Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 116 : Iri dan Dengki Maya


__ADS_3


"Janganlah berusaha meninggikan dirimu dengan cara merendahkan orang lain. Ingat, di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi lagi."


 


***


Hai Beautiful Ladies,Ini adalah 9 dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019.


Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.


MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN


Sekarang ada sistem Ranking berdasarkan vote POIN di NOVELTOON ( dan akan segera menyusul di MANGATOON ).


Jadi, jika ingin memberi dukungan kepada Author, kalian boleh mendownload NOVELTOON untuk memberikan poin kamu buat vote author ya.


DI NOVELTOON, ada fasilitas untuk VOTE menggunakan POIN ke karya author ini.


Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :


1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis


2. Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin nama by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing


3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request nama tulisan di tumblernya.


Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.


Regadrs, AY


***



***



 


***


 


Tiba-tiba saja, Akram bergerak maju, dekat di sisi ranjang dan memusatkan pandangannya ke arah dokter Nathan yang masih menyimpan kegugupan di dalam dirinya.


“Kurasa, lebih baik kita membiarkan pasien beristirahat,” ucapnya dengan nada tegas, memandang tamu-tamu pembesuk tak diundang itu satu persatu dengan penuh arti.


Xavier dan Credence tentu memahami makna pengusiran dalam perkataan Akram, tetapi berbeda dengan Maya yang malah kebingungan.


Dia mengira Akram akan bersikap sinis ketika menanggapi hubungan antara Elana dengan Xavier yang secara tersamar telah dibongkar oleh Maya di depan matanya, tetapi sekarang, Akram malahan bersikap tak peduli.


Supaya Elana beristirahat? Memangnya perempuan itu tuan putri yang bisa mengusir mereka orang-orang yang jauh berada di atas kelasnya untuk pergi dan membiarkan mereka beristirahat?


Sayangnya, tak ada yang memahami gejolak perasaan yang tampaknya membakar jiwa Maya sendiri. Credencelah yang kemudian mengambil inisiatif atas pengusiran Akram yang tersirat di balik kata-katanya. Lelaki itu bangkit berdiri, lalu menganggukkan kepala ke arah Elana dengan lembut.


“Kurasa memang sudah waktunya kami berpamitan supaya kau bisa beristirahat dan memulihkan kondisimu. Kami akan pergi sekarang. Semoga kau lekas sembuh dan kita bisa bekerja bersama-sama lagi,” ucapnya dengan nada sopan luar biasa.


Elana sendiri langsung menganggukkan kepala sebagai jawaban atas sikap ramah Credence. Bagaimanapun juga, Credence memang memiliki sikap mempesona yang secara otomatis membuat kaum hawa terkagum-kagum kepadanya. Begitupun dengan Elana, meskipun dia sama sekali tidak memiliki perasaan lebih kepada Credence, apalagi menyangkut hal-hal yang romantis, tetap saja Elana merasa kagum dengan sikap santun dan elegan yang seolah sudah menempel dan menjadi pembawaan Credence secara alami.


Sayangnya, kekaguman yang tersirat di mata Elana, langsung tertangkap oleh mata tajam Akram yang awas. Lelaki itu langsung bergerak, menghalangi pandangan mata Elana terhadap Credence dan sengaja menutupi dengan punggungnya.


“Besok aku akan melihat kembali perkembangan hasil temuanmu….” Akram dengan tegas menutupi Elana dari pandangan, lalu memaksa tatapan Credence terpusat kepadanya dengan menggunakan pembahasan tentang pekerjaan untuk menarik perhatian lelaki itu.


Tentu saja Credence langsung menyambutnya dengan antusias.Dua lelaki yang sama-sama lihai di bidangnya masing-masing langsung tenggelam ke dalam percakapan bisnis yang penuh dengan istilah aneh yang tak dimengerti oleh Elana. Kemudian, dengan cerdik Akram mengarahkan tubuhnya ke pintu, seolah hendak menghantar tamunya keluar dari kamar.


