Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 24 : Menjejak Pergi


__ADS_3


"Better to die fighting for freedom, than be a prisoner all the days of your life"


Ketika Akram melepaskan ciumannya, matanya sudah semakin gelap oleh kabut hasrat, apalagi ketika pandangannya berlabuh pada bibir Elana yang sedikit bengkak akibat kerasnya tekanan ciumannya di bibir nan rapuh itu.


Perempuan ini benar-benar rapuh seperti porselen. Sedikit saja Akram menambah tekanan dan menggunakan kekuatannya, dia seakan bisa meretakkan Elana dengan mudahnya.


"Apakah aku... sudah boleh pergi?" Elana bertanya gugup dengan tubuh kaku. Posisi Elana yang duduk di atas pangkuan Akram membuat tubuh mereka saat ini menempel begitu dekat, sebuah keintiman yang dipaksakan sehingga membuat Elana tidak nyaman. Ditambah lagi, tatapan Akram kepadanya yang seolah hendak menelannya bulat-bulat semakin membuat nyali Elana ciut, bagaikan mangsa lemah yang terdesak di persembunyian terakhirnya, tak punya kesempatan untuk melepaskan diri.


Akram mengerutkan kening, tidak suka mendengar pertanyaan Elana.


Di saat dirinya benar-benar menikmati tubuh Elana yang begitu dekat dengannya, kenapa perempuan ini dengan sekuat tenaga berusaha menunjukkan bahwa dia merasakan yang berlawanan dengan Akram?


Di dorong oleh hasrat untuk memiliki yang tak terbalas, kedua telapak tangan Akram yang besar bergerak dengan posesif, menangkup pinggang Elana di sisi kiri dan kanannya.


"Siapa bilang kau boleh pergi?" geramnya dengan suara parau.


Begitu mendengar perkataan Arran yang arogan, tubuh Elana menegak, lebih kaku dari sebelumnya, bagaikan busur panah yang ditarik meregang sampai ke batasnya untuk melontarkan anak panah sejauh mungkin. Akram sendiri yakin jika dia tidak menahan Elana di pinggangnya, perempuan itu sudah pasti meloncat pergi begitu ada kesempatan.


"Aku sudah melakukan semua yang kau mau.... ciuman dan... duduk di atas pangkuanmu....kurasa itu sudah cukup..." Elana kembali mencoba bernegosiasi, berharap Akram cukup berbaik hati untuk melepaskannya.


Sayangnya, Akram sedang tidak ingin berbaik hati. Elana bahkan tidak tahu penderitaan macam apa yang dirasakan oleh Akram saat ini akibat kedekatan tubuh mereka. Tubuhnya begitu berhasrat pada Elana hingga terasa nyeri. Belum lagi dirinya harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak melumat perempuan itu sekarang juga.


Nyeri yang hanya bisa diredakan oleh perempuan itu saja.


Akram menundukkan kepala ke arah Elana, berbisik pelahan di telinga Elana, dengan suara parau nan sensual, sengaja ingin mengalirkan getaran yang membuat punggung Elana menggelenyar, bersamaan dengan bulu kuduknya yang berdiri.


"Aku telah bercinta denganmu dalam jumlah yang hampir tak bisa kuhitung lagi," Akram menggigit cuping telinga Elana dan mengabaikan pekikan terkejut perempuan itu. Didekapnya tubuh Elana yang meronta dalam cengkeraman yang semakin erat, sengaja menempelkan diri untuk menunjukkan betapa berhasratnya dirinya pada perempuan itu. "Aku yakin bahwa kau sudah sangat mengenal tubuhku, Elana. Dan kau pasti tahu bahwa tubuhku tidak mungkin bisa dipuaskan dengan sebuah ciuman saja."


 



 


Minggu malam akhirnya menjelang dan Akram hampir-hampir tidak merasakan bagaimana cepatnya waktu berlalu. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, tentu saja bersama Elana, hingga melupakan ruang dan waktu.


Akram membuka mata ketika hari sudah beranjak gelap dan menyadari bahwa dirinya masih berbaring di atas ranjang yang kusut masai tempatnya menghabiskan begitu banyak waktu selama akhir pekan ini. Refleks dirinya langsung menolehkan kepala untuk mencari Elana dan senyum masam langsung teruntai di bibirnya ketika melihat bahwa perempuan itu, lagi-lagi telah meninggalkan ranjang dan memutuskan untuk pindah tidur di atas sofa.


