
Elana langsung menyadari ada yang tak beres. Matanya berputar cepat penuh rasa ingin tahu, tetapi Credence bergerak lebih sigap lagi. Lelaki itu melepaskan jas mahalnya dan merelakannya dengan menggunakannya untuk menutupi mayat bergenang darah yang seolah mencair perlahan di lantai.
Credence lalu menempatkan dirinya tepat di depan Elana, menghalangi pandangan perempuan itu supaya tak perlu melihat situasi mengerikan yang terpampang di depan mereka.
“Kurasa kau tak perlu melihatnya Elana, demi kebaikanmu.” Credence meringis sedikit merasa bersalah, bahunya yang lebar menjadi penutup yang pas sehingga Elana yang mungil tak bisa mengintip sedikit pun. “Ayo kita keluar dari tempat ini. Akram meminta kita langsung datang ke rumah sakit,” ucapnya kemudian dengan nada sopan nan lembut.
Sejenak Elana menoleh ke arah Sera, seolah meminta pendapat dan dengan segera Sera menganggukkan kepala. Cukup dia saja yang melihat pemandangan mengerikan itu di matanya, Elana tidak perlu menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
Melihat anggukan Sera, Elana pun menurut, membiarkan tubuhnya dihela oleh Credence melangkah keluar dari ruang toilet tersebut tanpa mencoba melihat lebih jelas apa yang terjadi.
Ditinggalkan berduaan, mata Xavier kembali mengamati wajah Sera yang pucat pasi, lelaki itu tiba-tiba membungkuk dan meraup tubuh Sera ke dalam gendongannya, membuat Sera memekik karena terkejut.
"Xavier! B-bagaimana dengan luka di dadamu, kau tak perlu mengendongku!" Sera mencoba melepaskan diri, tetapi lengan Xavier begitu kuat menahannya.
"Lukaku sudan sembuh. Kau pucat sekali, kalau aku tak menggendongmu kau akan pingsan di tempat. Tentu kau tak mau jatuh bersisian dengan mayat itu dan terkena cipratan darah di lantai, bukan?" Xavier menjawab dengan suara dingin mengerikan, membuat Sera membeliak, lalu memejamkan mata ketika bayangan tentang mayat di bawah kakinya itu membuat perutnya bergolak tak terkendali, terkena serangan mual yang tak berperi.
Xavier tentu saja menyadari itu ketika matanya melihat ekspresi Sera yang memucat dan tangan perempuan itu yang bergerak menutup mulutnya. Pada saat itu, mereka sudah hampir keluar dari ruangan butik tersebut dan bergerak menuju lift yang akan membawa mereka turun.
“Kau ingin muntah? Kita perlu kembali ke toilet tadi supaya kau bisa muntah di sana?” tanyanya kemudian tanpa perasaan.
Mata yang berkaca-kaca melebar, seketika dia menggelengkan kepala dengan panik, ditempa teror yang mengerikan.
Lelaki ini tahu bahwa penyebab rasa mualnya adalah mayat bergenang darah yang tergeletak di lantai toilet itu, bagaimana bisa Xavier menawarkannya untuk kembali ke toilet itu? Apakah jiwa Xavier memang telah benar-benar mati sehingga sosok mayat dengan nyawa yang dicabutnya sama sekali tak mengusik nuraninya?
Mata Xavier menyipit, mengawasi Sera yang menolak setengah histeris dengan saksama. Ketika mereka sampai di depan lift dan tangannya menekan tombol lift, Xavier pun kembali bertanya.
“Apakah kau bisa menahan muntahmu sampai ke bawah nanti?”
Sera menganggukkan kepala dengan cepat sebagai jawaban. Lebih baik dia menahan mual dalam siksa setengah mati, daripada harus kembali ke ruang toilet itu.
Melihat anggukan Sera, tanpa suara Xavier melangkah masuk ke dalam pintu lift yang terbuka, lelaki itu berdiam di sana, tak mengajak Sera bicara karena dia tahu bahwa Sera tak mampu untuk berbicara.