Beruntung Credence yang cerdas langsung memahami bahasa tubuh Akram dan mengikuti lelaki itu melangkah membuka pintu dan keluar dari ruang perawatan Elana. Samar-samar, masih terdengar kedua lelaki itu bercakap-cakap dengan sikap antusias satu sama lain, sebelum kemudian pintu ruangan tempat perawatan Elana ditutup kembali di belakang punggung mereka.


Dokter Nathan masih berdiri di sana, begitupun dengan Xavier yang tampaknya keras kepala dan tak berniat untuk pergi. Sementara itu, Maya masih berdiri di tengah ruangan, bingung hendak melakukan apa.


Tadinya dia ingin melihat penghakiman atas tingkah amoral Elana yang telah menggunakan tubuhnya untuk menarik perhatian lelaki-lelaki kaya. Sayangnya, apa yang menjadi tujuannya tidaklah tercapai.

__ADS_1


Mungkin, membuat Akram Night menghukum Elana bukanlah jalan yang baik. Satu-satunya cara untuk memberikan tamparan bagi perempuan jalang sok lemah di depannya itu adalah dengan membuat Xavier, yang selama ini menyokongnya, meninggalkannya.


Ya, itu bisa dilakukan. Kalau Xavier sampai tahu bahwa Elana telah mengkhianatinya dengan bercumbu bersama Elios secara menjijikkan di ruang toilet perempuan kantor, Xavier pasti akan merasa jijik dan muak, lalu membuang Elana.


Dia bisa melakukan itu nanti. Sambil menunggu saat yang tepat. Setidaknya sampai perempuan itu pulih kembali. Karena, kalau dia menyerang Elana saat dia sedang sakit, dirinya yang sehat ini akan terlihat sebagai wanita jahat yang tak punya belas kasihan.


Maya sendiri sebenarnya tak tahu kenapa dia langsung tidak menyukai Elana dan ingin menghancurkannya seketika bahkan sebelum dia mengenal perempuan itu lebih dekat. Mungkin karena Elana terlihat kurang kompeten untuk posisi yang didudukinya saat ini, mungkin juga karena dia merasa jijik, sebab Elana telah menggunakan cara curang, menjual tubuhnya untuk mendapatkan apa yang didapatkannya sekarang.


Yang pasti, Maya tidak akan membiarkan Elana berjaya. Perempuan itu berasal dari kelas rendah, dan harus dikembalikan kembali ke kelas rendahan, di tanah kotor berlumpur tempatnya berasal.


Tatapan Maya masih dipenuhi kebencian ketika menatap ke arah Elana. Meskipun begitu, ekspresinya datar ketika dia menganggukkan kepala dengan kaku, dan berucap untuk berpamitan.


“Kalau begitu aku juga akan pergi, supaya kau bisa beristirahat,” Maya tidak bisa menekan nada sinis dalam kalimatnya. Matanya beralih pada Xavier yang tampak tak peduli, lalu dia menganggukkan kepala juga sambil menggumkan kalimat berpamitan tak jelas kepada dokter Nathan. Setelahnya, Maya membalikkan tubuh dan melangkah keluar pintu dengan langkah cepat terkendali.


***



***


“Kau harus berhati-hati kepada Maya mulai sekarang. Wanita itu adalah iblis arogan yang  tak suka jika ada orang lain yang melebihinya,” dengan tenang Xavier berucap. Nadanya penuh peringatan, tetapi entah kenapa Xavier berhasil mengucapkannya dengan disertai dengan senyuman manis nan kontras.


Dokter Nathan memiringkan kepala, tampak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Xavier.


“Oh ya? Pantas saja aku melihat perempuan itu tegang sekali. Seolah-olah aku bisa melihat asap bersemburan dari kedua telinganya,” Nathan terkekeh. “Apakah dia mengincarmu? Atau dia mengincar Akram?” tanyanya ingin tahu.


