baik hati menempatkan Elana kembali di bawah naungan payung besar yang dibawanya. Bibir lelaki itu menipis seolah menahan ekspresi geli melihat tingkah konyol Elana. Senyumnya yang semula dimaksudkan untuk memesona, tanpa tertahan lagi terurai, berubah menjadi senyum lebar yang lebih tulus.
"Kau tak perlu minta maaf, kurasa panggilan itu cukup menarik untukku. Aku akan mengizinkanmu sebagai satu-satunya makhluk di bumi ini yang boleh memanggilku dengan sebutan itu," ada nada arogan tipis yang terselip di balik suara Xavier, tetapi berhasil tertutupi oleh cara berucapnya yang sangat lembut.
Elana memandang lelaki di depannya yang tersenyum lebar, dan keningnya berkerut. Lelaki ini memang tampak lebih baik dibandingkan saat pertemuan mereka sebelumnya. Sudah ada rona di pipinya, meskipun sebenarnya, di antara remang lampu jalan dan rintik hujan yang melemparkan dirinya dengan bersemangat ke bumi, lelaki itu masih terlihat begitu pucat.
Mungkin memang warna dasar permukaan kulit lelaki ini yang sudah pucat dari sananya. Elana langsung menyimpulkan sendiri di dalam hatinya
"Anda sudah sehat? Apa yang dilakukan oleh orang sakit seperti Anda berjalan-jalan sendirian di tengah hujan pada malam hari? Apakah itu tidak akan membuat kondisi Anda semakin lemah nantinya?" tanya Elana penuh perhatian, menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya dengan jujur.
Mata Xavier melebar. Tak bisa menahan diri, senyumnya berubah menjadi pahit dengan sekelebat rona malu bergulir di permukaan wajahnya yang pucat.
Lana tampak begitu jujur dengan perkataannya. Perempuan itu memberikan pertanyaan dengan sungguh-sungguh tanpa ada maksud untuk menghina atau mengejeknya.
__ADS_1
Tetapi, astaga! Sebegitu jelekkah kesan pertama yang ditinggalkannya di mata perempuan ini? Dirinya dipandang sebagai lelaki lemah dan sakit-sakitan? Tidakkah perempuan ini menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan sosok luar biasa tampan yang pesonanya digilai oleh para perempuan dan membuat iri kaum laki-laki?
"Aku baik-baik saja, kau tidak lihat?" Xavier memiringkan kepala dengan sikap tertarik yang tidak ditutup-tutupi. "Aku hendak ke cafe itu untuk menikmati secangkir kopi dan pastri hangat berlapis mentega murni nan harum," Xavier menjawab pertanyaan Elana sambil menunjuk kafe berkanopi yang menjadi tempat tujuan Elana sebelumnya. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan berlari-larian di sini, Lana?"
Xavier tiba-tiba teringat bahwa sebelum menabraknya tanpa sengaja tadi, Lana tengah berlari-lari menembus hujan dengan sikap terburu-buru seperti di kejar setan.
Apakah perempuan itu benar sedang menghindari penjahat atau memang dia hanya sedang berusaha menghindari derasnya hujan?
Mata Elana berkerjap oleh sinar tanpa dosa ketika menjawab. "Aku... eh... hanya sedang hendak menuju cafe itu untuk berteduh," Elana menunjuk kafe yang sama seperti yang ditunjuk oleh Xavier sebelumnya, lalu tiba-tiba menatap Xavier dengan curiga. "Kenapa kau tahu namaku?" tembaknya dengan waspada.
Xavier meringis ketika ditatap seolah dirinya adalah penjahat mesum yang hobi mengintip pakaian dalam wanita. Tidak pernah dia dicurigai seperti ini sebelumnya karena telah memiliki pengetahuan tentang nama seorang wanita. Biasanya wanita-wanita itu malahan terkejut dan berbahagia luar biasa ketika mereka menemukan bahwa Xavier mengetahui namanya.
