
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
Matahari sudah benar bergulir melalui seperempat lingkaran jam dinding ketika Sera akhirnya membuka mata. Dia mengerjap, lalu menggeliat dan wajahnya langsung terantuk ke dada keras yang mulai terasa familiar dengannya.
Kepala Sera mendongak dan matanya langsung bertemu dengan wajah luar biasa tampan yang kali ini tak tampak mengintimidasi karena matanya sedang terpejam.
Lelaki ini tertidur pulas, terlihat kelelahan. Tadi pagi setelah mereka menghabiskan waktu bercakap-cakap, mencari-cari nama untuk calon anak mereka, lalu saling berpelukan dengan hati hangat penuh bahagia, tanpa sadar mereka ketiduran lagi. Di tidurnya yang kali kedua ini, Xavier tampak sangat pulas, ada gurat kelelahan di wajahnya.
Kalau dipikir-pikir, semalam Xavier juga bilang akan tidur di sini karena kelelahan, bukan? Apakah itu berhubungan dengan fisiknya yang sakit, tetapi Xavier sengaja tak mengemukakannya?
Rasa cemas menggayuti benak Sera. Selama ini Xavier bersikap seperti lelaki sehat tanpa ada masalah apapun di tubuhnya. Selain permukaan kulitnya yang sedikit pucat, lelaki itu memang tidak menunjukkan gurat penyakit apapun yang menjejaki tubuhnya, karena itulah Sera selalu menganggap bahwa Xavier adalah lelaki sehat, lupa kalau dia mengidap penyakit kronis yang cukup berbahaya. Tetapi, semalam Xavier membuka diri, lelaki itu dengan jelas mengatakan bahwa dirinya sekarat dan dari gaya bicaranya, Xavier seolah memastikan bahwa dia tak akan bisa lama hidup di dunia ini.
Karena itulah Xavier menjauhi dirinya yang sedang mengandung? Karena lelaki itu berpikir bahwa toh dirinya nanti tak akan bisa mendampingi anak-anaknya?
“Sudah selesai menikmati wajahku?”
Suara Xavier yang terdengar kemudian membuat Sera yang tadinya sibuk menerawangkan pikirannya sendiri seolah ditarik secara tiba-tiba ke dunia nyata. Matanya mengerjap, dan langsung bertemu dengan mata bening Xavier yang balas tersenyum menatapnya.
“K-kau sudah bangun?” Dengan gugup Sera menanyakan pertanyaan bodoh yang sesungguhnya tak perlu dijawab.
Xavier tersenyum lembut dan menempatkan ujung jemarinya ke hidung Sera.“Aku sudah bangun sejak kau mendongak menatapku dengan tatapan nanar seolah ingin melahapku hidup-hidup.”
Pipi Sera langsung merah pada karena malu, tanpa sadar dia menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangan.
“Aku tidak sedang menatapmu, aku sedang melamun, kebetulan saja mataku terpaku kepadamu.” Sera berusaha menimpali dengan suara tertahan menahan malu.
“Kenapa kau melamun?” Pertanyaan Xavier tiba-tiba berubah serius, pun dengan tatapan matanya. Hal itu membuat Sera jengah sehingga memalingkan muka.
“Bukan apa-apa,” Sera tak bisa melanjutkan bicaranya dan suaranya berubah menjadi pekikan ketika tiba-tiba saja Xavier meraupnya mendekat dan memeluknya erat dalam dekapan.
“Apa yang kau pikirkan? Apakah kau memikirkan tentang Aaron? Karena kalau kau memang memikirkannya, maka seperti yang kukatakan, semua itu sia-sia belaka. Aku yang akan membereskan Aaron.” Suara Xavier berubah dingin. “Bukankah sudah kukatakan bahwa kau hanya harus mengurus dirimu sendiri sampai melahirkan dengan selamat nanti?”
“Meskipun aku memang ingin membahas perihal Aaron denganmu, tetapi aku tadi tidak sedang memikirkan Aaron!” Sera melebarkan mata untuk membantah, kepalanya mendongak, memberanikan diri untuk menatap langsung ke arah lelaki itu.
“Jadi kau memikirkan siapa? Kau memikirkan aku?” Xavier menebak dengan tepat, dan kilasan di mata Sera ketika dia mengucapkan kalimatnya membuat Xavier menipiskan bibir seketika. “Ah jadi benar, kau memikirkan aku. Kenapa?” tanyanya cepat.
Sera menggigit bibirnya tanpa sadar. “Kau bilang bahwa kau sekarat. Kau juga bilang bahwa kau tak menginginkan sel punca dari plasenta bayi kita. Kalau begitu… apakah kau memang sengaja untuk mati?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sera, didorong oleh penasarannya yang memuncak.