Xavier mengerutkan keningnya. “Tentu saja dia mengincar Akram. Bagaimana mungkin kau mengira dia sedang mengincarku?” sahutnya seolah jijik.


Suara kekehan Nathan terdengar semakin keras mendengar sanggahan Xavier itu. Dia lalu mengutarakan kesimpulannya terhadap situasi yang tadi dia amati dengan saksama.


“Karena aku melihat, Maya menatap kalian berdua, kau dan Elana berganti-ganti dengan sikap semacam jijik dan antipati… kupikir itu disebabkan oleh cemburu,” ucapnya lambat-lambat.


Elana yang sejak tadi diam mendengarkan percakapan dua lelaki di depannya ini mengerutkan kening, masih kebingungan mencerna semuanya.


“Jadi… Maya terlihat marah dan membenciku, karena dia menyukai Xavier dan mengira aku ada hubungan dengan Xavier?” simpulnya, sedikit diterpa rasa bersalah. Sebab, kalau benar Maya mencemburuinya karena dia dekat dengan Xavier, sudah jelas Maya sedang salah paham.


“Simpan rasa simpatimu, Elana,” mata Xavier yang awas dengan ahli berhasil menangkap perubahan ekspresi Elana hingga sekecil mungkin dan mengartikannya dengan tepat. “Memang benar Maya sepertinya salah paham mengenai hubungan kita. Aku tahu itu dan aku tidak berusaha mengoreksinya, karena aku senang melihatnya semakin tenggelam dengan pikiran bodohnya, serta tak sabar menunggu kesempatan untuk tertawa senang ketika Maya akhirnya mempermalukan dirinya sendiri,”


“Rasa iri dan dengki? Apa maksudmu?” kali ini bukan hanya Elana saja yang kebingungan, Nathanpun langsung bertanya meminta penjelsan.


Seringai di bibir Xavier semakin lebar. “Ya. Maya biasa menjadi nomor satu dalam segala hal. Dia hidup dengan segala pujian dan kekaguman orang-orang atas kejeniusannya yang luar biasa. Sayangnya, ketika memasuki Night Corporation, dia tidak mendapatkan apa yang biasa dia dapatkan. Aku tak pernah memujinya, begitupun Akram yang hanya mempedulikan Credence dan menganggapnya angin lalu. Malahan, aku sibuk memuji Elana sebagai asisten terbaikku, dan Akram juga bisa dibilang melakukan hal yang sama.”


Mata Xavier menyipit ketika lelaki itu kembali memfokuskan pandangannya ke arah Elana.“Maya bersikap seperti predator betina di antara kawanan pejantan dan dia secara alami berusaha menjadi nomor satu untuk menarik perhatian para pejantan itu. Dan satu-satunya halangan antara posisinya yang sekarang dengan posisi nomor satu adalah dirimu. Oleh sebab itu, secara alamiah, dia berusaha menyingkirkanmu untuk mengamankan posisinya,” Xavier bersedekap dan sinar peringatan kembali muncul di matanya. “Karena itu, berhati-hatilah, Elana. Dan untuk menghadapi seorang perempuan seperti Maya, kurasa kau harus menyingkirkan sikap inferiormu.”


Nathan yang mendengarkan kalimat Xavier akhirnya mendapatkan pemahaman, lelaki itu mengangguk setuju sebelum mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.


“Apakah menurutmu, Maya akan melakukan serangan fisik terhadap Elana dalam usaha menyingkirkannya?”


Nathan bertanya kepada Xavier karena dia tahu bahwa lelaki jenius di depannya ini, meskipun bisa dibilang sebagai seorang psikopat tak punya empati, tetapi memiliki kemampuan tingkat tinggi dari hasil pengamatannya yang saksama dan fotografik memorinya, untuk menilai watak orang lain.


