Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 10 : Serafina Moon


__ADS_3


6/6 dari jadwal Episode yang diposting 1minggu


***


"Penyelidikmu memang hebat hingga bisa menelusuri aliran dana dari Keluarga Dawn untuk membiayai pendidikan Serafina, padahal Roman Dawn sebagai kepala keluarga sudah mati-matian berusaha menutupi semua hal yang menghubungkan nama keluarganya dengan Serafina, menggunakan berlapis-lapis informasi yang sulit ditembus. Meskipun begitu, aku bisa memastikan bahwa Serafina Moon bukanlah anggota keluarga Dawn. Dengan begitu kau bisa membunuh pikiran bahwa dia menuntut balas kepadamu atas nama Anastasia " Dimitri berucap lambat-lambat, memulai penjelasannya.


"Jadi dia benar-benar tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Dawn." Xavier menyimpulkan perlahan. "Kalau begitu, kenapa keluarga Dawn membiayai pendidikan Serafina?"


"Karena mereka ingin memakai Serafina sebagai alat untuk membalas dendam kepadamu. Kematian Anastasia adalah dendam kesumat yang sampai detik ini masih tak terbalaskan. Pihak hukum menangkap semua pelaku penculikan, penganiayaan dan pelecehan terhadap Anastasia, tetapi berkat pengaruh ayah angkatmu, Baron Night, mereka tidak bisa menjangkau dirimu yang merupakan otak dari semua kemalangan Anastasia dan seharusnya menjadi orang yang paling bertanggung jawab dibanding semuanya." Dimitri memberi jeda sejenak, memastikan bahwa Xavier masih mendengarkannya. "Mereka masih menganggap ini hutang dendam yang tak terbayarkan sampai setidaknya kau menerima akibat atas perbuatanmu."


Xavier menyipitkan mata. Meskipun Dimitri menyebutkan alasan yang tepat sehingga Xavier sudah sepantasnya menerima pembalasan dendam keluarga Dawn, tetapi tetap saja nuraninya sama sekali tak tergerak.


Sesungguhnya dia tak bermaksud membuat Anastasia sampai mengalami penyiksaan mengenaskan itu yang kemudian mendorong perempuan itu melakukan tindakan bunuh diri. Niat awalnya adalah memerintahkan para penjahat itu memberi Anastasia pelajaran dengan menculik, lalu memotretnya dalam kondisi tak senonoh yang kemudian disebarkan untuk merusak reputasinya. Sayangnya, apa yang terjadi kemudian ada di luar kendalinya, semua bergerak ke jalur tak disangka hingga akhirnya, satu insiden saja akhirnya bisa merusak jalur kehidupan banyak orang tanpa bisa dihentikan.


Xavier menyesal karena dia kehilangan kendali hingga semua berjalan kacau balau di luar rencana waktu itu. Sejak saat itulah Xavier terbiasa memperhatikan seluruh rencana yang dibuatnya hingga terperinci sampai detail sekecil apapun, karena dia tak mau lagi mengalami kekacauan seperti yang terjadi kasus Anastasia.


Tetapi, jika bicara tentang penyesalan, Xavier sama sekali tak menyesali hukuman yang diberikannya kepada Anastasia.


Seorang pengkhianat memang layak dihukum. Tanpa kecuali, tanpa belas kasihan yang berasal dari hati nurani.


"Kau tak menjawab pertanyaanku," Xavier berucap kemudian setelah berhasil melepaskan diri dari pemikirannya yang rumit. "Kenapa keluarga Dawn membiayai pendidikan Serafina Moon? Dan jika Serafina tidak memiliki hubungan apapun dengan Keluarga Dawn dan Anastasia, kenapa dari semua orang, dia yang dikirim untuk membalas dendam kepadaku?"


"Mungkin aku salah berbicara," Dimitri berucap dengan nada berteka-teki. "Maksudku, Serafina Moon mungkin tidak berhubungan darah dengan keluarga Dawn, tetapi secara tidak langsung, tindakan yang kau lakukan di masa lampau telah membuat mereka berhubungan...."


