
CRAZY UPDATE 4 dari 10
Hello,part crazy update diposting secara bertahap sepanjang hari kamis tanggal 7 November 2019.
Untuk lolos reviewnya, author tidak bisa menjamin sepuluh bisa lolos langsung secara bersamaan ya.
Mudah-mudahan sesuai mau author bisa lolos langsung ke sepuluh-sepuluh partnya.
Tetapi, jika admin Editor mangatoon membutuhkan waktu bertahap untuk mereview part crazy update ini sehingga episode2nya keluarnya tidak bisa berbarengan dan bertahap terpisah-pisah jam atau bahkan terpisah hari ( sebagian baru update besok), maka mohon permaklumannya ya.
Regadrs, AY
***
“Apakah kau sudah memastikannya?”
Akram baru saja mandi air dingin, rambutnya masih basah dan lelaki itu masih mengenakan jubah mandinya ketika dia menelepon sambil berdiri di depan jendela kamarnya yang sengaja dia buka tirainya.
Pemandangan yang terhampar di depannya menampilkan nuansa malam ibukota di dini hari yang pekat di langit tetapi terang benderang penuh lampu di bawahnya. Ini sudah mendekati pukul dua dini hari, tetapi Akram melihat di bawah sana, di jalanan besar yang tampak begitu jauh hingga menyerupai garis-garis kecil, cahaya lampu kendaraan yang berpendaran masih tampak berlalu lalang di jalanan tersebut.
Seolah-olah banyak manusia yang tak diberkati dengan kenikmatan tidur nyenak di malam hari. Seperti dirinya saat ini.
“Saya sudah memastikannya, Tuan Akram. Craden dan asistennya, telah tiba di bandara khusus menggunakan jet pribadi lewat tengah malam tadi. Sepertinya, begitu mendapatkan panggilan dari Xavier, Craden membatalkan semua pekerjaannya dan bergegas datang.” Sahut Elios dari seberang telepon.
Akram menganggukkan kepala. “Baik. Kirimkan orang untuk terus mengawasi mereka. Aku yakin besok Craden sudah pasti akan langsung muncul di perusahaan.” Akram memberikan perintah singkat karena tahu bahwa Elios sudah memahami maksudnya tanpa harus mendapatkan penjelasan secara detail.
Setelah menutup pembicaraan, Akram masih berdiri menatap jendela dengan pandangan mengembara, sementara segelas anggur ada di tangannya.
Akram melirik anggurnya, menikmati aromanya yang menyenangkan sebelum kemudian menyesapnya.
Sudah lama dirinya tidak minum. Mungkin sejak dia bertemu dengan Elana. Tetapi malam ini, dia benar-benar butuh minum. Bukan hanya untuk mengalihkan tubuhnya dari teriakan kebutuhan untuk meniduri Elana yang saat ini berada jauh darinya, tetapi juga untuk mengalihkan pikirannya dari kekhawatirannya menyangkut kedatangan Craden yang tak tepat waktu.
Sejak merintis perusahaannya di luar negeri dan menjalankan bisnis keuangan dengan menggunakan namanya yang ternama di bidang pemeriksaan keuangan dan auditing, Craden memang lebih sering tinggal di luar negeri, meskipun perusahaan hukum keuangan yang beratas namanya ada di negara ini dan memiliki landasan legal di negara ini pula.
Perusahaan itu telah begitu besar dan memiliki integritas ternama serta dijalankan oleh anak buah Craden yang sama-sama memiliki kualifikasi tinggi seperti dirinya, sehingga Craden sebagai sang pemilik, hampir tidak diperlukan kehadirannya untuk datang melakukan pekerjaan dan pemeriksaan keuangan secara langsung.
Craden bisa saja mengirimkan orang terbaiknya untuk membantu Xavier. Tetapi, kenyataan bahwa Craden memilih datang langsung, tentu saja dengan jelas menunjukkan bahwa lelaki itu memiliki maksud yang lain selain hanya untuk membantu proses pemeriksaan keuangan.