Xavier sangat jarang salah menilai orang. Hal itulah yang membawanya kepada puncak kejayaan untuk saat ini, karena Xavier mampu bekerjasama dengan orang-orang yang tepat yang dipilihnya sendiri berdasarkan penilaiannya yang akurat.


Dan pertanyaan Nathan tentang kondisi fisik Elana itu tentu saja berhubungan dengan kondisi kehamilan Elana. Perempuan itu masih hamil muda, calon bayinya masih berusaha menumbuhkan plasenta hingga terbangun sempurna untuk mengalirkan darah dan oksigen, dan mungkin saja saat ini janin mungil itu belum menempel sepenuhnya di dinding rahim, sehingga kondisinya akan sangat rentan.


Elana tidak boleh menerima ancaman fisik apapun, setidaknya sampai dia bisa memastikan bahwa bayi yang dikandung oleh perempuan itu benar-benar kuat. Jika Xavier memastikan ada ancaman fisik dari Maya terhadap Elana, maka Nathan, tanpa pikir panjang akan mengatur supaya Elana dirawat di rumah sakit ini dan tidak pergi bekerja, setidaknya sampai kerjasama antara Akram, Xavier dan Credence Evening berakhir.


“Tidak. Dia orang akademisi jenius, sudah pasti dia tidak akan mengotori tangannya dengan melakukan serangan fisik. Kalaupun itu sampai terjadi –meski kemungkinannya kecil- aku akan memastikan keselamatan Elana dengan tanganku sendiri,” Xavier menjawab lugas. “Aku menduga kalau Maya akan menggunakan rencana busuk untuk menjatuhkan Elana. Dia pasti akan melakukannya dengan sangat licik,” kembali Xavier mengarahkan pandangan matanya ke arah Elana.


“Elana. Aku akan mengatakannya dengan gamblang. Maya menginginkan Akram, dengan sikap posesif yang nyaris mengerikan. Credence bilang Maya sangat mengagumi Akram hingga nyaris berupa obsesi. Credence telah meminta maaf kepadaku pagi ini, karena dia memilih membawa Maya menjadi asistennya. Itu semua karena dia tidak tahu bahwa Akram sudah memiliki kau. Dan saat ini, Maya masih belum mengetahui hubunganmu dengan Akram karena aku sengaja membuatnya salah paham. Tetapi, perempuan iblis ini, dia akan menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan Akram. Aku sudah menyelidiki kondisi psikologisnya, dan Maya memiliki riwayat penanganan terapi selama bertahun-tahun, untuk menangani kondisi obsesif kompulsifnya yang membuatnya memiliki rasa posesif yang berlebihan terhadap benda yang diinginkannya. Saat ini, yang diinginkannya adalah Akram, apakah kau mengerti?” Xavier menghentikan kalimatnya, menatap Elana seolah-olah ingin memastikan bahwa perempuan itu mendengarkan semua yang dia ucapkan.


Elana sendiri langsung menganggukkan kepala. Dia mengerti semua hal yang diterangkan oleh Xavier dengan jelas. Satu lagi perempuan yang terobsesi dengan pesona Akram, dan Elana menjadi penghalangnya.


“Kalau kau mengerti, maka dengarkan aku baik-baik. Jika kau memutuskan menerima Akram di sampingmu, wanita-wanita jahat tak tahu diri sejenis Maya Maya yang berikutknya akan terus bermunculan. Tak peduli jika nanti kau menjadi Nyonya Night, istri Akram yang sah. Wanita-wanita ini, akan terus berusaha menjegalmu untuk merebut posisimu,” Xavier tersenyum melihat wajah Elana memucat. Dia langsung mendapatkan tatapan menghujam penuh peringatan dari Nathan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Kali ini, sikap Xavier berubah lembut, seolah-olah ingin menangkan Elana. “Jangan khawatir jika menyangkut Akram. Dia cukup tangguh untuk menghadapi godaan-godaan wanita itu. Jadi kau tak perlu mencemaskannya. Akram sudah memilihmu, dan aku bisa memastikan bahwa dia tak akan mengkhianatimu.”


