
Hari masih sangat dini, tetapi suasana apartemen Akram berbeda dari biasanya. Ruangan kamarnya, tempat Elana dibaringkan, sekarang dibuka untuk para perawat yang didatangkan khusus oleh dokter Nathan.
Para perawat ini memiliki kemampuan medis kelas satu dan bertugas untuk merawat dan memonitor kondisi Elana dengan saksama. Mereka semua juga telah memikiki pengalaman untuk menangani pasien dengan hipotermia sebelumnya, sehingga nanti seandainya kondisi Elana memburuk, Elana sudah berada di tangan orang-orang ahli yang tepat yang mampu menyelamatkan nyawanya.
Sepanjang malam itu, Akram tidak pernah meninggalkan Elana sedikitpun. Dia sungguh tak ingin Elana lepas dari pandangannya. Akram selalu berjaga di dekat Elana, mengawasi perempuan itu dengan waspada, khawatir kalau tiba-tiba kondisi Elana berubah kritis dan dirinya terlambat menyadarinya.
Akram pernah membaca bahwa para pendaki yang meninggal karena hipotermia ketika mencoba menaklukkan Gunung Everest yang kokoh, sebagian besar tidak menyadari apa yang menimpa mereka, hanya merasa kelelahan dan ingin tidur sejenak, tapi malaikat kematian ternyata telah memperdaya mereka, membuat mereka tak terbangun lagi selamanya.
Akram tak mau sampai itu terjadi pada Elana. Sungguh, dia takut Elana yang saat ini tengah tertidur pulas, ternyata tidak membuka matanya lagi.
Setelah menyerahkan Elana dalam pengawasan suster jaga, barulah Akram menyempatkan dirinya untuk mandi, dia menyelesaikan mandinya dengan cepat dan bercukur di wastafel dengan sedikit terburu-buru. Setelah selesai, dia meletakkan pisaunya di wadah, membasuh diri dan menatap ke cermin. Berusaha menetralkan kecemasan yang menyesakkan dadanya.
Uap air hangat masih memenuhi ruangan dan menyebabkan cermin itu berkabut hingga Akram harus mengusapkan telapak tangannya di cermin tersebut untuk melihat pantulan wajahnya dengan lebih jelas.
Ada lingkaran gelap di bawah matanya karena Akram hampir-hampir bisa dibilang tidak tidur semalaman. Karena, setiap dia hendak terlelap lebih dalam, Akram akan buru-buru bangun dengan terkejut, lalu bersegera memeriksa tanda-tanda kehidupan di tubuh Elana, takut kalau dia lengah dan melewatkan kondisi genting perempuan itu di saat-saat krusial.
Akram mengawasi sembab di sudut matanya dan mengerutkan kening melihatnya. Mengeluarkan air mata hampir-hampir menjadi suatu pengalaman baru baginya. Entah kapan sejak terakhir kali dia merasakannya, Akram sudah lupa.
Sekarang, bahkan Akram sendiri tidak bisa mendefinisikan perasaannya.
Dengan letih Akram kembali membungkukkan tubuh dan membasuh wajahnya, berharap bisa menyingkirkan seluruh pikiran yang memberati bersamaan dengan sapuan air yang berpusar lalu menghilang di wastafel. Sayangnya, apa yang membebaninya tidaklah sesederhana itu, terlalu berat untuk disingkirkan.
Elana....
Jemari Akram mengepal sementara matanya berkilat penuh kemarahan.
Jika Xavier ingin membuat Akram menderita, maka kali ini dia telah berhasil. Akram sudah kalah. Kalah sepenuhnya...
***
***
Suasana di lantai satu apartemennya juga cukup ramai, berisi Elios dan para pegawainya dengan berbagai komputer dan peralatan teknologi canggih terpasang darurat di sana. Sebagian besar sedang berusaha melacak keberadaan pabrik senjata biologis milik Xavier, sementara sebagian yang lain sedang mencoba meretas seluruh jalur komunikasi yang dilakukan oleh Xavier dan mencari informasi sebanyak mungkin dari situ.