Oh, Akram tentu sudah tahu bahwa Craden dengan segera akan datang begitu mendapatkan panggilan dari Xavier. Sejak semula, meskipun memilih untuk berada di pihak Xavier, Craden sendiri tak setuju dengan pertikaian antara Xavier dan Akram.
Lelaki itu tentu lebih senang jika Akram bisa berdamai dengan Xavier seperti di masa kecil mereka sebelumnya. Karena itulah, begitu Xavier menelepon, meminta bantuan Craden untuk menyelesaikan permasalahan di perusahaan Akram, tak perlu menunggu dua kali bagi Craden langsung datang dengan penuh kegembiraan. Lelaki itu pasti berharap bisa melakukan reuni penuh kegembiraan bersama-sama.
Akram jelas tahu bahwa Craden memiliki kecenderungan untuk membuat kaum wanita terpesona kepadanya. Dia hanya berharap supaya Craden tak sampai melabuhkan matanya kepada Elana lalu memutuskan untuk mengincarnya, sebab entah kenapa, Elana selalu berhasil membuat lelaki-lelaki di sekelilingnya tertarik kepadanya bagaikan lebah yang mengitari madu.
Sepertinya, Akram harus langsung mengklaim Elana sebagai miliknya di depan Craden supaya lelaki itu langsung mundur bahkan sebelum mencoba.
***
“Kau mintalah data-data ini dari bagian keuangan. Aku sudah memiliki data digitalnya di komputerku, tetapi aku ingin melihat data hardcopynya sebagai pembanding dan juga untuk pemeriksaan random,”
Xavier yang tengah berdiri di depan meja kerja Elana menyerahkan catatatan kecil penuh dengan tulisan tangan ke meja Elana.
Elana menundukkan kepala untuk melihat catatan itu dan mengangkat sedikit alisnya. Perubahan ekspresinya itu terlihat oleh Xavier yang langsung menyeringai.
__ADS_1
“Ada apa? Aku sudah menuliskan nomor berkasnya secara terperinci dan tak mungkin salah. Keterangan yang kutulis sangatlah detail sehingga ketika kau menyerahkannya kepada bagian arsip keuangan, mereka bisa langsung menemukan arsip itu dengan mudah,” Xavier menunduk untuk melihat tulisannya sendiri, lalu menyeringai seolah merasa malu. “Kau bisa membaca tulisanku, bukan?” tanyanya kemudian.
Elana menengadah, lalu melemparkan senyumnya ke arah Xavier.
“Maaf… maafkan aku. Aku hanya tak menyangka kalau tulisanmu seperti ini…”
Mata Elana melirik kembali ke arah kertas yang diberikan Xavier kepadanya dan dia tak bisa menahan diri untuk memasang senyum.
Dengan kejeniusan Xavier yang luar biasa dan segala kelebihan yang menyangkut kecerdasan Xavier, Elana sama sekali tak menyangka kalau tulisan Xavier akan seburuk ini. Sebelumnya Elana membayangkan jika tulisan Xavier akan seindah tulisan kaligrafi latin dengan goresan pena yang indah, tebal tipis yang sempurna dan ukuran huruf yang sejajar rapi layaknya hasil print out komputer.
Tetapi, yang tampak di depannya ini, meskipun berjajar rapi dan padat, terlihat lebih mirip tulisan anak sekolah dasar yang sangat jelek. Sangat sangat jelek hingga Elana bahkan hampir bertanya-tanya apakah Xavier menggunakan kaki dan bukannya tangan untuk menulisnya.
Xavier tersenyum malu dan menegakkan tubuh, rona merah terlintas di pipinya yang pucat, tapi hanya sekilas.
“Aku memang tak pandai menulis tangan. Seluruh keahlianku kuhabiskan di depan komputer dan peralatan digital lainnya sehingga aku lupa cara untuk menulis,” ujarnya sambil mengangkat bahu tanpa rasa bersalah. “Tetapi, kau tetap bisa membacanya, bukan? Karena itulah yang paling penting. Asistenku harus bisa membaca tulisan tanganku karena kadang-kadang aku suka memberikan perintah berupa notes-notes kecil dalam bentuk tulisan tangan.”