Xavier menghentikan kalimat panjangnya sejenak. Lelaki itu bersedekap, menyelonjorkan kakinya yang panjang dengan santai, sementara punggungnya bersandar nyaman di punggung kursi di belakangnya.


“Yang harus berubah adalah kau. Aku sudah bilang bahwa kau harus membuang sikap inferiormu. Kau harus melempar jauh-jauh sikap rendah dirimu. Kau pantas untuk dicintai oleh seorang Akram Night, bahkan, adikku yang bodoh itulah yang seharusnya merasa beruntung bisa memiliki cintamu. Karena itulah, jika kau berhasil menelaah hatimu sendiri, maka jagalah apa yang kau miliki itu sekuat tenagamu. Akram itu milikmu, jangan biarkan Maya dengan segala superioritasnya menindasmu. Klaimlah kepemilikanmu pada Akram secara tegas dengan dagu terangkat, itulah satu-satunya cara untuk membuat Maya mengakui kekalahannya.”


***



***

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu kami akan berpamitan pulang,” Credence memberi tanda isyarat ke arah Maya, yang mengikuti mereka, lalu mengulurkan tangannya ke arah Akram.


Segera Akram menyambut uluran tangan Credence dan menganggukkan kepala tegas. “Kita akan berjumpa lagi besok,” ujarnya singkat.


Credence lalu melepaskan jabatan tangan mereka dan menoleh ke arah Maya yang sedari tadi hanya diam saja.


“Ayo, Maya,”


Credence memanggil nama perempuan itu ketika menyadari bahwa Maya tak juga mengikuti langkahnya yang hendak menuju lift menuruni lantai rumah sakit ini.


Maya sendiri malahan mendongak ke arah Akram, tidak menyadari betapa dinginnya ekspresi lelaki itu, dan malahan mengajukan permintaan nekad.


“Bolehkah aku menumpang mobilmu?” tanyanya kemudian dengan nada sedikit kurang ajar.


Akram tertegun seolah tak menyangka bahwa permintaan itu akan keluar dari bibir Maya dengan begitu berani. Pun dengan Credence yang langsung menghentikan langkahnya yang hendak menuju lift dan memutar tubuhnya segera sambil menatap Maya penuh peringatan.


“Apa-apaan… aku akan mengantarmu pulang, Maya. Kenapa kau harus merepotkan Akram Night?” seru Credence sedikit jengkel. Lelaki itu sejak mula berusaha mengabaikan sikap Maya yang arogan dan terlalu percaya diri, apalagi jika menyangkut dengan usahanya untuk mengejar Akram. Kembali penyesalan melanda diri Credence karena telah membawa Maya sebagai asistennya ke perusahaan Akram.


Maya benar-benar membuat masalah. Seharusnya saat Credence mengetahui betapa Maya memuja dan mengagumi Akram Night, dia menuruti instingnya dan membawa asistennya yang lain untuk mendampingi.


Sekarang, semuanya tampak sudah terlambat. Perilaku Maya yang tak terkendali, benar-benar menjadi masalah besar baginya.


Maya sendiri seolah tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Credence. Perempuan itu memusatkan perhatiannya pada Akram Night, dipenuhi harapan membuncah bahwa kali ini dia akan berhasil mendapatkan kesempatan.


“Gedung apartemenku dan rumahmu berdekatan….jadi kita sejalur. Jika Credence yang mengantarku  dia harus memutar dua kali lebih jauh sebelum bisa sampai ke rumahnya. Kupikir, lebih baik aku menumpang mobilmu saja dan tidak merepotkan Credence. Boleh, kan?” tanya Maya dengan cepat, memberikan alasan pasti yang tak mungkin ditolak oleh Akram.


