
Pendingin di kamar hotel itu diatur pada suhu yang cukup rendah. Kalau saja tubuh Sera tidak ditutup oleh selimut tebal itu, mungkin dia sudah menggigil kedinginan. Sedangkan tubuh Xavier yang memeluknya erat di belakang, mau tak mau diakui Sera cukup membantu menjaga suhu tubuhnya. Lelaki itu terasa panas, hawa panas yang memancar dari lelaki itu secara otomatis terserap ke punggung Sera karena begitu dekatnya lelaki itu di belakangnya.
Sera benar-benar merasa tak nyaman dengan posisi ini. Dia menundukkan kepala dan menatap lengan yang kokoh melingkari pinggangnya. Keningnya lalu berkerut setengah bingung ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang terasa aneh dan tak beres.
Entah kenapa pelukan itu begitu erat, seolah-olah Xavier sedang berpegangan kepadanya.
Sera juga merasakan bahwa tubuh Xavier begitu menempel di belakang punggungnya seolah-olah mereka harus berbagi tempat sempit untuk berbaring. Padahal, ranjang hotel itu sangatlah besar, bahkan cukup jika dipakai tidur oleh mereka berdua tanpa harus saling bersentuhan sama sekali. Tetapi, saat ini, Xavier malahan memeluknya dalam posisi berbaring miring seperti sepasang sendok yang bersusunan ke arah yang sama dan lelaki itu mendesaknya hingga Sera benar-benar berbaring di ujung ranjang. Posisi Sera benar-benar terdorong di tepian ranjang, hingga jika dia mencoba bergerak maju sedikit saja, dia pasti akan jatuh.
Sera menggerakkan tangannya, berusaha melepaskan lengan Xavier yang melingkari merengkuh pinggangnya, tetapi usahanya sia-sia. Pelukan itu mencengkeram, begitu eratnya hingga susah untuk dilepaskan.
Sebenarnya, ada apa dengan lelaki itu?
Refleks Sera menoleh ke belakang, penasaran dengan Xavier. Dia langsung menyadari bahwa wajah lelaki itu begitu dekat dengan dirinya hingga wajah Sera hampir saja menempel menyentuh lelaki itu saat dia menggerakkan kepala ke belakang. Jantung Sera berdebar, tapi tak urung dia berusaha memutar tubuhnya, sekedar untuk bisa menolehkan kepalanya dengan pas sehingga dia dapat melihat lelaki itu dengan jelas.
Lalu Sera tertegun ketika pikirannya menerjemahkan apa yang saat itu dilihat oleh matanya.
Ekspresi Xavier tampak… kesakitan.
Lelaki itu tengah tertidur pulas dengan mata terpejam rapat, tetapi kerutan di alisnya sangatlah dalam, pun dengan bibirnya yang memberengut, membuat siapapun yang melihatnya langsung berpikir bahwa lelaki itu pastilah sedang mengalami mimpi yang teramat buruk.
Sera tentu saja tahu persis tentang masa lalu mengerikan Xavier. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba tersentuh oleh seberkas rasa iba yang membuatnya menelan ludah dan mengurungkan niatnya untuk membangunkan lelaki itu serta memaksanya melepaskan pelukan eratnya dari pinggangnya.
Kini Sera mengerti kenapa lelaki itu mendesaknya sampai ke ujung tempat tidur. Pun dia memahami kenapa Xavier mendekapnya begitu erat, seolah-olah hanya Seralah satu-satunya pegangannya supaya tidak jatuh tergelincir ke dalam jurang dalam nan mengerikan.
Xavier…. Sepertinya masih mengalami mimpi buruk di dalam tidurnya, setiap malam….
Sebagai manusia yang sama-sama memiliki masa lalu buruk dalam siksaan dan trauma yang menghantui, sedikit banyak Sera memahami mengenai mimpi buruk itu. Dia sendiri masih sering mengalaminya. Bahkan, kadang-kadang, sosok Xavierlah yang muncul di mimpi buruknya, mengejarnya untuk membunuh, sambil berhias senyum manis yang mengerikan. Tetapi, jika Sera mau jujur, sesungguhnya sebagian besar mimpinya dipenuhi oleh sosok Samantha Dawn yang murka dan menyeramkan, menggunakan tubuhnya sebagai samsak untuk memuaskan kebencian dan dendamnya yang tak tersalurkan.