Elana mengawasi kembali kertas di tangannya dan ternyata, meskipun huruf dan penulisanya sangat jelek, dia masih bisa memahaminya. Segera di menatap ke arah Xavier dan menganggukkan kepala.
“Aku bisa membacanya,” sahutnya cepat.
Xavier tampak puas dan mengangguk. “Bagus, aku ingin berkas-berkas itu ada di mejaku sebelum satu jam,” setelah mengucapkan perintah, Xavier melangkah pergi hendak memasuki ruangannya kembali.Ketika sampai di ambang pintu, Xavier menolehkan kepala, lalu menatap ke arah Elios yang duduk di meja dekat Elana, dengan penuh rasa ingin tahu.“Dimana Akram?” tanyanya. “Aku lihat dia masih belum datang padahal ini sudah jam sebelas siang. Apakah dia ada meeting pagi di suatu tempat?”
Elios yang sejak tadi sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan berbagai data di laptopnya menengadahkan kepala. Sejenak lelaki itu tampak kesulitan memberikan penjelasan, tetapi akhirnya berucap juga
“Tuan Akram ada urusan kesehatan sedikit pagi ini sehingga harus menemui dokter Nathan, tetapi saat ini beliau sudah dalam perjalanan kembali dari rumah sakit menuju perusahaan. Tak lama lagi beliau akan tiba di sini,” jawab Elios dengan nada penuh kehati-hatian.
Xavier mengerutkan kening. Pun dengan Elana yang langsung mengangkat kepala dan menoleh ke arah Elios dengan penuh perhatian ketika mendengar kalimat itu.
“Akram sakit?” Xavierlah yang lebih cepat bertanya. Matanya menyala penuh keingintahuan. Karena, ketika sore hari kemarin mereka berpisah di jam sepulang kantor, sepertinya Akram baik-baik saja.
Elana yang tidak mengatakan apapun hanya menoleh dan menunggu jawaban dari Elios dengan cemas. Hampir sama seperti yang dipikirkan oleh Xavier. Elana sendiri juga tidak menemukan ada gejala gangguan kesehatan apapun ketika semalam mereka berpisah dan Akram memutuskan untuk pulang ke apartemenya demi menepati janjinya untuk tidak menyentuh Elana sampai Elana memutuskan untuk membalas cintanya sebulan lagi.
“Tidak, bukan sakit karena virus atau apa…,” Elios kembali tampak kesulitan menjelaskan. “Kemarin Tuan Akram sedikit terlalu banyak minum dan mengalami hangover di pagi hari. Hanya itu saja,” akhirnya Elios memilih untuk menjawab jujur karena tak tahan dengan tatapan penuh rasa ingin tahu dari dua orang di depannya ini.
“Baguslah kalau begitu, sebab kita akan ada tamu penting hari ini dan kurasa Akram tidak ingin ketinggalan menyambutnya,” sambil menggumam ringan, Xavier melangkah masuk kembali ke dalam ruangannya.
***
“Akram minum-minum?” Elana menoleh ke arah Xavier dengan kening berkerut. “Apakah… apakah semalam Akram menghadiri jamuan makan?” tanyanya kemudian.
Pikirannya masih mengembara pada kejadian semalam. Akram berpamitan pulang hampir menjelang tengah malam… apakah mungkin ada jamuan makan pada jam-jam seperti itu? Atau jangan-jangan lelaki itu tidak langsung pulang tetapi lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di kelab malam sampai pagi dan bermabuk-mabukan di sana?
Seolah menyadari pikiran buruk yang berkelebat di dalam benak Elana, Elios langsung menyahut dengan cepat. Tak ingin menimbulkan kesalahpahaman yang tentunya akan membuat semua permasalahan semakin runyam.