"Bisakah kau berhenti bicara berputar-putar dan langsung mengatakan intinya saja?" Xavier menyela dengan marah dan tak sabar. "Kau tahu waktuku terlalu berharga untuk kubuang-buang denganmu. Jadi katakan dengan cepat supaya aku bisa menutup pembicaraan yang mulai terasa membosankan ini. Sebab, jika sampai aku kehilangan kesabaran, aku mungkin akan memusnahkan semua penawar bagi racunmu yang tersedia di laboratoriumku."


"Berhenti mengancamku. Kalau tidak, lebih baik aku menahan informasi ini sebagai jaminan keamanan nyawaku!" Dimitri terdengar gusar mendengar kata-kata Xavier dan mencoba menggertak.


Sayangnya, gertakan Dimitri sama sekali tak ada gunanya bagi Xavier. Dia tahu bahwa posisinya sekarang ada di atas angin. Bagaimanapun Dimitri mencoba melawannya, Xavierlah yang memegang penawar racun dan menentukan apakah Dimitri bisa hidup dengan selamat dan sembuh sepenuhnya dari efek racun, atau malah akhirnya mati mengenaskan karena digerogoti racun tanpa penawar.


"Kau pikir informasi darimu sebegitu berharganya? Aku memakaimu karena kau bisa digunakan. Kalau kau mati, aku tak akan rugi besar. Tapi kau yang akan rugi. Kau pasti sadar kalau banyak musuhmu di Rusia yang menginginkan kematianmu, bukan? Bahkan dari kalanganmu sendiri saat ini banyak yang ingin mengambil posisimu karena kegagalan dan kegagalan yang kau lakukan, membuat mereka semua berpikir bahwa kau tidak becus. Jika kau mati, mereka akan berterima kasih kepadaku dan dengan senang hati akan bersedia membantuku."


Dimitri terdiam. Salah besar memang jika dia berdebat dengan Xavier. Lawan bicaranya ini selicik ular dan tak punya nurani. Jika Dimitri salah mengambil langkah, bukannya tak mungkin malah dia yang akan rugi seperti yang dikatakan okeh Xavier.


"Baiklah, dengarkan aku." Dimitri merendahkan nada suaranya, tahu bahwa untuk kali ini dia harus menekan harga dirinya sampai serendah mungkin, setidaknya sampai dia mendapatkan obat penawar untuk memusnahkan sampai habis racun yang saat ini bersarang di tubuhnya. "Serafina Moon adalah anak perempuan dari Salvatore Moon, kau mungkin mengenalnya dengan nama Salva Torez saja. Salva sengaja menyembunyikan nama keluarganya karena pekerjaannya yang berbahaya membuatnya harus menjauhkan keluarganya dari dunianya. Kau ingat dia, bukan? Jika tidak, biarkan aku menyegarkan ingatanmu. Dia adalah penjahat dunia bawah yang kau sewa untuk memimpin misi penculikan Anastasia."


Xavier tertegun. Keterkejutan tanpa bisa dicegah merayapi tubuhnya. Dari semua dugaan liar yang bisa dipikirkannya, tak pernah diduganya kalau kebenarannya adalah yang satu itu....


"Jika Serafina memang anak Salva Torez, untuk apa dia mengejarku?" Xavier tanpa sadar menggumamkan kalimat pertanyaan kepada dirinya sendiri, membuat Dimitri yang ada di seberang sana langsung meradang.


"Astaga! Kau memang manusia egois yang menyedihkan, Xavier! Apa kau bahkan tak mempedulikan nasib Salva Torez yang menjadi tumbal atas kejahatanmu? Dia ditangkap, menjalani persidangan panjang dengan ancaman hukuman mati dan akhirnya divonis hukuman seumur hidup. Istrinya yang merupakan ibu Serafina, menggunakan berbagai macam cara untuk menyelamatkan suaminya, bahkan sampai memohon di kaki ayah Anastasia yang saat itu sudah mengumumkan hadiah uang bagi siapapun yang bisa menghabisi Salva Torez di dalam penjara. Kau tahu apa yang terjadi? Roman Dawn bersedia untuk menarik sayembara pembunuhan berhadiah itu, bahkan menjamin keselamatan Salva Torez dalam penjara, dengan persyaratan bahwa putri Salva Torez harus diserahkan kepada mereka sebagai jaminan. Seorang anak perempuan diganti dengan seorang anak perempuan, itu adalah kesepakatan yang adil."