Sera menghela napas panjang, kebingungan dengan perasaan yang bergolak dalam jiwanya. Lelaki yang memeluknya ini seharusnya menjadi sumber traumanya. Tetapi entah kenapa sekarang, saat lelaki ini memeluknya seolah Sera adalah penyelamatnya, tiba-tiba saja dirinya merasakan dorongan kuat untuk membantu dan menguatkan lelaki itu.
Apakah perasaan senasib sependeritaan inilah yang membuat Sera jadi merasa lemah terhadap lelaki ini? Atau jangan-jangan… karena Xavier telah membunuh Roman dan Anastasia Dawn, Sera jadi merasa terbebas atas tuntutan membalas dendam yang dibebankan ke pundaknya, sehingga dia tidak memandang Xavier sebagai musuh lagi?
***
“Selamat pagi.”
Sebuah suara parau menyapa Sera di pagi hari, membuat Sera mengerjapkan mata dalam kondisi setengah sadar. Dia kemudian merasakan tubuhnya ditarik mundur hingga telentang, lalu tubuh yang kokoh melingkupi di atas tubuhnya, terasa hangat dan akrab dalam arti yang membahayakan.
Sera langsung membuka matanya lebar-lebar ketika alarm peringatan berbunyi di dalam kepalanya. Sayangnya, ketika dia mendapatkan kembali kesadaran dirinya secara penuh, semuanya sudah terlambat. Xavier sudah menundukkan kepala di atasnya, mendekatkan wajahnya dengan cepat tanpa memberi kesempatan bagi Sera untuk berpaling, lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman penuh hasrat yang terlalu dalam untuk diucapkan sebagai ciuman selamat pagi.
Percuma Sera berusaha meronta, karena lelaki itu dengan curang mengerahkan seluruh keahlian dan pengalamannya untuk menguasai Sera, membuat kepala Sera yang tadinya jernih kembali berkabut, dipenuhi oleh sensasi aneh yang membuat jantungnya berdetak kencang tak terkendali.
Keahlian lidah dan mulut Xavier yang menjelajah dan menggoda bibirnya seolah mengirimkan kekuatan tak kasat mata untuk meremas paru-parunya, hingga napasnya yang tertahan oleh panasnya ciuman itu jadi makin tersengal. Sensasi perpaduan bibir mereka yang sama-sama sensitif, merayapkan senyar ke seluruh permukaan kulitnya, hingga yang bisa dilakukan oleh Sera hanyalah mencengkeramkan tangannya ke punggung Xavier yang tak berbaju, berpegangan di permukaan kulit panasnya seolah-olah hanya itulah satu-satunya cara supaya Sera tak tenggelam sepenuhnya dalam bujuk rayu Xavier.
Kurang pengalaman membuat Sera mudah ditaklukkan, apalagi ketika dia berhadapan dengan lelaki ahli yang berniat mencicipi. Hanyut dalam sensasi, mata Sera mulai memejam, membuat Xavier mengerang, lalu semakin memperdalam ciumannya, didera hasrat untuk memiliki.
Beruntung, pengendalian diri Xavier cukuplah kuat. Meskipun Sera merasakan jelas bukti hasrat Xavier yang tak bisa disembunyikan di tengah sentuhan kulit mereka yang rapat, lelaki itu ternyata berhasil menahan diri, mengangkat bibirnya dari bibir Sera, lalu menunduk dan menatap Sera dalam senyuman misterius yang berpadu dengan sinar mata lembut menggoda.
“Senang sekali bisa mencicipimu di pagi hari. Kau terasa sangat manis dan lezat….” Xavier berbisik dengan bibir masih menempel dengan bibir Sera, lidahnya mencecap sedikit, mencicipi dengan mengoda. Lelaki itu setengah melengkungkan punggung, sementara kepalanya bergerak turun tanpa izin dan bibirnya menjelajah, mengecup lembut pucuk dagu Sera sebelum kemudian bergeser naik perlahan, mengecupi sisi rahang Sera dan berlabuh di dekat telinganya, menggigit lembut sambil mengembuskan napas panasnya dengan sengaja di sana.
__ADS_1
Sera terkesiap ketika merasakan bulu halus di sekujur tubuhnya bereaksi, mengirimkan gelenyar yang hampir-hampir tak bisa ditanggung oleh pikiran warasnya yang meronta ingin lepas dari kekang.
Refleks, tangannya yang tadinya berpegangan pada punggung Xavier terlepaskan dengan segera, beralih menyusup di antara tubuh mereka, lalu digunakannya untuk mendorong dada Xavier jauh-jauh dari dirinya. Lengannya yang kurus menyalurkan tenaga yang sepenuhnya dibahanbakari oleh tekad kuatnya yang tersisa untuk membebaskan diri dari lelaki itu.