Langkah-langkah kaki terdengar berlalu lalang di bawah sana, meskipun begitu, semua orang tampaknya berhasil menjaga supaya tidak menciptakan keributan yang mengganggu. Mereka saling berbicara setengah berbisik dengan suara rendah, tahu bahwa di atas sini ada pasien yang membutuhkan ketenangan dan istirahat untuk menjaga kondisinya.
Akram baru saja melangkah keluar dari kamar mandi ketika Elios dan Nathan tampak muncul di ambang pintu. Dengan cepat Nathan meminta supaya para perawat yang ada di dalam kamar Elana keluar, meninggalkan hanya mereka bertiga sendirian di kamar itu, dengan Elana yang masih tertidur di atas tempat tidur.
Dengan sikap hormat dan hati-hati, Elios menunjukkan ponsel di tangannya kepada Akram.
"Tuan Akram, pegawai Tuan Xavier menghubungi Anda. Dia mengatakan bahwa bosnya ingin berbicara dengan Anda secara pribadi melalui sambungan telepon,"
Akram mengangkat alis, seolah terkejut dengan perkembangan terbaru itu.
"Secepat itu?" suara Akram dipenuhi ketikdakpercayaan. Dia tidak menyangka Xavier akan menghubungi begitu cepat setelah insiden semalam.
Akram berpikir bahwa Xavier berniat menyiksa Akram, menikmati kehancuran hati Akram melihat keadaan Elana yang semakin menurun dari hari ke hari, barulah di hari ke enam saat keputusasaan mencapai puncaknya, Xavier akan menghubungi Akram dan menawarkan negosiasi dengan nilai penawaran tinggi. Karena, ketika sampai di titik putus asa, tentu Akram akan menerima segala yang ditawarkan kepadanya meskipun itu merugikannya. Hal itu akan sangat menguntungkan Xavier.
Itulah pola khas Xavier di masa lampau. Selama bertahun-tahun yang melelahkan Akram harus menghadapi kegilaan Xavier, sehingga dia merasa sudah terlalu paham akan cara bekerja lelaki itu. Xavier adalah seorang psikopat, yang senang menyiksa dan memberikan kematian dengan cara paling menyakitkan kepada korban-korbannya. Xavier tampaknya begitu menikmati kesakitan orang lain yang menjadi laksana candu baginya.
Terutama kesakitan dan derita Akram. Dua hal itu seolah menjadi obat bagi Xavier sehingga dia selalu berusaha melukai Akram untuk kepuasannya.
Tetapi, kenapa sekarang berubah? Apa yang memaksa Xavier terburu-buru menghubunginya?
"Bilang pada anak buah Xavier. Aku bersedia berbicara," Akram memutuskan dengan cepat bertujuan supaya bisa segera menuntaskan rasa penasarannya
Elios mengangguk, memberikan jawaban pada lawan bicaranya yang tampaknya masih menunggu. Tak lama kemudian, ekspresi Elios berubah ketika mendengar suara berbeda dari seberang sana dan dia bergegas menyerahkan ponsel itu ke tangan Akram.
"Xavier," Akram hanya mengucap satu kata untuk menunjukkan pengenalannya pada lawan bicaranya. Segala kebencian dan rasa marahnya yang meluap, ditahannya sekuat tenaga. Dia tahu bahwa dirinya harus bersikap tenang dalam negosiasi ini. Jika Xavier bisa mengendus setitik saja percikan tanda lepas kendali pada dirinya, lelaki psikopat itu akan langsung memprovokasi tanpa henti, hanya untuk membuat Akram meledak marah dan terkalahkan.
"Akram," suara Xavier menyahut di seberang sana. Anehnya, nada suaranya begitu lembut, tidak terdengar provokatif dan penuh senyum licik seperti biasanya.
Mungkinkah ini metode baru Xavier untuk membingungkan lawan-lawannya? Akram tidak punya jawaban atas pertanyaannya itu, tetapi dia memutuskan untuk berdiam diri dulu dan menunggu Xavier menunjukkan sendiri maksudnya.
"Bagaimana keadaan Lana?" tanya Xavier langsung.