Seolah-olah Elana takut bahwa Akram akan menyerangnya begitu mereka bersentuhan di atas ranjang ini....


Yah, Akram tidak bisa menyalahkan Elana karena memang begitulah kenyataan yang sebenarnya. Setelah perempuan itu mengambil inisiatif untuk menciumnya semalam, gelora Akram untuk menaklukkan Elana berkorban semakin besar. Dan Akram tahu, bahwa sampai pada detik ini pun, hati perempuan itu sama sekali tidak tertalukkan olehnya, membuat Akram terdorong melampiaskan rasa frustasinya dengan menguasai tubuh Elana lagi dan lagi.


Akram beranjak dari ranjang, sementara matanya menatap ke arah Elana yang tertidur begitu pulasnya hingga tak menyadari suara-suara di sekelilingnya.


Untuk saat ini, Akram memutuskan untuk tidak mengganggu Elana dan membiarkannya tetap tidur di atas sofa. Bukan karena dia sudah tidak berhasrat lagi, tetapi lebih karena ada hal penting yang harus didahulukan untuk dilakukan segera.


Akram harus menyiapkan segalanya untuk memenuhi janjinya pada Elana dan dia membutuhkan Elios sebagai perpanjangan dari tangannya.


Dengan cepat, diraihnya ponselnya dari atas meja, lalu Akram melangkah menyeberangi ruangan, menuju sisi terjauh yang berlawanan arah dari sofa tempat Elana tertidur, dengan tujuan supaya percakapannya di telepon tidak sampai mengganggu tidur perempuan itu yang sangat lelap.


"Tuan Akram?" seperti biasa Elios langsung menyapa dari seberang sana setelah dering pertama.


"Ubah jadwal esok pagi, kirim helikopter menjemput tengah malam ini." Akram berucap dengan nada tegas sebelum melanjutkan. "Aku akan membawa Elana bersamaku."

__ADS_1


"Anda akan membawa Elana ke luar pulau?" Elios tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di dalam suaranya. Sepuluh tahun lebih dirinya mengikuti Akram, tidak pernah sekali pun tuannya ini mengubah keputusan secara tiba-tiba. Itu semua karena setiap keputusan yang diambil oleh Akram, hanya diambil setelah melalui pemikiran yang matang dari otaknya yang jenius. Lagipula, setiap keputusan yang diambil oleh tuannya itu biasanya selalu tepat, sehingga Akram tidak perlu repot-repot mengubahnya.


Tetapi sekarang... bahkan belum genap dua minggu tuannya ini menempatkan Elana di pulau ini, dan tuannya itu tiba-tiba mengubah keputusannya.


Sebenarnya kalau dipikir-pikir, apapun yang berhubungan dengan Elana tampaknya selalu berhasil membuat Tuan Akramnya ini seolah kehilangan diri beliau yang biasanya penuh rasionalitas dan bisa dibilang selalu tampak tanpa emosi dalam segala hal.


"Ada perjanjian saling menguntungkan yang kami buat bersama." suara Akram terdengar penuh misteri. "Dan aku akan menjalankan bagianku dalam perjanjian ini, yaitu dengan membawa Elana keluar dari pulau serta memberinya pekerjaan."


"Memberinya pekerjaan? Maksud Anda, Anda akan membiarkan nona Elana untuk bekerja di bawah lingkup perusahaan Anda?" Elios mengerutkan kening. "Apakah itu merupakan suatu keputusan bijaksana? Mengingat bahwa kita sudah menghapuskan identitas Elana? Dan juga, membiarkannya berinteraksi dengan orang luar, apakah Elana tidak akan membuka mulut dan berkoar-koar tentang Anda kepada khalayak? Mungkin untuk saat ini, perkataan Elana tidak cukup berarti, tetapi satu bara berwujud gosip kecil saja... jika dikipasi dengan tepat bisa menimbulkan kebakaran besar nantinya...."