Perjalanan lift turun itu harusnya berlangsung singkat, tetapi entah kenapa bagi Sera, perjalanan itu terasa sangat lama. Perutnya semakin bergolak tak terkendali, menyerangnya tanpa ampun dengan isi perutnya yang memanjat naik melalui batang kerongkongannya, tak sabar untuk meloncat keluar dari sana.Mereka menyeberangi lobby pusat perbelanjaan itu secepat kilat, mengabaikan pandangan ingin tahu orang-orang yang menatap bingung ke arah seorang lelaki luar biasa tampan yang menggendong seorang wanita keluar dari lift.
Begitu mereka mencapai pintu keluar lobby pusat perbelanjaan itu, sebuah mobil sudah menunggu di sana.Xavier membuka pintu mobil, memasukkan Sera ke kabin penumpang lalu menyusul masuk ke dalamnya, dalam sekejap, mobil itupun melaju ke arah rumah sakit seperti yang diperintahkan oleh Xavier kepada supirnya dengan nada suara tegas sebelumnya.
“Apakah kau ingin muntah? Ada kantong kertas di sekitar sini.” Tangan Xavier bergerak mencari ke arah sebuah laci kecil yang terletak di bawah bangku tempat duduknya. Lelaki itu mengeluarkan kantong kertas yang dimaksud, lalu menyerahkannya kepada Sera.
Sera yang langsung menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dan menengadahkan kepalanya kepayahan begitu memasuki mobil, menerima kantong kertas itu dengan lemah. Matanya masih tertutup, tak berani membukanya karena ketika tadi dia mencoba membuka matanya itu, pandangannya berkunang-kunang dan rasa mual menyerangnya kembali dengan hebat.
“Muntahkan saja biar lega,” Xavier memberi saran dengan nada prihatin. Tangannya bergerak menyingkap anak rambut Sera yang berantakan menutupi wajahnya, lalu mengusap lembut keringat dingin yang bercucuran di sana.
Sera menggelengkan kepala dengan keras hati. Matanya masih terpejam dan dia menghela napas berkali-kali, berjuang untuk menenangkan perutnya yang masih tak mau menyerah dan bergolak. Dia sudah tampak begitu lemah dan tak berdaya di depan Xavier selama ini, tak akan ditambahinya kesan lemah dirinya di mata lelaki itu dengan muntah-muntah di hadapannya.
Xavier sendiri memilih tak memaksakan kehendak, lelaki itu jelas menyadari betapa sulitnya situasi yang sedang dihadapi oleh Sera saat ini. Karenanya, dia memilih diam, bersedekap dan menyandarkan diri di punggung kursi sambil menatap lurus ke depan, sambil menunggu sampai Sera bisa menenangkan diri.
Lama kemudian, ketika mereka sudah hampir sampai di rumah sakit, Sera akhirnya bisa menghela napas panjang ketika pergolakan di perutnya mereda, berubah menjadi riak-riak kecil yang tak berarti dan masih bisa dikendalikan.
Xavier tentu langsung menyadari itu. Lelaki itu menyodorkan sebotol air mineral ke dekat Sera, menawarkan dengan lembut.
__ADS_1
“Apakah kau sudah bisa minum?” tanyanya kemudian.
Sera akhirnya memberanikan diri untuk membuka mata. Dirinya menghela napas lega setelah rasa mualnya benar-benar memudar. Diletakkannya kantong kertas dalam genggaman tangannya ke bangku mobil dan diterimanya botol air mineral itu dari tangan Xavier.
“Terima kasih,” Sera menjawab dengan suara parau. Ditenggaknya isi dari botol itu dengan kehausan, membasahi kerongkongannya yang kekeringan.
“Apakah kau sudah tak mual lagi?” Xavier kembali bertanya untuk memastikan.
Sera menganggukkan kepala. Asal dia menutup seluruh ingatannya tentang kejadian tadi, maka dirinya tak akan mual lagi.
“A-aku sudah tidak apa-apa,” jawab Sera kemudian berusaha meyakinkan.
Xavier menganggukkan kepala. “Kalau begitu, kita bisa berbicara sekarang.” Suara Xavier ketika berucap kemudian terdengar dingin, seolah-olah apa yang akan mereka bicarakan ini tidak menyenangkan hatinya.
Sera mendongakkan kepala, menatap ke arah Xavier dengan sedikit takut.
“Apa yang ingin kau bicarakan?”Xavier menolehkan kepalanya, menatap Sera dengan tajam.