Xavier tertegun seolah tak menyangka bahwa Sera akan menyuarakan hal itu. Lelaki itu terdiam lama, menciptakan keheningan menegangkan yang membuat nuansa di dalam kamar itu terasa menyesakkan.
“Aku mati atau hidup, tidak masalah untukmu, bukan? Aku akan memastikan kau baik-baik saja.” Suara Xavier terdengar tegang, seolah-olah lelaki ini terpaksa masuk ke dalam percakapan yang membuatnya tak nyaman. Meskipun begitu, Sera tak bisa berhenti begitu saja, keningnya berkerut ketika dia menyuarakan kembali pertanyaannya dengan nada serius.
“Kenapa kau begitu ingin menyambut kematianmu, Xavier?”
Sekali lagi Xavier seolah kehilangan kata-kata untuk menjawab, membentangkan keheningan di antara mereka. Lalu tiba-tiba saja lelaki itu menyipitkan mata, menatap Sera dengan tatapan tajam menelisik.
“Kenapa kau jadi begitu perhatian dengan mati tidaknya diriku?” Xavier menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Sera yang terdongak di pelukannya. “Apakah jangan-jangan kau sudah jatuh cinta kepadaku?”
Pertanyaan itu memukul telak, membuat wajah Sera merah padam karena malu. Tangannya bergerak refleks mendorong dada lelaki itu, menjauhkan tubuhnya mundur supaya terlepas dari pelukan Xavier.
“Kau terlalu percaya diri!” Serunya bersungut-sungut marah.
Xavier tidak menahan tubuh Sera di pelukannya, membiarkan perempuan itu mundur menjauh dan memberikan jarak serentangan tangan dari tubuh mereka.
__ADS_1
“Aku terlalu percaya diri?” Lelaki itu menyunggingkan senyuman menjengkelkan di bibirnya. “Kau yang menatapku dengan tatapan mata berkaca-kaca seolah-olah takut kehilanganku, membuatku jadi berpikir apakah jangan-jangan kau telah jatuh cinta kepadaku. Sebab jika itu yang terjadi….” Lelaki itu menyipitkan mata kembali, menatap Sera dengan pandangan tajam dan serius. “Maka musnahkanlah perasaan apapun yang ada di dalam dirimu itu. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku. Aku bukanlah orang yang tepat untuk dicintai. Aku adalah seburuk-buruknya orang yang bisa kau cintai. Percayalah Serafina Moon, jika kau berani menjatuhkan hatimu untuk mencintaiku, bisa kujamin bahwa nanti kau akan menyesal kemudian.”
Xavier tampak sangat yakin dengan perkataannya, membuat Sera tertegun dan bertanya-tanya. Kenapa lelaki ini menempatkan dirinya seburuk itu? Apakah karena itulah Xavier merasa tidak layak untuk hidup?
Tetapi sekarang Sera sedang tak mau berdebat. Saat ini, hubungannya dengan Xavier sudah sedikit membaik dan Sera tak mau merusaknya karena dia butuh berdiskusi dengan Xavier menggunakan kepala dingin menyangkut Aaron.
“A-aku tidak jatuh cinta kepadamu.” Sera berucap dengan nada tinggi meyakinkan. “Aku tak akan pernah jatuh cinta kepadamu!” ulangnya lagi menegaskan.
Setelahnya, secara impulsif Sera menarik selimut membungkus tubuhnya, lalu menggeser tubuhnya ke bagian bawah ranjang dan berdiri.
“Kau mau kemana?” Xavier menopang kepalanya dengan sebelah tangan, bibirnya mengurai senyum seolah geli melihat tingkah Sera yang seperti anak kecil.
“Aku mau mandi. Aku berkeringat,” Sera melebarkan matanya dengan tatapan menuduh ke arah Xavier. “Kau yang membuatku begitu!” serunya menuding.
Kekehan pelan terlepas dari bibir Xavier ketika mendengar tuduhan Sera itu. Lelaki itu bangun, duduk di atas ranjang dengan ketelanjangannya yang sombong.
“Aku minta maaf kalau begitu. Sebagai penebus kesalahan, apakah kau ingin aku membantumu mandi? Mungkin aku bisa menggosok punggungmu?”
Sera tertegun, mulutnya membuka lebar seolah-olah perkataan kurang ajar Xavier itu membuatnya terpana.
“Kau… apa?” ulangnya seolah tak percaya.
Xavier menantang Sera dengan tatapan sensual menggoda.