Dimitri memberi jeda sejenak pada kalimat panjangnya yang beruntun itu, mengambil waktu untuk bernafas, sekaligus memastikan bahwa Xavier bisa mencerna seluruh kalimatnya tanpa melewatkan detail sekecil apapun.


Ketika Xavier masih tak mengatakan apapun, Dimitri menyambung kembali kalimatnya, "Ibu Serafina setuju dengan kesepakatan itu. Dia menyerahkan Serafina ke tangan keluarga Dawn sebagai sandera untuk menjamin keselamatan nyawa suaminya. Serafina masuk ke dalam cengkeraman keluarga Dawn di usianya yang masih remaja, dan dia didoktrin seperti robot untuk menyerangmu di masa depan demi kepentingan keluarga Dawan. Tapi, menurutku, tanpa harus didoktrin pun, dia sendiri sudah punya alasan yang kuat untuk menghabisimu."


"Apa maksudmu?" Xavier akhirnya bersuara sambil menipiskan bibir penuh ketegangan.


"Roman Dawn sangat licik, dia memang memenuhi janjinya untuk tidak mengirimkan orang supaya menghabisi Salva Torez, tetapi dia menyuap petugas penjara untuk menciptakan kerusuhan di penjara dengan mengincar Salva Torez sebagai sasaran. Salah seorang penjahat memukul dan menghajar Salva Torez dengan sengaja, menciptakan luka fatal di kepala dan sekujur tubuh yang membuat lelaki itu mengalami koma. Kemudian, meskipun akhirnya berhasil diselamatkan, Salva Torez terbangun dalam kondisi linglung dan lumpuh total hingga saat ini. Lalu mengenai Serafina sendiri...."


Dimitri berdehem sejenak sebelum melanjutkan, "Apakah kau pikir, anak seorang penjahat yang masuk ke rumah keluarga kaya sebagai sandera, akan menjalani hidup layaknya tuan putri untuk menggantikan putri keluarga kaya itu yang sudah meninggal? Tidak, Xavier, itu semua hanya terjadi di dunia dongeng. Serafina Moon dibawa ke Rusia secara rahasia oleh ibu dari Anastasia, dia lalu menjalani kehidupan layaknya mimpi buruk setelah masuk ke dalam keluarga Dawn. Ibu Anastasia menggunakannya sebagai pelampiasan kemarahan setiap ada kesempatan. Dia ditendang, dipukul, dianiaya dan dipaksa melakukan pekerjaan berat sepanjang hari, dibiarkan kelaparan dan menderita secara fisik dan mental oleh ibu Anastasia. Sementara Roman Dawn tak mempedulikan itu semua, dia fokus memaksa Serafina mencapai nilai akademisi tertinggi demi mengimbangi kejeniusanmu sehingga bisa masuk ke dalam lingkaran pergaulanmu di masa depan."

__ADS_1


Suara Dimitri terdengar jijik ketika melanjutkan, seolah-olah informasi yang akan disampaikannya ini melanggar kode etik nuraninya. "Laporan yang kudapatkan dari para saksi yang merupakan mantan pekerja di rumah Keluarga Dawn, mereka bahkan memberikan sesi cuci otak setiap hari dengan membuat Serafina menghabiskan beberapa jam waktunya disebuah kamar mengerikan yang di seluruh sisi dinding dan lantainya dipasang foto berukuran besar dari mayat Anastasia. Dia dipaksa untuk memandang foto-foto mayat Anastasia yang penuh luka, bahkan juga foto mayat Anastasia yang diambil oleh polisi saat mayatnya masih tergantung di langit-langit kamar rumah sakit dalam kondisi mengerikan setelah gantung diri. Semua itu untuk menyadarkannya bahwa kau adalah musuh keji berbahaya yang harus dibenci."