Xavier bergeming, tetapi kepalanya menunduk, menatap ke tangan Sera yang tampak menyedihkan karena berusaha mendorongnya tanpa hasil. Lelaki itu malahan menggoda, menempatkan dirinya di antara kedua kaki Sera dengan sengaja, membuat Sera memekik, lalu menjejakkan kakinya tak terkendali, dengan putus asa berusaha menendang lelaki itu supaya menjauh dari tubuhnya.
Kali ini, seakan sudah puas menggoda Sera, Xavier mengangkat tubuhnya yang semula memerangkap perempuan di bawahnya, bibirnya mengulas senyum ketika akhirnya dia menggeser dirinya untuk duduk di tepi tempat tidur.
Mata Xavier masih mengawasi Sera terang-terangan, sementara Sera sendiri memalingkan wajah dengan pipi merona merah, malu akan kelemahannya dan juga tak mau melihat tubuh Xavier yang hanya mengenakan celana piyama hitam polos yang menggantung rendah di pinggangnya.
Xavier menatap Sera lekat-lekat, lalu menyeringai.
“Kau terlihat sangat menarik ketika bangun tidur. Dengan rambut acak-acakan dan mengenakan kemejaku. Seandainya saja aku tak berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga kesucianmu hingga aku menikahimu, mungkin aku tak akan bisa berhenti menyentuhmu dan membuat kita terdampar di atas ranjang ini seharian penuh.” Xavier mengucapkan kalimatnya dengan nada sensual yang nyata, sementara matanya menyusuri tubuh Sera dengan kurang ajar, membuat Sera langsung menunduk dan menyadari bahwa kaki jenjangnya terekspos tanpa penutup.
Refleks, Sera langsung membungkuk hendak meraih selimut yang teronggok di kakinya guna menutupi diri, tetapi gerakannya kalah cepat dari Xavier. Lelaki itu menipiskan bibir seolah-olah sedang menertawakan sikap canggung Sera, lalu meraih selimut tersebut dan menutupkannya ke kaki Sera yang tadinya terbuka.
"Bukankah seharusnya aku mendapatkan ucapan terima kasih karena telah layaknya pria sejati?" Xavier bertanya, dengan niat jelas untuk membuat Sera jengkel.
Sera bergegas menegakkan punggung dalam posisi duduk di atas tempat tidur. Dia lalu mengangkat dagu dengan angkuh sebagai tanggapan, menolak mengucapkan terima kasih dan malahan menatap Xavier dengan pandangan penuh kebencian.
Dorongan untuk menantang lelaki ini dan menghapuskan senyuman kurang ajar yang terpampang di sana, membuatnya mengeluarkan kalimat pertanyaan tanpa pikir panjang.
“Kau sungguh terlalu percaya diri. ‘Kesucian' katamu? Dari mana kau begitu yakin bahwa aku tak memiliki pengalaman dengan lelaki lainnya sebelum bertemu dirimu?”
Ketika pertanyaan itu selesai terlontar dari bibirnya, barulah Sera menyadari bahwa dia telah melemparkan bensin ke nyala api yang seharusnya aman tersembunyi dalam sekam. Saat mata Xavier menyipit dan ekspresi wajahnya berubah tak terbaca, saat itulah Sera menyadari bahwa dia telah mendorong dirinya sendiri masuk ke dalam lidah api hingga terbakar oleh jilatan lidahnya.
“Aku menyelidikimu, Serafina Moon. Dan penyelidikku sangatlah detail dalam memberikan perincian hasil temuannya, hingga jika kau pernah disentuh oleh laki-laki lain, aku akan tahu setiap detailnya. Aku bisa memastikan bahwa pengalamanmu dengan laki-laki ibarat pengalaman seekor kucing yang dikirim ke bulan lalu dilepaskan begitu saja. Kau kebingungan, buta arah dan tak tahu harus berbuat apa.” Xavier menipiskan bibir dan memandangi Sera dengan tajam. “Tetapi, jika kau hendak membantahku lagi, maka aku tak akan menyanggahmu atau melayani keinginanmu untuk beradu pendapat di pagi hari yang indah ini. Meskipun sesungguhnya kesucianmu bukanlah masalah bagiku, aku pasti akan mengetahui kebenarannya cepat atau lambat, nanti di malam pertama pernikahan kita, bukan?” pertanyaan Xavier itu adalah pertanyaan retorika, jenis pertanyaan yang tak memerlukan jawaban karena malahan terdengar seperti sebuah janji.