"Namamu..." Xavier berucap sambil tersenyum serba salah. "Di pertemuan kemarin kau mengenakan seragam cleaning service dan di bajumu tertulis namamu." Xavier menyentuh dadanya untuk membuat Lana mengerti perkataannya.
Bibir Elana terbuka karena terperangah mendengar jawaban lelaki di depannya. Ketika dia menyadari bahwa dia telah mencurigai seseorang tanpa alasan, pipinya langsung memerah karena malu.
"Kau dan aku memiliki tujuan yang sama, ke kafe itu...." Xavier berucap, memecahkan keheningan yang canggung di antara mereka. "Bagaimana kalau kita minum dan makan sesuatu yang hangat di sana sambil menunggu hujan reda? Aku belum mengucapkan terima kasih atas bantuanmu yang terakhir kali, jadi aku yang akan mentraktirmu nanti," tawarnya lembut, menyembunyikan jantungnya yang berdetak penuh harap dengan ritme yang semakin kencang setiap detiknya ketika bersama perempuan unik di depannya itu.
Perasaan ini sungguh baru, karena tak pernah Xavier begitu menginginkan jawaban 'Ya' dari seorang perempuan sebelumnya...
"Tidak, maaf, aku tidak bisa," Elana langsung menjawab lugas tanpa pertimbangan hingga harapan Xavier yang tengah menggeliat bangun, langsung dipukul mundur hingga hancur berkeping-keping tanpa sempat melawan. Ya, sejak kebodohannya menerima tawaran Karel menumpang di mobilnya untuk mengantarnya ke kelab tempatnya bekerja waktu itu, Elana bersumpah dalam hatinya akan berhati-hati di masa depan dan tak akan mudah percaya pada lelaki manapun, biarpun penampilan lelaki itu mungkin tampak lemah dan tidak berbahaya.
"Kenapa?" Xavier merasakan lubang menganga yang kosong di hatinya mendengar penolakan Lana terhadapnya. Ini adalah pengalaman pertamanya mengajak seorang wanita dan langsung ditolak begitu saja. Keangkuhannya ditundukkan seketika, dipaksa berbalik kalah dengan kepala tertunduk malu.
"Aku harus segera pulang ..." Elana mengerutkan kening, memikirkan bagaimana dia menjelaskan tentang sosok Akram pada lelaki di depannya.
Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia disekap dan ditawan oleh lelaki arogan yang menahannya hanya untuk dijadikan pemuas nafsu, bukan?
Xavier menatap Elana dengan penuh rasa ingin tahu.
Tak disangka, Elana malahan menganggukkan kepala kuat-kuat sebagai jawaban, seolah-olah Xavier telah berhasil mendeskripsikan apa yang sulit diungkapkannya.
"Semacam itulah!" serunya bersemangat. "Dia bukan orangtuaku tapi semacam penjaga bertampang sangar! Dan dia sangat sangat sangat galak serta menakutkan bagai beruang yang kakinya tertusuk duri. Bahkan seekor anjing herder yang buas pun, akan berbalik arah sambil menjepit ekor di antara kedua kakinya kalau harus berhadapan dengan dirinya yang sedang murka!" sambung Elana dengan nada jujur yang lucu.
Xavier kembali tak bisa menahan tawa mendengar betapa konyolnya perumpamaan yang digunakan oleh Elana. Entah sudah sejak kapan Xavier tidak pernah bisa tertawa lepas sebelumnya. Tetapi, baru sebentar bersama perempuan itu, Lana telah berhasil membuat Xavier mengekspresikan rasa bahagia tanpa sadar, membuatnya tersenyum lebar, terkekeh geli dan bahkan tertawa lepas seperti barusan. Perempuan ini memberikan nuansa nyaman yang melingkupi hatinya, seolah-olah jiwanya terasa ringan, terlepas dari seluruh beban berat yang melingkupi.