Akram mengerutkan kening. Ekspresinya berubah gelap. "Kenapa kau merasa perlu bertanya? Bukankah kau yang paling tahu apa efek racun itu pada tubuh manusia? Kau telah menyuntikkan racun itu tanpa nurani ke tubuh Elana yang tak tahu apa-apa. kau pasti tahu bahwa kau telah membuatnya kesakitan luar biasa sepanjang malam ini, bukan?" Akram mengeluarkan geramannya sambil menggertakkan gigi. "Sekarang apa lagi rencanamu, Xavier? Kenapa kau menelepon sepagi ini? Apakah kau sudah tidak sabar untuk memuaskan diri dan merayakan kemenanganmu?"
Keheningan membentang di antara mereka ketika Xavier malahan terdiam dan tidak menyahut sama sekali.
Akram menunggu sampai dia kehabisan kesabaran, tepat ketika dia hendak membuka mulutnya, tiba-tiba saja Xavier berucap dari seberang sana.
"Aku ingin berbicara dengan dokter Nathan terlebih dahulu. Aku tahu dia pasti ada di sana, bukan?"
Perkataan Xavier yang malah mengalihkan pembicaraan dan tidak menanggapi segala pertanyaan Akram itu membuat kemarahan Akram mulai tersulut.
"Kau menghubungi untuk bernegosiasi denganku. Apa hubungannya dengan dokter Nathan? Lebih baik jangan berbelit-belit, lekas katakan apa yang kau inginkan sebagai pembayaran untuk antidote itu dan kita bisa membicarakan pertukaran yang adil."
"Aku butuh berbicara dengan dokter Nathan dulu untuk memastikan segala sesuatunya sebelum bernegosiasi denganmu," suara Xavier tetap tenang, tidak terpengaruh dengan emosi serta kemarahan Akram. "Lana cukup penting sebagai bagian utama dari negosiasi kita. Kau, sama halnya denganku, tentu ingin dia baik-baik saja sampai negosiasi kita mencapai kesepakatan, bukan? Aku harus berbicara dengan dokter Nathan untuk memastikan metode penangannya terhadap kondisi Elana saat ini sudah sesuai dengan penanganan yang seharusnya dilakukan dengan racun di tubuhnya." Xavier terdengar menarik napas panjang di seberang sana. "Sekarang, tolong berikan ponselmu ini pada dokter Nathan. Biarkan aku berbicara dengannya terlebih dahulu."
__ADS_1
Akram tertegun ketika dia berusaha mencerna perkataan Xavier. Tetapi, dia tentu juga sudah menyadari kebenaran perkataan Xavier. Dengan marah ditekannya fungsi loudspeaker pada ponsel itu, lalu tanpa kata, diserahkannya ponsel tersebut kepada Nathan yang tampak kebingungan menerimanya.
***
***
"Xavier," Nathan menyapa dengan suara datar.
Sebagai teman masa kecil Akram, tentu saja Nathan cukup mengenal Xavier dan imbasnya dalam kehidupan Akram, bahkan sejak sebelum dirinya menjadi dokter yang menangani Akram.
Dulu di masa lampau, Nathan juga tidak lepas dari incaran Xavier. Begitu lelaki itu mengetahui bahwa Nathan adalah sahabat akrab Akram dan hendak menjadi dokter pribadinya, Xavier menggunakan segala macam cara untuk menarik Nathan supaya menyeberang ke pihaknya. Tawaran yang diberikan oleh Xavier tentu saja cukup menggiurkan dengan kepastian karir yang gemilang dalam bidang kedokteran. Tetapi, Nathan tidak tergoyahkan. Dia tetap berada di sisi Akram, bukan hanya demi pekerjaannya sebagai seorang dokter, tetapi juga demi persahabatan.
Nathan mengerutkan kening. Kalau dipikir-pikir, begitu Nathan menunjukkan dengan tegas bahwa dia tidak tertarik dengan tawaran Xavier, lelaki itu langsung melangkah mundur dan tidak memaksa lagi.
Kalau begitu... apakah Xavier hanya membunuh dan menghancurkan orang-orang yang menerima tawarannya dan mengkhianati Akram?