Dimitri menghentikan kalimatnya dan mengerutkan kening bingung karena tak ada suara dari lawan bicaranya.


"Apakah kau masih mendengarkan?" Dimitri bertanya penasaran.


Hening sejenak, lalu Xavier akhirnya bersuara, "Teruskan," gumamnya singkat.


"Baiklah. Ini intinya. Aku bilang bahwa Anastasia tak perlu menjadi alasan bagi Serafina untuk membalas dendam kepadamu. Dia punya alasan kuat sendiri. Ibu kandungnya yang dipisahkan darinya dilarang menemuinya, tetapi entah kenapa cerita bahwa Serafina telah disiksa bisa sampai ke telinga ibunya dan menderanya dengan rasa bersalah. Karena tak kuat menjalani itu, akhirnya ibu Serafina bunuh diri beberapa tahun kemudian." Dimitri menajamkan nada suaranya. "Lengkaplah sudah, Xavier. Kaulah sumber utama dari penderitaan Serafina. Kau membuat ayahnya terperosok hingga menjadi seperti mayat hidup, kau membuat ibunya mati bunuh diri, dan kau jugalah yang membuatnya diserahkan pada keluarga kejam yang menyiksanya secara mental dan fisik. Jadi, selamat! Saat ini kau sedang menghadapi mesin pembalas dendam yang kau ciptakan sendiri, aku sungguh berharap Serafina Moon berhasil melaksanakan tugasnya karena kau layak mendapatkannya."


 



 


"Kita akan kemana, Tuan?"


Supir Xavier yang duduk di belakang kemudi akhirnya memberanikan diri untuk sedikit melirik ke belakang ke arah tuannya, yang malahan terdiam seolah melamun sejak masuk ke kursi belakang penumpang sambil membawa gadis yang lunglai dalam gendongannya.


Xavier, yang sibuk menatap ke arah wajah Sera yang tampak polos dalam ketidaksadaran itu, langsung mengerjapkan mata ketika mendengar ucapan supirnya.


Dia telah tenggelam dalam lamunan akibat informasi yang diberikan oleh Dimitri tadi hingga lupa untuk memberikan instruksi kepada supirnya.


Jika Xavier sendirian, tanpa diperintah pun, supirnya akan langsung mengantar Xavier ke rumah tanpa bertanya. Tetapi, karena kini Xavier membawa seorang wanita yang lunglai dalam gendongannya, jelas saja supirnya merasa ragu.


Karena, bisa saja Xavier memutuskan untuk membawa wanita ini ke gudang eksekusi di pinggiran kota, seperti yang biasa tuannya itu lakukan ketika membawa musuh-musuhnya yang tak pernah bisa keluar hidup-hidup dari tempat itu, bukan?


"Ke rumah," perintahnya dengan nada tegas yang membuat supirnya itu langsung menjalankan mobilnya mengikuti perintah Xavier.


Kepala Xavier meanunduk kembali, dan matanya terpaku lagi menatap ke arah wajah Sera. Informasi yang didapatkannya dari Dimitri, sekali lagi membolak-balikkan kesan yang terlah digbangun oleh benak Xavier untuk menggambarkan citra diri Sera.


Mengetahui bahwa dia adalah penyebab seluruh penderitaan yang ditanggung Sera hingga membuat perempuan ini akhirnya berada di sini, di depannya dan bersiap untuk membalas dendam, entah kenapa membuat hati Xavier seolah diremas oleh kekuatan tak kasat mata yang hadir untuk memberikan penghukuman baginya.


Xavier tidak berjiwa jahat dari lahir. Meskipun memiliki kelebihan dan kemampuan yang jauh lebih hebat dari manusia normal, Xavier tetaplah seorang manusia. Salah satu hal yang membedakan antara manusia dengan binatang adalah bahwa manusia itu dibekali dengan akal pikiran dan hati nurani.


Sebagai seorang manusia, secara alami tentu saja Xavier juga memiliki hati nurani yang tertanam ke dalam jiwanya.