"Tenanglah, Elios." Akram segera menghentikan kecemasan Elios yang seolah tak berujung. "Aku sudah memperhitungkan segalanya. Elana tidak akan berani membuka mulutnya kepada siapa pun. Perempuan itu tahu bahwa ada harga yang harus dibayar untuk kebebasannya."


Mendengar jawaban Akram yang begitu santai, Elios langsung menyadari bahwa Akram selalu bisa mencapai tujuannya dengan caranya sendiri. Tanpa sadar dia menganggukkan kepala untuk menunjukkan betapa percayanya dia kepada kemampuan Akram, lupa bahwa tuannya di seberang sana tidak bisa melihatnya.


"Baik, Tuan Akram," susulnya kemudian dengan suara patuh. Pengalaman bekerja di bawah Akram selama sepuluh tahun membuatnya dengan mudah bisa mempercayai tuannya tanpa syarat. "Saya akan mengirimkan helikopter tengah malam nanti. Apakah ada hal lain yang harus saya kerjakan selain itu?" Elios bertanya kembali sebelum menutup pembicaraan.


Hening sejenak, seolah Akram di seberang sana sedang berpikir.


"Aku membahas tentang pekerjaan bagi Elana. Sediakan satu lowongan yang bisa dia isi sesuai kualifikasinya."


Elios mengerutkan kening. "Saya bisa menyediakan jabatan apa pun yang Anda inginkan untuk diisi oleh Nona Elana. Anda ingin menjadikannya sebagai apa di perusahaan Anda?" Ethan berpikir mungkin Akram ingin menjadikan Elana sekertarisnya supaya perempuan itu bisa selalu ada di dekatnya.


Tetapi, Akram selalu penuh kejutan. Tidak ada yang bisa menebak apa sebenarnya yang sedang berputar di dalam kepala tuannya itu.


"Ketika aku sedang berbaik hati, aku akan memberikan apa yang diminta dariku dengan tepat, tidak kurang dan tidak lebih," Akram menyeringai seolah puas dengan keputusannya. "Berikan Elana pekerjaan di divisi cleaning service, supaya dia bisa melakukan pekerjaan membersihkan toilet, sesuai dengan hobinya."


 



 


Berjam-jam sudah berlalu sejak Akram menelepon Elios, dan sekarang detik waktu sudah berjalan hingga hampir merayapi tengah malam.


Akram akhirnya terpaksa mencoba membangunkan Elana, karena sebelum mereka meninggalkan pulau ini tengah malam nanti, dia ingin memberitahukan persyaratan mutlak darinya yang harus dipatuhi Elana di masa depan nanti.


Dia harus memastikan bahwa Elana benar-benar paham dengan persyaratannya dan bersedia mematuhi seluruh persyaratan itu tanpa kecuali.


Ketika suaranya tak mampu menembus alam mimpi Elana, Akram menyentuhkan jemarinya yang hangat untuk mengelus sisi pipi Elana dengan lembut.


"Bangun, Elana," ulangnya kemudian, kali ini dengan nada yang lebih keras.


Sentuhan hangat itu terasa di pipi Elana membuat Elana seolah ditarik paksa dari mimpi indahnya dan langsung membuka mata. Dirinya langsung berhadapan dengan sosok Akram Night yang tampak telah berpakaian rapih dan berdiri di samping ranjang, dekat sekali dengan Elana.


Secara refleks, Elana langsung beringsut menjauh, menjaga jarak dari Akram dengan sengaja. Sikapnya itu membuat Akram menipiskan bibir menahan jengkel, tetapi akhirnya memilih tidak mengatakan apa-apa. Nanti saja mereka akan membahas mengenai sikap Elana yang seolah menganggapnya sebagai wabah penyakit terutama di saat mereka tidak sedang bercinta, untuk sekarang, masih ada hal yang lebih penting yang harus mereka bicarakan.


Akram hendak membuka mulutnya, tetapi matanya malah terarah pada bahu Elana yang terbuka karena selimut yang digunakannya melorot, dan pemandangan bekas ciuman yang dia tinggalkan di kulit Elana semalam dan hampir sepanjang hari ini, langsung menarik perhatiannya.


Kulit Elana tampaknya sangat sensitif dan rapuh, sedikit tekanan saja akan menciptakan bekas merah nan samar di sana, dan ciuman-ciuman yang diberikan oleh Akram dengan penuh gairah di sana yang berpadu dengan tanda kepemilikan, dengan cepat berubah dari warna merah terang menjadi merah gelap yang hampir ungu di permukaan kulit Elana.