Pertanyaan di benak Nathan tidak sempat mendapatkan jawaban karena suara Xavier langsung terdengar di seberang sana.
"Bagaimana kondisi Lana?" Xavier mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang diajukannya kepada Akram. Tetapi karena sekarang dia berhadapan dengan tenaga medis profesional, Xavier tahu bahwa dia akan mendapatkan jawaban profesional juga.
"Kondisi Elana stabil," Nathan menjawab cepat. "Aku telah melakukan seluruh metode penanganan hipotermia untuk mencegah racun yang kau suntikkan ke tubuh Elana berkembang lebih buruk dan berakibat fatal...."
***
Di rumahnya yang megah dengan pengawalan ketat dan penuh dengan anak buahnya yang berjaga di luar sana, Xavier duduk di ranjang pribadi dalam kamarnya dan mendengarkan jawaban dari dokter Nathan.
Tidak ada orang lain dalam ruangan ini. Karena itulah, tidak ada yang melihat bagaimana Xavier memejamkan mata dan menarik napas panjang pertanda kelegaan yang amat sangat ketika Nathan yang menjawab di seberang sana mengatakan bahwa kondisi Elana sudah stabil.
Perempuan itu baik-baik saja....
Xavier mengucapkan kalimat itu berulang kali untuk menenangkan dirinya sendiri, sementara telinganya tetap mendengarkan dengan saksama penjelasan medis yang dijabarkan oleh dokter Nathan di seberang sana mengenai metode penanganan yang dilakukannya untuk Elana.
"Kau sudah melakukan hal yang benar." Xavier menghentikan kalimatnya untuk mendengarkan pertanyaan dokter Nathan. Kepalanya lalu menggeleng tanpa sadar. "Tidak. Kondisi Lana tidak akan lebih buruk dari ini. Dia akan tetap stabil selama enam hari ke depan. Tidak perlu melakukan metode penghangatan darah dengan menggunakan mesin hemodialisis ataupun menggunakan kateter untuk memasukkan cairan hangat ke paru-paru dan rongga perutnya," Xavier mengerutkan kening ngeri ketika membayangkan metode itu dilakukan pada Elana. "Racun itu bekerja lambat selama enam hari pertama dan akan memburuk di hari ketujuh. Pada hari ketujuh, suhu tubuh akan turun drastis dan tak akan bisa dinaikkan lagi, jika korban tidak segera mendapatkan infus penawar, racun itu akan membunuh korbannya hanya dalam beberapa jam setelah hipotermia akut terjadi."
"Apakah kau berencana melakukan negosiasi dengan Akram sebelum hari ketujuh? Aku tidak menyangka kau tidak punya integritas, Xavier. Menyuntikkan racun senjata biologis pada penduduk sipil yang tak tahu apa-apa...." suara Nathan terdengar mencela, tidak ditutup-tutupi di seberang sana.
Ekspresi Xavier mengeras. "Aku melakukannya untuk tujuanku sendiri," berikan ponselnya pada Akram, aku siap untuk bernegosiasi dengannya."
Terdengar suara Nathan menarik napas, lalu lelaki itu berbicara. "Katakan saja di sini. Kami memasang mode pengeras suara."
"Bagus. Karena aku ingin kau dan Akram mendengar apa yang akan kukatakan," Xavier menyebut nama adik angkatnya untuk menunjukkan kepada siapa dia berbicara. "Penawar untuk Lana, harus dimasukkan sedikit-demi sedikit menggunakan infus khusus yang diatur alirannya. Jika berlebihan akan berakibat fatal dan jika terlalu sedikit, tidak akan memberikan imbas sama sekali. Pemberian infus diberikan setiap tiga hari sekali selama empat kali. Setelah itu, barulah racun tersebut benar-benar terbilas bersih dari tubuh,"
Xavier menipiskan bibir, menahan senyum penuh ironi di bibirnya. "Memang seharusnya seperti itu. Pemberian satu ampul infus untuk satu kali pertemuan, memerlukan waktu hingga dua puluh jam. Aku sudah bilang tadi, bukan? Aliran infus harus dilakukan dengan metoda khusus dengan alat yang khusus pula. Dan alat itu ada di rumahku. Jadi, jika kau ingin antidote itu masuk ke tubuh Lana dengan segera, kau harus menyerahkan Lana dalam pengawasanku untuk diberikan antidote itu selama dua puluh jam di kali empat kali proses penginfusan setiap tiga hari sekali."