Xavier hendak berucap kata, ingin membujuk Lana supaya mempertimbangkan lagi ajakannya untuk menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersamanya. Xavier masih tidak ingin kehilangan nuansa menyenangkan yang membuai perasaannya itu, dia ingin lebih lama lagi bersama Lana. Tetapi kemudian, matanya yang awas tiba-tiba menangkap sekelebat bayangan orang-orang berpakaian jas hitam yang dalam sekejap tampak muncul di setiap sisi tersembunyi seolah mengepung mereka.
Anak buah Akram? Apakah Akram sekarang memutuskan untuk main kasar dan menyerangnya secara terang-terangan?
Xavier menatap ke arah wajah Lana yang polos dan langsung tahu bahwa dirinya harus menyingkir dari sini supaya perempuan yang ada di depannya ini aman dan terlindungi. Jika memang Akram akan menyerangnya, dia harus berada jauh dari Lana supaya perempuan itu tidak terkena imbas dari perseteruannya dengan Akram.
"Tentu saja aku merasa takut dengan penjagamu," Xavier berucap lembut setengah bercanda. "Aku juga tak ingin kau kena marah oleh penjagamu karena terlambat pulang disebabkan menuruti ajakanku minum kopi di kafe. Jadi, segeralah pulang dan berhati-hatilah," Xavier menggenggamkan payung yang dibawanya ke tangan Lana, lalu melangkah mundur dan membiarkan tubuhnya terguyur derasnya hujan.
Tindakannya itu jelas membuat Elana membuka mulutnya untuk memprotes.
"Tapi... tapi bagaimana dengan kau? Kau kan sedang sakit? Hujan akan membuatmu lebih sakit lagi..." Elana bergerak mendekat, berusaha mengangsurkan payung itu kembali ke tangan Xavier, tetapi Xavier mengangkat kedua tangannya ke depan dada sebagai tanda penolakan.
"Tidak perlu, Lana. Aku tidak selemah itu hingga harus kalah oleh hujan," senyum Xavier tampak cemerlang ketika dia mengucap selamat tinggal. "Namaku Xavier dan semoga akan ada kesempatan untuk kita bertemu lagi di masa depan. Aku akan menemukanmu," Xavier seolah mengucap janji kepada dirinya sendiri. Lelaki itu kemudian membungkukkan tubuh dengan gaya elegan laksana pangeran di negeri dongeng, lalu berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Elana yang hanya terpaku menatap punggungnya tak bisa mencegah.
Anak buah Akram, seperti yang diduganya, langsung mengejar dan mengikutinya. Tetapi langkah Xavier yang gesit membuat dia berhasil lolos dan meninggalkan mereka semua di belakangnya. Xavier akhirnya sampai di tempat mobilnya diparkir di sisi jalan. Di lokasi, itu Regas dan supirnya telah menunggu dengan setia.
__ADS_1
Regas bergegas memutari mobil dan membukakan pintu untuk Xavier. Setelahnya, dia kembali ke tempatnya di sebelah supir. Lalu sesuai persetujuan dari Xavier, Regas langsung memberikan perintah kepada supir supaya menjalankan mobil melaju meninggalkan lokasi, menembus keramaian jalan raya yang dimeriahkan oleh tetes air hujan yang bersemangat menerjuni bumi dan berpesta pora di atas permukaan tanah.
Xavier menyandarkan kepalanya ke kursi mobilnya, tangannya bersedekap dan matanya terpejam. Dalam hatinya penuh harapan supaya Lana sudah pergi meninggalkan tempat itu dan lolos dari perhatian anak buah Akram. Jika Akram sampai menghubungkan dirinya dengan Lana, maka hal itu akan berimbas buruk pada Lana dan Xavier sungguh tak mau itu terjadi.
Tak pernah Xavier mencemaskan seorang perempuan sampai sebesar ini sebelumnya...
***
***
Ketika punggung Xavier hilang dari pandangan tertelan derasnya hujan, Elana membalikkan tubuh dan ingin bergegas pergi, hanya untuk menemukan sosok Akram Night yang tengah berdiri dengan wajah murka luar biasa di depannya.