“Tuan Akram langsung pulang ke rumah begitu pulang dari tempat Anda,” serunya dengan nada meyakinkan. “Tetapi, ketika di rumah, beliau membuka sebotol anggur dan memutuskan untuk menghabiskannya sekaligus. Dan kau tentu tahu kalau sejak bersamamu… Tuan Akram tak pernah minum-minum lagi, karena itulah pagi ini beliau mengalami hangover yang parah. Tetapi seperti yang sudah kubilang tadi, Tuan Akram sudah menemui dokter Nathan dan mendapatkan obat. Beliau meneleponku tadi dan suaranya terdengar sehat, jadi kau tak perlu khawatir.”
Elana menganggukkan kepala untuk memberikan tanggapan atas penjelasan Elios itu. Meskipun ada kelegaan di hatinya saat mengetahui sakit Akram bukanlah sakit yang serius, tetapi tetap saja kenyataan bahwa Akram mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak dan hampir lepas kendali langsung menumbuhkan rasa bersalah yang pekat di benak Elana.
Jika Akram memutuskan untuk minum-minum sampai lepas kendali, apakah itu gara-gara dirinya?
“Kau hendak menelepon ke bagian keuangan dan meminta data?” Elios yang melongok ke arah meja kerja Elana melabuhkan pandangan matanya ke meja kerja Elana dan mengawasi kertas dari Xavier yang masih tergeletak di sana. “Astaga, tulisannya jelek sekali,” sambung Elios spontan yang seketika mengalihkan Elana dari rasa bersalah yang menggayuti dan menciptakan senyum geli di bibirnya.
Elana mengambil kertas di tangannya dan beranjak berdiri. “Tidak, aku sebaiknya datang langsung ke bagian keuangan dan meminta langsung. Xavier tadi menginstruksikan kepadaku untuk mengawasi pengambilan arsip ini sehingga tak ada kesempatan bagi siapapun untuk menyelipkan lembaran kertas baru atau bahkan menyobek dan mengambil lembaran kertas yang ada di berkas arsip.” Elana melangkah mengitari mejanya, hendak menuju lift. “Aku… aku turun dulu ke bawah ya.”
Elios menganggukkan kepala dan tersenyum. Sebenarnya dia bisa saja mengambil alih tugas Elana dan turun untuk mengambilkan berkas yang diminta oleh Xavier. Tetapi, dia merasa bahwa ini adalah saat yang tepat bagi Elana untuk belajar berinteraksi dengan divisi lain dalam kapasitasnya sebagai asisten Xavier.
Nanti, ketika Elana sudah menjalankan tugasnya sebagai asisten Xavier sepenuhnya, akan ada banyak keahlian komunikasi yang diperlukan olehnya, bukan hanya untuk menjalin relasi, tetapi juga untuk mengumpulkan informasi.
“Tenang saja, dengan kartu karyawan yang kau pakai, semua divisi di perusahaan ini akan langsung memberikan apapun yang kau minta dalam hitungan detik.” Elios menyentuh kartu identitas karyawan yang terpasang bagaikan pin di dadanya, “Kartu ini berwarna emas, menunjukkan kedudukanmu sebagai asisten petinggi di perusahaan ini dengan perintah yang hampir absolut sebagai perpanjangan tangan atasan kita. Bahkan seorang general manager di bawah sana, tidak akan berani menolak permintaanmu,” sambung Elios dengan nada menenangkan.
__ADS_1
Elana menganggukkan kepala dan memasang senyumnya. Setelahnya dia melangkah memasuki lift dan bergegas menekan tombol turun, ke lantai tempat departemen pengarsipan laporan keuangan berada, untuk menjalankan tugas.
***
Akram memasang kacamata hitam ketika melangkah keluar dari mobil hendak memasuki perusahaannya. Kepalanya masih terasa beredentum tak terkendali meskipun dia sudah meminum aspirin pemberian Nathan kepadanya. Pun dengan matanya yang terasa begitu sensitif terhadap cahaya terang hingga terasa sakit.