"Apa kau pikir aku gila dan bodoh hingga mau menyerahkan Elana dalam pengawasan orang gila sepertimu?" Akram menghardik dengan marah, rasa frustasi tergambar jelas di suaranya.
Xavier menyeringai. "Keputusan ada di tanganmu, Akram. Ingat, hanya aku satu-satunya yang memiliki penawar untuk racun itu. Enam hari ini Lana akan tetap stabil meskipun dia tetap menanggung rasa sakit dan derita dari hipotermia yang menyerangnya. Tetapi setelah itu, kau bisa kehilangan nyawa perempuan favoritmu. Jika kau terus berpegang pada kesombonganmu, apakah kau siap menrima konsekuensinya?"
"Kau pikir aku tidak bisa membawa Elana ke luar negeri, atau ke lab terbaikku untuk menemukan penawarnya? Kau pikir hanya kau yang bisa membuat penawar racun itu?" Akram menyela lagi, kali ini suaranya menggeram penuh ancaman.
Xavier terkekeh. "Kau hanya menggertak, Akram. Aku tahu itu. Racun yang kusuntikkan pada Lana, memerlukan waktu bertahun-tahu, penuh dengan kegagalan dan kerja keras sehingga akhirnya bisa diramu sempurna menjadi racun yang seperti sekarang ini. Jika kau hendak menciptakan penawarnya, bahkan ilmuwan terbaikmu sekalipun akan membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk memetakan susunan kimiawi racun tersebut, kemudian membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menyusun antidote dengan komposisi yang paling tepat guna menetralisir racun dan itupun masih berisiko kegagalan yang mematikan." Xavier menjauhkan ponsel itu dari telinganya. "Sekarang, semua terserah kepadamu, entah kau akan memilih keselamatan Elana ataukah kau memilih harga dirimu, kau yang menanggung semua konsekuensinya." sinar mata Xavier tampak tajam ketika melanjutkan kalimatnya. "Tidak perlu memasang pelacak atau mencoba meretas perimeter keamanan rumahku, Akram. Aku akan berdiam di rumahku dan menunggu. Kau bisa menghubungiku di nomor ini jika kau sudah memutuskan."
Xavier tidak menunggu tanggapan dari lawan bicaranya. Dia langsung memutus hubungan telepon saat itu juga.
***
***
"Akram," Nathan berucap tanpa ragu. "Kau harus mempertimbangkan tawaran Xavier. Meskipun kita sulit menerimanya. Tetapi, hanya itulah satu-satunya jalan."
Mata Akram melebar, ekspresinya berubah gelap.
"Kau berpendapat bahwa aku sebaiknya menerima tawaran Xavier? Bagaimana kalau ketika aku menyerahkan Elana kepadanya, bukannya menyuntikkan antidote kepada Elana, dia malah meracuninya lagi? Bagaimana kalau dia malah memaksakan kehendaknya ketika Elana sedang lemah? Bagaimana kalau dia membayar orang untuk menyakiti Elana seperti yang dilakukannya di masa lampau pada Anastasia?" Akram mengepalkan tangan dengan frustasi. "Dengan rekam jejak Xavier yang selalu menghancurkan segala yang kucintai, bagaimana mungkin aku bisa percaya bahwa dia akan benar-benar memberikan penawar racun bagi Elana dan bukannya membunuhnya?"
Baik Nathan maupun Elios yang sejak tadi diam di ruangan itu sama-sama membeku kehabisan kata. Mereka tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan beruntun Akram yang menuntut.
Tetapi, bukanlah ini adalah suatu pertaruhan? Xavier membuat mereka harus mempertaruhkan nyawa Elana dalam mengambil keputusan. Dan mereka berada di posisi terdesak, tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Xavier yang berbahaya.