Seolah-olah dia telah melakukan kekerasan pada Elana....padahal yang dia lakukan hanyalah memberi perempuan itu tanda kepemilikan dengan penuh hasrat, tanpa tujuan menyakiti.


Akram mengerutkan kening tidak suka ketika memandang lebam-lebam merah keunguan itu dan memutuskan bahwa ke depannya dia akan lebih berhati-hati memperlakukan Elana.


Ditatapnya Elana yang tampak sedang menahan diri supaya tidak menguap, perempuan itu tampaknya sangat mengantuk hingga kesulitan mengembalikan kesadarannya secara penuh.

__ADS_1


Dan untuk kesekian kalinya, tingkah Elana tersebut berhasil melembutkan hati Akram sehingga dia mengurungkan niatnya untuk mengajak Elana berbicara serius sebelum mereka pergi meninggalkan pulau malam ini.


Perempuan ini kelelahan. Dia butuh istirahat.


Dengan gerakan cepat, Akram mendorong Elana sedikit beringsut dari sofa dan mengambil posisi duduk di ujung sofa yang berlawanan dengan Elana, membuat Elana membelalakkan mata dan berusaha menggeser tubuhnya kembali menjauh dengan percuma karena tubuhnya telah berada di posisi paling pinggir dadi sofa dan hampir jatuh.


"Kalau kau... ingin lagi....aku... aku... tak bisa..." Elana berucap cepat dengan nada terbata, dirinya sudah begitu lelah hingga tak memiliki daya untuk melawan Akram jika lelaki itu hendak memaksakan kehendaknya. Dia bahkan sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk sekedar meninggikan nada suaranya.


Akram benar-benar menghabiskan waktunya untuk kembali bercinta dengan Elana sejak sabtu malam sampai hari minggu seharian ini. Sekarang hari minggu telah hampir menuju waktu pamungkasnya, dan Elana benar-benar kelelahan. Dia hanya ingin tidur dan memulihkan tenaganya, dia hanya ingin ditinggalkan sendirian.


Akram tersenyum masam ketika menemukan ketakutan di mata Elana. Ya, dia sadar bahwa dirinya memang keterlaluan kalau menyangkut Elana. Seolah-olah dirinya berubah menjadi maniak seks yang tak pernah puas. Tetapi untuk saat ini, Akram bahkan tidak memahami dirinya sendiri dan reaksi tubuhnya. Hasratnya pada Elana begitu besar dan kenyataan bahwa dia telah menahan diri selama beberapa hari tak bisa mengunjungi Elana, membuatnya lepas kendali ketika dirinya mendapatkan kesempatan untuk memuaskan diri bersama Elana.


Akram mengulurkan tangannya, memberi isyarat pada Elana agar mendekat ke arahnya.


"Aku tidak akan mengganggumu lagi kali ini. Apa kau tidak lihat kalau aku sudah berpakaian rapih dan bersiap untuk pergi?" Akram berucap dengan nada jengkel saat mengetahui sinar teror di mata Elana ketika melihat uluran tangannya.


Mata Elana melebar. "Kau mau pergi?" kepanikan langsung memenuhi matanya. "Kau bilang... kau sudah berjanji bahwa kau akan mengeluarkanku dari sini... tapi kau akan pergi sendirian?" serunya penuh tuduhan.


Akram berdecak semakin jengkel. Dan karena sepertinya Elana sama sekali tidak berniat untuk menyambut uluran tangannya, akhirnya Akram memutuskan untuk mencekal tangan perempuan itu, lalu menarik Elana dengan kekuatan penuh hingga Elana menabrak dadanya, jatuh ke dalam pelukan dengan posisi duduk di pangkuannya. Ditahannya Elana di sana, dipeluknya perempuan itu kuat-kuat untuk mencegah Elana melepaskan diri, meskipun dia tahu bahwa saat ini, Elana sudah terlalu lelah untuk melakukannya.