Itu semua masih ditambah lagi lingkaran hitam yang menghiasi sekeliling matanya yang membuat penampilannya tampak mengerikan, seperti pemabuk yang tak punya akal sehat.
Akram sendiri sibuk mengutuk dirinya yang lepas kendali semalam. Tadinya dia hanya berusaha mengalihkan pikirannya dari hasratnya untuk memeluk Elana dengan minum satu gelas. Tetapi satu gelas kemudian terisi lagi, dan lagi, dan lagi hingga membuatnya lupa diri, menenaggelamkan diri dalam buaian alkohol yang membantunya berhenti memikirkan segala sesuatu yang mengganggu.
Pagi harinya dia menerima akibatnya, bangun dengan kepala berdentam seperti dipukul oleh palu dengan intensitas yang mengerikan.
Biasanya Akram memiliki ketahanan terhadap alkohol, dia tak mudah mabuk. Semalam juga begitu, dia menghabiskan begitu banyak minuman tetapi tak juga mabuk hingga membuat Akram meminum lebih daripada yang seharusnya.
Sayangnya hangover yang dirasakannya kali ini berkali-kali lipat dari yang pernah dirasakannnya sebelumnya. Mungkin itu juga disebabkan karena sejak bertemu dengan Elana, Akram hampir tak mengkonsumsi alkohol lagi.
Sebuah keputusan impulsif yang bodoh karena sekarang, dia harus datang ke kantor dalam kondisi kacau, padahal jelas-jelas Craden akan tiba siang ini.
Seharusnya Akram menerima kedatangan teman masa lalunya itu dengan performa terbaiknya, tetapi sekarang dia malah membuat dirinya sendiri tampak menyedihkan dengan lingkaran gelap di mata, wajah pucat dan dahi berkerut menahan nyeri.
Sepanjang perjalanannya melewati lobby kantornya untuk menuju lift khusus, Akram sengaja mengabaikan segala sapaan hormat yang diberikan kepadanya. Dia hanya memberikan anggukan tipis tanpa melambatkan langkah atau menoleh sekalipun.
Ketika dia akhirnya sampai di depan lift khusus dan menekan tombol untuk naik, sebuah pikiran mengganggu tiba-tiba menggayuti benaknya.
Kalau sampai Elana membandingkan dirinya dengan Craden, apa yang akan dipikiran oleh perempuan itu?
Pintu lift terbuka dan bergegas Akram melangkah masuk. Dia hendak menekan tombol menutup pintu lift ketika tiba-tiba saja, suara seruan seseorang yang terengah-engah terdengar dari ujung lorong.
“Tunggu!”
Akram harus mengerutkan kening karena hampir saja dia tak mempercayai pendengarannya. Seolah-olah benaknya selalu berhasil menghadirkan perempuan itu kapanpun dia mau dan itu semua ternyata hanyalah imajinasinya.
Tetapi kemudian, suara langkah kaki yang terdengar menyusul cepat menunjukkan kepada Akram bahwa suara Elana yang didengarnya, bukanlah imajinasi belaka.
Tangan Akram menekan tombol untuk menahan pintu lift agar tetap membuka, sementara jantungnya berdebar penuh antisipasi.
***
CRAZY UPDATE 4 dari 10
Hello
Part crazy update diposting secara bertahap sepanjang hari kamis tanggal 7 November 2019.
Untuk lolos reviewnya, author tidak bisa menjamin sepuluh bisa lolos langsung secara bersamaan ya.
Mudah-mudahan sesuai mau author bisa lolos langsung ke sepuluh-sepuluh partnya.
Tetapi, jika admin Editor mangatoon membutuhkan waktu bertahap untuk mereview part crazy update ini sehingga episode2nya keluarnya tidak bisa berbarengan dan bertahap terpisah-pisah jam atau bahkan terpisah hari ( sebagian baru update besok), maka mohon permaklumannya ya.
Regadrs, AY
***
__ADS_1