“Kau tentu sudah bisa menduga siapa yang mengirim pembunuh bayaran untuk mencelakaimu, bukan?” tanyanya dengan nada penuh ironi.
Sera mengerutkan kening mendengar pertanyaan yang hampir-hampir terdengar menuduh itu. Mulutnya membuka untuk membela diri secara impulsif.
“Aku tidak tahu. Apa maksudmu dengan mengatakan aku pasti sudah tahu?”
Xavier menipiskan bibirnya. “Aku mendapatkan telepon dari Dimitri di waktu yang tepat yang memberitahukan pergerakan Aaron secara diam-diam yang berhasil dikuak oleh jaringan informasinya. Aaronlah yang mengirimkan pembunuh bayaran itu untuk mencelakaimu.”
Mata Sera melebar karena terkejut. Suara terkesiap terdengar dari tenggorokannya, sementara ketidakpercayaan tampak memenuhi dirinya.
Xavier mengurai senyum dengan sinis. “Mungkin di sini kita menganggap urusan kita dengan Aaron sudah selesai, tetapi tak demikian halnya dengan pihak Aaron. Dia masih menyimpan dendam kepadaku.” Xavier menggerakkan tangannya untuk menyentuh dagu Sera, memaksa perempuan itu menghadap ke arahnya. “Aaron telah berhasil mengakuisisi seluruh kekayaan keluarga Dawn di Rusia, hal itu membuatnya masuk ke dalam jajaran orang kaya berpengaruh di sana. Dengan uangnya itu, dia membuat semacam sayembara yang disebarkannya di dunia bawah tanah di mana semua pembunuh bayaran mencari pekerjaan dengan bayaran yang menguntungkan. Uang yang ditawarkan oleh Aaron sungguh menggiurkan, sehingga membuat semua orang menjadikanmu targetnya. Tetapi, bukan untuk dibunuh.”
Suara Sera tersekat di tenggorokan ketika dia akhirnya mampu mengalahkan keterkejutan yang mengguncangnya untuk kemudian bertanya.
“Tidak dibunuh? Lalu… apa tujuan sayembara Aaron?”
Mata Xavier melirik ke arah perut Sera sekilas, ekspresinya berubah menjadi gelap muram dan mengerikan.
“Dia mengincar bayi dalam kandunganmu,” jawabnya kemudian dengan nada geram.
Sera kembali terkesiap. Tangannya secara refleks bergerak untuk memeluk perutnya.
“Mengincar bayiku?” tanyanya membeo.
Xavier menganggukkan kepala. Lelaki itu menyeringai marah.
“Aaron ingin menghabisi bayi di dalam kandunganmu, tetapi dia tak ingin membunuhmu.” Mata Xavier menyala oleh kerlip kemarahan yang bersiap membakar. “Tidakkah kau merasa senang? Rupanya Aaron memutuskan bahwa dia masih menginginkanmu, tetapi tidak dengan bayi di dalam kandunganmu. Peluru yang ditembakkan oleh pembunuh bayaran itu adalah peluru khusus berisi racun yang harus ditembakkan ke perutmu sehingga bisa mendorong kontraksi berlebihan di rahimmu dan menyebabkanmu mengalami keguguran.”
Aaron menginginkannya? Apakah maksud Xavier? Bukankah sejak kalimat kasar yang dilontarkannya kepada Sera pada saat lelaki itu kembali ke Rusia dulu, sudah jelas Aaron menyatakan kebencian dan rasa jijik kepadanya serta tak mau berhubungan lagi dengannya?
“Ya, Aaron menginginkanmu kembali ke sisinya.” Xavier menatap Sera tajam. “Salah satu bunyi sayembara yang disebarkan oleh Aaron adalah membayar tinggi kepada siapapun yang bisa membuatmu keguguran dan Aaron bersedia memberikan hadiah yang lebih tinggi lagi kepada siapapun yang berhasil menculik untuk membawamu ke Rusia. Tentu Aaron berpikir bahwa setelah kau keguguran, akan lebih mudah membawamu kembali ke Rusia, karena tanpa adanya bayi itu, kemungkinan besar aku akan melepaskanmu dengan mudah.” Mata Xavier menyipit ketika menelaah semua rencana Aaron di dalam pikirannya. “Pembunuh yang tadi mengincarmu adalah seorang pembunuh profesional yang menjadi salah satu dari jajaran pembunuh yang tertarik dengan sayembara berhadiah Aaron, dia hanya mengambil sayembara pertama saja yaitu untuk menggugurkan kandunganmu dan mungkin akan menyerahkan tugas menculikmu pada rekannya yang lain nanti setelah kau menjalani penanganan medis setelah keguguran, aku yakin bahwa itulah rencananya sebelum kugagalkan tadi. Dengan sayembara Aaron tersebut, bukan tidak mungkin akan ada pembunuh bayaran nekat yang memutuskan untuk melawanku demi hadiah uang dan mereka akan berdatangan untuk mengincarmu.”