Hati nurani inilah yang dimatikan oleh Xavier di masa lampau, karena rasa bersalah pasti selalu muncul saat ada nyawa yang tercabut dan membuat tangannya berlumuran darah. Untuk menekan hati nuraninya supaya tak bergolak, Xavier akhirnya membuat peraturan untuk dirinya sendiri, yaitu bahwa dia hanya akan menghukum orang-orang yang berbuat kejahatan dan berkhianat.


Perempuan ini, meskipun sekarang belum menjalankan aksinya, pasti sudah berencana mengkhianatinya dan suatu saat nanti juga akan mengkhianatinya.


Kalau begitu, apa yang harus Xavier lakukan pada perempuan ini? Apakah dia menunggu saja sambil menutup mata, berpura-pura bodoh sampai perempuan itu akhirnya menusuknya dari belakang dan menghukumnya? Ataukah dia lebih baik menghukum saja perempuan itu sekarang, karena sesungguhnya, baru sebuah niat saja, sudah pantas untuk mendapatkan hukuman?


Tiba-tiba seulas senyum muncul di bibir Xavier, sejenis senyum kejam tak berbelas kasihan yang muncul dari dasar jiwanya.


Yah, mungkin dia tak perlu menghukum Sera sekarang, tetapi dia tidak keberatan untuk bermain-main dengan Sera.


Gadis ini sama sekali tak sadar bahwa posisinya sekarang seperti tikus buta yang mendekati ekor ular lalu menggigitnya, mengira bahwa si ular berukuran kecil, sepadan dengannya dan bisa dilawannya. Tikus itu tak sadar bahwa ular yang digigitnya itu memiliki tubuh besar dan kepala yang mengintai diam-diam, siap untuk memangsa.


 


__ADS_1


 


Kepalanya terasa sangat sakit.


Ketika kesadaran menyapa Sera, hal itulah yang langsung terlintas di pikirannya.


Seolah-olah ada palu dengan ujung tajam yang memukul tengkorak kepalanya dari dalam, menciptakan bunyi imajiner yang berdentam keras, menggaung di dalam rongga kepalanya dan menyakitinya begitu kuat hingga tangan Sera harus terangkat untuk memijit pelipisnya dalam upayanya mereredakan rasa sakitnya.


Sera mencoba membuka mata, tetapi cahaya matahari yang menerobos lewat jendela kaca dengan tirai terbuka langsung menyambar bola matanya, memaksanya seketika terpejam kembali.


Sera menghela napas panjang untuk mempersiapkan dirinya, lalu dia membuka matanya kembali. Kali ini dia membuka mata perlahan-lahan supaya tidak menyakiti matanya lagi.


Entah kenapa kondisinya ketika terbangun pagi ini benar-benar buruk, kepalanya sakit dan matanya jadi sensitif seperti vampir yang tak kuat disapa cahaya matahari.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Pikiran Sera terlalu berkabut hingga ketika dia mencoba menarik mundur alur waktu dalam memorinya, rasa sakit di kepalanya malahan semakin menyiksa, memaksanya untuk berhenti....


"Pelan-pelan, Sera. Jangan memaksakan dirimu."


Suara itu mulanya terdengar samar dan Sera mengira bahwa dirinya hanya bermimpi. Tetapi kemudian, saat pikiran sadarnya menyadari suara siapa itu, seluruh tubuh Sera langsung terkesiap dan dia langsung membuka mata, tak lagi merasakan sengatan sakit akibat sinar matahari yang dengan galak langsung memberondong bola matanya.


Pemandangan di depan matanya membuat Sera mengerjap seolah tak percaya. Secepat kilat dia mengedarkan pengawasan matanya ke sekeliling ruangan. Jantungnya berdegup oleh rasa takut ketika dia berhasil memindai semuanya dan menyadari bahwa dirinya tak mengenal seluruh bagian kamar bernuansa putih ini.


Matanya terpaku kembali ke arah Xavier yang tengah menatapnya sambil memasang senyum penuh arti, membuat darah seolah surut dari kepalanya hingga wajahnya jadi pucat pasi.


Apa yang terjadi? Dia ada di mana? Kenapa Xavier ada di sini?


 


 




Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR


Thank You. By AY


 


__ADS_1


__ADS_2