Akram mengangkat sebelah alisnya. “Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya. Jadi, silahkan kau merepotkan Credence untuk mengantarmu pulang, atau kau bisa bersikap mandiri dan memanggil taksi jika kau memang benar-benar tidak ingin merepotkan orang lain,” Akram menyahut dengan nada dingin, lalu membalikkan tubuhnya hendak kembali lagi ke kamar Elana.


“Tunggu!”


Maya masih belum mau menyerah. Perempuan itu memanggil kembali dengan suara keras. Sementara di belakangnya, Credence yang mengawasi tingkah Maya cuma bisa memutar kedua bola matanya dengan sikap jengkel atas sikap bodoh dan tak tahu malu perempuan itu.


Langkah Akram berhenti ketika perempuan itu berteriak memanggilnya. Hanya sedikit dia sudi menolehkan kepala, tak lupa menghadiahkan tatapan mencemooh kepada perempuan itu.


“Ada apa lagi?” tanya Akram dingin.


Maya *** kedua tangannya di depan tubuhnya. Dirinya selalu berhasil bersikap sekeras batu karang di depan siapapun, tetapi ketika berhadapan dengan Akram, seolah nyalinya meleleh dan menciut tak terkendali.


Akramlah satu-satunya laki-laki yang bisa mengintimidasi sikap superioritas Maya yang sangat kuat. Sudah jelas, mereka akan menjadi pasangan yang sangat cocok ketika nanti mereka bersatu.


“Ke… kenapa kau kembali ke kamar perawatan? Tidakkah… tidakkah kau hendak pulang?” tanyanya ingin tahu.


Akram menyeringai, menatap ke arah Maya dengan tatapan sinis tak terperi. Lelaki itu kemudian melempaskan bom kejutan yang membuat Maya tersentak tanpa bisa menahan.


“Aku tidak akan pulang, aku akan menginap di  rumah sakit,” Akram menjawab singkat dan penuh arti, yang hanya bisa dimengerti jelas oleh Credence yang berdiri menunggui Maya dan sekaligus diam saja serta memilih menjadi pendengar mereka.


Setelah memastikan Maya mendengar perkataannya, Akram membalikkan tubuh, dan kali ini sama sekali tak peduli ketika Maya kembali memanggil dan menghentikannya. Lelaki itu melangkah kembali masuk ke ruang perawatan Elana dan meninggalkan Maya terpaku di tempat dengan pikiran berkecamuk.


Apa yang dimaksud Akram dengan menginap di rumah sakit ini? Untuk apa lelaki itu menginap? Bukankah sudah ada Xavier kekasih perempuan itu yang menjaganya di sana?


***



Kisah Essence Of The Darkness dengan Akram dan Elana sebagai pelaku utama kisah akan segera berakhir kurang lebih dalam dua minggu ke depan (SAMPAI PERTENGAHAN DESEMBER 2019), karena itu… ikuti terus kisahnya dan jangan sampai terlewatkan.


Tapi… kisah ini tidak akan berakhir sepenuhnya. Setelah kisah Akram dan Elana tamat, author akan melanjutkan dengan SEASON KEDUA.


Ya, SEASON KEDUA. Yang akan dimuli di awal BULAN JANUARI AWAL TAHUN YANG BARU


Tentu saja di SEASON KEDUA yang diceritakan tidak berpusat pada Akram dan Elana lagi. Kali ini di Essence Of The Darkness SEASON KEDUA ( yang masih akan dilanjutkan di novel ini ) akan berpusat pada XAVIER LIGHT dan pasangannya ( entah siapa wanita malang itu ahahahaha )


Kalau begitu, dukung terus author dengan memberikan VOTE dengan memberikan POINMU ( yang untuk saat ini baru bisa melalui aplikasi NOVELTOON dan akan segera menyusul di MANGATOON ) dan nantikan Essence OF The Darkness SEASON KEDUA di sini dengan Xavier Light sebagai bintangnya!


Regards. AY


 


***



__ADS_1


__ADS_2