__ADS_1
Xavier memandang Sera lekat-lekat, tatapannya terlihat kejam dan tak berperasaan. “Kau mungkin senang karena mendengar bahwa Aaronmu itu masih menginginkanmu kembali ke sisinya. Tetapi, selama kau mengandung anakku, aku tak akan membiarkan itu terjadi.” Xavier menghentikan kalimatnya sejenak dan mempelajari ekspresi wajah Sera sebelum berucap kembali, “maafkan aku karena belum menepati janji untuk membawamu menemui ayahmu. Kau tahu, karena kau sedang hamil muda, Dokter Nathan memintaku menunda membawamu ke fasilitas kesehatan tempatmu dirawat karena riskan bagi perempuan yang sedang hamil muda datang ke sana. Dia menyarankanku untuk menunggu sampai usia kandunganmu cukup besar dan cukup kuat.”
“Aku mengerti.” Sera menyahut cepat, menatap Xavier dengan penasaran.
Lelaki itu telah mengatakan alasannya menunda membawa Sera menemui ayahnya sebelumnya dan Sera bisa menerima alasan itu dengan baik, kenapa sekarang Xavier mengulang menjelaskannya? Apa maksud Xavier dengan membawa-bawa perihal ayahnya kembali?
“Kau tahu, aku memiliki dua janji kepadamu di dalam kesepakatan kita. Yaitu, aku membebaskan ayahmu dan Aaron.” Xavier tidak membiarkan Sera menunggu lama dan langsung berucap. “Tetapi, untuk saat ini, demi melindungi anak di dalam kandunganmu, aku harus melanggar salah satu janjiku.
Sera membeliak, tatapan matanya berubah ngeri. “A-apa maksudmu, Xavier?”
Peristiwa tadi dimana Xavier mengeliminasi pembunuh yang mengincarnya dengan darah dingin membuat Sera menyadari bahwa sebaik apapun dan selembut apapun Xavier memperlakukannya, lelaki itu tetaplah pembunuh kejam tak berperasaan yang sangat menakutkan. Jantung Sera berdegup ketika menanti jawaban Xavier atas pertanyaannya.
Mata Xavier sendiri menyiratkan kemarahan mengerikan yang sebelumnya hampir-hampir tak pernah ditunjukkan oleh lelaki itu kepada Sera.
“Aaron menggunakan sayembara untuk mengincar anakku di perutmu. Maka sebagai balasan aku akan melakukan hal yang sama.” Tatapan Xavier berubah mengancam ke arah Sera. “Untuk saat ini, aku akan memaksamu berada di pihakku dan jangan pernah mencoba mengkhianatiku, Serafina Moon. Karena sikap yang akan kuambil inilah yang akan menjadi satu-satunya cara supaya kau bisa menjalani kehamilanmu dengan aman dan melahirkan dengan selamat. Tadinya aku sudah bertekad membebaskan Aaron demi memenuhi kesepakatan denganmu, tetapi sekarang Aaronlah yang memulai semuanya sehingga jangan salahkan aku jika aku membalas dengan kekuatan penuh. Aku akan mengumumkan sayembara tandingan untuk menghadapi Aaron. Tetapi tentu saja aku tak akan membasahi tanganku sendiri dengan darahnya yang tak berharga.” Xavier menyeringai dengan ekspresi kejam. “Aku akan memberikan hadiah dua kali lipat dari jumlah apapun yang ditawarkan oleh Aaron, bagi siapapun yang bisa membunuh lelaki itu dan menyeret mayatnya ke hadapanku.”
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
Yours Sincerely
AY
***
***
__ADS_1
***