Nathan menahan diri untuk mengungkapkan bahwa instingnya mengatakan kalau Xavier benar-benar terdengar tulus ingin menyelamatkan Elana. Kelegaan yang tersirat dalam suara Xavier setelah mendengar kondisi Elana yang stabil bukanlah sesuatu yang bisa dibuat-buat.
Tetapi, kalau memang Xavier peduli pada kondisi Elana, kenapa dia menyuntikkan racun berbahaya itu pada Elana? Apa tujuannya yang sebenarnya?
Pertanyaan Akram pun cukup masuk akal. Jika selama ini Xavier memiki obsesi untuk menghancurkan semua yang disukai oleh Akram, kenapa kali ini dia menawarkan serum penawar itu tanpa permintaan tambahan lain? Apa keuntungan dari semua ini bagi Xavier? Dan apa jaminan bagi mereka bahwa Elana tidak akan dihancurkan oleh Xavier?
"Aku dan Elios bisa menjadi jaminan untuk keamanan Elana," Nathan akhirnya berucap, berusaha memberikan jalan keluar yang cukup masuk akal. "Kita bisa bernegosiasi bahwa ketika Elana menjalani proses infus untuk mengalirkan penawar racunnya, kami berdua harus ada di sana untuk mendampingi dan memastikan seluruh prosedur yang dilakukan kepada Elana aman untuknya," Nathan menoleh ke arah Elios yang langsung menganggukkan kepala setuju.
Akram tertegun, sejenak tampak menimbang-nimbang, tetapi tampaknya masih kesulitan mengambil keputusan.
__ADS_1
Lalu, tiba-tiba ada gerakan dari arah ranjang, membuat semuanya menoleh bersamaan ke arah yang sama.
"Akram?" itu suara Elana, terdengar lemah memanggil.
Mereka semua menoleh ke arah mesin yang memonitor tanda kehidupan Elana. Setelah memindai apa yang ditampilkan di sana, Nathan langsung menganggukkan kepala sedikit untuk memberi isyarat bahwa kondisi Elana masihlah stabil
Akram menghela napas lega, ekspresinya tampak muram.
"Aku akan memikirkan kembali dan mengambil keputusan secepatnya, kalian boleh pergi," ujarnya kemudian.
***
***
"Akram? Elana kembali memanggil tepat saat Akram menyelinap ke selimut di atas ranjang dan memeluk Elana ke dadanya, berhati-hati dan menghindari tangan Elana yang tersambung ke selang infus.
"Aku di sini, Elana." sahut Akram cepat sebelum Elana memanggil lagi.
Elana mendesah, tanpak dipenuhi kelegaan ketika menemukan panas tubuh Akram di dekatnya, dan dia bergelung semakin erat, menempelkan tubuhnya ke tubuh Akram yang hangat menenangkan.
Tangan Akram bergerak mengusap belakang kepala Elana, membelai rambutnya dengan lembut.
"Apakah kau akan tidur lagi?" bisik Akram parau.
Elana memejamkan mata, tersenyum di dada Akram.
"Mungkin. Aku mengantuk sekali dan kau terasa enak," desahnya perlahan.
Akram mengangkat sebelah alisnya, menyadari bahwa Elana mungkin masih setengah sadar.
"Enak? Apa maksudmu?" tanya Akram dengan sengaja.
"Enak untuk dipeluk," perlahan tangan Elana melingkar di punggung Akram dan memeluknya kuat, sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh Elana sebelumnya. "Tubuhmu keras seperti papan tapi hangat dan menyenangkan," sambung Elana jujur.
"Oh ya?" Akram menyeringai. "Aku senang karena tubuhku sesuai dengan seleramu," jawabnya penuh ironi, setengah menahan senyum.
Elana terkekeh perlahan, pikiran perempuan itu seolah berada di awang-awang, membuatnya berbicara seakan masih di alam mimpi.
Tiba-tiba tangan Elana bergerak menyentuh kancing kemeja Akram dan memutar-mutarnya sambil lalu, membuat Akram terkesiap karena terkejut.