"K-kau tidak seharusnya masih melanjutkan rencanamu untuk menikahiku! Bukankah kau sudah membunuh Roman dan Samantha Dawn? Kau... kau seharusnya membunuhku juga supaya semua hal yang berhubungan dengan dendam masa lalu terselesaikan, bukan?" Sera mengutarakan pikirannya kembali tanpa pikir panjang, lalu gemetar ketakutan kemudian ketika menyadari kesalahannya.
Sera seolah-olah meminta dibunuh dengan kalimatnya itu. Bagaimana jika Xavier mengejawantahkan perkataannya secara harafiah dan memutuskan untuk membunuhnya?
Bukannya Sera takut mati. Tidak, dia sudah siap mati sejak awal mendekati lelaki kejam ini. Tetapi, ada ayahnya yang harus dipastikan keselamatannya terlebih dahulu. Dan juga, ada Aaron.... Aaron telah menjadi malaikat penyelamat baginya dalam penderitaannya di masa lalu, sekarang waktunya Sera membalas budi.
"Kau memucat." Xavier mengulurkan tangannya, sengaja mengabaikan tubuh Sera yang terkesiap ketika jemarinya menyentuh lembut wajah Sera. Lelaki itu menggulirkan sidik jarinya lembut, mengusap permukaan kulit Sera dengan gerakan seringan kapas. "Apakah kau takut aku akan membunuhmu?" tanyanya kemudian.
Mata Sera langsung berkilat ketika dia mengutarakan isi hatinya dengan jujur,
"Aku tak takut mati. Aku hanya...," Suara Sera terhenti ketika Xavier menggulirkan telunjuknya untuk mengatupkan bibirnya dan membuat Sera tak bisa berbicara.
"Kau tak akan mati. Aku tak mau ditinggalkan sendirian. Aku akan memastikan babwa kau akan terus hidup. Sayangnya, hidupmu akan kau habiskan terikat denganku." Xavier menatap Sera dengan tatapan kejam tanpa belas kasih. "Dalam kebahagiaan maupun kesedihan, dalam kebencian maupun rasa cinta, tak ada bedanya bagiku. Kisah hidupmu hanya akan berakhir pada satu kesimpulan: Serafina Moon akan menjadi Serafina Moon Light besok pagi." Xavier berucap penuh arti, tangannya tanpa izin meraih jemari Sera, membawanya ke bibir dan mengecupnya penuh makna.
Rasa panas bibir Xavier membuat Sera seketika menarik tangannya dengan kasar dari genggaman lelaki itu. Dia bahkan melipat tangannya di dada untuk melindungi dirinya dari sentuhan seenaknya yang dilakukan Xavier tanpa izin.
"Itukah kebebasan yang kau bilang akan kau hadiahkan kepadaku? Menikahiku dengan paksa lalu memaksakan kehendakmu kepadaku?" tanya Sera dengan nada sinis.
Xavier memiringkan kepala dan tersenyum. "Aku membebaskan dirimu dan diriku sendiri, dengan memutus dendam masa lalu kita berdua, mencabut ke akarnya. Sekarang, kau merasa ringan tanpa beban, bukan? Tidak ada yang memaksamu untuk membalas dendam kepadaku lagi, bukan?"
Itulah yang dirasakan oleh Sera semalam, dan dia memang tak bisa mengingkarinya. Tetapi, bukan berarti kematian Roman dan Samantha Dawn membebaskan Xavier dari dosa masa lalunya, bukan?
__ADS_1
"Kalau mengira dengan kematian mereka berdua akan membuatku menafikan dendam dan kebencianku kepadamu, maka kau salah. Bagaimanapun, kau tetap bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada ayahku dan ibuku," tuduh Sera penuh kebencian
Xavier tertawa. "Apakah kau sebegitu piciknya ingin mencari kambing hitam atas penderitaan keluargamu sehingga membabi buta membebankan semuanya ke pundakku?" Xavier menatap Sera dengan kejam sebelum melemparkan kalimat menusuk yang langsung menikam jantung perempuan itu. "Ayahmu menerima uang atas pekerjaan yang diberikan kepadanya. Instruksiku hanyalah penculikan, lalu mengambil beberapa foto Anastasia untuk mencemarkan nama baiknya. Baron Night berpandangan sangat kolot pada perempuan, dia sudah pasti akan melarang Akram Night menikahi Anastasia. Perintahku hanya itu, dan Salvatore Moon menerima uang yang tak sedikit untuk tugas sesederhana itu. Sayangnya, bahkan untuk tugas seremeh itu, ayahmu gagal melakukannya."