Tubuh Elana langsung gemetar menerima sinyal kemarahan yang terpancar dari tubuh Akram dan langsung menusuk ke dalam jiwanya. Elana ingin lari, tapi dia tahu bahwa tak ada kesempatan baginya untuk lari.
Anak buah Akram pasti sudah mengepung lokasi ini tanpa celah, dan dengan microchip di tangannya, sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk lari.
"Kemari, Elana." Akram memberi isyarat dengan tangannya, memerintahkan dengan arogan supaya Elana mendekat ke arahnya.
Elana meragu. Tapi tahu bahwa dia tak punya pilihan. Perlahan dia melangkah mendekat, lalu berhenti di jarak aman dengan berhati-hati.
Akram tampak basah kuyup. Lelaki itu berdiri di bawah guyuran hujan yang menimpa tubuhnya tanpa ampun, tetapi bersikap seolah tak peduli terhadapnya. Matanya yang berkobar oleh amarah hanya fokus menatap ke arah Elana.
"Apakah kau sudah puas bermain kejar-kejaran? Sebegitu rendahkah integritasmu sehingga dengan mudahnya kau melanggar janji?" tanya Akram dengan nada dingin. Tubuh lelaki itu kaku dan sama sekali tidak berusaha menjangkau Elana yang berada di depannya.
"Aku... aku tidak bermaksud lari ..." Elana berseru membela diri, berusaha mengalahkan derasnya hujan yang meredam suaranya. "Tapi kau tiba-tiba muncul di pesta itu dan secara impulsif aku...."
"Jadi, itu semua salahku." Akram menyela kasar, menyimpulkan cepat dengan seringaian sinis di wajahnya, membuat Elana kehabisan kata.
"Bu...bukan begitu, maksudku aku..."
"Apakah itu payung yang diberikan oleh Xavier kepadamu?" tiba-tiba Akram mengalihkan pembicaraan, mata tajamnya tertuju pada payung hitam yang ada di tangan Elana.
Elana mengerutkan kening. Kalimat Akram membuatnya sadar bahwa Akram memang mengenal lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Xavier tadi. Bahkan sebelumnya Akram pernah memperingatkan Elana tentang betapa berbahayanya Xavier itu.
"Bukan hanya mengingkari janji dan melakukan upaya pelarian yang sia-sia, kau bahkan juga tidak mengindahkan peringatanku untuk menjauhi Xavier...." Akram menyipitkan mata penuh ancaman, lalu tiba-tiba bergerak dengan kecepatan penuh, merenggut payung hitam itu dari tangan Elana dan membuangnya ke trotoar dengan sangat kasar.
Elana membuka mulutnya hendak memprotes. Tetapi, kata-kata yang sudah terkumpul di ujung lidahnya berubah segera menjadi teriakan kaget ketika Akram tiba-tiba membungkuk dan meraup tubuh Elana, lalu melemparkan Elana di pundaknya seolah sedang memanggul karung beras.
Kemudian, tanpa mempedulikan tangan Elana yang memukul-mukul punggungnya dan kaki Elana yang meronta-ronta penuh protes, Akram melangkah dengan cepat sambil memanggul Elana ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
Tubuh keduanya basah kuyup. Tetapi, bodyguardnya yang sudah menunggu dengan ekspresi datar langsung membukakan pintu mobil dengan gerakan sangat sopan ketika tuannya datang mendekat.
Akram melemparkan Elana ke jok penumpang di mobil itu dan secepat kilat menyusul duduk di sebelahnya. Setelah pintu tertutup, Akram memberikan perintah dengan geraman tak sabar, membuat mobil itu segera melaju menembus keramaian jalanan untuk membawa mereka pulang.
Nanti. Di rumah. Di dalam kamarnya, Akram akan memberikan pelajaran kepada Elana dengan keras, supaya untuk selanjutnya, perempuan itu tidak akan pernah berpikir lagi untuk membangkang dan melarikan diri darinya.
***
__ADS_1
***