"Diam dan dengarlah aku dulu, perempuan keras kepala," Akram berucap setengah menggerutu saat menyadari Elana sudah membuka mulutnya untuk memprotes. "Aku akan menepati janjiku membawamu malam ini keluar dari pulau dan kita akan membicarakan persyaratannya nanti di tempatku. Kau bisa tenang karenanya. Untuk sekarang, diamlah, lemaskan tubuhmu dan jangan begitu kaku di pelukanku," Akram meremas bahu Elana lembut seolah berusaha memijit sambil lalu, "pejamkan matamu, Elana." perintahnya tegas.


Melawan perintah Akram, Elana malah mengangkat pandangannya dan menatap Akram dengan bola mata yang dilumuri oleh rasa ingin tahu.


"Untuk apa aku harus memejamkan mata?" tanyanya curiga. Perempuan itu memang tidak memberontak, tetapi apa yang terpancar di pandangannya sudah menunjukkan isi hatinya. Elana was-was kalau Akram akan menyerangnya begitu dia menutup mata.


"Aku tidak akan menyerangmu kalau itu yang kau takutkan," Akram menjawab langsung, membuat pipi Elana memerah. Pemandangan indah itu langsung membuat Akram bergairah hingga Akram terpaksa mengalihkan tatapan matanya dan mendorong kepala Elana supaya tenggelam di dadanya yang keras. "Aku hanya ingin kau tidur dan beristirahat."


Elana yang tak percaya, malahan berusaha mendongakkan kepalanya untuk menatap Akram kembali serta mencoba berbicara. Tubuhnya bergerak gelisah di atas pangkuan Akram, membuat Akram semakin tersiksa oleh hasratnya yang merayap naik seiring dengan gesekan tubuh Elana ke tubuhnya.


Sambil menggertakkan gigi, Akram menahan perempuan itu, lengannya memeluk tubuh mungil Elana dengan erat, dengan kekuatan yang tak bisa dibantah.


"Sshhh... diam dan tidurlah. Kalau kau terus bergerak-gerak, aku bisa berhasrat lagi dan mengubah pikiranku, lalu memutuskan untuk menidurimu." geram Akram dengan nada sungguh-sungguh. Ancamannya rupanya efektif karena segala gerakan Elana langsung terhenti diam setelahnya.


Akram tersenyum simpul. Ditenggelamkan kepalanya di kelembutan rambut Elana, sementara tangannya mengusap rambut dan bahu perempuan itu dengan belaian seirama yang memabukkan.


"Masih ada waktu sampai dengan tengah malam. Tidurlah, kucing mungil. Pulihkan tenagamu, karena percayalah, kau akan membutuhkan banyak energi untuk menjalani hari-harimu nanti." suara Akram terdengar lembut dan dalam, layaknya sebuah nina bobo yang sempurna sebagai pengantar tidur bagi Elana yang kelelahan.


 



 


Helikopter yang dikirimkan oleh Elios datang menjemput tepat di tengah malam. Beruntung cuaca saat ini sedang baik, dengan sinar bulan yang begitu terang dan angin malam yang bersahabat.


Akram mengangkat Elana yang masih tertidur pulas di gendongannya dan berjalan menyusuri jalan setapak dari gerbang ke arah helipad dengan beberapa bodyguard mengikuti di belakangnya. Udara dingin langsung meniup mereka ditambah dengan pusaran angin dari helikopter yang menanti Beruntung tubuh Elana sudah dibungkusnya dengan selimut tambahan yang menutup perempuan itu dari bawah dagu hingga ke kaki.


Akram membiarkan anak buahnya membantunya naik. ke atas helikopter karena dirinya tidak mau melepaskan pelukannya dari Elana yang masih berada dalam gendongannya. Begitu dirinya duduk di kabin helikopter dan semua persiapan telah dilakukan, helikopter legam itupun mengudara setelah pilotnya memohon izin pada Akram dengan sikap hormat.


Ketika helikopter itu sudah menjejak awan, sementara di bawahnya ombak lautan tampak berkejaran seolah melambai ke arah mereka, Akram menundukkan kepala dan menatap ke arah Elana yang tidur dengan begitu pulas dan damai dengan pipi menempel di dadanya.


Bibir Akram mengurai senyum tak sabar dan penuh antisipasi, menantikan hal menarik yang mungkin akan terjadi di masa depan mereka nanti.


 

__ADS_1




__ADS_2