“Kita bisa mandi bersama dan kita bisa saling membantu. Aku akan membantumu menggosok punggungku, kau bisa membantuku…. Melakukan hal-hal lain,” Xavier memberi jeda kalimatnya dengan sengaja, memberi ruang bagi Sera untuk berimajinasi yang aneh-aneh sehingga membuat rona merah di wajahnya langsung menyebar ke leher, bahu dan bagian atas dadanya.
“K-kau tak boleh mandi denganku! Kau tak boleh menyentuhku lagi!” Seru Sera marah, melangkah mundur menuju kamar mandi seolah-olah takut kalau Xavier tiba-tiba bangun dan menyergapnya.
“Kenapa aku tak boleh menyentuhmu? Kita suami istri, bukan? Aku punya hak sentuh yang tak bisa diganggu gugat.” Xavier bertanya dengan kening berkerut.
“Karena tidak ada cinta di antara kita. Kau tidak mencintaiku dan aku tidak mencintaimu… yang namanya ber… bercinta itu, harus dilakukan dengan landasan cinta! Lagipula, tujuanmu meniduriku sudah tercapai, aku s-sudah hamil!” Sera menyahut marah, melemparkan tatapan mengancam ke arah Xavier. “M-mulai sekarang, kau tak boleh menyentuhku lagi!”
Setelah melemparkan ultimatumnya, Sera membalikkan tubuhnya, berjalan cepat menuju kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi itu menutup keras-keras.
Serafina Moon telah dengan lantang mengatakan bahwa perempuan itu tak mencintainya. Dan memang itulah yang diinginkan oleh Xavier. Cukup dia yang merasakan sakit hati karena mencintai Sera yang tak seharusnya dia cintai, tak akan dibiarkannya perempuan itu merasakan kesakitan yang sama seperti yang dirasakannya.
Namun, kenapa ketika mendengar Sera mengatakan tak cinta kepadanya, hatinya terasa begitu sakit bagai ditusuk sembilu?
Sementara itu, di sisi lain pintu kamar mandi yang tertutup rapat, Sera menyandarkan tubuhnya di sana. Napasnya sedikit terengah karena langkahnya yang cepat. Segera Sera menyingkirkan selimut dan memeriksa perutnya, tangannya mengusap sementara dia menelaah segala rasa di tubuhnya, mencari seberkas rasa sakit yang mungkin ada.
Syukurlah dirinya tak merasakan apa-apa di sana. Biasanya jika Sera terbawa emosi dia akan bertindak impulsif, dipenuhi ketegangan dan membuat perutnya terasa kram. Beruntung sepertinya bayi di dalam perutnya sedang tenang dan kondisi kehamilannya sedang baik hingga tak ada rasa sakit setitikpun yang membekas di sana.
Yang sakit bukan fisiknya tetapi perasaannya. Entah kenapa ketika lelaki itu dengan tegas melarang Sera untuk jatuh cinta kepadanya, ada rasa nyeri yang menyelinap di dalam hatinya, membuatnya sedih tak terkira….
Karena bahkan sebelum Xavier melarangnya, dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada lelaki itu.
***
“Semua baik. Tubuhmu kuat dan tak berpenyakit. Kau bisa melakukan operasi plastik ini kapanpun kau mau. Bahkan sekarang pun kau bisa melakukannya.”
Dokter Rasputin membaca hasil laporan lab pemeriksaan darah Aaron di tangannya. Lelaki itu kemudian mengangkat alis dan menatap tajam ke arah Aaron seolah ingin memastikan keberanian lelaki itu.
“Kau yakin ingin melakukannya sekarang? Jika operasi plastik sudah dilakukan, kau tak akan bisa mundur lagi. Jika wajahmu sudah berubah, maka kehidupanmu tak akan sama seperti dulu lagi. Tak akan ada satupun langkah yang bisa dilakukan untuk mengembalikan semua seperti semula.”
Aaron menyeringai mendengar penjelasan dokter Rasputin itu.
“Aku memang tak ingin kembali seperti yang dulu lagi. Aku ingin kau melakukan operasi plastik sekarang, dokter,” jawabnya dengan nada yakin, tak ingin berubah pikiran lagi.
Dia memang ingin menghapuskan segala hal yang terjadi dulu, segala kebodohan yang membuatnya kehilangan apa yang sesungguhnya sudah ada di dalam genggaman.
Segala kenangan masa lalunya dimana dia menjadi Aaron bodoh yang tak menyadari perasaannya sendiri kepada Serafina Moon langsung berkelebat di dalam benaknya. Hatinya yang masih begitu muda dulu telah teracuni oleh Roman Dawn, membuatnya mudah disetir dan dipenuhi dendam ketika Roman Dawn terus menerus membanjirinya dengan bisikan kebencian karena Anastasia yang telah mengandung anaknya telah dibunuh secara keji. Hati Aaron dihitamkan oleh Roman Dawn hingga membuatnya ikut menyimpan dendam pada Serafina Moon… yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa.