"Apa yang sedang kau lakukan, Elana?" Akram mencengkeram tangan Elana dan menjauhkannya dari dadanya. Lelaki itu mendesiskan kalimatnya dari gigi yang terkatup rapat. Berbaring sedekat ini bersama Elana, logika Akram tahu bahwa dia harus menahan diri karena Elana sedang sakit. Tetapi, tubuhnya seperti punya pikiran sendiri sehingga Akram harus berjuang sekuat tenaga untuk mengalihkan pikirannya dari hasratnya untuk menyentuh perempuan itu.
Sekarang Elana malahan bersikap menggoda -meskipun dalam kondisi setengah sadar- membuat Akram merasakan nyeri menyiksa yang menjalari dirinya tanpa ampun.
Tidakkah Elana tahu bahwa dia sudah cukup menderita secara psikis dan fisik saat ini? Kenapa perempuan ini seolah ingin menambah lagi siksaan untuknya?
Elana mendongakkan kepala, menatap malu-malu ke arah Akram dengan tatapan mata berkabut. Perempuan itu pasti merasakan bahwa Akram sedang sangat berhasrat kepadanya.
"Kau menahan diri.... biasanya kau tidak pernah menahan diri.... kenapa?"
Geraham Akram makin mengeras ketika lelaki itu menggeramkan kalimatnya.
"Kau sedang sakit. Aku tidak mungkin mengambil keuntungan darimu,"
Elana mengerutkan kening. "Tetapi... ketika kau di rumah sakit waktu dulu, kau ...." Elana tidak melanjutkan tetapi mereka sama-sam tahu bahwa Elana merujuk pada peristiwa di rumah sakit ketika Akram memaksakan kehendaknya pada Elana. Bahkan, waktu itu dia melakukannya dengan mengikat tangan Elana di ranjang rumah sakit.
Pipi Akram memerah ketika dingatkasn, lelaki itu menghela napas panjang.
"Waktu itu aku marah," geramnya perlahan. "Karena kau menolakku mentah-mentah."
"Sekarang kau tidak sedang marah?" Elana menatap ke arah Akram dengan mata besarnya yang polos tanpa dosa.
Kening Akram berkerut menahan rasa. Entah kenapa rasanya lebih mudah menghadapi Elana yang galak dan menantangnya daripada menghadapi Elana yang bertingkah seperti anak kecil yang menatapnya seperti anak kucing polos sedang meminta diajak bermain oleh majikannya.
"Aku tidak sedang marah kepadamu, aku sedang mencemaskanmu setengah mati, perempuan," Akram menghembuskan napas kesal, lalu menyambar bibir Elana dan menciumnya. "Bersikap baiklah dan bantu aku, Elana," Akram menempelkan hidungnya ke hidung Elana. "Aku ingin kau beristirahat dan berjuang untuk bertahan. Kondisimu harus stabil, bukan hanya demi dirimu sendiri, tetapi juga demi aku," Akram memejamkan mata, berusaha mengusir pikiran buruk yang terhampar di depannya. "Jangan berani-berani menyerah lalu mati. Karena aku akan kehilangan kewarasanku kalau kau sampai mati," erangnya parau penuh kekhawatiran.
***
***
Lama setelahnya, ketika Elana telah tertidur kembali, Akram menggeser tubuhnya perlahan dan beranjak turun dari tempat tidur.
Dia berdiri beberapa lama sementara matanya terpaku pada Elana, memandangi perempuan itu yang tampak pucat kehilangan rona di wajahnya, dengan napas lemah yang dibantu oleh selang oksigen berudara lembab di hidungnya.
Kondisi Elana memang stabil untuk saat ini, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Xavier. Tetapi... pada hari ketujuh...
Akram mengusap wajahnya letih. Dia tahu bahwa dia harus mengambil keputusan.
Antara vonis kematian yang sudah dijatuhkan, dibandingkan dengan tawaran keselamatan mencurigakan dari makhluk jahat berhati iblis yang memiliki banyak kelicikan di dalam jiwanya.... yang manakah yang harus dia pilih?
__ADS_1
***