Xavier menatap ke arah Sera dengan pandangan menjatuhkan bercampur jijik. "Dia lemah dan tak bisa menahan anak buahnya melecehkan, memerkosa dan menghajar Anastasia hingga ketika perempuan itu bangun, dia kehilangan harapan hidup lalu bunuh diri. Kalau sudah begitu, apa kau masih tak tahu malu? Menyalahkanku atas ketidakkompetenan ayahmu?"
Sera memucat, bibirnya gemetar oleh berbagai gejolak emosi, kemarahan dan rasa terhina yang membanjirinya tak terkendali hingga hampir meledak.
"Tapi, jika kau tak menyuruh ayahku menculik Anastasia Dawn... semua ini tak akan terjadi! Ayahku dipenjara seumur hidup, diserang dan dipukuli di penjara hingga lumpuh total dan ibuku bunuh diri karena tak kuat menanggung semua. Sementara kau... sementara kau... kau melenggang bebas, hidup bahagia tanpa terkena imbas apapun dari peristiwa terkutuk itu!"
"Hidup bahagia, katamu? Apa kau tahu kalau aku...." Xavier menghentikan ucapannya dan langsung mengepalkan tangan untuk menahan diri. Bayangan akan pengusiran Baron Night atasnya, kebencian mutlak Akram Night kepadanya dan pelukan penuh tangis Ibunya pada saat perpisahan menyakitkan itu menerjang dari masa lalu dan muncul seketika dalam pikiran Xavier, membuat topeng senyumnya nyaris runtuh. Beruntung dia berhasil menguasai diri dengan segera. "Apapun itu, kau dan aku saling berkaitah di masa lalu. Dirimu yang sekarang, terbentuk karena diriku, begitupun sebaliknya. Karena itulah pernikahan ini adalah jalan terbaik supaya kau dan aku menjalani hukuman ini bersama-sama."
Alasan absurd macam apa itu? Orang waras menikah karena cinta dan kebutuhan untuk tak sendiri. Tetapi, Xavier malah menawarkan pernikahan untuk menjalani hukuman bersama-sama?
"Aku tak mau menikah denganmu!" Sera berseru cepat, matanya membeliak penuh tantangan yang sayangnya sama sekali tak berimbas pada Xavier.
"Tak ada pilihan bagimu. Sukarela ataupun di bawah todongan pistol, besok kau menikah denganku." sela Xaier tegas.
"Memaksa seorang perempuan yang tak menginginkanmu untuk menjadi istrimu. Tidakkah itu sama saja dengan pembunuhan? Sebab, membunuh tak hanya harus menghabisi raga. Ketika kau memasung kehendak seorang perempuan, saat itulah kau membunuh jiwanya," desis Sera dengan nada getir setengah mencela. "Aku sangat membencimu, Xavier Light. Kau penjahat tak bermoral yang membunuh orang-orang, lalu memasang wajah penuh senyum dengan rasa tak bersalah di hatimu. Aku berjanji, jika kau terus memaksa, maka aku akan membuat pernikahan ini bagaikan neraka bagimu."
Xavier menyipitkan mata dengan kejam mendengar perkataan Sera, tetapi senyum mengejeknya menunjukkan kalau dia tetap teguh pada rencananya untuk menikahi Sera esok hari.
"Selama ini aku sudah hidup di neraka, bertambah teman seperjalanan pasti akan menyenangkan." Xavier mencengkeram rahang Sera, lalu menanamkan bibirnya di sana dalam wujud ciuman penuh dominasi. "Tubuhmu milikku, Serafina Moon. Jika kau ingin mematikan jiwamu, maka matikanlah. Yang kubutuhkan adalah tubuhmu untuk meredam hasrat fisikku. Kau akan menjadi cawan untuk menyemai benihku. Aku akan memastikan, bahwa anak-anakku akan dilahirkan dari rahimmu."
Sera melebarkan mata, menatap Xavier dengan tatapan ngeri bercampur curiga.
"Kau sangat menginginkan anak dariku. Sebenarnya, apa yang sedang kau rencanakan, Xavier?"
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
__ADS_1
Thank You
Sincerely Yours - AY