Lagipula, jika dipikir-pikir. Perasaan Aaron dulu kepada Anastasia tidak sedalam itu. Apa yang dirasakannya kepada Anastasia hanyalah manifestasi dari nafsu remaja yang jatuh tenggelam ke dalam pesona ragawi Anastasia yang diberkahi dengan kecantikan luar biasa. Di masa lalu, dia hanyalah remaja yang sedang dikendalikan oleh hasrat darah muda yang menggebu, sementara Anastasia terlihat begitu cantik dan mau dijamah olehnya tanpa pikir panjang. Kenyataan bahwa Anastasia adalah saudara sepupunya, sama sekali tak menghentikan mereka untuk bercinta, berkubang nafsu tanpa pengaman dalam hubungan terlarang yang menderaskan adrenalin hingga akhirnya Anastasia malahan hamil tanpa direncanakan.
__ADS_1
Kepanikan saat itu menguasai diri Anastasia karena tahu bahwa meskipun Aaron bersedia bertanggung jawab, kenyataan bahwa mereka bersaudara akan membuat semuanya sulit. Sementara itu, Anastasia yang masih remaja terlalu takut untuk sekadar menggugurkan kandungan.
Karena itulah Anastasia tiba-tiba muncul dengan ide yang cemerlang, dia akan mengincar Akram Night, membuat lelaki itu tergila-gila dan jatuh cinta kepadanya, dan membuat lelaki itulah yang mengambil tanggung jawab atas anak yang dikandungnya.
Pada saat itu, yang bisa dilakukan oleh Aaron hanyalah pasrah. Dia cuma seorang remaja yang tak punya apa-apa, dan dia tak berani melawan Roman Dawn. Sebab, jika waktu itu Roman Dawn tahu bahwa dialah yang menghamili Anastasia, anak perempuan yang telah digadang-gadangkannya akan menjadi istri pria kaya dan terhormat, mungkin saat itu Roman Dawn akan langsung membunuhnya.
Sayangnya, semua rencana hanyalah tinggal rencana. Mereka semua melupakan keberadaan Xavier Light yang berbahaya dan mengubah seluruh jalur yang telah mereka susun ke arah sebaliknya. Insiden yang didorong oleh kekejian Xavier Light dengan memanfaatkan ayah Serafina Moon telah membuat Anastasia mati sia-sia, dan pada saat itulah Roman Dawn menjangkaunya, membisikkan dendam kepadanya dan menuntutnya untuk ikut andil dan bertanggung jawab dalam upaya membalaskan dendam kematian anak perempuan kesayangannya.
Pada saat Aaron dulu memeluk Sera yang hampir pingsan karena bilur luka cambuk yang infeksi di punggungnya, pada saat dia mengoleskan obat luka di punggung kurus Sera yang tak berdaya karena disiksa habis-habisan, pada saat dia menyelipkan roti untuk dimakan oleh Sera yang kelaparan dan perempuan itu menatapnya dengan bola mata bening berlumur terima kasih, pada saat itulah hatinya dicuri oleh Sera tanpa dia sadari.
Perasaannya pada Anastasia tidak sedalam itu. Perasaannya pada Sera-lah yang dalam, sayangnya perasaannya itu terlambat disadari hingga kelengahan Aaron membuat Sera dicuri darinya.
Aaron tahu pasti bahwa Sera menyimpan perasaan kepadanya. Tetapi, dengan bebal dia mengabaikannya, membuat perasaan Sera tersia-siakan dan memberikan kesempatan kepada pengganggu untuk menyelinap masuk ke dalam kisah mereka. Xavier Light, pusat dari segala kekacauan dari kisah hidupnyalah yang lagi-lagi merenggut perempuannya dari tangannya.
Kali ini Aaron tak akan menyerah begitu saja. Kali ini dia bukanlah remaja tanggung yang tak punya apa-apa. Kali ini dia memiliki kekayaan dan kekuasaan yang bisa digunakannya untuk melawan Xavier. Aaron tak akan berhenti sebelum dia bisa merebut kembali Serafina Moon ke tangannya dan menyingkirkan Xavier Light dari dunia mereka.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
NB: Mohon maaf yang sebesar-besarnya, untuk masuk grup Anonymous Yoghurt, yang didahulukan masuk ke urutan pertama antrian adalah yang memberikan kata2 alasan masuk grup yak, supaya adil. Sebelumnya author mohon maaf jika antrinya lama karena keterbatasan kapasitas member grup.
***
***
__ADS_1
***